Senin, November 19, 2018

Perda Syariah, Antara Diskriminasi dan Intoleransi



Hasil pendidikan tertinggi adalah toleransi, demikian Hellen Keller (1880 – 1968). Tapi bagaimana jika kenyataan di Indonesia mengatakan, 60 persen guru-guru kita (sekolah dasar dan menengah) yang beragama Islam, mempunyai opini intoleransi dan radikalisme yang tinggi dan eksplisit?

Dalam sebuah diskusi ormas-ormas Islam, muncul data Badan Intelijen Negara (BIN), yang menyatakan 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia tertarik paham radikal. Daerah itu antara lain; Jawa Barat, Banten, Lampung, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Riau. Dikatakan pula, ada 500 masjid di seluruh Indonesia yang terpapar paham radikalisme. Sebanyak 41 dari 500 masjid, disebut berada di kompleks kantor pemerintahan. Masjid terpapar radikalisme di kantor kompleks pemerintahan itu adalah kantor kementerian, lembaga, dan BUMN.

Seorang teman menginformasikan, jumlah doktor terbanyak di Indonesia, adalah doktor di bidang agama. Tapi apakah itu termanifestasikan, terimplementasikan, dalam laku-jantra keseharian, ketika sekarang ini kita ribut dengan masalah intoleransi dan diskriminasi? Apalagi berkait Pilpres, atau pun Pilkada, di mana ujaran-ujaran yang kita dapati lebih banyak ekspresi-ekspresi dari semangat intoleransi, dan berbagai tindakan diskriminatif?

Di sisi lain, kita dengarkan dalam kehidupan rakyat biasa, juga komentar-komentar beberapa orang luar Indonesia, yang menjadikan negeri ini sebagai percontohan kesadaran pluralitas, yang indah dan penuh harmoni? Apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita? Ada begitu banyak klaim, namun satu-sama-lain bertentangan.
Ada kelompok ulama berkumpul mendukung satu capres dengan sejuk. Tetapi ada kelompok ulama lain, mendukung capres satunya, dipenuhi ujaran-ujaran yang intoleran, bahkan tak jarang umpatan-umpatan kasar. Mengkafir-kafirkan, plus ancaman neraka jahanam?

Kita sedang menghadapi persoalan agama (kaitannya dengan klaim pluralitas, diskriminasi dan toleransi), atau persoalan politik? Karena permasalahan ini selalu muncul jika kita membicarakan dasar negara, sistem kenegaraan, yang selalu aktualisasinya melalui Pemilu, Pilpres, bahkan Pilkada di beberapa daerah tertentu, dengan melihat contoh Pilkada DKI Jakarta 2017?

Ketika Grace Natalie (dari namanya orang sudah memberi stigma), menyatakan perjuangan politik partainya antara lain menolak Perda Syariah, sekelompok ormas bereaksi. Bahkan melaporkan ke Polisi dengan tudingan penistaan agama. Pelakunya, di antaranya Eggy Sudjana, pendukung capres yang berbeda dengan partai Grace Natalie.

Belum lama lalu, dalam kaitan bendera, orang bisa ribut, saling lapor dan mengancam gara-gara tulisan ‘tauhid’. Sempat muncul demo ‘bela tauhid’, tapi seruan-seruannya adalah ‘ganti presiden’. Pertikaian yang kemudian terjadi, sering tak terpahamkan. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Ini soal agama, atau politik (kekuasaan)?

Jika mengacu pada pendapat Hellen Keller, kita bisa sampai pada kesimpulan persoalan pendidikan di Indonesia adalah masalah yang serius. Sementara sistem pendidikan di Indonesia, masih saja rancu. Bahkan tak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh negara, ketika lewat jalur pendidikan, ujaran kebencian dan ajaran intoleransi, serta radikalisme, disusupkan.

Melihat kemajuan dan hasil sistem pendidikan di Swedia dan Singapore,  ketika ada yang menyodorkan gagasan memisahkan agama dari kurikulum pendidikan kita, muncul reaksi keras, terutama dari kalangan Islam. Padahal, Kementerian Agama kita juga mengelola dua model pendidikan, madrasah dan pesantren. Seiring itu, tudingan lantas diberikan, bahwa hal-hal itulah yang menjadikan negara kita dikutuk oleh Tuhan. Selalu ada klaim dan stigma, dengan cara pandang kemutlakan dengan legitimasi agama.

Bagaimana yang semula lebih merupakan persolan privat, dalam proses internalisasi per-individu, agama bisa menjadi persoalan public, bahkan alat serius pressure group di ruang-ruang publik?

Tak kurang dari 151 perda-perda Syariah dalam kurun 1999-2009, jika dicermati, mengandung unsur-unsur diskriminatif. Bahkan mendorong terciptanya kekerasan di wilayah publik. Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, mengungkapkan, yang menjadi keprihatinan, perda-perda tersebut telah memunculkan diskriminasi, intoleransi, dan bahkan kekerasan yang semakin menjadi-jadi dalam kehidupan sosial-politik. Lambat-laun, hal itu merobek rajutan kebhinnekaan yang telah teranyam rapi selama ini.

Perda Syariah dalam pandangan Ahli Hukum Tata Negara, Mahfud MD, memang tak seharusnya memuat peraturan keagamaan yang sangat pribadi, misalnya beribadah. Sebab, di era yang sudah bebas beribadah seperti sekarang, orang tak perlu diatur dalam sembahyang. Misalnya orang harus rajin salat, tidak usah diperdakan. Orang harus berpuasa, harus sopan, tidak usah diatur itu. Kecuali, hal itu hanya menunjukkan betapa ada problem serius dalam sistem dan metode dakwah, sehingga agama menjadi tidak operasional maka perlu dijalankan dengan sistem hukum manusia (perda).
Mahfud MD menilai, hal itu sama dengan hukum-hukum lain, seperti hukum adat atau agama yang berlaku di Bali. Hukum agama yang diperdakan, tak ada gunanya. Selain itu, berpotensi menimbulkan diskriminasi.



Di sisi lain, agama menjadi alasan dan alat legitimasi, untuk hal-hal di luar fitrahnya. Masuk ke ranah publik, dan mendesak (merasuki) wilayah-wilayah lainnya. Ketika semua agama berbicara dogma, doktrin, yang menuntut keyakinan dan kepatuhan, fanatisme memunculkan potensi menyeret conflict agama itu sendiri. Dalam masyarakat yang beragam, hal itu mengganggu kohesi sosial, dan berdampak pada conflict of interest masing-masing agama. Dalam praktiknya, nilai-nilai sakralitas agama turun derajatnya menjadi verbal, dan sarat kepentingan (kelompok). Dalam kisah sejarah penyebaran agama, kita tahu, pertarungan ideologi banyak terjadi dengan pertumpahan darah dan nyawa.

Sementara, agama itu sendiri tidak memiliki tolok ukur yang verbal dan jelas, karena klaiming otoritas tidak didelegasikan kepada manusia. Hingga kemudian kita dapati hal-hal paradoks, misalnya: Polisisi Syariah di Aceh memperkosa napi perempuan. Menteri Agama Republik Indonesia Suryadarma Ali, diberhentikan dari jabatan karena korupsi dan sekarang berada di penjara. Demikian pula ada yang mengaku sebagai habib dan keturunan nabi, terindikasikan kasus chatting sex dan kabur ke luar negeri. Ada sekretaris MUI (Majelis Ulama Indonesia) Bogor, terkena kasus video porno dan perilaku threesome. Belum lagi mantan Ketua MK (Mahkamah Konstitusi), yang  ingin menegakkan syariah Islam, dipenjara (bukan karena agama, tapi) karena kasus korupsi. Ketua FPI (Front Pembela Islam) Jateng-DIY, masuk penjara bukan karena membela agama, melainkan kasus kriminal.

Hal-hal itu lebih dipertegas misalnya; antara ulama satu dan lainnya terlibat dalam politik praktis. Dukung-mendukung capres. Diantara mereka, memproduksi ujaran-ujaran keagamaan yang diskriminatif dan intoleran. Agama dipakai sebagai alat legitimasi, lebih karena hal itu barangkali dipandang efektif, dalam mengancam orang lain. Demokrasi kita, masih demokrasi elitis, berdasar patron-client.

Ada empat persoalan serius negeri ini, ketika (1) sistem hukum yang tidak konsisten, (2) sistem pendidikan yang tidak punya orientasi universal, (3) sistem demokrasi yang masih elitis dan prosedural-formal, serta (4) agama yang (karena tiga hal sebelumnya) sering dikapitalisasi dalam konteks politik.

Sukarno, dalam pidato dan perdebatan 1 Juni 1945, sesungguhnya telah meletakkan dasar negara yang kokoh dan adaptif. Namun bibit kawit Piagam Jakarta, sampai kini belum selesai, atau setidaknya selalu diungkit dan menjadi alasan. Dialog ini kiranya yang perlu diselesaikan, karena agama memang paling rawan diseret ke ranah politik. Apalagi ketika politik elitis berada di tanah cengkar, masyarakat yang tingkat pemahamannya akan toleransi, menunjukkan tak adanya korelasi antara pendidikan (formal) dengan manifestasi hidup bermasyarakat yang demokratis, egaliter, toleran.



