Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 26, 2019

Kau Pikir Nadiem Akan Berdiri di Depan Kelas?



Para pendekar pendidikan dan kebudayaan, bisa dipastikan menyebut Nadiem Makarim sosok tak layak di posisi Kemendikbud. Bayangkan, pendidikan dan kebudayaan. Dua hal yang dibangga-banggakan oleh yang membanggakan. Karena yang tak membanggakan pastilah tidak bangga!

Biasanya para senior, memuja-muja pendidikan dan kebudayaan sebagai sesuatu yang sangat mulia. Karena itu disangar-sangarkan. Apalagi mereka yang berada dalam zona nyaman. Lebih-lebih mereka yang penggiat ‘proyek pendidikan’ dan ‘proyek kebudayaan’ yang akrab dengan ‘proposal pendidikan’ dan ‘proposal kebudayaan’.

Orang-orang itu, mungkin sebagian besarnya, bukan karena cemas betapa pendidikan dan kebudayaan akan hancur, karena dipegang anak bau kencur. Siapa sih Nadiem ini? Hanya karena sukses bikin aplikasi Go Jek? Itu sebagian kecil kekhawatiran. Kekhawatiran terbesar sesungguhnya, karena para pendekar pendidikan dan kebudayaan takut kehilangan lahan kosong yang selama ini dikuasainya.

Apa sih pemahaman kita tentang pendidikan? Menjadi pinter? Kemudian lulus sekolah dapat pekerjaan? Nggak juga. Bahkan sejak pendidikan dirumuskan Ki Hadjar Dewantara dan kawan-kawan. Atau oleh Kartini dan adik-adiknya, untuk para gadis-gadis kampung di sekitar istana. Tidak juga sebagaimana Bung Karno mengadakan ‘kursus politik’ bagi para perempuan, di beranda belakang Gedung Agung Yogyakarta, ketika Ibukota Republik berada di kota itu.

Yang ingin dilahirkan adalah manusia independent, merdeka dan berkarakter. Berdaya nalar, berpikir merdeka, mandiri, yang antara lain menjadikannya kreatif, inovatif, inisiatif. Tapi sejak kapan pendidikan, juga kebudayaan, justeru membelenggu manusia menjadi dependen? Tergantung pada sistem? Dari dulu demikian.

Ketika pendidikan dan kebudayaan disatukan dalam satu lembaga kementriaan, kita tak pernah melihat negara mengelola pendidikan dan kebudayaan dengan benar. Karena pendidikan dan kebudayaan, sama halnya agama, adalah sesuatu yang hidup di masyarakat suatu bangsa itu sendiri. Tak ada urusan dengan negara sesungguhnya. Karena bukti juga sudah nyata, ketika negara menguasai kurikulum, dan berbagai aturan yang dikendalikan, kualitas pendidikan (senyampang itu kebudayaan) kita, yang terasa adalah bangsa yang mengalami involusi pendidikan dan kebudayaan. Di mana kesalahannya?

Pendidikan hanya dimaknai dengan ‘sekolah’. Padahal, lembaga sekolah hanya terlihat bermanfaat ketika ia mengajarkan ilmu, bukan sekedar pengetahuan. Maka konsep link and match hanya cocok untuk sekolah khusus seperti SMK (Sekolah Menengah Khusus), bukan SMU (Sekolah Menengah Umum), atau ke lembaga perguruan tinggi, yang dibagi menjadi fakultas-fakultas, jurusan, atau program studi. Di situ seorang siswa, atau mahasiswa, ditempa dengan ilmu tertentu. Untuk kemudian masuk ke dunia kerja.

Sementara yang sekolah umum, atau drop out, apakah tidak bisa hidup? Atau tidak bisa pinter? Tetap bisa. Bahkan tak sedikit yang sukses, meski yang gagal juga banyak. Apakah karena berkait sekolah formalnya? Tak ada hubungan. Kesuksesan dan kegagalan ditentukan mentalitasnya, karakter pribadinya. Sama seperti lulusan SMK dan perguruan tinggi, juga belum tentu sukses hidupnya, meski jadi bintang pelajar dan punya keterampilan.

Lantas apa yang akan dilakukan Nadiem Makarim? Ada sisi lain yang selama ini kita abai. Membangun sistem pendidikan dan kebudayaan kita (sekiranya kebudayaan mengenal sistem). Yakni dari sisi manajemen atau pengelolaan. Nadiem saya kira oleh Jokowi akan lebih ditempatkan dalam konteks membangun infrastruktur pendidikan yang selama ini abai. Infrastruktur dalam konteks ekosistem. Sementara soal content, soal pendidikan dan kebudayaan, para pakar tak perlu kehilangan pekerjaan atau keahliannya. Tapi juga jangan suka mencak-mencak. Apalagi tak mau kompromi karena merasa paling pinter dan bener. Wong yang disebut guru pun, belum tentu ngerti apa perbedaan ilmu dan pengetahuan.

Sepandai-pandai Mendikbud kita, dari sejak Ki Hadjar Dewantara, Daoed Joesoef, Fuad Hassan, apakah kita puas dengan sistem pendidikan dan kebudayaan kita? Jujur sajalah! Kenapa? Banyak soal di situ. Sampai ketika kementrian itu kemarin dipisah, satunya adalah Kemenristek dan Dikti. Dengan anggaran puluhan trilyun setiap tahun, apa hasilnya? Menguap dalam spirit korupsi’isme. Hanya melahirkan kertas-kertas kerja, paper akademik. Tapi kagak ada hasil yang nyata. Contoh lain, kurang ahli pendidikan apa Anies Baswedan, yang dulu menginisiasi ‘Indonesia Mengajar’? Tapi kenapa dia sebagai Mendiknas kemudian dicopot oleh Jokowi? Karena apa? Dari catatan Sri Mulyani sebagai Menkeu waktu itu, lebih pada soal penggunaan anggaran yang tak proporsional.

Dalam praksisnya, dunia pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, ketika menjadi lembaga, tak luput dari spirit korupsi. Dulu Chairil Anwar pernah berkata, hidup hanyalah menunda kekalahan dari cinta sekolah rendah. Sekolah hanya sekedar agar kita punya status. Tetapi lulus sekolah, dan nggak bisa apa-apa, tetap jadi benalu, meneketehek. Yudhistira ANM Massardi, yang juga penyair, bahkan pernah menyodorkan pikiran keluar dari sekolah. Ngapain sekolah?

Di Jepang dengan kualitas SDM lebih bagus dari kita, beban pelajaran untuk para siswanya tak seberat anak-anak sekolah di Indonesia. Sampai kelas 3, anak-anak Jepang tak dapat banyak pelajaran. Mereka difokuskan untuk pendidikan etika dan karakter. Pada sisi lain, di Findlandia, yang konon mencontoh pola Ki Hadjar Dewantara, mereka belajar tentang kehidupan, TbL (Think by Logic). Sama sekali tak ada mata pelajaran agama di sekolah. Agama adalah urusan privat. Dan kalian, hai para ahli pendidikan dan kebudayaan, bisakah melawan absolutisme pandangan yang mencokok kepala kita selama ini? Bahkan sebagian kenyataannya, tak hanya takut dituding kafir, tapi malahan ikut nuding-nuding kafir pada yang tak sejalan. Bagaimana mungkin sekolah formal jadi sumber mekarnya radikalisme (atau puritanisme) agama?

Orang terdidik adalah yang siap berubah. Tapi meski ngomong soal nilai pendidikan dan kebudayaan, jika merasa paling bener sendiri dan suka melecehkan liyan, itu contoh orang tak berpendidikan dan berkebudayaan. Sekarang ini, mending negara mau mengakui sistem pendidikan out-schooling atau home schooling (meski jika memerlukan sertifikasi negara dimungkinkan mengikuti sistem Ujian  Akhir Nasional yang diselenggarakan negara).

Kini banyak persekolahan alternative, dalam berbagai bentuk, yang diadakan di luar sekolah formal negara. Mengapa kita tak mempertanyakan? Apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita? Karena apa? Apalagi pada kenyataanya, guru yang brengsek juga ada. Sebagaimana siswa sebuah sekolah formal, juga bisa menusuk gurunya hingga tewas.

Terus kita sangka, Nadiem Makarim akan berdiri di depan kelas, mengajari murid-murid untuk membuat aplikasi? Atau membuat meme tentang kebudayaan, sebagaimana di medsos kini banyak yang menghina-dina mantan CEO Go Jek ini? Pantes saja pendidikan dan kebudayaan tak menjadi basic nilai, lha wong para stakeholder-nya juga tak memperlihatkan sebagai manusia terdidik dan berbudaya.

Ki Hadjar Dewantara bersesanti untuk para pendidik, dengan budaya 'ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangunkarsa, tut wuri handayani'. Memahami artinya? Nadiem Anwar Makariem justeru telah dengan bagus menerapkannya, dengan apa yang sudah dilakukannya. Ini soal mindset, dan kalian pura-pura nggak ngerti soal revolusi mental itu kayak apa. | @sunardianwirodono


Selasa, September 04, 2018

Partai Emak-emak, Mendongenglah untuk Perubahan

Kaum ibu dan anak-anak, adalah kunci perubahan. Dengan cara terlibat politik praktis? Tidak! Sesuai marwah kaum ibu, bukan pada ranah ‘revolusioner’ melainkan ‘evolusioner’, yakni pendidikan sebagai jalan tumbuhnya peradaban.

Pada masa kini, jargon negara makmur karena kekayaan sda (sumber daya alam), sudah bukan jamannya lagi, jika bukan klaim yang menyesatkan. Apalagi, ketika sda habis dan hancur, karena sdm (sumber daya manusia) yang salah urus, salah kelola, salah niatan, hingga habis, dan generasi berikutnya tak kebagian apa-apa. 

Lahirnya negara miskin, antara lain juga karena kualitas sdm yang rendah, juga daya literasi rendah. Akibatnya pada daya imajinasi dan kreativitas yang rendah. Hingga semua itu berujung pada produktivitas, partisipasi, dan daya saing, yang juga rendah.




Dari sekian data indeks prestasi negara-negara makmur, ukurannya adalah kualitas sdm. Jepang dan Swiss contohnya. Jepang 80 persen pegunungan. Tak cocok untuk pertanian. Tapi negara ini mengimpor bahan mentah dari seluruh dunia, dan mengekspor produk manufaktur ke seluruh dunia. Swiss lebih ekstrim lagi, tidak menanam cokelat tetapi menghasilkan cokelat terbaik dunia. 

Darimana semuanya itu? Dari indeks prestasinya yang bertumpu pada kualitas manusia, sdm-nya. Individu yang berkarakter, mandiri, punya daya literasi dan imajinasi. Dari sana lahirlah kreativitas, inovasi, sampai kemudian inisiasi, kreasi, dan partisipasi. Semua dibangun dari proses pendidikan dan kebudayaan.

Kekuatan sebuah bangsa bergantung pada integritas rumah tangganya, berkata Konfusius. Bagi filsuf China yang hidup 500 SM ini, “Guna mengatur dunia, pertama-tama kita harus mengatur bangsa. Mengatur bangsa, pertama-tama kita harus mengatur keluarga. Mengatur keluarga, pertama-tama kita harus mengembangkan kehidupan pribadi kita; yakni pertama-tama kita harus menempatkan hati kita secara benar.”

Nusantara Raya ini kaya dengan sumber daya literasi yang luar biasa, yang akan menjadi sumber referensi bagi pengayaan generasi. Kita mulai dengan yang kecil, dengan “Seharian Jakarta Mendongeng”, yang diselenggarakan Lembaga Seni & Sastra Reboeng bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional R.I., di Gedung Perpusnas Jakarta, 28 Oktober 2018, dari sejak jam 08.00.

Anda bisa berperanserta dalam gerakan-gerakan kecil ini, menuju gerakan yang lebih besar lagi. Menjadikan Indonesia mendongeng Mendongeng, untuk tumbuhnya karakter baru bagi generasi baru Indonesia. Generasi yang tak pesimistis, yang siap berubah, yang berbeda-beda tetapi dalam kebersamaan dan persaudaraan.

Dari dalam rumah kita, kita mulai evolusi mental itu. Bukan revolusi mental. Sesuatu yang kecil, keseharian, tetapi nyata. Mendongeng pada anak-anak kita, berkomunikasi lintas generasi. Mulailah dari dongeng, karena menurut HC Andersen, “Hidup itu sendiri adalah dongeng yang menakjubkan.” Dan setiap manusia, dilahirkan sebagai pendongeng.

Selasa, Agustus 28, 2018

Mendongenglah. Karena Dongeng adalah Cinta Kasih Lintas Generasi.


Masyarakat Kita Memandang Dongeng. Dongeng adalah medium terindah dalam tradisi lisan Nusantara, demikian tulis Pramoedya Anantara Toer (1925 – 2006), mengantar buku ‘Dongeng Calon Arang’.

Tapi medium yang indah itu, sama sekali tak terpetakan secara memadai dalam dunia literasi kita. Setidaknya, demikian yang banyak muncul dalam teks para novelis kita.

Beberapa ‘pernyataan’ novel-novel anak muda menyebut begini; “Ini cuma kisah dongeng. Mana ada dongeng yang bisa menjadi kenyataan?” demikian Monica Anggen dalam novelnya Be Mine. Makanya, Dyah Rinni dalam Beautiful Liar, menulis: “Kancil itu kan salah satu binatang paling terkenal dalam dongeng rakyat Indonesia tetapi kenapa nggak ada yang menjual kancil? Gimana orang mau kenal kancil coba?”

Bagaimana coba? Atau dalam analogi Lia Indra Andriana, “Itik buruk rupa yang berubah menjadi angsa hanya terjadi di negeri dongeng. Gadis biasa yang terlihat cantik saat memakai gaun bagus juga hanya terjadi di dalam film. Dalam kehidupan nyata, gaun bagus tidak selamanya bisa mengubah seseorang menjadi Cinderella,” (Paper Romance).

Dongeng secara pasti dibedakan dengan dunia nyata, bahkan digambarkan sebagai sesuatu yang mungkin menyebalkan, seperti tulis Sam dalam novel Catatan Akhir Kuliah; “Mungkin ini sebabnya banyak mahasiswa yang asyik tertidur di kelas karena kebanyakan dosen yang mengajar hampir persis kayak membaca buku dongeng.”

Tampaknya, dongeng juga sering jadi bak sampah, untuk gambaran pengalaman buruk manusia. Seperti tulis Winna Efendi dalam novel Happily Ever After; “Cinta tidak seperti dongeng yang selalu berakhir bahagia.” Dan ini diperkuat dengan pernyataan novelis senior sekelas Mira W., dalam novel Cinta Cuma Sepenggal Dusta, “Cinta sejati cuma ada dalam dongeng.”

Bahkan Dewi Lestari alias Dee yang sohor itu, menulis dalam Perahu Kertas, “Betapa ironisnya realitas saat harus bersanding dengan dunia dongeng.” Maka, kembali kita kutip bagaimana Winna Efendi mengambil kesimpulan, “Untukmu yang mencintai dongeng, biarkan mimpimu tetap hadir, jangan biarkan dunia menghalangimu. Sebab kadang, saat kenyataan terlalu pedih untuk ditanggung, cerita tentang Pangeran, Ksatria, dan sihir akan membuatmu bertahan dan percaya bahwa hidup selalu menyimpan keajaiban.”

Tanpa tedeng aling-aling, dalam novel Erstwhile: Perserkutuan Sang, Joseph Rio Jovian Haminoto memvonis: “Seharusnya kamu tidak percaya akan indahnya dongeng.”

Apakah ini suatu masalah? Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, memang masalah. Definisi dongeng memang tidak indah. Buku rujukan kita dalam berbahasa yang baik dan benar itu, mendefinisikan dongeng sebagai berikut: (1) cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Contoh: 'anak-anak gemar mendengarkan dongeng Seribu Satu Malam', dan (2) perkataan (berita dan sebagainya) yang bukan-bukan atau tidak benar (kata kiasan). Contoh: 'uraian yang panjang itu dianggapnya hanya dongeng belaka'.

Dalam uraian tentang mendongeng, KBBI menjelaskan: (1) menceritakan dongeng,
contoh: 'Nenek pandai mendongeng tentang raja-raja zaman dahulu'
. (2) mengatakan yang tidak benar; berdusta, contoh: 'aku bukan mendongeng, melainkan menceritakan kejadian yang sebenarnya'.

Bahkan dalam definisi Paulo Coelho, dituliskannya, bahwa: “Pada setiap saat dalam hidup kita, kita semua memiliki satu kaki dalam dongeng dan yang lainnya di jurang.” Seolah dongeng adalah sesuatu yang buruk, sangat buruk, justeru karena bukan merupakan fakta sebenarnya.

Dalam The Lion, the Witch and the Wardrobe, C.S. Lewis (1898 – 1963) memposisikan dongeng sebagai sesuatu yang berkait masa lalu. Kenangan lama, atau kenangan masa bocah. Some day you will be old enough to start reading fairy tales again, tulisnya. Suatu hari, kamu akan menjadi tua dan mulai membaca cerita dongeng lagi. Padahal, Hans Christian Andersen, si bapak dongeng dari Odense, Denmark, menyatakan, “Hidup itu sendiri adalah dongeng yang menakjubkan.”

Jika kita kaitkan dengan  pernyataan Pramoedya di awal tulisan, tampaknya ada yang salah dalam kita memposisikan dongeng, justeru jika kita kaitkan dengan aspek kemanfaatannya. Dongeng, mungkin memang fiksi, bukan fakta. Tetapi apakah kemudian tidak bermakna? Atau bahkan tidak bermanfaat?


Fiksi dan Fakta dari Kisah Nabi Ibrahim. Jika kita mengacu pada pernyataan Pram, dikaitkan tingkat literasi bangsa Indonesia yang masih rendah, di peringkat 60 dari 61 negara. Nomor dua dari bawah, di atas Botswana dan di bawah Thailand. Hal itu hanya menunjuk sebuah pertanda, bahwa kita tak pandai dalam mengenali jati diri kita. Termasuk dalam menempatkan dongeng.

Di Nusantara Raya ini, ada begitu banyak dongeng, legenda, hikayat, dan berbagai cerita rakyat yang tumbuh, sebagai bentuk sastra lisan yang kaya. Namun ibarat mutiara di dasar telaga, ia tertutupi permukaan kenyataan yang tak memiliki cerminan atau perbandingan.

Kemampuan literasi, dalam suatu masyarakat, adalah salah satu kebutuhan yang sangat penting dimiliki setiap orang. Di mana pentingnya? Pada saat antara manusia yang satu dan lainnya berkomunikasi dan berinteraksi. Dalam konstruksi bangunan sosial masyarakat kita, di situ kelemahan kita seolah tak punya pola atau pegangan, dalam membangun tata sosial kehidupan masyarakat.

Literasi kita tahu adalah proses membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, melihat dan berpendapat (seperti kita kutipkan dalam buku Kuder dan Hasit, 2002). Literasi secara umum didefinisikan sebagai kemampuan membaca dan menulis serta menggunakan bahasa lisan. Yang semua itu adalah piranti-piranti penting dalam membangun konstruksi sosial kita, apalagi dalam konteks berbangsa dan bernegara, karena heterogenitas masyarakat.

Meski dengan sudut pandang berbeda, tak sebagaimana Rocky Gerung mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi, kitab-kitab suci agama Semitik juga lebih banyak disampaikan dengan cerita. Lepas dari fiksi atau bukan, pandangan Kierkegaard menarik untuk diperbandingkan di sini.

Kisah-kisah Nabi Ibrahim (Abraham), bapak tiga agama semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam), nyaris tak masuk akal, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab suci tiga agama itu. Tapi bagi filsuf Denmark, Soren Aabye Kierkegaard (Kopenhagen, 1813 – 1855), hal itu ditelaah menarik. Bahwa tradisi keagamaan yang dibangun Ibrahim, seolah ingin menunjukkan yang tak masuk akal itu bisa terjadi. The impossible is possible itu terdapat baik dalam Perjanjian Lama yang menjadi sumber utama seluruh kisah mengenai nabi-nabi bangsa Israel, Perjanjian Baru, maupun dalam Alquran.

Jika Nietzsche mengatakan Tuhan telah mati, maka dalam simbolisme kisah Ibrahim, tokoh yang dikagumi Kierkegaard, manusialah yang telah mati. Kematian manusia disusul kebangkitan kembali dalam bentuk kehidupan baru. Di situ makna kebangkitan dalam pemikiran Kierkegaard, yang menyatakan Ibrahim memiliki tingkat religiusitas yang amat kuat.

Kita sering melihat manusia religius memiliki sikap yang dianggap aneh, nyentrik, tak masuk akal atau bahkan gila. Hal ini disebabkan nilai-nilai religius bersifat murni subjektif, dan paradoksal. Dalam penilaian tentang Tuhan, misalnya, jika Tuhan ada dan mahasempurna, kenapa membiarkan adanya kejahatan? Kierkegaard mengatakan paradoks Tuhan bukan sesuatu yang bisa dipikirkan secara rasional.

