Minggu, Juni 29, 2014

Jokowi dan Pendukung Kreatifnya

Yang menarik dari Pilpres 2014, adalah polarisasi masyarakat karena dua capres Prabowo dan Jokowi mempunyai karakter yang berlawanan.
Dalam visi, mungkin semuanya sama, untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Namun dalam misi dan strategi pencapaian, keduanya mulai tampak berbeda. Jika Prabowo lebih menonjol dengan pemikiran 'top down', Jokowi menawarkan pemikiran 'bottom up'.
Pandangan Prabowo yang elitis, terlihat dari konsep-konsep dan strategi pembangunan yang hendak diterapkan. Peranan elite sebagai sinterklas, yang baik hati dalam memberikan kemakmuran pada rakyat jelata yang butuh bimbingan, jauh lebih menonjol. Oleh karena itu Prabowo cenderung berfikir besar, omong besar, capaian besar, angka besar, bahwa sumber daya alam dan kekayaan Indonesia ini adalah sebesar-besarnya kepentingan rakyat.
Tapi bagaimana caranya, capres yang suka dengan istilah 'bocor, bocor, bocor,...' ini tidak pernah secara sistemik menjelaskan. Ia selalu mengembalikan semuanya itu pada kemuliaan dan moralitas pemimpin, yang bertanggungjawab pada rakyat.
Pada sisi berbeda, Jokowi dengan pemikiran 'bottom up' menjadi lebih sederhana namun operasional. Kepemimpinan hanyalah persoalan penataan manajemen. Bagaimana ia bisa menjadi manajer, koordinator, moderator, motivator, supevisor, bagi tumbuhnya kehendak-kehendak rakyat sebagai subyek pelaku dari pembangunan. Bagaimana memberi ruang lebih lebar pada ruang partisipasi masyarakat secara luas. Itulah makanya dalam berbagai kampanyenya, Jokowi selalu mengajak bahwa pilpres adalah kegembiraan politik rakyat yang mesti dirayakan. Demokrasi adalah mendengarkan suara rakyat.

Ruang Partisipasi. Ruang partisipasi ini agaknya yang disambut dengan meriah oleh sebagian besar masyarakat, karena selama ini mereka hanya menjadi penonton, menjadi obyek pembangunan, namun tidak pernah diberi ruang dan kepercayaan untuk berpartisipasi.
Maka muncullah dukungan-dukungan spontan dari yang menyebut diri relawan, non-partai, dan bergerak sendiri-sendiri dengan kreativitasnya. Yang menonjol pada kubu Jokowi adalah perayaan dan kemeriahan yang spontan. Kesannya apa adanya, asal saja, namun ada kejujuran di sana yang dibalut dengan kreativitas.
Sesuatu yang tampak agak sulit ditemui pada kubu Prabowo, yang memang tampak lebih elitis. Para pendukung Prabowo, selalu mempunyai stereotype dalam mendefinisikan pemimpin. Yakni tegas, berwibawa, pintar, berpendidikan, priyayi. Hal itu kemudian diformulasikan oleh pandangan-pandangan Amien Rais, Anis Matta dan Said Agiel Siradj dalam berbagai pernyataannya pada media dan panggung kampanye; pemimpin itu tampan, banyak harta dan tidak klemar-klemer.
Pada kelompok Prabowo ini, menempatkan Jokowi adalah serba kebalikan dari Prabowo. Jokowi tidak pantas menjadi presiden, karena levelnya adalah walikota, daerah, tidak berlevel nasional, hingga kemudian idiom-idiom yang fisik. Jokowi ndeso, tampang bejo, lugu (yang oleh Prabowo diintrodusir sebagai 'lucu dan guoblog'), ngomong nggak jelas, kalah kaya, dan sebagainya dan sejenisnya.
Perbincangan mengenai capres kita kali ini pun, makin menunjukkan mayoritas kualitas pemilihnya yang aktif di dunia maya, yakni cenderung pada pembicaraan mengenai hal-hal yang sesungguhnya benar-benar tidak penting, dan hanya dimungkinkan terjadi di masyarakat yang un-educated. Karena setelah ditetapkan oleh KPU soal dua kandidat presiden itu, dengan berbagai prasyaratnya, masyarakat ramai masih saja mempersoalkan keabsahan hukum, pantas tidak pantas, gugat-menggugat hingga seolah jauh lebih pintar dibanding para detektif dalam menemukan rahasia negara,...
Para bloger, fesbuker, twitter, sibuk menjadi amplifier yang hanya mereproduksi suara-suara di atasnya, dengan munculnya berbagai media-online yang tiba-tiba marak. Dan berbagai medi online ini pada dasarnya bisa ditelusur bagian dari tim ini dan itu berkait dengan pilpres ini. Yang sudah barang tentu mereka akan memblow-up segala yang menguntungkan jagoannya dan merugikan lawan jagoannya. Mereka adalah orang-orang yang sesungguhnya pintar, terdidik, namun semua hal itu tak berkait dengan bagaimana etika dan moralitas dibangun.
Karena jangankan mereka, pada level yang lebih tinggi seperti para timses dan timnangnya pun, yang bergelar profesor, doktor, ketua organisasi keagamaan, semuanya bisa kehilangan kendala hanya demi memperjuangkan kemenangan jagoannya. Apapun bisa ditempuh, termasuk kehilangan akal, kehilangan proporsionalitas, kehilangan obyektifitas, dan kehilangan moral serta etika. Yang dulu ngomong A kemudian ngomong -A. Yang dulu ngomong X kemudian ngomong -X.

