Senin, Februari 27, 2012

Nh. Dini. Dalam Kesendirian dan Kegigihannya

Renungan 76 Tahun Nh. Dini, 29 Februari 1936-2012

Oleh Sunardian Wirodono

"Aku mendapat sebutan perempuan simpanan dari mulut masyarakat. Tetapi itu tidak menyinggung perasaanku. Aku dan Yoshida saling membutuhkan. Dia memberiku semua yang kuminta. Tetapi aku tidak pernah mengganggu ketentraman orang lain, tidak merugikan siapa pun. Bahkan aku menolong banyak dan kawan dan kenalan dengan hartaku. Penghasilan bar Manhattan kupergunakan buat membangun kembali rumah orangtuaku. Juga buat menyekolahkan adikku. Seorang belajar ilmu pertanian, lainnya ilmu peternakan. Kedua pengetahuan itu dapat digabung guna pembangunan desa."
Demikian kutipan novel "Namaku Hiroko" (Pustaka Jaya, 1977) karya Nh. Dini, yang diselesaikan dan tidak diubah lagi pada Agustus 1974 di Semarang. Novel ini cukup laris pada jamannya, dan mengalami cetak ulang beberapa kali. Apalagi sebagai perempuan penulis, Nh. Dini pastilah mempunyai sudut pandang yang unik dan orisinal, setidaknya berbeda, dibanding dengan mayoritas para lelaki penulis pada saatnya.
Nh. Dini, termasuk penulis yang produktif. Beberapa di antaranya yang sangat terkenal, Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1998), dan masih banyak lagi berupa kumpulan cerpen, novellet ataupun cerita kenangan. Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki.
Terlepas dari apa pendapat orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan. Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya.
Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. Begitulah spontanitas penuturan pengarang yang pengikut kejawen ini. la tak sungkan-sungkan mengungkapkan segala persoalan dan kisah perjalanan hidupnya melalui karya-karya yang ditulisnya.
Nh. Dini, lahir di Semarang, 29 Februari 1936. Tahun 1957-1960 bekerja di GIA (Garuda Indonesia Airways), sebagai pramugari. Setelah menikah dengan Yves Coffin, berturut-turut ia bermukim di Jepang, Perancis, Amerika Serikat, dan sejak 1980 menetap di Jakarta dan Semarang, serta pernah pula di Yogyakarta.
Nh. Dini, adalah perempuan novelis Indonesia yang kuat. Dia bukan masuk sastra motivasi sebagaimana umumnya perempuan penulis masa kini, tetapi sebagai angkatan lama ia seorang penulis sastra yang soliter. Bahkan dalam novel Namaku Hiroko yang dikutip di atas, menampakkan munculnya pandangan generasi baru kaum perempuan. Sekali pun setting yang dipakainya adalah Jepang, Nh. Dini sedang berbicara tentang dirinya sebagai bagian dari kaum perempuan Indonesia pada tahun-tahun awal Orde Baru.
Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telajur dicap sebagai penulis sastra di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya.

Dini dikenal memiliki teknik penulisan konvensional. Namun menurutnya teknik bukan tujuan melainkan sekedar alat. Tujuannya adalah tema dan ide. Tidak heran bila kemampuan teknik penulisannya disertai dengan kekayaan dukungan tema yang sarat ide cemerlang. Dia mengaku sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan teknik konvensional.
Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta (atas hal ini, ia "rela" kehilangan dua anaknya, perempuan dan lelaki, yang tinggal di luar negeri, yang waktu itu dalam asuhan suaminya). Mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis cerita pendek yang dimuat berbagai penerbitan. Di samping itu, ia pun aktif memelihara tanaman dan mengurus pondok bacanya di Sekayu (Semarang).
Menjadi pengarang selama hampir 70 tahun tidaklah mudah. Tahun 1996-2000, ia sempat menjual barang-barangnya. Apalagi ketika sakit terkena hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya dibantu oleh berbagai kalangan. Dewan Kesenian Jawa Tengah, mengorganisasi dompet kesehatan Nh Dini. Dini tersentuh hatinya, ketika mengetahui ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, baik sebesar 10 ribu, atau 25 ribu. Setelah ia sembuh, Dini, mengirimi mereka surat satu per satu. Ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya.
Sejak 16 Desember 2003, ia kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta, di kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X yang mendengar kepindahannya, menyarankan Dini membawa serta perpustakaannya. Padahal empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, sudah ia hibahkan ke Rotary Club Semarang.
Alhasil, Dini di Yogya tetap menekuni kegiatan yang sama ia tekuni di Semarang, membuka taman bacaan. Kepeduliannya, mengundang anak-anak di lingkungan, untuk menyukai bacaan beragam bertema tanah air, dunia luar, dan fiksi. Ia ingin anak-anak di lingkungannya membaca sebanyak-banyaknya buku-buku dongeng, cerita rakyat, tokoh nasional, geografi atau lingkungan Indonesia, cerita rekaan dan petualangan, cerita tentang tokoh internasional, serta pengetahuan umum. Semua buku ia seleksi dengan hati-hati. Jadi, Pondok Baca Nh Dini yang lahir di Pondok Sekayu, Semarang pada 1986 itu, diteruskan di aula Graha Wredha Mulya Yogyakarta.
Ulangtahunnya dirayakan dalam empat tahun sekali. Tahun ini, kalender Februari ditutup pada tanggal 29, itu hari kelahirannya, 76 tahun silam. Mau merayakan tahun ini, atau nunggu empat tahun lagi?
NH Dini sekarang tinggal di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran. Dengan kesendiriannya. Selamat ulang tahun Mbak, beserta hormat saya!

MEWAWANCARAI PENULIS TERMAHAL

Pada jaman dulu kala, pada dekade 80-an, ada dua penulis jual mahal bagi kalangan pers. Yang satu bernama Ashadi Siregar (penulis novel seri "Cintaku di Kampus Biru"), dan satunya lagi bernama Nh. Dini. Mahal dalam pengertian, tak mudah untuk bisa mengajak mereka berbincang. Apalagi Nh. Dini, yang telah "berpengalaman" hidup di berbagai negara. Untuk mewawancarainya, ia memberlakukan tarif tertentu, yang bisa jadi lebih gede daripada gaji sebulan wartawan cemen. Hm, ngehek juga, huh!
Tapi saya beruntung, ketika pada awal 1980, saya bertemu dengan Nh. Dini tak sengaja, ketika beliau pas ke Indonesia. Sebagai wartawan culun pada awal-awal ke Jakarta, saya mendapat tugas untuk membuat wawancara in-depth dengan Ajip Rosidi yang kebetulan hendak berangkat ke Jepang. Eh, di rumah Mang Ajip di Kukusan (Depok), berkumpul Nh Dini dan seorang kritikus sastra (yang mampus gue, hingga waktu mau upload tulisan ini nggak keinget, siapaaaa, maafkan hamba).
Justeru karena "tidak memburu" Nh. Dini itulah, saya jadi lebih leluasa berbincang, meski pura-pura fokus ke Ajip Rosidi. Tapiiii, problemnya, pimred saya di majalah perbukuan OPTIMIS, Kasijanto (kini dosen sejarah UI), tak mau ambil resiko, takut kalau dituntut. Wah, jadul banget ya? Coba media sekarang, pasti bras-bress!
"Ini yang diwawancarai siapa?" Ajip Rosidi lama-lama curiga.
"Dudu aku to, Dik?" Nh. Dini memotong.
Saya cuma cengengesan.

6 komentar:

  1. Mas, foto yang terakhir itu Nh. Dini dengan anak2nya, Marie dan Pierre bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Beruntungnya ketemu NH Dini :)

    BalasHapus
  3. Fajriyanti, iya betul. Hanya dua itu memang.

    BalasHapus
  4. Aku selalu inget judul karya Ibu NH DINI yg pada sebuah kapal,dan namaku Hiroko melekat banget sampai skrg...hiksss akhirnya kettemu juga alamat beliau

    BalasHapus
  5. Om, kira2 boleh tahu mengapa di masa itu beliau menuliskan nama sebagai "Nh. Dini"? Tidakkah akan ada yang kurang sepakat dengan penulisan singkatan yang seperti itu?

    BalasHapus