Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 07, 2018

Belajar dari Para Empu

“Orang goblog sulit dapat kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblog mempekerjakan orang pintar,” demikian Bob Sadino (1933 – 2015) mengutarakan salah satu ilmunya. 

Di mana ilmunya? Ketika ia katakan ‘saat ia buka usaha sendiri’. Kalau kita hanya melihat ‘saat bisnisnya berkembang, orang goblog mempekerjakan orang pintar’, kita hanya tersepona pada yang dinamakan hasil, out put, atau buah dari usaha. 

Mungkin Bob Sadino sedang menceritakan dirinya sendiri, dan orang selalu takjub melihat bagaimana eksentriknya Bob. Dengan celana pendek dan baju lengan pendek kutung, ia bisa beranjangsana dengan Presiden Soeharto, meski bagian protokoler istana semula mensyaratkan dresscode yang standar. Dan seterusnya, cerita-cerita sejenis itu bisa dijumpai. 

Di Bekasi, terdapat pengusaha donat yang menjadi pesaing serius Dunkin Donat. Donat dari Bekasi ini, tiap pagi subuh sudah nangkring di warung-warung kecil seantero Jakarta dan Bekasi, di kampung-kampung. Harganya jauh lebih murah dibanding DD tentu, tetapi rasanya relative sama. Kelembutannya, teksturenya, juga tampilannya, tak jauh beda. Bedanya, harga jauh lebih murah. Pagi-pagi tanpa susah, tak perlu ke mall atau jalan raya, berada di dekat rumah, mudah dijangkau meski baru bangun tidur dan belum cuci muka. 

Pemilik usaha donat dari Bekasi ini, lulusan SD, tetapi dua tenaga andalannya, tenaga marketing dan chef masaknya, lulusan perguruan tinggi. Ada yang aneh? Tidak jika kita jeli melihat secara proporsional. Si pengusaha donat Bekasi ini mempunyai formulasi ilmu yang bisa jadi tak dapat ia jabarkan, tetapi memenuhi syarat dalam hal memenangkan kompetisi dari segi kualitas barang dan strategi marketing. 

Itu sama halnya dengan Burger Mblenger dengan daging dan bumbu lokal. Juga Burger Edam punya Pak Made dijajakan dengan gerobak masuk ke kampung-kampung Jakarta. Jadi, kata goblog yang disampaikan Bob, hanyalah karena (mungkin) bentuk kerendahatian, yang bisa jadi barulah dapat terbaca jika kita ngangsu kawruh, belajar, dengan magang kerja padanya. 

Cara belajar pada para Empu di jaman dulu, ialah diam memperhatikan segala taksu sang Empu. Sebagaimana Nabi Khidir mengajari kesabaran pada Musa, dan Musa tak sabar dengan pertanyaan-pertanyaan, dan akibatnya fatal karena kemarahan sang empu. 

Ketika dulu saya menjadi wartawan, mewawancarai beberapa tokoh yang mempesona, seperti para dalang wayang kulit Ki Gito Wates, Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Kembar Gito-Gati dan lain sejenisnya, mereka belajar dari para gurunya dengan diam. Sejak kecil mereka menyimak solah-tingkah, dan praktik mendalang. 

Proses transformasi ilmu berjalan intens melalui hidup keseharian dan praktik mendalang. Proses belajar dilakukan dengan njinggleng, memperhatikan dengan tingkat intensitas yang dalam, kusyu’. Padahal, bisa jadi tak ada dialog antara guru dan murid di situ. 

Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving, berkata Mbah Kyai Albert Einstein. Hidup itu seperti bersepeda. Kalau kamu ingin menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus bergerak maju. Sementara menurut Pak Sudjojono, pelukis yang pernah jadi anggota DPR fraksi PKI, naik sepeda itu tak ada teorinya. 

Menjaga keseimbangan itu, ialah proses intensi dalam pembelajaran, terus-menerus, tanpa henti, tekun, penuh cinta. Tapi, lalu bagaimana dengan urip mung mampir ngombe? 

Boleh saja. Cuma hati-hati, untuk turun dari sepeda yang kita gowes, juga ada teorinya agar kita tidak jatuh. Jangan seperti teori Pak Hardjo Gepeng dalam cerita Dagelan Mataram ‘Basiyo Mbecak’, bisa naik tak bisa turun. 

Akibatnya, ia mesti mencari tumpukan pasir, agar bisa menjatuhkan diri dari sepeda dengan aman. Betapa susahnya bukan? Bukan!

Minggu, Januari 18, 2015

Petualangan Tintin di Negeri Cenayang


Atas bujukan Biaca Castafiore dan Kapten Haddock, Tintin akhirnya memilih Boodhy Guncloudly. Tapi, Thomson and Thompson agaknya tak akur. Thomson tanpa ‘p’ menyatakan Boodhy Guncloudly cacat mental, sedang Thompson (detektif dongok dengan ‘p’) mendorong BG untuk tetep jadi pilihan Tintin, dengan alasan corps.
Di Negeri Cenayang, tepatnya Cenayang City Money Laundry (CCML), dua kelompok yang semula berseteru pun kompak. Menerima BG tanpa syarat. Meski tujuannya beda-beda. Satu berjurus politikus culun pengidap inferiority complex karena minoritas, satunya menganggap etika bukan bagian dari politik. Yang penting menang, karena sudah kalah.
Bangsat Soesatyo yang biasanya vokal, memuji-muji BG. Sembari ia berbisik-bisik, kelompok mereka tak ingin dijebak permainan Tintin. Sementara Despot Jenar Mahesa (yang popular dengan sebutan Despot J. Mahesa), memuji-muji BG. Meski di luar sidang, Despot mengatakan; “Kita sudah tahu barang busuk yang dilempar Tintin ini. Ini game. Jadi, kalau kita sudah setujui, tinggal pilih Tintin berhadapan dengan Thomson tanpa ‘p’ atau berhadapan dengan penguasa CCML. Kalau dilantik, Tintin akan berhadapan dengan detektif Thomson, kalau tidak dilantik akan berhadapan dengan CCML. Ayo dipilih-dipilih-dipilih,…”
Sekali tepuk dua lalat kliyengan. Sementara itu duo FZ (Fadlib Zonk and Fahriham Zah), disuruh oleh boss mereka untuk spa di belakang gedung CCML. Biar tidak ember di media.
Dan kini Tintin pun puyeng.
“Sudah dinyatakan tersangka, tapi kok CCML melakukan fit and proper test? Apanya yang fit dan proper? Di mana logikanya?" Prof. Calculus menggerundel sembari mencari bandulnya, dan, "Lebih ke barat, lebih ke barat,…”
Snowy buru-buru menghindar dari professor bahlul itu. Ia memilih tidur mendengkur, daripada kepala pusing cenut-cenut.
Bianca Castafiore melengkingkan symphoni number 9 dari Beatles. Suaranya memekakkan jantung. Kapten Haddock uring-uringan dengan sumpah serapahnya; “Biang panu, kutu busuk, kakerlak, jusufkalla, tomiwinata, century, hambalang, wedus, jancuk,….”
Snowy kaget terbangun, menjilati cambang Kapten Haddock, “Cup, cup, cup, sayang, guk, guk, guk,…!”

Sabtu, Januari 03, 2015

NAMA KOTA DAN NEGARA DI DUNIA KARENA INDONESIA

Banyak nama-nama kota dan Negara di dunia ini, yang ternyata diambil dari kosakata bahasa Indonesia dan bahkan Jawa. Beberapa diantaranya sebagaimana dilaporkan oleh kontributor ternama; Willy Pramudya (WP) Lukas Mopet Pranowo (LMP), Eko Winardi (EW), Stefanus Hestu Marwoto (SHM), Eyang Sepuh Hakim (ESH), Anityo Yusdi (AY), Valentinus Rommy Iskandar (VRI), Denmas Noenoeg (DN), Tri Cahyono (TC). Berikut hasil survey dan research mereka yang bisa dipertanggungjawabkan dan terakreditasi.




Paris, diambil dari judul buku Paris Gelap Terbitlah Terang
Denmark, dekat Kudus, lengkapnya Denmark Bintoro (WP)
Arab Saudi, diambil dari nama Saudi Silalahi,...
Jedah Mbah Carik, Kaliurang (EW)
Kuwait Mbiyen (dari dulu, WP)
Irak, air berirak tanda tak dalam (DN)
Kabul Tessy, Srimulat (ESH)
Libya Kandaou (DN)
Chili, Negara yang tidak gede.
Pyongpyang, bawah Pathuk, Gunung Kidul (SHM)

Pyongpyang, dari lagu campursari, Pyongpyang-payingan (EW)
Togo, symbol kota Yogya untuk selfie
Togo dan mBilung (WP)
Barcelona, mau mbengi Barcelonan (EW)
Do re mi fa Seol,... (LMP)
Guatemala, penyanyi dangdut ‘Selamat Malam’
Zambia, judul lagu ndangdut Achmad Albar, Zambia Zambia
Shanghai, yuk kita shanghai kata Rhoma (ESH)
Roma, pendangdhut yang pengen jadi presiden, Roma Irama (ESH)
Roma biscuit

Itali rafia, ibukota di Roma Makan Padang (WP)
Thailand, Taiwan, Tahiti, saudara lain bapak lain ibu.
Thailand Cung, diproduksi oleh anus ayam (VRI)
Muangthai, pas lagi nyapu ketemu barang ini (TC)
Wimblendon, hamil, wetengnya wimblendon (EW)
Panama, dari syair lagu Di Bawah Bulan Panama (WP)
Tokyo Samijaya di Malioboro (LMP)
Dakkar ayam (EW)
Selangdia Baru, komentar tak penting
Kyoto, pakan burung (LMP)

Zealand, nyekel pring Zealand (LMP)
Brasil = sukses (WP)
Vatikan, sering dipakai Jokowi selain baju putih
Rusia, bawa ke bengkel (LMP)
India, dari lagu Betawi: India Si Jali Jali!
Swedia, dari lagu iklan ‘jika aku diare, ibu slalu waspada pertolongan oralit slalu siap swedia,…’ (AY)
Swedia Payung Sebelum Hujan
Kairo, dari suku Batak Kairo (EW)
Mesir, mesir sepatu atau mesir rambut
Mesir, judul film Indonesia “Mesir Berbisik”

Spanyol, akronim ‘separuh nyolong’ (WP)
Bulgaria, makanan rakyat Indonesia jaman Jepang
Burundi, bade tindak Burundi? (WP)
Holland, tidak betah di rumah, kluyuran (LMP)
Afrika, biasa untuk campuran salad
Kongo, sepuluh, sewelas,… (LMP)
Jibouti, nek nakal tak jibouti lho! (WP)
Zimbabwe, saudara Zimtomang
Mbahdad saudara Mbahrawa
Bahrein, njagong bahrein (WP)

Gabon, ayam gabon.
Malawi dekat Tegal (WP)
Maladewa, kakak dari Prabu Kresna
Liberia, mereka penganut neo-liberia (WP)
Oslo, alias Surakarta
Yunani, gudeg kendhil Yogya (ESH)
Yunani, kenikmatan swalayan (LMP)
Guyana, adik dari Mas Suyana, Mbrosot, Kulon Progo, DIY
Sudan Gaharu Cendana Pula
Sudan deres! (WP)

Hong Kong, hongkonge gedhe (DN)
Bhutan rimba (WP)
Jerman Ngantuk, aktor film 80’an
Jerman Sembada, salah satu kabupaten di DIY
Cirghistan, bocah kok cirghistan (WP)
Argentina, melayani pengiriman Tina dalam partai besar dan kecil.
Laos, bumbu penyedap masakan (ESH)
Lima, ibukota Peru yang lebih dari satu
Vietnam, tujuh, delapan
Vietnam, lebih kejam dari pembunuhan

Uruguay, tumpukan sampah (LMP)
Pantai Gading, selatan Alkid Yogya (DN)
Ghana dan Guinea, suami-isteri rebutan harta Ghana Guinea (WP)
Uganda, Negara yang hanya ditulis dengan satu huruf
Korea, dekat Cilacap
Kamerun, dari kata kamerun-sung (WP)
Ceko, tangannya nggak beres
Ceko Winardi, kontributor dari Yogyakarta yang tinggal di Banyuwangi tapi kerja di Denpasar
Swiss, ‘sing swiss ya swiss’ ajaran Ki Ageng Suryomentaram
Maroko dilarang di areal SPBU (LMP)

Brunei, isterinya Pakne
Rwanda, Pos Rwanda Malam (WP)
Austria, Nicky Austria lady rocker from Bandung
Australia, austria dengan sisipan ‘al’
Canbera, mumpung ada toilet (LMP)
Bangladesh, dari Rawabelong, saudara ipar Bang Thoyib
Mali, kawannya Bolot (WP)
Suriah, judul lagu Benyamin S; suriah njot-enjotan,…!
Belanda, menghabiskan duit (LMP)
Kenya deh lu! (WP)

Kamis, Desember 18, 2014

BEBERAPA NAMA KOTA DI INDONESIA VERSI BARU


Kota paling tua? Ambahrawa
Kota setua mbahmu? Mbahmuwangi
Kota banyak pencurinya? Bangil
Kota sering kesurupan? Pasuruan Setan
Kota yang membidangi universitas dan akademi? Pasuruan Tinggi.
Kota suka toket? Muntilan
Kota suka memaki? Nganjuk
Kota suka ulangtahun? Blitar.
Kota suaranya fals? Subang.
Kota apa yang dibuka? Biak
Kota isi air? Biak mandi
Kota tak bisa berkembang biak? Kediri
Kota tak pernah berhenti? Kediri Jalan Terus!
Kota dalam syair lagu dangdut? Cianjur, cianjur basah
Kota yang tidak sendirian? Sama Rinda,....
Kota yang berdiri sama tinggi duduk Samarinda
Kota menakutkan? Pontianak, d/h Kuntilanak
Kota yang disembunyikan? Balik papan
Kota apa yang yang dibuat dari jagung? Gorontalo,..
Kota pemberani, Plaju tak gentar

Kota yang tinggi hati? Gombong!
Kota pembuat Samsung? Kroya
Kota pendukung Jokowi? Kroya, aku kroya-popo!
Kota yang selalu sendirian? Solo
Kota di Jateng yang jadi Ibukota Norwegia? Solo
Kota apa yang tajam? Solok  
Kota sing marakne picek? Solok matamu
Kota ini suaminya Bu Umi, Sukabumi
Kota bisa disayur? Pare-pare
Kota dimana rajanya baru pulang? Prabumulih
Dudu raja ding, ning asu, Pabumulih
Kota apa yang beternak huruf? Ternakte
Kota yang menghina orang Bali? Putu Si Bau,...
Kota yang selalu menangis? Brebes mili
Kota yang banyak bibit vampirnya: Pekalongan!
Kota berlemak? Kendal
Kota mambu badeg? Batang
Kota lambang PDI Perjuangan? Banten,...
Kota suka tawuran: Serang!
Kota yang tak kenal masa lalu dan masa depan: Semarang

Kota yang tidak jembar? Sampit
Kota paling luas? Jember
Kota yang ngabisin pembalut? Kebomens
Kota sing ora munggah? Madiun
Kota wadah beras? Bogor
Kota yang bisa dipresto? Bandung
Kota yang ragu-ragu, Maumuju Nggak Jadi
Kota yang saru wudo bugil, full naked? Pornorogo
Kota PSK, Wates
Kota di atas roda pit sing ngarep? Secang
Kota egois, temennya Elu? Gowa
Kota pingin nikah? Maumere
Kota yang ngurusin pernikahan? Bengkulu
Kota yang bojonya bukan lelaki atau perempuan? Bojo Negoro,...
Kota sing kapusan karo pasangane? Bojone goroh!
Kota yang negor isterinya nggak sopan? Ma Kasar
Kota tepung ketela? Pati
Kota panglima Majapahit? Pati Gajahmada
Kota yang pernah jadi Presiden? Jombang Yudhoyono
Kota yang berani maki SBY? Pale (lu) Mbang

Kota martil? Palu
Kota disukai tupai? Kendari  
Kota burung tweety? Kendari
Kota raksasa? Buton Cakil
Kota yang enak di-jus? Jambi,…
Kota paling pojok? Ujung Pandang
Kota yang bikin keliatan tua? Tuban
Kota sing ora kudanan lan ora kepanasan? Piyungan
Kota kolesterol tinggi? Kuningan Endhog
Kota yang pendekar? Sampang Jago Betawi
Kota yang kaya? Banjar Narkoba
Kota yang tak bisa melarikan diri? Situbondo
Kota yang mrentah nyekel maling? Situ Bondo aja!
Kota tiga bersaudara; Situbondo, Bondowoso, Bondo Aceh.
Kota yang banyak buka warung nasi di Jakarta? Tegal.
Kota enak dimakan? Kupang.
Kota yang nutupi payudara? Kupang lagi
Kota yang talinya bisa pedhot? Lagi-lagi, Kupang.
Kota.yang merah di leher? Kupang
Kota yang dinaiki manusia bisa trance? Jaran Kupang

Kota bahan tempe, Dili
Kota pemakan bangkai? Belitung
Kota apa yang dipanggil dengan gelar ningrat? Denpasar!
Kota yang berbentuk kerajaan? Mataram.
Kota nggo nyuguh tamu? Pacitan
Kota tak tahu nada dasar? Mana Do?
Kota anal? Cidubur
Kota nilainya Lumajang karena dapat tujuh? Salatiga
Kota nomor satu? Sigli, sigli, loro, telu,...
Kota sing akeh dewe? Sanggau, sepuluh sewelas,…
Kota yang terkait angka sial? Cilacap Tigabelas
Kota bagian P3K; Kapuas Hulu
Kota yang nggak pernah beruntung nasibnya? Malang
Kota penyakit kulit? Kudus
Kota gatel? Garut
Kota yang cukup untuk simpan sayur? Sepinggan
Kota apa yang jadi judul lagu? Denpasar (Moon), (Halo-halo) Bandung, (Senja di) Kaimana, Surabaya, Solo (di Waktu Malam), Yogyakarta, (Semalam di) Cianjur,...
Kota yang berbentuk pisang? Ambon.
Kota berleher panjang? Jeparah

Kota yang tak pernah mati? Payakumbuh Hilang Berganti
Kota yang kalau macet harus di? Sorong
Kota yang nawarin BB? Bau-bau!
Kota sing dodolan? Garut, dodol Garut.
Kota musuh Orde Baru dulu? Bahaya Klaten Komunis.
Kota yang benar-benar ramai? Bener Meriah.
Kota rasa rambutan enak? Aceh.
Kota yang mengajak? Gayo!
Kota bau ikan? Ciamis.
Kota yang kadang diberi juruh atau santen? Majenang
Kota yang arti Jawa-nya pipis? Sumpyuh
Kota yang suka njondhil? Magetan!
Kota yang keras? Batu
Kota yang sering dipakai mangkal ojek atau pun angkot? Bangkalan
Kota cium pipi kanan cium pipi kiri? Timika Timiki
Kota yang bersih? Gresik.
Kota apa yang artinya penis? Jakar ta?
Kota yang suka dinyanyikan Opick? Atambua Ati
Kota yang kenthir? Medan
Kota seperti yang lagi pada komen? Medan kabeh! 




KOTA-KOTA PALSU 
Kota yang dijaga PPS? Kota suara
Kota wadah uang sumbangan? Kota Amal dan Infak
Kota tak tau kiblat? Kota Dalam Tempurung
Kota sing jemek? Kota wadah sabun krim.
Kota perempuan bar adus; Kotangan njuk klamben
Kota beracun; Kotasium
Kota perempuan single parent? Ibu Kota
Kota disukai perempuan? Kota Ng
Kota yang menyegarkan; Kotariswet
Kota nggak paham-paham juga? Kotanya-tanya terus

Kontributor: Eko Winardi (Banyuwangi), Willy Pramudia (Jakarta) Denmas Noenoeg (Yogyakarta) Eyang Sepuh Hakim (Temanggung), Agus Setyawan (Yogyakarta), Tri Cahyono (Jakarta), Sun Asih (Bandung), Lukas Mopet Pranowo (Pontianak), Sunardian Wirodono (Yogyakarta), Hendro Suranto Kartodimejo (Jakarta).

Minggu, April 13, 2014

SEPULUH KISAH CALEG GAGAL


KISAH PERTAMA  | Seorang caleg gagal tiba-tiba mendatangi kantor polisi, "Pak Polisi, Pak Polisi, ada kecelakaan, ada kecelakaan,…"
"Siap! Dimana, Pak?"
"Tadi saya lihat di TV,…"

*

KISAH KE-DUA | Seorang caleg gagal menuju ke stasiun lintasan kereta-api, bertanya pada penjaga pintu lintasan, "Kereta dari Yogya-Jakarta, lewat sini pukul berapa?"
"3.30"
"Kalau dari Surabaya?"
"4.30"
"Kalau dari Semarang?"
"Trus, bapak ini cuma mau nyeberang 'kan? Lelucon basi!"
"Bukaaaan, ini serius saya mau bunuh diri,…"
“Brarti bapak kesiangan bangunnya,…!”

*

KISAH KE-TIGA | Seorang caleg gagal tampak sedang serius, menulis sesuatu pada selembar kertas. Datang seorang jurnalis fesbuk bertanya, "Bapak ini nulis apaan, sih?"
"Lho, nggak lihat? Kan nulis surat!"
"Hare gene nulis surat? Kan bisa sms atau email. Surat untuk siapa?"
"Untuk aku sendiri,…"
"Trus, isinya apa, Pak?"
"Mana aku tahu, wong belum dikirim. Belum juga rampung nulisnya,…"

*

KISAHKE-EMPAT | Seorang caleg gagal kini lebih banyak duduk termenung di depan laptop. Suatu ketika ia mengundang cucunya, "Kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Aku wariskan semua kekayaan kakek,…"
"Oh, ya Kek? Yang bener?"
"Semua pabrik, sawah, gudang, sapi, deposito bank,…"
"Cucu nggak pernah dengar dan lihat semuanya itu,…"
"Kusimpan di Farmville . Tapi aku lupa passwordnya, Cu,…"

*

KISAH KE-LIMA | Seorang caleg gagal mengumpulkan anak-anak dan isterinya.
"Kaliva, kamu anak tertua mewarisi Apartemen Kuningan,…"
Kaliva mengangguk.
"Winardi, kamu kuberi seluruh kawasan Kelapa Gading Indah,…"
Winardi mengangguk.
"Miracle, sebagai anak bungsu, kamu kuwarisi perkantoran Mulia Tower,…"
Isterinya terheran-heran dan bertanya, "Pap, nyebut, Pak, nyebut,…"
"Emang kenapa?"
"Kegagalan jadi caleg nggak usah dipikirin banget-banget. Bapak ini 'kan cuma tukang loper susu,…"
"Lho, lha iya. Itu daerah yang kuwariskan ke mereka bertiga. Bapak punya banyak pelanggan di situ,… Bapak tetep mau ke Senayan!”
“Lho, kan bapak nggak lolos?”
“Tapi di sana pasti banyak yang suka susu,…”

*

KISAH KE-ENAM | Seorang caleg gagal rambutnya awut-awutan, duduk termenung di depan rumah. Tetangganya datang mendekat, "Mbok rambutnya dirapiin, jangan kayak gitu, nanti dikira,…"
"Aku nggak punya sisir,…"
"Lah, kan bisa pinjam ibumu."
"Kan Ibuku sudah wafat."
"Wah, kuwalat kamu. Ibu masih idup dibilang wafat. Lha ‘kan bisa pinjam sisir ayahmu,…"
"Ayahku gundul,…"

*

KISAH KE-TUJUH | Seorang caleg gagal duduk-duduk bengong di ruang tamu. Isterinya mendekat, "Biasanya hari gini kan kamu main golf ama si Kaliva."
"Apa kamu mau main golf lawan orang curang?"
"Ya enggaklah. Siapa juga yang mau main ama orang curang!"
"Itulah yang Kaliva bilang padaku!"