KISAH NABI MUSA  | Saya ingin sisipkan tentang kisah Nabi Musa, sebagai renungan. Nabi Musa konon satu-satunya nabi yang bisa berbicara langsung dengan Tuhan. Sebagai berikut:

“Wahai Allah aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?”

“Shalatmu itu untukmu sendiri. Karena dengan kau mengerjakan shalat (ibadah), engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikir? Dzikirmu membuat hati menjadi tenang. Puasa? Puasamu melatih diri untuk memerangi hawa nafsumu.”

“Lalu, apa ibadahku yang membuat hatimu senang, ya, Allah?”

“Sedekah, infaq, dan zakat mal-mu, serta akhlaqul karimah-mu. Itulah yang membuat aku senang, Karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, aku hadir disampingnya,...”

Apa pesan moral cerita ini? Persoalan ibadah, adalah persoalan privat. Kita hanya mencintai diri sendiri, bukan Tuhan. Tapi bila kita berbuat dan berkorban untuk orang lain, serta melunakkan hatimu kepada orang lain, itu tanda mencintai Tuhan. Dan Tuhan senang karenanya. Jika agama adalah persoalan tauhid, maka agama adalah cinta. Tidak butuh bendera untuk mengagungkan Tuhan, tetapi lewat cinta.

Selasa, November 13, 2018

Memahami Paradoks Jerinx Superman is Dead


Tulisan ini tak ingin membahas soal bagaimana sejarah Jerinx, drummer punk rock Superman Is Dead menyebut Via Valen sebagai fucking whore (lonte sialan), karena pendangdhut itu menyanyikan lagu SiD tanpa ijin.

Persoalannya lebih pada apa yang diyakini Jerinx, “Setiap genre musik punya kharismanya sendiri, selama ia tak berpandu pada grafik popularitas dan matematika belaka.” Saya hanya ingin mencoba mengorek, bagaimana kata-kata fucking whore itu muncul dari Jerinx untuk Via Valen.

Dibanding Bobby Kool dan Eka Rock, Jerinx terasa lebih sebagai manusia literal. Ia banyak menuliskan pendapatnya, di dunia maya, di media sosial, di samping pada lagu-lagu SiD tentunya. Saya hanya ingin ikuti ‘alur kata-kata’-nya. Quotation Jerinx, karena memakai media tulis, saya kutip seaslinya darui akun medsosnya, biar kita tahu kualitas literasinya.

“Buat kamu yang berpikir musisi itu tugasnya cuma bermusik saja, selamat datang di dunia tanpa perubahan & tinggallah disana selama mungkin.” Saya kita itu keyakinan dasar Jerinx, dan juga SiD tentunya. Dan SiD memposisikan grupnya dengan sadar pada bagian yang tak terpisah dari riuh-rendah industri musik di Indonesia. 

Penamaan grupnya, Superman is Dead, adalah ideologi yang diyakini. Bahwa tak ada manusia super. Termasuk SiD, termasuk Jerix. Bukankah Jerinx pernah menulis pendapatnya, “Kita tidak mengklaim kebenaran, kita hanya meminta kesetaraan.”? Nah, pada Jerinx kita dihadapkan pada manusia problematik, meski pun itu potret biasa kegelisahan generasi dalam melihat posisinya sendiri. Soal manusia genah diri.

Kata-kata Jerinx acap begitu gagah. “Generasi kita dijejali mall, diracuni infotainment, sinetron dan hiburan-hiburan plastik nihil pesan. Menjadi palsu adalah 'cool'.” Tapi ini kata-kata biasa yang diucapkan para pejuang pemula. Apalagi jika celakanya, kata-kata itu hanya diucapkan sebagai lipstick karena disisi lain (misalnya) seseorang bisa tidak konsisten. Menjadi bagian dari apa yang tidak disetujuinya juga. 

Para aktivis, pejuang HAM dan Lingkungan, pasti bangga dengan SiD. Bukan sekedar grup musik, tapi adalah generasi yang sadar dan melawan kezaliman. Kezaliman apapun, apalagi kezaliman pemerintah. It’s super! Tapi, Superman is Dead bukan? Bukan Superman temannya Spiderman atau Batman, tapi manusia super itu sudah mati.

Jerinx membawa ideologi yang tidak main-main, mangkanya, seperti tulisnya; “Hidup ini perang. Berhenti berpikir bagai serdadu dan mulai berpikir bagai panglima.” Ia tak mau hanya berpikir ‘biasa’ saja, harus seperti panglima, memimpin, berpikir luar biasa, berpikir super, karena manusia super sudah mati?

Karena itu kemudian klaimnya bisa jadi aneh; “Ketidaksempurnaan membuat ia sempurna. Kekurangan membuat ia berkecukupan. Hanya kesetiaan yang akan membunuhnya.” Ini pernyataan terhadap apa? Saya tidak mendapatkan konteksnya, kecuali keraguan atas pilihannya sendiri, kegamangan, atau bahkan mungkin iri hati?

Bayangkan, Jerinx sendiri yang menuliskannya; “Di zaman sekarang semua orang bisa terlihat Punk atau apapun itu, tapi esensi nya mungkin mereka gak dapet.” Itu penilaian Jerinx tentunya. Pendapat orang lain, apakah Jerinx sendiri mampu menunjukkan esensi punk? Itu pertanyaan balik untuknya, lebih-lebih karena klaimnya yang lain, bahwa, “Di Indonesia & negara-negara lain hari ini, Rock N Roll menjadi sebatas label untuk terlihat 'keren'. Ia ada untuk tidak melawan apa-apa, sebatas hiburan saja.” Atau, “Betapa bosannya kita dengan arus lama, dengan culture mainstream di Indonesia yang musiknya itu-itu saja, seolah-olah di Indonesia itu tak ada pilihan.”

Ayo berjuanglah, Jerinx, sebagaimana keyakinanmu. Karena, tiba-tiba Jerinx bisa menuliskan begini: “Setiap manusia berpotensi menjadi seorang anarkis. Punk sendiri memiliki arti yang luas. Punk tidak harus berideologi garis keras.” Pada sisi lain, ia ingin, “Ketika kita menyampaikan sesuatu dengan musik, itu tidak terdengar seperti seorang guru yang berbicara di depan kelas.”

Ada beberapa paradoks dan sisi megalomania Jerinx. Tapi tentu saja itu urusan dia. Toh ia bisa dengan mellow, telentang di pojokan kamarnya, malam-malam, sembari menuliskan kata-kata: “Kendarai sepi, rajai mimpi. Selamat tidur raja dan ratu malam, pemikir besar dan pengubah dunia. Simpan api mu untuk esok yang lebih besar.” Sembari membesarkan hati, “Dan kita berteduh dibawah mimpi besar, jika cinta itu ada untuk semua manusia.”

Pengakuan-pengakuan atas resiko pilihan, yang berbeda itu, belum tentu ia kuat menanggungnya. Perjuangan yang berat dan melelahkan, sebagaimana dituliskannya, “Engkau diam, penuh dendam, tersudut tak terdengar. Dalam perih, angkat wajah walaupun tak bermahkota.” 

Mahkota, saya kira adalah kata kunci, yang akhirnya membuat Jerinx, atau Superman is Dead, hanya nama dan aliran kepercayaannya saja yang berbeda-beda dengan lainnya. Selebihnya sama saja. Substansi atau inti soalnya, sangat manusiawi. Apalagi ketika ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Tak ada yang memiliki malam sepekat ini selain dirimu. Bersabarlah. Cahaya itu ada.”

Sampai Jerinx pun kemudian bertabrakan dengan idiom-idiom yang diciptakannya sendiri, ketika ia marah-marah pada Via Valen yang tidak sopan, karena makai lagunya tanpa ijin. Sudah begitu spirit, karakter, dan bahkan tentu ideologinya beda banget. Seolah perbedaan itu ditengarai oleh yang bernama Jerinx vs Via Valen, Punck Rock vs Ndangdhut, Superman is Dead vs Superman is Domination! Itu menyedihkan bukan?

Karenanya, makian Jerinx bahwa Via Valen adalah lonte sialan (fucking whore), adalah menyedihkan, lepas dari soal ia menolak reklamasi Tanjung Benoa atau menolak permintaan permintaan lagu SiD dari Tim Jokowi. Dan ia benar ketika pernah menuliskan pendapatnya, “Di dunia maya, kebencian cepat menular.”

Padahal, bayangkan, ia pernah menulis pula; “Jika cinta bisa teriak, maka angkasa tak cukup luas tuk bendung gema nya.” Bagaimana kita membayangkannya? “Diantara kita dan perubahan, ada sebuah tembok bernama 'ketakpedulian'. Dan tembok itu hanya bisa runtuh jika kita bersama-sama mendobraknya.” 

Tapi bagaimana kita bersama-sama mendobraknya? Wong karena spirit, karakter, ideologi berbeda kita nggak bisa bersama-sama kok. Apalagi ketika Jerinx mengatakan bahwa Via Valen bukan apa-apa, atau malah numpang popularitas dari SiD. Pendapat yang perlu dikritisi justeru dari keluhan-keluhan yang ditulis oleh Jerinx di medsos sebagai spirit hidupnya. 

Punk rock bisa jadi ideologi SiD atau Jerinx, tapi dengan berbagai pernyataannya, yang toleran dan mengajak kebersamaan dalam cinta itu, karena ia menyadari diposisi minoritas dan mengaku sebagai kutukan peradaban, tapi menolak ‘kerjasama’ baik tanpa ijin maupun ajakan berijin dari pihak lain?

Ada banyak paradoks di situ, tapi baiklah. Bukankah Jerinx sendiri menuliskan, “Uang bisa membeli popularitas, namun tidak bisa membeli rasa hormat; Ia perlu lebih lama dari uang, sensasi dan rupa sempurna.”? Tentu Jerinx tak butuh nasihat, sepeti misal; Bersabarlah. Apalagi Jerinx juga pernah menulis, bahwa, “Kita percaya keberagaman dan toleransi harus dimenangkan.” Tapi kalau ndangdhut dan industri musik harus dilawankan dengan punk rock dengan major label seperti Sony bagaimana? Sementara Via Valen berangkat dari home-industri musik dari kampung ke kampung, secara live dan diunggah gratisan pihak lain di youtube maupun dvd kiloan?

Saya baca juga, Jerinx pernah menulis pendapatnya yang anggun: “Kita hidup di bumi ini tidak harus menjadi atau merasa paling bermoral, paling beriman, paling suci. Semua manusia itu sama.” Ya, semua manusia sama, kecuali manusia itu sendiri yang menganggapnya beda bukan? Bukankah juga seperti tulisnya, "Pejuang yang tak gentar selalu melawan dengan cinta. Untuk hal-hal yang kita cintai, kita pasti akan selalu berjuang sampai darah terakhir!"? Bagaimana kalau melawan dengan benci?

Maka bagi saya menjadi aneh saja, ketika Jerinx mengaku dirinya sebagai: “Kamilah kutukan peradaban, kamilah suara yang terlupakan, kamilah bayang sempurna yang tak pernah kau temukan.” Saya sering menemukan karakter demikian. Ini pendapat saya bukan untuk melecehkan Jerinx dan apalagi SiD. Itu lebih karena pengakuan Jerinx sendiri, yang kemudian dituliskannya, “Kita tidak mengklaim kebenaran, kita hanya meminta kesetaraan.”

Klaim-klaim pribadi seperti; “Kami adalah kutukan peradaban, bergerak serentak tanpa seragam, tak pernah henti berkarat.” Itu pernyataan biasa saja. Tidak sangat heroik. Karena soal berkarat atau tidak, waktu juga yang akan lebih jelas mengatakannya. 

“Kalau dipikir-pikir hidup ini sebenarnya simpel. Makanya jangan dipikirin, biar ribet dan seru.” Itu juga pendapat Jerinx. Jadi, simpel bukan? Apalagi ketika Jerinx menulis; “Sebelum bekerja, hakim di indonesia mungkin perlu mencoba palu keadilannya di rumah masing-masing.” Itu palu juga boleh diletakkan di meja Jerinx. Apalagi ketika ia menuliskan pendapatnya dengan sangat memprihatinkan; “Kamu tidak sedang menjadi pahlawan saat mencoba melawan kekuatan yang lebih besar, kamu hanya sedang bertahan hidup.” Dan, “Tidak perlu kaya untuk bisa lebih baik.” “Mari kita bunuh konsep-konsep yang ingin terlihat sempurna di mata orang lain.”

Dalam kenyataan-kenyataan kita, juga tak bisa dipaksakan pada Jerinx, siapa sebenarnya yang mempopulerkan SiD, ketika kasus memakai lagu SiD tanpa ijin ini mencuat. Kata Ruhut Sitompul, kita tak perlu mengajari ikan berenang. Tapi kita juga rasanya tak perlu mengajari bebek terbang, karena ia bisa terbang meski dalam jarak dan ketinggian terbatas. Karena kita juga tak baik mengajari bebek menggoreng dirinya sendiri, apalagi di tepi sawah, Ubud, Bali.  

Dan terakhir, saya kutipkan apa yang ditulisnya; “Siapa saja bisa terdengar hebat di maya.”


Sunardian Wirodono, bukan penggemar ndangdhut. Koleksi kasetnya yang terlengkap cuma The Beatles dan Konser Rakyat Leo Kristi (jadul)! Lebih karena John Lennon dan Leo Imam Soekarno manusia yang konsisten atas pilihannya.

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...