Sabtu, Desember 15, 2018

Pemilu Pertama di Indonesia, Sudah dari Sononya


Indonesia pertama kali menyelenggarakan Pemilu pada 1955, 10 tahun setelah merdeka. Dari berbagai poster kampanye saat itu, ternyata “saling serang” antarkontestan adalah bagian tak terpisahkan. 

Persaingan di Pemilu 1955 berlangsung sengit. Partai-partai politik saling serang, termasuk menjelek-jelekkan satu sama lain. Apalagi antara PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Masjumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), serta PNI (Partai Nasional Indonesia) di sisi lain.

Sesungguhnya pengadaan Pemilu akan dilangsungkan satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan. Namun karena alasan situasi keamanan dan politik, membuat Pemilu 1946 batal dilaksanakan.

Pemilu pertama menunjukkan tingkat partisipasi politik yang tinggi dari masyarakat. Orang rela menempuh jarak yang jauh, untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), meski harus berjalan kaki, atau bahkan menyeberang pulau. Terhitung jumlah daftar pemilih tetap 43.104.464 orang.

Meski diselenggarakan dengan majoritas penduduk yang masih buta huruf, Pemilu 1955 mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara asing. Pemilu dinyatakan terselenggara dengan aman, lancar, jujur, adil, dan demokratis.

Herberth Feith, peneliti asal Australia, yang dipekerjakan Pemerintah RI, kemudian menuliskannya dalam buku "The Indonesian Elections of 1955." Feith menggambarkan suasana persaingan dengan detail. Isu penistaan agama, sudah muncul saat itu. Bahkan aksi demonstrasi menentang penistaan agama, penolakan pemakaman komunis, hingga intimidasi yang dilakukan aparat.

Masyumi beradu dengan PNI soal aspirasi penerapan syariat Islam di Indonesia. Ada momentum yang menyulut ketegangan itu ketika Presiden Sukarno di Amuntai Kalimantan Selatan (Januari, 1953), memperingatkan bahwa usaha mengubah Indonesia menjadi negara Islam, akan menyulut perpecahan dari daerah-daerah yang penduduknya bukan Islam. Jadi, isu soal kilafah bukan hal baru bukan?

Berkait dengan pidato Bung Karno itu, kalangan Islam bereaksi keras. Anggota DPR dari Masyumi, Kiai Hadji Isa Anshary, dalam kampanyenya selalu mengutuk pemimpin partai politik non-Muslim, sebagai munafik dan kafir. Sebaliknya, PNI menilai Isa Anshary sebagai ekstremis, karena selalu menentang simbol-simbol nasionalisme.

Dalam buku yang lain, "The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia", Feith menuliskan kasus penistaan agama yang dilakukan pihak Permai (Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia). Organisasi Islam, yang didominasi Masyumi, kemudian menggerakkan demonstrasi (Februari 1954), mengecam Permai dan PNI. Sebenarnya ini demo lanjutan dari isu sebelumnya, yakni digantinya Walikota Jakarta Raya, dari Masyumi (Sjamsuridjal) ke orang PNI (Sudiro).

Pemilu 1955 juga makan korban jiwa yang pertama, seorang Kapten TNI yang menjaga keamanan kampanye. Konon setengah juta orang turun ke jalan, dan berujung rusuh. Sementara PKI menghubung-hubungkan Masyumi dengan pemberontak Darul Islam, dan punya niat mendatangkan pihak asing pada sektor perkebunan dan tambang. 

Masyumi menuding PKI sebagai partai yang tunduk pada Moskow. Masyumi juga selalu mengingatkan publik soal peristiwa pemberontakan Madiun 1948 yang dilakukan oleh PKI. Dalam pandangan Masyumi, yang disampaikan dalam berbagai kampanye; komunis sama saja dengan atheis, maka komunis adalah kafir. Jasadnya harus ditolak jika hendak dimakamkan di pemakaman muslim.

Saat berkampanye di Jawa, PNI menyebut Masyumi sebagai partainya orang Sumatra. Namun Masyumi dalam kampanye di Sumatra menyatakan PNI partainya orang Jawa saja. Masyumi dan NU sama-sama berkampanye bahwa hanya yang memilih partainyalah yang bisa masuk surga. Kalau tidak pilih partai itu, maka bisa masuk neraka.

Hoax atau kabar bohong juga sudah muncul. Misal, tentang , adanya kapal selam yang segera merapat, menyerang Indonesia. Kabar bohong kedua, orang-orang kulit putih yang sembunyi di gunung-gunung, bakal menyambangi kota dan menyerang dengan bantuan pasukan hantu.

Hoax berikutnya, orang-orang di Jawa dilaporkan banyak yang keracunan beberapa hari sebelum dan sesudah Pemilu DPR. Terjadi persekusi terhadap penjual makanan. Bukan hanya di satu tempat, tapi di banyak tempat. Bahkan isu makanan beracun menjadi pembicaraan di kabinet. Selama empat hari, Institut Bakteriologi Eijkman di Rumah Sakit Pusat Jakarta, menerima 600 sampel makanan yang diduga beracun. Setelah diperiksa, tak ada racun dalam sampel-sampel makanan itu.



Pemilu 1955 diikuti 39 partai politik peserta pemilu. Muncul empat besar dari hasil Pemilu itu; Partai Nasional Indonesia (PNI, meraih 57 kursi), Masyumi (57 kursi), Nahdlatul Ulama (45 kursi), dan Partai Komunis Indonesia (PKI, 39 kursi). 

| Dikutipkan dari hasil pengamatan dan penelitian Herbeth Feith.

Jumat, Desember 07, 2018

Capaian Prestasi Spektakular Sandiaga Uno: Dari Santri ke Nabi Yusuf



Sungguh menggetarkan capaian prestasi Sandiaga Uno, cawapres pasangan capres Prabowo Subianto dalam Pilpres Republik Indonesia 2019.

Berkait deklarasi capres-cawapres Prabowo-Sandi, presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Sohibul Iman, mentahbiskan Sandiaga Uno sebagai santri post-Islamisme (4/8/18). Oleh karena itu, namanya tak hanya Sandiaga Uno, melainkan harus disebut lengkap sebagai Sandiaga Salahuddin Uno.

Kita tahu Salahuddin jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit. Panglima Perang Salib yang sadis, dan mampu menaklukkan Yerusalem. Betapa amat sangat menggetarkan sekali bukan? Jangan bilang bukan, kecuali kapir!

"Saya kira beliau seseorang yang memang hidup di alam moderen, tetapi beliau mengalami proses spiritiualisasi dan Islamisasi, sehingga saya bisa mengatakan saudara Sandi adalah merupakan sosok santri di era pos-Islamisme. Dia benar-benar menjadi contoh pemimpin muslim yang kompatibel dengan perkembangan zaman," tutur Sohibul Iman memberikan argumentasi.

Menurut PKS, salah satu ciri Sandiaga yang bisa dilihat sebagai sosok santri post-Islamisme; Ialah kedekatan dengan tokoh-tokoh agama. Kedekatan dengan ulama dan perilaku Islami, yang menunjukkan kesalehan pribadi itu bagian tidak terpisahkan. Ciri lain, masih menurut orang PKS, aktivis post-Islamisme adalah cenderung pragmatis, realistis, dan bersedia berkompromi dengan realitas meski tidak selalu ideal. Namanya juga partai dakwah, harus pintar berdakwah, apalagi ada tarifnya.

Ditegaskan Sohibul, Sandiaga atau aktivis post-Islamisme ini, bukan sekuler. Post-Islamisme adalah tahapan terkini, dari gerakan dakwah Islam setelah revivalisme dan strukturalisme Islam. Gerakan ini mulai menguat seiring dengan kebangkitan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki. Mulai jelas ‘kan di sini?

Post-Islamisme adalah gerakan yang lebih mementingkan tercapainya esensi Islam, moderat, menyatu dengan sistem yang sedang berjalan, yaitu demokrasi. Pendekatan mereka lebih pragmatis. Yaitu tercapainya target riil, seperti ekonomi, pembangunan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Kalau ada orang PKS, seperti Mardani Ali Sera nampang di youtube bersama Yusanto dari HTI, untuk teriak ‘Ganti Presiden’, karena tahrir pada hisbut itu maknanya adalah ‘ganti’. Bukan ba’dal dalam pengertian melanjutkan (yang sudah ada). Ganti presiden artinya ganti sistemnya sekalian! Pancasila itu thogut!

*

Tapi kenapa PKS memilih atau mendukung Sandi? Ya, punya apa PKS selain ideologi islamismenya itu? Maka Sandi harus dibaptis dulu, sebagaimana Sohibul Iman menyebut santri era Post-Islamisme. Mangkanya, tidak sembarangan cawapres kita yang satu ini. Meski semula Partai Demokrat menolak pencawapresan Sandiaga, toh SBY dan AHY menerima juga pada akhirnya. Mengenai persoalan Jenderal Kardus dicuitkan Andi Arief? Jika kardusnya hilang lenyap, biasanya bukan menguap, tapi mungkin ada kardus lain lagi. Toh SBY, dan AHY, yang dibilang ahli strateg oleh filsuf macam Rocky Gerung, harus ngisep ibu jari dalam Pilpres kali ini.

Status religius Sandiaga Salahuddin Uno, dalam waktu relatif singkat, semakin meningkat di mata pendukungnya. Dalam waktu sebulan saja, Sandiaga sudah disebut mencapai level ulama. Bahkan ia bisa menyingkirkan dua ulama rekomendasi Ijtimak Ulama GNPF, Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Salim Segaf Al Jufri.

Pada 16 September 2018, GNPF Ulama dalam Ijtimak Ulama II, akhirnya mendukung Prabowo-Sandi. GNPF memahami bahwa Prabowo tak memilih ulama menjadi cawapresnya untuk menghindari perpecahan umat. Tapi apa kata PKS?

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, mengatakan Sandi adalah ulama. Dalam Alquran, demikian HNW, istilah ulama disebut dalam Surah Asy-Syura dan Surah Fatir. "Kedua-duanya, justru ulama itu tidak terkait dengan keahlian ilmu agama Islam. Satu tentang ilmu sejarah, yaitu dalam Surah Asy-Syura dan Surah Fatir itu justru science, scientist," kata HNW. Maka mengacu dua surat itu, cawapres pendamping Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, juga seorang ulama, lebih muda dan ngganteng dibanding ulama sebelah yang juga cawapres.

"Menurut saya sih, Pak Sandi itu, ya, ulama, dari kacamata tadi. Perilakunya, ya perilaku yang juga sangat ulama, beliau melaksanakan ajaran agama, beliau puasa Senin-Kamis, salat duha, salat malam, silaturahim, menghormati orang-orang yang tua, menghormati semuanya, berakhlak yang baik, berbisnis yang baik, itu juga satu pendekatan yang sangat ulama. Bahwa kemudian beliau tidak bertitel 'KH' karena memang beliau tidak belajar di komunitas tradisional keulamaan," tutur HNW.

Capaian Sandiaga, memang spetakuler. Sebulan kemudian, pada Oktober 2018, Koordinator Jubir Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyamakan Sandiaga Uno dengan Mohammad Hatta. Begawan Ekonomi Indonesia, sebelum Sumitro Djojohadikusumo disebut begawan. Meski mendapat protes dari cucu Bung Hatta, dan dituntut minta maaf, tim kampanye Prabowo-Sandi tak mau minta maaf. Dahnil membandingkan Prabowo dengan Sukarno dan Jenderal Soedirman, Sandiaga dengan Mohammad Hatta.

Setelah diprotes cucu Bung Hatta, Dahnil kemudian mengatakan; "Yang jelas, Bang Sandi sejak awal ingin meneladani kepemimpinan Bung Hatta. Setiap kepemimpinan hari ini kan pasti berusaha mencari keteladanan dari kepemimpinan sebelumnya. Nah salah satu kepemimpinan yang bisa kita teladani adalah Bung Karno, Jenderal Soedirman, kemudian Bung Hatta," ujar Dahnil.

*

Pada bulan Nopember 2018, tak ada capaian berarti dari Sandiaga. Mungkin sebagai seorang religius, dan tawadhu',  dia menghormati bulan pahlawan Indonesia. Atau mungkin waktu itu lagi disibukkan dengan kampanye ke pasar-pasar. Dan sempat bikin sebel para pedagang pasar, karena selalu menghinformasikan harga-harga naik. Itu menjadi kampanye negatif bagi para pedagang pasar, karena calon pembeli bisa jadi beralih ke supermarket, milik teman-teman Sandiaga Uno yang bisa lebih murah.

Tiba-tiba, dalam bulan Desember, tepatnya 4 Desember 2018, dalam kampanye di Surabaya, Sandiaga memberikan pernyataan;  Bersama Prabowo, siap menyelesaikan masalah ekonomi dalam waktu tiga tahun. Jika Nabi Yusuf butuh tujuh tahun untuk menyelesaikan krisis ekonomi, pasangan Prabowo dan Sandiaga Salahuddin Uno percaya diri bisa melakukannya lebih cepat.

“Nabi Yusuf butuh tujuh tahun. Insyaallah, saya dengan Pak Prabowo cukup tiga tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” ujar Sandiaga Salahuddin Uno. 

Guna mewujudkan janji ini, Sandiaga Uno punya tiga kiat. Itu kalau Sandiaga terpilih sebagai Wapres karena Prabowo menang jadi capres. Tidak mungkin Sandi kepilih sebagai wapres sementara Prabowo kalah pilpres bukan? Penistaan agama? Enggaklah, ‘kan yang ngomong Sandiaga Salahuddin Uno, bukan Ahok yang penista agama itu?

Dengan klaim mampu lebih cepat, kita tak tahu, artinya hal itu lebih pintar atau lebih bodoh? Untuk mencapai level melampaui nabi saja, Sandiaga butuh waktu dua bulan. Bandingkan, Agustus 2018 ia disebut santri Post-Islamisme, September kemudian HNW menyebutnya ulama. Bulan berikutnya, Oktober, disebut Dahnil sebagai Bung Hatta Baru. Sungguh capaian post-millenial banget. Apakah Sandiaga mengambil paket kilat, tiap bulan naik tingkat?

Hanya harus diakui, capaian yang melampaui nabi, mungkin lebih sulit. Butuh waktu dua bulan, untuk memberikan pernyataan bisa 4 tahun lebih cepat, dibanding capaian Nabi Yusuf dalam menyelesaikan krisis ekonomi.

Jika kita percaya urutan 25 nabi, Kanjeng Nabi Yusuf pada nomor 11 (sesudah Yakub dan sebelum Ayub), artinya sampai dengan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ alaihi wasallam, sebagai nabi (25) terakhir, berselang 13 nabi? Hitung rata-rata, jika para nabi berusia 100 tahun (konon ada yang 300 tahun lebih), maka krisis ekonomi itu terjadi sekitar 2000 SM (sebelum –kalender- Masehi)?

Krisis ekonomi macam apa? Naik-turunnya Dollar AS, karena perang dingin dengan Cina? Atau karena para pemain bursa saham, yang dikuasai kelompok Yahudi dan Yakuza terjebak bermain gaple? Dan semua itu dilalap habis oleh Sandiaga Uno, hanya dalam tiga tahun saja? Dengan cara mengurangi impor, mengajak pengusaha swasta dan prioritas pembangunan infrastruktur yang terprogram dengan lebih baik? Soal infrastruktur, ya, iyalah. Karena infrastruktur basic sudah diselesaikan di era Jokowi.

*

Tapi, tahukah Anda, krisis ekonomi macam apa, di jaman Nabi Yusuf itu? Bagaimana cara Nabi Yusuf menyelesaikan? Dalam sejarah Mesir Kuno, telah mencatat terjadinya ancaman krisis pangan, akibat perubahan iklim ekstrim yaitu musim hujan (masa subur) dan El Nino (musim kering), selama 7 tahun berturut-turut. Kondisi ekstrim seperti itu sampai sekarang belum pernah terulang kembali.

Bermula dari mimpi seorang Raja Mesir, yang 'melihat tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh butir (gandum) yang hijau, tujuh butir lainnya kering'.  Mimpi itu tak bisa diterjemahkan menjadi informasi yang jelas. Sehingga raja mengundang seluruh jajaran pegawai dan cendekia istana, untuk menafsir mimpi. Tapi tak seorang pun yang mampu menjelaskan secara memuaskan, dan tuntas tas-tas-tas seperti orang jualan tas Hermes.

Hingga kemudian tampilah Nabi Yusuf, sebagai penta'wil mimpi. Yang akhirnya membuat negara saat itu dapat memprediksi kejadian luar biasa, yang akan terjadi 14 tahun ke depan. Pengetahuan inilah yang disebut sebagai wahyu dari Tuhan. Kemudian setelah itu, langkah kedua diambil Raja Mesir, menjadikan Nabi Yusuf sebagai pejabat pemerintah. Sebagai bendaharawan yang mengatur urusan pangan rakyat selama menghadapi masa krisis.

Pertimbangan utama memilih Yusuf, karena pengetahuannya, dan juga amanah serta bisa dipercaya (QS 12:55). Kemudian disusunlah strategi antisipasi, seperti melalui produksi massal gandum di masa subur. Teknologi panen  gandum, yaitu dengan memetik bersama tangkainya, agar memiliki daya simpan yang lama. Pengaturan sistem pembenihan, agar benih untuk musim tanam berikutnya tetap tersedia. Manajemen stok pangan yang berkeadilan. Dan terakhir, membudayakan tolong-menolong sesama warga negara yang kesulitan pangan.

Langkah-langkah itulah, yang dilakukan Yusuf, sebagaimana secara tersirat dalam Quran (QS 43-53). Apakah, katakanlah dalam 4.000-an tahun kemudian setelah masa itu, di Indonesia pada 2018 dan seterusnya, berada dalam situasi seperti jaman Nabi Yusuf? 

Mungkin saja, jika menghadapi kasus seperti jaman Mesir Kuno itu, dengan pengetahuan dan alat baru seperti jaman kini, jangka 3 tahun terlalu lama dibanding 7 tahun pada 4.000 tahun silam. Tapi, jika logika ini dipakai, bisa dituding menghina kemampuan Sandiaga, yang bisa 4 tahun lebih cepat daripada masa yang dibutuhkan Nabi Yusuf kala itu?

Kenapa membandingkan dengan Nabi Yusuf? Bisa jadi karena Sandiaga adalah turun dari Salahuddin, yang semula bernama Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Yusuf bin Najmuddin lebih dikenal dengan nama julukannya, Salahuddin Ayyubi atau Salah ad-Din, atau dalam lidah Jawa sebagai Pangeran Saladin.

