Tampilkan postingan dengan label Buku Sunardian Wirodono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Sunardian Wirodono. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 24, 2020

New Normal dan Daya Adaptasi Kita


Oleh Sunardian Wirodono

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk adaptif. Setidaknya, itulah yang membuatnya masih ada hingga kini, dalam perjalanan waktu yang mungkin sudah mencapai 5 – 8 ribu tahun.

Dalam bacaan mengenai sejarah peradaban planet bumi, kita mengenali beberapa jenis makhluk hidup lain, yang kini sudah tak ada. Mungkin dalam dugaan kita karena ketakmampuannya beradaptasi. Misal, kenapa dinosaurus lenyap, atau juga berbagai jenis binatang yang kini langka. Jika kita ingat cerita orangtua atau kakek-nenek kita mengenai jaman Jepang (awal decade 1940-an), kita kini mungkin tak lagi melihat binatang yang disebut kepinding (bangsat, atau dalam istilah Jawa disebut ‘tinggi’). Demikian halnya juga mungkin berbagai jenis tanaman atau tumbuhan, yang tak lagi bisa kita temu.
 

Bakal Terbit: Novel Politik Terbaru, April 2020
.
Daya adaptasi manusia menunjukan ‘kelebihan’ makhluk ini dibanding lainnya. Yakni survivalitas yang karena kemampuannya menggunakan akal-pikiran. Itulah yang menyebabkan manusia memiliki catatan perubahan, disebut proses peradaban. Dari entah yang disebut jaman batu, hingga jaman yang diramalkan Einstein mungkin akan sampai dengan perang batu dan kayu, setelah perang nuklir dan penggunaan senjata kimia.

Kedigdayaan Musuh Terbaru. Di luar yang meyakini adanya teori konspirasi, munculnya pandemi Covid-19, membuktikan peperangan terbaru manusia, menghadapi situasi krisis lingkungannya. Apapun sejarahnya, Covid-19 telah mengharu-biru manusia. Sampai pada titik paling krusial, yakni kematian manusia dalam waktu relative cepat. Bahkan menantang pada titik kulminasinya, yakni menyerang manusia-manusia yang justeru kita sebut sebagai para ahli kesehatan.

Hal tersebut benar-benar menunjukkan kedigdayaan musuh terbaru manusia ini. Dan kita lihat, ketidaksiapan kita semua menghadapi hal itu. Secara sosial, ekonomi, budaya, dan bahkan politik, di mana pada unsur terakhir telah bercampur dengan karakter dari manusia itu sendiri, yakni homo homini lupus.

Di manakah letak manusia Indonesia dalam situasi itu? Justeru ketika manusia Indonesia kini juga sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Dengan progres kebudayaan sejak 1908, 1928, 1945, justeru mulai 1966 bangsa Indonesia berada dalam situasi stagnan. Setidaknya pada periode yang secara politik disebut Orde Baru, atau new-orde, kekuasaan politik justeru membuat kurva peradaban manusia menurun.

Soeharto dengan otoritariannya, dengan pragmatisme politik dan system formalisme dalam nilai kebudayaan (pendidikan dan agama), menjadikan kita mandeg. Dan kita merasakan akibat lanjutannya, dalam kualitas demokrasi, kualitas dan daya saing sdm, serta munculnya formalisme yang menjadi bagian dari pelambatan perubahan itu sendiri. Kita bisa memahami nubuat Sukarno, “Perjuanganku takkan lebih berat darimu, yang mesti menghadapi bangsamu sendiri!” 

Agama Kehilangan Legitimasi. Pemerintah tidak lagi memiliki otoritas mutlak. Para ahli di berbagai bidang, juga sama sekali tak punya otoritas keahliannya. Matinya kepakaran, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Juga keterbelahan kelompok kelas masyarakat ini, menjadi pemicu akibat dari terjadinya polarisasi atas nama kepentingan-kepentingan.

Dalam hal ini, menghadapi pandemic Covid-19, kelompok agama juga kehilangan legitimasi dan bahkan legalitasnya. Bukan hanya karena mereka tak mengerti cara mengatasi situasi, melainkan keyakinan keberagamaannya, juga menjadi kontra-produktif. Sebagaimana kritik Einstein, agama mesti berjalan seiring dengan ilmu dan pengetahuan, agar tidak lumpuh. Dalam praktiknya, sebagai contoh kasus, penyebabran virus corona secara massif dan serentak, justeru berkait aktivitas agama, seperti di Korea, Malaysia, juga di beberapa kota Indonesia yang dipakai untuk pertemuan berjamaah atau pun ibadah bersama di masa himbauan physical distancing.

Apa yang terjadi di gereja dan masjid Indonesia, tak bisa tidak dikaitkan dengan bagaimana agama menjadi persoalan, dan paling tak mudah berdamai dengan situasi. Mereka yang tetap heroik melakukan peribadatan massal, biasanya meyakini bahwa mati dan hidup adalah otoritas Tuhan, jadi kenapa mesti lebih takut pada aturan manusia daripada ketentuan Tuhan? Jika pun sekiranya kejadian, mereka bisa dengan enteng mengatakan demikianlah takdirnya.

Kualitas SDM negara Indonesia, dalam catatan perangkingan literasi dunia, beberapa tahun lampau, berada di posisi ke-2 dari bawah. Hanya satu tingkat lebih unggul dari sebuah negara kecil di Afrika.

Formalisme Berfikir dan Berkeagamaan. Sementara itu, formalisme berfikir dan berkeagamaan, menjadi faktor lain dari persoalan-persoalan kita menghadapi situasi sekarang ini. Kita tahu banyak cerita mengenai itu. Tentang pendeta yang ngeyel, juga beberapa habib dan ustadz yang muncul di medsos, dalam video-video pendek, menghujat pemerintah dan negara sebagai laknatullah karena dituding dzalim, dan lain sejenisnya.

Bahkan situasi sekarang ini, bisa jauh lebih buruk karena hal-hal tersebut muncul dalam berbagai pertemuan irisan kepentingan. Perubahan situasi politik, orientasi pemerintahan yang berjalan, memungkinkan tabrakan-tabrakan pihak-pihak yang dirugikan secara politik dan ekonomi. Konflik atau perang yang muncul, berbentuk a-simetris, dan karenanya menjadi tidak gampang.

Ketika pandemic Covid-19 ditetapkan sebagai bencana nasional pun, tak bisa mempersatukan. Tak sebagaimana Sukarno dulu memakai slogan-slogan provokatif seperti ganyang Malaysia, Inggris kita linggis dan Amerika kita sterika. Demikian pula jaman Soeharto, diciptakan common enemy bernama PKI, menjadi alat strategis untuk membuat satu barisan yang mendukungnya. Padal di sisi lainnya, hal itu abai dengan kepentingan negara secara substansi dalam membangun persatuan dan kesaktuan. Kekuatan itu malahan dikamuflase bagi kepentingan politik kekuasaan Soeharto. Polarisasi itu bukan meredup, meski Soeharto telah 18 tahun longsor. Bahkan polarisasi itu kembali sengaja dibangun, baik oleh pengikutnya, hingga oposan bagi pemerintahan kini.

Bagaimana kita membayangkan new normal, atau kenormalan baru, yang istilah itu kini disebut-sebut, dalam keputusasaan menghadapi pandemic? Bagaimana dengan sesanti Sukarno, bahwa ‘rakyat kuat negara kuat’. Berazas gotong royong yang menjadi soko-guru Indonesia?

Tidak Semudah Kritik. Sesuatu yang tak mudah, Tidak semudah kritik-kritik yang dilontarkan entah itu dari yang disebut SJW, aktivis politik, kaum oposan. Di mana terlihat perspektifnya lebih berangkat dari kepentingan masing-masing. Apalagi jika dilakukan dengan cara pandang mikroskopik. Sesuatu yang kecil terlihat membesar. Padal, demikianlah kerja mikroskop, karena focus penglihatan, tetapi mengabaikan peripheral atau lingkungannya.

Sementara siapapun, yang berada dalam posisi Presiden (eksekutif), sekarang tak bisa tidak harus melihat dari berbagai aspek. Tidaklah mudah menjadi penyeimbang dari berbagai obyek dan subjek yang saling berkelindan. Apa yang dilakukan seorang Presiden, berimplikasi langsung bukan hanya pada rakyat, tetapi juga pada dirinya. Dalam kungkungan legislative dan judikatif, plus rakyat dan media di jaman medsos kiwari yang tak terkendali lagi. Ditambah pula kualitas demokrasi yang belum membahagiakan.

Siapapun presidennya, tak bisa tidak harus memperhatikan berbagai aspek itu. Sehingga apapun keputusannya, bisa terlihat kontroversial. Atau tak mudah diterima. Apalagi jika yang masing-masing konstituen kukuh ingin mendapat 100%, bahkan lebih dari semua keinginannya. Kita cenderung tak mau kepentingannya dibagi, atau terbagi, apalagi berbagi untuk kepentingan lain. Jika perlu, bagaimana bisa kita dominasi kepentingan itu dengan mengabaikan kepentingan liyan.

Apakah tak ada jalan keluar? Kembali ke daya adaptif manusia. Sekali pun dalam situasi sekarang, kehadiran Presiden yang baik saja menjadi tak cukup. Catatan bagi Jokowi, ialah bagaimana mampu keluar dari zona merah itu. Lebih berani memutuskan dengan radikal. Situasi kenormalan baru akan lebih mendapat jalan dari sini.

Apalagi ketika kita tidak mendapatkan pencerahan terbarukan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan (baca; dunia kesenian) kita. Bahkan, sekali lagi, apalagi dari agama. Kelemahan yang paling mendasar dari bangsa ini, rendahnya disiplin dan tingginya konformisme, kadang mendapatkan dan mencari legitimasi dari agama. Demokrasi hanya dilihat dari aspek hak (azasi manusia) dan kebebasan berpikir serta berpendapat. Sama sekali tak melihat bahwa semua itu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Kualitas Demokrasi dan Rendahnya Literasi. Meski pun tentu kita juga mengetahui, Negara Indonesia baru berada dalam situasi transisi, Dari situasi-situasi kritis peninggalan 32 tahun, dari rezim otoriter ke era yang didorong untuk lebih demokratis. Di situ pada akhirnya daripada ngomongin new normal, akibat pandemi corona, terasa lebih penting ke pokok dasarnya. Yakni sikap mental dan perilaku bangsa ini menghadapi perubahan (apapun). Pandemi corona, mungkin justeru bisa diletakkan sebagai pemicu. Sebagaimana beberapa kasus kematian yang terjadi secara massal, di antaranya adalah tidak selalu oleh corona virus. Melainkan karena penyakit-penyakit bawaan atau yang sudah diidap sebelumnya.

Penyakit bangsa ini, soal kualitas demokrasi dan rendahnya daya literasi. Dangkalnya daya penalaran, yang menjadi kontraprodukif, justeru karena lebih bersandar pada klaim-klaim nilai yang dianggap substansial, padal pada sisi lain, tidak relevan. Misal, munculnya puritanisme (di luar radikalisme), yang mengagungkan agama sebagai satu-satunya nilai, dengan menisbikan nilai-nilai lainnya. Padal agama-agama itu sendiri tak sedikit membawa pesan; agar manusia berpikir, menggunakan akal, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Jangankan hal itu, ajaran welas asih dan kesalehan sosial, bisa diabaikan.

 Sebagai penutup tulisan ini, apa yang terjadi pada orang yang disebut habib di Bangil (Jawa Timur), ketika berurusan dengan Kepolisian. Bagaimana kemudian kasus itu diselesaikan. Kedua belah pihak, sama-sama tak proporsional dilihat dari status atau posisinya secara sosial. Hal itu nyata, serta dalam beberapa hal, umum terjadi. Bagaimana seorang ahli agama memalsukan BPKB kendaraannya? Bagaimana petugas negara yang menjalankan aturan pemerintah justeru meminta maaf pada pelanggarnya? Itu sungguh sesuatu banget, dan nyata banget. | @sunardianwirodono

Yogyakarta, Malam Lebaran, 24 Mei 2020

Jumat, Juli 28, 2017

Sunardian Wirodono dalam Agama, Politik, dan Seks

"Nam-sembilan, Lapan-nam, Sembilan-sembilan"
HIDUP MULIA TAPI RA MUTU 
 
99 TULISAN PENTING SUNARDIAN WIRODONO TENTANG AGAMA, POLITIK, DAN SEKS

DATA FISIK BUKU 9 X14 CM., 600 HALAMAN

HARGA UMUM RP 150.000 (SUDAH TERMASUK ONGKIR) 


 PRIORITAS UNTUK PRE-ORDER (PALING TELAT 5 AGUSTUS 2017) DISKON 33%
UNTUK DONASI CETAK RP 100.000

TRANSFER KE: 
BCA No. 0373042223, atau 
MANDIRI No. 137.00.0521519.5, atau 
BRI No. 0891-01-029140-53-7 

KONFIRMASIKAN KE SMS/WA:
0813 9397 9400 (SW). 

SALAM SAYA: 
SUNARDIAN WIRODONO 
0813 9397 9400

Minggu, Januari 29, 2017

Serat Centhini Dwi Lingua Jilid 3 Terbit Februari 2017

Serat Centhini Dwi Lingua, berisi teks aseli kitab sastra Jawa Klasik abad 18 karya Sri Susuhunan Pakubuwana V (Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat), dilengkapi terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh Sunardian Wirodono. 

Diterjemahkan text by text, sama sekali tidak mengubah bentuk, tetap sebagai tembang macapat, sehingga berguna bagi yang ingin tahu teks aseli dan arti bahasanya. Bukan mengubah dan bukan pula menggubah. 

Setelah lebih 5 tahun lebih mangkrak, penerjemahan buku ini satu demi satu diselesaikan dari total 12 jilid yang ada. Semoga mulai bulan depan, bisa dicetak dan diedarkan, dengan ketentuan dan syarat berlaku.

Sebagai proyek buku indie, akan sangat tergantung dukungan handai-taulan yang ingin mengoleksi buku klasik edisi kolektor ini. Tidak akan dijual ke toko buku, dan pembelian hanya dan hanya melalui akun facebook Sunardian Wirodono atau via email sunardianwirodono@yahoo.com atau sunardianituwirodono@gmail.com. 

Untuk jilid 3 (tiga), akan naik cetak jika didapatkan 100 donatur dengan donasi untuk 1 eksemplaar buku Rp 200.000 (edisi hard-cover) dan Rp 150.000 (edisi biasa). Harga disesuaikan dengan ketebalan buku, lebih dari 800 halaman, dengan format huruf yang lebih manusiawi.
Untuk donasi buku, transfer ke rekening: BCA: 0373042223, BRI: 0891 01 029140 53 7, Mandiri: 137.00.0521519.5 Inbox-kan nama dan alamat Anda, serta kirim bukti transfer via whatsapp ke no. 0856 4332 0856. 

Informasi tambahan, SCDL Jilid 1, edisi hardcover stock kosong, edisi biasa 23 eksemplar. SCDL Jilid 2, edisi hardcover 49 eks, edisi biasa 203 eks. Buku ini, dengan cara indie, sudah menyebar ke Paris, AS, Belanda, Mesir, Malaysia, Hong Kong, Australia, dan kota-kota di Indonesia kecuali Lombok dan Sulawesi. Terimakasih dan salam. Yayasan Wiwara, Yogyakarta. Sunardian Wirodono.

Sabtu, Januari 07, 2017

Jokowi Undercover dan Dunia Perbukuan Indonesia


Sebagai penulis buku novel politik berjudul “Jokowi Undercover” (yang terbit September 2014), saya merasa dirugikan dan saya perlu menuliskan pikiran saya untuk menanggapi gegap gempita soal buku "Jokowi Undercover" Bambang Tri (yang terbit tahun 2016).

Saya tidak begitu keberatan apa yang terjadi dalam silang pendapat teman-teman di medsos, karena masing-masing mempunyai persepsi berdasar (kapasitas) perspektif mereka. Saya hanya menyesalkan pendapat Kapolri, dan juga beberapa berita-berita media televisi, yang dalam menanggapi hebohnya buku Bambang Tri, yang terbit kemudian tetapi kebetulan berjudul sama. 


Dikatakan bahwa Bambang Tri menyalahgunakan kebebasan berekspresi yang kebablasan. Tito Karnavian mengatakan menulis buku itu tidak sembarangan (yang ini saya setuju). Tapi tidak bisa hanya berdasarkan fantasi, fiksi. Harus berdasarkan fakta. 

Saya kira, yang dilakukan Bambang Tri bukan ekspresi (seni) yang kebablasan. Namun lebih merupakan laku tak bertanggtungjawab. Yakni menulis sesuatu (dan mempublikasikan), namun tak bisa membuktikannya dengan data dan fakta. 

Dikatakan tak bertanggungjawab, karena ia mengatakan bahwa yang ditulisnya adalah kebenaran (dan itu dilakukan dalam rangka bela negara). Apa yang ditulis? Tudingan pada seseorang telah melakukan kebohongan publik atas jatidirinya. Yakni, menuding Jokowi adalah keturunan Cina dan aktivis PKI. 

Disitu persoalan sebenarnya. Apakah penulis (Bambang Tri) tersebut mempunyai data dan fakta atas tudingannya itu? Jika tidak, maka dia disebut tidak bertanggungjawab. Lebih karena apa yang ditulisnya berimplikasi pada orang yang ditudingnya, dan masalah-masalah yang berkait dengan orang yang ditudingnya itu.

Sementara itu, pendapat Kapolri bahwa menulis harus berdasarkan fakta, tak boleh berimajinasi, hanya fiksi belaka, tentu tak bisa dipukulrata untuk para penulis kreatif dalam bentuk novel, cerpen, dan lain sejenisnya. Pada penulisan kreatif, kesemuanya meski bisa jadi berangkat dari fakta, namun diproses secara imajinatif, yang mempunyai nilai dan hukumnya sendiri dalam berekspresi dan berkreasi.

Bisa jadi, mungkin, yang dimaksudkan oleh Kapolri, adalah penulisan buku non-fiksi (seperti jenis yang ditulis Bambang Tri itu), yang memang harus disertai dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yakni, kemampuan penulis menyampaikan pokok pikiran dan analisisnya terhadap suatu fakta atau permasalahan yang harus bisa dipertanggungjawabkan. Bukan sekedar dari sistematika berfikir, tetapi juga argumentasi berdasar data dan bahkan kerangka teoritisnya secara akademik.

Pada sisi lain, sebagai contoh, saya menulis novel politik dengan setting Pilpres 2014, berdasar kejadian nyata, tetapi kemudian saya persepsikan dalam dunia imajinasi saya secara bebas, tentang bagaimana Jokowi pada akhirnya bisa terpilih sebagai presiden RI 2014-2019, dan bisa menyingkirkan kandidat sekelas Prabowo Subianto. 

Bahkan dalam novel politik saya, yang berjudul “Jokowi Undercover” itu, antara fakta dan fiksi tidak saya bedakan, meski saya menyebut tokoh-tokoh politik dan sejarah yang faktual ada di bumi Indonesia. Hal itu adalah kebebasan saya dalam berekspresi yang sah, dan dijamin oleh hukum kreativitas serta UUD 1945!

Sebaiknya, agar tak mengulangi kesalahan sebagaimana maraknya medol abal-abal, penerapan ISBN mestinya juga bisa dibakukan, agar kasus penjudulan yang sama, seperti kasus ‘Jokowi Undercover’ buku saya, Sunardian Wirodono, (2014) dengan punya Bambang Tri (2016) bisa dicegah. 

Setidaknya, buku yang saya tulis dengan judul “Jokowi Undercover”, sudah ber-ISBN, dengan nomor 978-602-9087-13-0, terbit September 2014. Sementara milik Bambang Tri, baru terbit pada tahun 2016. Jika misal Bambang Tri menggunakan ISBN (dengan mendaftar ke pusat data perbukuan di Perpustakaan Nasional RI), tidak mungkin buku tersebut boleh berjudul “Jokowi Undercover” karena saya sudah memakainya, dua tahun sebelumnya. Kecuali dua hal, tidak memakai ISBN atau nomor ISBN dipalsukan, karena itu banyak dilakukan penerbit abal-abal, yang tidak tahu apa fungsi nomor ISBN (International Standard Book Number).



Menulis buku tidak sembarangan, kata Kapolri, dan ini saya setuju. Tetapi dengan kasus Bambang Tri ini, tidak semestinya berujung pada pemberangusan kreativitas penulis. Karena yang dilakukan Bambang Tri bukan kreativitas seni, melainkan tindak kriminalitas, yakni memfitnah seseorang dan mempublikasikan fitnahannya (dalam bentuk buku) ke publik.

Karena sejujurnya, saya merasa dirugikan, apalagi justeru dituding numpang ngetop, untuk sebuah buku yang datang kemudian, dan ditulis secara tidak memadai serta tidak bertanggungjawab. Memang, sejak munculnya kehebohan buku “Jokowi Undercover” tulisan Bambang Tri itu, buku saya yang berjudul sama, kena imbasnya.

Setidaknya, dalam bulan Desember 2016, hampir setiap hari saya mendapat email, pemesanan buku Jokowi Undercover, sebanyak 7-15 pemesan. Tetapi ketika saya jawab dan jelaskan, kabanyakan tak ada eksekusi. Dari sekitar 200-an email yang saya terima, hanya 5 orang yang akhirnya membeli novel saya “Jokowi Undercover”. Karena kebanyakan ternyata memang mencari buku tulisan Bambang Tri itu. Bahkan, ada beberapa yang secara jelas dan verbal memesan buku Bambang Tri itu kepada saya.

Saya sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Bambang Tri, juga tentu sama sekali bukan penjual buku, kecuali buku karya saya sendiri yang saya terbitkan secara indie dan hanya dijual via online. Hal itu saya lakukan sebagai bentuk protes, karena pemerintah abai terhadap dunia perbukuan. Buku yang dijual di toko buku seperti Gramedia, ternyata harus kena potong (rabat) bisa sebesar 50-70% dari harga jualnya. Betapa religius-nya toko buku itu, sementara penulis hanya mendapat sekitar 10%.

Apa yang dilakukan Gramedia adalah cara membunuh perbukuan Indonesia. Penerbit di luar Gramedia, tidak akan mampu tumbuh sehat, karena mereka (untuk bisa masuk ke toko buku Gramedia) setidaknya perbulan harus menerbitkan minimal 15 judul buku. Buku apa saja yang bisa diterbitkan, dengan kualitas tulis dan baca yang rendah, jika bukan buku ngawur-ngawuran?
Jika pemerintah hendak menghidupkan kembali Dewan Buku Nasional, juga hendak mengajukan RUU Perbukuan, semoga hal-hal semacam ini bisa ditegaskan. Sepanjang orang-orang yang ada dalam lembaga perbukuan itu bukan para petualang, oportunis, pencari proyek, dan birokrat-birokrat yang ngerti buku pun tidak sama sekali. 


 

Kamis, Desember 22, 2016

Jokowi Undercover Sunardian Wirodono


Sangking hebohnya buku 'Jokowi Undercover' tulisan Bambang Tri (yang terang-terangan menuding Jokowi anak Cina dan PKI, dan nantang dirinya untuk ditangkap dengan memposting ktp-nya di medsos), saya jadi ikut kerepotan.

Saya hitung sudah seratusan lebih email masuk ke akun email saya, menanya tentang 'Jokowi Undercover'. Tapi setelah saya jawab, nggak tahunya yang mereka inginkan 'Jokowi Undercover' bukan karya saya, tapi yang karangan BT itu. Hiks.

Lagi-lagi terpaksa saya jelaskan, meski sama judulnya, buku saya yang terbit tahun 2014, berukuran 12 x 19 Cm., dengan tebal 1.000 hal, ISBN: 978-602-9087-3-0., adalah berbeda isi dan bentuknya dengan buku berjudul sama yang ditulis Bambang Tri yang terbit 2016. Saya (Sunardian Wirodono) tak mempunyai hubungan apapun dengan BT, tidak mengenalnya, juga bukan bagian darinya.

Buku saya, novel, fiksi, sementara milik BT non-fiksi (yang anehnya buku itu bisa judulnya gonta-ganti, kadang Undercover Jokowi), dan lain kali (yang terbaru, Desember 2016) covernya mirip buku saya yang sudah terbit sejak 2014. Saya heran kenapa.

Novel politik saya, 'Jokowi Undercover' adalah catatan politik Indonesia 2014, yang diterbitkan untuk mencoba memahami bagaimana masyarakat Indonesia merespons politik dengan media sosial di tangannya, dan bagaimana mungkin Jokowi bisa mengalahkan Prabowo, yang didukung kelas menengah kota dan bagian dari masa lalu itu.

Buku saya ini boleh dibilang mahal, dan bagi haters Jokowi mungkin bikin muntah-muntah, kejang perut tali kecapi. Novel 'Jokowi Undercover' Sunardian Wirodono, hanya didedikasikan bagi mereka yang hendak mengapresiasi sebuah peristiwa politik yang fenomenal, Jokowi Sang Presiden RI 2014-2019.
 
 
 

Kamis, Desember 01, 2016

Jokowi Undercover Novel Politik Sunardian


Devi Kiriani melarikan diri dari Bukit Hambalang. Meloncat dari atas truk dan nyungsep di sawah milik kakek tua petani aneh, yang tinggal berdua bersama isteri di sebuah hutan. Meski ditolong sang kakek, DK malah menuding kakek tua sebagai pendukung Prabowo.
“Aha, politik! Jangan bicara seperti itu padaku anak muda!” Kakek menyergah dengan ketawanya yang sinis.
“Bagaimana kalau saya curiga kakek ini pengikuti Kartosuwiryo? Boleh?” sosok miterius itu balik bertanya.
“Baik. Curigalah.”
“Bagaimana saya tidak curiga!” kata si misterius sembari menyeruput secangkir teh hangat yang disodorkan Nenek. “Kakek berdiam diri di tengah hutan ini. Menghindari keramaian. Kakek dan Nenek pasangan romantis. Sudah tua masih doyan ciuman segala. Hanya orang yang punya ideologi tertentu mau hidup dengan cara aneh seperti kakek dan nenek itu.”
“Tudingan ngawur. Apa hubungannya ciuman dengan ideologi tertentu? Ideologi tertentu itu apa? Bagaimana aku bisa mempercayaimu.”
“Kalimat-kalimat Kakek sangat dialektik. Kakek pasti seorang yang terdidik secara politik!” sosok misterius tampak tak mau kompromi. Ia hanya mengenal stereotype sebagaimana demikian ajaran yang diterimanya. “Ngaku. Kakek ini seorang takfiri, seorang penganut wahabi yang mimpi mengislamkan Indonesia bukan?”
Sang Kakek terdiam. Cukup lama.
“Nah, tak bisa membantah bukan?” sosok misterius terus merangsek.
“Minumlah!” Kakek mencoba mengalihkan perhatian.
“Hilang rasa haus saya, Kek!” tukas si misterius cepat. “Bahkan, saya bisa ramalkan, Prabowo bakal menang di daerah Jawa Barat ini,...”
“Apa hubungannya? Menang dari apa?”
“Kakek jangan pura-pura tidak tahu, Prabowo Subianto maju jadi calon presiden, dan seperti yang sudah-sudah, ia akan memanfaatkan kelompok Islam garis keras, sebagaimana Soeharto waktu itu memanfaatkan, hingga munculnya partai politik macam PKS atau pun ormas macam FPI!”

Demikian kutipan dalam novel ‘Jokowi Undercover’, karya Sunardian Wirodono. Ukuran Buku: 12x19 Cm, 1.000 halaman, bookpaper | ISBN: 978-602-9087-13-0 | Harga + ongkir Rp150.000. | Ini penerbitan buku indie, tidak dijual di toko buku. Pemesanan melalui pm/inbox akun fb ini, atau ke email
sunardianwirodono@yahoo.com.

