Senin, Agustus 05, 2013

Serat Centhini di Dalam Lirik Dream Theater, Sebuah Telaah Teks



Bagaimana menghubungkan antara Serat Centhini dengan grup musik macam Dream Theater? Orang akan menuding itu 'aya-aya wae'. Tapi bahwa di dalam dunia kreatif (atau tepatnya dalam ghirah spiritual) manusia, kita akan menengarai begitu banyaknya kesamaan dalam idiomatika kehidupan. Kenapa? Karena memang tak ada beda antara hidupku dengan hidupmu, hidupnya dengan hidup kita, dan seterusnya dan sebagainya.
“Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond?” begitu pertanyaan Nicholas dalam “The Spirit Carries On”, karya John Petrucci, gitaris progressive metal band (di Indonesia disebut progressive rock) Dream Theater itu.
Tampaknya hidup begitu mencemaskan. Apakah hidup ini sudah ditentukan, apakah ini hanya kebohongan alam? Adakah hidup setelah kematian? Jika hidup setelah kematian (sebagaimana ditanyakan oleh Nicholas), maka di dalam Serat Centhini, jilid III, Pangkur padha 011, telah dicerahkan; "Donya ngakerat ywa pisah, supayane meluwa nandhang mukti, enak-kepenak linangkung, kekel neng swarga mulya,..." Bahwa dunia dan akherat tiada pisah, keduanya adalah suatu kesatuan.

Pertanyaan tergenting manusia hidup, sebenarnya bukan “kemana kita setelah kematian?”, tetapi fatalisme pada keyakinan “apakah tidak ada kesempatan kedua?”
Hidup setelah kematian, mestilah disiapkan sebelum kematian itu sendiri datang. Tetapi, kematian seperti apa yang dimaksudkan dalam "The Spirit Carries On" itu? Dalam positivisme, tentu saja kematian yang berkaitan dengan kesempatan ke-dua dan seterusnya, ialah kegagalan itu sendiri. Pada sisi ini, maka di dalam pangkur SC-III dijelaskan, "nanging nora kena ginagampang iku, dene amrihe kalakyan, kudu nganggo laku pasthi." Semuanya tidak mudah, agar bisa terlaksana, yakni harus berjuang dengan perbuatan-perbuatan baik, benar, terukur.
Hidup memang pendek, tetapi sepanjang kita masih hidup, ada begitu banyak kesempatan. Kesempatan pertama gagal, bisa kita buka kesempatan berikutnya. Tentu setelah mempelajari kegagalan pertama. Kegagalan kedua, bisa membuka kesempatan ketiga, dan seterusnya. Karena kesempatan lahir dari kemauan, gagasan, harapan, dan tentu saja kemampuan menciptakannya.
Dan hal itu terjadi bukan karena kata-kata kosong. Gagasan bukanlah lamunan, tapi buah pikir yang aktif bergerak. Gagasan tidak turun dari langit, atau ngangkang di closet, tapi dari tanah dan pekerjaan kata filsuf Alain Prost. Dalam padha berikutnya (SC, III:012); "Kang dhingin sembahing raga, kudu resik atiku kudu sukci, de rahsaku kudu weruh,..." (Yang pertama bersembah raga, Hendaklah bersih hati dan suci, Ada pun rasa haruslah mengetahui,...").
Nicholas (hidup di 1999) yang semula selalu dibayangi Victoria Page (korban perang yang meninggal 1922), toh pada akhirnya juga mampu membebaskan dirinya. Ia tak lagi takut mati. Bahkan ia sangat yakin, “If I die tomorrow I’d be allright, because I believe, that after we’re gone, the spirit carries on,…” (Jika aku mati besok, aku kan baik saja, karena aku percaya, walaupun setelah kita tidak ada, jiwa ini akan tetap ada, Haruslah jiwa ini mantap menghadap,…”). Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan, karena ia kan datang. Dalam Serat Centhini, Jilid VIII (Jurudemung, 433:21-22), ditegaskan, mau kau lindungi dengan apapun, tiada yang bisa menutupinya, "..., ya hu Allah gedhongana, kuncenana den-akukuh, ing pati mangsa wurunga,..."
Dan apa yang mesti dilakukan? Sebagai terusan dalam Serat Centhini padha 012 itu disebutkan, "... sabanjure kudu kulina ing purun, taberi ing karem nyata, kang mangkono ancas mami" (Haruslah jiwa ini mantap menghadap, Kemudian tiada bosan dan berkemauan, Bertekun dan senang di dalam karya, Yang demikian itulah kehendakku,...)


Di sanalah jiwa itu 'kan tetap ada. Jiwa yang tetap ada adalah jiwa yang menginspirasi. Jiwa yang menginspirasi ialah jika apa yang kita kerjakan bisa menjadi contoh model, entah untuk anak kita atau generasi yang akan datang. Tidak selalu dalam kerja raksasa dan sesuatu yang spektakuler. Berbuat baik pada diri sendiri dan orang lain, itu sudah sangat menginspirasi siapapun. Apalagi ketika kita masih hidup, maka kesempatan jauh lebih banyak, sebanyak yang diinginkan.
Persoalannya, mana yang bisa diujudkan, syarat-syaratnya itulah yang mesti dipenuhi. Belajar, berlatih, bekerja, terus demikian, sederhana saja. Bahkan Victoria Page pun, dalam kematiannya, masih punya kesempatan berbuat baik untuk menginspirasi Nicholas. Itu bukti selalu ada kesempatan berikutnya. Sekiranya mau. “Move on, be brave, Dont weep at my grave!” Ayo, beranilah, jangan menangis di kuburanku!
Sebagaimana dalam Serat Centhini jilid XI:650:19 di bawah ini;

"Wajibing mukmin punika,
angestokken warta duteki,
teka ing lahir batinnya,
pardu jenenge puniki,
lampahnya den nastiti,
aja salah ing pangawruh,
dene mukmin menika,
mokale yen amurbeki,
ing wenange wenang rusak wenang pejah."


Kewajiban orang berbudi itu, melaksanakan kabar kebenaran (dari Tuhan), dari lahir hingga batin, fardu ain (sesuatu yang wajib) hukumnya, bertindak hati-hati, jangan mudah terkena pengaruh, (karena) yang bernama manusia (baik) itu, tak akan mampu menguasai (sepenuhnya), karena ia tiada sempurna dan bakalan mampus (kelak).
Makanya dengarkanlah senandung Nicholas, "Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die?" Tapi ketahuilah juga spirit pertanyaan itu, hidup tidaklah pendek. Hidup begitu panjang, dengan begitu banyak kesempatan, dalam semangat berbagi. | Sunardian Wirodono, Jelang Lebaran 2013.

1 komentar: