Tampilkan postingan dengan label Sastra dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 12, 2020

Didi Kempot, dalam Persimpangan Budaya Ambyar

 
 
Oleh : Sunardian Wirodono
 
Didi Kempot adalah persimpangan budaya, dalam dunia industri musik pop Indonesia.
Ketika teman-teman XMal Sindikasi memproduksi acara musik di televisi, dengan bintang utama Didi Kempot (Es Campur Es, TV7, 2002 – 2005), kala itu sebenarnya popularitas DK sudah empot-empotan. Masa booming DK sudah lewat? Entah. Sebenarnya, boleh dikata selalu ada hit-nya tiap tahun. Tapi pasar anyep saja. Mulai dari Plong (2000), Ketaman Asmara (2001), Pokoke Melu, Cucakrawa (2003), tak sanggup ngadepin ndangdhut koplo.
Di panggung musik khalayak (dalam pengertian kultur pop), setelah mencoba berkiat dengan congdhut (keroncong ndangdhut) sebagai differensiasi, mungkin DK sudah putus asa. Atau mungkin karena karakternya, menerima segala tiba sekira masanya sudah lewat. Tak ngotot. Toh ia ‘Superstar Jawa’ yang tak terkalahkan di Suriname, selama 20 tahun terus-menerus. Presiden Suriname pun pandhemen DK.
Lagu ‘Kalung Emas’ yang nge-hit 2013, atau ‘Suket Teki’ di 2016, belum juga bisa mengentaskan dari tidur panjang. Hampir 20 tahun, nyaris persis sama panjang dengan masa kejayaannya di Suriname. Baru kemudian 2019; Didi Kempot Reborn!  Saya tidak tahu persis, siapa yang berperan, Jarkiyo, Agus Magelangan, Gofar Hilman, atau Gus Miftah yang konon dikeluhi DK ‘gimana cara agar viral!
Tapi mungkin juga tak terpikirkan siapapun, juga oleh beberapa nama yang disebut tadi. Kecuali post-factum, sila bikin sejarah. Bahkan pun warga milenial (warga-net sih sebenarnya), sebagai pengusung, tak bisa merumuskannya. Ini sejarah yang berbeda dengan kegelisahan DK waktu itu. Ini fenomena munculnya perang simbolik yang juga masuk ke pola perang asimetris. Apalagi di era teknologi komunikasi dan informasi yang mengubah segala. Termasuk konon matinya kepakaran.
DK menjadi ikon generasi muda, meski dalam perjumpaan yang ‘too late’. Ketika generasi baru Indonesia, dari industri musik pop (sebagai bagian dari kebudayaan pop, dan anak kandung kapitalisme), tidak menemukan pahlawannya. Apalagi ketika menghadapi K-Pop, serta produk ikutannya, dalam komodifikasi jaman kiwari.
Kenapa bukan Iwan Fals, atau Slank? Tentu masing-masing memiliki pemujanya. Meski mengikuti beberapa pertunjukan Iwan Fals, Slank, dan Didi Kempot, di berbagai tempat, mereka memiliki irisan sama. Generasi yang gundah, dengan keambyaran yang sama.
Tapi DK punya nilai simbolik berlebih, karena (bisa jadi) dianggap lebih otentik, untuk berhadapan, aple to aple, sebagai counter-culture. Perjalanan musik DK lebih bisa diterima. Bahkan dibandingkan terobosan Koes Plus, juga A. Riyanto dengan Favourite’s Group, serta Manthous yang telah mewarnai jagat industri musik pop kita dengan ‘Pop Jawa’, dan yang kemudian dikembangkan Manthous dengan istilah campursari (1993).
Koes Plus dan Favourites Group, mungkin berada dalam kutukan industri pop. Disitu saya kira Manthous salah membaca pasar, jika kita ngomong strategi dalam komodifikasi. Ia menjadi eksklusive dengan kesadaran puitika Jawa yang adiluhung. Meski mengangkat nilai tradisi, Manthous dinilai kurang otentik, dan kurang nonjok.
Sebagai pengamen jalanan, DK mewakili sebuah kelas secara lebih pepal. Apalagi ia sendiri pernah jadi korban pertarungan komodifikasi budaya itu (hingga membuat dia nyungsep setelah puncak popularitasnya di awal dekade 2000). Periode campursari dan keroncong pop DK, sedikit mendapatkan jalan, ketika dimunculkan istilah congdhut. Namun, hampir persis dengan Gambang Kromong yang dipopulerkan Benyamins S, yang lebih nge-hit dibanding Pop Betawi-nya. Secara kuantitatif, dalam industri pop, gambang kromong tak masuk kriteria industri besar karena sempitnya pasar. Congdhut juga tak mendapatkan juru-bicara. Ia sendiri (congdhut itu), punya problem dengan komunitas buaya keroncong.
Generasi muda, untuk menyebut generasi baru, secara psikologis dan politis, akan cenderung anti-mainstream, out of the box, anti-kemapanan. Orang gelisah dan ambyar, akan lebih berempati pada kaum pinggiran, kaum underdog. Apalagi dalam dunia perlawanan simbolik (yang sebenarnya berangkat dari realitas kekalahannya, namun terus melawan, meski dengan simbol-simbol). DK memenuhi syarat sebagai bendera perlawanan simbolik bagi ‘sobat ambyar’ di segala lapis keambyaran. Coba sekiranya ia anak orang kaya, atau kaya banget, karena kerja-keras dan kerja-cerdasnya. Jangan baper jika saya sebut contoh Belva, apalagi menjadi stafsus presiden.
Dalam pada itu, DK Reborn saya kira karena kisah syahdu DK. Bagaimana pun didewasakan dari debu jalanan, menjadikan lebih diterima sebagai simbol keterasingan atau keterbelahan. Apalagi syair-syair DK dirasa lebih otentik, jujur, denotative. Bukan hanya bisa dimengerti, tetapi bisa diterima. Tak membutuhkan tafsir sangat canggih dan arkaik, karena idiom-idiomnya cablaka, berterus-terang, prasaja. Sebagaimana cara pandang DK dengan pahit-getir kehidupan. Di situ, kenapa Inul Daratista tidak sebagaimana DK? Inul selesai dipanggung, dengan vibrasi sesaat ketika kita menontonnya. Tidak terbawa dalam kegelisahan kita, karena mungkin juga kita membutuhkannya hanya ‘sesaat’, untuk membunuh kegelisahan belaka.
Dalam industri musik pop kita, yang nge-hit ialah yang berurusan dengan impersonalitas. Sesuatu yang empatik, terasakan, dan dekat karena ada reasoning yang dibangun. Hal ini juga saya kira berlaku untuk Chrisye, Slank, Iwan Fals. Lagu-lagu evergreen mereka, adalah yang berkait dengan pengalaman hidup yang empirik, otentik, sedikit reflektif, namun tidak menyimpulkan, apalagi menggurui. Daya resonansinya akan lebih pekat.
Penabalan Didi Kempot, sebagai The Godfather of Broken Heart, Lord Didi, Bapak Patah Hati Nasional, dan sebagainya, bisa jadi buah keisengan biasa. Atau luar biasa tapi tak mengerti bagaimana memformulasikannya. Hingga terlihat tidak sangat konseptual. Namun itu merupakan komplotan otentik. Dan DK perekat ajaibnya.
Terimakasih Didi Kempot, telah menyediakan ruang dan pilihan. Sebuah oase dalam keringnya simbol-simbol, yang sering dipaksakan untuk menjadi verbal. Termasuk soal sorga dan neraka. | @sunardianwirodono

Minggu, November 17, 2019

Ngayogjazz, Antara Djaduk dan Melting Pot

Tak banyak yang mendapatkan ‘misa kebangkitan’ sebagaimana Djaduk Ferianto. Pada hari ketiga meninggalnya (16/11/2019), ia mendapatkan persembahan dari apa yang sepanjang hayat menjadi gagasan abadinya. Mengenai ‘ngeng-isme’. Sesuatu yang lebih bersifat spiritual dan humanis daripada sekedar obsesi berkesenian. Lebih jembar dari sekedar olah musik. 
 
Semacam Review: Sunardian Wirodono

Ngayogjazz tentulah berangkat dari kegelisahan Djaduk, untuk mempertemukan berbagai hal. Dan ia berjuang membuka ruang-ruang pertemuan itu. Menjadi medan persaudaraan, sebuah melting pot dalam pengertian awalnya. Bukan sebagai soal identitas atau latar belakang, namun mempertemukan berbagai hal. Berupa gagasan dan pemikiran untuk membersama.

Jazz, sebagai jenis atau aliran musik, hanyalah nama. Namun sebagaimana pertunjukan wayang kulit dalam kurun peradaban Jawa beberapa waktu silam, yang lebih penting adalah terjadinya interaksi berbagai-bagai pihak. Di mana sesiapa direkatkan pertunjukan’ wayang kulit yang dimainkan Ki Dalang. Di mana kesenian bertransformasi menjadi olah budaya, dan bahkan merambah dimensi ritual.

Wayang kulitnya menjadi tidak penting. Demikian juga jazz-nya tidak penting. Tetapi pertemuan berbagai pihak, interaksi, pergesekan pemikiran dan kreatifitas, rerasanan, itu jauh lebih penting. Apalagi ketika Didi Kempot, juga Soimah, menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka-mereka yang tak kenal siapa Idang Rasidi, Indro Hardjodikoro, bahkan Frau, atau pun Oele Pattiselano. Belum pula dibukakan ruang bagi komunitas Gedrug Kwagon, Jathilan dan Gamelan Kwagon. Juga komunitas music jazz dari Magelang, Trenggalek, Lampung, Samarinda, Belanda, Jepang, dan sebagainya itu?

Bagaimanakah sebenarnya kita memposisikan kemajemukan? Tidak sangat tepat sebenarnya menyebut ‘Ngayogjazz’ sebagai melting pot, yang berarti ada semacam peleburan berbagai budaya menjadi satu bentuk dalam pot. Dari berbagai  bahan menjadi satu, from heterogenous to homogenous. Disini terjadi proses asimilasi dari masing-masing bagian. Seperti bubur. Kita coba masukan berbagai bumbu-bumbu, beras, santan, akhirnya wujudnya satu.

Rasanya bukan demikian Ngayogjazz, sebagaimana kemudian konsep melting pot ditolak mereka yang memperjuangkan multikulralisme atau heterogenitas. Termasuk salah kaprah melting pot kaum cingkrang dan hijaber. Ngayogjazz mungkin sebagaimana dalam teori sosial yang disebut ‘salad bowl’. Baik itu salad model barat maupun salad versi kita (asal bukan salad model khilafah), akan nampak masing-masing bagian, tapi membentuk satu kesatuan yang bernama salad. Tanpa harus ada peleburan masing-masing bagian. Sepertinya demikianlah Ngayogjazz, dan sebenarnyalah itu ‘ngeng’ yang diinginkan Djaduk.

Karenanya menjadi aktual, justeru di hari ketika dunia internasional memperingati Tolerance Day, meski senyampang itu di belahan Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, beberapa kali digoreng peristiwa intoleransi. Di Bantul, lagi-lagi Bantul, misalnya. Seolah pertarungan Mataram Islam Panembahan Senapati mengejar Ki Ageng Mangir Wanabaya, masih berlanjut. Meski dalam perang asimetris, para pengejarnya kini juga menantang Sri Sultan Hamengku Buwana X.

Namun dalam konstelasi politik itu, sebagai keturunan Sri Sultan HB VII, dengan klaim bahwa kasultanan Ngayogyakarta berhenti pada era kakeknya, apakah juga menjadi bagian dari kesadaran Djaduk, yang penduduk Bantul, menggelar kerajaan jazz-nya di wilayah Sleman?

Kata Sydney Jones, terlalu banyak teori konspirasi di Indonesia. Terlalu spekulatif, juga berlebihan. Karena memahami teori ‘ngeng’ Djaduk, dibutuhkan kesabaran membuang kepentingan masing-masing. Karena yang tiada kini ialah kepentingan bersama. Dari melting pot menjadi salad bowl. Dan agar tidak menjadi sobat ambyar kita butuhkan Lord Didi? Bukan Lord yang Maha Pengasih dan Penyayang?

Kata Sydney Jones, terlalu banyak teori konspirasi di Indonesia. Terlalu spekulatif, juga berlebihan. Karena memahami teori ‘ngeng’ Djaduk, dibutuhkan kesabaran membuang kepentingan masing-masing. Karena yang tiada kini ialah kepentingan bersama. Dari melting pot menjadi salad bowl. Dan agar tidak menjadi sobat ambyar kita butuhkan Lord Didi? Bukan Lord yang Maha Pengasih dan Penyayang?

Terimakasih untuk misa kebangkitanmu di Kwagon itu, Dug! Haru melihat Butet bergoyang kepala, di antara kruwelan penonton dan teriakan cendol dawet Soimah. Dug, ini jazz cendol dawet itu, sekiranya merasa wagu dengan sebutan salad bowl a la kua-etnika! | @sunardianwirodono
 
 
SANG GURITNA YANG JAGOAN

Kematian selalu menggetarkan. Karena selalu serasa tiba-tiba. Selebihnya hanyalah kenangan. Juga penyesalan, atau kesadaran yang terlambat. Dari sanalah ‘ngeng’, sebagai sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara gamblang. Tapi terasakan dengan sempurna. 

Dalam perjalanan produksi ‘Blusukan Butet’ (sebuah program televisi streaming Mola.TV) dari Bali-Banyuwangi-Surabaya, menurut jadwal mestinya sampai tanggal 14 Nopember 2019. Trip terakhir di Surabaya, kami punya dua narsum, Bang Jarwo penjual kopi yang semalam bisa mengantongi duit Rp 800 ribu ketika Gang Dolly belum ditutup Bu Risma. Dan dokter Michael yang suka blusukan menyambangi kaum gelandangan untuk pengobatan gratis.

Ada benturan jadwal karena mesti mengajar mahasiswa S2, Butet harus berada di Yogya tanggal 13 Nopember. Apalagi selain mengajar, malamnya mesti membacakan puisi Jokpin dalam acara yang digagas Opie Andaresta di Societet Yogyakarta. Agak kecewa, tapi kami mengerti.

Syuting terakhir di Gang Dolly Surabaya (12/11), berjalan lancar. Selesai jam 16.00. Jam 17.00 Butet mesti diantar ke Stasiun Gubeng naik kereta ekspress ke Yogya. Tak ada tiket pesawat sebagaimana pada jam yang dikehendaki. Saya bayangkan Butet sampai di Yogya dini hari. Masih bisa istirahat untuk esoknya. Tapi esoknya (13/11), menikmati jenang candhiel yang anyep di hotel, saya ngungun. Djadug meninggal, jam 02.30 pagi hari itu.

Djadug bagian penting dari acara ‘Blusukan Butet’. Ia mengisi illustrasi musiknya. Ketika di Banyuwangi, beberapa kali Djadug menjadi ‘bahan’ pembicaraan kami. Entah itu soal festival jazz gunung (Ijen, Bromo), atau rencana lain lagi dengan juragan kopi Mbanyuwangi. 

Donny Firdaus, produser program kami waktu itu meminta maaf, belum sempat memberikan honor untuk Djadug. Butet bilang, “Ya, sudah hitung saja sudah berapa episode, tinggal ditransfer saja,…” Sembari ditambahkan, Djadug sudah menyerahkan semua album musiknya untuk program acara kakaknya itu.

Di Gang Dolly, waktu pengambilan gambar malam hari (11/11) di bekas lokasi prostitusi terbesar Asia Tenggara itu, kami ditemui Camat Sawahan (membawahi kawasan Gang Dolly) yang antusias dengan ide-ide revitalisasi Gang Dolly. Ia ngomong ke Butet, menantang agar Djadug bikin festival jazz Dolly Masa Kini. Dan seterusnya. 

Termasuk sebelum balik ke Yogya, Butet meminta tolong soundman merekam salah satu puisi yang mesti dibacakan dalam pementasan A Tribute to Jokpin (judul yang mengagetkan, jadi kebayang judul barunya; A Tribute to Djadug). Saya tak tahu, apakah Butet jadi tampil atau mengirimkan rekaman audio dadakannya. Saya sendiri baru tiba di Yogya sudah malam hari (ternyata, sebagaimana nasihat ayahnya, Pak Bagong marhum, Butet tetap datang menjalankan kewajiban berkeseniannya). Bersyukur Butet pulang duluan, dan tiba di Yogya beberapa jam sebelum ditinggal adiknya itu.

Demikianlah sedikit cerita yang lain. Mengenai Djadug, seorang baik. Seorang yang saya tahu ketika sejak kecil, kalau melihat bapaknya mengendang, mengiringi latihan kethoprak atau tari, dia menggelendot di punggung bapaknya. Dua tangannya memperlakukan kepala sang bapak sebagai sebuah kendang. Saya menyaksikan itu bila-bila bapak saya, yang anggota kethoprak Sapta Mandala, mengajak saya ikut latihan kethoprak di Gallery Bagong K., Wirobrajan atau PSBK Kembaran.

Ini tentang seorang yang punya ‘banyak nama’, untuk menyatakan tak penting baginya identitas. Ia menembus batas. Ia penuh toleransi. Seorang Katholik garis lucu. Dan itu membuatnya kaya warna. Bukan hanya dua warna sebagaimana ia ‘memulai karir’ di dunia industri musik melalui RCTI (1996). Meski jauh sebelumnya ia berkibar dengan Kelompok Musik Rheze, dan menggemparkan TIM Jakarta sebagai Juara I Festival Musik Humor (1978).

Diakui atau tidak, dari sanalah berkibar nama Raden Ngabehi Gregorius Djadug Ferianto (19 Juli 1964 - 13 Nopember 2019), atau Djaduk Ferianto sebagaimana dalam akun fesbuknya. Bukan sekedar Raden Mas, sebagai keturunan Sri Sultan Hamengku Buwana VII, melainkan karena ia mengawaki semua keahlian, sebagai pemusik, sutradara, aktor, penari, bahkan juru-potret amatir, hingga ia menyandang gelar Raden Ngabehi.

Nama awalnya yang diberikan sebagai penanda kelahiran, adalah Guritna (seorang yang piawai menulis). Guritna, nama salah satu Dewa dalam mitologi Jawa, yang menaungi wuku Julungpujud, karakter yang mempunyai tekad tinggi dalam cita-cita. Guritna nama pemberian sang paman, Raden Mas Handung Kussudyarsana. Sedangkan Bagong Kussudiardjo, ayahnya, entah kenapa kemudian mengubah nama itu menjadi Djadug Ferianto. Sekalipun memang terbukti, Djadug seorang yang pandai menulis apa saja, dalam bentuk ngeng, nada, dan kemanusiaan.

Jadug artinya jagoan. Mungkin itu mimpi orangtuanya. Meski ketika berhadapan beberapa reporter newbie di ajang Ngayogjazz, masih saja ia ditanya; siapa namanya dan apa perannya? Djadug dengan ringan menjawab; “Nama saya Kamto, dalam Ngayogjazz berperan menjadi pembantu umum,…”
“Ngayogjazz berlangsung dari jam berapa sampai jam berapa, Pak?” para reporter ngganyik itu bertanya lagi. Djadug menjawab serius, “Ngayogjazz ini tidak pakai jam. Takut kalau nanti dicopet,…”

Selamat berpisah orang baik, dengan selera humor yang baik kita selalu bersua. Ngeng-mu (ngeng adalah istilah Djadug untuk rasa nada atau karakter yang tak bisa diuraikannya) abadi dalam kegelisahan bersama. Sorry, ya, Dug, aku kewengen tekan Yogya!
 

Kamis, Agustus 02, 2018

Pengakuan Pariyem Linus Suryadi AG (1951 - 1999)

19 tahun lalu, Mas Linus, Linus Suryadi AG meninggal dunia. Penyair yang beken dengan prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’ itu meninggal karena penyakit akutnya, sebagai fanatikus tongseng. Siang hari 30 Juli 1999, di depan RS Panti Rapih, Yogyakarta, Mas Landung Simatupang, yang barusan menjenguk dari ruang rawat, berkata lirih di samping saya, “Mas Linus wis ra ana,...”

Darah saya terkesiap. Dari pagi kami menunggu, kondisi Mas Linus waktu itu sudah makin kritis. Kami saling diam termangu. Pembuluh darahnya pecah. Saya nahan tangis, hingga mata membasah. Orang baik itu meninggal dalam sunyi dan kegamangan. Saya ingat hari-hari terakhirnya, ketika banyak menemani dolan-dolan ke mana ia ingin (asal tidak ke kota, Yogyakarta. Ia dalam marah dan galau, jadi korban fitnah, hingga dulu kantor koran Bernas pernah didemo, karena memuat tulisannya tentang tradisi sunat, yang menurutnya berasal dari bangsa Yahudi. Dari sini kita tahulah siapa yang ngamuk. Mas Linus sangat kecewa. Ia menduga ada tukang kompornya. Ia menyebut nama, tapi itu rahasia kami). 

Saya ingin ceritakan salah satu bagiannya saja, ketika ia sedang berproses menggarap prosa lirik ‘Pengakuan Pariyem’, yang dipersembahkan untuk Prof. Dr. Umar Kayam. Waktu itu ia meminjam buku ‘Serat Centhini’, koleksi bapak saya yang tanpa seijinnya saya pinjamkan ke Mas Linus. Waktu itu saya banyak galang-gulung dengannya, diam-diam menjadi supervisor untuk beberapa ejaan bahasa Jawanya yang acak-kadut. Buku itu dilaunching di Auditorium Karta Pustaka, Sabtu, 6 September 1980.

Sebelumnya, saya dan beberapa teman (Kaca Budi Nugraha, Joko Budhiarto, Anthon Ys Taufan Putera, Rela Sayekti) sibuk menyiapkan kelengkapannya. Menggarap buku stensilan ‘Pengakuan Pariyem’, yang dicetak (stensil) di SMEA Sentolo, Kulon Progo. Kok jauh amir? Itu tempat Joko Budiarto waktu itu mengajar. Sekarang beliau redaktur senior SKH Kedaulatan Rakyat. Nyetensil di sana agar dapat gratisan. Tinta dan kertas pakai fasilitas stock sekolah itu.
Saya masih ingat, waktu dari Yogya, ke Sleman (rumah Mas Linus), ke Sentolo, naik sepeda motor Honda CB Plangkok. Sementara Kaca Budi Nugraha, yang kemudiannya jadi pendeta di Gereja Sawo Kembar, pakai Yamaha Trail warna kuning. Kami waktu itu masih muda, masih umur-umur 19 tahun. Ehm. Kita acap ke Sentolo sore hari, karena nyetensil tiap sekolah itu sudah off. Ada 137 lembar sheet yang kami stensil, masing-masing 200 eksemplar. Jadi kita butuh kertas 27.400 lembar alias 55 rim kertas. Saya masih menyimpan satu eks, tapi sebagiannya geripis dimaem rayap.

Sebelumnya saya ngetik teks dari Mas Linus di kertas sheet. Harus hati-hati karena salah ketik tak mudah membenahi. Saya pakai dua mesin ketik dengan jenis huruf beda. Waktu itu meskipun stensil, sudah berpikir biar typhografinya agak keren. Saya beruntung belajar ngetik rapi, rata kiri dan kanan dari Mas Suwarno Ragil Pragolapati, penyair angkatan Mas Linus.

Buku stensilan itu ukuran folio, dengan desain cover Mas Sukasman Wayang Ukur. Saya lupa mungkin waktu itu dijual Rp 300 per-eksemplar (?). Kalau benar begitu, Mas Linus dapat duit Rp 60.000, karena buku ludes terbeli. Kami senang bisa makan gudeg dengan telor dan gending.
Waktu itu pembaca prosa lirik; Denny Sutoyo Landung, Ami Simatupang, Nuning Efendi, Ninik Sumiani, Nining Sulasdhi, didahului macapatan Ninik Sumiani, yang menjadi model cover garapan Mas Kasman itu. 

Sebelum dibukukan fragmen Pengakuan Pariyem dibacakan penyairnya di beberapa universitas. Saya senang Mas Linus berani mengambil risiko. Waktu itu Pariyem dikritik bukan karya sastra. Aspek lokalitas dan tingkat kerusuhannya (pornografi) sangat kental. Tapi dibanding Serat Centhini, tingkat kerusuhan Pengakuan Pariyem belum seberapa. Hanya saja memang untuk teks sastra Indonesia, waktu itu, tidak lazim. 

Demikian sekelumit Linus Suryadi Agustinus (3 Maret 1951 – 30 Juli 1999), yang sehari setelah tanggal kelahirannya saya pun lahir, meski 10 tahun kemudian. Semoga ada yang mengingat orang baik ini, yang meninggal pas 19 tahun lalu. Syukur bage ada yang merayakannya, meski hanya dalam kenangan, atau perbincangan medsos, hingga tak perlu repot-repot nyari danais. | @sunardian

Selasa, Mei 22, 2018

Musikalisasi Puisi Apa Itu? Dan Mengapa Dilombakan?

PERLOMBAAN MUSIKALISASI PUISI BERHADIAH RP 11 JUTA

Bolehkah seni dilombakan? Tak ada yang melarang, paling keberatan. Tetapi, ini perlombaan adu teknik, keterampilan, pengetahuan, mungkin ketajaman rasa, intuisi, untuk menggubah sebuah puisi dari beberapa penyair Indonesia terkemuka, menjadi sebuah lagu atau karya kreatif yang lain lagi.

Yang diubah hanya cara penyampaian. Tidak dibaca atau ditarikan. Tapi gampangannya dinyanyikan dengan iringan musik atau nada. Puisi yang sudah jadi, dari penyair-penyair yang sudah dipilih panitia, tentu tak boleh ditambah dan dikurangi kata-kata yang tertera dalam teks puisinya. Kecuali dalam penghayatan pembacaan atau penyampaiannya, kita bebas berkreasi berdasar pemahaman atau interpretasi kita atas makna teks.

Lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan ini, ialah dalam rangka mempertandingkan segala kemampuan, skill dan pemahaman interpretatif, terhadap karya kreatif untuk dimunculkan dalam pembacaan atau penyampaian yang juga kreatif. Yakni dengan menggubahnya menjadi apa yang dinamakan sebuah lagu.

Sebagai bagian dari penjelajahan apresiasi sastra, lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan oleh BSMD (Beranda Seni Mbah Demang, Yogyakarta) dengan dukungan dari Reboeng, lembasa sastra dan seni pimpinan Nana Ernawati (Jakarta), untuk tahap pertama diadakan hanya khusus untuk warga ber-ktp Daerah Istimewa Yogyakarta, atau boleh tidak ber-ktp DIY tetapi memiliki kartu pelajar dan atau kartu mahasiswa (aktif) di sekolah/perguruan tinggi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Itu pun dibatasi usia 13 s.d 30 tahun. Boleh perseorangan (1 orang), boleh group dengan maksimal anggota 6 orang. 

Musikalisasi puisi ini, juga mensyaratkan alat musik yang dipakai adalah non-elektrik (unplugged). Panitia menyediakan fasilitas sound-system, tetapi tidak alat musiknya (artinya alat musik membawa sendiri).
Peserta wajib memusikalisasi puisi yang sudah ditetapkan panitia, yakni puisi wajib karya Umbu Landu Paranggi, dan satu musikalisasi puisi pilihan (yang ditetapkan dan disediakan panitia dari 10 penyair Indonesia terkemuka). Artinya, peserta membuat 2 karya musikalisasi dari 1 puisi wajib dan 1 puisi pilihan (yang semua materi puisi akan diberikan setelah pendaftaran). 

Apa syarat peserta selain hal di atas? Tentu saja, mendaftar ke panitia, langsung ke sekretariat BSMD, di Kopinogo Cafe, Jl. Godean Km. 4,3 No 179, Yogyakarta pada jam kantor antara 11:00 s.d 24.00, dengan membawa bukti diri (bisa berupa KK, KTP, Kartu Pelajar, Kartu Mahasiswa, atau SIM, atau keterangan lurah setempat, dsb), dan uang pendaftaran Rp 100.000. Atau bisa via e-mail dengan cara kirim e-mail keinginan menjadi peserta ke kopinogo@gmail.com untuk kemudian kami akan kirim balik (reply) formulir dan persyaratan apa saja untuk itu. 

Oh, ya, lomba musikalisasi ini, setelah pendaftaran peserta ditutup (8 Juni 2018), akan diselenggarakan pada akhir Juni 2018. Waktu dan tempat baru akan ditetapkan setelah pendaftaran ditutup. Penyelenggaraan lomba, peserta diwajibkan menampilkan 2 karya musikalisasinya secara live, di depan dewan juri yang sudah ditentukan. Dalam dua tahap, yakni tahap penyisihan untuk mendapatkan peserta pada level berikutnya, yakni level final untuk mencari juara (boleh ya, pakai istilah juara?), yakni terbaik pertama berhadiah uang sebesar Rp 3.500.000,00, terbaik kedua dengan hadiah uang sebesar Rp 3.000.000,00, terbaik ketiga dengan hadiah uang sebesar Rp 2.000.000,00 dan peserta favorit mendapatkan hadiah uang sebesar Rp 2.500.000,00.

Kenapa hadiah uang untuk peserta favorit lebih besar dari terbaik ketiga? Jawabannya, ya, terserah panitia. Tetapi jawaban sopannya; Jika terbaik 1 s.d 3 ditentukan dewan juri (yang gabungan pakar musik dan sastra), maka peserta favorit ditentukan masyarakat umum. Tak ada campur tangan juri. Bagaimana caranya?


Semua penampilan peserta, akan kami rekam secara audio-visual (video), kemudian semua peserta dengan lagu wajib dan pilihan, akan diupload di akun youtube Kopinogo Cafe, yang bisa dilihat siapapun, di mana pun, dan kapanpun. Tayangan penampilan peserta akan nangkring di youtube dalam beberapa hari, sembari menunggu penyelenggaraan malam final. Sehingga ada kesempatan masyarakat, untuk melihat tayangan peserta dan menge-like-nya. Banyaknya jumlah liker (penjempol) dalam tayangan video itu, akan menjadi dasar penetapan peserta favorit. 

Bisa jadi, pengelike adalah kawan sekampus, sesekolah, sekampung, sekeluarga, bahkan mungkin dengan cara menjebol server,.... untuk mendapatkan uang Rp 2,5 juta. Itu tergantung niatan ikut lomba, sekedar uangnya atau proses kreatif berkeseniannya. 

Demikian, pengumuman, dan makin cepat mendaftar makin baik. Bukan hanya karena persiapan akan lebih matang, tetapi, jika karena keterbatasan teknis kita perlu membatasi peserta (mengingat tempat lomba), bisa jadi sebelum tanggal 8 Juni pendaftaran ditutup. Terimakasih, dengan salam saya selaku ketua perlombaan: Sunardian Wirodono.

PS: Info selengkapnya, bisa ditanyakan ke Tika (0813 3940 6797), Siska (0831 0893 2888), Nia (0819 0378 3433).

Berhadiah Total Rp 11 Juta Lomba Musikalisasi Puisi 2018

LOMBA MUSIKALISASI PUISI SE-DIY 2018 | Lomba Musikalisasi Puisi Se-DIY 2018 ini terbuka untuk umum, warga masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan atau warga non-DIY tetapi berstatus pelajar dan mahasiswa yang sedang sekolah atau kuliah di DIY, dengan ketentuan umur antara 12 s.d 30 tahun.






Untuk 4 peserta yang memenangkan lomba, sebagai juara 1, 2, 3 dan peserta favorit, disediakan hadian uang tunai total Rp 11 juta. Panitia masih menerima pendaftaran dari para calon peserta, dan baru akan ditutup pada tanggl 8 Juni 2018. 





Bisa mendaftar langsung ke Sekretariat Panitia LMP-BSMD di Kopinogo Cafe, Jl. Godean Km. 4,3. Nomor 179, Yogyakarta, atau bisa via email, kirimkan ke kopinogo@gmail.com. 








Infomasi selengkapnya bisa hubungi (wa/call) ke 0819 0378 3433 (NIA), 0813 3940 6797 (TIKA), atau 0831 0893 2888 (SISKA). Mari berfastabiqul qhoirot, berlomba dalam kebaikan, berlomba seni, siapa tahu kebaikan juga bisa diperjuangkan dengan menyanyikan puisi-puisi para penyair kita.

Senin, Agustus 08, 2016

Kethoprak PKI

“Berbeda dengan wayang yang disebut sebagai kesenian orang berada,” ujar Trisno Pelok Santoso, dosen FSP-ISI Surakarta, “kethoprak itu kesenian orang bawah,”
Menurut Barbara Hatley, professor emeritus Universitas Tasmania, pada 1925 rombongan kethoprak Krida Madya Utama Surakarta melawat ke Klaten, Prambanan, kemudian berpentas di dusun Demangan, Yogyakarta. Kethoprak merebak di kota ini, dan lebih disempurnakan. Tema cerita mengambil babad dan sejarah, namun kostum tak boleh menyamai pakaian kebesaran keraton. 

Seperempat abad kemudian, pada 1955, kethoprak profesional (tobongan) menjamur. Banyak grup kethoprak bersaing dalam kreasi cerita dan teknik pementasan. Namun sebagai kesenian orang bawah, kethoprak tak luput pergesekan politik. Kelompok kethoprak terbagi dua: LKN (PNI) dan Lekra (PKI). BAKOKSI (Badan Kontak Organisasi Kethoprak Seluruh Indonesia), yang berhaluan komunis, menaungi 275 grup (1957) dan menjadi 371 grup (1964). 

Lakon-lakon kethoprak menjadi corong politik. Lekra memanfaatkan kethoprak sebagai sarana perjuangan dan propaganda. Mereka mengubah seni tradisional menjadi seni progresif revolusioner. Kethoprak Mataram Krida Mardi, dibawah naungan Lekra, menurut Hersri, menjadi ‘Kethoprak Rakyat Jawa’. 

Saat menampilkan lakon Bandung Bandawasa, berbeda dengan cerita konvensional. Yang semestinya berkisah tentang kesatria membangun seribu candi berkat bantuan jin, diubah membangun candi dengan cara kerja paksa. Cerita seperti itu malah digandrungi petani, buruh, dan rakyat kelas bawah. 

Namun meledaknya Peristiwa 30 September 1965, menjadi awal bencana. Grup-grup kethoprak di bawah Lekra, tak ayal dituding antek PKI. Termasuk Kadariyah, primadona Kridha Mardi (wafat April 2016 lalu). Ia dituding sebagai Gerwani, ditangkap 2 November 1965. Suyatin, suaminya, selamat karena ikut grup kethoprak dan dagelan Japendi (Jawatan Penerangan Daerah Istimewa Yogyakarta). Tapi Bondan Nusantara, anak mereka yang masih SMP, dikeluarkan dari sekolah dengan tudingan tersangkut PKI. Anak sekecil itu? Iya, dulu. Kini ia orang besar di dunia kethoprak.

Sejak itu, kehidupan seniman kethoprak tak menentu. Mereka ditangkap dan dipenjarakan, dianggap berafiliasi dengan PKI. Tjokro Djadi, anggota Fraksi PKI DPRD Yogyakarta, juga ketua Bakoksi, hilang dan diduga dieksekusi. Sasmito, pengurus Krida Mardi dan anggota DPRD Kota Yogya, ditahan di Pulau Buru selama 13 tahun. Kadariyah, selama 7 tahun dibui di Semarang dan Ambarawa, tanpa pengadilan. Bukan anggota Lekra, namun karena dalam Pemilu 1955 ia nyoblos PKI. 

Pada dekade 70-an, zaman Soeharto, kethoprak tobong digunakan sebagai sarana menyampaikan program pemerintah. Si jahat harus berbaju merah, dan tokoh baik berkostum kuning. Para niyaga, juga berseragam kuning-kuning. Di sungai, waktu itu, juga banyak kuning-kuning.

Kamis, Juli 21, 2016

PKI Gaya Baru atau Lama?

Kivlan Zein pasti langsung mencak-mencak begitu mendengar atau membaca kata PKI. Itu karena pikiran kotor inheren padanya. Tapi apakah dianya ngerti, bahwa PKI baru benar-benar bangkit di Indonesia? Partai Konsumerisme Indonesia?
Konsumerisme jauh lebih berbahaya daripada komunisme. Tapi kita selalu menggelapkan fakta ini. Tentu saja ulah penggelapan biasanya dilakukan kaum modal, yang lebih menyukai masyarakat tergantung (dependent) dan masyarakat gelap mata.

Ideologi para konsumeris (penganut ideologi konsumsi) di negeri ini, menjadi lebih berbahaya karena lebih besar pasak daripada tiang. Sementara untuk menyamakan besar pasak, bukannya membesarkan tiang namun memaksakan diri menyangga yang di luar kemampuan. Hasilnya, karena bukan bangsa produksi, adalah menjadi bangsa kuli. Pura-pura tidak tahu bahwa rupiah kita serahkan ke beberapa Negara investor dengan sukarela. Exploitation de l'homme par l'homme terjadi dengan suka rela pula, tanpa paksaan.

Untuk memenuhi hasrat atau nafsu konsumsinya, jalan apapun ditempuh. Tanpa ingat kemampuan yang pas-pasan, dan bahkan cupet alias kurang. Makanya di negeri ini usaha jasa kredit sangat subur, hingga sering kita dengar uang gaji atau penghasilan sering habis tandas disedot bunga-berbunga. Kartu kredit juga laris, karena bisa menopang gaya hidup kaum konsumeris dengan gali lobang tutup lobang (bikin kartu kredit baru untuk nutup kartu kredit yang jatuh tempo). Bekerja bukan untuk berproduksi, melainkan untuk kewajiban membayar konsumsi itu, mengangsur utang-utang itu. Dan selalu tekor. Dan terjadilah lingkaran setan belang. 

Soal mahalnya daging sapi, tetap saja memaksa diri membeli. Meski harga dipermainkan pasar (baca: pedagang) secara tak proporsional. Ada ikan laut yang lebih murah dan gizinya lebih tinggi, kaum PKI (Partai Konsumeris Indonesia) ini, tak mau berganti haluan. Apalagi memboikot tak membeli daging. Padahal Ibu Susi Pudjiastuti sukses membuat negeri ini melimpah perolehan ikan lautnya.

Betapa lemah iman konsumen Indonesia, kaum konsumeris ini, dalam melahap apapun produknya. Yang sebetulnya lebih banyak bernilai tersier, dan sekunder, daripada primer. Harga gadget naik, harga mobil naik, harga kacamata naik, harga celdam naik, kita enjoy aja. 

Indonesia Raya yang sebetulnya kaya raya ini, perlahan menjadi miskin raya. Majoritas masyarakat penganut ideologi konsumsi, bukan ideologi produksi. Gerakan PKI, Partai Konsumerisme Indonesia, ini jauh lebih berbahaya, karena ketergantungan yang parah pada keduniawiannya. 

Kalaupun ada yang diproduksi, ternyata produksi isu, hoax, dan fitnah. Itu lebih tragis. Revolusi mental mentul.

Menjual Tuhan a la Kierkegaard

Yang pertama, Søren Aabye Kierkegaard (5 Mei 1813-11 November 1855), adalah pengritik Hegel yang tajam. Tak sependapat mengenai ilmu pengetahuan haruslah objektif, dan kita hanya bebagai pengamat. Kierkegaard merasa kita harus terlibat langsung, dalam suatu fenomena atau peristiwa tersebut. Analisis subjektif tidak dapat merusak objektivitas. 

Kierkegaard sangat menghargai kekonkretan dan individualitas tiap manusia. Tidak ada objektivitas yang tetap untuk melihat gejala pada manusia. Objektivitas dan abstraksi akan memunculkan kesepakatan bersama mengenai kebaikan atau keburukan dalam aturan masyarakat yaitu moral. Pendekatannya ialah humanistic.

Objektivitas dalam moralitas pada dasarnya tidak berarti sesuai antara hukum dan kenyataan. Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar tentang PKI? Siapa yang pantas dihukum dalam kasus tersebut? Atas nama kesatuan negara, banyak aturan dan hukum muncul secara mendadak. Dijadikan tameng dan kedok murahan. Kita merasa sah menjadi manusia massa. 

Kierkegaard memegang kuat eksistensi manusia yang individual, personal dan subjektif. Manusia yang mempunyai eksistensi, tidak dapat diabstraksikan maupun digeneralisasi dengan teori-teori umum. Penentu dari suatu perbuatan tertentu, terletak pada diri individu itu sendiri. Padangan Kierkegaard mengenai kehendak bebas, berhubungan erat dengan masalah kebebasan manusia. Satu aspek yang melekat dari kebebasan adalah tanggung jawab. 

Selain kagum pada Socrates, Kierkegaard selalu mencontoh Nabi Ibrahim sebagai model dala soal bertuhan. Kita sering melihat manusia yang religious memiliki sikap yang dianggap aneh, nyentrik, tak masuk akal atau bahkan gila. Hal ini disebabkan nilai-nilai religious bersifat murni subjektif, sehingga seringkali sulit diterima akal sehat. Banyak paradoks yang muncul tentang tuhan, misalnya jika tuhan ada dan mahasempurna, kenapa membiarkannya ada kejahatan, keburukan? 

Disinilah Kierkegaard mengatakan bahwa paradoks tuhan bukan sesuatu yang bisa dipikirkan secara rasional. Sosok Nabi Ibrahim menurut Kierkegaard telah masuk dalam tahap religiousitas ini. Ibrahim telah lulus dalam mempertahankan keyakinan subjektifnya yang berdasarkan iman. Ibrahim bersedia mengorbankan anaknya, Ismail, atas dasar keyakinan pribadi; bahwa tuhan telah memerintahnya untuk dikorbankan. 

Jika kita memakai ukuran kebenaran obyektif, Nabi Ibrahim akan tampak begitu kejam dan bodoh, untuk menyembelih anaknya sendiri. Tergantung pada soal keimanan atau keyakinan kita. Nabi Ibrahim memilih berkeyakinan itu, tanpa reserve, tanpa tanya, tanpa mosting cacian di fesbuk, apalagi ngajak-ngajak orang lain bertuhan atau tidak. Maka, mereka yang jualan agama atau tuhan dengan nilai uang rupiah, dollar, atau dinar, diragukan obyektivitasnya karena meragukan subyektivitasnya.

Kamis, Maret 03, 2016

Tere Liye dan Kere Niye

Tere Liye, memang penulis novel pop terkenal. Tetapi sudah barang tentu, bukan berarti ia tak paham sejarah. Meski, celakanya, kenyataannya ia memang tak paham sejarah. Setidaknya sejarah Indonesia, yang di mana dia menasehati kita agar memahami sejarah negeri kita, dan agar tak terpesona pada paham-paham dari luar. Mungkinkah maksud paham-paham dari luar itu juga temasuk paham Arab, yang saat-saat ini sedang digandrungi, dan dikampanyekan besar-besaran di Indonesia, seperti fundamentalisme agama, misalnya? Wallahu’alam.

Tulisan-tulisan Tere Liye, kebanyakan adalah novel pop remaja. Sebagai novel pop remaja lainnya, di mana pun, cenderung masuk kategori budaya pop. Budaya pop tak lain adalah anak kandung kapitalisme, yang hobinya melakukan eksploitasi selera pop. Yang ringan-ringan. Mediocre. Menghibur. Tanpa kedalaman. Kemenyek. Ecek-ecek. Dan ketika Tere Liye nulis (di status fesbuknya) soal jasa-jasa pahlawan, serta paham-paham asing, dan juga mempertanyakan mana ada pejuang-pejuang kita dari yang komunis, kiri, liberal, pejuang HAM dalam perjuangan Indonesia merdeka, kita bisa saja gagal paham. Kemana saja selama ini?

Apakah ada pemikir komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, dan pendukung liberal yang pernah bertarung melawan Belanda, Inggris, Jepang? Ya, tentu saja ada, dan banyak. Kebanyakan mereka adalah para politisi dan negarawan pejuang diplomasi, pemikiran, kemanusiaan. Tentu bisa beda peran dengan pejuang-pejuang fisik, yang tarung di medan perang, atau mereka yang tergabung dalam kesatuan militer seperti BKR, TKR, TNI dan seterusnya.

Apakah kepahlawanan atau heroisme hanya yang bau militer? Tentu tidak. Kartini, Sukarno, Hatta, HOS Tjokroaminoto, Tirto Adisuryo, Soetan Sjahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka, Soegijapranoto, KH Agus Salim, dan masih banyak lagi nama, adalah tokoh-tokoh dengan beragam paham seperti komunis, kiri, liberal, dan tentunya pejuang HAM pula. Mereka berjuang hidup dan mati. Dan berkali-kali menikmati penjara.

Di Indonesia ini, ketekenalan, populariras, tidak identik dengan kecerdasan. Dalam budaya pop, banyak tokoh terkenal yang pada dasarnya bodoh, otak udang, berperilaku dan berpikir dogol. Dan itu jamak. Jadi kalau Tere Liye menunjukkan kualitas aselinya, kita tak perlu heran. Jadi? Pernyataan Tere Liye itu membuktikan, popularitas itu tidak paralel dengan kualitas otak. 

Dalam dunia pop, yang sering terjadi adalah soal keberuntungan, juga opportunity. Pernyataan yang sangat kere niye!

Sabtu, November 14, 2015

Enny Arrow, Pejuang, Pendidik, Generasi Bangsa


Catatan Tambahan: Tulisan ini sebenarnya saya tulis serius karena diminta oleh sebuah blog di Yogyakarta, yang bertagline; “Sedikit Nakal Banyak Akal”. Tapi karena tulisan itu bukan hanya diedit, melainkan diubah-ubah, dan akhirnya memang sempat dimuat (12/11/2015), saya keberatan karena tulisannya menurut saya jadi ngaco. Saya minta tulisan itu dicabut atau dimuat utuh. Saya senang mereka akhirnya memilih mencabutnya, meski lagi-lagi mereka melakukan begitu saja tanpa menghubungi saya lagi. Itu soal etika sih, karena saya tidak cari perkara kirim tulisan ke mereka, tapi mereka yang meminta tulisan saya. Untung saya sama sekali tak menggubris pertanyaan mereka soal nomor rekening saya. Karena bagi saya menulis adalah kebahagiaan, bukan soal honorarium. Untuk mengobati kekecewaan, karena saya menulis artikel ini serius dan menghabiskan energi, saya muat di sini seutuhnya, kecuali mencoret dan mengganti kata atau nama yang berkait dengan peminta tulisan saya tersebut. SW



1. Biar kelihatan serius, pakai angka-angka. Enny Arrow adalah fenomena, setidaknya fenomena rusuh, lebih spesifik lagi; rusuh seks. Rusuh seks atau seks rusuh? Seks memang rusuh, karena itu rusuh seks nilainya lebih rusuh lagi, complicated. Jika di dunia sepakbola ada bonek atau aremania, ini lebih rusuh dari itu. Apalagi dibanding pendemo profesional, atau kaum haters yang belum juga bisa move on.
Jagat Enny Arrow adalah jagat pinggiran, di seputar Pasar Senen dan Pasar Baru, Jakarta, pada penerbit lapakan. Benar-benar hanya berdagang buku dengan satu lapak meja. Buku siapa? Buku yang mereka terbitin sendiri, cetak sendiri, meski tentu penulisnya bukan mereka. Itu persis para penerbit komik di Los Mini Topsy (Pasar Baru). Cara jual beli naskah, novel atau komik, benar-benar dengan transaksi amat biasa. Pembelinya, para taoke toko buku itu, tak perlu melihat atau membacanya. 
Sebuah naskah novel dari nama yang tidak terkenal, pada tahun 1980an, bisa hanya ditawar antara 10.000 s.d 20.000 rupiah. Untuk penulis novel, bukan hanya judul, bahkan nama pengarangnya pun bisa diganti. Apakah Anda tak pernah menduga, jika teman Anda pernah menulis novel gituan, dan nama yang ditabalkan atas buku cerita itu menjadi Enny Arrow? Jika tak pernah, cobalah menduga. Sesekali.
Itulah fenomena novel seks atau cerita stensilan (padahal dicetak handpress) jaman itu, dalam hampir tiga dekade 1970-1990. Jaman sebelum internet dan era digital merangseks (artinya = merangkul seks).



2. Meski kita masuk era teknologi dan komunikasi modern, bukan berarti kita gampang akses informasi. Bahkan sampai kini, jika pun ada yang menulis biografi Enny Arrow, tak pernah jelas sumber informasinya.
Konon Enny Arrow dulunya ‘hanyalah’ pekerja di toko usaha tukang jahit bernama ‘Arrow’ di Kalimalang, Jakarta Timur. Entah karena suntuk kerja sebagai penjahit, ia menulis novel pertama pada 1965. Judulnya agak seram juga; Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta. Judul yang oleh para communistofobi akan dituding kiri. Nama Arrow di belakang nama aselinya, Enny (Sukaesih Probowidagdo) memang diambilkan dari nama tempatnya bekerja waktu itu. 
Entah berhubungan atau tidak, antara novel yang berjudul kekiri-kirian dengan situasi jamannya (pecah peristiwa 30 September 1965), pada akhir tahun itu Enny Arrow kabur ke Filipina, untuk kemudian ke Hong Kong, dan akhirnya ke Seattle, Amerika Serikat, April 1967.
Perempuan kelahiran Hambalang, Bogor tahun 1924 itu, pada awalnya memang wartawan. Memulai karir kewartawanan pada masa pendudukan Jepang, belajar Steno di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein, yang mengamati jalannya pertempuran di seputar wilayah Bekasi.
Soal riwayat Enny Arrow, masih simpang-siur. Ada yang mengatakan, Abdullah Harahap (penulis novel-novel horor sejaman Motinggo Boesje) konon tahu persis Enny Arrow adalah nama samaran penulis lelaki, dan masih hidup hingga sekarang. Siapa? Sialnya, Abdullah Harahap sudah almarhum, sehingga tak bisa dikonfirmasi. 
 
Di Amerika Serikat Enny Arrow belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck. Menemukan irama Steinbeck, Enny Arrow mencoba menulis untuk beberapa koran terkenal AS. Salah satu yang dimuat, novel (cerber) berjudul "Mirror Mirror".

 
Tahun 1974 kembali ke Djakarta, bekerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta, sebagai copy-writer atas kontrak-kontrak­ bisnis, Enny Arrow kembali tergoda menulis. Dalam pertengahan dekade 70-an, nama Enny Arrow melambung melampaui popularitas Teguh Esha dengan Ali Topan. Selama satu dekade ke depan, hingga pertengahan 80-an, Enny Arrow merajai bacaan remaja Indonesia, bersamaan dengan jaman keemasan komik-komik roman seperti Zaldy, Sim, Jan, dan seterusnya, termasuk kemudian disusul komik-komik silat Ganes TH, Man, Djair, Hans dan lain-lainnya.

Era itu, Orde Baru sedang berjualan moralitas Pancasila. Belum ada FPI dan sejenisnya, namun sudah ada ritual ‘gropyokan Enny Arrow’ dan membakar komik-komik roman yang dianggap meracuni moral generasi muda. Pelakunya, para penegak hukum, dan para moralis, meski belum ada Surat Edaran Kapolri Badrodin, yang waktu itu masih kanak-kanak.
Jaman itu, pornografi jadi musuh Negara. Sampai Motinggo Boesje, sastrawan yang terpeleset ke novel seks pun, pada dekade 1980-an putar haluan. Masih menulis roman sahdu, tetapi dengan baluran agama. Sehingga banyak adegan di mana tokohnya bentar-bentar mandi junub, bentar-bentar mandi junub.

3. Persoalannya, jika ini dianggap persoalan, Enny Arrow lahir di jaman itu. Jaman ketika yang namanya komunitas anti hegemoni belum tumbuh. Itu jika dianggap persoalan. Tapi jika tak dianggap, ya, buat apa paragraph ini ditulis, apalagi sampai dibaca?
Seandainya Enny Arrow hidup di komunitas Salihara, dan GM tidak mengenal Ayu Utami, misalnya, bagaimana coba? Atau misalnya, di jaman efek mediasi ini, Enny Arrow hidup sejaman Eka Kurniawan, sama-sama belajar John Steinbeck, apakah nasib Enny Arrow akan penuh luka, meski tidak cantik?
Ayu Utami, atau Eka Kurniawan, bisa menulis soal kelamin dengan leluasa. Atas nama peradaban atau keterdidikan? Itu sih pinter-pinternya para juru tafsir saja. Yang pasti, para juru tafsir Enny Arrow, hanyalah pedagang lapak buku yang merangkap penerbit di Pasar Senen dan Pasar Buku. Tak satu pun yang ikut komunitas sastra, apalagi ikut nongkrong di angkringan komunitas bloger. 
Pertama kali, buku-buku Enny Arrow diterbitkan oleh penerbit ‘Mawar’. Padahal, di beberapa koran dan televisi, ‘Mawar’ selalu identik dengan nama korban perkosaan. Apakah para penulis berita itu dulu penggemar Enny Arrow? Biarlah itu jadi rahasia dunia. Selebihnya, hampir semua penerbit di Pasar Senen tanpa perlu menyebut nama penerbitannya. Cukup menuliskan nama Enny Arrow doang, dan itu jaminan best-seller.
Mereka hanya tahu, setelah 1965 dan Mbah Soeharto tampil, dunia sosial-politik melulu milik Negara. Sementara, siapa yang mengisi moral dan rohani masyarakat? Agama belum laku diperdagangkan waktu itu. Satu-satunya hanyalah hiburan pop, musik ngak-ngik-ngok, termasuk di dalamnya novel kelas stensilan dan komik-komik.
 
Generasi yang tumbuh pada jaman itu, menurut survei yang pernah dilakukan majalah "Men's Health” edisi Indonesia (2003), mengungkap mereka (17,2% responden) adalah pembaca karya Enny Arrow, sebagai sumber pertama pengetahuan tentang seks. Para pembaca Enny Arrow itu, saat ini adalah para pembuat keputusan puncak, dalam institusi sosial politik masing-masing. Mereka berumur kisaran 40-60 tahun. Mungkin ada yang jadi menteri, anggota parlemen, atau mendirikan angkringan sebagai life-style.