Dukungan Seniman. Dukungan kaum seniman pada Prabowo dan Jokowi pun, menunjukkan karakter keduanya dengan jelas. Pada posisi ini, kita secara tidak langsung diberitahu bagaimana orientasi kesenimanan para artis itu.
Artis-artis yang mendukung Prabowo, adalah artis-artis yang selama ini lebih dikenal sebagai selebritas, yang selama ini tidak pernah kita dengar pernyataan-pernyataan mereka yang menunjukkan daya intelektualitas dan keberpihakan mereka dalam berkaya. Ahmad Dhani, Anang, Rafli Ahmad, Bolot, Komeng, adalah seniman-seniman yang selalu mengatakan seniman adalah berkarya, tetapi untuk apa karyanya, mereka hanya bisa mengatakan untuk menghibur masyarakat. Mereka cenderung a-politis dan ketika ditanyakan mengapa memutuskan mendukung ini dan bukan itu, jawabannya menunjukkan orientasi pemikiran dan kehidupannya dalam kapasitas pribadi. Mereka tidak pernah keluar dari dirinya untuk melihat dengan perspektif yang lebih lebar.
Hal itu berbeda dengan artis-artis yang mendukung Jokowi seperti Slank, Mohammad Marzuki, God Bless, Erwin Gutawa, Opie Andarista, Wali, Tompi, Cak Lontong, Butet, Slamet Rahardjo, dan masih banyak nama-nama lain, yang selama ini karya-karyanya mempunyai daya pijak dan sasaran yang jelas.
Membandingkan lagu 'Bersatu Padu Coblos No 2' karya Marzuki dari Jogja Hiphop Foundation dan 'Salam Dua Jari' dari Slank dan kawan-kawan, dengan lagu 'Indonesia Bangkit' karya Ahmad Dhani yang menjiplak lagu Queen 'We Will Rock You', hal itu sudah menjelaskan segalanya.
Katakanlah lagu 'Indonesia Bangkit' itu misalnya karya asli Ahmad Dhani, maka tampak bagaimana orientasi elitis dan individu Dhani, yang lebih memuaskan taste pribadinya daripada lagu yang menggembirakan bersama. Dhani tampak terdidik untuk memberikan pernyataan pembelaan di depan publik.
Hal berbeda pada syair, irama, jenis musik pada lagu Marzuki dan Slank. Mereka memakai lagu dengan ritme perkusi yang akrab pada kalangan massa yang beragam. Kedua lagu itu, melodius dan mudah dinyanyikan. Dan karena itu, ia jauh lebih populer dibandingkan "karya" Ahmad Dhani yang videoclipnya pun tampak spektakuler. Berupaya memukau namun blunder akhirnya karena tidak sensi.
Dukungan pada Jokowi itu bukan hanya dari kalangan musik, namun juga datang dari para kreator lainnya, seperti videographer, animator, disain grafis, komikus, yang semuanya kemudian sendiri-sendiri menyumbangkan karyanya. Mereka secara swadaya membuat kampanye-kampanye politik untuk Jokowi dengan bebas, tidak seragam, tanpa komando, jalan sendiri-sendiri, sehingga terkesan begitu hiruk-pikuk, tidak fokus, dan tidak clean sebagaimana dari kubu Prabowo.
Tetapi itulah juga, yang semakin menunjukkan bagaimana Jokowi sebagai fenomena, yang mampu menjungkir-balikkan teori-teori modernisme. Jokowi adalah anti-teori itu, karena ia adalah teori itu sendiri. Dan semua orang terguncang-guncang, let's rock 'n roll!

