Selasa, April 30, 2019

Kucumbu Tubuh Indahku, Kutolak Wajah Buramku


Juno dalam 'Kucumbu Tubuh Indahku'
Kritik seni sudah mati sejak jaman medsos. Apalagi kritik bukan sesuatu yang menyenangkan bagi kreator dan follower-nya. Adakah itu sebab banyak orang lebih suka mencumbu sendiri tubuh indahnya? Dan senyampang itu, menolak serta memboikot upaya-upaya atas pembacaan tubuh, sekalipun lewat film?

Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ (Memories of My Body) karya Garin Nugroho Riyanto (2018), bukan film dokumenter. Meski berangkat dari sebuah kenyataan ‘pengalaman tubuh’ penari bernama Rianto Manali (38), penari lengger lanang Banyumas.

Kisah hidup Rianto sendiri, sungguh mempesona, dan tak “seburuk” Juno dalam KTI. Juno adalah dunia tafsir Garin (berangkat dari sosok Rianto), yang  ‘mengeksploitasi’ konflik tubuh dalam konstruks sosial masyarakat, di mana male chauvinisme dan gejala psikopat dalam dogma sosial begitu powerfull.

Ketika lahir, ibu Rianto cemas akan bercak kecil di antara kedua alis anak lelakinya. Ia kemudian di-suwuk-kan pada seorang dukun lengger. Dari sana konflik tubuh Rianto seolah dimulai. Di Banyumas, lengger lanang yang muncul abad 16, adalah ‘penari jejadian’. Jejadian kata lain medium dari mistifikasi semesta. Tubuh Riyanto yang ‘no gender’ menjadi media yang paling mewakili. Banyak penari lengger lanang bisa menari ‘dengan sendirinya’, tanpa guru. Ia dipilih kekuatan ghaib yang merasukinya.

Perjalanan hidup Rianto, meski merasai perisakan sejak kanak, dipanggil juga sebagai Anto Banci, tidak sangat buruk. Apalagi ketika kemudian kuliah di ISI Surakarta, dan kemudian menikah (2003) dengan gadis Jepang, Miray Kawashima, yang juga seorang penari, dan kemudian menetap di Jepang.

Rianto Manali/Foto Koleksi Okti Budiati
Meski lebih banyak tinggal di Jepang, dan berkeliling ke Amerika-Eropa memperkenalkan lengger lanang, hati Rianto tetap di Banyumas. Selain mendirikan Dewandaru Dance Company (DDC, 2006) untuk pengembangan seni tari Jawa di Tokyo, Rianto membentuk Lengger Lanang Langgeng Sari Banyumas. Menggelar pertunjukan lengger di berbagai pedesaan tlatah Banyumas. "Regenerasi lengger lanang jangan terputus. Karena ini kekayaan budaya Banyumas yang lahir dari rahim rakyat," ujar Rianto yang bisa menari sama luwesnya untuk gaya laki-laki maupun perempuan.

Selain penari, Rianto seorang koreografer kontemporer. Karyanya banyak ditampilkan di berbagai negara. Yang fenomenal seperti Medium, telah dipentaskan 11 kali di luar negeri sepanjang 2016, antara lain festival Darwin, Australia, dan di Jerman. Sementara Softmachine sudah ditampilkan 41 kali. Rianto salah satu penari Indonesia yang tampil pada malam inagurasi pengukuhan Presiden Barack Obama di Capitol Hill, 20 Januari 2009.

Memiliki sosok feminim dalam panggung, bisa sedikit banyak mempengaruhi dunia keseharian, apalagi dengan masa kecil sebagaimana Rianto. Perubahan karakter ketika menjadi sosok perempuan dalam panggung, harus bisa melewati pengalaman khusus. Dalam istilah Rianto, “Harus lebih menjadi perempuan daripada perempuan.”

Dengan pengalaman masa kecil, hingga SMA dalam perundungan, membuat Rianto lebih memilih menjadi bagian di antara kedua karakter. Ia sampai pada kesadaran tidak begitu tertarik dengan adanya “gender” yang membedakan segala sesuatu pada kemampuan tubuh. Kompleksitas masalah transgender, bukan bukan hal yang dipermalukan oleh diri-sendiri atau orang lain. Proses menjadi di dunia dalam tubuh Rianto ini, meski tak perlu ke beberapa tokoh ampiran seperti Juno dalam film KTI, jauh lebih dahsyat. Tapi dunia dalam (tubuh), tentu tantangan berat untuk film se-puitis apapun.

Penari lengger lanang dalam tradisi Banyumas, adalah penari dengan sendirinya, tanpa guru. Namun jika dalam KTI ada Sujiwo Tejo, bisa jadi hanya pada lengger perempuan. Bagian dari komodifikasi (perempuan) yang lebih berbau eksploitasi tubuh daripada eksplorasi sebagaimana pada Rianto. Lengger perempuan adalah dunia hiburan, yang dimulai tahun 1918. Di situ male chauvinisme diekspresikan dalam tangan lelaki menyusup ke belahan dada perempuan, dengan beberapa lembar rupiah.

Karena itu pula ketika Juno (Muhammad Khan, dan Raditya Evandra sebagai Juno Kecil) mengalami fase-fase kehidupan,dengan beberapa sosok individu (seperti Sujiwo Tejo guru tari lenggernya, Endah Laras bibi penjual ayam, pakdhe penjahit Fajar Suharno, atau Randy Pangalina petinju yang tampan, hingga warok pendekar Whani Dharmawan, hingga dijebak Cabup Teuku Rifnu Wikana dalam Pilkada), karena Garin sedang membangun tesis tentang konstruksi konflik tubuh. Ia memerlukan sosok-sosok yang dianggapnya artikulatif, seperti guru lengger, petinju tampan, warok, dan cabup pilkada, untuk membangun ‘konflik tubuh’ itu.

Namun sebagaimana film eksperimen one-shot ‘Nyai’, saya lebih acap melihat Garin memang senang membangun narasi visual semata. Yang indah-mempesona. Garin pakar di mana keindahan visual bertabrakan secara asimetris dengan impresinya. Meski juga harus dikatakan, Garin adalah film-maker handal di cinema dunia (bukan hanya dunia cinema). Sangat sahih sebagai juru bicara subkultur termarjinalkan, khususnya Jawa, setelah era ‘Bulan Tertusuk Ilalang’ (1994).

Problemnya memang tak ringan, ketika dunia dalam itu divisualisasikan dalam simbol-simbol. Yang terberat justeru ketika dalam suatu era, kini Indonesia atau negara, sedang diserbu dogma-dogma, mengerasnya formalisme agama. Padahal nun dahulu kala, di tanah ini pernah mengguratkan Serat Centhini. Ada karakter Cebolang, lelaki yang juga no gender. Ia wasis menari laki dan perempuan. Bisa making love bukan hanya dengan perempuan, tetapi juga sesama lelaki. Bukan hanya sepasang, tetapi juga berpasang-pasang, sebagaimana ditulis antara 1815 – 1823 dalam Serat Centhini (karya Sri Susuhunan Pakubuwana V, bukan Mangkunegara VII, seperti banyak ditulis mereka yang mempromosikan KTI. Untuk itu baca; Serat Centhini Dwi Lingua, Serat Centhini teks lengkap yang diterjemahkan oleh Sunardian Wirodono ke bahasa Indonesia, 2012).

Itu semua tentu juga soal daya literasi. Sebagaimana mereka yang mengajak pemboikotan film KTI, tapi ditujukan pada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Sementara LSF (Lembaga Sensor Film), yang telah menyensor film ini menjadi lebih pendek dari aslinya, sama sekali tak ada suara. Apalagi pembelaan atas karya seni yang telah diijinkannya untuk ditonton masyarakat.

