Kamis, Desember 26, 2013

Gak Namanya, Kepala Desa di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Namanya Gak, 37, anak suku Dayak Sukung. Wajahnya keras, tapi tampilannya modern. Baru tiga bulan dilantik sebagai Kepala Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Daerah kekuasaannya sangat luas, membawahi 10 dusun yang berpencaran dari bukit ke bukit, jauh lebih luas dari daerah kekuasaan walikota atau bupati di Jawa. Di antaranya beberapa dusun yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Dari Entikong, dibutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan, melalui jalur sungai Sekayam. Bukan hanya jarak tempuh yang jauh, namun karena medannya tidak mudah. Selain melawan arus, juga harus pintar menghindar dari pusaran air dan bebatuan besar yang bisa menghancurkan sampan atau merompalkan baling-baling speedboat mereka. Butuh sekitar 60 liter bensin untuk itu, dan karenanya biaya perjalanan ini sekali tempuh bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah. Utuk mereka yang dagang, berbelanja dari Entikong, butuh biaya sekitar Rp 750.000 sekali jalan. Jika harga 1 zak semen di Entikong Rp 76.000, di Suruh Tembawang bisa jadi Rp 200.000.
Gak dalam Pilkades lalu, menang mutlak 90% suara. Katanya, para ibu-ibu mutlak memilihnya. Bapak dari dua anak ini memang keren, gagah, tapi ia tidak peragu, meski tak bisa mencipta lagu.
Kenapa namanya Gak?
Dulu katanya, sejak kecil bandel. Kalau diperintah oleh mak-nya, jawabnya hanya 'nggak', dan jadilah itu nama panggilan kemudian. Pernah mengikut pada keluarga Jawa, pejabat polisi, namanya menjadi Gak Mulyadi. Tapi pendidikannya kandas waktu SMP. Bukan tak mampu, tapi karena jaraknya memang makan tenaga dan uang.
Yang asyik dari kades ini, ia seorang terbuka dan jagoan minum. Segala jenis minuman, yang kadang dibelinya dari Malaysia, sudah dirasainya. "JD di Malaysia cuma 150 ringgit, di kita bisa 700 ribu, Bang!" katanya.
Tapi malam menginap di rumahnya, kami berombongan hanya disuguhi tuak air tape buatan sendiri, bukan JD. Demi sopan-santun, ia hanya menghabiskan dua botol besar, dari tiga botol yang dihidangkan. Itu pun, yang minum hanya beliau dan aku. 

Dan kami pun kemudian berdua di teras, ngobrol ngawur-ngawuran, sementara yang lain tidur kecapekan. Tak sampai pagi, karena listrik dari tenaga diesel mikrohidro, yang mestinya tiap malam nyala, justeru malam itu mampus, dari sejak sore. Sebuah pelita minyak, yang dibuat dari botol Benson kaleng, menemani.
Jam 21.00 jadi terasa pekat, apalagi hujan begitu derasnya. Geresah sungai Sekayam, yang hanya berjarak 20 meter di depan kami, terdengar keras. Pada Gak kubilang, "Isteri kamu sudah nungguh tuh,..." dan dia ketawa ngakak, membiarkan aku termangu di teras rumah kayunya.
Paginya, Gak memberi tahu, turbin dieselnya kemasukan sampah, jadi tak bisa berputar. Itu sebabnya listrik tak beroperasi. Kubilang padanya, "Ah, kau bersekongkol dengan petugas turbin, biar bisa tidur awal ama isterimu,..."
Dia ngakak sambil menyodorkan segelas teh hangat padaku.

1 komentar:

  1. Sebagai Orang yg lebih Faham daerah sendiri maka saya menyatakan tidak setuju dan keberatan dengan tulisan ini karena ada beberapa cerita yang tidak sesuai dengan dengan fakta yang sesungguhnya. Kalau bisa tolong di hapus aja.

    BalasHapus