Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 26, 2016

Kembali "Djokja Kembali!"

Tugu Yogyakarta, 1940
Pada 27 Desember 1949 ibukota negara Republik Indonesia berkedudukan kembali di Jakarta. Sehari sebelum berangkat ke Jakarta pada 29 Desember 1949, Bung Karno menuliskan pesannya yang legendaris pada masyarakat Yogyakarta; "Djokjakarta mendjadi termasjhur oleh karena djiwa kemerdekaannja. Hidupkanlah terus djiwa kemerdekaan itu!"

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, negara ini memang langsung dalam ancaman. Belanda, menumpang Tentara Sekutu, hendak kembali menguasai Indonesia. Mereka tidak mengakui kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Dalam situasi seperti itulah, Sri Sultan Hamengku Buwana IX menawarkan pada kedua proklamator, memindahkan ibukota ke Yogyakarta. Dan jadilah Yogyakarta sebagai ibukota negara (1 Januari 1946 - 27 Desember 1949). Mengapa Yogyakarta?

Yogyakarta adalah sebuah nilai. Sebuah kota yang lahir dari gagasan filosofis idealis untuk tumbuhnya sejarah peradaban manusia. Dalam perjalanannya, sepanjang 260 tahun sejak digagas oleh Pangeran Sujono (Sri Sultan Hamengku Buwana I, memerintah pada 1755 – 1792), dikenal dengan konsep memayu-hayuning bawana, mempercantik keindahan dunia. Sebagaimana hal itu tercerminkan dalam masa-masa awal republik ini.

Dalam perjalanannya, dari Agresi Militer I dan II, Perjanjian Renville, para elite kepemimpinan nasional diasingkan ke pulau Bangka, PDRI, SO 1 Maret; Yogyakarta menjadi bagian penting perjalanan itu. Rakyat sipil dan militer, bekerja sama bahu-membahu. Hingga akhirnya dalam kesepakatan Roem-Royen (1949), eksistensi Negara Republik Indonesia sebagai Negara berdaulat diakui. 

Konsekuensinya, tentara Belanda harus keluar dari Yogyakarta. Dan setelah Yogyakarta dikuasai penuh oleh TNI (6 Juli 1949), barulah para pemimpin nasional kembali ke Yogyakarta. Pada tanggal 10 Juli 1949, Jenderal Sudirman bersedia pulang ke Yogyakarta (dari peristiwa itulah, kemudian dikenang sebagai ‘Jogja Kembali” ke pangkuan republik). 

Jalan Maliooro, 1948
Yogya Kembali, menjadi peristiwa simbolik, yakni ketika seluruh potensi bangsa bersatu-padu kembali, memperjuangkan dan meneguhkan kedaulatan Negara. Seluruh potensi, baik kesatuan militer maupun masyarakat sipil, bersama-sama dan terus-menerus bekerja-sama melawan kembalinya kekuatan asing.


KH Agus Salim menggambarkan bagaimana situasi Yogyakarta waktu menjadi ibukota republik. Begitu terasa revolusioner dan romantik. Banyak pemuda berambut gondrong mondar-mandir, membawa senjata, dengan pakaian kumal dan bau. Bukan hanya para pejuang fisik, melainkan juga para senimannya, yang tak kalah kumal. Dengan gaya begajulan, makan dan minum di warung tanpa bayar. Sukarno bahkan mengatakan, Yogyakarta seolah didatangi gerombolan liar. 

Dalam periode sebagai ibukota Negara, Yogyakarta hidup dan tumbuh menjadi meltingpot dari berbagai suku, etnis, agama dengan satu kepentingan. Situasi itu termanifestasikan dalam semangat hidup yang penuh kegotong-royongan, persaudaraan, dan tumbuh dalam era kesederhanaan, kesetiakawanan, rasa solidaritas sosial, yang menjadi sumber inspirasi penting dalam perjalanan masyarakat Yogyakarta kemudian hari.

Yogyakarta, sebuah kota kecil yang semula hanya dihuni sekitar 17.000, mendadak sontak harus menampung 600.000 jiwa. Ekonomi ambruk, infrastruktur minim, pemerintah tidak punya uang, rumah-rumah penduduk terbatas.
Yang muncul kemudian adalah semangat kebersamaan. Yogyakarta menyambut Republik Indonesia dalam euphoria revolusi, yakni bersatu-padu, bergotong-royong, bahu-membahu. Masyarakat Yogyakarta menyediakan rumah-rumahnya, untuk dihuni bersama bagi para pendatang, juga para PNS yang pindah dari Jakarta. 

Gerakan kaum ibu membuka dapur umum, juga para remaja aktif dalam berbagai kegiatan PMI. Kantor-kantor pemerintahan, dijalankan dari rumah-rumah penduduk, dengan perkakas apa adanya. Bahkan untuk menyambut tamu negara, rumah kepresidenan terpaksa harus meminjam piring dan taplak meja dari rumah tetangga. 

Nilai-nilai keyogyakartaan, yang tergambarkan dalam era revolusi itu, adalah sebuah fase penting untuk direfleksikan kembali. Refleksi sebagai upaya menemukan kembali jati-diri, dalam perjalanan waktu yang sedemikian rupa. Baik dalam konteks perjalanan bangsa dan Negara Indonesia, maupun tata nilai suatu masyarakat, dari sebuah tempat bernama Yogyakarta.

Yogyakarta juga merupakan keteladanan dari sebuah sikap dan keberpihakan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal, periode sebelum Indonesia merdeka, Yofyakarta adalah sebuah negari mardhika, negara berdaulat yang setara dengan negara Belanda. 

Setidaknya, dengan adanya Perjanjian Giyanti (1755), kerajaan Mataram seperti Yogyakarta dan Surakarta, sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah dan Ratu Belanda sebagai negara negara yang mempunyai pemerintahan yang diakui. Begitu pun sejak masa penjajahan Belanda di bumi Nusantara berakhir, dan kemudian digantikan oleh Jepang.

Ketika Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan NKRI, posisi Negeri Ngayogyakarta dan Pakualaman berada di persimpangan jalan. Antara bergabung dengan NKRI atau membuat negara sendiri yang berdaulat. Padahal sebenarnya Ngayogyakarta secara sistem pemerintahan sudah bisa membuat negara sendiri. Namun Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII memutuskan bergabung dengan NKRI.


Pada 18 Agustus 1945, Sri Sultan mengirim surat kawat ke Sukarno yang menegaskan sikap politiknya itu. Sehari kemudian, Sukarno memberikan piagam penghargaan kepada Yogyakarta sebagai daerah istimewa setingkat provinsi. Dalam amanat 5 September 1945, Sri Sultan HB IX menegaskan; Ngayogyakarta Hadiningrat berbentuk kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari RI. Segala kekuasaan dalam negeri dan urusan pemerintahan berada di tangan Sultan HB IX, dan hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah negara Republik Indonesia bersifat langsung dan Sultan HB IX bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI. 


Piagam dan amanat di atas, bukti adanya dua negara yang bergabung menjadi satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Negeri Ngayogyakarta dan Pakualaman. Ada yang menganalogikan penggabungan dua negara ini dengan istilah ijab kabul. Artinya, ada pihak yang menyerahkan dan ada pihak lain yang menerima. 

Ngayogyakarta menyerahkan kedaulatannya dan bergabung menjadi bagian dari NKRI dan NKRI menerima penyerahan itu. Selanjutnya diberikan mahar atau mas kawin sebagai daerah setingkat provinsi yang istimewa. 

BRM Darajatun, sebelum menjadi Sri Sulta HB IX
Dalam persepektif hukum internasional, perjanjian dua negara ini biasa dikenal sebagai bilateral treaty. Perjanjian itu terikat pada asas-asas hukum perjanjian, yakni asas pacta sunt servanda. Asas itu menyatakan setiap perjanjian mengikat dan wajib dipatuhi serta dihormati oleh kedua belah pihak selama keduanya belum membatalkan kesepakatan tersebut. Dan memang perjanjian itu belum pernah sekali pun dinyatakan dicabut, baik oleh presiden-presiden RI serta parlemen-parlemen setelahnya. Demikian fakta hukumnya. 

Dalam perspektif ini, maka ketika Yogyakarta hendak mengadakan referendum untuk memisahkan diri dari NKRI (misalnya) tidak disebut sebagai gerakan separatis, karena adanya perjanjian-perjanjian itu. Meski tentu ini bisa ditafsirkan dalam perspektif yang berbeda, tergantung sudut pandang dan kepentingan. Namun separatisme pengertiannya adalah; suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia. Sementara hubungan Republik Indonesia dan Negari Ngayogyakarta adalah setara, dan terikat perjanjian tadi.


Pertanyaan yang menarik sesungguhnya adalah alasan Sri Sultan HB IX, mengapa bergabung dengan NKRI, padahal berbagai tawaran mengiurkan dari Negara-negara luar disediakan? Dalam buku Tahta Untuk Rakyat dituliskan di situ hal yang mungkin irasional namun itu benar terjadi pada Sri Sultan HB IX. Tentang keruntuhan kekuasan Belanda di Indonesia, dan pengakuannya hidup dalam dua dunia. Dunia keraton yang menempatkannya sebagai seorang raja dalam alam feodal, dan dunia luar kraton yang penuh dengan tantangan zaman yang mulai berubah ke arah modernitas. 


Kita tahu bagaimana integritas dan reputasi tokoh satu ini. Seruan perpindahan kekuasaan, dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, memberi dampak luar biasa atau revolusioner. Menjalar ke kota-kota, desa-desa seluruh penjuru negeri. Bahkan berbagai kekuasaan kerajaan ambruk, sebagaimana di Surakarta. Revolusi sosial waktu itu, tak terelakkan. 



Sri Sultan Hamengku Buwana IX, saat pelantikannya, 1940

Berubahnya tatanan dan sistem sosial secara radikal membuat situasi chaostic. Feodalisme yang tumbuh subur semasa kolonialisme, menjadi sasaran gerakan revolusi. Salah satu korban revolusi sosial itu, tewasnya Amir Hamzah, penyair angkatan Poedjangga Baroe.  

Kenapa kerajaan Ngayogyakarta kalis (luput) dari gilasan revolusi sosial? Karena Sri Sultan HB IX telah sebelumnya merevolusi sistem kekuasaannya sendiri, dengan konsep yang kemudian sering disebut sebagai tahta untuk rakyat. 

Sri Sultan HB IX, telah memberikan teladan tentang sikap yang jelas, keberpihakan pada satu pemikiran modern tentang kekuasaan dalam konsep demokrasi modern, dan itu artinya menafikan kesempatan dan kemungkinannya untuk menjadi penguasa bagi kepentingan diri dan kelompoknya. Kraton Yogyakarta dalam masa revolusi, justeru menjadi sarang dan tempat perlindungan paling aman bagi para republikan. 

Dalam perjalanan dan perubahan waktu, penting rasanya untuk sejenak kembali. Menggali dan merasai semangat awal republik ini, yang dibangun dari Yogyakarta. Semangat kebersamaan, kegotong-royongan, kesederhanaan dalam kerja-kerja besar bagi bangsa dan Negara.
Sebagaimana pesan Bung Karno;


Minggu, Juni 29, 2014

Garuda Pancasila, Sejarah dan Makna


Setelah Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, disusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konfrensi Meja Bundar pada 1949, dirasa perlu Indonesia (yang pada saat itu bernama Republik Indonesia Serikat) memiliki lambang negara. Pada 10 Januari 1950, dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II. Presiden Soekarno menugaskan Sultan Hamid II (1913-1978, kelahiran Pontiana, bernama asli Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Sultan Pontianak), merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang Negara. Susunan panitia teknis: Muhammad Yamin sebagai ketua, dan beranggotakan Ki Hajar Dewantara, MA Pellupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka bertugas menyeleksi usulan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Dalam buku “Bung Hatta Menjawab” dijelaskan terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin, dan pemerintah serta DPR menetapkan rancangan Sultan Hamid II. Alasannya, mengacu kepada ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, dengan sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila yang divisualisasikan dalam lambang Negara itu.

Sultan Hamid II (1913-1974)
Namun tidak sekali proses, karena Presiden RIS, Ir, Sukarno dan PM Mohamad Hatta, terus melakukan penyempurnaan rancangan itu dengan Sultan Hamid II.  Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".
Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali. Masjumi keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai, dan dianggap terlalu bersifat mitologis.
Setelah diskusi yang seru, dengan mempertimbangkan berbagai masukan, Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya, lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Namun Soekarno tampaknya terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950, beliau memerintahkan Dullah, pelukis istana, melukis kembali rancangan tersebut. Antara lain dengan penambahan "jambul" pada kepala Garuda Pancasila, mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita (semula di belakang pita menjadi di depan), atas masukan Presiden Soekarno. Menurut Soekarno, menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip bald eagle (lambang Negara Amerika Serikat).
Sultan Hamid II sendiri ikut menyelesaikan penyempurnaan bentuk final, dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang Negara (lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974). Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari perunggu berlapis emas, disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Filosofi Garuda Pancasila. Garuda Pancasila adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuna dalam sejarah bangsa Indonesia (Nusantara). Ia kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
Mitologi garuda berasal dari kebudayaan Hindu. Garuda digambarkan sebagai manusia burung dengan bulu keemasan, dan memiliki mahkota di kepalanya. Konon ukuran tubuh garuda sangatlah besar sehingga mampu menutupi matahari. Garuda juga sering digambarkan sebagai kendaraan Vishnu. Dalam Mahabarata, konon saat Garuda lahir dari telurnya, bumi gonjang-ganjing (bergetar), sehingga para dewa memohon padanya untuk tenang. 

Garuda adalah anak Kasyapa dan Vinata. Vinata memiliki utang terhadap Kadru, ibu para ular karena suatu pertaruhan. Untuk menghapus utang tersebut, Garuda diminta Kadru untuk memberikan obat keabadian yang disebut Amrita padanya. Garuda kemudian mencuri Amrita dari tempat para dewa. 
Namun meskipun para dewa bersatu menghadang Garuda, mereka bukanlah tandinganya. Dalam perjalanan pulang, Garuda bertemu dengan Vishnu, Vishnu berjanji akan memberikan keabadian pada Garuda biarpun tanpa meminum Amrita. Sebagai gantinya, Garuda menjadi kendaraan Vishnu.
Garuda kemudian bertemu dengan Indra, dan sekali lagi dia mendapat penawaran. Garuda berjanji akan memberikan Amrita pada Indra, dan Indra akan memberikan para ular sebagai makanan Garuda. Akhirnya Garuda memberikan Amrita pada para ular untuk menghapus hutang ibunya. Setelah Amrita diberikan, Indra turun dari langit, merebut Amrita, dan menghabisi para ular. Sejak saat itu Garuda menjadi rekan para dewa. Tunggangan kebanggan Vishnu, sekaligus menjadi musuh utama para ular.
Deskripsi Simbol. Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.. Memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan. Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, yakni: 17 helai bulu pada masing-masing sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor, dan 45 helai bulu di leher

Perisai Garuda. (1) Perisai adalah tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan. (2) Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat. (3) Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam. (4) Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara pancasila.

Pengaturan lambang pada ruang perisai adalah sebagai berikut: (1) Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam
(2) Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah
(3) Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih
(4) Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah
(5) Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.

Pita Bertuliskan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular. Kata "bhinneka" berarti beraneka ragam atau berbeda-beda, kata "tunggal" berarti satu, kata "ika" berarti itu. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.
Alangkah sayangnya sesungguhnya, jika Garuda Pancasila yang bhineka tunggal ika itu kemudian menjadi garuda yang satu warna, garuda yang melenyapkan perbedaan, terjebak dalam persatuan menjadi persatean. 

Skala Lambang Garuda Pancasila





Disain Pertama Sultan Hamid II
Revisi Sultan Hamid II
Garuda Pancasila 15 Februari 1950

Revisi Final, 20 Maret 1950



Sabtu, Juni 21, 2014

Bung Karno, Pada 21 Juni 1970


Selasa Kliwon, 16 Juni 1970, 11 Rabiulawal 1390H. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Sukarno akan dibawa ke rumah sakit dari rumah tahanannya di Wisma Yaso, yang hanya berjarak lima kilometer.
Malamnya, desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Sukarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini, terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya, kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang sangat kharismatik dan macho ini, dan banyak digilai perempuan seantero jagad, tak ubahnya sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Gigi gingsulnya membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa, dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar, menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulung dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah, dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega mengembang berkaca-kaca. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga bapaknya, “Pak, Pak, ini Ega,…”
Tak ada jawaban. Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Sukarno yang telah pecah-pecah, bergerak-gerak kecil. Gemetar. Seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu.
Sukarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka mata. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu, untuk puteri sulungnya. Tapi tubuhnya terlampau lemah, untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Sukarno terdiam lagi.
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan. Megawati menjauh dan limbung. Ia segera dipapah keluar.
Jarum jam terus berdetak. Satu-satu. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga. Lengkap dengan senjata.
Malam harinya, ketahanan tubuh Sukarno jebol. Dia koma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Mohammad Hatta, diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya, menghampiri pembaringan Sukarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Sukarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi. Sukarno berkata lemah, “Hatta,... kau di sini?”
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui, jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Sukarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur, “Ya, bagaimana keadaanmu, No?”
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakan di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Sukarno. Panas menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya itu.
Bibir Sukarno bergetar. Tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan, ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal, “Hoe gaat het met jou,…?”
Sukarno menanyakan bagaimana keadaan Hatta. Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Sukarno.
Sukarno kemudian terisak. Bagai anak kecil.
Lelaki perkasa itu menangis, di depan kawan seperjuangannya. Bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaan. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu, saling berpegangan tangan. Seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini, tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan yang dialami sahabatnya itu. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
“No,…”
Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Hatta. Ia tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan, sekaligus kekecewaan. Bahunya terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru, yang sampai hati menyiksa bapak bangsa itu. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Sukarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persahabatannya (dengan Sukarno), yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Sukarno, ketika kawannya ini kembali memejamkan mata.
Jarum jam terus berdetak-detuk. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Sukarno semakin menipis. Mendesak ke jantungnya yang kian lemah.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Sukarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Sukarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyama.
Malamnya, Dewi Soekarno dan Karina, puterinya yang masih berusia tiga tahun, datang di rumah sakit. Sukarno belum pernah sekali pun melihat anaknya itu.
Minggu pagi, atau Ahad Kliwon, 21 Juni 1970. Dokter Mahar Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan, seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, dr Mahar Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini.
Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu, waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Sukarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Sukarno menggerakkan tangan kanannya. Memegang lengan dokternya.
Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi, dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga, Sukarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek. Tak bergerak lagi. Untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau, tiada terdengar. Kehampaan. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, banyak pula yang membenci. Namun semua sepakat, Sukarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Manusia besar, juga dengan musuh-musuh besar. Dan itu belum tentu dilahirkan kembali, dalam waktu satu abad.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Sukarno telah meninggal.
Berita kematian Bung Karno, dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya, Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan, oleh rezim penguasa yang baru.
Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini, dan telah menghabiskan 25 tahun usia hidupnya, mendekam dalam penjara kolonial Belanda, demi kemerdekaan negerinya.




Keyakinan banyak orang, bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan, mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini, yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno, ketika sakit ditahan di Wisma Yaso (Yaso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno, yang dikenakan untuk nama rumah yang ditempati Dewi Sukarno, dan gedung ini kemudian menjadi Museum Angkatan Darat, di jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat). Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.
Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut, di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan (dengan obat).
Bung Karno memang dibiarkan sakit, dan mungkin dengan begitu diharapkan, oleh penguasa baru Soeharto, agar bisa mempercepat kematian. Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun, dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekedar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita (www.andists.info).
Ini saya kutipkan tulisan seorang Sukarnois mengenai tanggal 21 Juni 1970; “Pak Karno seda,…” demikian seorang lelaki sedang menangis sesenggukan. Ia mengabarkan pada isterinya, Sukarno, Bung Karno, meninggal. Ia adalah seorang yang mengetahui kondisi dan fisik Bung Karno di Wisma Yaso.
Mereka pun kemudian dengan menumpang kendaraan militer, bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain, kecuali tiga truk berisi prajurit Marinir (dulu KKO). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO, sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono, pernah berkata, “Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO!”
Banyak prediksi memperkirakan, andai saja Bung Karno menolak untuk turun tahta, dia dengan mudah akan melibas mahasiswa dan pasukan Jendral Soeharto. Karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya, dan terutama Siliwangi dengan panglima Mayjen Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negerinya. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah, bagi sebuah bangsa yang telah dipersatukannya dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Sukarno harus meninggalkan istana, pindah ke istana Bogor. Begitu turun tahta, tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya, Mayjend Amir Mahmud, disampaikan jam 8 pagi pada waktu Maret 1966, yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.
Buru-buru Ibu Hartini, istri Bung Karno, mengumpulkan pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan, serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang-barang lain semuanya ditinggalkan.
“Het is niet meer mijn huis,… “ sudahlah, ini bukan rumah saya lagi, demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Sukarno pindah ke Istana Batu Tulis , Bogor, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis, dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan, menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono, secara misterius, mati terbunuh di rumahnya.
Menurut penuturan saksi mata di Wisma Yaso; Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno. Mereka tak tahu, Bung Karno masih di RSPAD sebelumnya, atau dibawa ke Wisma Yaso.
Jenasah Bung Karno, berada di ruangan kamar yang suram di Wisma Yaso. Terbujur mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin, Gubernur Jakarta waktu itu, yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah, serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak-bengkak, dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin ber-AC ,dan penuh dengan alat-alat medis di sebelah tempat tidurnya. Tak ada. Jauh dari itu semua. Yang ada hanya termos, dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam, dipenuhi jentik-jentik seperti nyamuk.
Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tanpa gorden. Dari dalam bisa terlihat, halaman belakang ditumbuhi rumput alang-alang setinggi dada manusia!
Jasad Bung Karno kemudian dipindahkan ke atas karpet, di lantai ruang tengah. Beberapa orang disana, sungkem (membungkuk hormat) kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah Orde Baru juga kebingungan, kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator? Walau Bung Karno berkeinginan agar dimakamkan di Istana Batu Tulis, pihak militer beralasan tetap tak mau mengambil resiko, apabila makam seorang Sukarno berdekatan dengan ibukota.
Maka dipilih Blitar, yang konon kota kelahirannya, sebagai peristirahatan terakhir. Dan tentu saja, Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. Belakangan diketahui, bahwa tidak benar Sukarno lahir di Blitar, melainkan Surabaya.
Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, “Bung Karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara-cara yang amat kasar, dengan memukul-mukul meja, dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah, karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan,“ (Dari Revolusi 1945 Sampai Kudeta 1966).
Dokter Kartono Mohamad, yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 Februari 1969 sampai 9 Juni 1970, serta mewancarai dokter Bung Karno; berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan, hanya vitamin B, B12, dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya adalah gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah, tidak diberikan (Kartono Mohamad, Kompas, 11 Mei 2006).
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan, “Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batu Tulis. Salah satu perawatnya, juga bukan perawat, tetapi dari Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat),” (Rachmawati, Kompas 13 Januari 2008).
Apa yang terjadi pada Sukarno, sangat berbeda dengan Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter-dokter dan peralatan canggih, untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Tapi, toh nyawa Soeharto juga tak bisa dipanjang-panjangkan, sebagaimana keharuman namanya hanyalah pendek, sekali pun pemeriksaan dari kehakiman jadwalnya disesuaikan dengan jadwal tidur Jendral Besar itu.
Sukarno, lahir di Surabaya 6 Juni 1901, dan wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970. He is Bung Karno, the Great Man! | Sebagian sumber informasi dari Iman Brotoseno, Andi St., dan beberapa nama.  




DI BLITAR, KETIKA SUKARNO WAFAT | Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah (dan pelaku pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945), yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar, menuliskan kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang saya sunting bahasanya, juga karena panjangnya tulisan tersebut, tanpa mengurangi artinya:
Blitar. Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali, sesederhana semua makam di sekelilingnya.
Sejak subuh, sudah ada sekitar seratusan manusia hidup, berada di situ. Dan semua hanya berada di situ, seolah membatu, tanpa mengetahui sedang “ngapain” mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri, agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.
Kami semua di kota Malang, mendengar tentang Bung Karno yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari, dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan pada sebuah tempat di pinggir kali, di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang, di rumah Bung Karno di Batu Tulis, Bogor).
Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula kuasa rezim Soeharto, yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar, dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya, di daerah Paras Besar. Bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orangtuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di sebuah sekolah di Mojokerto, yang kemudian tugasnya (memang) dipindah ke Blitar.
Sore. Matahari tinggal sepenggalan, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Beberapa orang yang berkerumun menunggu, didorong paksa oleh barisan tentara Angkatan Darat, agar menjauh dari tempat pemakaman.
Komandan upacara, Jenderal Maraden Panggabean memulai upacara. Saya (Cak Doel Arnowo, sw), berdiri berdesak-desakan di samping Kapolri Hoegeng Iman Santosa. Kami berbicara saling berbisik, “Ujung paling belakang rombongan ini berada di mana, Pak?” Beliau menjawab singkat, di kota Wlingi. Hah? Panjang iring-iringan rombongan yang mengantar jenasah Bung Karno ini, sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, utara kota Malang, sampai ke Blitar, tiada putus.
Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung, meski sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: “There goes a very great man!”
Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans yang mengangkut Bung Karno, terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir, seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, mereka ada yang mengaku dari Madiun, Banyuwangi, bahkan dari Bali. 

 
Saya berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, tempat kakak kandung beliau, Ibu Wardojo, tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar, karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan.
Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman, beberapa waktu kemudian, semua makam pahlawan di Taman Pahlawan Sentul dipindah ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan lokasi pemakaman sudah penuh. Tetapi pada kenyataannya, atas perintah Soeharto, kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.

Kuburannya pun Tidak Boleh Dijenguk | Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum, dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam, harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?
Saya bersama ibu saya, dan beberapa saudara, datang secara mendadak pergi ke Blitar, dengan tujuan utama ziarah ke makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan, dan akhirnya sampai ke pimpinan yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin, dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara.
Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu galak, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu, merasa bertambah gagahnya di hadapan rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres, dan kami mendapat sepucuk surat. Namun apa yang terjadi?
Sesampai di makam, kami turun dari kendaraan dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukkan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya menoleh ke belakang, terkejut saya. Selain rombongan kami sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, rupanya telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol.
Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, menempel secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, tetapi saya ingat, kami memasuki pagar luar, dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang, dan hanya bisa memandang makamnya dari jarak yang mungkin hanya sekitar tiga meter.
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami, dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali, dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang mencium tangan kami, membuat saya merasa risih.
Salah seorang dari mereka ini mengatakan, sudah dua hari bermalam di sekitar makam, di udara terbuka, menunggu sebuah kesempatan seperti yang baru saja telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat. Rakyat Marhaen, kata Bung Karno!
Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi pemimpin mereka. Bapak mereka. Apa pun yang disebarluaskan media Soeharto, dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka, itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara. Semua dari lubuk hati. | (Dikutipkan dari pengakuan: Cak Doel Arnowo)


Kamis, Mei 01, 2014

Pangeran Dipanegara, Pejuang, Penulis, dan Budayawan


Pangeran Dipanegara, umumnya ditulis Diponegoro, dikenal sebagai pejuang, pahlawan nasional, yang mengobarkan semangat perlawanan pada penjajah. Perang Jawa, atau Perang Dipanegara pada 1825-1830, dikenal sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. Pemerintahan Hindia  Belanda mengalami banyak kerugian, termasuk dikuras habis-habisan pundi-pundi uangnya, untuk membiayai operasi penumpasan pangeran Jawa itu.
Namun adakah yang mengerti, Pangeran Dipanegara juga seorang penulis, sastrawan, yang dengan faset pemikirannya pantas disebut oleh apa yang sekarang dikenal dengan nama “budayawan”? Dalam Serat Babad Dipanegara yang diwariskannya pada generasi kemudian, kita akan melihat hal tersebut.
Dipanegara lahir di Yogyakarta. 11 Nopember 1785, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwana III, raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang lahir dari garwa selir (bukan permaisuri) bernama Raden Ayu Mangkarawati. Dipanegara kecil diberi nama Mustahar oleh ayahnya, yang kemudian pada waktu remaja dan mendapat gelar, namanya menjadi Raden Mas Antawirya.
Dalam tradisi keningratan Jawa (keningratan adalah nilai-nilai kemuliaan manusia, bedakan dengan faham feodalisme sebagai life-style dan pandangan hidup), semua anak-anak dari Hamengku Buwana diasuh dalam satu system pengasuhan oleh abdi-dalem (pekerja professional) di bidang masing-masing. Termasuk untuk memperdalam Alquran dan mempelajari kitab-kita agama.
Walaupun putra raja, namun dia dibesarkan di luar tembok kraton, di lingkungan pedesaan Tegalrejo, dibawah asuhan nenek buyutnya, Kanjeng Ratu Ageng (janda mendiang Sultan HB I). 
Dalam naskah babad dikisahkan: beberapa hari  setelah Dipanegara lahir, Hamengku Buwana I  meminta pada isterinya untuk melihat cicitnya tersebut.  Sambil mengamati bayi di pangkuannya, raja pertama Mataram itu meyakini bahwa kelak anak tersebut akan menjadi tokoh yang jauh lebih besar dari dirinya, dan akan menimbulkan kerusakan besar pada Belanda. Selanjutnya pendiri kraton Mataram itu meminta agar isterinya merawat sendiri bayi tersebut (Peter Carey, dalam makalah ceramahnya di Universitas Diponegoro, Semarang, 26 Maret 1991, Masa Remaja Pangeran Dipanegara: Pendidikan Seorang Satria yang Berbudi).     
Sepeninggal suaminya, Ratu Ageng membawa cicitnya ke kediamannya di Tegalrejo, sebuah desa terpencil beberapa kilometer arah barat-daya istana karaton Ngayogyakarta. Di sanalah Dipanegara dibesarkan dan dididik sebagai layaknya bangsawan  Jawa, sekaligus seorang santri yang taat beragama.
Namun di samping itu, Dipanegara juga banyak membaca naskah-naskah sastra Jawa berupa suluk, kekawin dan babad. Di masa kecil, konon ia sering dipanggil oleh kakek buyutnya, untuk membacakan naskah-naskah tersebut.
Karena itu menarik mencermati catatan-catatan sejarah mengenai Pangeran Dipanegara yang sangat beragam, dan susah dilacak sumber asalinya. Terutama soal adanya pengakuan Dipanegara bahwa dirinya tidak bisa membaca dan menulis. Pengakuan itu sering muncul saat berurusan dengan pihak pemerintahan Belanda.
Namun dalam biografinya, yang kita kenal kemudian sebagai Serat Babad Dipanegara, sang pangeran menulis saat sebagai Wali Sultan disodori sebuah surat perjanjian yang dibuat Belanda;

Kangjeng Pangeran tan apti,
kinen maos kewala mapan tan bisa,
jinalukan tanda-asma,
ngandika tan bisa nulis.

Kanjeng Pangeran  agaknya  kurang berkenan, disuruh membaca saja mengaku tak bisa, ketika diminta  tanda  tangan mengatakan tak bisa menulis; Babad Dipanegara, hal. 91.

Dalam kasus tersebut jelas, pengakuan (tak bisa baca-tulis) itu hanya dipakai sebagai alas an, untuk tidak menyangkutkan diri pada perjanjian tersebut. Begitu juga dengan banyak pengakuan yang sama dalam kasus lain.
Banyak orang menduga, hal tersebut dilakukan karena terdorong oleh sifatnya yang rendah hati, sebagaimana ciri umum kalangan bangsa Jawa pada masa itu. Namun kemungkinan lain, ialah keinginannya untuk sedapat mungkin meniru jejak nabi Muhammad shallallahu allaihi wassallam. Sebagaimana bisa kit abaca dalam sejarah Muhammad ketika didatangi Malaikat Jibril di gua Hira’.
Sang malaikat atas perintah Allah, berkata pada Muhammad, “Bacalah!”
Namun sang nabi menjawab, “Saya tak tahu membaca”

Namun pengakuan Dipanegara ini ditolak oleh pernyataan Louw PJF., dalam tulisannya De Java Oorlog (1825-1830), Deel I, Batavia: M. Nijhoff (1893) yang mengatakan: “Hij schrijft de Javaansche taal, doch zeer slecht.” Dia dapat menulis dalam bahasa Jawa, tetapi jelek sekali. 
Kesaksian lain muncul dari Letnan Knoerle, yang mengantarkan Dipanegara dalam perjalanan ke Menado seusai penangkapan di Magelang. Dalam laporan Knoerle antara lain menuliskan: "In de eerste dagen van onze reis verzekerde mij de Prins, dat hij het schrijven onkundig was; later echter zich op den toon eener meer vertrouwelijke mededeeling gevestigd hebbende, dat mij Diepo Negoro te kennen, dat hij de Javaansche taal gebrekkig schreef."
Pada hari-hari pertama dari perjalanan kami, demikian laporan Knoerle, sang Pangeran memberitahu saya bahwa dia tak dapat menulis, tetapi beberapa waktu kemudian, ketika kami sudah saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik, Dipanegara memberitahu bahwa dia dapat menulis bahasa Jawa, tetapi tidak pandai.  
Terlepas dari pengakuan tersebut, setelah  Dipanegara  berada di tempat pengasingan di Menado dan Makasar, ternyata berhasil menyusun naskah babad. Sebuah naskah dalam bentuk tulisan tangan tidak kurang dari 800 halaman. Naskah dalam bentuk tembang itu, ternyata sangat susah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. 
Mengenai sulitnya penerjemahan  Van Praag menulis:  Calon penterjemah amat banyak. Kontrolir-kontrolir dari pendapatan negara dan perkebunan-perkebunan, seorang komisiner dari salah satu departemen pemerintahan umum, seorang guru, memajukan lamaran. Masing-masing dikirimi suatu bagian untuk diterjemahkan. Beberapa orang mengirimkannya kembali, tanpa berbuat suatu apapun, yang lain mengirimkan hasil kerjanya, yang membuat ahli bahasa Jawa Cohen Stuart ngeri melihatnya, . . .  (S. van Praag, Onrust op Java, Amsterdam, 1947).      

Pangeran Dipanegara dalam "Babad Dipanegara" interpretasi koregrafer Sardono Wahyu Kusuma (2012)
         

Kenyataannya, naskah babad yang kemudian kita kenal sebagai Babad Dipanegara  itu memang luar biasa. Seluruhnya terdiri dari 2.439 bait. Terbagi menjadi 17 pupuh (stanza):   

1). Sinom  (46 bait),
2). Asmaradana (160),
3). Pangkur (134),
4). Mijil (168),
5). Kinanti (140),
6). Sinom (100),
7). Dandanggula (80),
8). Durma   (150),
9). Asmaradana (109),
10). Girisa (133),
11). Maskumambang (109),
12). Pangkur (247),
13). Megatruh (160),
14). Pocung (218),
15). Sinom (116),
16). Dandanggula (100), dan
17). Asmaradana (149). 

Penguasaan terhadap sastra Jawa terlihat sangat kuat. Hal itu terbukti dari digunakannya sebelas jenis tembang macapat. Dari tembang gede (tembang klasik dengan cengkok nada yang rumit, seperti Girisa, Megatruh, Durma, Maskumambang), tembang tengahan (Sinom, Dhandhangula, Asmaradhana, Pangkur), dan tembang alit (Mijil, Kinanti, Pocung).
Artinya, hampir seluruh tembang macapat dipakai untuk mengungkap perasaan yang tersembunyi dalam kalbunya. Tembang macapat sebuah puisi yang rumit, karena ia bukan sekedar mengekspresikan kata, melainkan juga menyusun makna dengan aturan yang ketat, dari jenis tembang macapat yang satu sama lain berkarakter berbeda (mewakili kegelisahan, kegembiraan, harapan, kemarahan, permenungan jiwa).
Dan masing-masing jenis tembang tersebut diatur ketat masing-masing jumlah barisnya, pola persanjakannya (guru lagu, suku kata akhir dalam setiap barisnya), serta ketukan ritme (guru wilangan, jumlah suku kata per-baris). Ketatnya aturan, tak sekedar penulis menghafal pola tersebut, melainkan bagaimana mencari jenis tembang yang tepat dan sesuai dengan isi yang dikandung. Dari sana kemudian bagaimana kekayaan bahasanya, kosakata, yang membuat seorang penulis bisa berakrobat, jungkir-balik, meliuk-liuk untuk memilih-milih kata yang bukan saja dari segi makna benar, namun dari segi melodi juga harus nges (sesuai, indah, impressif).
Apa yang ditulis dalam Babad Dipanegara itu antara lain mengenai situasi Yogyakarta pada masa Sultan HB II, termasuk  adanya Perang Sepehi pada waktu kekuasaan Inggris, juga permusuhannya dengan Daendels, pecahnya Perang Jawa hingga dengan penangkapan dan pembuangannya ke Menado dan Makasar.
Dalam Perang Jawa, Dipanegara figur sentral dalam sejarah pemberontakan pada pemerintahan Hindia Belanda 1825-1830 itu. Dari apa yang dituliskannya dalam Babad Dipanegara, terlihat ia memiliki faset kehidupan yang memukau.

Dalam kaitannya dengan perang, orang melihat dia sebagai sosok ksatria Jawa atau  prajurit, panglima perang  yang sakti dan digdaya, tiada tanding. Hal itu barangkali muncul dari pesona pribadinya, yang dibangun dalam suatu karakter yang ‘his lover’.
Bagaimana pun juga, Dipanegara kanak-kanak dan remaja, masih merasakan euphoria kemenangan Hamengku Buwana I bagi berdirinya Kraton Ngayogyakarta waktu itu.
Satu hal yang pasti, nilai idealitas pada waktu itu adalah sosok super-hero. Dalam kehidupan sehari-hari, Dipanegara banyak mencontoh dan mengikuti sifat serta perilaku nabi Muhammad. Hidupnya amat bersahaja, baik dalam cara berpakaian, makan maupun pergaulannya dengan orang kecil.
Dipanegara sering menyamar sebagai orang kebanyakan. Mengenakan ikat kepala dan kain wulung, serta berbaju hitam. Ia sering bergabung dengan santri di pondok-pondok pesantren di berbagai pedesaan dengan nama samaran Ngabdurakhim. Di saat samarannya hampir terbongkar, dia segera pindah ke pondok pesantren yang lain. Selain itu dia juga suka mengembara. Masuk-keluar hutan, dan tinggal di gua-gua untuk bertapa (khalwat).     
Apa yang dilakukan Dipanegara remaja, sesungguhnya tidak sangat istimewa. Karena hal tersebut agaknya menjadi pola umum yang berlaku pada kalangan pemuda di masa itu. Hingga masa pemerintahan Sultan HB II, masyarakat Yogyakarta masih diliputi eforia kemenangan perang Mangukubumi (Hamengku Buwana I). Maka upaya memperdalam ilmu kanuragan, ketrampilan bermain senjata, menunggang kuda, juga landasan laku batin seperti tirakat, puasa, bertapa di gua keramat, mendapat tempat khusus di kalangan anak muda. Sesuai dengan  situasi dan kondisi jamannya, Dipanegara muda tentunya juga kepo, dan tidak terlepas dari kebiasaan yang berlaku saat itu.
Dari cara dia mengungkapkan perasaan serta kesaksiannya terhadap berbagai peristiwa, atau pun mengurai suatu kasus, menunjukkan ketajaman pikiran dan kuatnya daya ingat.
Selain sebagai karya sastra, tulisan Dipanegara tersebut juga bisa dianggap sebagai naskah sejarah. Bagi peneliti sejarah, karya tersebut memiliki nilai tersendiri karena memberi banyak informasi yang tidak bakal dijumpai dalam arsip maupun dokumen resmi pemerintah kolonial, walaupun untuk menggunakannya diperlukan sikap ekstra hati-hati. Namun, sebagaimana ujar Khalifah Ali, ikatlah ilmu dengan menulis. Karena dengan demikian, ia mewariskan pada generasi berikutnya untuk menjadi manusia pembelajar. Sebagaimana Kartini menjadi penting, karena ia meninggalkan pokok-pokok pikiran yang dituliskannya. Sebagaimana kemudian dari sana, untuk hal Dipanegara, Peter Carrey dan Remy Sylado bisa menuliskan bagi generasi sekarang, untuk belajar dari sejarah.
Pada sisi lain ternyata, Dipanegara memiliki  kemampuan kreatif dalam berimaginasi, dan memiliki citarasa estetis cukup tinggi, khususnya dalam bidang arsitektur. Hal itu tercermin dari tata ruang kawasan dan rancang bangun arsitektur di kawasan situs Tegalrejo, Seloharjo, Selarong, dan Mataraman. Itulah sebabnya juga, dari sisi ego-pribadi, kemarahan Dipanegara Nampak wajar, ketika pemerintahan Hindi Belanda dengan sengaja merusak harmoni situs Tegalrejo, dengan membangun rel kereta api membelah daerah kekuasaan Dipanegara tersebut. Ini hal wajar, sebagaimana munculnya pahlawan-pahlawan Amerika ketika pemerintahan federal membangun jaringan kereta api.
Dari karya biografinya terlihat bahwa bakatnya yang lain, yang membuktikan bahwa pada dirinya mengalir darah sastrawan, sekaligus juga  sejarawan yang baik.
Pangeran Dipanegara wafat di Makassar, Sulawesi Selatan pada 8 Januari 1855, dengan meninggalkan pesona yang bisa dibaca dan dipelajari. Warisan tulisannya, adalah wasiat seorang pejuang dan sekaligus budayawan. Artinya, kepahlawanan tidaklah harus dipandang dari sejarah heroisme yang militeristik, melainkan juga impuls pemikirannya mengenai kehidupan itu sendiri.

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...