Padahal, sama halnya dengan Rianto yang membawa nama harum Indonesia ke manca negara, Film KTI Garin juga mendapat berbagai penghargaan di dunia, antara lain Film Terbaik di Festival des 3 Continen, Nantes, Perancis (2018). Oleh majalah Tempo, KTI dinilai sebagai Film Terbaik dan Garin Nugroho sebagai Sutradara Pilihan Tempo 2018 (sesuatu yang sering gagal didapat Garin).

Meski jika disuruh menonton ulang KTI, saya akan lebih memilih Ave Maryam (2019) garapan Ertanto Robby Soediskam, yang juga kontroversial tapi mungkin tidak dilarang. Karena “hanya” menyinggung kelompok minoritas di Indonesia, yakni kalangan umat Katholik. Dan terus saja kita bergelut dalam kepalsuan-kepalsuan, mencumbui tubuh indahku, namun menolak-nolak wajah yang buram, apalagi wajah sendiri!

Sunardian Wirodono
Yogyakarta, 30 April 2019

@sunardianwirodono, pada tahun 1991 menulis resensi film ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ dan mendapat penghargaan dalam FFI 1991. Dan kini (mulai 2012) sedang menyelesaikan tahapan akhir penerjemahan teks aseli Serat Centhini dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Senin, April 08, 2019

Jokowi: Out of the Box!


Penggunaan nama Jokowi, untuk Joko Widodo, adalah out of the box pertama Presiden Republik Indonesia, yang memiliki banyak prestasi dan reputasi internasional itu.

Jokowi sebagai ‘brand’ muncul pada 1990, dari partner usahanya, seorang Perancis yang susah jika menyebut nama komplit Joko Widodo. Kesadaran nama sebagai brand, mungkin bawaan ‘takdir’ dari anak yang semula bernama ‘Mulyono’ (semoga mulia) ini. Sakit-sakitan di masa kecil, mungkin karena kemiskinan, ortunya mengganti nama menjadi Joko Widodo (anak yang selamat).

Meski jauh sebelumnya, dalam menamai anak-anaknya, Jokowi menunjukkan kesadaran ‘nyeleneh’ (out of the box) itu. Misal menamai anaknya Gibran Rakabuming (Gibran kependekan dari kata ‘gigih’ dan ‘brani’, bukannya dari filsuf Khalil Gibran). Kemudian Kahiyang Ayu, dan terutama Kaesang Pengarep (dia sang pelopor). Itu rangkaian nama-nama yang tak lazim di Jawa, menunjukkan sisi nyentrik (eksentrisitas, di luar sentrum atau mainstream). Termasuk kemudian kita tahu bagaimana dia memberi nama Jan Ethes Sri Narendra pada cucu pertama.

Ia bukan manusia se-baene, dalam konteks seorang yang memiliki kemampuan eksploratif, kreatif, dengan daya imajinasinya. Termasuk bagaimana dulu dia mengupload rapat APBD Pemda DKI ke Youtube. Juga pasang poster APBD DKI (2013) di pos-pos ronda. Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta melantik salah satu walikotanya di TPA Sampah Jatinegara.

Gaya kepemimpinan sebagai walikota dan gubernur, seperti sepedaan atau blusukan ke penduduk, menunjukkan citra berbeda. Ia tidak wigah-wigih nyemplung ke gorong-gorong, spontan membantu mengangkat galar gong yang posisinya menyusahkan Presiden SBY (waktu itu, 2013). Makan di warteg, dan bahkan sempat mendapat julukan Wali Kaki Lima dengan pendekatan kemanusiaannya.

Ia  bukan seorang pemimpin yang penakut. Ia berani ambil keputusan, merombak, mengubah sistem dan mekanisme yang konvensional. Jika ada yang menyebut memimpin secara ugal-ugalan, Jokowi memang harus melakukan itu. Ia mesti mendobrak, karena situasi stagnan membutuhkan pemecah lapisan batu es pertama.

Jika ada yang menyebut ia bodoh dan plonga-plongo, ndesit, pastilah karena masih terbuai mimpi tentang citra kepemimpinan jadul. Hanya karena ingin mendelegitimasi kepemimpinan sipil, karena yang layak cuma militer. Padahal jenderal kayak SBY, yang gagah dan tampan itu, senyatanya ayam sayur yang banyak menunda keputusan karena terlalu kompromi.

Keberanian mengambil keputusan, mengeksekusi, memang tugas eksekutif. Dan Jokowi dari sisi ini mendapat banyak penghargaan internasional. Penghargaan yang datang dari penilaian lembaga yang kredibel, yang tentu berbeda dengan penilaian satu orang (apalagi hanya karena kebencian).

Jokowi pribadi yang unik. Ia memiliki selera humor yang baik. Seorang yang suka iseng dan bahkan usil. Meski aksennya Jawa kental, mengutip puisi Yudhistira ANM Massardi, selera musiknya metal. Sebagai eksportir meubel, ia telah bergaul dengan internet sebelum jaman medsos merebak. Ia berkomunikasi dengan dunia internasional, yang tentu juga dengan bahasa Inggris, meski tak sefaseh pecatan TNI yang mengaku lebih TNI.

Cara memilih menteri, juga bagian out of the box itu. Misal ketika memilih Susi Pudjiastuti, yang hanya dikenalnya lewat google. Susi merasa jiper, karena menganggap dirinya hanya orang gila. Tapi Jokowi bilang, “Justeru Indonesia butuh orang gila,...”

Bahkan sebagai Presiden, ia tinggal bersama isteri, kadang dengan anak ragil yang masih jomblo, di paviliun Istana Presiden Bogor. Hanya ruangan kecil, yang jika dua anak dan menantu beserta cucunya datang, mereka menggelar karpet di ruang tamu paviliun. Jokowi tak punya rumah di Jakarta, tak sekaya Amien Rais, atau Said Iqbal yang pejuang buruh.

Otentisitas Jokowi muncul dari sebuah intensi perjalanan hidup. Jokowi memiliki sensitivitas dan sensibilitas. Ia type pemimpin androginies, mampu mendengar dan mencatatnya sendiri. Sebagai tukang kayu, ia juga insinyur dari fakultas kehutanan UGM, mengenal serat dan karakter kayu, sehingga produk meubelairnya memiliki nilai lebih.

Dalam sebuah pameran Indonesia di Perancis, ketika semua stand-stand pemerintah Indonesia sepi, ada stand orang Indonesia (bukan bagian peserta dari pemerintah) yang selalu penuh. Dan ketika Luhut B. Panjaitan, sebagai liaison officer Indonesia waktu itu, ternganga ketika stafnya melapor, “Itu stand orang Indonesia, Joko Widodo namanya,...”

Ada banyak tanda dan bukti, bagaimana Jokowi seorang manusia yang out of the box. Mampu memandang dari sisi lain. Memiliki cara unik, bahkan otentik, dalam menyelesaikan masalah. Itu pertanda dia bukan manusia se-baene. Bukan yang normal-normal saja, tapi juga bukan yang abnormal, yang misalnya berjanji “jika menang akan shalat jumat tiap hari!” Saking nggak pernahnya shalat tapi pingin dibilang alim, mirip ngaku lebih TNI dari TNI. Kalau itu mah gemblung, bukan out of the box.

Yang terbiasa dalam frozen kejumudan Orde Baru Soeharto, bisa jadi otaknya stuck melihat ini semua. Terus kemudian menebar hoax dan fitnah, karena tak melihat celah untuk mengalahkannya. 

Yogyakarta, 8 April 2019
Sunardian Wirodono

Pasangan Cinta Iriana-Jokowi

Iriana dan Jokowi adalah sepasang kesederhanaan. Cinta yang sederhana. Tidak neka-neka . Keduanya rakyat jelata. B...