Minggu, Oktober 09, 2016

Serat Centhini Dwi Lingua, Buku Lengkap Serat Centhini


Banyak yang menyebut Serat Centhini sebagai 'Kamasutra Jawa'. Penyamaan itu sama sekali tidak tepat. Karena Kamasutra, dari India, adalah buku tentang teknik-teknik bersenggama. Sementara Serat Centhini sebuah ensiklopedi dengan isi beragam --termasuk soal seks tentunya, dan lebih gila-gilaan pemaparannya dibanding Kamasutra atau katakanlah Enny Arrow.

Serat Centhini, sebagai banyak warisan budaya disikapi dengan segala mistifikasi dan glorifikasinya (oleh masyarakat Nusantara). Tapi, saya memandang Serat Centhini sebagai buku biasa yang luar biasa, apalagi ditulis oleh orang Jawa pada abad 18 (dalam kurun tahun 1815 – 1823). Saya kira, begitulah sebagaimana dijelaskan penulisnya sendiri, Sri Susuhunan Pakubuwana V dalam pengantarnya, buku ini diperuntukkan bagi generasi muda.

Saya kira, Pakubuwana V ini pakar komunikasi. Ngerti target audiens, dan ia setting begitu rupa bukunya, juga bahasanya yang tidak sastrawi (Jawa ngoko dan pop). Isinya disebut sebagai ‘babon pangawikan Jawi’ (sumber ilmu pengetahuan dunia, penyebutan Jawa karena jagat besar mereka waktu itu). Pakubuwana V, sejak masih pangeran, menyadari ekonomi dan moral rakyat Surakarta yang bangkrut akibat perang, dan butuh pegangan.

Penciptaan sebuah buku panduan, macam Serat Centhini, dalam bentuk tembang, pilihan yang sangat cerdas, karena banyak rakyatnya yang buta huruf. Dengan tembang, menyebabkan Serat Centhini mudah dihafal dan diingat. Hingga kemudian kita tahu, Serat Centhini dari sastra tulis menjadi sastra lisan (dan ketika dari sastra lisan dituliskan kembali --rewriting-- ada banyak versi Serat Centhini, lebih dari 11 versi). Sementara aselinya, masih tersimpan rapi di museum kraton Surakarta, juga Mangkunegaran.

Sebagaimana dimaksudkan sebagai ensiklopedi (baboning pangawikan Jawi, sumber pengetahuan Jawa), isinya sangat beragam. Dari soal kehidupan sehari-hari, memasak, bertani, beternak, cara membuat keris, merawat tubuh agar tetap sexy, agar kuat ngesex, teori kepemimpinan, menjinakkan kuda, cara menyembelih sapi supaya enak dan sehat, jejamuan. Hingga ke cerita-cerita mitos, legenda, sejarah, traveling dan reportase ke beberapa situs, mendengarkan cerita para juru kunci.

Hingga cerita-cerita mengenai Nabi Isa, Buddha, Syiwa, Wisnu, Muhammad, sampai bagaimana Prabu Yudhistira dituntun membaca dua kalimat syahadat oleh Sunan Kalijaga. Belum pula cerita-cerita fantastis bagaimana Syekh Amongraga yang sudah diranjap mati pasukan Sultan Agung dan jasadnya dilempar ke Laut Kidul, bisa hidup kembali. Terbang mengawang di atas pulau Jawa, berperang melawan seorang perompak yang hendak merebut isterinya!

Dan tentu, jangan dilupakan, cerita petualangan sex para tokohnya, yang sama sekali membuat generasi sekarang tercengang. Buku yang ditulis tahun-tahun 1815-1823 ini, dengan fasih bertutur mengenai praktik persenggamaan, termasuk party-sex, orgy, three-some, lgbt, dan Sang Cebolang yang unisex, serta Nyi Sembada janda kaya yang sehari tiga kali berpesta-sex dengan tiga pemuda sekaligus.

Pola penulisan Serat Centhini pun, menggunakan cara-cara yang mencengangkan. Sebuah ensiklopedi yang mendongeng. Teknis pengumpulan datanya menarik, dengan melakukan survey lapangan (hanya di pulau Jawa, meski ada yang melesat sampai ke Mekkah). Menggunakan periset dan informan lapangan. Bukan yang pertama karena Stamford Raffles dalam menulis ‘History of Java’ memakai metoda ini. Bahkan beberapa informan Rafless, dipakai juga oleh Pakubuwana V untuk Serat Centhini.

Kerja penulisan Serat Centhini adalah kerja intelektualitas biasa. Tidak ada yang ajaib, sebagaimana kerja-kerja intelektual para akademisi (yang baik). Bahkan, maafkan jika saya menduga, Serat Centhini juga melakukan copy-paste sumber-sumber tertulis lain (karya-karya dari pujangga sebelumnya), tanpa menyebut sumbernya. Secara teknis juga tak mudah menuliskan catatan kaki, atau nara sumber dalam penulisan tembang yang terikat polanya.

Serat Centhini adalah ensiklopedi yang ditulis dengan teknik bertutur, dengan sebuah cerita model discovery. Berlatar belakang penghancuran Kasunanan Giri oleh Adipati Surabaya, sebagai panglima perang Sultan Agung. Dan diam-diam di sana, Jawa menegasi Islam dengan substilnya. Bagaimana Syekh Amongraga yang hendak menyatukan ulama-umara dalam dirinya, disulap menjadi kwangwung (hama kelapa), dan kemudian dibakar hidup-hidup oleh Sultan Agung.

Sudah banyak buku tafsir Centhini, dalam bentuk pengubahan dan penggubahan menjadi novel atau prosa liris, bahkan juga penerjemahan (namun diubah dalam bentuk prosa, dan ada beberapa penghilangan, penghalusan teks, karena konon ada yang takut terkena cekal saking nge-sexnya).

Dengan bekal itu, maka ketika saya membacai dan menggeluti teks Serat Centhini dalam bahasa aselinya (Jawa), saya ingin berbagi bagaimana agar masyarakat umum, dan anak muda khususnya, bisa pula turut membacainya. Dalam teks serta bahasa dan bentuk aselinya, hingga bukan hanya sekedar rumor yang dicopast dari internet, dan hanya mengambil bagian-bagian erotiknya semata.

Dari sanalah maka terbit buku ‘Serat Centhini Dwi Lingua’ (artinya, satu buku berisi teks dalam bahasa aselinya Jawa beserta terjemahannya ke dalam Indonesia baris demi baris, hingga hal itu membantu untuk bisa memaknai buku aselinya). Dari 12 jilid keseluruhan, saya baru bisa menerjemahkan beberapa jilid (hingga buku ke 7), dan baru bisa mencetak jilid 1 dan 2, sudah ber-ISBN komplit sejak 2012.

Proyek ini macet karena proyek pribadi dan diupayakan secara indie. Anda bisa memilikinya, dengan ganti ongkos cetak dan kirim, dan menghubungi saya. | 
 
sunardianwirodono@yahoo.com
 
 


Senin, September 28, 2015

Buku Baru Sunardian Wirodono

Ini dua buku Sunardian Wirodono yang diterbitkan secara indie, tidak dijual di toko buku umum, hanya melalui fesbuk semata.

Jokowi Undercover (2014) adalah novel dan sekaligus semacam ensiklopedi politik Indonesia kontemporer, 1.000 halaman, harga Rp 150.000.

Serat Centhini Dwi Lingua (2012) sastra Jawa klasik karya Sri Susuhunan Pakubuwana V dengan terjemahan text by text oleh Sunardian Wirodono, 700 halaman, harga Rp 125.000. Ini buku two-in-one, dua buku dalam satu buku, berbahasa Jawa sesuai teks aseli Serat Centhini dan bahasa Indonesia terjemahannya.

Harga terus naik meski nilai rupiah turun dibanding dollar AS. Pembelian bisa di-inbox. Demikian iklan.


Jumat, Juni 19, 2015

Jokowi Undercover Di Jual

Jokowi Undercover. Sebuah novel politik atas gemuruh pilpres 2014, dipenuhi perdebatan melelahkan antara kanan dan kiri, dan sebuah dendam pribadi yang manusiawi. Ditulis dengan cara konyol dan seenaknya, khas Sunardian Wirodono, namun sekaligus sebagai ensiklopedi politik yang unik dalam sejarah kepolitikan kontemporer Indonesia. Sorry, ini bukan kultus atau kampanye Jokowi, melainkan melihat Indonesia dengan cara lain.
Ukuran Buku 12 x 19 cm., tebal buku 1.000 halaman, kertas bookpaper. Buku ini diterbitkan secara indie, tidak dijual di toko buku. ISBN: 978-602-9087-3-0.
Harga per-buku Rp 150.000 (sudah termasuk ongkos kirim, kecuali ke luar Indonesia). Buku ini sudah beredar ke seluruh Indonesia, hingga Tokyo, Bangkok, Korsel, Australia, London, Hong Kong, Perancis, dan menjadi kajian politik kontemporer di AS.
Pemesanan melalui: pm/inbox akun fb ini, whatsApp ke 0856 4332 0856 dan 0857 2590 6400; atau email ke sunardianwirodono@yahoo.com.
Masih tersedia pula: Serat Centhini Dwi Lingua (700 halaman, 2 buku dalam satu paket), harga per-eks. Rp 120.000 sudah termasuk ongkir.





KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...