Kamis, Februari 16, 2012

Mengapa Menjadi Tidak Toleran dan Tak Mau Mendengar?

Oleh Sunardian Wirodono

"Pesan" yang ingin disampaikan oleh Bramantyo Prijosusilo, saat hendak menggelar pertunjukan seni Social Sculpture (Patung Sosial) yang berjudul Aku Melawan Perusakan Atas Nama Agama di depan Markas MMI, Jalan Karanglo, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (15/2/2012), berhasil dengan sukses.
Meski ia mengatakan "hendak", namun pertunjukannya sudah dimulai sejak ia mengatakannya. Polisi dan Majelis Mujahiddin Indonesia, dan juga tentu media, menjadi pendukung pementasan yang baik. Mereka adalah "aktor-aktor" sejati atas pesan Bramantyo untuk soal yang dikatakannya sebagai "gejala radikalisme yang mengancam keberadaan negara dan ketentraman Bangsa Indonesia."
Yogyakarta, adalah setting sosial yang bagus, karena selama ini, kota ini mengklaim sebagai kota yang penuh toleransi dan menjunjung keberagaman. Namun kita tahu, sebagai bangsa formalis, bahwa semua ini menjadi cenderung omong kosong.
Perkembangan Yogyakarta, sebagaimana kota-kota lain, kini adalah maraknya kelompok-kelompok faham keagamaan dengan pemahaman dan pelaksanaan yang cenderungan eksklusif, in-toleran, dan pemutlak-mutlakan yang pada akhirnya anti dialog dan dengan sendirinya anti kritik, karena merasa paling benar, paling mulia, paling punya hak atas sorga, dan makhluk pilhan Tuhan (mana buktinya, nggak perlu dijelaskan, percaya ya begitu kalau nggak percaya berarti menghina dan darahnya halal untuk ditumpahkan,....).
Apa yang dulu dikembangkan dengan cara inklusif dan inkulturalistik oleh para Wali Sanga, dan telah mendidik bangsa Jawa, khususnya Yogyakarta, menjadi toleran dan terbuka itu, kini tak mampu memahami model-model pemahaman keagamaan yang sangat berbalikan gaya. Dan ketika keris sudah disorongkan di belakang punggung, bangsa Jawa menjadi sungkan dan kikuk mendengar suara takbir yang diteriakkan dengan otot leher yang meregang.
Saya cuma bisa membayangkan, bisa jadi suara adzan di beberapa masjid Yogya, dengan cengkok tembang Macapatan pun akan dianggap musjrik. Dan dialog-dialog ruang publik di Malioboro, akan dipenuhi idiom-idiom dari Timur Tengah yang amat sangat religius itu, manakala di pinggiran Yogya dari jalan Wates, dari selatan di Karanglo, dari utara di Pogung, dan dari sudut-sudut remang,...
Agama bisa menjadi berkah, namun juga sebaliknya, ketika kita merasa menjadi juru-bicara Tuhan, tanpa reserve, namun sesungguhnya juga tanpa bisa menunjukkan surat keputusan dari Tuhan. Maka, jika dengan ilmu hidup menjadi lebih mudah, dengan seni hidup lebih indah, dan dengan agama hidup lebih berkah, mengapa dengan kamu hidup menjadi malah lebih gerah?
Tak ada yang salah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar