Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 19, 2019

Mana Lebih Berbahaya, Penista atau Pendusta Agama?


Agama adalah candu masyarakat, ujar sang filsuf Karl Marx (1818 – 1883). Menurutnya, agama hanya matahari ilusi yang berputar di sekitar manusia selama dia tidak berputar di sekitar dirinya. Boleh percaya boleh tidak. 

Bertrand Russell lebih parah lagi mendefinisikan; Fear is the parent of cruelty, and therefore it is no wonder if cruelty and religion have gone hand in hand, tulis ahli matematika dan peraih Nobel Sastra (1950) itu. Ketakutan adalah dasar agama: takut hal-hal misterius, takut kalah, takut mati. Takut merupakan induk dari kekejian, oleh karena itu tidak mengherankan jika kekejian dan agama senantiasa berjalan seiring.

Bukan hanya tinjauan dari filsuf Barat, seorang sofis Persia, Abu Hamid Al Ghazali (1058 – 1111) pun mengatakan, “Kita tidak dapat mengakui bahwa setiap orang yang mengaku beragama itu pasti mempunyai segala sifat-sifat yang baik.” Ia bahkan dalam kitabnya yang sohor, Ihya’ Ulumuddin, menulis: Ada ulama yang sejati dan ulama palsu. Jadi, bukan berkait Indonesia kemarin sore saja, agama sudah menjadi persoalan manusia sejak awalnya.

Raden Ajeng Kartini, Ibu kita itu, dalam salah satu surat pada sohibnya di Eropa, sudah mempertanyakan pula, “Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?” Ia sampai pada kesimpulan, “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.”

Jadi, di mana letak kesalahan? Pada keberadaan agama, dengan segala konsepsi dan sejarahnya? Atau metodologi dan sistem pengajarannya oleh mereka yang dogmatis, untuk menunjukkan otoritasnya, bahwa jika sudah beragama artinya sudah paling benar dan suci?

Jika kita mengutip pandangan Gus Dur, “Semakin tinggi martabat manusia yang menjadi pemeluknya, maka semakin tinggi pula martabat agama itu sendiri,” tak bisa tidak persoalannya pada manusia. Hingga kemudian bisa terjadi fenomena, sebagaimana yang juga ditulis Gus Dur, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.” Karena katanya, agama tak boleh jauh dari kemanusiaan.

My religion is very simple. My religion is kindness, ujar Dalai Lama XIV, pemimpin spiritual dari Tibet (Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah kebaikan). Semua tradisi agama utama pada dasarnya membawa pesan yang sama, yaitu cinta, kasih sayang, dan pengampunan, kutbah Dalai Lama XIV berikutnya. Hal yang penting adalah hal-hal tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Sebagaimana diyakini Albert Einstein, fisikawan jabrik yang unik itu, “Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya - hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.” Dalam pandangan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, kekhalifahan pertama sepeninggal Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ allaihi wassallam, “Agama buat di akhirat, harta buat kehidupan di dunia. Di dunia orang yang tidak berharta berasa susah hati, tetapi orang yang tidak beragama merasa lebih sengsara.” Kenapa? Karena tidak ada penghiburan dan penguatan.

Jadi? Agama adalah pedoman, yang celakanya di dunia ini ada begitu banyak pedoman, sebagaimana dalam agama itu sendiri ada banyak ragam dan jumlahnya. Konon ada lebih dari 600.000 agama di dunia ini, bukan hanya 6 sebagaimana yang “boleh beredar” di Indonesia.

Karena itu, dengan keyakinan agama masing-masing, yang dengan dogmanya bisa membuat fanatisme penganutnya, hingga terjadi perang (atas nama) agama. Karena agama kemudian juga menjadi pegangan operasional ke luar, bukan lagi ke dalam (diri-sendiri) dalam proses internalisasi. Kemudian muncul menjadi bendera-bendera, lembaga-lembaga, komunitas-komunitas, ormas-ormas, dan jangan lupa donatur-donatur, anggaran dasar, proposal, beserta aksi demo ini-itu.

KTP Indonesia jaman dulu, tidak pakai kolom agama.
Sementara di sisi lain, dalam sebuah negara dengan penduduknya yang beragam, sebagaimana Indonesia (bedakan dengan yang homogen seperti di negara-negara Timur Tengah, yang pun hingga kini perang saudara atau perang atas nama agama terus gumyak meruyak), ada persoalan dengan yang disebut kepentingan nasional, atau kepentingan bersama, dan mau tak mau hal itu menuntut hukum-hukumnya sendiri.

Ada agama di luar agama yang perlu ditegakkan bersama. Agama sosial yang universal, atau social religion, untuk menciptakan ikatan kebangsaan, untuk mengkonkretkan hidup beragama itu sendiri, dan bukannya sebaliknya. Karena agama sebagai pedoman hidup (yang bukan satu-satunya), dalam pandangan Albert Einstein, sebagaimana kesenian dan ilmu-ilmu, berasal dari ranting pohon yang sama.

Oleh karenanya, fanatisme dalam agama, yang mestinya aturan internal, akan menjadi persoalan ketika ditawar-tawarkan, disodor-sodorkan, bahkan dipaksa-paksakan dalam intimidasi ke luar sebagai dogma. Di situ agama bisa penuh dengan ujaran kebencian dan hujatan pada liyan. Tanpa penghayatan dan logika yang lurus, agama menjadi alasan yang miskin untuk membunuh yang kaya, sebagaimana dikatakan Napoleon Bonaparte.

Dan dengan otoritasnya dalam menafsir Tuhan dan kesucian, di situ agama sering dipakai sebagai bunker, benteng perlindungan, bagi para koruptor, penganiaya gender, kaum rasis, dan mereka yang dengan bangga mengeksploitasi simbol-simbol keagamaan ke luar, bukannya ke dalam. Agama  bukan untuk eksplorasi diri, menuju proses pembelajaran akan nilai-nilai keluhuran manusia, tetapi dieksploitasi untuk kepentingan dan keuntungan yang manipulatif.

Dumeh sudah berhijab, orang nggak bakal curiga meski niatannya mencuri barang di minimarket. Dumeh sudah berhaji dan mimpin pondok, orang nggak bakal curiga kalau dia pelaku pedofilia atau manusia sadis, yang bahkan salah pun masih bisa ngancam-ngancam seorang Presiden. Apakah jika ngaku turun nabi boleh bertindak melanggar hukum bersama?

Kalau soal berkilah hukum langit, atau hukum Tuhan, kenapa hanya dia yang boleh menafsir? Memangnya Amien Rais mengetahui ada juga malaikat lainnya yang mendoakan Jokowi menang, dan Amien Rais kemudian bakal stroke? Siapa penista agama yang sebenarnya? Ialah mereka yang mendustakan agama untuk kepentingan remeh mereka, yang bertolak-belakang dengan bahasa kasih agama yang hendak ditebarkan.

Karena dalam tahap yang lebih pragmatis, dan kompromis, seperti ujar Voltaire, “Jika ditanya soal uang, setiap orang tidak akan berbeda agama!”

Selasa, November 13, 2018

Memahami Paradoks Jerinx Superman is Dead


Tulisan ini tak ingin membahas soal bagaimana sejarah Jerinx, drummer punk rock Superman Is Dead menyebut Via Valen sebagai fucking whore (lonte sialan), karena pendangdhut itu menyanyikan lagu SiD tanpa ijin.

Persoalannya lebih pada apa yang diyakini Jerinx, “Setiap genre musik punya kharismanya sendiri, selama ia tak berpandu pada grafik popularitas dan matematika belaka.” Saya hanya ingin mencoba mengorek, bagaimana kata-kata fucking whore itu muncul dari Jerinx untuk Via Valen.

Dibanding Bobby Kool dan Eka Rock, Jerinx terasa lebih sebagai manusia literal. Ia banyak menuliskan pendapatnya, di dunia maya, di media sosial, di samping pada lagu-lagu SiD tentunya. Saya hanya ingin ikuti ‘alur kata-kata’-nya. Quotation Jerinx, karena memakai media tulis, saya kutip seaslinya darui akun medsosnya, biar kita tahu kualitas literasinya.

“Buat kamu yang berpikir musisi itu tugasnya cuma bermusik saja, selamat datang di dunia tanpa perubahan & tinggallah disana selama mungkin.” Saya kita itu keyakinan dasar Jerinx, dan juga SiD tentunya. Dan SiD memposisikan grupnya dengan sadar pada bagian yang tak terpisah dari riuh-rendah industri musik di Indonesia. 

Penamaan grupnya, Superman is Dead, adalah ideologi yang diyakini. Bahwa tak ada manusia super. Termasuk SiD, termasuk Jerix. Bukankah Jerinx pernah menulis pendapatnya, “Kita tidak mengklaim kebenaran, kita hanya meminta kesetaraan.”? Nah, pada Jerinx kita dihadapkan pada manusia problematik, meski pun itu potret biasa kegelisahan generasi dalam melihat posisinya sendiri. Soal manusia genah diri.

Kata-kata Jerinx acap begitu gagah. “Generasi kita dijejali mall, diracuni infotainment, sinetron dan hiburan-hiburan plastik nihil pesan. Menjadi palsu adalah 'cool'.” Tapi ini kata-kata biasa yang diucapkan para pejuang pemula. Apalagi jika celakanya, kata-kata itu hanya diucapkan sebagai lipstick karena disisi lain (misalnya) seseorang bisa tidak konsisten. Menjadi bagian dari apa yang tidak disetujuinya juga. 

Para aktivis, pejuang HAM dan Lingkungan, pasti bangga dengan SiD. Bukan sekedar grup musik, tapi adalah generasi yang sadar dan melawan kezaliman. Kezaliman apapun, apalagi kezaliman pemerintah. It’s super! Tapi, Superman is Dead bukan? Bukan Superman temannya Spiderman atau Batman, tapi manusia super itu sudah mati.

Jerinx membawa ideologi yang tidak main-main, mangkanya, seperti tulisnya; “Hidup ini perang. Berhenti berpikir bagai serdadu dan mulai berpikir bagai panglima.” Ia tak mau hanya berpikir ‘biasa’ saja, harus seperti panglima, memimpin, berpikir luar biasa, berpikir super, karena manusia super sudah mati?

Karena itu kemudian klaimnya bisa jadi aneh; “Ketidaksempurnaan membuat ia sempurna. Kekurangan membuat ia berkecukupan. Hanya kesetiaan yang akan membunuhnya.” Ini pernyataan terhadap apa? Saya tidak mendapatkan konteksnya, kecuali keraguan atas pilihannya sendiri, kegamangan, atau bahkan mungkin iri hati?

Bayangkan, Jerinx sendiri yang menuliskannya; “Di zaman sekarang semua orang bisa terlihat Punk atau apapun itu, tapi esensi nya mungkin mereka gak dapet.” Itu penilaian Jerinx tentunya. Pendapat orang lain, apakah Jerinx sendiri mampu menunjukkan esensi punk? Itu pertanyaan balik untuknya, lebih-lebih karena klaimnya yang lain, bahwa, “Di Indonesia & negara-negara lain hari ini, Rock N Roll menjadi sebatas label untuk terlihat 'keren'. Ia ada untuk tidak melawan apa-apa, sebatas hiburan saja.” Atau, “Betapa bosannya kita dengan arus lama, dengan culture mainstream di Indonesia yang musiknya itu-itu saja, seolah-olah di Indonesia itu tak ada pilihan.”

Ayo berjuanglah, Jerinx, sebagaimana keyakinanmu. Karena, tiba-tiba Jerinx bisa menuliskan begini: “Setiap manusia berpotensi menjadi seorang anarkis. Punk sendiri memiliki arti yang luas. Punk tidak harus berideologi garis keras.” Pada sisi lain, ia ingin, “Ketika kita menyampaikan sesuatu dengan musik, itu tidak terdengar seperti seorang guru yang berbicara di depan kelas.”

Ada beberapa paradoks dan sisi megalomania Jerinx. Tapi tentu saja itu urusan dia. Toh ia bisa dengan mellow, telentang di pojokan kamarnya, malam-malam, sembari menuliskan kata-kata: “Kendarai sepi, rajai mimpi. Selamat tidur raja dan ratu malam, pemikir besar dan pengubah dunia. Simpan api mu untuk esok yang lebih besar.” Sembari membesarkan hati, “Dan kita berteduh dibawah mimpi besar, jika cinta itu ada untuk semua manusia.”

Pengakuan-pengakuan atas resiko pilihan, yang berbeda itu, belum tentu ia kuat menanggungnya. Perjuangan yang berat dan melelahkan, sebagaimana dituliskannya, “Engkau diam, penuh dendam, tersudut tak terdengar. Dalam perih, angkat wajah walaupun tak bermahkota.” 

Mahkota, saya kira adalah kata kunci, yang akhirnya membuat Jerinx, atau Superman is Dead, hanya nama dan aliran kepercayaannya saja yang berbeda-beda dengan lainnya. Selebihnya sama saja. Substansi atau inti soalnya, sangat manusiawi. Apalagi ketika ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Tak ada yang memiliki malam sepekat ini selain dirimu. Bersabarlah. Cahaya itu ada.”

Sampai Jerinx pun kemudian bertabrakan dengan idiom-idiom yang diciptakannya sendiri, ketika ia marah-marah pada Via Valen yang tidak sopan, karena makai lagunya tanpa ijin. Sudah begitu spirit, karakter, dan bahkan tentu ideologinya beda banget. Seolah perbedaan itu ditengarai oleh yang bernama Jerinx vs Via Valen, Punck Rock vs Ndangdhut, Superman is Dead vs Superman is Domination! Itu menyedihkan bukan?

Karenanya, makian Jerinx bahwa Via Valen adalah lonte sialan (fucking whore), adalah menyedihkan, lepas dari soal ia menolak reklamasi Tanjung Benoa atau menolak permintaan permintaan lagu SiD dari Tim Jokowi. Dan ia benar ketika pernah menuliskan pendapatnya, “Di dunia maya, kebencian cepat menular.”

Padahal, bayangkan, ia pernah menulis pula; “Jika cinta bisa teriak, maka angkasa tak cukup luas tuk bendung gema nya.” Bagaimana kita membayangkannya? “Diantara kita dan perubahan, ada sebuah tembok bernama 'ketakpedulian'. Dan tembok itu hanya bisa runtuh jika kita bersama-sama mendobraknya.” 

Tapi bagaimana kita bersama-sama mendobraknya? Wong karena spirit, karakter, ideologi berbeda kita nggak bisa bersama-sama kok. Apalagi ketika Jerinx mengatakan bahwa Via Valen bukan apa-apa, atau malah numpang popularitas dari SiD. Pendapat yang perlu dikritisi justeru dari keluhan-keluhan yang ditulis oleh Jerinx di medsos sebagai spirit hidupnya. 

Punk rock bisa jadi ideologi SiD atau Jerinx, tapi dengan berbagai pernyataannya, yang toleran dan mengajak kebersamaan dalam cinta itu, karena ia menyadari diposisi minoritas dan mengaku sebagai kutukan peradaban, tapi menolak ‘kerjasama’ baik tanpa ijin maupun ajakan berijin dari pihak lain?

Ada banyak paradoks di situ, tapi baiklah. Bukankah Jerinx sendiri menuliskan, “Uang bisa membeli popularitas, namun tidak bisa membeli rasa hormat; Ia perlu lebih lama dari uang, sensasi dan rupa sempurna.”? Tentu Jerinx tak butuh nasihat, sepeti misal; Bersabarlah. Apalagi Jerinx juga pernah menulis, bahwa, “Kita percaya keberagaman dan toleransi harus dimenangkan.” Tapi kalau ndangdhut dan industri musik harus dilawankan dengan punk rock dengan major label seperti Sony bagaimana? Sementara Via Valen berangkat dari home-industri musik dari kampung ke kampung, secara live dan diunggah gratisan pihak lain di youtube maupun dvd kiloan?

Saya baca juga, Jerinx pernah menulis pendapatnya yang anggun: “Kita hidup di bumi ini tidak harus menjadi atau merasa paling bermoral, paling beriman, paling suci. Semua manusia itu sama.” Ya, semua manusia sama, kecuali manusia itu sendiri yang menganggapnya beda bukan? Bukankah juga seperti tulisnya, "Pejuang yang tak gentar selalu melawan dengan cinta. Untuk hal-hal yang kita cintai, kita pasti akan selalu berjuang sampai darah terakhir!"? Bagaimana kalau melawan dengan benci?

Maka bagi saya menjadi aneh saja, ketika Jerinx mengaku dirinya sebagai: “Kamilah kutukan peradaban, kamilah suara yang terlupakan, kamilah bayang sempurna yang tak pernah kau temukan.” Saya sering menemukan karakter demikian. Ini pendapat saya bukan untuk melecehkan Jerinx dan apalagi SiD. Itu lebih karena pengakuan Jerinx sendiri, yang kemudian dituliskannya, “Kita tidak mengklaim kebenaran, kita hanya meminta kesetaraan.”

Klaim-klaim pribadi seperti; “Kami adalah kutukan peradaban, bergerak serentak tanpa seragam, tak pernah henti berkarat.” Itu pernyataan biasa saja. Tidak sangat heroik. Karena soal berkarat atau tidak, waktu juga yang akan lebih jelas mengatakannya. 

“Kalau dipikir-pikir hidup ini sebenarnya simpel. Makanya jangan dipikirin, biar ribet dan seru.” Itu juga pendapat Jerinx. Jadi, simpel bukan? Apalagi ketika Jerinx menulis; “Sebelum bekerja, hakim di indonesia mungkin perlu mencoba palu keadilannya di rumah masing-masing.” Itu palu juga boleh diletakkan di meja Jerinx. Apalagi ketika ia menuliskan pendapatnya dengan sangat memprihatinkan; “Kamu tidak sedang menjadi pahlawan saat mencoba melawan kekuatan yang lebih besar, kamu hanya sedang bertahan hidup.” Dan, “Tidak perlu kaya untuk bisa lebih baik.” “Mari kita bunuh konsep-konsep yang ingin terlihat sempurna di mata orang lain.”

Dalam kenyataan-kenyataan kita, juga tak bisa dipaksakan pada Jerinx, siapa sebenarnya yang mempopulerkan SiD, ketika kasus memakai lagu SiD tanpa ijin ini mencuat. Kata Ruhut Sitompul, kita tak perlu mengajari ikan berenang. Tapi kita juga rasanya tak perlu mengajari bebek terbang, karena ia bisa terbang meski dalam jarak dan ketinggian terbatas. Karena kita juga tak baik mengajari bebek menggoreng dirinya sendiri, apalagi di tepi sawah, Ubud, Bali.  

Dan terakhir, saya kutipkan apa yang ditulisnya; “Siapa saja bisa terdengar hebat di maya.”


Sunardian Wirodono, bukan penggemar ndangdhut. Koleksi kasetnya yang terlengkap cuma The Beatles dan Konser Rakyat Leo Kristi (jadul)! Lebih karena John Lennon dan Leo Imam Soekarno manusia yang konsisten atas pilihannya.

Selasa, Agustus 07, 2018

Belajar dari Para Empu

“Orang goblog sulit dapat kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblog mempekerjakan orang pintar,” demikian Bob Sadino (1933 – 2015) mengutarakan salah satu ilmunya. 

Di mana ilmunya? Ketika ia katakan ‘saat ia buka usaha sendiri’. Kalau kita hanya melihat ‘saat bisnisnya berkembang, orang goblog mempekerjakan orang pintar’, kita hanya tersepona pada yang dinamakan hasil, out put, atau buah dari usaha. 

Mungkin Bob Sadino sedang menceritakan dirinya sendiri, dan orang selalu takjub melihat bagaimana eksentriknya Bob. Dengan celana pendek dan baju lengan pendek kutung, ia bisa beranjangsana dengan Presiden Soeharto, meski bagian protokoler istana semula mensyaratkan dresscode yang standar. Dan seterusnya, cerita-cerita sejenis itu bisa dijumpai. 

Di Bekasi, terdapat pengusaha donat yang menjadi pesaing serius Dunkin Donat. Donat dari Bekasi ini, tiap pagi subuh sudah nangkring di warung-warung kecil seantero Jakarta dan Bekasi, di kampung-kampung. Harganya jauh lebih murah dibanding DD tentu, tetapi rasanya relative sama. Kelembutannya, teksturenya, juga tampilannya, tak jauh beda. Bedanya, harga jauh lebih murah. Pagi-pagi tanpa susah, tak perlu ke mall atau jalan raya, berada di dekat rumah, mudah dijangkau meski baru bangun tidur dan belum cuci muka. 

Pemilik usaha donat dari Bekasi ini, lulusan SD, tetapi dua tenaga andalannya, tenaga marketing dan chef masaknya, lulusan perguruan tinggi. Ada yang aneh? Tidak jika kita jeli melihat secara proporsional. Si pengusaha donat Bekasi ini mempunyai formulasi ilmu yang bisa jadi tak dapat ia jabarkan, tetapi memenuhi syarat dalam hal memenangkan kompetisi dari segi kualitas barang dan strategi marketing. 

Itu sama halnya dengan Burger Mblenger dengan daging dan bumbu lokal. Juga Burger Edam punya Pak Made dijajakan dengan gerobak masuk ke kampung-kampung Jakarta. Jadi, kata goblog yang disampaikan Bob, hanyalah karena (mungkin) bentuk kerendahatian, yang bisa jadi barulah dapat terbaca jika kita ngangsu kawruh, belajar, dengan magang kerja padanya. 

Cara belajar pada para Empu di jaman dulu, ialah diam memperhatikan segala taksu sang Empu. Sebagaimana Nabi Khidir mengajari kesabaran pada Musa, dan Musa tak sabar dengan pertanyaan-pertanyaan, dan akibatnya fatal karena kemarahan sang empu. 

Ketika dulu saya menjadi wartawan, mewawancarai beberapa tokoh yang mempesona, seperti para dalang wayang kulit Ki Gito Wates, Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Kembar Gito-Gati dan lain sejenisnya, mereka belajar dari para gurunya dengan diam. Sejak kecil mereka menyimak solah-tingkah, dan praktik mendalang. 

Proses transformasi ilmu berjalan intens melalui hidup keseharian dan praktik mendalang. Proses belajar dilakukan dengan njinggleng, memperhatikan dengan tingkat intensitas yang dalam, kusyu’. Padahal, bisa jadi tak ada dialog antara guru dan murid di situ. 

Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving, berkata Mbah Kyai Albert Einstein. Hidup itu seperti bersepeda. Kalau kamu ingin menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus bergerak maju. Sementara menurut Pak Sudjojono, pelukis yang pernah jadi anggota DPR fraksi PKI, naik sepeda itu tak ada teorinya. 

Menjaga keseimbangan itu, ialah proses intensi dalam pembelajaran, terus-menerus, tanpa henti, tekun, penuh cinta. Tapi, lalu bagaimana dengan urip mung mampir ngombe? 

Boleh saja. Cuma hati-hati, untuk turun dari sepeda yang kita gowes, juga ada teorinya agar kita tidak jatuh. Jangan seperti teori Pak Hardjo Gepeng dalam cerita Dagelan Mataram ‘Basiyo Mbecak’, bisa naik tak bisa turun. 

Akibatnya, ia mesti mencari tumpukan pasir, agar bisa menjatuhkan diri dari sepeda dengan aman. Betapa susahnya bukan? Bukan!

Rabu, Januari 25, 2017

Kebodohan dari Awal Sampai Akhir

Ini tulisan sangat panjang. Bagi yang tak suka baca dan kurang sabar; Langsung saja ke paragraf terakhir. Bagi yang sabar, bisa mulai dari sini:



“Seperti diketahui, Dewa memberikan manusia semua hal baik, terkecuali mereka yang merusak, berbahaya dan tak berguna. Orang-orang tersebut bukanlah pemberian Dewa, mereka seperti itu karena kebutaan dan kebodohan mereka sendiri.” 

Demikian pernyataan Democritus (460 – 380 SM), ahli astronomi dan filsuf Yunani. Tentu saja ia menyebut Dewa, karena sebutan lain waktu itu belum ada. Tak usah sensi bahwa itu klenik. Ini hanya menunjukkan, bahwa kebodohan ada sejak dulu kala. Dalam batas pengetahuan kita, mungkin sejak Adam dan Hawa atau Eva. 

Senyampang kebodohan, adalah juga sifat kebanggaan, yang menurut Thomas Fuller (1608 – 1661), pendeta dan penulis Inggris, kebanggaan adalah anak dari kebodohan. Seperti diuraikan Samuel Butler (1612 – 1680), penyair Inggris: The truest characters of ignorance are vanity and pride and arrogance. Karakter paling nyata dari kebodohan adalah kesombongan dan kebanggaan pada kecongkakan. Persis siapa hayo?

Bahkan Elbert Hubbard (1859 – 1915), penulis dan penerbit dari AS, punya resep untuk kebodohan abadi: yakni puas dengan pendapatmu dan puas dengan pengetahuanmu sendiri. Dan untuk orang seperti itu, kita seolah berhadapan dengan seorang die hard, jihader, alias kepala batu, somplak.

Penyair Britania Raya, Dame Edith Sitwell (1887 – 1964) bahkan mengaku jujur bisa sabar menghadapi kebodohan, tapi tidak tahan dengan orang bodoh yang membanggakan kebodohannya. 

Dan Anda tahu akibatnya? Sekarang ini kita seolah berada dalam situasi itu. Soal hal yang paling mendasar, agama dan politik. Betapa agama (juga politik) menjadi kontra-produktif. Malah justeru menjadi bagian dari masalah daripada pengurai masalah. Filsuf dan sufi Persia, Abu Hamid Al Ghazali (1058 – 1111) sudah mengatakan lama; Setengah tak percaya pada Tuhan di dunia ini, disebabkan oleh orang-orang yang membuat tampilan jelek pada agamanya, karena perilaku buruk dan kebodohan mereka.

The difference between genius and stupidity is; genius has its limits, kata Albert Einstein (1879 – 1955). Betapa mengerikan kebodohan itu. Perbedaan antara kebodohan dan kecerdasan adalah; kecerdasan memiliki batasannya. Lebih sadis lagi pendapat Sir Isaac Newton (1642 – 1727), bahwa ia dapat menghitung pergerakan bintang-bintang di langit, tetapi ia tak dapat menghitung kebodohan manusia. Entahlah, karena Newton yang bodoh, atau seperti kata Einstein, betapa tak terhingganya.

Sekali lagi, apakah kebodohan sesuatu yang berbahaya? Prejudice is the child of ignorance, kata William Hazlitt (1778 – 1830), penulis dari Inggris. Prasangka adalah turunan dari kebodohan. Dan Anda tahu turunan dari prasangka? Bisa ke penghakiman, penudingan, perundungan, bahkan fitnah ataupun hoax. Tak ada yang lebih menakutkan daripada kebodohan dalam tindakan, seperti ujar negarawan India, Jawaharlal Nehru (1889-1964). Johann Wolfgang von Goethe (1749 – 1832), intelektual dan penyair Jerman meyakini; Tak ada yang lebih buruk dari kebodohan yang agresif!

Lantas, bagaimana dengan itu semua, dengan kesibukan lapor-melapor, demo-mendemo, dukung-mendukung kegiatan-kegiatan bodoh itu? Yang diam-diam didukung media yang berprinsip ‘bad news is good news’? Bahkan beberapa orang sekolahan pun ikutan dalam tarian gendang kebodohan ini? 

Pintu gerbang menuju kebijaksanaan yang besar, kata Benjamin Franklin (1706 – 1790), adalah mengenali dengan jelas tentang kebodohan kita sendiri. Nothing in the world is more dangerous than sincere ignorance and conscientious stupidity, kata Martin Luther King (1929 – 1968), pendeta dan aktivis HAM Amerika Serikat. Tak ada di dunia ini yang lebih berbahaya daripada ketidakpedulian yang ikhlas dan kebodohan yang sungguh-sungguh.

Kebaikan satu-satunya adalah pengetahuan, dan kejahatan satu-satunya adalah kebodohan, demikian kutbah Socrates (469 - 399 SM). Tetapi tentunya kita mesti waspada juga. Menurut George Bernard Shaw, penerima Nobel Sastra tahun 1925, waspadai pengetahuan palsu, karena hal itu lebih berbahaya ketimbang kebodohan. Beware of false knowledge; it is more dangerous than ignorance. 

Pengetahuan palsu? Fenomena yang terjadi di Indonesia saat-saat ini, bisa jadi menggambarkan kekhawatiran itu. Dulu, kebodohan dan uang adalah dua hal yang terpisah, tapi sekarang hal itu ada di setiap orang, kata Adlai Stevenson (1853 – 1914), yang pernah menduduki kursi wakil presiden AS. Bahkan, lebih ekstrim lagi, uang merajai semuanya, bukan lagi yang bodoh tapi juga yang pintar.

Apalagi bagi yang berideologi uang, karena education costs money but then so does ignorance, kata seorang ahli statistik Inggris, Claus Moser (1922 – 2015). Pendidikan membutuhkan uang, begitu juga dengan kebodohan. Bahkan, bagi mereka yang ingin memanfaatkan kebodohanpun, uang adalah senjata efektif. Apa manfaat kebodohan? Tentu saja, untuk dibodohi. Penulis dan penyair AS, Oliver Wendell Holmes (1809 – 1894) menuliskan; Ibarat sapu lidi, semua dosa menggunakan pengikat berupa kebodohan.

Bagaimana menyikapi ini? Voltaire, yang terkenal dengan ‘soal uang semua orang agamanya sama’, mengatakan bahwa jiwa yang hidup adalah cinta, dan jiwa yang mati adalah kebodohan. Maka, ujar investor dan pengusaha Warren Buffet; Lihat fluktuasi pasar sebagai teman bukan musuh, ambil pelajaran dari kebodohan bukan ikut-ikutan berada di dalamnya.

Apakah Anda mau ikut-ikutan menambah kebodohan, yang sedang mengalami inflasi ini? Ikut-ikutan teriak sana teriak sini, sembari ongkang-ongkang doang? Jangan sensi, jangan baper, jangan marah. Karena menurut Bruce Lee (1940 – 1973), si pengungfu itu, a quick temper will make a fool of you soon enough. Cepat marah membuat kebodohan Anda makin ketahuan.

Minggu, Juli 12, 2015

Bung Karno: Masyarakat Onta dan Islam Sontoloyo

Sukarno, presiden pertama Indonesia, mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Ia menolak kecenderungan apa yang ia sebut sebagai masyarakat onta atau Islam Sontoloyo.
Bahkan sebelum periode Endeh, Bung Karno sudah menekuni pengetahuan Islam saat berada di penjara Sukamiskin. Baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat dipindahkan ke Bengkulu. Namun di luar itu, Bung Karno melahap berbagai buku dari para ulama di banyak negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: HOS Tjokroaminoto.
Lima ciri yang dimaksud BK, seperti terurai dari berbagai tulisannya:

ROYAL MENCAP KAFIR. Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930) dan artikel Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940), Bung Karno menulis kritik terhadap kecenderungan sebagian ulama dan umat Islam saat itu; “Kita royal sekali dengan perkataan kafir, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!” Menurut Bung Karno, yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, radio dan listrik, kemoderenan dan ke-uptodate-an, berarti mereka mau tinggal dalam keterbelakangan, kuno, makan tanpa sendok, dan naik onta.

TAKLID BUTA. Bagi Bung Karno, taklid itu seperti abu, debu, dan asap. Hal tersebut bukanlah api Islam. Islam tak lagi jadi agama yang boleh dipikirkan secara merdeka, tapi telah menjadi monopoli kaum fakih dan kaum tirakat. “Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” paparnya. Mengutip Snouck Hurgronje, ia mengatakan ulama dari segala waktu terikat pada ucapan ulama terdahulu, masing-masing dalam kalangan mazhabnya. Syariat itu akhirnya bergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksud firman yang asli. Padahal jelas, dua sumber utama Islam adalah Kalam Allah dan Sunah Rasul. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula kita mesti menyalakan api Islam. Al-Quran dan Hadits itu tak berubah. Bahkan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas.” Tapi pandangan masyarakat yang senantiasa berubah, berevolusi, dinamis, mengalir.

MENGUTAMAKAN FIKIH. Dalam tulisan "Islam Sontoloyo" (1940), Bung Karno menulis bahwa fikih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah. “Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah,” tulisnya. “Dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnya saja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.” Bung Karno tidak membenci fikih. Menurutnya, fikih tetap penting. Bahkan disebutkan, masyarakat Islam tak dapat berdiri tanpa hukum-hukum fikih. Sebagaimana tiada masyarakat tanpa aturan perundang-undangan. “Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya. Dengan mengutip Farid Wadji, Muhammad Ali, Kwada Kamaludin, Amir Ali, BK mengatakan alangkah baiknya di samping mempelajari fikih, kita juga dengan sungguh belajar nilai dan visi etik Al-Quran. Bung Karno mempraktikkannya; salah satunya saat anjing yang ia pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. BK kemudian meminta Ratna Juami (anak angkat) untuk membuang air itu dan mencuci  panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin. “Di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi s.a.w. sendiri telah menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh.”

TAK MELEK SEJARAH. Dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930), Bung Karno menulis, umumnya kita punya ulama dan kiai, tapi tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya. Mereka punya minat hanya tertuju pada agama, terutama pada bagian fikih. Tapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Padahal sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting! “Kebanyakan mereka tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa. Sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian,” tulisnya. Padahal, tulis BK, mereka hanya mengetahui tarikh Islam saja. Dari tarikh Islam ini seharusnya mereka sudah dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Tapi umumnya kita mempelajari hukum, kenal isi kitab fikih, mengetahui tiap perintah dan larangan agama hingga yang terkecil, tapi kita tidak mengetahui bagaimana cara Nabi, para sahabat, tabiin, khalifah menaafsirkan perintah dan larangan-larangan Allah di dalam urusan sehari-hari dan urusan negara. Menurutnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa, karena fikih tidak berdiri sendiri. Fikih disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fikih  hanyalah “kendaraan” saja. Jika pemuka dan umat Islam Indonesia tetap tidak mengindahkan pelajaran besar dari sejarahnya sendiri, dan hanya mengikuti jejak para pemimpin besar di negeri lain serta hanya berorientasi fikih, jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.

HADIS LEMAH SEBAGAI PEDOMAN. Menurut sebagian ulama, hadis lemah (da’if) bisa dijadikan sumber hukum selama tak bertentangan dengan Al-Quran. Bagi Bung Karno sendiri, hadis lemah di antara yang menyebabkan kemunduran Islam. “Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Al-Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar.”

Jumat, Juni 19, 2015

Membacai Alam Sekitar

Mahatma Gandhi (1869-1948) adalah seorang kutu buku sejak anak-anak. Namun tidak semua orang suka dengan kegemaran membacanya. Bahkan guru sekolah, teman-teman sekelas, dan ibunya pun.
Gandhi beberapa kali mengecewakan gurunya, lebih karena pikirannya baru tertambat pada buku yang sedang dibaca. Bahkan Gandhi bisa mangkir dari kewajiban datang pada sore hari, atas undangan gurunya untuk latihan sepakbola, gegara asyik membaca buku. Dan untuk itu ia kena hukuman.
Demikian juga ia lebih banyak menghindari ajakan teman-temannya untuk bermain, karena lebih memilih menyendiri membaca buku.
Gandhi anak yang pemalu. Tak seberapa senang berkawan. Buku dianggap adalah kawan-kawannya. Ia juga tak suka olahraga, karena kegiatan ini hanya akan menyebabkan ia bertemu dengan teman-temannya.
Tapi, suatu saat, ibunya menghampiri Gandhi yang sedang membaca buku, "Nak, lihatlah ke luar, lihatlah betapa indahnya sore ini. Sayang kalau kamu lewatkan begitu saja. Kita harus pandai menikmati saat-saat yang seindah ini. Letakkanlah buku, pergilah ke luar, carilah kawan-kawanmu dan bermain. Kamu membutuhkan udara segar."
Gandhi sebenarnya enggan menutup bukunya. Sama sekali tak ada keinginannya untuk bermain dengan kawan-kawan. Namun Gandhi tak mau menentang ibunya. Ia mematuhi dan pergi keluar.
Ia berjalan tak tentu arah. Namun lama-kelamaan ia mulai merasakan udara segar yang seolah-olah membuatnya lebih bergairah dan memperhatikan sekeliling. Ia pun mulai dengan petualangannya yang baru.
"Ibu selalu betul. Terimakasih karena Ibu telah membukakan mataku," kata Gandhi sepulang dari jalan-jalan sore itu. "Jika aku terus membaca di kamar, aku tidak akan sadar bahwa masih ada hal-hal lain yang bisa dinikmati selain fesbukan, eh, membaca ding,..."
"Banyak hal-hal lain yang masih harus kamu pelajari, Nak," ujar ibunya kemudian. "Hal-hal yang tidak bisa dipelajari dari buku-buku. Bukalah matamu, dan perhatikan alam sekitarmu lebih baik, kelak kamu mengerti apa yang Ibu maksudkan,..."

Konflik Terbuka Antara Jokowi dan Gibran

Konflik yang seru, di Indonesia ini, sesungguhnya bukan konflik antara Jokowi versus Jokowi Hater, atau dengan KMP, Fahri Hamzah atau Fadli Zon. Konflik antara mereka, atau katakanlah perseteruan itu ada karena kepentingan yang berbeda. Kalau kepentingannya diampu, pasti rasa benci itu juga hilang musnah. Atau kebencian dimunculkan untuk menarik perhatian. Benci bertendens ini sebuah kelaziman dalam politik di Indonesia.
Konflik yang lebih memukau dari itu, apa yang terjadi antara Gibran dan Jokowi. Konflik antara orangtua dan anak ini, lebih terasa eksistensialis, meski banyak media dan orang, tak memahami hal itu.

*

Sudah bisa diduga, perkawinan Gibran-Selvi akan menuai komentar banyak pihak. Dan telah menjadi trending topic, senyampang peristiwa memilukan yang menimpa Angeline.
Kita bangsa penggemar trending topic. Tapi topic apa yang menjadi trend? Bukan yang normatif, namun yang kontroversial (tapi disikapi secara normatif). Jadinya, bagi para haters Jokowi, Gibran pun bisa jadi sasaran pem-bully-an, mana yang dibilang songong, sombong, apa nggak kesel ndhangak terus, angkat dagu terus-menerus, tanpa senyum sedikit pun?
Orang ahli bilang, untuk diplomasi tingkat tinggi, sikap Gibran itu negatif, tidak menguntungkan (apalagi bagi bapaknya, yang Presiden). Tapi sikap Gibran bisa dimengerti dan didukung, di tengah begitu tolerannya kita atas sikap-sikap lamis masyarakat. Sampai-sampai Jayasuprana dan Amalia ES, sang ahli personal branding, pun menasehati Ahok agar sedikit lebih soft, lebih sopan.
Di tengah ajakan agar muncul generasi muda mandiri, pandangan stereotype masyarakat masih saja melecehkan sepak-terjang Gibran, yang kebetulan jadi anak walikota, gubernur, dan kemudian presiden. Gibran yang ramah pada setiap orang, suka senyum dalam tiap pembicaraan dan suka menundukkan kepala itu, tiba-tiba melakukan perlawanan (terhadap media), dengan mendongakkan kepala. Bahwa ia ada bukan lantaran bapaknya. Ia berusaha sendiri, yang bapaknya bahkan tahu pun tidak. Tapi masyarakat kejam menghukum, itu pasti karena tulah bapaknya yang pejabat Negara. Jika Gibran marah dan melawan (sekali lagi khusus pada media yang telah melakukan stereotype padanya), saya mendukungnya. Sombong itu keren, asal sembada. Daripada sombong tapi korup.
Tentu saja, jadi anak pejabat Negara repot, apalagi anak presiden. Soal beda agama pun disrempet-srempetin, dibuat dalam blunder kalimat, hingga orang memaknainya bahwa Gibran-Selvie beda agama. Kalau beda agama, keimanan Gibran sebagai orang Islam diragukan. Dan seterusnya. Capek bukan dengan logika begini?
Padahal faktanya, Selvi yang semula Katholik, telah mengucapan syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Februari 2015. Pada ijab qabul di KUA, karena besan Jokowi beda agama, perwalian orangtua perempuan harus diwakilkan pada yang seagama (karena perkawinannya secara Islam).
Hal lain, soal undangan manten, bukan hanya para haters, bahkan anggota parlemen pun angkat suara. Tak kurang Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menyesalkan Surat Edaran Menpan dan Reformasi Birokrasi (SE Menpan RB) Nomor 13 tahun 2014 tentang Gerakan Hidup Sederhana, yang tidak konsisten dijalankan Jokowi.
Pasalnya, dalam surat edaran itu mengatur jumlah maksimal undangan untuk hajatan bagi penyelenggara negara maksimal 400 undangan, sedangkan undangan pernikahan anak Presiden Joko Widodo mencapai 3500 orang. "Mestinya konsisten, pemimpin itu memberi contoh. Kalau buat aturan tapi pemimpinnya yang melanggar nanti tidak didengerin lagi," kata Zon (8/6).
Celakanya, Zon ini asal njeplak. Karena dalam adat Jawa, pihak lelaki (keluarga Jokowi) baru akan ‘ngunduh mantu’ saat sepasaran, atau lima hari setelah masa ijab dan resepsi yang diselenggarakan pihak perempuan. Jadi, yang menyelenggarakan pesta perkawinan pada hari ini (yang mengundang 3.500 orang itu), bukan pejabat penyelenggara Negara, melainkan Didit Supriyadi dan Partini, orangtua Selvi, yang notabene masyarakat sipil, pedagang kecil di Solo.


*

Memang repot menjadi anak presiden. Pada sisi lain, Gibran Rakabuming Raka, sebagai anak sulung Jokowi, presiden Republik Indonesia, mempunya sikap yang jelas, bahkan berseberangan dengan ayahnya itu. Bukan hanya Gibran sesungguhnya, semua anak Jokowi tak suka bapaknya jadi presiden. Bahkan ketika masih menjadi Walikota Solo dan hendak maju menjadi Gubernur DKI, Gibran sudah menunjukkan ketidaksukaannya, dan marah-marah soal hal itu. Hampir semua orang Solo mengetahui hal itu.
Tapi konflik Gibran dan Jokowi, tampak lebih terbuka. Konflik pertama, ketika setelah lulus dari sekolah bisnis, Gibran menolak meneruskan usaha meubel ayahnya. Ia bahkan ingin menjalankan bisnis sendiri. Usaha katering.
Kedua orangtuanya tak mau memodali Gibran, karena pilihannya yang mengecewakan harapan itu. Dan Gibran jungkir balik untuk mencari modal dengan menawarkan proposal ke beberapa bank.
Akhirnya memang dapat pinjaman modal dari bank, tapi meski memakai gedung Graha Sabha milik ayahnya, ia tetap membayar sewa perbulannya, dan tak pernah telat. Itu untuk menunjukkan, bahwa ia ingin membuktikan bahwa pilihannya benar dan diperjuangkan sungguh.
Maka bersamaan berjalannya waktu, ketika Jokowi terpilih jadi presiden, Gibran merasa sebel karena stereotype media dan masyarakat, menganggap jadi anak presiden itu enak, bisa mentang-mentang. Gibran tetap sibuk dengan bisnisnya, dan ogah masuk dalam ritual sosial karena bapaknya menjadi top manager Indonesia.
Dan Gibran marah besar pada media, ketika pers (dan juga stereotype masyarakat) menudingnya sombong. Pertarungan eksistensialisme antara anak dan bapak berlangsung cukup seru.
Hingga puncaknya pada perkawinannya dengan Selvi Ananda. Gibran, meski juga terjun ke bisnis Wedding Organizer, menolak mengadakan pesta perkawinan. Bahkan, dia hanya ingin ijab qabul dan slametan internal, tak ada pesta atau resepsi.
Jokowi pusing dan terus membujuk Gibran, agar menghargai posisi sosial ayahnya, sebagai presiden. Otot-ototan soal ini berlangsung lama, hingga akhirnya Gibran menyerah, tapi tetap menolak soal kereta kencana atau wedding-car. Gibran mau saja ada resepsi, asal dari rumah menuju ke rumah Selvi atau ke gedung pengantin, jalan kaki.
Jokowi tak bisa menawar lebih jauh. Toh biaya perkawinan sepenuhnya dibiayai oleh Gibran dan Selvi. Makanya, sepanjang perhelatan, meski Jokowi senyam-senyum ke publik, Gibran tetap saja cuek, dan mahal senyum. Toh ia hanya ingin menegegaskan, bahwa dia layak untuk mendirikan rumah-tangga sendiri, lepas dari bayang-bayang ortunya. Apalagi markobarmu memang enak kok, Gib!

Senin, Maret 02, 2015

Pendekar Ahok versus Gerombolan BK, Sebuah Cersilid


JILID 1 |

Sinar matahari menyengat ganas. Debu mengepul bagai asap rokok yang kebingungan mencari smoking area. Menuruni Gunung Sahari, tiba-tiba pendekar Ahok ginkang menuju ke jalan Pramuka di Jakarta Timur.
“Busyet, dah! Di sini tertera nama PT Frislianmar Masyur Mandiri, tapi ini cuma toko percetakan ecek-ecek dan dan toko fotokopi,…” pendekar Ahok mendengus. Nafasnya seolah keluar melalui lubang kuping.
Beberapa orang siaga dengan senjata masing-masing, mengepung Ahok.
PT Frislianmar Masyur Mandiri, adalah salah satu perusahaan pemenang tender pengadaan uninterruptible power supply (UPS), untuk sekolah-sekolah di DKI Jakarta.  Tapi, perusahaan beralamat di Jalan Pramuka Nomor 19 A, Jakarta Timur, dan pemenang tender senilai Rp 5,8 miliar itu, hanyalah sebuah toko kecil dengan spanduk bertuliskan PD Wirasaba di atasnya?
“Ciyaaaaatttttt!” pendekar Ahok melompat ke dalam ruangan berukuran sekitar 5x4 meter. Ruang itu tampak sesak, dipenuhi tumpukan kertas dan map. Bagian depan toko berdinding kaca dengan tulisan berwarna kuning ‘Sedia alat tulis kantor, terima percetakan.’
Lantai keramik toko itu pun kotor, begitu pula cat temboknya yang berwarna kekuningan. Satu mesin fotokopi dan percetakan di sudut belakang ruangan juga tampak sudah tua.
Deretan wajah-wajah tegang memandangi Ahok.
Di sisi lainnya, seorang lelaki sedang mengoperasikan komputer membuat desain amplop. Wajahnya tampak kebingungan saat ditanya soal tender pengadaan UPS.
"Tender apa? Kami enggak pernah ikut tender," kata pria berkumis itu sambil mengeritkan alisnya.
Braaaakkkkk! Sebuah box kayu jatuh dari meja, gegara seekor kucing mengejar tikus dan menabrak box itu.
“Sebutkan, siapa namamu?” Ahok menggertak.
Lelaki itu menggeleng. Ia tak mau disebutkan namanya. Jika ia pendekar, sebut saja pendekar tanpa nama.
Ia hanya mengaku tidak pernah mendengar nama PT Frislianmar Masyur Mandiri. Lelaki itu mengatakan, toko tempatnya bekerja sudah lebih dari lima tahun berdiri di tempat itu. "Ini sudah lama dan enggak pernah pindah-pindah. Saya malah baru dengar, alamat ini dijadikan digunakan perusahaan yang main tender,…"
Pendekar Ahok mengelus goloknya. Wajahnya terlihat manis, dan tidak meyakinkan sebagai pendekar. Tapi begitu ngotot, ketahuan urat takutnya sudah putus.
Tiba-tiba, muncul seorang lelaki berambut putih. Membawa setumpukan kertas. Matanya sangat jernih. Sepertinya ia jagoan kungfu. Pendekar Ahok memasang kuda-kuda.
JILID 2 | 

Tiba-tiba, wusssss!
Setumpukan kertas yang dibawa lelaki tua itu berhamburan. Melayang-layang ke udara, bak bunga beterbangan dalam pertarungan Hero antara Maggie Cheung dan Zhang Ziyi arahan Zhang Yimou.
Ahok meloncat. Hampir saja kepalanya nyundul lampu neon yang kusam.
“Siape elu? Dari perguruan mane?” Ahok asal nyablak saja.
“Saya Acian,…” kata lelaki tua berambut putih.
“Lengkapnya?”
“Acian Dehlu!”
“Ciaaaaatttt!” Ahok melompat maju. “Jangan becande lu, ye! Kau dari perguruan mane? Sape suhu lu?”
“Perguruan Budi Luhur, tapi cuma sampai SD, Koh, abis saye China melarat dari Glodok. Ini saye udah lime tahun kerja di sini, rasanye baru ini hari dikunjungi gubernur,…”
“Ssst, gue pendekar, bukan gubernur, monyong!” Ahok memonyongkan bibirnya.
“Ade ape, Koh?” lelaki tua berambut putih itu terus saja nyerocos.
“Gue nyariin siluman, hendak gue bunuh idup-idup mereka!”
“Ups, siluman?”
“Nah, iya, soal Siluman UPS, uninterruptible power supply,…”
“Sejenis coitus interuptus? Obat suplemen untuk kuat ngesex?”
“Hadeh, orangtua mesum! Di mana siluman itu kau sembunyikan?”
“Siluman apaan sih, Koh?”
“Hadeh, siluman Nagadana, dogol!” Ahok menggebrak meja sekencangnya.
Bruaaakkk!
Meja itu sama sekali tidak ambyar. Meja itu terbuat dari besi, bikinan jaman Belanda dulu kala.
Ahok terkaing-kaing merasakan kesakitan pada tangannya.
Dengan cepat Ahok mengeluarkan kitab pusakanya. Tercatat di sana data pengadaan perangkat UPS, atau pasokan daya bebas gangguan, pada APBD 2014. Menghabiskan sebanyak Rp 330 miliar, dengan harga sekitar Rp 5,8 miliar tiap unitnya. Ahok mencurigai perusahaan-perusahaan pemenang tender ini merupakan pihak yang sama. 
Ahok mulai membuka siasat praktik pemborosan uang rakyat oleh Gerombolan Begal Kebonsirih, sebuah kawasan hitam yang selama ini tak terjamah. Ada bukti 55 sekolah dianggarkan sebesar Rp 6 miliar untuk UPS. Yang menang tender bisa begitu banyak, tapi dengan pemasok yang sama hal ini mengindikasikan adanya praktik mark up anggaran.
“Koh? Kok malah diem?” lelaki tua tak bernama itu menatap Ahok dengan heran.
“Diem pale lu peyang!” Ahok menggeremang. “Gua lagi mikir nih! Ini fakta. Jadi, gua kira juga orang Jakarta banyak tak rela, uangnya dipakai buat beli UPS sekolah, dan ini tidak ada yang tahu loh. Kami juga kecolongan. Karena anggaran tahun lalu tidak ada e-budgeting. Ini sudah terjadi. Para begal dan penipu itu keenakan cari untung, dan sekarang mau main lagi,…!”
Menurut Ahok, anggaran sebesar itu lebih baik dipergunakan untuk memperbaiki pembangunan sekolah. Saat ini 46 persen bangunan sekolah di Jakarta masih tidak layak. 
Secepat kilat khusus, sebuah piauw melesat ke arah Ahok. Dengan sigap, Ahok membungkukkan badannya. Dagunya kejedot meja, “Wathaawww,…!”
Piauw itu nancap di dinding. Sebuah gulungan kertas menggelantung terikat pada piauw. “Makdirabit, sape juga ini gendruwo kirim punya piauw?” Ahok ngedumel sambil ngelus-elus dagunya yang njendhol. 


JILID 3 | 

AHOK mencabut piauw yang nancap di dinding. Tapi kembali ia tancapkan ke dinding, “Hadeh, ngapain piauwnya gua ambil? Dalam cerita silat ‘pan cuman suratnya nyang diambil?”
Ahok mencabut surat yang menggantung pada piauw dan membacanya; “Jangan banyak bekoar lu ye! Gua angetin luh!”
“Gua angetin?” Ahok berpikir keras membaca pesan itu.
Tiba-tiba, sebuah piauw lagi-lagi melesat. Dengan reflek, bak pendekar Shaolin Temple, Ahok menghindar, hingga piauw itu nancep di dinding. Ahok segera mencabut gulungan kertas pada piauw itu. Dibuka dan dibacanya segera; “Sorry, tadi salah nulis. Bukan diangetin, tapi diangketin!”
Ahok mengelus-elus janggutnya yang masih terasa nyeri. Dari warung ke warung, kontra isyu sudah beredar. Beberapa skenario ditebarkan, dan ujungnya ancaman Ahok hendak balik dilaporkan ke KPK dan Polri. Gerombolan begal Kebonsirih rajin berkunjung ke bebarapa media, menebar info yang mereka bolak-balik seolah logis. Demikian juga beberapa orang dari Siluman Nagadana bertemu Mendagri. Ngehek juga mereka. Menangani perseteruan dengan bertemu secara sepihak-sepihak. Kilahnya selalu itu bijaksana, padahal bijak sana dan sini. Masih lebih mulia kancil nyolong timun!
Gontai pendekar Ahok ke Ragunan. Karena stress dan pengin lihat munyuk? Tidak. Karena lapar. Satu-satunya godaan Ahok, hanyalah perutnya jika sudah lapar.
Beberapa lelaki di warung nasi depan SMPN 41, di Jalan Harsono RM, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, terheran-heran melihat Ahok.
“Lu jadi pendekar nih, Koh?” beberapa menanya.
“Tahu tuh, SW! Ini cersil kagak bakal seru dah, kagak ada mesumnya! Lagian, berani die bongkar gerombolan begal Kebonsirih?” Ahok minta tambahan jengkol dan kecap. “Lu liat pade, entu sekolah bakal  nerime pengadaan uninterruptible power supply senilai Rp 6 miliar. Tapi lu tahu pade? Kepala Sekolahnye ngaku kagak pernah ngajuin. Gile kagak?”
“Lho, ‘kan belum?”
“Iya, belon nyang APBD 2015. Tapi nyang taon-taon sebelonnya pan udah? Polanya sama! Dan itu nyang gua laporin ke KPK. Kalau nyang RAPBD 2015? Tentu aja belon, tapi nanti gua jembrengin urutan waktunya dan gimana angka-angka itu masuk. Mane nyang katanye itu SKPDlah, mana nyang Ahok mau nyuap, mane nyang dibilang Ahok kagak konsisten, udah nandatangan tapi mengingkari. Ini permainan tingkat tinggi, boss! Mereka udah nyebar gossip, belokin isyu, bahwa mereka benar, dan mereka kini berlindung pada Kemendagri. Ujungnya ape? Palingan diajak kompromi, alesannya kasihan rakyat dikorbankan. Trus mereka minta cara gua ngomong kudu diperbaikin. Perbaikin nenek lu!”
“Terus, ini kapan tarungnya? Cersil kok ngomong mulu.”
“Hadeh, tanya SW sonoh. Dia bilang cersilid, cerita silat lidah. Isinya ya silat lidah mulu.”
“Kagak ada mesumnya?”
“Nanti gua suruh die bikin adegan yang mesum. Biar kalian kagak pade stress!“
“Qiqiqiqiqi,…!” seekor tikus curut ketawa di pojokan warung.
Dari SMPN 41, Ahok meloncat ke SMP 37, ke SMAN Ciracas, dan seterusnya, hingga hampir 50-an sekolah. Ahok bak gelandangan menyusuri Jakarta, sementara para gelandangan bak gubernur DKI Jakarta. Ini memang jaman kewolak-kewalik. 
“Udah laper belon?” sms isteri pendekar Ahok.
“Kagak ade nafsu!” reply Ahok cepat.
“Kalo bercinta?”


JILID 4 | 

Pendekar Ahok tak menjawab sms isterinya. Ia kantongi lagi ponselnya.
Gegara tiga huruf, U, P, dan S, membuat dirinya puyeng. Dan soal piauw berpesan mau diangketin itu? Itulah! Itulah apa? Ya, itulah!
Dari 49 sekolah yang ada di Jakarta Barat dan Pusat, yang menggunakan UPS senilai miliaran rupiah, tercatat nama CV Wiyata Agri Satwa, selaku pemenang tender untuk pengadaan UPS di SMKN 42 dengan nilai barang Rp 5.833.448.500.
Kantor CV Wiyata Agri Satwa, ternyata cuma gudang penggilingan tepung ikan. Tidak terdapat plakat nama CV Wiyata Agri Satwa. Di dalam gudang terdapat tumpukan karung tepung ikan dan mesin giling.
"Ada banyak usaha. Kita juga punya izin usaha di bidang mechanical industri. Jadi kita juga punya usaha pengadaan mesin, seperti mesin alat pertanian, diesel, hand tractor dan bidang jasa yang lain. Hanya saja, fisik usaha yang terlihat ya tepung ikan ini," aku sesosok nameless.
Nachrowi Ramli, pesohor Pardem, konon mempertanyakan apa yang dimaksud pendekar Ahok dengan dana siluman? "Dana siluman itu tidak tahu ada definisinya. Kayak komik silat aja, pakai siluman,…”
“Ssst, ini emang cerita silat!” SW tiba-tiba nongol, numpang ngetop.
"Duduk bersama dulu melihatnya bagaimana. Berkomunikasi saja. Jangan dilempar dulu ke rakyat, kan jadi bingung. Apa sih dana siluman maksudnya?" Nachrowi yang pernah ditaklukkan oleh Ahok pura-pura dalam perahu.
Padahal, soal pengadaan UPS itu bukan hanya untuk sekolah. Dalam RAPBD 2015 hasil pembahasan komisi DPRD, delapan kecamatan dan 56 kelurahan di Kota Adminstrasi Jakarta Barat juga diusulkan untuk mendapatkan UPS. Untuk setiap kelurahan dan kecamatan itu Rp 4.220.000.000.
Dalam pada itu, sebagaimana mantra-kata SH Mintardja, anggota Komisi E bidang kesejahteraan masyarakat, DPRD DKI Jakarta, membantah telah mengusulkan pengadaan buku trilogi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ke dalam RAPBD DKI 2015.
“Qiqiqiqiqiqi,…” seorang gelandangan tua di jembatan Tanah Abang tertawa terkekeh-kekeh. Entah apa yang diketawain.
"Mungkin eksekutifnya, SKPD-nya yang mengusulkan anggaran. Mereka caper sama Ahok," kata salah satu gerombolan Kebonsirih, tanpa menyebut bahwa anggota gerombolannya yang justeru melakukan jebakan batman itu untuk pengelabuan.
“Qiqiqiqiqi,…” lagi-lagi gelandangan tua terkekeh-kekeh.
“Ngapain sih ketawa nggak jelas?” SW selaku penulis cerita lama-lama sebel.
“Kemarin kan isteri pendekar Ahok sms, kalau bercinta gimana, nafsu enggak? Kok nggak ada kelanjutannya? Mana continuitynya? Jumping jack-flash nih!”
“Lho, kan emang nggak dijawab oleh Ahok?” SW balik bertanya.
“Hadeh, jangan ikutan masuk cerita deh pengarangnya!” gelandangan tua merutuk.
Apapun yang terjadi, cersilid atau cerita silat lidah ini harus dilanjutkan.
Sebelumnya diketahui pula, terdapat program pengadaan buku trilogi Ahok di RAPBD 2015 versi DPRD melalui pembahasan komisi setelah paripurna pengesahan. Sementara Pemda DKI mengajukan dokumen RAPBD DKI yang telah disahkan pada paripurna kepada Kemendagri, mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35 PUU-XI Tahun 2013 perihal pembahasan APBD pasca-putusan MK dan penghematan serta permohonan anggaran belanja. 
“Terus serunya di mana cobak, cersil kok isinya angka-angka,…” gelandangan tua menggerutu panjang-pendek. “Nggak ada mesumnya, pulak,…”


JILID 5 | 

Pendekar Ahok pun kelimpungan. Sebuah kekuatan misterius menyedotnya ke satu tempat yang juga aneh. Wusssss,…!
Dan tiba-tiba, di depan Ahok diperhadapanlah dirinya dengan gerombolan begal Kebonsirih.
“Dasar preman, anjing!” dan segala sumpah serapah berhamburan. Sebuah pertempuran silat lidah yang parah. Lidah mereka saling berkelindan. Baku-hantam. Tapi ada juga lidah yang cuma berdesis bak lidah ular berbisa, terjulur bak lidah anjing berlendir.
Sementara itu, dua lidah tampak sedang bergumul dari dua mulut lelaki dan perempuan. Saling sedot, saling dorong. Pergulatan yang begitu menghabiskan energi. Tampak dua tubuh bugil berguling-guling di atas ranjang yang berantakan. Keduanya tampak terengah, dan,… tiba-tiba black out.
Adegan itu hanya berada di dalam kotak monitor sebuah tablet, yang berada dalam genggaman entah siapa, di sudut ruangan yang panas. Di tengah pertarungan yang terjadi, ada juga yang masih asyik mesum menonton video bokep.
Tapi, dalam pertarungan bebas itu, di mana tokoh bernama Tjahjo Kumolo? Tak ada. Ia terlalu jirih, dan hanya berani berpose di media, bersilat lidah ini dan itu. Atau jangan-jangan yang sedang nonton video bokep tadi?
Dalam pada itu, pertempuran di luar arena berlangsung tak kalah seru. Pendekar dari berbagai perguruan silat tinggi, baik yang negeri maupun luar negeri, terlibat dalam tawuran massal. Tak jelas siapa lawan siapa. Meski ada juga dalam tawuran beberapa melakukan masturbasi, sambil membawa-bawa kitab suci.
“Ciyaaattt,…! Keputusan gerombolan Kebonsirih mengajukan hak angket kepada Ahok, membuat kita bertanya-tanya. Apa sebenarnya Hak Angket? Apa Hak-hak yang melekat pada DPRD dan bagaimana sebenarnya DPRD itu sendiri?” seorang pendekar melakukan tendangan salto ke langit kosong.
Pendekar ini seolah sedang memamerkan jurusnya. Menurutnya, DPRD dan DPR itu beda jauh. DPRD adalah lembaga quasi legislatif, bukan Lembaga Legislatif.
“Buktinya?” sebuah pukulan balik menyerangnya.
“DPR memiliki kewenangan untuk membuat Undang-Undang, DPRD tidak,” balas pendekar tanpa nama. “Yang membuat peraturan daerah adalah Kepala Daerah, pihak eksekutif. DPRD adalah termasuk unsur penyelenggara pemerintahan daerah, jadi bukan berhadapan satu sama lain dengan Gubernur sebagai pihak eksekutif.”
“Bukankah definisi hak angket adalah sebuah hak untuk melakukan penyelidikan yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat?"
“Iya, itu DPR,” pendekar tanpa nama pasang kuda-kuda. “Pertama, tidak ada yang menyebutkan bahwa DPRD memiliki hak angket. Kedua, hak angket adalah hak untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu Undang-Undang. Ketika DPRD memutuskan hak angket, itu sudah menyalahi undang-undang, karena rancangan APBD bukan Undang-Undang.”
“Kalau DPRD tidak setuju?”
“Mereka dapat meminta klarifikasi kepada Kepala Daerah,” tukas pendekar tanpa nama. “Satu lagi yang membuat kisruh, soal Hak Budgeting. Tidak ada dalam Undang-undang manapun menyebut DPRD memiliki Hak Budgeting. Untuk memiliki hak, maka harus diatur dalam Undang-Undang. Kalian baca pula UUD kita. Kalau dalam konstitusi saja tidak ada, dan apalagi dalam Undang-Undang, maka penggunaan hak budgeting DPRD adalah menyalahi hukum!”
“Tapi,…”
“Halah, pendekar-pendekar hukum tata Negara yang sering bekoar di televisi itu, adalah para penumpang gelap demokrasi. Mereka ngomong karena hanya menginginkan dua hal, popularitas dan uang. Bullshit dengan mereka. Akademisi, ups sorry, pendekar tukang!”
Pendekar tanpa nama terus berteriak-teriak, sembari pukul sana dan sini. “DPRD adalah bagian dari unsur pemerintahan daerah. Itu disebut dalam Pasal 18 ayat 3 UUD 1945. Kedudukan ini kembali ditegaskan dalam UUMD3 pasal 315 dan pasal 364, itu UU yang selalu dibanggakan kelompok Koalisi Merah Putih Kuning Hijau di Langit yang Biru! Taufik dan Sanusi biar nyaho tuh!” pendekar tanpa nama terus nyerocos. “DPRD provinsi merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah, yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah provinsi’.
Yang membuat RAPBD adalah Kepala Daerah. DPRD hanya dapat memberikan persetujuan, bukan ikut merancang, dan apalagi berani-beraninya memasukkan mata anggaran sendiri, dan kemudian memberikan salinan tersebut kepada Mendagri,…!”
“Mendagri, mana Mendagri!” beberapa orang berteriak-teriak.
Dan yang dicari-cari ternyata sedang menggeloso, habis masturbasi, sembari menggenggam ponsel berisi video bokep. Shit!


JILID 6 | 
 
Tiba-tiba suasana begitu sunyi. Tiada bunyi selisik pun. Senyap. Hanya di pesanggrahan Kebonsirih senyap begitu bebasnya. Di beberapa kota dan kampus, senyap dilarang. Karena dikhawatirkan menyebarkan virus komunisme.
Beberapa anggota gerombolan tampak berwajah lesu. Lulung tercenung-menung. Demikian pula Taufik seolah tak berkutik. Matanya mendelik, tak bisa balik. Mungkin syaraf matanya kejang. Sementara Sanusi pucat pasi. Demikian juga lainnya. Jangan-jangan penjara Ciangir benar-benar bakal dibangun oleh pendekar Ahok? Hiks!
“Abang tadi salah nyebut sih. Bukan USB, Bang. UPS!” Sanusi menyalahkan Haji Lulung.
“UPS itu pan yang di SMA? Kalau SMP mana ada UPS? Ane juga tahu kalo itu!”
“Itu IPS, Bang, bukan UPS!”
“Hadeh, pusing deh ama istilah-istilah! Pokoknya, Ahok harus kita lengserkan!” Haji Lulung melolong panjang. Wajahnya dalam siluet, dengan bulatan rembulan dalam lingkaran kepalanya.
“AMAR mengajukan permohonan pada MK, mereka mau bubarkan kita!” seorang anggota gerombolan Kebonsirih menggerundel.
“Amar itu pengacara dari mana? Kita bisa pakai Razman!”
“Razman? Ormas mana lagi, Bang? Tanah Abang? Kebon Melati?”
“Razman Arief Nasution, yang menangin Komnjen BG maren!” Haji Lulung tampak kesal.
“AMAR itu bukan pengacara, Bang,” sergah Sanusi. “AMAR itu Aliansi Masyarakat Resah Dewan Perwakilan Rakyat, disingkat AMAR DPR. Mereka mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi perihal Constitutional Complaint terhadap seluruh partai politik, yang mengakibatkan kisruh antara Ahok dengan DPRD DKI Jakarta,…”
“Suruh mereka jangan pakai bahasa Inggris, dong. Pusing ane!”
Dunia persilatan benar-benar sedang kacau. Tapi pendekar Ahok terus saja melenggang.
Para pendekar hukum baku-hantam sendiri. Tergantung yang bayar, atau tergantung besar-kecilnya kemaluan mereka. Sekarang bukan lagi soal rasa malu, tapi soal kemaluan. Kalau sudah ngebet, siapa yang bayar, kagak peduli. Mau Merah Putih, mau Indonesia Hebat, sama saja. Kedua kelompok ini sedang sama-sama kelimpungan. Jokowi dan Ahok, sepasang begajul yang mengobrak-abrik tatanan selama ini.
Di Senayan, Jokowi membuat pusing gerombolan Senayan. Beberapa parpol seperti PPP, Golkar, PAN, dan mungkin juga kelak PD, semuanya akan bertikai sendiri-sendiri. Sementara Nasdem persis nasi adem yang tak lagi berteriak soal restorasi Indonesia. Bisa jadi sudah berganti restoran serba ada. Ada yang begini, ada yang begitu, sama saja dengan lainnya. Seperti lagu Broery yang suka membawa lima pisau. Sama dan sebangun juga dengan PDIP.
Di Kebonsirih, pendekar Ahok menjungkirbalikkan semuanya lebih sadis. Ia seorang die hard gemblung yang tak tertahankan. Itu pula yang membuat Tjahjo Kumolo lebih baik sembunyi di padepokan silat Teuku Umar.
“Kalau bos-bos itu berani menarik kita dari Kebonsirih, kita bongkar semua kebobrokan mereka,…!” seorang begal nameless berteriak dengan lantangnya. “Perang bubat! Hancur, hancur deh semuanya! Di antero Jakarta begal-begal kini sudah menyiapkan pos-pos logistic, persis strategi Sultan Agung mau menggempur Batavia dulu. Para begal tak perlu khawatir, karena Warung Begal kini menguasai Jakarta!”
“Warung Tegal, dodolllll!”
Tiba-tiba Leo Imam Soekarno bagai pakai slink, dengan jubah hitam dengan pin Garuda Pancasila di dada, turun dari langit menenteng gitarnya.
“Permisi,” katanya kemudian, dan langsung ia genjreng gitarnya, “Kunci-mengunci dalam lingkaran, komedi begal-begal,… Di mana diri s’orang pemimpin, di mana diri s’orang pemimpiiinnnnn,…!” 


JILID 7 ALIAS TAMAT | 

Pendekar Ahok kelimpungan. Bukannya karena begitu banyaknya musuh, melainkan lebih karena tak satu pun musuhnya berani mendekat, untuk membuka pertarungan terbuka.
Pertarungan di medan Kemendagri, dimenangkan Ahok tanpa perlawanan. Para musuhnya hanya bekoar-koar di media, menjungkirbalikkan kata-kata. Dan menyerang sisi yang diharap mereka mendapatkan simpati. Sabetan-sabetan pedang, pukulan aji pengawuran, semuanya hanya untuk mendapatkan simpati mayoritas warga. Bahwa Ahok tidak punya etika, kualitas komunikasi politiknya buruk, tidak santun, china, bangsat, preman, dan 'memerangi pemimpin kafir seperti Ahok termasuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar,...'
Ganes TH dan Kho Ping Hoo, yang kebetulan sama-sama China pun, akan sulit mengangkat cerita silat dengan pendekar Ahok. Apa bagusnya, karena hanya cerita silat lidah? Sementara lidah tak bertulang? Begitu banyak lidah tak bertulang dan gemar bertualang.
Tiba-tiba saja pendekar Ahok meloncat dan duduk di depan SW.
"Elu serius, mau menamatkan cerita sampai di sini?" Ahok bertanya sembari menyodorkan kue ranjang bikinan isterinya.
"Iyalah, Koh. Ini cersilid yang tidak seru," SW berkata dengan getir. Kapan lagi pengarang bisa narsis nongol dengan jagoan ciptaannya, kalau tidak di sini. "Secara moral, Koh Ahok sudah menang. Mau apa lagi? Dalam semua cersil, sama seperti dalam cerita-cerita koboi, tokoh yang menang mesti melangkah pergi ke cakrawala, gone with the wind, dengan iringan musik yang syahdu."
"Pertarungan belum selesai. Kasusnya masih ada di KPK,..." pendekar Ahok sepertinya keberatan.
"Iya, kasus itu sudah ada di KPK. Tapi Kepolisian juga sudah digerakkan, untuk mengusut soal dana UPS itu. Belum nanti pertemuan para petinggi partai, yang harus menyelamatkan muka masing-masing."
"Kasihan, Pak Jokowi. Dia sendirian. JK, PDIP, Nasdem, terlalu kuat dibendung. Sementara Prabowo tak mau ambil sikap. Kalau Jokowi bisa dilengserkan, semua akan merasa lebih diuntungkan,..." pendekar Ahok bak politikus ulung menganalisa situasi.
"Halah, kok Koh Ahok jadi ikut-ikutan klenik. Soal konspirasi politik, mafia hukum, koruptor kelas kakap, dan sebagainya itu omong kosong," SW mencoba mendebat. "Politik itu tindakan yang nampak. Itu saja. Mendagri yang tak berani menyelesaikan perseteruan Koh Ahok dengan DPRD, itu cerminan jelas. Tapi, seperti kata saya tadi, Koh Ahok sudah memenangkan pertarungan ini. Jika pun Koh Ahok dilengserkan sebagai gubernur, atau terjadi kompromi, ya sudahlah. Atau ini benar bagian dari memunculkan Ahok sebagai cagub atau bahkan capres periode mendatang?"
"Itu bullshit, itu plintiran."
"Baguslah, kalau Koh Ahok tak mempercayai itu dan bahkan tak melakukannya. Sorry ya, bukan rasis, untuk menjadi presiden Republik Indonesia, bolah-boleh saja mencalonkan diri, tapi itu bunuh diri. Tidak ada kans di sana, banyak pertimbangan. Nanti saya sms saja apa alasan-alasan supranaturalnya, biar tidak sensi."
"Tapi, cerita ini mau diputus di sini?"
"Iyalah, ngapain. Nggak seru!"
"Iya. Boring. Nggak mesum juga,..." pendekar Ahok terkekeh.
"Tapi saya senang, Koh. Pemilu 2019 kita optimis politikus busuk bakal tersingkir, dengan pembelajaran politik ini, kecuali rakyat tetap saja mau diperbodoh untuk duit tak seberapa. Namun jika Koh Ahok bisa menyejahterakan rakyat Jakarta, rakyat Jakarta sendirilah yang bakal mampu membersihkan Kebonsirih dari para begal."
Langit Jakarta masih mendung, memang. Tapi, sebagaimana ending cerita-cerita silat yang tidak bermutu, semuanya akan berlalu, gone with the wind, kecuali para anggota gerombolan Siluman Nagadana yang berada di balik jeruji Ciangir. | Tamat.

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...