Sosok Nabi Ibrahim menurut Kierkegaard, telah masuk dalam tahap religiusitas ini. Menurutnya, Ibrahim telah lulus dalam mempertahankan keyakinan subjektifnya berdasarkan iman. Ibrahim bersedia mengorbankan Ismail, anaknya, atas dasar keyakinan pribadi bahwa Tuhan memerintah untuk mengorbankan anaknya itu.
Hidup dalam Tuhan, bagi Kierkegaard, adalah hidup dalam subjektivitas transenden. Tanpa rasionalisasi dan ikatan duniawi. Subjektivitas yang hanya mengikuti jalan Tuhan. Tak terikat nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal (etis), maupun tuntutan pribadi, masyarakat atau zaman.


Imajinasi dan Tumbuhnya Nalar. Tumbuhnya manusia berkarakter, individu yang kuat dan mandiri, adalah apa yang dikatakan Sukarno dengan imagination, imagination, imagination. Betapa bangsa Indonesia yang semeter kurang sedepa itu, bisa menghasilkan Borobudur. Di situ betapa pentingnya imajinasi. Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere, sebagaimana kata Albert Einstein. Nalar hanya akan membawa anda dari A menuju B, namun imajinasi mampu membawa anda dari A ke manapun. Apa pentingnya jika nalar membawa kemana pun, dibandingkan hanya terbatas sampai Z saja?

Peradaban yang tumbuh adalah akibat dari manusia yang ter-eksplorasi dan bukannya yang ter-eksploitasi. Dongeng berada dalam sisi ini, bagaimana mengeksplorasi pemikiran manusia, agar tidak stagnan, mandeg, sehingga terjadi involusi kebudayaan yang mengakibatkan peradaban juga mandeg.

Dalam pemikiran Kierkegaard yang penting, untuk menjadi seorang beriman tak cukup. Kita adalah pribadi independen, dan bukan kumpulan masa. Perubahan dimulai dari diri sendiri, bukan dari institusi. Di sana akan tumbuh apa yang dinamakan inspirasi, inisiasi, motivasi, yang akhirnya menumbuhkan partisipasi dalam intersubjektivitas, pemikiran aksersif dalam interaksi sosial dimana peradaban manusia tumbuh dan berkembang.

Dalam konteks ini, kembali pada pemikiran Pramoedya, bahwa dongeng adalah medium yang indah dalam tradisi lisan Nusantara, dan seperti juga pernyataan HC Andersen, bahwa kehidupan itu sendiri adalah dongeng yang menakjubkan; Kita tak bisa mengabaikan dongeng, sebagai titik awal keberangkatan, untuk melakukan transformasi sosial masyarakat Indonesia, yang selalu berada dalam perubahan.

Kenyataan-kenayataan sosial kita hari ini, adalah tumbuh suburnya pragmatisme yang bersifat materialistik. Segala sesuatu hanya diukur dari aspek kemanfaatan verbal. Sehingga tidak memberi ruang pada imaji, kreativitas, serta daya nalar. Bahkan jika kita kembali pada kritik Dick Hartoko, di awal dekade 70-an, negara kita ini, “terlalu sibuk dengan membangun dunia baru. Tangan-tangan kita tidak pernah diam, selalu sibuk bekerja.” (Keadaan Senggang Dasar Kebudayaan, Basis, 1972).

Beberapa pertanyaan Dick Hartoko waktu itu, “… bukankah pula rumah baru itu kita ingin bangun menurut tradisi asli masing-masing bangsa, sesuai dengan kepribadian kita, setia kepada sumber-sumber kebudayaan yang paling aseli, sehingga berakar dalam alam kodrat manusia? Nah, salah satu dasar sendi kebudayaan, baik di Timur maupun Barat, adalah keadaan senggang.”

Apa itu keadaan senggang? Bahkan dalam teori metafisika yang disinggung Aristoteles pun, keadaan senggang ialah penting. Keadaan berjarak, menarik diri dari kenyataan-kenyataan, fakta-fakta, segala yang eksak. Bahkan secara etimologis, Dick Hartoko menyebutkan keadaan senggang itu dalam bahasa Yunani disebut ‘skole’, dalam bahasa Latin ‘scola’, dan dalam bahasa Indonesia sekolah. Istilah yang kita pergunakan untuk menunjukkan tempat pendidikan dan pengajaran, yang berasal dari sebuah kata yang berarti senggang.

Senggang bukan luang, sebagaimana imajinasi bukan berarti ngayawara alias melamun kosong. Senggang adalah sikap jiwa, sikap spiritual yang tak semata-mata diakibatkan faktor-faktor eksternal, seperti misalnya waktu terluang, hari libur atau week-end. Senggang merupakan suatu sikap jiwa dan berlawanan dengan sikap krida, hanya mementingkan segala yang bersifat lahir, fisik. Senggang adalah sikap retret, perenungan kembali akan nilai-nilai hakiki. Dalam senggang terjadi perenungan, terjadi proses internalisasi yang penting untuk menatap ke depan.

Begitu tak berjaraknya manusia dengan kenyataan-kenyataan sosial (dan politik) kita dewasa ini, memudahkan manusia diombang-ambingkan dongeng-dongeng baru, yang sama sekali tidak dimengerti. Bahkan, dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, medsos, betapa manusia mudah menyatakan menolak hoax, namun senyampang itu mereka hanyut secara tak sadar ikut menyebar-luaskan hoax. Nalar lumpuh, imajinasi lumpuh, yang akibatnya daya kritis juga lumpuh.

Jika orang dewasa bisa melakukan retret dengan me-refresh masa lalu dan pengalaman-pengalaman hidupnya, maka anak-anak yang tumbuh akan juga bisa merefresh pengalaman-pengalaman imajinatifnya, ketika berhadapan dengan kenyataan dan pertumbuhan psikologis dan biologisnya.

Di situlah dongeng menjadi sesuatu yang secara fungsional tak bisa diabaikan. Bahkan meski pun dongeng selama ini seolah dikhususkan bagi anak-anak, sebagaimana CS Lewis menyamakan dongeng adalah masa lalu. Betapapun, masa lalu justeru perlu ditengok sebagai perbandingan, bahan refleksi, mundur untuk maju. Artinya, orang dewasa atau tua pun, juga memerlukan dongeng-dongeng, sebagaimana HC Andersen mengatakan bahwa hidup itu sendiri adalah dongeng yang menakjubkan.

Persoalannya kemudian, apa itu dongeng? Apa manfaatnya? Dan bagaimana dongeng itu didongengkan? Pada jaman kini, dongeng tak sebagaimana dalam gambaran romantik kita. Disampaikan oleh seorang nenek atau kakek pada cucunya, atau oleh seorang ibu kepada anaknya, menjelang tidur.


Dongeng Masa Kini dan Manfaatnya. Dongeng pada masa kini ada begitu banyak ragamnya, sesuai perkembangan jaman. Dongeng kini bisa disampaikan kapan saja, tak selalu malam. Bahkan dalam berbagai bentuknya, tak hanya diceritakan secara langsung, melainkan juga dalam bentuk buku, bahkan secara audio-visual dalam film animasi, atau live-action di berbagai wahana mainan anak-anak dan special events.