4. Namun yang dahsyat dari Enny Arrow, mungkin juga Freddy S, Nick Carter (ini konon dari Amerika aseli), nama-nama mereka menjadi nama generik. Sama seperti cerita komik anak-anak waktu itu. Ada banyak komik cerita HC Andersen, tapi sumpah mampus, pemilik nama itu sangat bisa jadi tidak tahu menahu. Bukan karyanya dijiplak, cukup namanya saja yang dipakai, sebagai merk dagang dan tanpa ijin, apalagi membayar copy-right.  
Ketika menjadi redaktur ‘Optimis’, majalah perbukuan, dan bekerja di Pengembangan Minat Baca Masyarakat (1984) Jakarta, saya mengadakan survey penerbitan pinggiran ini, yang semuanya berpusat di Pasar Senen dan Pasar Baru. Buku, entah novel stensilan atau komik, pada jaman itu pernah menjadi penanda jaman, bahkan mewarnai perjalanan satu generasi. 
Enny Arrow adalah merk dagang, hingga periode terakhirnya, pertengahan dekade 80-90, namanya bukan mulai menyurut melainkan me-rusak (menuju rusak). Enny Arrow yang asli makin tak banyak berkarya, karena penerbit abal-abal memakai nama itu sebagai merk patent atau jaminan laris, dari berbagai penulis lain yang bisa dibayar lebih murah. Hingga kemudian, matilah Enny Arrow pada 1995.
Kisah Enny Arrow sesungguhnya tragis, tetapi ia adalah fenomena. Nama kepenulisannya bisa menjadi merk dagang. Itu sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Eka Kurniawan, atau siapalah. Mana ada penerbit meminta penulis murahan, terus kemudian tulisannya diberi merk Ayu Utami atau siapalah! Tak ada ‘kan? Karena peradaban sudah tumbuh di Indonesia. Kalau pun masih berlangsung, modusnya lain, misal jadi ghost-writer penulis laris (di dunia sinetron, praktik seperti ini marak). 
Misal pembajakan, penjiplakan, atau meniru-niru. Baik di dunia musik, film, penulisan, dan sejenisnya. Kalau kita nonton film ‘Pendekar Tongkat Emas’ karya Isa Isfansyah, kita mungkin kayak pernah melihatnya di film Hero, Crouching Tiger Hiden Dragon’ atau ‘Red Cliff’-nya John Wo. Atau musiknya Koes Plus, Ahmad Dhani, dan sebagainya. Atau novelnya si anu yang menggemparkan, tapi sangat dipengaruhi Steinbeck, dan sebagainya. Gitu-gitulah. Kalau nggak gitu-gitulah, ya, berarti gini-ginilah.


5. Di Indonesia yang sangat kaya raya ini, pada setiap generasinya, cenderung dididik oleh generasi KW atau generasi generik. Itu bukanlah sebuah aib benar. Sesuatu yang wajar-wajar saja.
Ketika di Jawa masih terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), di Eropa sono Charles Darwin sudah mengungkapkan teori evolusi, Karl Marx berduet dengan Friederich Engels menerbitkan Communist Manifesto (1847). Atau jauh sebelumnya, Jane Austin (1775-1817) novelis Inggris, meluncurkan novelnya ‘Sense and Sensibility’.  Meski di tanah Jawa pada 1817, Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja Karaton Surakarta, telah menulis Serat Centhini yang lebih vulgar dari semua pakar penulis sastra perkelaminan.
Maka, jika sebuah survey menyebut 17,2% respondennya mengaku mengetahui seks dari Enny Arrow, mantan penjahit itu telah berjasa sebagai pejuang pendidikan seks, justeru ketika masih dianggap tabu-tabunya. Padahal kata beberapa kyai di pesantren, dunia berputar karena selangkangan. Sampai Enny Arrow wafat dalam keadaan miskin, namanya sangat melegenda atas pengalaman empirik generasi bangsa. Ia pernah menjadi sebuah outlet, katarsis perkelaminan. Semoga khusnul qotimah. Alfatehah!

6. Tapi sikap kepenulisan Enny Arrow menarik, ketika ia tidak mau masuk ke penerbit besar, dan menjual bukunya ke toko-toko buku besar. Ini masih konon, benar-tidaknya masih butuh bantuan CIA, secara Enny Arrow memang agak misterius. Sementara mengharap BIN bertindak, seperti mengharap Sutiyoso pit-pitan dengan saya. Bukan karena saya tak punya sepeda, tapi tentu saya punya alas an ogah diajak Sutiyoso. 
Jangan-jangan, dengan novel pertamanya dulu, yang agak kekiri-kirian, beliaunya memang kiri. Hingga harus tersingkir atau menyingkir. Jika benar, sikap itu menarik, justeru ketika banyak penerbit takluk dalam aturan toko buku. Bahwa 50% lebih, dari harga buku, adalah hak toko buku. Selagi penerbit saja takluk, apalagi penulisnya, yang hanya mendapat 10% dari harga buku.
Maka para penulis yang anti asosiasi profesi, mending memilih semi-flat, dapat bayaran cash per-1000 eks dapat Rp 1.000.000, atau jual putus karena kebelet kawin!
Angka itu, sungguh tak sebanding dengan menerbitkan sendiri model indie. Jika laku 10-20 eks, bisa dapetin uang yang sama dengan yang 1.000 eks tadi. Tentu saja, jika laku dan tidak diminta gratisan teman-temannya.

7. Benarkah era Enny Arrow pudar di jaman dvd, blue-ray atau teknologi digital ini? Justeru tidak. Sepanjang masih bernama manusia rindu berproduksi, beregenerasi, atau prokreasi, cerita-cerita lendir terus bergulir. Buku-buku Enny Arrow dalam bentuk pdf, e-book, mudah ditemui di internet.
Bahkan regenerasi cerita model Enny Arrow, mewabah dan punya laman-laman khusus di berbagai media internet. Malah ada yang membuka interaksi antara penulis dan pembaca cerita-cerita soal perkelaminan ini. Buruan googling deh!
Enny Arrow, setidaknya membuktikan kekuatan genre, yang ketika dibalut dengan teknik-teknik pencanggihan model Ayu Utami, atau Eka Kurniawan, akan sangat tergantung pada para penopang atau juru tafsirnya. Setidaknya, era tulisannya sangat dikenal, tapi penulisnya tidak. 
Itu sungguh sangat susah be’eng dijalankan saat ini. Karena popularitas bukan sekedar effect samping, tapi juga effect depan, dan belakang. Ikutan di Frankfurt BF (book fair, bukan blue film) misalnya, itu sesuatu banget, meski harus nombok-nombok. Wong GM pun sebagai ketua panitia, juga harus nombok.

8. Masih membacanya? Untuk tulisan bertele-tele ini, karena setelah ditunggui sekian paragraph tak ada desah-desahnya, saya ingin menutupnya dengan mengutip novel pendek karya Agus Mulyadi, dari blognya 13 November 2014, berjudul “Mengelak dan Harga Diri”, dengan kategori "Ra Jelas', yang kalau dilafalkan lidah cedal menjadi 'la-jel-as'.
Diceritakan suami-isteri Johnson dan Sri, ingin mencoba gaya baru dalam bersenggama. Mereka ingin bercumbu secara outdoor. Malam adalah waktu yang dipilih karena aman. Tapi, karena penulisnya mungkin masih imut (item dan ngemutan), Jonhson dan Sri masih malu-malu. Kurang liar, tak sebagaimana Ayu Utami. Atau kurang nyeteinbeck ‘Seperti Dendam’-nya Eka Kurniawan. 
Johnson dan Sri fullnaked, masuk dalam satu sarung dan bergumul. Eh, tiba-tiba, muncul Bagyo mengonangi mereka. Agus Mulyadi seperti stand-up comedian yang tak sabar dalam punch-lines, buru-buru menutup dengan semprotan Bagyo; “Krukupan sendiri ndasmu, Krukupan sendiri kok kakinya ada empat!”
Tapiii, bisa jadi itu bukan Agus Mulyadi aseli. Bisa jadi namanya di-hack, atau Agus Mulyadi generic. Karena hampir mirip dengan gaya penutup novel-novel stensilan Enny Arrow, setelah ah-uh-ah-uh sepanjang halaman, tiba-tiba di halaman akhir bisa muncul 2-3 paragraf dengan ajaran moral khas Indonesia, semacam permintaan doa pada yang kuasa. Walau cuma satu ayat atau satu kata, tapi ‘kan sudah berkutbah. Artinya, moralnya nggak ancur-ancur banget. 
Meski jaman dulu kala, di jaman kejayaan Enny Arrow, selalu ada the first reader. Tugasnya, memberi kode-kode tertentu di halaman berapa bagian hotnya. Pembaca berikutnya, langsung membaca bagian hot itu. Tidak penting segala macam lead, set up atau pun premis-premis. Emangnya menulis di blog lucu, harus pakai teori-teori teknis?

9. Sebetulnya poin terakhir ini, tidak ada. Tapi, untuk pantes-pantes, agar terlihat gusdurian yang NU-nya berbintang 9, maka angka ini diadakan. Biar kelihatan agak taklim-muta'alim, sebagaimana stensilan kitab-kitab kuning. Sekian.

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...