*

Tidak berkait itu sih. Tapi mungkin lebih karena waktu itu Jokowi menyebut film serial Game of Thrones sebagai perumpamaan ihwal kondisi ekonomi Indonesia dan dunia saat ini. Sementara mengatakan tak ada film yang relevan untuk menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menyinggung serial Game of Thrones dalam pidatonya di pertemuan tahunan International Monetery Fund - World Bank atau IMF-World Bank di Bali. Jokowi menyebut bahwa hubungan antarnegara ekonomi maju terlihat seperti yang digambarkan serial tersebut. Jokowi lantas mengutip satu tagline terkenal dari film Game of Thrones, yakni Winter is Coming.

Sandiaga mengakui bahwa istilah winter is coming tepat menggambarkan ancaman global terhadap perekonomian Indonesia. Namun, dia berpendapat kondisi internal dalam negeri juga perlu dibenahi. Sandiaga menyebut, ekonomi internal ibarat kemarau panjang. Sandiaga lantas berpendapat, film Yusuf Asshidiq Alaihissalam lebih tepat untuk mengumpamakan kondisi Indonesia saat ini. "Saya kebayang film yang Nabi Yusuf itu, yang tujuh tahun kita paceklik," kata santri post Islamisme sekaligus ulama ini.

Ya, sudahlah. Itu urusan para dewa, yang bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan allah subha’nahu wa ta’alla. Rakyat dengan kualitas nalar sederhana, lebih percaya bahwa pilpres (pemilihan presiden) di Indonesia hanyalah peristiwa manusia biasa. Dalam wacana demokrasi sekuler, yang lebih butuh manusia biasa saja, dan membumi.

Manusia biasa yang jujur, sederhana, tidak korup, dan bisa kita ukur rekam jejaknya. Tetap sebagai manusia biasa, yang mampu mendengar, dan mau menerima kritikan. Yang dalam lagu kanak-kanak sering dinyanyikan; Peramah dan sopan. Baik budi dan tidak sombong.

Minggu, Desember 02, 2018

Perselingkuhan Politik dan Agama


Ketika Jokowi berpendapat agama dan politik jangan dicampuradukkan, Amien Rais marah-marah. Politik tak bisa dipisahkan dengan agama, katanya, dan demikian pula sebaliknya.

Untuk pendapat Amien Rais, pertanyaannya; dalam kondisi berkeagamaan seperti apa, dan dalam kondisi berkepolitikan seperti apa? Sebagaimana kita juga tak percaya begitu saja aras dalil “perbedaan itu rahmat”. Karena rahmat akan terjadi sekiranya pandangan kita akan perbedaan itu sama, sama dewasanya. Dalam masyarakat yang tak mau memahami liyan, intoleran, perbedaan adalah bencana.

Perbedaan adalah rahmat dengan ketentuan dan syarat berlaku. Politik dan agama bisa dipersatukan, diintegrasikan, dengan syarat dan ketentuan berlaku pula. Karena politik dan agama dua entitas yang sama sekali berbeda, lebih pada persoalan karakternya. Jika politik lebih bergerak ke luar, agama bergerak ke arah dalam diri kita.

Maksud ketentuan dan syarat berlaku, agama menjadi frame internalisasi, pembangunan jiwa manusia, sehingga dalam langkah ke luar (berpolitik), out-putnya akan dibingkai oleh nilai-nilai moralitas, keberagamaan, atau karakter-karakter kemuliaan.

True religion is real living; living with all one's soul, with all one's goodness, ujar Mbah Kyai Albert Einstein (1879 – 1955). Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya, hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang. Karena itu, ahli fisika dari Jerman keturunan Yahudi itu mengatakan; Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Agama tanpa ilmu adalah buta.

Mengintegrasikan dua hal itu, adalah proses atau upaya menjadi manusia genah diri. Buya Hamka (1908 – 1981), sastrawan kita yang pernah menjadi Ketua MUI, berujar “hujung akal itu fikir, pangkal agama itu zikir.” Bukan cuma tokbar-takbir dan teriak kopar-kapir.

Ketika dua hal itu terpisah, fenomena seperti Habib Rizieq, ataupun habib satunya lagi yang sedang hit sekarang (karena mengatakan Jokowi lagi mens), sangat mungkin bisa terjadi. Karena tidak terjadinya integrasi diri atas nama agama dan ilmu pengetahuan, sebagaimana tutur Mbah Kyai Einstein. Mereka, dan yang sejenis itu, bukan manusia genah diri.

Tidak relevan menautkan “kualitas diri” seseorang dengan keturunan siapa. Itu pernyataan yang dalam konsep reliji sama halnya merendahkan Sang Maha Pencipta. Semua makhluk diberi dan mendapatkan modal serta kesempatan sama, yakni bagaimana bergelut dengan kenyataan-kenyataan sekitarnya.

Jika tidak ada integrasi antara agama dan politik, maka yang terjadi hanyalah klaim-klaim yang susah untuk dikonfirmasikan, di-check kebenarannya (juga seberapa besar hoaxnya). Misal banjir suatu wilayah adalah musibah, mengatasinya? Dengan berdoa atau shalat. Atau seperti pernah dikatakan Amien Rais, isyarat langit jelas, bahwa Prabowo adalah presiden!

Di situ agama dieksploitasi, dipolitisasi, dikapitalisasi, agar orang percaya dan tidak menudingnya sebagai manusia bodoh, yang sedang menutupi ketidakmampuan, atau tak bertanggungjawab dalam mengatasi masalah yang diamanatkan (rakyat) padanya. Sementara manusia (yang tak mengetahui agama), gampang gemetaran diancam; Kalau nggak nurut (agama) neraka hukumannya!

Maka wajar banyak korupsi ayat agama, dibohongi pakai ayat, agar umat tidak protes. Nurut saja. Dari sisi itulah, maka kita bisa membedakan dengan mudah, ulama baik dan ulama buruk, sebagaimana Imam Ghazali mengajari kita untuk bisa membedakan ulama yang sejati dan palsu. Karena bagaimana mungkin ulama sebagai ahli agama, sebagai penerus ajaran nabi, justeru menebarkan kebencian? Mulutnya mudah menghujat sana-sini-situ? Menyampaikan dakwah dengan bahasa yang kasar? Itu ajaran nabi?

Bagi Gus Dur, kyai dan presiden kita dulu; “Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.” Sesuatu yang sangat sederhana untuk melihat seseorang itu membawa pesan kedamaian atau kekacauan. Karena, menurut Dalai Lama XIV, my religion is very simple. My religion is kindness. Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah kebaikan. Feminis kita, Kartini (1879 – 1904), ngendika; Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?

Berapa banyak coba? Lagian, negeri ini, Republik Indonesia, bukanlah milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, sebagaimana kata Sukarno pada 1 Juni 1945 yang kemudian ditetapkan sebagai dasar negara kita. “Negeri kita bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat-istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” demikian pidato Bung Karno dalam merumuskan apa yang kemudian disebut sebagai Pancasila itu.

Jika sekarang ada kelompok yang ingin ganti presiden (kata teman saya istilah ‘ganti presiden’ itu merujuk pada preferensi ‘hisbut tahrir’, yang artinya bukan sekedar ganti pemimpin, tetapi ganti sistem), yang ingin mengganti Pancasila dengan faham kilafiyah. Maukah kita kembali ke sistem di mana rakyat akan diperbudak dan diperbodoh, oleh elite politik yang tidak (bisa dan) boleh dikontrol karena mereka (mendaku) sebagai utusan atau yang dipercaya Allah? Bagaimana mengecek SK sebagai utusan dan dipercaya itu, jika kita lihat ada Polisi Syariah memperkosa napi syariah? Ada menteri agama korupsi? Ada Pangeran Arab Saudi ditersangkakan sebagai pembunuh seorang wartawan?

Atau yang ringan-ringan saja, mengapa ada yang mengaku turun nabi di Indonesia kemudian pergi tanpa pamit ke Arab Saudi, nggak pulang-pulang? Mau pulang ke Indonesia saja ribet, berbagai alasan dikemukakan. Padahal semua itu lebih mencerminkan ketakutannya, karena kasus hukum yang membelitnya bukan? Jika tidak, ngapain takut? Ngapain mesti Prabowo sebagai capres memberi jaminan, akan menjemput pulang ke Indonesia? Kok heboh banget. Di situ logikanya tidak nyambung. Apalagi jika dikaitkan dengan kasus chatting sexnya, menjadi DPO Kepolisian Indonesia, dan seterusnya.

Lantas Reuni 212 hari ini? Untuk apa? Merayakan kemenangan? Kemenangan atas apa? Dan siapa? Ahok memang dipenjara karena kasus yang direkayasa secara hukum. Tapi dengan terpilihnya gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta kemudian, rakyat Jakarta yang paling tahu apa sesungguhnya yang terjadi.

Pihak yang tak setuju agama dipisahkan dari politik, karena agama menjadi tak bisa dipakai sebagai alat legitimasi. Alat penekan atau pengancam. Agama tidak bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik, yang manipulatif. Perselingkuhan politik dan agama, itu dianggap penting karena bisa menjadi senjata ampuh. Jadi, siapa sebenarnya yang melakukan penistaan agama?



Senin, November 19, 2018

Perda Syariah, Antara Diskriminasi dan Intoleransi



Hasil pendidikan tertinggi adalah toleransi, demikian Hellen Keller (1880 – 1968). Tapi bagaimana jika kenyataan di Indonesia mengatakan, 60 persen guru-guru kita (sekolah dasar dan menengah) yang beragama Islam, mempunyai opini intoleransi dan radikalisme yang tinggi dan eksplisit?

Dalam sebuah diskusi ormas-ormas Islam, muncul data Badan Intelijen Negara (BIN), yang menyatakan 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia tertarik paham radikal. Daerah itu antara lain; Jawa Barat, Banten, Lampung, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Riau. Dikatakan pula, ada 500 masjid di seluruh Indonesia yang terpapar paham radikalisme. Sebanyak 41 dari 500 masjid, disebut berada di kompleks kantor pemerintahan. Masjid terpapar radikalisme di kantor kompleks pemerintahan itu adalah kantor kementerian, lembaga, dan BUMN.

Seorang teman menginformasikan, jumlah doktor terbanyak di Indonesia, adalah doktor di bidang agama. Tapi apakah itu termanifestasikan, terimplementasikan, dalam laku-jantra keseharian, ketika sekarang ini kita ribut dengan masalah intoleransi dan diskriminasi? Apalagi berkait Pilpres, atau pun Pilkada, di mana ujaran-ujaran yang kita dapati lebih banyak ekspresi-ekspresi dari semangat intoleransi, dan berbagai tindakan diskriminatif?

Di sisi lain, kita dengarkan dalam kehidupan rakyat biasa, juga komentar-komentar beberapa orang luar Indonesia, yang menjadikan negeri ini sebagai percontohan kesadaran pluralitas, yang indah dan penuh harmoni? Apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita? Ada begitu banyak klaim, namun satu-sama-lain bertentangan.
Ada kelompok ulama berkumpul mendukung satu capres dengan sejuk. Tetapi ada kelompok ulama lain, mendukung capres satunya, dipenuhi ujaran-ujaran yang intoleran, bahkan tak jarang umpatan-umpatan kasar. Mengkafir-kafirkan, plus ancaman neraka jahanam?

Kita sedang menghadapi persoalan agama (kaitannya dengan klaim pluralitas, diskriminasi dan toleransi), atau persoalan politik? Karena permasalahan ini selalu muncul jika kita membicarakan dasar negara, sistem kenegaraan, yang selalu aktualisasinya melalui Pemilu, Pilpres, bahkan Pilkada di beberapa daerah tertentu, dengan melihat contoh Pilkada DKI Jakarta 2017?

Ketika Grace Natalie (dari namanya orang sudah memberi stigma), menyatakan perjuangan politik partainya antara lain menolak Perda Syariah, sekelompok ormas bereaksi. Bahkan melaporkan ke Polisi dengan tudingan penistaan agama. Pelakunya, di antaranya Eggy Sudjana, pendukung capres yang berbeda dengan partai Grace Natalie.

Belum lama lalu, dalam kaitan bendera, orang bisa ribut, saling lapor dan mengancam gara-gara tulisan ‘tauhid’. Sempat muncul demo ‘bela tauhid’, tapi seruan-seruannya adalah ‘ganti presiden’. Pertikaian yang kemudian terjadi, sering tak terpahamkan. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Ini soal agama, atau politik (kekuasaan)?

Jika mengacu pada pendapat Hellen Keller, kita bisa sampai pada kesimpulan persoalan pendidikan di Indonesia adalah masalah yang serius. Sementara sistem pendidikan di Indonesia, masih saja rancu. Bahkan tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh negara, ketika lewat jalur pendidikan, ujaran kebencian dan ajaran intoleransi, serta radikalisme, disusupkan.