Walaupun terlihat sederhana, anak-anak biasanya sangat serius mendengarnya, jika ceritanya menarik. Tentu saja, menyampaikan dongeng yang menarik kepada anak membutuhkan keterampilan khusus. Hal tersebut penting karena dengan memilih dongeng yang isi ceritanya bagus, akan tertanam nilai-nilai moral yang baik. Pendongeng yang baik akan selalu memberi ruang interaksi, dengan pendengar dongengnya, sehingga nilai-nilai yang ingin disampaikan secara induktif bisa lebih dimengerti atau terserap.

Dongeng yang baik juga mampu mengembangkan daya imajinasi anak, yang akan berperanan dalam perkembangan logika, daya nalar, kecerdasan tetapi juga sekaligus emotion inteligentia-nya. Dengan mendongengkan secara auditif, anak-anak akan terbiasa berimajinasi, memvisualkan sesuatu dalam pikirannya, untuk menjabarkan atau menyelesaikan suatu permasalahan.

Anak-anak yang terbiasa mendengar dongeng, biasanya bertambah perbendaharaan kata, ungkapan, watak orang, sejarah, sifat baik-buruk, teknik bercerita, dan lain sebagainya. Berbagai materi pelajaran sekolah pun, bahkan bisa kita masukkan pelan-pelan di dalam dongeng untuk membantu memahami pelajaran yang diberikan di sekolah.

Sisi lain dari itu semua, dongeng mampu untuk meningkatkan kreativitas anak. Kreatifitas anak bisa berkembang dalam berbagai bidang, jika dongeng yang disampaikan dibuat sedemikian rupa menjadi berbobot. Sah-sah saja apabila ingin menambahkan isi cerita dengan bumbu-bumbu, selama tidak merusak jalan cerita, sehingga menjadi aneh tidak menarik lagi.

Dan yang tak bisa dibantah, jika terjadi interaksi antara orangtua dan anak dalam mendongeng, secara tidak langsung akan mempererat tali kasih sayang. Selain itu tertawa bersama-sama juga dapat mendekatkan hubungan emosional. Pada sisi itu, dongeng menjadi media atau alat untuk menghilangkan ketegangan atau stress.

Dongeng merupakan sastra lama, yang menceritakan kejadian fiksi dengan tujuan untuk memberikan hiburan serta nilai pendidikan. Jika selama ini kita mengenal dongeng dengan isi cerita yang berkisah tentang tentang suatu kejadian luar biasa, penuh khayalan (fiksi), dan dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tak benar-benar terjadi, bukan berarti ia kemudian menjadikan anak-anak seorang pengkhayal atau pelamun.

Kembali lagi pada soal imajinasi yang disinggung Bung Karno, dan juga Einstein atau Rama Dick Hartoko, yang kemudian juga disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dalam konsep pendidikan ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’. Di depan memberikan teladan (kebaikan), di tengah membangun semangat, dan di belakang mendukungnya (memberi restu), dengan mendirikan sekolah Taman Siswa pada waktu itu.

Ada begitu banyak jenis dongeng, yang memberi ruang sangat leluasa untuk terjadi interaksi antarmanusia dan antargenerasi. Ada (1) fabel, dongeng binatang sebagaimana Dongeng Kancil. (2) Legenda, yang menceritakan peristiwa berhubungan dengan keajaiban alam, seperti Legenda Gunung Tangkuban Perahu. (3) Mite yang menceritakan tentang hal-hal gaib (animisme) seperti dewa-dewa, peri, dan mahluk halus. (4) Sage menceritakan suatu tokoh yang biasanya berkaitan dengan sejarah (biasanya menyebar dari mulut ke mulut, sehingga lama-kelamaan terdapat tambahan cerita yang bersifat khayal). (5) Parabel, dongeng yang mengandung nilai-nilai pendidikan atau cerita pendek dan sederhana, yang mengandung hikmah yang digunakan sebagai pedoman hidup, seperti Malin Kundang. Dan lain-lain bentuk cerita seperti cerita jenaka, cerita pelipur lara, cerita perumpaan, dan bahkan mungkin dongeng-dongen kreasi sendiri, yang sama sekali baru. Karena di dalam dongeng itu unsur terpenting ialah kemampuan story telling. Menuturkan cerita, apapun bentuk dan isinya. Sebagaimana di Inggris, pernah terjadi seorang ayah membuat dongeng sayur, dengan menata aneka sayuran, untuk memotivasi agar anaknya mau mengkonsumsi sayur.

Situasi sosial-kemasyarakatan kita hari-hari ini, bisa jadi mencemaskan, karena kita terbelah oleh persoalan-persoalan politik, yang sesungguhnya tidak secara langsung bersinggungan dengan kita. Tetapi dominasi perbincangan kita, yang dipenuhi isu-isu sosial-politik, membat kita sangat tidak berjarak, dan bahkan sangat terlibat, sehingga toleransi kita pada perbedaan (yang memang belum terlatih), menjadi semakin tipis. Kita cenderung intoleran dan mudah menistakan liyan. Apalagi, fakta sosial juga menunjukkan, bagaimana anak-anak pun terseret, dan diseret, pada masalah-masalah yang belum semestinya menjadi ranah emosi mereka.

Maka jika kita mengidealkan bahwa bangsa ini perlu melakukan transformasi sosial, revolusi atau evolusi mental, gerakan mendongeng pada generasi kini, menjadi alternatif untuk turut mewarnai bagaimana peradaban dikembalikan pada jalurnya. Ialah tumbuhnya individu yang berkarakter.

Inisiatif Lembaga Seni dan Sastra Reboeng menyelenggarakan “Seharian Jakarta Mendongeng” pada 28 Oktober 2018, di Perpustakaan Nasional R.I., Jakarta, semoga dalam rangka mengapa dongeng perlu hadir dalam kehidupan manusia, dan terutama manusia Indonesia.  

Kita sesungguhnya tak hanya memerlukan Jakarta yang seharian mendongeng. Apalagi jika dongeng-dongengnya hanyalah merupakan isu-isu recehan, entah itu yang bernama ganti Presiden, penistaan agama, dongeng korupsi, ketidakbanggaan pada perolehan emas para pejuang kita di Asian Games 18, dan sejenisnya. Tetapi lebih dari itu, kita memerlukan Indonesia mendongeng sepanjang waktu, sebagaimana nilai-nilai baik dan mulia harus terus dikumandangkan, dari generasi ke generasi.  

Pada hakikatnya dongeng bukan hanya sekedar bagian dari karya sastra lisan. Dan mendongeng juga bukan hanya merupakan tradisi lisan sastra kita. Dongeng, juga mendongeng, adalah bagian dari kasih sayang lintas generasi, untuk menjaga dan menumbuhkan peradaban. Sebagai bagian dari karya sastra, tentu dongeng memberi nilai tersendiri bagi kehidupan lintas generasi, baik anak maupun orangtua. Umar bin Khattab berpesan, “Ajarilah anak dengan sastra. Dengan sastra, akan memperhalus budi pekerti dan anak yang takut akan menjadi pemberani.”

Bukankah sebagaimana dikatakan Robin Moore, penulis, “Di dalam diri kita masing-masing, adalah pendongeng yang terlahir alami, menunggu untuk dilepaskan."

Maka, mendongenglah. 

 



Lima Manfaat Dongeng menurut Mark Greenwood, penulis buku anak dari Australia:

1. Mengasah Imajinasi. Saat mendengarkan dongeng, otak akan membayangkan setiap tokoh dan tempat yang ada di dalam cerita. Nah, saat kita membayangkan tokoh dan tempat, imajinasi kita sedang diasah secara tidak langsung.

2. Lebih Kreatif. Saat berimajinasi, kita pasti akan memberikan warna pada tokoh imajinasi tersebut. Proses pemberian warna pada tokoh imajinasi itu bisa membuat kita lebih kreatif. Semakin kuat imajinasi, maka tingkat kreatifitas kita pun akan semakin meningkat.

3. Gemar Membaca. Selain mengasah imajinasi dan meningkatkan kreatifitas, dongeng juga bisa membuat kita gemar membaca. Saat mendengarkan dongeng, kita akan penasaran dengan keseluruhan cerita atau hal lain yang berkaitan dengan dongeng tersebut. Jika kita sudah penasaran, kita pun akan mencari buku dan berbagai sumber yang berkaitan untuk mengatasi rasa penasaran tersebut.

4. Mengasah Cara Berkomunikasi. Dongeng juga bisa mengasah cara kita berkomunikasi. Saat mendengarkan dongeng atau mendongeng, akan ada interaksi antara dua orang atau lebih. Secara tidak langsung, hal itu membuat kita tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan nyaman.

5. Mengasah Kemampuan Menulis. Seseorang yang suka dengan dongeng biasanya punya imajinasi sendiri. Imajinasi itu biasanya disalurkan dalam sebuah tulisan. Saat imajinasi dibuat menjadi sebuah tulisan, kita akan berusaha memilih kata yang bagus dan enak untuk dibaca. Jadi, secara tidak langsung, kita sudah mengasah kemampuan menulis kita.

Selasa, Agustus 07, 2018

Belajar dari Para Empu

“Orang goblog sulit dapat kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblog mempekerjakan orang pintar,” demikian Bob Sadino (1933 – 2015) mengutarakan salah satu ilmunya. 

Di mana ilmunya? Ketika ia katakan ‘saat ia buka usaha sendiri’. Kalau kita hanya melihat ‘saat bisnisnya berkembang, orang goblog mempekerjakan orang pintar’, kita hanya tersepona pada yang dinamakan hasil, out put, atau buah dari usaha. 

Mungkin Bob Sadino sedang menceritakan dirinya sendiri, dan orang selalu takjub melihat bagaimana eksentriknya Bob. Dengan celana pendek dan baju lengan pendek kutung, ia bisa beranjangsana dengan Presiden Soeharto, meski bagian protokoler istana semula mensyaratkan dresscode yang standar. Dan seterusnya, cerita-cerita sejenis itu bisa dijumpai. 

Di Bekasi, terdapat pengusaha donat yang menjadi pesaing serius Dunkin Donat. Donat dari Bekasi ini, tiap pagi subuh sudah nangkring di warung-warung kecil seantero Jakarta dan Bekasi, di kampung-kampung. Harganya jauh lebih murah dibanding DD tentu, tetapi rasanya relative sama. Kelembutannya, teksturenya, juga tampilannya, tak jauh beda. Bedanya, harga jauh lebih murah. Pagi-pagi tanpa susah, tak perlu ke mall atau jalan raya, berada di dekat rumah, mudah dijangkau meski baru bangun tidur dan belum cuci muka. 

Pemilik usaha donat dari Bekasi ini, lulusan SD, tetapi dua tenaga andalannya, tenaga marketing dan chef masaknya, lulusan perguruan tinggi. Ada yang aneh? Tidak jika kita jeli melihat secara proporsional. Si pengusaha donat Bekasi ini mempunyai formulasi ilmu yang bisa jadi tak dapat ia jabarkan, tetapi memenuhi syarat dalam hal memenangkan kompetisi dari segi kualitas barang dan strategi marketing. 

Itu sama halnya dengan Burger Mblenger dengan daging dan bumbu lokal. Juga Burger Edam punya Pak Made dijajakan dengan gerobak masuk ke kampung-kampung Jakarta. Jadi, kata goblog yang disampaikan Bob, hanyalah karena (mungkin) bentuk kerendahatian, yang bisa jadi barulah dapat terbaca jika kita ngangsu kawruh, belajar, dengan magang kerja padanya. 

Cara belajar pada para Empu di jaman dulu, ialah diam memperhatikan segala taksu sang Empu. Sebagaimana Nabi Khidir mengajari kesabaran pada Musa, dan Musa tak sabar dengan pertanyaan-pertanyaan, dan akibatnya fatal karena kemarahan sang empu. 

Ketika dulu saya menjadi wartawan, mewawancarai beberapa tokoh yang mempesona, seperti para dalang wayang kulit Ki Gito Wates, Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Kembar Gito-Gati dan lain sejenisnya, mereka belajar dari para gurunya dengan diam. Sejak kecil mereka menyimak solah-tingkah, dan praktik mendalang. 

Proses transformasi ilmu berjalan intens melalui hidup keseharian dan praktik mendalang. Proses belajar dilakukan dengan njinggleng, memperhatikan dengan tingkat intensitas yang dalam, kusyu’. Padahal, bisa jadi tak ada dialog antara guru dan murid di situ. 

Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving, berkata Mbah Kyai Albert Einstein. Hidup itu seperti bersepeda. Kalau kamu ingin menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus bergerak maju. Sementara menurut Pak Sudjojono, pelukis yang pernah jadi anggota DPR fraksi PKI, naik sepeda itu tak ada teorinya. 

Menjaga keseimbangan itu, ialah proses intensi dalam pembelajaran, terus-menerus, tanpa henti, tekun, penuh cinta. Tapi, lalu bagaimana dengan urip mung mampir ngombe? 

Boleh saja. Cuma hati-hati, untuk turun dari sepeda yang kita gowes, juga ada teorinya agar kita tidak jatuh. Jangan seperti teori Pak Hardjo Gepeng dalam cerita Dagelan Mataram ‘Basiyo Mbecak’, bisa naik tak bisa turun. 

Akibatnya, ia mesti mencari tumpukan pasir, agar bisa menjatuhkan diri dari sepeda dengan aman. Betapa susahnya bukan? Bukan!

Senin, Agustus 08, 2016

Indonesia Bermedsos


Apakah yang bisa membuat kita berhubungan, berkomunikasi, berteman, atau sebaliknya, bermusuhan, di dunia maya (dunia maya yang dimaksudkan tentu, ketika kita bisa ‘bertemu’ tidak secara fisik, melainkan menggunakan perantara media komunikasi), seperti medsos?

Jawaban sementara: Bisa jadi kesamaan. Entah itu kesamaan pikiran, kesukaan, minat, partai, ras, profesi, atau kepentingan yang bisa dipertemukan dari hal itu. Maka tak heran, meski belum pernah bertemu fisik, berjabat tangan, beradu muka, kita bisa temenan atau berantem.
Kita tidak berada dalam jaman ketika Zhuang Zi, filsuf dari China, mengatakan; Kodok di dasar sumur tidak bisa diibaratkan sebagai laut, ulat di musim panas tidak bisa diibaratkan sebagai es. Mungkin mirip banyak rumput belukar di dalam hatinya, seperti kata Mark Zuckerbergh, mereka enggan membuka hati agar bisa menerima sinar matahari yang begitu elok.

Saat ini zaman internet. Walapun ulat musim panas belum pernah merasakan musim dingin, kita bisa menggunakan teknologi untuk membuat mereka merasakan musim dingin. Begitupun kodok yang belum pernah melihat lautan, kita mampu membuat mereka merasakan seperti apa lautan. Saat ini berbagai hal dapat diwujudkan dengan teknologi.
Tapi Mark hanya melihat kebisaan teknologinya, belum pada persoalan tingkat akselerasi penggunanya. Kalau melihat proses perubahan sosial di lingkungannya, wajar Amerika bisa melahirkan medsos bernama fesbuk, atau apalah. Tapi di Indonesia? Fesbuk adalah medsos yang lahir sebagai produk pakai dengan latar belakang sejarah yang beda di Indonesia. 

Orang Indonesia suka ngerumpi, bergosip, mungkin Mark benar dan optimis dengan pasar medsos di Indonesia. Apalagi Negara dengan 250 juta manusia yang sangat beragam budayanya, tingkat ekonominya, pendidikannya, dan sebagainya. Kenapa lalu-lintas di Jakarta macet? Hanya karena over-loaded? Bagaimana tingkat kesadaran pengguna, tingkat ketaatan aturan untuk kepentingan bersama? Pelanggar di sini bisa mengatakan pelanggaran dilakukan oleh orang lain pula. Dan penegak aturannya juga melanggar.

Masing-masing orang akan punya argumen, apalagi bagi yang tidak setuju, tidak sependapat, dan berlawanan kepentingan. Kita tidak terlatih untuk berbagai-bagai pandangan yang berbeda. Medsos yang sebenarnya bisa menjadi penguatan civil society, bisa berbalik arah. Menyitir pendapat Max Lane; “Pada tahun 1965 Sukarno masih berpesan bahwa Revolusi (Nasional) Belum Selesai, nation-building dan character-building belum selesai. Apakah revolusi tersebut terus berkembang selama Orde Baru? Tidak. Selama Orde Baru Indonesia mengalami kontra-revolusi dengan politik a-nasional,…”

Penguatan Negara, tak bisa hanya berharap pada Negara hadir, tetapi juga rakyat yang hadir. Yakni, rakyat yang kuat, berani, kritis, mampu menghargai keberagaman dan sabar memprosesnya. Kita sering tak sabar dalam hal ini. Apalagi kalau sudah mendaku paling benar, dan paling penting. Selamat bermedsos.

Kamis, Maret 03, 2016

Tere Liye dan Dialog Imajiner dengan Bung Karno

"Pagi, Tere Liye,..."
"Oh, pagi. Siapa ya?"
"Saya Bung Karno,..."
"Oh, maaf. Saking banyaknya fansku, aku nggak kenal satu-satu."
"Oh,..."
"Iya. Maaf, ya, karena satu-satu aku sayang ibu,...."
"Oh,..."
"Kalau dua-dua, brati ibunya dua,..."
"Oh."
"Kok ah-oh, ah-oh, kayak dialog dalam novel-novelku."
"Ternyata Tere Liye itu lelaki?"
"Hihihihi,... nama tidak penting, kasih saja nama siapa saja."
"Saya kira perempuan beneran, makanya saya antusias menemui."
"Oh, banyak kok novelis lelaki bernama perempuan. Masalah? Ini kan untuk kesetaraan gender."
"Kalau nama macho macam Didik Nini Thowok, atau Hudson, yang penari cross-gender itu, bagaimana?"
"Ya, awoh, masak-awoh, jangan deh. Apakah kamu nggak tahu, ulama-ulama kita itu banyak berjuang untuk kemerdekaan Indonesia? Mana ada orang kiri, komunis, liberal, pejuang HAM ikut-ikutan berjuang, plis deh!"
"Saya ingin belajar dari Anda, soal kiri menurut Anda,..."
"Lho, pokoknya jangan kiri deh. Kiri itu tidak baik, kiri itu komunis, komunis itu tidak beragama, tidak beragama itu tidak seperti tokoh dalam novel-novelku."
"Iya. Tokoh novel sampeyan religius-religius, sangat kanan."
"Tentu. Segala yang kiri itu tidak baik. Coba, makan dengan tangan kiri kan kata ibu tidak baik. Kita kan mesti nurut pada ibu, karena sorga di bawah telapak kaki ibu. Mau jadi anak durhaka, dikutuk jadi batu kayak Malin Kundang, atau masuk neraka?"
"Termasuk tangan kiri, kaki kiri, mata sebelah kiri, kuping kiri?"
"Iyalah. Aku malah mau protes, mestinya tangan manusia semua kanan, juga kakinya, matanya, kupingnya. Hingga akhirnya akan muncul semboyan ke kanan jalan lurus."
"Bukannya ngikuti APILL?"
"Kanan jalan lurus itu artinya jalan kebenaran itu kanan. Wah, kamu itu pendidikannya apa to, kok nggak ngerti simbol. Jalan lurus itu apa coba? Bacalah atas nama tuhanmu. Mosok fansku nggak hobi mbaca?"
"Maaf, saya cuma baca novel-novel Tere Liye."
"Nah, itu bagus. Biar tambah pinter, baca status-status fesbukku juga. Pokoknya aku mau bangun generasi baru. Jangan terpukau produk-produk luar, yang belum tentu keren."
"Kalau produk Arab?"
"Lha kan disebutnya Arab, bukan disebutnya 'produk luar'? Belilah novel-novelku, produk aseli dalam negeri. Soal budaya pop sebagai anak buah kapitalisme, nenek moyang kita kan dari dulu juga pedagang, apalagi nenek moyang kita orang pelaut. Pelaut kan pandai berenang. Apa ada pelaut yang tak bisa berenang? Silakan cari!"


Dan dialog pun macet. Karena Bung Karno kembali tidur. Mendengkur.

Minggu, April 27, 2014

Pelecehan Seksual dan Pelecehan Sosial



My father used to play with my brother and me in the yard. Mother would come out and say, ‘You’re tearing up the grass’; ‘We’re not raising grass,’ Dad would reply. ‘We’re raising boys.’ 

Demikian dituliskan oleh seorang anak bernama Harmon Killebrew, yang kemudian menjadi penulis dan menuturkan pengalaman masa kanaknya itu. Kita sering melarang anak-anak bermain, karena merasa sayang tempat bermain-mainnya akan rusak. Padahal, kita tak hendak menumbuhkan tempat itu, karena orangtua yang baik adalah menumbuhkan anak-anak. 
Sering karena rasa sayang pada hal-hal kenampakan, duniawiyah, materialism, kita mengabaikan dunia ajaib yang bernama ‘jiwa’, ‘karakter’, sesuatu yang oleh Kartini dianggap dasar dari pertumbuhan manusia.
Ijinkan saya (dengan terpaksa) menulis tentang JIS, Jakarta International School, yang menghebohkan itu. Sebetulnya, malas dan enggan, apalagi jika menyangkut hal-hal yang bersifat kasus pelecehan dan kejahatan seksual serta yang sejenisnya. Apalagi jika kemudian ternyata kita hanya mengutuk-kutuk, menyalahkan ini-itu, menuntut ini-itu, bubarkan, hancurkan, bakar,…
Jika media-media personal seperti fesbuk dan twitter hanya memantulkan peristiwa-peristiwa semacam itu, maka atmosfir yang terbangun justeru berupa pengembang-biakan. Membesarkan isyu itu semata, akan melupakan kita pada substansinya. Dan kita akan terus-menerus capek menjadi pemadam kebakaran (dan akhirnya, memang, hanya tinggal onggokan debu belaka). Nanti ada kebakaran lagi, ribut lagi. Dan seterusnya.
Apa yang terjadi pada JIS, adalah cerminan apa yang dikatakan oleh Harmon Killebrew sebagai pembuka tulisan ini. Pandangan materialism yang diam-diam tumbuh dalam system social yang dibangun oleh Orde Baru, yang lebih menekankan pertumbuhan fisik, akibat dari system ekonomi yang kapitalistik. Lho Orde Baru ‘kan sudah mati? Sebuah system social yang dibangun massif, dan berlangsung lama (selama lebih dari 30 tahun), akan mengkerak setidaknya dalam otak dua generasi, karena generasi berikutnya akan dan masih bertarung dengan limbah sebelumnya.
Kapitalisme Orde Baru mengembangbiakkan suatu system dan pranata social yang pada akhirnya berakar pada filsafat pragmatism, segala sesuatu dipandang dari sudut kemanfaatan, kepentingan. Maka dalil yang dikembangkan, ekonomi yes politik no. Dan itu merambah ke segala sendi kehidupan ketika kita lebih mementingkan formalism. Berfikir formal menjadi modus. Yang penting sekolah, tapi bagaimana bersekolah itu? Yang penting lulus, tapi bagaimana kualitas kelulusan? Sampai akhirnya, yang penting punya agama, tapi bagaimana keber-agama-annya? Yang penting naik haji, tapi bagaimana kualitas ukhuwahnya? Yang penting jadi presiden, tetapi bagaimana caranya? Akhirnya, tanpa pendidikan proses, tujuan menghalalkan cara.
Kenapa di Indonesia, Jakarta, bisa muncul JIS dengan segala keistimewaannya? Karena system pendidikan negeri ini membuat kita menjadi bangsa minder. Jika JIS hanya untuk expatriaat, masih bisa dimaklumi. Namun ketika ada banyak anak dari keluarga Indonesia, yang mau membiayai exlusivisme JIS, pastilah bukan tanpa sebab.
Misal, karena menganggap kualitas pendidikan “kita sendiri” mutunya rendah. Atau, bisa jadi juga karena kebodohan dalam bersikap, yakni sikap rendah-diri yang outputnya adalah menganggap semua yang bau luar negeri itu ruar-biasa bermutu. Lihat, gedungnya bermutu, steril, wangi, kayak di film-film luar negeri (nggak salah lihat Lu?).
Padahal, apa yang standar di Indonesia ini? Tak ada sesuatu ukuran yang pasti. Tak ada jaminan yang kukuh. Buktinya? Belum lama lalu, beberapa polisi aktif tertangkap sebagai komplotan perampok. Seorang anggota dewan dengan gelar doktor dan haji divonis karena korupsi. Seorang ketua majelis ulama, membuat video bokep 3some dengan bukan muhrimnya. Seorang guru begini dan begitu.
Kenapa terjadi social-dissorder ini? Karena memang tak  ada orde dan order yang jelas. Salah satu point kenapa Malaysia cepat melampaui Indonesia, adalah karena hukum ditegakkan (meski orang Indonesia akan bilang, di sana kaku, nggak asyik). Di kota kecil Leiden yang sunyi, ketika jalanan sepi pun tak ada pelanggaran lalu-lintas. Merah berhenti, meski lain arah kosong tak ada kendaraan. Tak ada penyerobotan, walau tak ada polisi. Kita mungkin saja tak sabar, menerobos apalagi tak ada polisi. Tak nyadar, ada CCTV yang merekamnya. Tapi jangan persoalkan CCTV, melainkan bagaimana aturan ditegakkan tanpa kompromi. Tak ada perdamaian di situ.
Memang hanya di Indonesia ini hidup terasa asyik, damai, boleh seenaknya. Bahkan menjadi disiplin saja malu ditertawakan. Menjadi orang jujur takut diasingkan. Ngomong baik-baik dan benar-benar, jadi ledekan sok alim dan sok pintar. Dalam masyarakat kita sendiri, nilai-nilai kemuliaan digerus oleh pelecehan-pelecehan nilai. Bikin status yang serius dan religious, bisa diledek-ledek; Cieee, cieee,...
Menjadi negative, melanggar aturan, menjadi penjahat sosial, bangga banget. Menjadi caleg yang bisa bagi-bagi duit, seolah sudah menjadi jagoan.
Dan tiba-tiba, kita ngamuk dengan pelecehan seks yang terjadi di JIS, atau di mana saja. Tetapi kita memproduksi terus-menerus pelecehan pada banyak hal, dan kita pura-pura tidak tahu, atau memang bego.
Kita terjebak pada cara-cara berfikir materialism. Seolah kalau gedungnya bagus, dari luar negeri, kita akan aman. Kalau bayarannya mahal, pastilah kualitasnya bagus. Itu ciri khas bangsa kacung yang membeli kemewahan dan kemegahan dengan jiwa rombengan. Dan baru menuntut-nuntut ketika dirugikan. Kita lebih melihat siapa daripada apa. Siapa yang ngomong, seolah menjadi jauh lebih penting daripada apa yang diomongkannya. Feodalisme itu bukan sikap khusus orang kraton (yang sering kita ejek sebagai fosil), tetapi sikap manusia yang tidak punya tanah berpijak namun seolah kakinya kokoh menantang langit. Tanpa sadar kita sendiri amat suka melecehkan diri-sendiri
Kurang apa Indonesia sesungguhnya? Kita dikaruniai kekayaan alam luar biasa. Kebudayaan yang sangat heterogen. Bahkan, ini negeri di mana orang Islamnya jauh lebih banyak dibanding kumpulan Negara-negara Timur Tengah sekali pun. Tapi, kenapa agama pun juga tidak operated? Ya, karena formalism tadi. Atau dalam istilah Rumi; Kita menggotong tangga itu ke mana-mana, tetapi tidak terbang bersamanya (nya dari nilai-nilai yang dikandung dalam ajaran itu).
Makanya sekali pun disumpah dengan 7 eksemplar kitab suci di atas kepala, kagak ada ngaruhnya, kecuali terlihat sebagai tontonan komedi yang menggelikan. Padahal menyedihkan.
Dan kita akan terus-terusan jasjisjus, casciscus.

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...