Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 01, 2020

Ketika Engkau gelisah

Suatu hari, Benny Moerdani dibentak-bentak. Oleh lelaki yang jauh lebih muda. Bukan dari militer. “Ayo jalan! Terus angkat! Jangan diam,…!” teriaknya memberi aba-aba.
Saya menyaksikannya langsung. Di kawasan Jakarta Selatan. Waktu itu tahun 2002. Tentu Benny Moerdani sudah pensiun dari ketentaraan. Tak lagi berkuasa dan ‘mengerikan’. Ia saya temui sedang menjalani therapy untuk derita stroke-nya.
Memandangi sang jenderal, yang wajahnya sangat tentara, saya bayangkan tingkat keganasannya di medan perang. Ia punya reputasi baik. Juga disegani. Bahkan oleh Soeharto, yang mungkin menganggapnya sebagai anak macan. Berbahaya.
Menyaksikan Benny Moerdhani, yang susah payah mengangangkat kakinya, meski cuma beberapa senti, saya ingat Soeharto. Bagaimana orangtua itu? Lebih sentausa karena anak-anaknya konglomerat sukses? Soeharto baru 2008 meninggal, setelah empat tahun sebelumnya Leonardus Benjamin Moerdani mendahului.
Tak terbayang. Dua tangan Pak Benny susah payah menyangga tubuh rentanya, di antara dua batang besi yang mengapit. Hampir satu jam saya menunggui, bagaimana ia berjalan setengah meteran saja.
Begitulah manusia. Dan mungkin semua yang hidup. Akan mengalami proses dari kemunculan, kelahiran, pertumbuhan. Hingga saat menua, untuk kemudian lampus. Menguap. Sirna. Mengeja tiga huruf, sebagaimana mantra Darmanto Jatman; Ra dipepet, ka, sa. Rekasa. Samsara. Meski kata ‘samsara’ adalah bagian tak terpisahkan dari ‘baraka’, sebagaimana tergambar dengan puitis dalam film dokumenter Ron Fricke.
Dan kematian senyatanya sungguh menakutkan, ketika disadari. Sebetapapun nalar dan iman mencoba gagah memahami. Apalagi ketika bayang-bayang kematian muncul dalam kesadaran. Ketika manusia mengetahui ketidaktahuannya. Termasuk bagaimana menghindarkan diri dari Corona Virus Disease 19.
Para kadrun yang berlagak jumawa pun, saya kira juga takut mati. Meski meyakini kematian adalah jihad. Sekalipun di sorga dijemput 77, atau 200.000 bidadari, atau berapalah suka-suka mereka. Tujuh juta juga boleh. Meski saya tak sampai hati, membayangkan Fahira Idris disambut 7 bidadari saja. Apa yang akan terjadi?
Dalam hal misteri kematian, Aristoteles pun mungkin putus asa. Sehingga dengan sedih ia berkata, “Doa memberikan kekuatan pada yang lemah. Membuat orang yang tak percaya menjadi percaya. Dan memberikan keberanian pada yang ketakutan!” Bila kau tetap cemas dan gelisah? “Masuklah ke dalamnya,” berkata Ali anak Pak Thalib. “Ketakutan menghadapinya, lebih mengganggu daripada rasa takut itu sendiri.”
Namun ketika agama tak bisa menjawab apa-apa? Politik bisu-tuli? Ilmu pengetahuan seolah lumpuh? Kemanusiaan pelahan beku? Lieben heißt, unser Glück in das Glück eines anderen zu legen, tulis Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646 – 1716), ahli matematika dan diplomat Jerman. Tapi, masih adakah cinta untuk berbagi kebahagiaan? Demi kebahagiaan orang yang kita cintai? | @sunardianwirodono

Jumat, Mei 18, 2018

Belajar dari Sang Altruis, Ibu Lestari Projosuto



Dimanakah Sang Malaikat Menyembunyikan Sayap?

Sebuah Pelajaran untuk Menjadi Biasa.

Oleh: Sunardian Wirodono
 
Mbah Tari, atau Eyang Tari, atau Ibu Lestari Projosuto, adalah manusia biasa. Namun, ia menjadi begitu luar biasa, sekiranya kita jujur melihat diri kita. Betapa yang telah dilakukannya, untuk memuliakan kemanusiaan, bisa jadi masih merupakan angan-angan kita. Atau baru merupakan kesadaran ideologis belaka. Dengan berbagai dalih.

Setidaknya, jika kita melihat bagaimana Ibu Lestari memulai kerja-kerja kemanusiaan, nun jauh sebelum kita sampai kini pun belum menyadarinya. Pada pertengahan dekade 70-an, ketika waktu itu Ibu Lestari menyusuri jalanan dan kampung-kampung kumuh di Jakarta. Mencari anak-anak terlantar. Menemui dan membujuknya untuk bersekolah.

Bersekolah, hingga sampai pada awal-awal kekuasaan Orde Baru, bagi anak-anak dari keluarga miskin, masih merupakan kemewahan. Bahkan sebagian besar orangtua mereka, menganggap bersekolah sebagai sesuatu yang sia-sia. Karena tak terjangkau, dan hanya menyadarkan pada posisi mereka, yang bukan saja terpinggirkan, melainkan disingkirkan.

Situasi-situasi itu, di mana negara abai, saya kira yang kemudian mewarnai bagaimana sikap keras Ibu Lestari, dalam menghadapi permasalahan secara sendiri dan mandiri. Ibu Lestari bahkan sampai pada pernyataan, kepada siapapun yang ingin membantunya, untuk tidak merusuhinya dengan tetek-mbengek masalah administrasi, dan aturan birokrasi. Jika ingin membantu, bantu begitu saja. Ibu Lestari ogah direcoki untuk laporan ini-itu dan sebagainya.

Sebuah sikap yang bukan tanpa alasan. Sekalipun kelak di kemudian hari, hal ini memunculkan permasalahan baru. Setidaknya, masalah internal di Yayasan Hamba, yang juga berhadapan dengan jaman yang berubah. Sebuah tantangan tersendiri dalam apa yang selalu disebut tragedi perubahan.

Namun justeru pada sisi itu, Ibu Lestari adalah sosok yang unik, otentik, sekaligus problematik. Dan itu menantang saya, untuk menyusuri jejaknya. Karena itu pula, senang bisa mengikuti ‘misi rahasia’ Ketua Yayasan Hamba, Ibu Kona’ah Anisasri Melani, menemui anak-anak asuh Ibu Lestari semasa di Jakarta, dan anak-anak Yayasan Hamba yang kini tinggal di Jakarta.

Dalam film dokumenter sepanjang 75 menit yang saya buat, mengenai anak-anak asuh Ibu Lestari di Jakarta, antara tahun 1976 – 1995 (yang kemudian berlanjut di Yogyakarta dari 1995 hingga sekarang, tanpa henti), saya menjudulinya dengan; Melacak Jejak Cinta di Jakarta.

Menemui anak-anak asuh Ibu Lestari, yang mereka kemudian beranak dan sebagiannya menitipkan anak (bahkan cucu) mereka pula kepada Ibu Lestari di Yogya, sungguh dengan jelas hal itu memunculkan sosok Ibu Lestari, sejatinya. Manusia dengan spirit altruisme yang sangat dalam. Spirit kemanusiaa.

Ibu Lestari tak suka sama sekali dengan politik. Bahkan ketika mendapat tawaran untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ketika hendak memilih jurusan sosial hal itu dibatalkannya. Hanya karena di Indonesia, fakultas ilmu sosial selalu digabung dengan ilmu politik. Maka dipilihlah kuliah S2 di Asian Social Institute di Manila, Filipina. Karena nama jurusannya tak mengandung istilah politik. Ibu Lestari mengambil jurusan sosiologi, dengan tesis tentang anak-anak jalanan di Manila City, dan lulus tahun 1976.
 
Satu pribadi lebih berharga dari seluruh dunia.
Ibu Lestari lebih berselibat dengan panggilan altar jalanan. Ia mendapatkan panggilannya, untuk pelayanan dan merawat kaum papa. Mereka yang terpinggirkan secara kultural dan struktural. Anak-anak yang melarikan diri ke jalanan, karena kemiskinan ekonomi dan kemiskinan kasih sayang.

Kemiskinan struktural adalah kata kunci, di mana negara pada waktu itu, tak mampu memenuhi sebagaimana tuntutan Undang-undang Dasar 1945, khususnya pasal 33. Sebuah situasi yang bahkan pun hingga kini belum beranjak jauh.

Anak-anak, yang tentu sesungguhnya adalah penerus estafeta generasi suatu bangsa, selalu menjadi korban, dari sebuah era pemerintahan yang belum genah-diri.

Mendengarkan penuturan Pak Maman yang kerja mengayak di selokan-selokan kawasan Senen, Bang Sofyan sang pemulung di daerh Semper, Bu Hartini atau pun ibunya Dian yang pengupas bawang di Pasar Senen, atau Pak Ruslan di Rusunawa Jatinegara Kaum, atau juga Sugeng, Bang Pe’i, dan angkatan pertama anak-anak asuh Ibu Letari, saya seolah dipertontonkan sebuah film; bagaimana cara Tuhan bekerja melalui para malaikatnya.

Ibu Lestari menyantuni anak-anak, yang umumnya mudah didapati di kampung-kampung miskin dan kumuh di Jakarta Utara, atau di daerah-daerah tak jauh dari pangkalan kereta api, bus, atau pun pasar seperti Pedongkelan, Pasar Minggu, Jatinegara, Srengseng, Senen, Koja, Penjaringan, Sunter, dan lain sebagainya.

Di Rusunawa Jatinegara, Pak Ruslan dari Pedongkelan, bahkan mengatakannya pada saya, “Jika tak ada Bu Lestari, anak-anak Pedongkelan itu tidak bakal kenal sekolah selamanya,…"

Pedongkelan adalah pemukiman liar, yang pada jaman Ahok mereka digusur dan dipindahkan ke Rusunawa Jatinegara pada 2017. Sayangnya, Ahok terlambat datang, karena tak hadir pada saat Ibu Lestari berkiprah di Jakarta. Sekiranya mereka bertemu, saya kira Ahok akan mengerti, bahwa masalah manusia bukan sekedar difasilitasi. Tetapi juga dimanusiakan dengan kasih sayang, dipersiapkan dengan pendidikan dan keterampilan.

Pernyataan seperti yang disampaikan Pak Ruslan, juga disampaikan Ibu Hartini, atau juga ibunya Dian dan Wiwin. Bagaimana anak-anak, terutama anak-anak perempuan, akan terus menjadi korban dari situasi yang tak berkesudahan. Menjadi kaum korban dalam piramida korban manusia. 

Salah satu contoh kecil rangkaian cara Tuhan bekerja, saya kira bisa dilihat pada cerita Monika, yang terjaring ikut program pertukaran pelajar. Anak yang diasuh di Yayasan Hamba itu, anak seorang penjual kopi jalanan, mendapat kesempatan gratis untuk pergi ke Kanada dan Eropa. Para pengasuh Yayasan Hamba pusing mencari alamat orangtua Monika, untuk mengurus paspor. Ibu Monika tak punya rumah, tinggal di kolong jembatan secara nomaden. Karena berita anak penjual kopi melanglang dunia menjadi viral di media, akhirnya Dinas Sosial Jakarta memberi rumah untuk orangtua Monika, di sebuah rusunawa Jakarta.

Dengan menyekolahkan anak-anak, yang pada mulanya ‘ogah bersekolah’, karena merasa sia-sia (di samping karena tak mampu membiayai), Ibu Lestari mengajak mereka beranjak. Menginjak pada satu dataran. Tumbuhnya kesadaran baru tentang sikap mental, dignity, integrity.

Tidak beranjak dari kata-kata besar, karena ketidaksabaran untuk mengangkat level atau derajat manusia Indonesia. Ibu Lestari melakukannya. Dengan diam-diam. Dalam sunyi sendiri.

Cerita Enny Winingsih, salah satu anak asuh Ibu Lestari, yang bisa kuliah sampai D3 dan bekerja di bank swasta, menohokkan pertanyaan; Bagaimana nasibnya andai tidak bertemu dengan Mbah Tari, dalam kehidupannya? Sebagaimana pengakuan Wiwin, anaknya Empok yang tinggal di kontrakan sempit di Gaplok, tak jauh dari Senen.

Anak-anak asuh Ibu Lestari ini, sering adalah anak-turun, atau sesaudara. Seperti Pak Maman dan Bang Sofyan, hampir semua anaknya dititipkan pada Ibu Lestari. Hanya bedanya, Bang Sofyan tak pernah menjadi anak asuh, sebagaimana Pak Maman yang ikut Ibu Lestari sejak masih umur 10 tahun. Enny Winingsih, tiga adiknya bersama Ibu Lestari. Demikian juga lainnya seperti Mega, David kakak dari Monika.

Itu adalah kepercayaan.

Jika pada bagian awal saya menyebutkan tentang betapa pribadi Ibu Lestari juga problematik, karena betapa tidak mudah menerjemahkan spirit altruis itu menjadi sesuatu yang nyata, sederhana dan operasional. Ibu Lestari sangat menekankan kebebasan bagi anak-anak asuhnya, sesuatu yang menjadi bermasalah untuk anak-anak masa kini.

Ada perbedaan karakter yang sangat menonjol pada anak-anak asuh Ibu Lestari dalam kurun 40-an tahun perjalanannya. Pada masa-masa awal, yang direngkuh Ibu Lestari adalah anak-anak jalanan, anak-anak gelandangan, anak-anak yang melarikan diri dari rumah. Mereka adalah anak-anak yang berani menantang hidup. Kebebasan adalah sebuah ideologi, sebuah traktat perang, karena rumah atau orangtua, dan juga sistem nilai, tidak memberi ruang dan peran bagi anak-anak. Tak ada tempat, tak ada media, tak ada kepercayaan.

Pada masa-masa kemudian, bersamaan dengan tumbuhnya ekonomi masyarakat, meski tetap saja belum adil dan merata, namun yang tumbuh kemudian adalah generasi rumahan, yang mendapatkan perlindungan orangtua secara lebih berlebihan. Perlindungan dengan proyeksi ke depan, yang belum tentu setepatnya diterapkan. 

Apalagi pada kenyataannya, anak-anak asuh di Yayasan Hamba, bukan saja sejak kecil, melainkan bahkan sejak dalam kandungan ibunya, sudah berada di Hamba. Mereka yang dibuang atau terbuang dari keluarga dan masyarakatnya. Mereka tumbuh sebagai anak asuh hingga mereka dianggap mampu berdiri-sendiri pada usia dewasa, atau dikembalikan ke orangtunya, ketika keluarga mereka telah bisa menerimanya kembali. 

Di situ saya kira, kata ‘kebebasan’ menjadi bias, karena berangkat dari formulasi yang berbeda. Kebebasan sebagai frame, kini menjadi sesuatu yang dilematis. Justru karena ketidakpandaian kita dalam memformulasikan ukuran kebebasan itu sendiri.

Spirit altruisme Ibu Lestari Projosuto, saya kira menarik untuk direnungkan dari sisi ini, ketika kita mencoba membandingkan anak-anak asuhnya, dalam lintas generasi, dari 1976 hingga sekarang ini, pada tahun 2018, ketika usia Ibu Lestari mencapai 75 tahun, dengan masa pengabdian 42 tahun yang luar biasa.

Mbah Tari di rumahnya yang sederhana.
Ibu Lestari Projosuto, dari keluarga Katholik yang saleh. Kakaknya, Franciscus Xaverius Rocharjanta Prajasuta, almarhum, adalah monsinyur di Keuskupan Banjarmasin. Bahkan Ibu Lestari pernah pula masuk Biara Ordo Sancta Ursula, sambil kuliah di Sekolah Tinggi Kateketik Katolik di Jl. Gereja Theresia Jakarta.

Seorang manusia yang sederhana, dengan rumah yang juga sangat sederhana di Samirono, Yogyakarta. Tak menyimpan kekayaan harta dunia, selain buku, Rosario dan Bunda Maria, disamping beberapa potong pakaian yang semuanya adalah pemberian saudara dan sahabat.

Gedung dan kantor Yayasan Hamba, di kawasan Pakem, bantuan dari teman-teman pribadinya dari Belanda.

Jika pun Yayasan Hamba memiliki gedung yang luas dan asri di kawasan Pakem, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, semua itu karena simpati dan bantuan teman-teman pribadinya di Belanda. Gedung itu untuk kantor, juga rumah tinggal para pengasuh dan anak asuh yang kini semuanya berjumlah sekitar 60-an, dari usia beberapa bulan, kelas TK, SD, SMP hingga SMA. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang terbuang dari keluarga, atau yang lahir tak dikehendaki.
Saya pernah mendengar, bahwa keberadaan Yayasan Hamba di Pakem, dicurigai sebagai tempat kristenisasi. Saya sungguh sangat marah mendengar hal itu. Betapa kefanatikan beragama membuat rasa kemanusiaan justeru mati. 
 
Melacak jejak cinta Ibu Lestari di Jakarta, semua orang akan mengerti. Bahwa Ibu Lestari adalah pejuang kemanusiaan tanpa pamrih. Tanpa mempedulikan latar belakang suku dan, apalagi, agama. Pengakuan dari Yanti, Akim, juga anaknya Bang Pe’i yang muslimah taat, semoga bisa membukakan kepicikan orang-orang yang mencurigai, apa yang dilakukan Ibu Lestari. Betapa berbahayanya kepicikan itu.

Seingat saya, tak pernah ada pembicaraan soal agama. Bukan karena tak penting. Tetapi itu laku peribadatan masing-masing orang dengan pilihannya. Di Yayasan Hamba, jelas mayoritas adalah Islam, demikian juga pengurus dan pengasuhnya, di samping agama lainnya seperti Kristen Protestan, Katholik, juga Buddha. Mereka lebur dalam bahasa agama yang paling hakiki, ialah kemanusiaan, yang adil dan beradab.

Ibu Lestari adalah manusia biasa. Tapi dia seorang altruis sebenarnya. Karenanya ia menjadi luar biasa. Lebih karena kita tidak terbiasa, atau tidak biasa, atau bahkan tidak bisa, melakukan hal-hal yang sebagaimana telah dilakukannya. Jika saya, atau kami, atau kita, menyebutnya sebagai malaikat yang menyembunyikan kedua sayapnya; Saya kira agar kaum papa yang terpinggirkan itu, tidak ketakutan dan curiga, sebagaimana negara menyingkirkan dan menghardik nasib mereka menjadi pecundang.

Dalam psikologi pecundang, kepada siapa suara mereka didengarkan, hanyalah pada mereka yang dipercaya dan diharapkan. Maka akan dibukakan hati dan kesediaannya untuk bersama. Karena mereka bukan sekedar angka-angka statistik, atau deret ukur dalam nomina anggaran pemerintah. Mereka adalah manusia.
 
Betapa kita melihat, ada begitu banyak manusia-manusia biasa, mengepakkan sayap-sayap malaikat di kedua bahu mereka. Dan betapa justeru menakutkan. Mencemaskan. Atau lebih jauh lagi, mencurigakan. Karena betapa palsunya dengan label-label di sekujur tubuh dan kata-kata.

Ibu Lestari menyembunyikan kedua sayapnya, dalam spirit altruisme. Ia tak ingin anak-anak ketakutan melihatnya, atau bahkan mencurigainya. Ia sembunyikan kedua sayapnya, di dalam bahasa kemanusiaan yang nyata, yang membuat perbedaan itu kikis. Pada kenyataannya, lebih banyak yang bersedia menolong karena merasa berbeda. Bahkan sering dilabeli mantra-mantra, ‘tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,…’ Begitu pentingkah kata ‘lebih baik’ itu?

Kata sesama, lebih sering lamis. Sementara Ibu Lestari, karena sesama maka ia membersama. Melebur dalam jagat cilik dan jagat gedhe anak-anak asuhnya. Tanpa jarak.

Sentuhan kasih sayangnya, yang terbungkus dalam tubuh kecil kurus itu, bahkan mampu melumpuhkan seorang bajingan bandel sekelas Mose, atau pun Robot Gedek yang sohor dulu. Karena bukan hanya menyembunyikan sayap, melainkan Ibu Lestari menyediakan telinga, juga hatinya, untuk mendengarkan. Mendengarkan, bagi Ibu Lestari, ialah memanusiakan. Memberi kesempatan.

Terimakasih Ibu Lestari Projosuto, malaikat yang menyembunyikan sayapnya.

Bersamanya, kita  berada di suatu tempat di mana kita dibolehkan ikut belajar, mengenai kasih sayang, ketulusan, dan bahasa-bahasa kemanusiaan yang sederhana. Membumi.

Jauh dari kata-kata besar, yang disuci-sucikan, yang dinyata-nyatakan dalam delusi, glorifikasi, dan megalomania.

Buku kado ultah ini pun, pasti juga akan menjadi masalah bagi Ibu Lestari, karena di luar perkenannya. Namun alangkah sombongnya kita, jika tak mau berbagi penghormatan pada manusia baik ini. Agar kita semua boleh turut serta, belajar kepada kesederhanaan. 

Tuhan besertamu, Ibu Lestari Projosuto, sang altruis.

Yogyakarta, 11 Mei 2018
Sunardian Wirodono, volunteer Hamba.


MALAIKAT YANG MENYEMBUNYIKAN SAYAPNYA

| Pernah mendengar dongeng bidadari bernama Nawang Wulan, yang tak bisa kembali ke kahyangan, karena ulah Jaka Tarub? Ini kisah tentang bukan sekedar bidadari (yang dalam dongeng selalu hanya sebagai sosialita, dan tak pernah membawa misi sosial nyata). Ini kisah nyata tentang malaikat yang menyembunyikan kedua sayapnya. Kisah Ibu Lestari Projosuto, atau Maria Immaculata Roch Endah Lestari Prajasuta, yang lebih dikenal di kalangan anak jalanan dengan sebutan Bu Tari, Mbah Tari, atau Eyang Tari, yang lahir di Klaten, 11 Mei 75 tahun silam.

Kemarin malam kami merayakan ultahnya, juga mengenang 42 tahun lebih perjalanan cintanya kepada orang-orang papa, mereka yang terpinggirkan dan tersingkirkan. Ibu Tari adalah ibu para gelandangan dan anak-anak jalanan Jakarta, pada dekade 70-an. Bagi kami, saya dan teman-teman, Ibu Tari adalah sosok yang menguatkan, dan mengingatkan bukan dengan kata-kata. Yang meneguhkan untuk meyakini, bahwa ada kebenaran dan keadilan, sekali pun itu mesti harus diperjuangkan.

Tahun 1976 lulus S2 dengan tesis mengenai anak-anak jalanan di Manila (Asian Social Institute, Filipina), Ibu Tari kembali ke Indonesia. Meneruskan apa yang sudah dilakukan sebelum akhirnya melepaskan kaul, dari Biara Ordo Ursulin Bidang Pelayanan yang dijalani selama 17 tahun. Alasannya sangat sederhana; “Saya keluar dari biara Ursulin karena tidak enact dengan teman-teman. Hampir setiap hari saya baru bisa pulang ke biara pukul 23.00 atau 24.00, sementara teman-teman lainnya sedang doa bersama. Kesibukan saya mengurus para gelandandan dan anak-anak jalanan membuat saya tidak bisa mengikuti kegiatan di komunitas seperti teman-teman lainnya. Daripada mengganggu ketenteraman komunitas lebih baik saya mundur,…”

Ketika ke Jakarta menemui beberapa mantan anak asuh Ibu, saya mendengar banyak pengakuan, bagaimana seandainya anak-anak itu tidak disambangi Ibu. Anak-anak di daerah Pangkalan Asem, Sunter, Srengseng, Jatinegara, Gaplok, Senen, Pademangan, Kampung Sawah, Pedongkelan. Nama Ibu Tari yang lebih mereka kenali, daripada para jagoan media yang kemudian banyak disebut. Hampir nama-nama sohor anak-anak jalanan legendaris pada 70-an, adalah anak-anak yang mengenal Ibu Tari. Termasuk Robot Gedek yang mulia itu, juga Musa yang bisa menebas tangan orang dengan samurai, tetapi luluh dalam pangkuan Ibu Tari. Juga bagaimana semua anak-anak jalanan yang ditangkep laler ijo, selalu menyebut nama sebagai Sugeng binti Lestari, Maman binti Lestari, Musa binti Lestari,…

Tahun 1995, Ibu Tari memboyong anak-anak, terutama yang puteri, dari Jakarta ke Yogyakarta. Hingga kemudian beliau mendirikan Yayasan Hamba, untuk anak-anak yang kehadirannya ditolak keluarga dan lingkungan. Anak-anak yang dibuang, bahkan oleh keluarga dan ibunya sendiri. Beberapa bersama di Hamba sejak bayi, hingga mereka dewasa dan bisa kuliah, kemudian bekerja di tempat-tempat terhormat. Mereka anak-anak keluarga miskin, meski satu-dua ada anak orang kaya dan terhormat, yang entah kenapa tiba-tiba hamil.

Setelah acara formal dengan para undangan selesai, kami anak-anak Mbah Tari, yang datang dari Jakarta, Solo, Manado, Kudus, dari angkatan Amalia 1976 hingga HaMba 2017, membuat lingkaran bersama Ibu Tari. Malam dingin larut di lereng Merapi semalam, kami semua tercekat, ketika Ibu Tari menutup acara dengan kalimat-kalimat pendek. Semua terdiam. Ibu Tari hanya lebih banyak mengucapkan terimakasih, bahkan kepada rerumputan yang menjadi alas kami. Semua menunduk, tak berani menatap mata Ibu yang berkaca-kaca. Kami pun berkaca-kaca. Selalu ada manusia yang begitu hebat, tidak dalam kata-kata, tetapi justeru lebih karena keberaniannya, pengorbanannya. Para pengabdi kemanusiaan yang membuat kutbah-kutbah agama menjadi begitu kerdil.

Bukan para maling dan koruptor, apalagi mantan militer macam Prabowo yang membuat kami gentar. Tetapi hilangnya rasa kemanusiaan dan nalar keadilan, membuat kami sering hanya bisa menangis di hadapan Ibu. Kami kadang tak sabar, melihat Ibu yang tidak taktis, tidak strategis. Karena ada begitu banyak pahlawan kesiangan, atau bahkan sebenarnya penjahat pecundang, yang disubya-subya media sebagai malaikat.

Kemarin kami sungguh sedih tak bisa berbuat apa-apa. Kami membuat buku kenangan untuk Ibu Tari, tapi hanya hanya bisa mencetak dua eksemplar buku untuk beliau. Kami ngotot untuk menuliskan buku itu, meski Bu Tari pasti akan menolaknya. Tetapi, bagi kami, adalah dosa besar membiarkan semua itu lewat tak tercatat. Moga-moga ada malaikat lain membantu mengujudkannya.

Ini tentang kristenisasi, atau katholikisasi? Bukan. Anak-anak Bu Tari sangat beragam, dan yang terbanyak tetaplah anak-anak keluarga miskin dari kalangan muslim. Dalam penelusuran beberapa waktu lalu di Jakarta, saya tahu anak-anak yang kebanyakan berjilbab, sangat merasakan ketulusan Bu Tari, malaikat mereka. Bahkan, secara mengejutkan, kami semacam mendapat jaminan dari Bang Rodjak, salah satu keponakan Abah Ba'asyir dari Ngruki, yang bisa menurunkan ratusan orang untuk membela Bu Tari, yang sedang dalam teror rekanan kerjanya dulu dari Jakarta soal tanah yayasan.

Terimakasih Ibu, malaikat yang menyembunyikan sayapnya, lebih karena agar orang-orang papa tidak ketakutan, melihat keagungan-keagungan yang semakin semu, yang semakin dinyatakan tetapi semakin hambar. Ibu Lestari, kekasih kaum papa, di mana semoga tuhan masih sudi tinggal bersama, dengan segala hormat. @sunardian


 
FUNDRISING PENERBITAN BUKU ‘MALAIKAT YANG MENYEMBUNYIKAN SAYAPNYA’ | Untuk mendokumentasikan karya kemanusiaan Ibu Lestari Projosuto (75) yang semula concern pada anak-anak jalanan (1970-an) dan kini lebih berfokus pada anak-anak yang sejak kelahirannya ditolak oleh keluarga dan bahkan oleh ibunya, dan untuk menginspirasi serta memotivasi para pengabdi dan penggiat sosial, kami akan mencetak buku ‘Malaikat yang Menyembunyikan Sayapnya’, ukuran 17,5 x 25 cm., full-collour, 117 halaman, ditulis oleh Sunardian Wirodono dan Nusya Kuswantin, dengan biaya cetak sebesar Rp 17.000.000 (tujuhbelas juta rupiah) sebanyak 500 eksemplaar. Bagi yang berkenan membantu pencetakan buku tersebut, bisa mengirimkan bantuannya secara sukarela ke rekening Sunardian Wirodono, BCA No. 0373042223 dan mohon dituliskan dalam berita transfer; Buku Lestari. Sertakan nama dan alamat Anda selengkapnya beserta bukti transfer tersebut ke WA No. 081393979400, untuk ke mana bukti buku akan saya kirimkan sebanyak 2 (dua) eksp untuk masing-masing donatur. Buku akan kami luncurkan ke masyarakat luas, bersamaan kegiatan Yayasan Hamba pada bulan Agustus 2018.


Senin, Agustus 08, 2016

Dongeng Lukisan Tembok

Kepada siapakah kita harus memberi kepercayaan? Kepada orang yang minta-minta kepercayaan kita, atau orang yang membuat kita percaya? Tentu saja kepada yang membuat kita percaya. Karena meminta dan membuat, berbeda nilai dan esensi, kecuali kita menyamakannya tanpa malu-malu. 

Jika ada orang yang meminta kepercayaan kita, membuat tagar ‘percayai aku dong’, dalam dunia komunikasi itu dilakukan karena mereka membutuhkan identitas. Sedang berkampanye, sedang memperjuangkan sesuatu, di tengah rendahnya social trust kita dengan modal social branding. Untuk mendapat kepercayaan sosial, merk dagang sosialnya perlu dibuat dulu.

Ups, nggak usah sensi. Ini cerita sederhana, yang berulang sudah diceritakan. Tidak sepenting dan seheroik cerita Anda hari-hari ini. Tapi saya percaya, karena Anda memang terpercaya. 

Hatta, adalah dua pasien, yang keduanya menderita sakit parah, dalam satu kamar di rumah sakit. Yang satu menderita penyakit yang mengharuskannya duduk saban sore di tempat tidur selama satu jam, untuk mengosongkan cairan dalam paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya tepat di sisi jendela kamar. Pasien satunya, harus berbaring di atas bed dengan mata tertutup.

Setiap hari mereka saling bercakap selama berjam-jam. Membicarakan tentang rumah, pekerjaan, keluarga, interaksi sosial mereka, tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi,....

Pasien yang tiap sore dibolehkan duduk dan memandangi jendela, selalu menceritakan apa yang dilihat di luar jendela. Sementara yang diharuskan terus berbaring, merasa begitu senang dan bergairah mendengarkan. Betapa indah semuanya itu. Tentang langit biru dan bunga merekah. Apalagi ketika cerita tentang karnaval, bahagianya para keluarga dalam car free day, meriahnya demo, dan sejenis itu.

Demikianlah, hingga waktu yang tak punya kaki itu pun berjalan. Pasien yang selalu duduk menatap luar jendela diperbolehkan pulang. Tentu saja karena dinyatakan sudah sembuh oleh dokter. Tak usah saya cerita kisah perpisahan keduanya. Sampeyan lebih bisa bikin yang mengharu-biru-hijau-kuning-kelabu.

Singkat cerita, pasien yang selama ini hanya berbaring di ranjang dengan mata tertutup, meminta pindah pada bed di sisi jendela. Demikianlah, akhirnya pasien itu dipindahkan. Dengan perlahan dan kesakitan, ia memaksa dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar jendela.

Betapa senang akhirnya, ia bisa duduk menghadap jendela. Tapi, harapan untuk pemandangan indah, sebagaimana cerita temannya, tak ia dapatkan. Perlahan ia melongokkan kepala ke jendela. Apa yang dilihat? Grueeengngng, ternyata jendela itu menghadap ke sebuah tembok putih kosong melompong, bahkan berjamur dan retak-retak! Tembok yang hanya berjarak satu meter dari jendela!

Moral Dongeng: Undanglah seniman mural, untuk menggambari tembok Anda!

Palsu

Di Indonesia ini, ada begitu banyak hal-hal palsu. Bahkan kita tahu, ada vaksin palsu, kartu BPJS palsu. Dan kepalsuan dua hal terakhir itu, merembet pada tudingan pemerintahan palsu, janji-janji palsu, bahkan presiden palsu.

Seolah kita manusia aseli anti kepalsuan. Celakanya, kita selalu menganggap diri sendiri aseli, sementara orang lain adalah palsu. Karena kita menganggap bahwa aseli adalah mulia, palsu adalah hina-dina. Padahal aseli dan palsu sesuatu yang melekat dalam kehidupan. Sejak awal sudah ada istilah Tuhan Palsu, Nabi Palsu. Dalam keseharian kita juga mengenal uang palsu dan beras palsu. 

Palsu dan aseli, adalah pertarungan abadi kehidupan itu sendiri. Ia adalah koin kehidupan. Bukankah ada sebutan hidup yang palsu? Makanya kenapa ada istilah; Dunia panggung sandiwara!

Jika berkait tentang nilai, persoalan terpenting sesungguhnya bukan hanya pada pengetahuan saja, melainkan juga sikap. Bagaimana pengetahuan dan sikap kita sendiri atas yang bernama palsu dan aseli itu.

Mengapa muncul ijasah palsu, tas bermerk palsu, janji palsu, cinta palsu, kemuliaan yang palsu, pernyataan palsu, testimony palsu, sumpah jabatan palsu, bahkan sampai pada akun fesbuk palsu, beragama palsu? Bagaimana dengan kaki palsu, gigi palsu, jantung palsu, atau alis palsu? Bagaimana bisa ada istilah aspal, aseli tapi palsu? Kompromi atau munafik? Atau berkompromi dengan kemunafikan, alias permisif?

Dimana sumber masalahnya? Pengetahuan dan sikap kita, serta itikad atas sesuatu yang akan lebih menentukan. Semuanya berangkat dari nilai-nilai pribadi yang ada dalam diri kita sendiri. Konon agama sumber ajaran moral manusia. Tapi mengapa orang beragama tak terhindar dari nilai-nilai kepalsuan?

Bukan pada nilai agamanya, tapi nilai keberagamaannya. Belum ketemu bukti ada agama mengajarkan keburukan. Semua ajaran mulia dan memuliakan kehidupan. Praktiknya? Praktik adalah ranah si pemakai. Disitu, orang beragama bisa berkelakuan palsu. Tidak sejalan dengan ajaran agamanya. 

Enstein mengatakan beragama tanpa ilmu adalah buta. Tapi orang berilmu juga bukan jaminan sikap dan perilaku seperti pengetahuannya tentang kebaikan (sebagaimana hal itu diketahuinya dari nilai-nilai ajaran agama). 

Soal palsu dan aseli dalam segala sendi kehidupan, lebih tergantung pada sikap dan karakter manusia. Tak hanya tergantung pada agama atau ilmu-pengetahuan. Kemampuan mengolah nilai-nilai dua hal tersebut, dalam praksis kehidupan sehari-hari, menjadi ukurannya. 

Kemampuan untuk mengolah nilai-nilai prinsip kehidupan, itulah yang akan menentukan di tingkat praksis atau bagaimana outputnya. Dalam filsafat tari gagrak Ngayogyakarta; sawiji, greged, sengguh, ora mingkuh. Antara yang diketahui dan dilakukan, adalah satu kesatuan. 

Kalau tidak tahu? Belajar. Kalau tidak bisa? Latihan. Bukannya langsung marah-marah. Kelihatan bodohnya.

Agama Anti Humor

Sepertinya, hidup begitu berat. Begitu besar bebannya. Karena itu, konon, agama diperlukan. Barangkali bisa meringankan. Tapi bagaimana kalau justeru menjadi unsur pemberat? Mungkin yang dimaksud adalah agama palsu. Atau, mungkin manusianya yang palsu. Wong sudah dikasih agama, kok tidak tercerahkan.

Agama-agama di dunia ini, yang jumlahnya ribuan, tampaknya terlampau berkonsentrasi pada hal-hal serius. Agama-agama disibukkan dengan pengaturan ibadat dan pengawasan atas perilaku moral manusia. Agama-agama juga terlampau serius, tak memberi ruang bagi hal-hal yang ringan dan lucu. Padahal, sejatinya humor itu penting, boleh disebut sebagai salah satu tanda orang-orang yang diselamatkan atau dicerahkan. Itu kata penganut humor tentu.

Tapi, ada to, agama yang melarang orang berhumor? Mengatur tak boleh tertawa terbahak-bahak, karena bukan hanya tak sopan tapi juga mengundang setan? Humor sesuatu yang haram hukumnya hadir dalam kehidupan ini. Kalau dalam postingan kita berhumor, itu ejek-ejekan antarteman. Tapi menulis humor dalam postingan kita, bisa dituduh kita bukan orang yang bener, tidak serius, dan nilainya rendah. Tidak intelektual. Nulis itu mbok ya yang serius, yang tegang, yang ngeden, yang bisa menggoblog-goblogkan orang lain.

Padahal, bukankah tertawa yang menjadi reaksi dari humor adalah ungkapan pelepasan, pembebasan, dan itu inti dari keimanan? Bukankah iman tidak dapat dipisahkan dari pembebasan, dan pembebasan tidak dapat dilepaskan dari kegembiraan? Bukankah orang yang yakin akan pembebasannya adalah orang yang bergembira, dan mewartakan kegembiraan?

Halah, uraiannya kok jadi serius. Tapi, agama kehilangan humor juga sesuatu yang tak kalah serius. Karena jika tuhan adalah mahasegala, bukankah tak pernah dikatakan mahasegala minus humor? Humor yang mengajak tertawa, tentu tidak buruk. Toh di baliknya, jika dikaji maknanya, bisa juga menguak sisi religiusitas kita, dasar dari keber-agama-an kita. Tentu saja, humor yang menghargai logika, bukan melecehkan.

Thomas Morus (1478-1535), politisi dan santo berkebangsaan Inggris, menuliskan doanya begini: “Tuhan, berikanlah aku pencernaan yang baik dan juga sesuatu untuk dicernakan. Anugerahkanlah aku kesehatan tubuh beserta kesadaran untuk memeliharanya. Tuhan, berikanlah aku jiwa yang tidak kenal kejenuhan, yang tidak tahu menggerutu, mengeluh, dan mendesah. Jangan biarkan aku terlalu banyak dibebani kecemasan akan egoku, yang selalu merasa kurang diperhatikan. Tuhan, berikanlah aku rasa humor. Anugerahkanlah aku rahmat untuk menikmati lelucon, sehingga aku dapat sedikit merasakan kebahagiaan di dalam hidup ini, dan dapat meneruskannya kepada orang lain!” 

Maka, tersenyumlah. Betapa pun, itu meringankan. Pernah menonton film Patch Adams? Di sana kita diyakinkan, senyum dan tawa menjadi konsep dasar penyembuhan. Seperti terlihat dalam film, melalui senyum dan tawa, banyak pasien tua bangka dan kanak-kanak berhasil disembuhkan, atau sembuh dengan sendirinya. 

Para ahli kesehatan, seperti dikutip majalah Psychology Today, mengatakan: "Kalau melihat seseorang tanpa senyum, berikan kepada mereka sedikit senyum yang Anda miliki." Jangan karena hatimu terbakar, terus kau bakar rumah orang. Itu menunjukkan hatimu kering. Basuhlah dengan humor, jangan dengan air, nanti bisa paru-paru basah. 

“Kanak-kanak rata-rata tertawa 400 kali dalam sehari. Sedang orang dewasa rata-rata hanya tertawa 15 kali saja sehari. Itu berarti manusia dewasa kehilangan 385 tawa seiring dengan bertambahnya umur. Padahal terbukti, tertawa bermanfaat bagi kesehatan," kata Joan Coggin, M.D., seorang kardiolog di University School of Medicine, Loma Linda, Amerika Serikat.

Kenapa makin tambah umur makin berkurang tawa? Karena jaim mungkin. Soalnya kalau terlalu banyak tertawa, kok kesannya kayak orang bego. Tidak berwibawa, tidak anggun. Bukankah anggun kini sudah tinggal di Paris, dan berkewarganegaraan Perancis?

Tertawa memberikan relaksasi dan mengurangi stres, kata Cogin. Dalam banyak penelitian ilmiah, mereka yang menikmati humor, mampu secara lebih baik menemukan solusi kreatif, dalam memecahkan soal-soal puzzle. Tertawa meningkatkan detak jantung, memperbaiki sirkulasi di jaringan otot yang membantu perjalanan nutrisi-nutrisi dan oksigen ke dalam jaringan tubuh. 

Jika membaca atau mendengar sebuah lelucon, apa reaksi spontan Anda? Tersenyum, tertawa, atau mencoba mengkritisinya, dan mementahkannya? Jawaban Anda menentukan karakter Anda. Untuk melepas tawa saja, Anda hitung-hitungan. Gengsi, ya? 

Semoga ada agama yang tidak anti humor. Cobalah dengar, doa paling mengharukan abad ini. Suatu kali, seorang anak merasa khawatir tentang sesuatu. Maka ia pergi ke kesunyian hari, dan berdoa, "Tuhan, saya harap Kamu dapat menjaga diri dengan baik. Karena jika sesuatu terjadi pada-Mu, kami semua pasti akan celaka. Amin.”

Sabtu, Februari 27, 2016

Manusia Jadul Tanpa Gadget?

Sunardian Wirodono (2016)
Pagi-pagi membaca ‘keluhan’ uda Andrinof Chaniago, soal grup WA kalangan elite nasional kita. Ternyata masalahnya sama. Beliau mengeluh soal ber-whatsapp para petinggi kita yang kurang membahagiakan.
Beberapa komentar kemudian menyambutnya. Ada yang bertutur beberapa grup WA para scholar luar negeri kita, juga sama tak mutunya. Maka ada yang kemudian lebih memilih grup lucu-lucuan. Bisa ngakak sepanjang hari, daripada otak bundet, kena vertigo diganggu diskusi-diskusi tidak mutu.
Aha, ternyata masalah di atas dan di bawah sama saja. Jadi ini soal apa? Jangan-jangan karena tingkat akselerasi kita pada teknologi modern. Gadget boleh canggih, tapi tidak sama sekali dengan kapasitas sebagai manusia modern.
Apalagi, pada kenyataannya, teknologi komunikasi kita memungkinkan yang bertradisi rural dan reriungan seperti kita, tak perlu mengubah karakter diri. Padahal, teknologi yang diikuti mempunyai karakter media berbeda, dan bahkan menuntut persyaratan tertentu. Misal, etika berkomunikasi secara tertulis dan indirect, yang tentu beda dengan cara lisan dan langsung. Kita tahunya, syaratnya hanya mampu membeli alat itu beserta pulsanya doang, atau nebeng wifi di kantor, kampus, kafe, dan sebagainya.
Saya sih bangsa katrok, tak bisa ber-bbm dan ber-wa, meski lebih ngirit tak perlu mbayar kayak sms. Lha tapi buat apa kalau kebutuhan ponsel saya cuma untuk reply sms dan nerima telpon doang? Itu pun kalau ada teman atau relasi membutuhkan jasa baik saya, nawarin pekerjaan. Gitu doang. Kalau berkomunikasi, ya, demennya cuma ngobrol face to face, syukur ada kopi, atau tela goreng anget. Meski sekarang suasana ngobrol jadi kurang nyaman, karena yang ngajak ngobrol kadang suka asyik wa-nan dengan orang lain. Bahkan kadang lebih sibuk dan membuat saya merasa songong sendirian.
Ngobrol dengan buku kadang terasa jauh lebih indah dan nyaman, meski tak senyaman ngobrol dengan para handai-taulan di dusun-dusun terpencil, di pelosok dan daerah-daerah perbatasan, yang sering menyadarkan betapa sangat manjanya saya tentang Indonesia, yang sering saya tuding blangsak ini. Sementara apa yang saya telah kerjakan?
Halah, nulis kok tentang keluhan diri-sendiri. Tidak penting. Apapun masalahmu, bergembiralah. Sebisanya. Kita semua tentu membutuhkan hiburan yang pas bagi masing-masing, karena hidup memang sungguh beratnya. Mark Twain pernah menulis, "Teman yang baik, adalah buku-buku bagus, dan hati nurani yang mengantuk: ini adalah kehidupan yang ideal."
Apa itu teman, bertanya Aristoteles, yang kemudian dijawabnya sendiri; Teman ialah sebuah hunian jiwa tunggal dalam dua tubuh. Artinya, mestinya bukan monolog, tapi dialog. Dan saya suka anjuran Milne dalam Winnie the Pooh, "Kau tidak bisa tinggal di sudut hutan menunggu orang lain untuk datang kepadamu. Kau harus pergi ke mereka, kadang-kadang,…" Baiklah, saya akan datang. Meski dengan cara yang kuno, bersilaturahim.

Selasa, Oktober 27, 2015

Para Relawan Asap


Beberapa hari lalu, kita membaca di media-media online, para mahasiswa di Riau mengancam Jokowi, jika dalam 3 X 24 jam asap tak lenyap, sila mundur dari kursi kepresidenan. Berita semacam itu banyak ragamnya. Termasuk yang hendak memisahkan dari NKRI, menunggu Jokowi lempar handuk dan baru ngomong; ‘serahkan pada kami’. Itu konon semua berita luar biasa.


Media online jarang menampilkan berita-berita biasa saja, mengenai orang-orang atau anak-anak muda yang bekerja diam-diam, seperti Prof. Wenten dengan air-purifiernya, atau anak-anak muda di Sekolah Relawan dan Jumpun Pambelom di Kalimantan Tengah. Dan kita terbiasa dengan berita-berita yang ingar-bingar itu, sampai imun rasanya, dan tidak peka penting tidaknya.


Di kawasan hutan Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, kita bisa temui anak-anak muda sedang sibuk membikin sumur-sumur bor. Mereka bertekad membangun 100 titik sumur bor. Ini kumpulan anak muda yang beragam. Ada guru, mahasiswa S1, S2, fasilitator outbound, karyawan, pemilik toko outdoor, mantan guru SLB, dan masih banyak lagi.


Anak-anak muda yang tergabung dalam Sekolah Relawan (yang di-inisiasi Gaw Bayu Gawtama) dan komunitas Jumbun Pambelon ini meyakini; Sumur bor di wilayah hutan sangat bermanfaat untuk antisipasi meluasnya kebakaran. Mereka sedang membuat sumur-sumur bor baru di tengah hutan dan kawasan hutan lainnya. Sumur bor inilah salah satu cara warga lokal menghadapi kebakaran hutan. 


Mereka juga korban pembakaran hutan dan asap, tapi mereka lebih memilih bertindak daripada mengeluh dan menghujat. Seperti Hendra (17) dan Daniel (15), dua remaja kakak-beradik yang sudah dua bulan bersama relawan lokal Jumpun Pambelom bekerja keras angkat selang, pipa, mesin untuk membuat sumur bor di hutan-hutan wilayah Kalimantan Tengah. Ada juga Yanto, kelahiran 1995, drop out dari SMP kelas 2, karena tak ada biaya. Ia anak Dayak yang membantu menjadi penerjemah para relawan yang datang dari berbagai daerah.


Ada juga orang-orang yang tak terlihat di lapangan seperti Roel Mustafa, pengusaha keturunan Betawi yang tinggal di Depok (Jabar). Dukungannya atas tim sangat luar biasa. Waktu, tenaga, koneksi, dan juga dananya. Ia mengantar belanja perlengkapan pemadaman, juga berbagai kebutuhan anak-anak di lapangan, termasuk memprovokasi teman-temannya untuk mau membantu tim.


Ada juga Eko Subiyantoro, Forest Ranger di Banjarbaru yang masih dalam proses penyembuhan pasca kecelakaan. Ia menyambungkan tim lapangan dengan pihak-pihak di Kalteng. Rumahnya juga jadi tempat transit semua relawan dan barang-barang anak-anak Sekolah Relawan dan Sedekah Oksigen. 


Belum lagi Hunggul Prihono, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, mantan guru SLB, rela berkubang lumpur kotor air hitam. Sudah hampir sebulan ia bergulang di tengah hutan. Tak peduli badannya yang kerempeng, melakukan aktivitas pemadaman dan membuat sumur bor. Ia sanggup kerja keras memadamkan api sampai larut malam, jam 02 dini hari bahkan, selain kepiawaiannya menggunakan drone untuk pemetaan. Dia datang menjadi relawan setelah membaca aktivitas Sekolah Relawan di medsos. Jadi, medsos tak hanya untuk caci-maki ‘kan? Kan!

Namanya juga relawan, mereka bergerak suka-rela, atas dasar bantuan darimana saja, untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan asap. Mereka butuh donasi untuk menunjang kebutuhan lapangan, baik berupa uang, barang, akomodasi. Untuk memulai pembuatan sumur bor, relawan menancapkan meter demi meter pipa besi berukuran 1inci dengan kedalaman pipa bisa mencapai 30 meter.


Pipa besi akan dihentikan ketika pipa telah menembus lapisan pasir kasar. Lapisan pasir kasar merupakan indikator lapisan yang banyak mengandung air. Itu kearifan lokal untuk mengetahui lapisan air di tanah gambut.


Kelelahan terbayarkan saat air mengucur dengan deras. Itulah kerja keras relawan Jumpun Pambelom dan Sekolah Relawan untuk mendukung perlawanan api dan asap. Inisiasi masyarakat ini, layak diapresiasi. Termasuk oleh pemerintah dan netizen tentunya. Karena keduanya sering terlihat terlalu cerewet. 


Pasti cerita semacam di Kalimantan Tengah ini, juga bisa kita temui di beberapa daerah, di Riau, Palembang, Pontianak, Papua dan lain sebagaimana di mana terjadi bencana. Hanya sering kita tidak membacanya, karena memang tidak dituliskan.











CATATAN TAMBAHAN:

Saya berterima kasih, tulisan saya kemarin, tentang ‘Para Relawan Asap’, yang mulai saya posting di fesbuk 26 Oktober 2015 jam 15:45, dalam waktu 15 jam kemudian (pas saya menulis ini) telah di-like dan di-shared oleh 25.000 lebih akun, yang masing-masing, dari semua itu, menciptakan viral-nya sendiri-sendiri. Tulisan itu juga telah diminta, ada juga dikopas tanpa ijin, beberapa media mainstream dan media online.

Rekor yang membanggakan dalam bermedsos? Bukan itu, dan tidak penting. Yang ingin saya ungkapkan, adalah keharuan dan kebanggaan. Bahwa masih banyak teman-teman yang mengapresiasi niatan-niatan baik, perbuatan-perbuatan baik. Bukan hanya pada teman-teman Sekolah Relawan, Jumpun Pambelon, tetapi juga atas niatan-niatan baik dan perbuatan-perbuatan baik, bagi semangat kebersamaan dan kemanusiaan kita.

Kita semua tahu, bahwa situasi ini, kebakaran hutan dan lahan, adalah ujung-ujungnya pada lemahnya penegakkan hukum (baik adat maupun negara) kita. Dan kita juga tahu, agenda apa yang mesti didesakkan pada para pemangku kebijakan. Tetapi, 40-an juta korban kebakatan hutan dan lahan, tidak membutuhkan perdebatan. Hal itu membutuhkan pertolongan, tindakan, setidaknya kepedulian, perhatian, doa, dan berbagai bantuan untuk mengatasinya.

Tulisan saya tentang ‘Para Relawan Asap’ adalah apresiasi terhadap inisiasi-inisiasi masyarakat, dalam ikut serta menanggulangi akibat bencana. Hal ini penting, karena Negara yang kuat juga karena rakyatnya yang kuat.

Inisiasi-inisiasi kebaikan dari masyarakat ini, kurang diapresiasi oleh media massa mainstream (apalagi media online) kita, yang sudah terjebak pada kepentingan-kepentingan sempit. Di penelitian berbagai negeri, pers yang terjebak kepentingannya sendiri, bukan lagi lembaga yang terpercaya untuk kemaslahatan umat.

Jika tulisan ‘Para Relawan Asap’ diapresiasi dan dibagikan oleh banyak teman, bisa jadi karena kita semua rindu datangnya super-hero di antara kita. Untuk hal-hal yang kita tidak tahu, tidak ahli, dan hanya bisa menyerahkan pada para pahlawan berkeahlian dan berkeberanian itu. Mendukung mereka adalah kebutuhan psikologis (dan sosiologis) yang bisa dimengerti. Di beberapa Negara, seperti Eropa dan Amerika, tindakan para relawan selalu mendapatkan apresiasinya. Lebih karena kita memang selalu membutuhkan superhero, dan juga pembelaan serta kehendak membersama pada kebaikan. 

Sekolah Relawan dan Jumpon Pambelon, bukan satu-satunya. Ada banyak relawan dan komunitas anak muda di Riau, Palembang, seantero Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan di banyak tempat, yang melakukan hal-hal yang sama. Mereka bekerja dengan cara masing-masing.  Tidak ada urusan dengan kekuasaan dan politik. Karena bukan itu agenda cinta dan kemanusiaan kita.   


 

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...