Melihat kemajuan dan hasil sistem pendidikan di Swedia dan Singapore,  ketika ada yang menyodorkan gagasan memisahkan agama dari kurikulum pendidikan kita, muncul reaksi keras, terutama dari kalangan Islam. Padahal, Kementerian Agama kita juga mengelola dua model pendidikan, madrasah dan pesantren. Seiring itu, tudingan lantas diberikan, bahwa hal-hal itulah yang menjadikan negara kita dikutuk oleh Tuhan. Selalu ada klaim dan stigma, dengan cara pandang kemutlakan dengan legitimasi agama.

Bagaimana yang semula lebih merupakan persolan privat, dalam proses internalisasi per-individu, agama bisa menjadi persoalan public, bahkan alat serius pressure group di ruang-ruang publik?

Tak kurang dari 151 perda-perda Syariah dalam kurun 1999-2009, jika dicermati, mengandung unsur-unsur diskriminatif. Bahkan mendorong terciptanya kekerasan di wilayah publik. Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, mengungkapkan, yang menjadi keprihatinan, perda-perda tersebut telah memunculkan diskriminasi, intoleransi, dan bahkan kekerasan yang semakin menjadi-jadi dalam kehidupan sosial-politik. Lambat-laun, hal itu merobek rajutan kebhinnekaan yang telah teranyam rapi selama ini.

Perda Syariah dalam pandangan Ahli Hukum Tata Negara, Mahfud MD, memang tak seharusnya memuat peraturan keagamaan yang sangat pribadi, misalnya beribadah. Sebab, di era yang sudah bebas beribadah seperti sekarang, orang tak perlu diatur dalam sembahyang. Misalnya orang harus rajin salat, tidak usah diperdakan. Orang harus berpuasa, harus sopan, tidak usah diatur itu. Kecuali, hal itu hanya menunjukkan betapa ada problem serius dalam sistem dan metode dakwah, sehingga agama menjadi tidak operasional maka perlu dijalankan dengan sistem hukum manusia (perda).
Mahfud MD menilai, hal itu sama dengan hukum-hukum lain, seperti hukum adat atau agama yang berlaku di Bali. Hukum agama yang diperdakan, tak ada gunanya. Selain itu, berpotensi menimbulkan diskriminasi.



Di sisi lain, agama menjadi alasan dan alat legitimasi, untuk hal-hal di luar fitrahnya. Masuk ke ranah publik, dan mendesak (merasuki) wilayah-wilayah lainnya. Ketika semua agama berbicara dogma, doktrin, yang menuntut keyakinan dan kepatuhan, fanatisme memunculkan potensi menyeret conflict agama itu sendiri. Dalam masyarakat yang beragam, hal itu mengganggu kohesi sosial, dan berdampak pada conflict of interest masing-masing agama. Dalam praktiknya, nilai-nilai sakralitas agama turun derajatnya menjadi verbal, dan sarat kepentingan (kelompok). Dalam kisah sejarah penyebaran agama, kita tahu, pertarungan ideologi banyak terjadi dengan pertumpahan darah dan nyawa.

Sementara, agama itu sendiri tidak memiliki tolok ukur yang verbal dan jelas, karena klaiming otoritas tidak didelegasikan kepada manusia. Hingga kemudian kita dapati hal-hal paradoks, misalnya: Polisisi Syariah di Aceh memperkosa napi perempuan. Menteri Agama Republik Indonesia Suryadarma Ali, diberhentikan dari jabatan karena korupsi dan sekarang berada di penjara. Demikian pula ada yang mengaku sebagai habib dan keturunan nabi, terindikasikan kasus chatting sex dan kabur ke luar negeri. Ada sekretaris MUI (Majelis Ulama Indonesia) Bogor, terkena kasus video porno dan perilaku threesome. Belum lagi mantan Ketua MK (Mahkamah Konstitusi), yang  ingin menegakkan syariah Islam, dipenjara (bukan karena agama, tapi) karena kasus korupsi. Ketua FPI (Front Pembela Islam) Jateng-DIY, masuk penjara bukan karena membela agama, melainkan kasus kriminal.

Hal-hal itu lebih dipertegas misalnya; antara ulama satu dan lainnya terlibat dalam politik praktis. Dukung-mendukung capres. Diantara mereka, memproduksi ujaran-ujaran keagamaan yang diskriminatif dan intoleran. Agama dipakai sebagai alat legitimasi, lebih karena hal itu barangkali dipandang efektif, dalam mengancam orang lain. Demokrasi kita, masih demokrasi elitis, berdasar patron-client.

Ada empat persoalan serius negeri ini, ketika (1) sistem hukum yang tidak konsisten, (2) sistem pendidikan yang tidak punya orientasi universal, (3) sistem demokrasi yang masih elitis dan prosedural-formal, serta (4) agama yang (karena tiga hal sebelumnya) sering dikapitalisasi dalam konteks politik.

Sukarno, dalam pidato dan perdebatan 1 Juni 1945, sesungguhnya telah meletakkan dasar negara yang kokoh dan adaptif. Namun bibit kawit Piagam Jakarta, sampai kini belum selesai, atau setidaknya selalu diungkit dan menjadi alasan. Dialog ini kiranya yang perlu diselesaikan, karena agama memang paling rawan diseret ke ranah politik. Apalagi ketika politik elitis berada di tanah cengkar, masyarakat yang tingkat pemahamannya akan toleransi, menunjukkan tak adanya korelasi antara pendidikan (formal) dengan manifestasi hidup bermasyarakat yang demokratis, egaliter, toleran.



KISAH NABI MUSA  | Saya ingin sisipkan tentang kisah Nabi Musa, sebagai renungan. Nabi Musa konon satu-satunya nabi yang bisa berbicara langsung dengan Tuhan. Sebagai berikut:

“Wahai Allah aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?”

“Shalatmu itu untukmu sendiri. Karena dengan kau mengerjakan shalat (ibadah), engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikir? Dzikirmu membuat hati menjadi tenang. Puasa? Puasamu melatih diri untuk memerangi hawa nafsumu.”

“Lalu, apa ibadahku yang membuat hatimu senang, ya, Allah?”

“Sedekah, infaq, dan zakat mal-mu, serta akhlaqul karimah-mu. Itulah yang membuat aku senang, Karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, aku hadir disampingnya,...”

Apa pesan moral cerita ini? Persoalan ibadah, adalah persoalan privat. Kita hanya mencintai diri sendiri, bukan Tuhan. Tapi bila kita berbuat dan berkorban untuk orang lain, serta melunakkan hatimu kepada orang lain, itu tanda mencintai Tuhan. Dan Tuhan senang karenanya. Jika agama adalah persoalan tauhid, maka agama adalah cinta. Tidak butuh bendera untuk mengagungkan Tuhan, tetapi lewat cinta.

Selasa, November 13, 2018

Memahami Paradoks Jerinx Superman is Dead


Tulisan ini tak ingin membahas soal bagaimana sejarah Jerinx, drummer punk rock Superman Is Dead menyebut Via Valen sebagai fucking whore (lonte sialan), karena pendangdhut itu menyanyikan lagu SiD tanpa ijin.

Persoalannya lebih pada apa yang diyakini Jerinx, “Setiap genre musik punya kharismanya sendiri, selama ia tak berpandu pada grafik popularitas dan matematika belaka.” Saya hanya ingin mencoba mengorek, bagaimana kata-kata fucking whore itu muncul dari Jerinx untuk Via Valen.

Dibanding Bobby Kool dan Eka Rock, Jerinx terasa lebih sebagai manusia literal. Ia banyak menuliskan pendapatnya, di dunia maya, di media sosial, di samping pada lagu-lagu SiD tentunya. Saya hanya ingin ikuti ‘alur kata-kata’-nya. Quotation Jerinx, karena memakai media tulis, saya kutip seaslinya darui akun medsosnya, biar kita tahu kualitas literasinya.

“Buat kamu yang berpikir musisi itu tugasnya cuma bermusik saja, selamat datang di dunia tanpa perubahan & tinggallah disana selama mungkin.” Saya kita itu keyakinan dasar Jerinx, dan juga SiD tentunya. Dan SiD memposisikan grupnya dengan sadar pada bagian yang tak terpisah dari riuh-rendah industri musik di Indonesia. 

Penamaan grupnya, Superman is Dead, adalah ideologi yang diyakini. Bahwa tak ada manusia super. Termasuk SiD, termasuk Jerix. Bukankah Jerinx pernah menulis pendapatnya, “Kita tidak mengklaim kebenaran, kita hanya meminta kesetaraan.”? Nah, pada Jerinx kita dihadapkan pada manusia problematik, meski pun itu potret biasa kegelisahan generasi dalam melihat posisinya sendiri. Soal manusia genah diri.

Kata-kata Jerinx acap begitu gagah. “Generasi kita dijejali mall, diracuni infotainment, sinetron dan hiburan-hiburan plastik nihil pesan. Menjadi palsu adalah 'cool'.” Tapi ini kata-kata biasa yang diucapkan para pejuang pemula. Apalagi jika celakanya, kata-kata itu hanya diucapkan sebagai lipstick karena disisi lain (misalnya) seseorang bisa tidak konsisten. Menjadi bagian dari apa yang tidak disetujuinya juga. 

Para aktivis, pejuang HAM dan Lingkungan, pasti bangga dengan SiD. Bukan sekedar grup musik, tapi adalah generasi yang sadar dan melawan kezaliman. Kezaliman apapun, apalagi kezaliman pemerintah. It’s super! Tapi, Superman is Dead bukan? Bukan Superman temannya Spiderman atau Batman, tapi manusia super itu sudah mati.

Jerinx membawa ideologi yang tidak main-main, mangkanya, seperti tulisnya; “Hidup ini perang. Berhenti berpikir bagai serdadu dan mulai berpikir bagai panglima.” Ia tak mau hanya berpikir ‘biasa’ saja, harus seperti panglima, memimpin, berpikir luar biasa, berpikir super, karena manusia super sudah mati?

Karena itu kemudian klaimnya bisa jadi aneh; “Ketidaksempurnaan membuat ia sempurna. Kekurangan membuat ia berkecukupan. Hanya kesetiaan yang akan membunuhnya.” Ini pernyataan terhadap apa? Saya tidak mendapatkan konteksnya, kecuali keraguan atas pilihannya sendiri, kegamangan, atau bahkan mungkin iri hati?

Bayangkan, Jerinx sendiri yang menuliskannya; “Di zaman sekarang semua orang bisa terlihat Punk atau apapun itu, tapi esensi nya mungkin mereka gak dapet.” Itu penilaian Jerinx tentunya. Pendapat orang lain, apakah Jerinx sendiri mampu menunjukkan esensi punk? Itu pertanyaan balik untuknya, lebih-lebih karena klaimnya yang lain, bahwa, “Di Indonesia & negara-negara lain hari ini, Rock N Roll menjadi sebatas label untuk terlihat 'keren'. Ia ada untuk tidak melawan apa-apa, sebatas hiburan saja.” Atau, “Betapa bosannya kita dengan arus lama, dengan culture mainstream di Indonesia yang musiknya itu-itu saja, seolah-olah di Indonesia itu tak ada pilihan.”

Ayo berjuanglah, Jerinx, sebagaimana keyakinanmu. Karena, tiba-tiba Jerinx bisa menuliskan begini: “Setiap manusia berpotensi menjadi seorang anarkis. Punk sendiri memiliki arti yang luas. Punk tidak harus berideologi garis keras.” Pada sisi lain, ia ingin, “Ketika kita menyampaikan sesuatu dengan musik, itu tidak terdengar seperti seorang guru yang berbicara di depan kelas.”

Ada beberapa paradoks dan sisi megalomania Jerinx. Tapi tentu saja itu urusan dia. Toh ia bisa dengan mellow, telentang di pojokan kamarnya, malam-malam, sembari menuliskan kata-kata: “Kendarai sepi, rajai mimpi. Selamat tidur raja dan ratu malam, pemikir besar dan pengubah dunia. Simpan api mu untuk esok yang lebih besar.” Sembari membesarkan hati, “Dan kita berteduh dibawah mimpi besar, jika cinta itu ada untuk semua manusia.”

Pengakuan-pengakuan atas resiko pilihan, yang berbeda itu, belum tentu ia kuat menanggungnya. Perjuangan yang berat dan melelahkan, sebagaimana dituliskannya, “Engkau diam, penuh dendam, tersudut tak terdengar. Dalam perih, angkat wajah walaupun tak bermahkota.” 

Mahkota, saya kira adalah kata kunci, yang akhirnya membuat Jerinx, atau Superman is Dead, hanya nama dan aliran kepercayaannya saja yang berbeda-beda dengan lainnya. Selebihnya sama saja. Substansi atau inti soalnya, sangat manusiawi. Apalagi ketika ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Tak ada yang memiliki malam sepekat ini selain dirimu. Bersabarlah. Cahaya itu ada.”

Sampai Jerinx pun kemudian bertabrakan dengan idiom-idiom yang diciptakannya sendiri, ketika ia marah-marah pada Via Valen yang tidak sopan, karena makai lagunya tanpa ijin. Sudah begitu spirit, karakter, dan bahkan tentu ideologinya beda banget. Seolah perbedaan itu ditengarai oleh yang bernama Jerinx vs Via Valen, Punck Rock vs Ndangdhut, Superman is Dead vs Superman is Domination! Itu menyedihkan bukan?

Karenanya, makian Jerinx bahwa Via Valen adalah lonte sialan (fucking whore), adalah menyedihkan, lepas dari soal ia menolak reklamasi Tanjung Benoa atau menolak permintaan permintaan lagu SiD dari Tim Jokowi. Dan ia benar ketika pernah menuliskan pendapatnya, “Di dunia maya, kebencian cepat menular.”

Padahal, bayangkan, ia pernah menulis pula; “Jika cinta bisa teriak, maka angkasa tak cukup luas tuk bendung gema nya.” Bagaimana kita membayangkannya? “Diantara kita dan perubahan, ada sebuah tembok bernama 'ketakpedulian'. Dan tembok itu hanya bisa runtuh jika kita bersama-sama mendobraknya.” 

Tapi bagaimana kita bersama-sama mendobraknya? Wong karena spirit, karakter, ideologi berbeda kita nggak bisa bersama-sama kok. Apalagi ketika Jerinx mengatakan bahwa Via Valen bukan apa-apa, atau malah numpang popularitas dari SiD. Pendapat yang perlu dikritisi justeru dari keluhan-keluhan yang ditulis oleh Jerinx di medsos sebagai spirit hidupnya. 

Punk rock bisa jadi ideologi SiD atau Jerinx, tapi dengan berbagai pernyataannya, yang toleran dan mengajak kebersamaan dalam cinta itu, karena ia menyadari diposisi minoritas dan mengaku sebagai kutukan peradaban, tapi menolak ‘kerjasama’ baik tanpa ijin maupun ajakan berijin dari pihak lain?

Ada banyak paradoks di situ, tapi baiklah. Bukankah Jerinx sendiri menuliskan, “Uang bisa membeli popularitas, namun tidak bisa membeli rasa hormat; Ia perlu lebih lama dari uang, sensasi dan rupa sempurna.”? Tentu Jerinx tak butuh nasihat, sepeti misal; Bersabarlah. Apalagi Jerinx juga pernah menulis, bahwa, “Kita percaya keberagaman dan toleransi harus dimenangkan.” Tapi kalau ndangdhut dan industri musik harus dilawankan dengan punk rock dengan major label seperti Sony bagaimana? Sementara Via Valen berangkat dari home-industri musik dari kampung ke kampung, secara live dan diunggah gratisan pihak lain di youtube maupun dvd kiloan?

Saya baca juga, Jerinx pernah menulis pendapatnya yang anggun: “Kita hidup di bumi ini tidak harus menjadi atau merasa paling bermoral, paling beriman, paling suci. Semua manusia itu sama.” Ya, semua manusia sama, kecuali manusia itu sendiri yang menganggapnya beda bukan? Bukankah juga seperti tulisnya, "Pejuang yang tak gentar selalu melawan dengan cinta. Untuk hal-hal yang kita cintai, kita pasti akan selalu berjuang sampai darah terakhir!"? Bagaimana kalau melawan dengan benci?

Maka bagi saya menjadi aneh saja, ketika Jerinx mengaku dirinya sebagai: “Kamilah kutukan peradaban, kamilah suara yang terlupakan, kamilah bayang sempurna yang tak pernah kau temukan.” Saya sering menemukan karakter demikian. Ini pendapat saya bukan untuk melecehkan Jerinx dan apalagi SiD. Itu lebih karena pengakuan Jerinx sendiri, yang kemudian dituliskannya, “Kita tidak mengklaim kebenaran, kita hanya meminta kesetaraan.”

Klaim-klaim pribadi seperti; “Kami adalah kutukan peradaban, bergerak serentak tanpa seragam, tak pernah henti berkarat.” Itu pernyataan biasa saja. Tidak sangat heroik. Karena soal berkarat atau tidak, waktu juga yang akan lebih jelas mengatakannya. 

“Kalau dipikir-pikir hidup ini sebenarnya simpel. Makanya jangan dipikirin, biar ribet dan seru.” Itu juga pendapat Jerinx. Jadi, simpel bukan? Apalagi ketika Jerinx menulis; “Sebelum bekerja, hakim di indonesia mungkin perlu mencoba palu keadilannya di rumah masing-masing.” Itu palu juga boleh diletakkan di meja Jerinx. Apalagi ketika ia menuliskan pendapatnya dengan sangat memprihatinkan; “Kamu tidak sedang menjadi pahlawan saat mencoba melawan kekuatan yang lebih besar, kamu hanya sedang bertahan hidup.” Dan, “Tidak perlu kaya untuk bisa lebih baik.” “Mari kita bunuh konsep-konsep yang ingin terlihat sempurna di mata orang lain.”

Dalam kenyataan-kenyataan kita, juga tak bisa dipaksakan pada Jerinx, siapa sebenarnya yang mempopulerkan SiD, ketika kasus memakai lagu SiD tanpa ijin ini mencuat. Kata Ruhut Sitompul, kita tak perlu mengajari ikan berenang. Tapi kita juga rasanya tak perlu mengajari bebek terbang, karena ia bisa terbang meski dalam jarak dan ketinggian terbatas. Karena kita juga tak baik mengajari bebek menggoreng dirinya sendiri, apalagi di tepi sawah, Ubud, Bali.  

Dan terakhir, saya kutipkan apa yang ditulisnya; “Siapa saja bisa terdengar hebat di maya.”


Sunardian Wirodono, bukan penggemar ndangdhut. Koleksi kasetnya yang terlengkap cuma The Beatles dan Konser Rakyat Leo Kristi (jadul)! Lebih karena John Lennon dan Leo Imam Soekarno manusia yang konsisten atas pilihannya.

Pasangan Cinta Iriana-Jokowi

Iriana dan Jokowi adalah sepasang kesederhanaan. Cinta yang sederhana. Tidak neka-neka . Keduanya rakyat jelata. B...