*

KISAH KE-DELAPAN | Seorang caleg gagal menerima telpon. Tapi hanya sekitar 30 menit, pembicaraan selesai. Isterinya keheranan, "Kok cuma sebentar? Biasanya, kalau udah ngobrol politik bisa telponan sampai berjam-jam,…"
Sang suami menjawab bijak, "Itu tadi salah sambung,…"

*

KISAH KE-SEMBILAN | Kali ini bukan seorang caleg gagal, tetapi sepasang suami-isteri yang keduanya maju caleg. Dan keduanya gagal. Sang isteri pagi-pagi datang ke seorang dokter jiwa, "Dokter, tolonglah kami. Suami saya selalu merasa bahwa dirinya adalah ayam."
"Mengapa Ibu tidak mengajaknya serta kemari?"
"Saya maunya gitu, membawanya kemari. Tapi saya lagi butuh telur. Biar dia bertelur dulu, ya, dok?" 

*


KISAH TERAKHIR | Seorang caleg gagal, yang masih muda, mendatangi ayahnya, "Ayah, saya ingin menikah."
"Itu baik, dan kau bisa lupakan kegagalan kemarin. Siapakah calon isterimu?"
"Nenek!"
"Tunggu. Stress boleh tapi jangan gila kayak gini. Nenekmu itu ibuku, tahu!"
"Apa bedanya? Ayah juga nikahin ibuku! Dasar ayah gila!"

*

BONUS | Seorang caleg gagal, yang tinggal di kawasan Slipi, Jakarta, pinjam handphone pada isterinya. HP-nya sendiri amblas diberikan tim-suksesnya. Tapi beberapa jam setelah itu, suaminya hilang. Di tunggu sampai sore, belum juga pulang.  Meminjam handphone anaknya, sang isteri menelpon suaminya, “Kamu di mana?”
“Mbogor,…” terdengar jawaban suaminya di handphone.
“Lha, ngapain?”
“Tadi, aku sms teman di Mbogor.”
“Terus?”
“Aku bawalah handphonemu itu sampai ke Mbogor.”
“Lho ngapain? Kan tinggal sms saja? Alesan. Kamu pasti ada main ke Mbogor,…”
“Kalau dia nggak lihat monitor handphone yang kupakai sms itu, gimana dia bisa membaca isi sms-ku?”

Kamis, Januari 30, 2014

ANEKDOTE MANSUR SAMIN | Mansur Samin, Anda tahu? Lelaki kelahiran Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 29 April 1930 ini, adalah sastrawan Indonesia. Pendidikan terakhir: SMA Solo. Pernah menjadi guru, redaktur Siaran Sastra RRI Solo, redaktur mingguan Adil, (Solo), wartawan harian Merdeka (Jakarta), dan redaktur majalah Cerpen. Oleh Jassin dimasukkan ke Angkatan '66. Banyak menulis puisi, dan juga kumpulan cerita anak. Salah satu sajaknya, "Raja Sisingamangaraja", mendapat Hadiah Kedua Majalah Sastra tahun 1963.
Tak banyak cerita tentang Mansur Samin ini, kecuali sebagaimana yang diceritakan penyair Adri Darmadji Woko, bahwa beliau seorang pelupa. Ceritanya, pada suatu hari ketika Mansur Samin hendak pergi, istrinya meminta ia agar membawa payung. Maklum waktu itu musim hujan. Tentu saja tujuannya, jika turun hujan di perjalanan, Mansur tidak kehujanan. Biasa saja dan logis saja. Tapi, ketika pulang dan sampai di rumah kembali, isterinya melihat Mansur Samin basah kuyup, kehujanan. Soalnya, payung yang dibawa Mansur tadi, tetep saja cuma dijepit di keteknya.

Minggu, Januari 12, 2014

Dialog Dogol Susilo dan Mbambang

"Sejak Jumat kemarin sampai hari ini, AU belum juga mandi, Mbang."
"Kok tahu, Su?"
"Loyalisnya bilang, racun mungkin juga bisa disuntikkan lewat air, baik air minum atau air di kamar mandi, Mbang..."
"Waduh, racun juga bisa dikirim lewat udara dong, Su?"
"Makanya, kemarin loyalisnya usul agar penjara KPK harus disterilkan, harus ada mesin pensupply oxigen khusus ke sana, Mbang. Kalau nggak diturutin, ini pelanggaran HAM, Mbang. Bahkan pelanggaran UUD 1945 dan Perubahannya. Karena sesuai pasal 33 butir 3; 'Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.' Kalau perlu, lapor ke lembaga HAM international. Ini masalah serius!"
"Lho, emangnya, tahanan lain juga nggak punya HAM? Rakyat korban korupsi juga nggak punya HAM, Su?"
"Duh, jangan mendebat dong, ini kan soal didzalimi, Mbang. Kata Haji Rhoma Irama dalam lagunya, itu hak azasi!"
"Atau, kalau teknisnya sulit, bagaimana kalau seperti Michael Jackson, Su?"
"Kalau seperti Jacko mereka tidak setuju. Nyatanya Jacko justeru mati karena dibunuh dokternya, Mbang."
"So, Su?"
"Untuk jaminan keamanan, mereka punya ide, untuk makan atau minum maka paling tidak dua orang ketua KPK harus mencicipinya dulu. Kalau ada racunnya, biar ketua KPK yang mati, Mbang."
"Itu kalau ada racunnya? Kalau enak gimana, Su?"
"Ya, jangan hanya Anas yang nikmati, tapi seluruh loyalis dan kadernya di seluruh Indonesia harus dikasih juga, Mbang. Namanya tiji-tibeh, mukti siji mukti kabeh,..."
"Mati siji mati kabeh, Mbang?"
"Ya, jangan. Kalau mati, matiyo dhewek, Su!"
"Kalau mandi, Mbang?"
"Mandi juga. Abraham Samad atau Bambang Widjojanto juga yang harus nyobain dulu airnya, Mbang."
"Mereka harus mandi dulu gitu, Su?"
"Iya, Mbang."
"Disaksikan pers, Su?"
"Iya, dong. Kan tuntutan loyalis AU, KPK harus transparan, terbuka, Mbang."
"Logikanya makin menarik dan mangsuk akal, Su."
"Ha jelas, Mbang, piye to jal!"
"Kalau dalam sepakbola, yang sangat dikuasai AU sebagai penggemar MU, Barcelona, dan AC Milan ini; ada teori bluffing dan diving, Su."
"Yang artinya, Mbang?"
"Tanya Mbah Google, Su!"

Senin, Januari 06, 2014

33 Toko Sastra Indonesia Paling Terpengaruh

[Sebuah Resensi] 

Judul buku ini, agak kontroversial, karena dengan jelas menunjuk angka "33 Toko Sastra Indonesia Paling Terpengaruh".
Yang harus segera dijelaskan tentunya, apa yang dimaksud dengan toko sastra di situ. Apakah toko itu menyediakan sastra, atau menyediakan buku sastra? Dua hal itu berbeda dan harus diusut. Kalau toko buku sastra, kenapa kata buku di situ dihilangkan? Ada upaya pengaburan dengan sadar. Atau, apakah maksudnya Sastra Indonesia itu yang dijual? Siapa yang menjual? Dijual kepada siapa? Berapa harganya? Apakah toko itu hanya penyalur, distributor, atau diam-diam toko itu juga menjadi penerbitnya? Masalah ini, harus clear sebelum kita menginjak analisis akademik soal kata 'Paling Terpengaruh'.
Kata itu, secara teoritik, tentu mengandung dan mengundang. Ini bukan persoalan memindah-mindah hurud u dan a, tetapi secara semantik memang berbeda. Kita mengenal idiom gerimis mengundang, tapi tidak gerimis mengandung. Kalau langit mengandung hujan, mungkin pernah ada penyair gemblung menulis seperti itu, meminjam istilah politik jaman Lekra dan Manikebu dulu bertarung.
Satu-satunya keberanian yang patut diacungi jempol, tentu penyebutan angka 33 secara jelas. Ada kemajuan cukup menggetarkan, karena menyebut jumlah pasti toko-toko sastra itu berarti kini kalangan sastra mengenal istilah metodologi ilmiah dan akademik, sampling eror, metode random, dan margin eror, seperti halnya kalkulasi margin laba dan rugi. Siapa tahu nanti ada buku sastra dan sastrawan terpopuler berdasar polling.
Hal lain, sebelum kita menukik pada isi buku, adalah soal penulis. Penulis buku ini, ditulis di sampul; Jaman E. Rancuman dkk. Tidak jelas, apakah yang menulis Jaman dibantu kawan-kawannya, atau kawan-kawannya yang menulis kemudian Jaman yang membantu? Ini butuh klarifikasi, karena kita butuh memastikan juga, apakah honorarium untuk penulisnya dibagi rata, adil, atau berdasarkan ranking? Misal dari sisi usia, alfabet nama, atau mutu masing-masing? Butuh akuntan publik untuk ini, yang sudah bersertifikasi tentu.
Tapi, kalau kita menilik isi buku, 33 toko sastra ini tidak jelas paling terpengaruh oleh apa? Oleh kenaikan harga gas, oleh skandal SS, atau upaya toko tertentu untuk mendamaikan toko sastra yang selama ini saling bertikai lempar-lemparan batu mecahin etalase toko, berebut pengaruh? Apalagi di situ ditulis 'paling terpengaruh'. Kata 'paling' tentu arti dan maknanya adalah yang lebih dari yang lain. Paling, lebih menunjuk ke sebuah peringkat. Kalau tunggal, maka dia ialah yang nomor satu, tak ada yang mengalahkan. Paling ganteng, terganteng, satu-satunya yang ganteng, yang lain tentu kurang atau tidak ganteng. Lha kalau 33 Toko Sastra yang Paling Terpengaruh, maksudnya apa? Mosok 'ter' kok rombongan? Kalau pakai kata 'paling', mestinya ada pemeringkatan, siapa yang palingnya paling gede, paling nomor 1, paling nomor 2, 3, 4, dan seterusnya hingga paling bontot nomer 33. Atau, jangan-jangan kata paling di sana salah tulis? Yang dimaksud bukan paling, tapi maling? Tapi, mana ada maling terpengaruh? Kalau maling mempengaruhi, itu paling mungkin, setidaknya mempengaruhi yang kemalingan.
Masalah-masalah itu mesti dijelaskan, dan baru nanti resensi atas buku ini bisa kita mulai secara serius. Yang jelas, di sebuah toko buku sastra di Indonesia, A. Teeuw pernah tersiksa. Sehabis capek-capek nyari buku sastra, ia kebelet ke toilet. Perutnya mules. Sayangnya, toko sastra itu sama sekali tak menyediakan toilet.
Mungkinkah toko sastra yang dimaksudkan Teeuw itu termasuk di antara 33 toko sastra dalam buku bersampul anak nangkring di closet itu? Benarkah gambar anak di sampul buku itu, yang krukupan ember, adalah anak Teeuw? Masih teka-teki. Ada yang tahu? Atau tempe?

Kamis, Desember 26, 2013

Gudeg dengan Gori Kualitas Ekspor

Suatu ketika, Gita Wiryawan bernostalgia kota kecil Cambridge, di Massachusetts, AS, tempat ia menempuh S2 Administrasi Publik di Harvard University.
Sebagai menteri perdagangan dan seorang nasionalis, ia mengunjungi salah satu pusat kuliner Indonesia di negeri Paman Sam itu. Sayang Bibi Sam waktu itu lagi bobo bersama rongrong.
Gita Wiryawan menuju ke salah satu outlet yang menjual gudeg. Sambil memainkan 'My Way' dengan ketukan piano yang jazzy, ia menikmati gudeg, "Gudegnya enak sekali, tidak seperti gudeg Malioboro,..."
"Oh, itu karena gori atau nangkanya kualitas ekspor!" kata penjual Gudeg yang WNI keturunan Jawa, dari Mbuantul, Ngayogyakarta.
"Oh ya? Kualitas ekspor? Ini diimpor dari negara mana?" Gita Wiryawan terpana.
"Kita impor dari Mbuantul!"
Esoknya, Gita Wiryawan menyuruh staf ahlinya di Jakarta, untuk mengekspor gori dari Mbuantul ke Amerika, untuk kemudian dari negeri Paman Sam diekspor lagi ke Indonesia!

Minggu, Juli 28, 2013

FPI di Mata Para Penyanyi dan Musisi Dunia

Kasus di Sukorejo Kendal dengan nyata membuktikan tentang front preman Indonesia yang mengatasnamakan agama. Apa kata musisi dan penyanyi dunia itu tentang FPI? Berikut pernyataan dan jawaban mereka ketika ditanya "What do you think of FPI?"