Kesadaran Politik. Dalam manifestasi Revolusi Harmoni, Slank bahkan menyodorkan tujuh butir pemikiran yang menunjukkan kedewasaannya dalam berdemokrasi. Meski mendukung Jokowi, tetapi dalam manifestasinya sama sekali tidak berpihak, kecuali pada berlangsungnya demokrasi politik yang baik dan benar. Demikian juga bahkan pada Marjuki dengan 'Bersatu Pada Coblos No 2', ia bahkan dengan lantang berkata; Bahwa jika kemenangan sudah diraih (oleh Jokowi), ia dan teman-teman akan menarik dukungan dan membentuk parlemen jalanan, mengkritisi mereka yang diberi amanah.
Bukan kebetulan, jika seniman-seniman yang bergabung dalam mendukung Jokowi, adalah seniman-seniman yang tidak dibayar untuk itu. Mereka sama sikap dengan masyarakatnya, yang sukarela datang dan mendukung. Karena pada dasarnya mereka mempunyai tujuan yang sama, merayakan kegembiraan bahwa proses demokratisasi ini adalah milik mereka, bukan milik elite politik.
Mereka tidak mendukung berdasar bayaran dan apalagi transaksi politik, sebagaimana Ahmad Dhani dikatakan bakal menjadi Menteri Pariwisata jika Prabowo menang. Kita tidak tahu ini isyu atau beneran. Tetapi jika isyu itu muncul sebagai guyonan, itu cerminan bawah sadar mereka. Siapa tahu.
Hal itu menunjukkan kesadaran dan sikap politik para pendukung Jokowi relatif lebih baik, dibandingkan Ahmad Dhani misalnya. Dan jika seniman bisa diukur dari sensitivitas dan sensibilitasnya, di situlah kita bisa menempatkan kualifikasi mereka. Representatif atau tidak untuk menjadi sumber referensi dan inspirasi masyarakat luas.
Apakah dukungan ini dan itu, mempengaruhi publik? Tentu saja. Tetapi pada dasarnya, masing-masing pihak itu hanya saling afirmasi. Dalam hukum fisika, hanya yang mempunyai kesamaan dan senyawa mampu menginti. Pertemuan itu juga hanya bisa terjadi jika eter dan a-eternya nyambung, gelombang dan getarannya sama.
Jadi, wajar saja jika orang baik bertemu orang baik, orang tidak baik bertemu dengan orang tidak baik. Artinya, jika beda jangan sensi, atau kalaulah sensi jangan beda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar