Minggu, Juni 03, 2018

Mengapa Doa Mesti Dipanjatkan di Mekkah, Amien?


Mengapa doa mesti dipanjatkan? Jawab Gus Dur, karena doa tak bisa manjat sendiri. Benarkah?

Sebagai lelucon, omongan Gus Dur tampak benar adanya. Tetapi tidak sebagai lelucon, artinya sesuatu yang punya makna serius, juga tidak salah. Karena doa hanya bisa makbul jika ada alat, atau media, untuk mencapainya. Ia tidak hanya kata-kata, tetapi ada proses-proses yang menyertai. Doa bukan dalam konsep management by product, tetapi management by process.

Dalam managemen by product, sorga dan neraka kayaknya gampang banget. Maka para wahabi bisa dengan gampang mengkafirkan manusia dan menjebloskan ke neraka. Dengan management by product, mereka membayangkan di sorga ada 77 bidadari yang siap melayani dalam party sex. Emangnya, agama hanya untuk kaum lelaki? Terus kalau ada kaum hawa frustrasi, lantas menjadi lesbi, dikutuk-kutuk tanpa mau ngerti penyebabnya adalah agama yang bias gender sejak dalam pikiran?

Bentuk lain dari management by product, yang khas dan sering dilakukan para soehartois yang orde-bauk itu, seperti apa yang dilakukan oleh Amien Rais dan Prabowo di Mekkah. Para pemujanya merasa miris, dan kata-kata yang disusun di media online bisa sangat menggetarkan, meski terkesan palsu. Pasalnya, benarkah doa di depan ka’bah akan makbul begitu saja? Jika demikian, alangkah sengsaranya orang miskin yang tak bisa menjangkau Mekkah. Memangnya situ mau menuding tuhan tidak adil dan bijaksana?

Alangkah wagunya jika kita percaya. Karena tuhan allah tidak dalam karsa pribadi manusia. Jika tuhan allah dalam karsa pribadi kita, buat apa kitab suci ditulis dalam jumlah halaman yang banyak? Kita cukup datangi saja tempat-tempat yang dibilang suci. Mau ke Mekkah kek, Vatikan kek, Jerusalem kek. Lantas di sana kita mohon menangis-nangis, ya tuhan, 2019 ganti presiden, karena presiden tahun ini menyengsarakan rakyat dan dzalim.

Oalah. Jadi, tuhan itu hanya untuk orang kaya, yang bisa umrah berkali-kali, karena harus koordinasi dan sowan pada Rizieq Shihab yang menghindari kejaran polisi atas dugaan kasus chatting sex setahun lalu? Dikiranya tuhan tidak update informasi. Dikiranya tuhan bodoh nggak ngerti politik. Dikiranya tuhan nggak baca medsos, meski sama sekali tidak punya akun satu pun. Ngapain susah-susah punya akun, wong beliau bisa berubah ujud menjadi akun itu sendiri. Dst.

Cara beragama politikus di Indonesia, sungguh-sungguh sangat menghina akal sehat manusia. Juga akal sehat tuhan tentunya. Apakah tuhan punya akal sehat? Akal sehat tuhan bisa ditelusuri pada hukum alam semesta raya ini. Nalarnya bisa dilihat pada bagaimana semua itu diterakan dalam kitab-kitab sucinya. Hukum-hukum kausalitas yang ketika disusuri sedalam-dalamnya, menyadarkan kita tak ada yang ajaib. Semuanya berada dalam proses, dalam sebab-akibat, asbab-musababnya, yang menjadi doktrin jalannya kehidupan itu sendiri.

Kalimat-kalimat kitab suci di mana pun bisa menjadi disederhanakan dalam beberapa kata; Yang jahat ‘kan celaka, yang salah ‘kan seleh, yang benar ‘kan dimuliakan, yang culas ‘kan dihisab tindakannya sendiri.

Karena jika beragama, atau berdoa, lebih bergantung pada di mana kita panjatkan, apakah Real Madrid dan Liverpoll akan berdoa di tempat yang sama? Lantas, bagaimana jika hasilnya beda? Tuhan pilih kasih?

Semuanya akan diserahkan di lapangan. Semisal kita ngomong capres Indonesia 2019 cuma Prabowo dan Jokowi, maka tuhan menyerahkan mekanismenya pada kebijaksanaan manusia. Entah dengan jalan demokrasi, musyawarah mufakat, dengan menyertakan ratusan juta penduduk sebagai pemegang hak pilih, dan sebagainya. Begitu saja kok goblog men Amien Rais, keraya-raya ke Mekkah bersama Prabowo, untuk berkonsultasi dengan Rizieq Shihab. Kenapa nggak konperensi pers via phone, atau whatsappan? Takut disadap ya? Kan ini bukan phone-sex toh? Rizieq trauma ya?

Legitimasi-legitimasi moral yang dibangun politikus Indonesia, semakin menunjukkan tingkat kebahlulan mereka. Tuhan dijual murah-murahan, bukan oleh penista agama tetapi oleh pendusta agama. Apa beda penista dan pendusta? Bedanya di huruf ‘i’ dan ‘du’. Selebihnya sama. Tak pedulu Rumi pernah menuliskan; Usaha dan doa tergantung pada cita-cita. Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Padahal dari Rumi, kita diajari merenung, tentang makna kata yang lain bernama tulus, ikhlas, pasrah. Berjuang sekeras-kerasnya, di dalam kebenaran dan bingkai moral. Selebihnya kemudian pasrah ngalah. Berserah pada ketentuan hukum alam. Karena ada kemahaghaiban yang tak teraba; Jika semua telah berusaha, mengapa Real Madrid yang menang dan Liverpool yang kalah? Mengapa dulu Jokowi yang menang dan Prabowo yang kalah? Bahkan kadang tidak selalu dengan jalan lurus, sehingga apa yang telah diusahakan, apapun itu, bisa jadi dimenangkan, sebagaimana Ahok mesti disingkirkan.

Rusuh dan tak rusuh, bersih dan kotor, bisa sama-sama punya peluang menang. Bukan hanya di Indonesia fenomena itu terjadi. Di seluruh dunia. Menurut Pram (oleh penganut wahabi di Indonesia dibilang penulis kemarin sore yang cari popularitas), doa dalah gerakan dari yang paling minus pada yang paling plus. Dengan rentang jarak yang alpha et omega itu, akan sangat tergantung pada management by process, bukan management by product, yang selama ini konon hanya milik si majoritas. Hingga sorga dan neraka sudah dikapling-kapling, kalau milih Prabowo masuk sorga milih Jokowi masuk neraka.

Hanya di Indonesia pembodohan agama dibiarkan berlangsung, dan tidak dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan seperti korupsi atau narkoba. Sementara, kita pura-pura tak tahu, bahwa ada doa yang dikabulkan, ada permohonan yang dipenuhi, tapi ada juga yang tidak. Ketika sedang berdoa saja, kita meyakin-yakinkan diri, bahwa kita bagian penting dan dekat dari tuhan. Padahal jarak kita dengan citra budi tuhan saja, sangat jauhnya.

Karena ada juga doa yang dipanjatkan untuk meniadakan liyan; “Ya tuhan, hamba mohon jadikan idola saya presiden, sementara yang saya benci tidak dimenangkan dalam pilpres.” Emangnya tuhan pesuruhmu? Lagian, kenapa doa mesti dipanjatkan? Sekali lagi kata Gus Dur, karena doa tak bisa manjat sendiri.

Doa itu harus dipanjatkan oleh ilmu pengetahuan, kerja keras, ketekunan, keteguhan, keikhlasan, ketulusan, kerendah-hatian, kepasrahan, kesungguhan, bahkan mungkin juga tergantung keberuntungan. Karena ada juga yang tekun berdoa, tapi sial melulu, karena dalam berdoa pun tidak tulus.

Apa itu tulus? Tulus, kata Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ allaihi wassallam, ibarat seekor semut item di atas batu item yang besar.   

Prabowo: Ksatria Penunggang Kuda Poni di Atas Kuda Troya

Lawan Jokowi sesungguhnya bukanlah Prabowo Subianto. Prabowo mah kartu mati. Kartu mati? 

Prabowo Subianto, bekas Danjen Kopassus? Bekas Pangkostrad? Letjen, dengan tiga kali naik pangkat dalam setahun. Tapi tiba-tiba, Dewan Kehormatan Perwira pada Mei 1998, memberhentikannya. 

Wiranto, juga Fahrurrozy di DKP bilang, istilah diberhentikan penghalusan kata dipecat. Karena PS mantu penguasa sangar saat itu. Soeharto menciptakan soehartoisme dan the soeharto system yang akut, sampai kini. 

Setelah itu, tak ada keistimewaan Prabowo. Ia kemudian hanya pedagang biasa. Jika pun tampak luar biasa, karena akibat kekuasaan Orde Baru dulu. Tiba-tiba menguasai konsensi hutan sekian ribu hektar. Tiba-tiba bikin pabrik kertas, meski ngemplang karyawan. Dan, tiba-tiba, punya lahan luas di Hambalang. 

Menjadi ketua HKTI pun, berkonflik dan tersingkir. Di Gerindra, dengan system latihan dan disiplin militer, parpol ini kalah canggih dalam pengkaderan dibanding PKS, yang jauh lebih miskin tetapi elitenya kaya. Mangkanya Gerindra lengket dengan PKS. 

Sebagai politikus, Prabowo terlalu culun. Bahkan kini pusing belum maju nyapres, karena dikunci gertakan PKS. Partai padi kuning itu hanya akan berkoalisi dengan Gerindra jika cawapresnya dari PKS. Kini masih tarik ulur. Jika pun Prabowo nyapres, tapi cawapresnya bukan dari PKS, dan PKS tak protes, bisa jadi sudah untung besar. 

Lantas, Prabowo sendiri, bergerak atas nama apa dan siapa? Bisa jadi atas nama dendam tak berkesudahan. Ia merasa dikhianati sejak konvensi Golkar, perjanjian Megawati, Jokowi-Ahok, hingga kemudian Ridwan Kamil, dan seterusnya. Celakanya, nyapres 2014 kemarin dikalahkan anak kemarin sore, bernama Jokowi. Kampret ‘ndak tuh? 

Amien Rais selalu ngritik Jokowi agen asing dan aseng. Tak peduli sepak-terjang Jokowi yang keras kepala dan menantang Amerika Serikat. Di bawah Jokowi, Indonesia lebih percaya diri dan dihormati berbagai negara. Tetapi Amien Rais tak percaya, namanya orang nggak suka, atau dikecewakan. Buta mata dan hati. Pura-pura tak mendengar Hashim Djojohadikusumo menjual Prabowo lebih murah. Akan jadi mitra terpercaya pemerintah AS yang jinak jika pemerintahan Indonesia di bawah Gerindra. 


Jadi siapa yang kampret? Amien Rais, Prabowo, atau Hashim? Prabowo dilenakan para oportunis di sekeliling. Ketika Soeharto longsor, kelompok Islam garis kekuasaan (juga garis kekerasan), mencoba mengambil kesempatan. Militer pecatan dan yang kecewa, bergabung dengan para kombatan, hingga muncul FPI. Cendana nimbrung dengan sakit hatinya. 

Kemudian kita tahu, Kivlan Zein ngomong bahaya komunisme. Dagangan lama. Sementara Rizieq Shihab ngomong soal agamaisme. Dan para jirih itu menunggangi Prabowo, dalam kubangan kepentingan. Prabowo bak kuda Troya, yang menunggang kuda pony, atas nama sirkus demokrasi. 

Harusnya ia balik kanan, berkhidmat pada NKRI, juga pada para yang hilang, entah ke mana, termasuk Wiji Thukul dkk. Sekiranya tak berada dalam halusinasi.

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...