SIMON & GARFUNKEL, "Bridge over troubled water!"
JULIO IGLESIAS, "Crazy!"
TOM JONES, "He'll have to go,..."
JOHN LENNON, "I don't wan't to be a soldier!"
THE DOORS, "The Unknown soldiers."
METALLICA, "St. Anger!"
NINA SIMONE, "Do I move you!"
MADONNA, "Take a bow,...!" (Indonesianya: Taik Kebo!)
KANSAS, "Dust in the wind."
DREAM THEATER, "Far from heaven,...", "Blind faith!"
SANTANA, "Who's that lad?"
FREDIE MERCURY, "Mr. Bad Guy!"
DEEP PURPLE, "Child in time."
CRASH TEST DUMMIES, "Mmmm, Mmmmm, Mmmmm,...."
MICHAEL JACKSON, "Smooth Criminal,...", "Bad!"

NORAH JONES, "Don't know why,..."
MARIAH CAREY, "Without you!"
BILLY JOEL, "Just the way your are!"
ROBERTA FLACK, "Killing me softly!"
ROLLING STONE, "Bitch!"
BEATLES, "Hey, Bulldog!", "Bad Boy!"
BARBRA STREISAND, "The way we were,..."
THE CORRS, "Everybody hurt,..."
MOZART, "Requiem,..."
FRANK SINATRA, "Some think stupid!"
THE BEE GEES, "Something stupid!"
PINK FLOYD, "Brain damage."
ROD STEWART, "I don't want to talk about it!"

Minggu, Januari 06, 2013

Kisah Blusukan Seorang Presiden di Suatu Negeri


Syahdan, menurut sahibul blusukan, Presiden dengan tanpa menjelaskan agendanya (tapi sekretaris kepresidenan sudah dibisiki untuk mengajak banyak wartawan), melakukan kunjungan kerja di sebuah desa terpencil. Di desa ini, hampir penduduknya kaum urban, dan berprofesi di sektor-sektor informal.
Presiden pun berwawancara dengan seorang Ibu penjual jamu gendong, "Sudah berapa tahun jualan jamu gendong?"
"Wah, lha ya sudah lama, Poak,..." jawab Ibu penjual jamu ngeri-ngeri sedap, karena baru kali ini ngobrol dengan Presiden.
"Berapa anaknya?"
"Anak saya sudah gede-gede, Poak,... Pada mencar. Ada yang di ITB, UI, IPB,..." jawab Ibu penjual jamu gendong itu.
"Oh, ya? ITB Bandung?"
"Lha iya, Poak. Masak Bantul!"
Presiden pun mengedarkan pandangannya ke masyarakat yang mengerubung. Protokoler memang agak longgar, biar rakyat merasa pemimpinnya memang merakyat.
"Lihat saudara-saudara,...." Presiden setengah berteriak, "Ibu ini patut dicontoh. Meski hanya berjualan jamu gendong, tapi anak-anaknya ada yang di ITB, UI, dan, mana Ibu?"
"IPB, Poak!"
"Ya, di IPB, saya juga alumni di situ. Semuanya itu dari kerja keras seorang Ibu, berjualan jamu gendong," Presiden terus berbusa-busa, "Coba, ceritakan Ibu pada saudara-saudara kita semua, ini inspiring dan penting buat kita semua. Kita jangan gampang mengeluh, kita bekerja keras untuk memperbaiki kualitas SDM kita. Ibu ini berhasil memperbaiki kualitas taraf hidup bangsa dan negara ini. Apa profesi anak-anak Ibu ini di sana?"
"Ya, di sana itu, anak-anak saya itu ya jual jamu jugalah, Poak,...!"


MUI-Perjuangan dan Repotnya Duduk Ngangkang


MUI-P, Majelis Unyu-unyu Indonesia Perjuangan, mempunyai problem baru akan hal fatwa yang barusan dikeluarkan. Masalahnya bukan soal ngangkang dan tidak ngangkang. Lebih jauh lagi, soalnya adalah apakah jenis kelamin sepeda motor laki-laki boleh dinaiki (baik nggonceng atau mengemudikan) oleh yang berjenis kelamin perempuan? Begitu juga sebaliknya, apakah sepeda motor perempuan (jenis bebek itu), boleh dinaiki oleh kaum lelaki? Masalahnya, mereka bukan muhrimnya. Ini bisa mengundang perbuatan tak senonoh.
Repotnya, kalau sepeda motor berjenis kelamin perempuan juga dinaiki kaum perempuan, sementara sepeda motor laki-laki dinaiki oleh laki-laki, bagaimana hukumnya? Adakah berarti para Unyu-unyu melegalkan hubungan sejenis? Bukankah itu juga aib, tabu, larangan, pamali?
Persoalannya, memang agak repot mencari dalil apakah boleh mengawinkan antara sepeda motor dengan manusia? Ini mengundang perdebatan yang tak perlu. Lagian, bagaimana dengan jenis sepeda motor yang tak jelas kelaminnya, yakni model-model sepeda motor yang lelaki bukan perempuan juga bukan (kayak Satria FU itu). Masih butuh pendalaman.
Maka setelah melakukan perdebatan panjang, Majelis Unyu-unyu merekomendasikan pada pabrik-pabrik sepeda motor, untuk membuat prototype yang sesuai dengan kaidah perunyu-unyuan. Majelis Unyu-unyu Indonesia juga mengingatkan, pabrik sepeda motor yang tidak sesuai akidah unyu-unyu, tidak akan mendapat sertifikat halal. Kalau sepeda motor itu haram, artinya onderdilnya halal disembelih (dan bisa langsung dijual protholan atau kiloan ke pasar klithikan).
Keputusan sementara, para lelaki dan perempuan yang berhasrat naik atau menggonceng sepeda motor, apapun jenis kelamin kendaraannya, mohon tidak dinaiki dulu. Meski mesin boleh dihidupkan, tapi disarankan sepeda motor itu dituntun saja. Itu lebih aman dan terhindar dari gibah. Lebih disarankan lagi, sepeda motor itu dituntun dalam kondisi mesin mati, itu lebih hemat energi 'kan?

Selasa, November 13, 2012

Raja Dangdut Turun Pangkat Jadi Presiden




Masih mau membaca kisah capres Raja Dangdut, nggak? Kalau nggak, nggak usah dilanjutin ngebacanya. Kalau masih mau lanjut, begini ceritanya:
Syahdan, menurut sahibul bokis sebokis-bokisnya, Raja Dangdut pun mendaftar ke Panitia Pilpres. Pada saat wawancara, pansel (panitia seleksi) bertanya, “Selanjutnya, tolong Anda sebutkan pahlawan, atau tokoh idola, Anda?”
“Ehm, alhamdulillah, sebagai seorang yang nasionalis yang sangat mengenali bangsa ini, saya mengidolakan orang Indonesia. Dia adalah Pangeran Diponegoro. Bangsa ini akhlaknya telah terlempar, tidak ada lagi budi pekerti. Semua terjebak pada tindakan korupsi, anarkisme, tawuran antar suku, karena tidak adanya akhlak,…. Sekarang ini saya siap tampil. Ada keterpanggilan, melihat kondisi bangsa ini masih jauh dari cita-cita. Sebenarnya saya sudah menjadi pemimpin informal. Setiap Jumat saya menjadi khatib Jumat, Idul Fitri, dan dalam ceramah-ceramah memberi motivasi dan solusi untuk bangsa ini. Jadi menjadi pemimpin politik tidak kaget untuk saya. Saya sangat siap dan kenal dengan bangsa ini,… Ini pernyataan saya. Sudah dimuat di detikcom 12/11/2012, tolong di-cek. Internet itu sahih, bisa dipercaya, seperti waktu saya bilang Ibu Jokowi itu Kristen, itu saya baca di internet! Berarti sahih! Internet tidak mungkin gibah,…” Raja Dangdut pun pidato panjang lebar.
Begitu mantap dan meyakinkan kata-kata yang meluncur dari sang capres ini. Pansel pun begitu terkesan dan kagum, ternyata raja dangdut ini sangat nasionalis dan bangga dengan tokoh dalam negeri, karena semula dikiranya idolanya dari Arab dan para habib mulu.
“Tapi, Tuan, ini belum masa kampanye, jadi kembali ke pokok masalah,” kemudian pansel melanjutkan pertanyaan yang ringan-ringan saja, seputar Pangeran Diponegoro, “jika demikian, Anda pasti tahu, kapan Pangeran Diponegoro meninggal ‘kan?”
“Astagfirullah,…” Raja Dangdut kaget, “meninggal? Kapan? Innalillahi,…”
Tentu saja pansel ikut-ikutan kaget, tapi juga kecewa dengan reaksi capres ini.
Sesi wawancara mesti break maghrib.
Sebagai nasionalis, kabar tentang meninggalnya Pangeran Diponegoro sangat menyedihkan hatinya. Sampai di luar ruangan, dia bergegas menemui seseorang yang diketahuinya dari Yogyakarta, “Maaf, ya Mas, ini Mas SW ‘kan? Mmm, apa benar sih Pangeran Diponegoro sudah meninggal?”
Tentu saja pertanyaan itu menggelikan, tapi bagaimana pun dijawab juga oleh SW (hihihi, numpang beken), “Lho, ‘kan sudah lama, Paduka. Masa nggak tahu sih? Ngedangdut teyus sih. Nggak sempet lihat film November 1828 Teguh Karya, ya?”
“Ooo, sudah lama ya? Kok saya belum pernah denger ya, subhanalloh. Kapan sih Mas SW?”
“Yaa,… sekitar lapan belas lima-lima (1855), Paduka!”
Capres itu membelalakkan matanya, “Haaaah? 18.55? Habis maghrib, dong?”
Orang-orang yang mendengar pun membelalakkan mata.
"Menjelang Isya itu,..." kata Sang Raja Dangdut menjelaskan.
"Iya,..." tukas SW sembari menghela nafas."
"Katanya, sebelumnya terlibat peperangan, betul?"
"Betul, 1825-1830,..."
"Perang itu cuma berlangsung lima menit saja?"
Kini orang-orang yang mendengarnya meledak. Pingsan.

Raja Dangdut Jadi Presiden

Dalam sebuah kotbahnya, Rhoma Irama yang sang capres, berteriak dengan garangnya, “Bangsa ini akhlaknya telah terlempar, tidak ada lagi budi pekerti,…!”
Kerumunan massa mengelu-elukan, sambil berteriak-teriak dan mengacungkan tangan. 
Dari kerumunan, terlihat seorang Ibu terhimpit dan mau muntah. Bak pahlawan, Rhoma Irama loncat, turun dari panggung, meruyak kerumunan massa, mendekat, “Ibu pusing?
 Mau muntah?”
Ibu itu sembari memegangi kepala, mengangguk.
“Tenang. Ibu berada di tangan yang benar.”
“Bolehkah saya melihat wajahmu, Nak?”
Sang Capres senyam-senyum India. Ia tahu wajahnya sudah menyembuhkan banyak penyakit para pengagum dan pemujanya, “Tentu saja boleh Ibu. Kenapa?”
“Biar saya segera bisa muntah, Nak,…”

Sabtu, November 10, 2012

Dongeng Malming tentang Nenek yang tidak Sopan


Syahdan menurut sahibul bokis, pada suatu malming, adalah seorang Muda Rupawan naik bis. Namanya juga malming, habis mandi tadi sekujur tubuh sudah di body-wash dengan aneka pewangi. Dua belah keteknya juga udah disemprot-semprot. Rambutnya klimis kayak Pak Beye. Siapa tahu ada yang nyantol.
Saat itu, Tokoh Kita melihat seorang nenek tampak mual-mual dan ingin muntah. Lalu Tokoh Kita nan Rupawan menghampiri, dan bertanya pada nenek tersebut dengan ramah, "Kenapa Nek, nenek mual ya?"
"Iya, Nak..." Nenek tua (ya masak nenek muda) itu kemudian balik bertanya, "Nak, boleh lihat mukanya sebentar?"
"Boleh, Nek,…” Sang Muda Rupawan menyahut dengan penuh senyum, “kenapa Nek?"
"Biar muntahnya gampang, Nak,…!"

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...