Minggu, Februari 26, 2012

Politikus dan Warisan Utang Negara

Malam hari hujan di pojokan Starbuck, yang terletak di puncak bukit Gunung Kidul, seberang pasar desa Gemolong nan miskin, bertemu beberapa nama beken. Udara dingin barangkali yang membuat mereka memilih nongkrong. Ada juga di sana, Kanjeng Ratu Kidul diiring oleh Mbah Maridjan.
"Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi, namun demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut," berkata Clement Atlee, mantan Perdana Menteri Inggris, setelah mencicipi mochacinno yang anget.
"Masalahnya, tutup mulut paling efektif itu dengan uang," Henry Ford, pendiri Ford Motor, sembari ngicipi secangkir Purwoceng, nyeletuk. "Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan otaknya."
Lyndon B. Johnson, presiden AS ke-36, ngekek mendengarnya, "Apabila dua orang selalu sepakat dalam segala hal, itu berarti cuma satu orang yang berpikir. Kwakwakwak,...!"
"Ketawanya kayak ketawa fesbuker," Will Rogers, sang pelawak itu menukas, "Itulah! Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang!"
Voltaire, sang filsuf yang sedari tadi keheran-heranan melihat sekepal es krim kemampul di atas kopi tubruknya menggeremeng, "Apabila kita bicara soal uang, maka semua orang sama agamanya!"
"Kenapa begitu?" tanya SW (numpang beken, hiks) yang merasa agamanya beda, maksudnya, nggak punya duit.
"Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri," jawab Charles de Gaule, presiden pertama Perancis, "karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya,..."
"Dan hasilnya? Mingkar-mingkuring ukara,..." Kanjeng Ratu Kidul ikut nimbrung.
"Yang artinya?" serempak para bule itu bertanya.
Kanjeng Ratu menoleh pada Mbah Maridjan. Mbah Maridjan pun tanggap, begitu satu sruputan caffelate dengan kopi dari Amungme itu menyodok lidahnya, si embah itu pun teriak, "Rosaaaaa!"
Tiba-tiba, muncul anak perempuan bertubuh mungil, wajahnya seperti penyanyi, menatap Mbah Maridjan, "Simbah memanggil saya?"
"Yang artinya,..." Mbah Maridjan akhirnya menjawab juga, "menurut Herbert Hoover, presiden AS ke-31, berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa,..." (Sunardian Wirodono)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar