Selasa, Maret 19, 2019

Mana Lebih Berbahaya, Penista atau Pendusta Agama?


Agama adalah candu masyarakat, ujar sang filsuf Karl Marx (1818 – 1883). Menurutnya, agama hanya matahari ilusi yang berputar di sekitar manusia selama dia tidak berputar di sekitar dirinya. Boleh percaya boleh tidak. 

Bertrand Russell lebih parah lagi mendefinisikan; Fear is the parent of cruelty, and therefore it is no wonder if cruelty and religion have gone hand in hand, tulis ahli matematika dan peraih Nobel Sastra (1950) itu. Ketakutan adalah dasar agama: takut hal-hal misterius, takut kalah, takut mati. Takut merupakan induk dari kekejian, oleh karena itu tidak mengherankan jika kekejian dan agama senantiasa berjalan seiring.

Bukan hanya tinjauan dari filsuf Barat, seorang sofis Persia, Abu Hamid Al Ghazali (1058 – 1111) pun mengatakan, “Kita tidak dapat mengakui bahwa setiap orang yang mengaku beragama itu pasti mempunyai segala sifat-sifat yang baik.” Ia bahkan dalam kitabnya yang sohor, Ihya’ Ulumuddin, menulis: Ada ulama yang sejati dan ulama palsu. Jadi, bukan berkait Indonesia kemarin sore saja, agama sudah menjadi persoalan manusia sejak awalnya.

Raden Ajeng Kartini, Ibu kita itu, dalam salah satu surat pada sohibnya di Eropa, sudah mempertanyakan pula, “Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama?” Ia sampai pada kesimpulan, “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.”

Jadi, di mana letak kesalahan? Pada keberadaan agama, dengan segala konsepsi dan sejarahnya? Atau metodologi dan sistem pengajarannya oleh mereka yang dogmatis, untuk menunjukkan otoritasnya, bahwa jika sudah beragama artinya sudah paling benar dan suci?

Jika kita mengutip pandangan Gus Dur, “Semakin tinggi martabat manusia yang menjadi pemeluknya, maka semakin tinggi pula martabat agama itu sendiri,” tak bisa tidak persoalannya pada manusia. Hingga kemudian bisa terjadi fenomena, sebagaimana yang juga ditulis Gus Dur, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.” Karena katanya, agama tak boleh jauh dari kemanusiaan.

My religion is very simple. My religion is kindness, ujar Dalai Lama XIV, pemimpin spiritual dari Tibet (Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah kebaikan). Semua tradisi agama utama pada dasarnya membawa pesan yang sama, yaitu cinta, kasih sayang, dan pengampunan, kutbah Dalai Lama XIV berikutnya. Hal yang penting adalah hal-hal tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Sebagaimana diyakini Albert Einstein, fisikawan jabrik yang unik itu, “Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya - hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.” Dalam pandangan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, kekhalifahan pertama sepeninggal Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu’ allaihi wassallam, “Agama buat di akhirat, harta buat kehidupan di dunia. Di dunia orang yang tidak berharta berasa susah hati, tetapi orang yang tidak beragama merasa lebih sengsara.” Kenapa? Karena tidak ada penghiburan dan penguatan.

Jadi? Agama adalah pedoman, yang celakanya di dunia ini ada begitu banyak pedoman, sebagaimana dalam agama itu sendiri ada banyak ragam dan jumlahnya. Konon ada lebih dari 600.000 agama di dunia ini, bukan hanya 6 sebagaimana yang “boleh beredar” di Indonesia.

Karena itu, dengan keyakinan agama masing-masing, yang dengan dogmanya bisa membuat fanatisme penganutnya, hingga terjadi perang (atas nama) agama. Karena agama kemudian juga menjadi pegangan operasional ke luar, bukan lagi ke dalam (diri-sendiri) dalam proses internalisasi. Kemudian muncul menjadi bendera-bendera, lembaga-lembaga, komunitas-komunitas, ormas-ormas, dan jangan lupa donatur-donatur, anggaran dasar, proposal, beserta aksi demo ini-itu.

KTP Indonesia jaman dulu, tidak pakai kolom agama.
Sementara di sisi lain, dalam sebuah negara dengan penduduknya yang beragam, sebagaimana Indonesia (bedakan dengan yang homogen seperti di negara-negara Timur Tengah, yang pun hingga kini perang saudara atau perang atas nama agama terus gumyak meruyak), ada persoalan dengan yang disebut kepentingan nasional, atau kepentingan bersama, dan mau tak mau hal itu menuntut hukum-hukumnya sendiri.

Ada agama di luar agama yang perlu ditegakkan bersama. Agama sosial yang universal, atau social religion, untuk menciptakan ikatan kebangsaan, untuk mengkonkretkan hidup beragama itu sendiri, dan bukannya sebaliknya. Karena agama sebagai pedoman hidup (yang bukan satu-satunya), dalam pandangan Albert Einstein, sebagaimana kesenian dan ilmu-ilmu, berasal dari ranting pohon yang sama.

Oleh karenanya, fanatisme dalam agama, yang mestinya aturan internal, akan menjadi persoalan ketika ditawar-tawarkan, disodor-sodorkan, bahkan dipaksa-paksakan dalam intimidasi ke luar sebagai dogma. Di situ agama bisa penuh dengan ujaran kebencian dan hujatan pada liyan. Tanpa penghayatan dan logika yang lurus, agama menjadi alasan yang miskin untuk membunuh yang kaya, sebagaimana dikatakan Napoleon Bonaparte.

Dan dengan otoritasnya dalam menafsir Tuhan dan kesucian, di situ agama sering dipakai sebagai bunker, benteng perlindungan, bagi para koruptor, penganiaya gender, kaum rasis, dan mereka yang dengan bangga mengeksploitasi simbol-simbol keagamaan ke luar, bukannya ke dalam. Agama  bukan untuk eksplorasi diri, menuju proses pembelajaran akan nilai-nilai keluhuran manusia, tetapi dieksploitasi untuk kepentingan dan keuntungan yang manipulatif.

Dumeh sudah berhijab, orang nggak bakal curiga meski niatannya mencuri barang di minimarket. Dumeh sudah berhaji dan mimpin pondok, orang nggak bakal curiga kalau dia pelaku pedofilia atau manusia sadis, yang bahkan salah pun masih bisa ngancam-ngancam seorang Presiden. Apakah jika ngaku turun nabi boleh bertindak melanggar hukum bersama?

Kalau soal berkilah hukum langit, atau hukum Tuhan, kenapa hanya dia yang boleh menafsir? Memangnya Amien Rais mengetahui ada juga malaikat lainnya yang mendoakan Jokowi menang, dan Amien Rais kemudian bakal stroke? Siapa penista agama yang sebenarnya? Ialah mereka yang mendustakan agama untuk kepentingan remeh mereka, yang bertolak-belakang dengan bahasa kasih agama yang hendak ditebarkan.

Karena dalam tahap yang lebih pragmatis, dan kompromis, seperti ujar Voltaire, “Jika ditanya soal uang, setiap orang tidak akan berbeda agama!”

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...