Jumat, Februari 17, 2012

Cobalah Engkau Buka Telingamu, dan Rendahkanlah Suaramu

Renungan Sunardian Wirodono

Yang sering dilakukan oleh orang-orang yang berprinsip pokoknya paling benar dan paling mulia, adalah pemutarbalikan fakta. Menyodorkan yang normatif benar dan tidak terbantahkan (absolut, seperti agama misalnya), baru kemudian hal itu dipakai sebagai logika pembenaran untuk sebuah kasus yang mestinya harus dilihat konteks peristiwanya (karena kita tidak sedang membahas teks. Mengapa? Karena teksnya sudah jelas. Teks itu misalnya "Islam itu haq dan rahmatan lil alamien", dst).
Nilai perjuangan sekelompok orang, bukan hanya dilihat dari niat dan tujuannya, melainkan juga harus dilihat dari cara. Di sini persoalannya, ketika cara-cara yang dipakai negatif (meski mengaku niat dan tujuannya mulia). Itu yang dikritisi, yang dipersoalkan. Jangan kemudian pokok masalahnya diubah dan dipindahkan ke niat dan tujuannya itu, untuk menegasi atau mementahkan logika sebab-akibat ketika sebuah reaksi muncul.
Pembicaraan kita hari-hari ini mengenai organisasi massa yang sering melakukan kekerasan dan anarkisme, akhirnya berbelok seolah-olah terjadi "pertarungan" antara nilai agama yang haq dengan kehendak bebas masyarakat yang menolak agama.
Secara etik dan normatif, tak ada masyarakat yang ingin bebas lepas tanpa kendali dan aturan. Dan bukan itu pokok persoalannya. Pokok persoalan kita, adalah menolak dilakukannya praktik kekerasan, mengabaikan hukum-hukum positif negara dengan alasan apapun. Titik.
Keras, kasar, anarkis berbeda dengan tegas. Menurut sabda Kanjeng Nabi Muhammad, tegas itu mantap dalam kebijaksanaan, sedangkan keras dalam kesewenang-wenangan, itu artinya kejam. Lagi pula, lanjut beliau, memperbaiki diri adalah alat yang ampuh untuk memperbaiki orang lain.
Karena itu, dalam hal apapun, janganlah berlebihan (QS, Al-A'raaf, 31), karena sungguh itu sesuatu yang tidak disukai oleh Allah. Bahkan dalam hal-hal keduniawian, dengan kekasih, dengan uang, dengan kekuasaan, dengan kelompok kepentingan, dengan musuhmu, sebagaimana diriwayatkan Al-Tirmidzi, Kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda, "Cintailah kekasihmu sewajarnya saja, karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia kan menjadi kekasihmu"
Yang terjadi sekarang ini, dan jauh lebih berbahaya, adalah perang wacana, perebutan media. Yang sayangnya, kata-kata bahwa "terbuka untuk berdialog" hanyalah lips-service, karena pada praktiknya ajakan itu tak pernah disertai kehendak untuk mau mendengarkan, lebih mencari tempat untuk ngomong sendiri, dan membungkam mulut pihak lain.
Janganlah menganggap dirimu paling benar, karena itu merendahkan Allah. Hanya Allah yang mahabenar dengan segala firmannya, hanya orang dogol yang menganggap dirinya paling benar dan mulia.
Alangkah menyedihkannya, ketika masalah ini dibiarkan menjadi perang wacana dan perang media, sementara pihak-pihak yang mestinya merepresentasikan kepentingan publik itu sama sekali absen atau tidak hadir. Apakah itu Kepala Negara, Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia, dan lain-lain pihak. Seolah mereka makin menegaskan, bahwa republik ini benar-benar menuju negara gagal. Negara di mana para aparatnya hanya punya komptensi dalam kepentingan politik praktis, namun sama sekali tidak mempunyai arti strategis dalam berbangsa dan bernagara.
Jika kita menulis tentang FPI, Forkabi, FBR, PP, dan lain sebagainya, kita tidak ada urusan dengan apa agama dan etnis mereka. Tapi, ketika mereka menganiaya yang tak berdaya, kita wajib mengingatkan bahwa itu tidak mencerminkan perilaku manusia yang baik. Dan lebih buruk lagi, jika yang sudah dianiaya itu dimintai dan dirampas harta-bendanya, itu sama dengan taik. Bahkan mungkin masih lebih baik taik, karena taik bisa jadi pupuk.
Duduklah tenang, pahami latar belakang masalah, dan jangan beringsut untuk memutar-balikkan fakta. Bukalah matamu, bukanlah telingamu, dan bukalah hatimu. Nasehat Kanjeng Nabi Muhammad shallahullahu allaihi wassalam, rendahkanlah suaramu,...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar