Senin, Agustus 20, 2018

Stuntman atau Mulut yang Mesti Diberesin? Jawabnya: Politikus!



Dalam filem bokep, apakah adegan pernganuan dilakukan stuntman dan stuntwoman? Jika jawaban atas pertanyaan itu ialah; “Jokowi yang salah!”, Anda akan dapat sepeda.

Dari siapa? Mungkin dari tuhan atau malaikat jibril, saya tidak tahu. Itu hanya sekedar gambaran, bagaimana absurdnya dunia politik kita. Persis infrastruktur kita, yang setengah abad terbengkelai. Infrastruktur politik kita juga sama sekali tak terbangun.

Politik hanya menjadi alat meraih kekuasaan. Tapi cara yang dipakai hanya menunjukkan pertarungan antara si baik dan si buruk. Bisa sangat personal, tidak mewakili diskursus dalam konteks bangsa dan negara. Makanya, agama yang dogmatic sering diseret-seret untuk kepentingan ini.

Kemelakatan pada (yang disebut) tokoh, lebih banyak karena narasi-narasi, bahkan sampai pada fiksi bernama glorifikasi (utusan tuhan, dsb), mitologisasi (keturunan majapahit, dsb), atau  mistifikasi (punya kesaktian, cerdas, bisa ngilang, bisa menghilangkan orang, dsb). Hingga diskusi kita tentang politik hanya sampai pada seorang penggosip, yang jika berbicara padamu hanya tentang orang lain (terutama negatifnya). Atau jika tidak, akan jatuh pada seorang pembual, yang jika berbicara padamu, hanya tentang dirinya sendiri.

Sementara itu, dalam jajaran bangsa-bangsa di dunia, index prestasi kita dalam angka yang tak menggembirakan. Padahal, kita negara dengan populasi terbesar ke-4 dunia, setelah Cina, India, dan kemudian AS. Pada hari pertama Asian Games 18 saja, kontingen Tiongkok di peringkat pertama dengan belasan medali emas.

Indeks demokrasi dan index ekonomi kita, belum menggembirakan, meski punya potensi pertumbuhan ekonomi paling menggembirakan saat ekonomi dunia ambruk. Pada sisi lain, index prestasi akademik kita rendah. Tingkat literasi kita, nomor 2 dari bawah. Tapi index korupsi? Peringkat 96 dari 180 negara, setingkat di bawah Timor Leste.

Padahal, dengan kekayaan alam dan populasi penduduknya, sesungguhnya bisa dimaknai sebagai berlimpahnya sdm kita. Tapi apakah kita bisa bersatu? Politik telah memecah-belah kita. Bahkan ketika olahraga dan seni (bukan hanya puisi, ya, Pak John F. Kennedy dan Sena Gumira) mempersatukan, politik memporak-porandakan.

Seorang presiden yang ‘mau-maunya’ menjadi sales marketing untuk negeri ini, untuk brand dan martabat bangsa dan negara, pun dibully hanya karena bukan capres pilihannya. “Jika alam semesta menyatukan kita, saya tidak tahu mengapa,” bertanya Sean O’Casey, dramawan Irlandia, “para politikus memiliki kecenderungan memecah belah kita, memisahkan kita satu sama lain.”

Politikus cenderung melawan hukum alam, di mana alam merupakan usaha menyatukan kita bersama-sama. Yang kemudian terjadi adalah cara pandang saling meniadakan. Hitam putih. Meski dunia literasi kita, dongeng, cerita wayang, kethoprak, atau leghenda-legenda kita, sering melakukan simplifikasi. Seolah dunia ini hanya dibalut perang tipologi, si baik dan si jahat.

Atau benarkah kita ini masyarakat biner? Hanya mengenal hitam-putih? Sejarah perjuangan bangsa ini, oleh bapak-ibu pendiri bangsa kita, dikayakan oleh warna-warni pemikiran. Tapi 32 tahun kekuasaan otoritarian Soeharto merusak segalanya. Pasca Reformasi 1998, partai politik justeru bagian dari masalah, bukannya pengurai dan apalagi penyelesai masalah.

Sukarno benar adanya ketika berpendapat bahwa perjuangannya dulu lebih mudah. “Tapi perjuanganmu (kini) akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Bangsa seperti apa? Yang ingin mengganti dasar negara dengan jalan fitnah, menebar hoax, terror tapi pura-pura berpaham demokrasi dengan tagar 2019GantiPresiden. Bangsa yang melakukan korupsi, jualan agama tapi sambil chatting sex. Bangsa yang karena beda pilihan politik dan agama, tidak akur dan merasa paling pinter padahal goblig pol.

Kehadiran Jokowi (yang mampu mengalahkan trend kepemimpinan masa lalu), adalah berkah transformasi politik kita. Semula dinilai tak kapabel, tak memenuhi gambaran ideal dalam konvensi. Tidak gagah. Tidak micara. Tidak cakep. Bukan keturunan ningrat. Tidak korupsi. Tapi begitu kinerjanya diapresiasi dalam 87% kepuasan publik, dicari-carilah sisi buruk, atau jika perlu tembak dengan fitnah dan hoax oleh yang dikalahkannya. Mulai dari sisi identitas, hingga soal utang dan jual asset negara, yang tak perlu pembuktian dan data. Karena ada saja rakyat yang mau dikibuli, entah dengan duit atau nasbung, atau jika tidak logikanya sama-sama gemblung.

Apakah ‘aksi’ mogenya dalam pembukaan Asian Games 18 itu pencitraan? Tentu saja. Goblog saja yang tidak mentargetkan itu. Jokowi bertindak selaku sales marketing kita yang baik. Tinggal bagaimana kemudian kita menangkap peluang itu. Itu yang tidak dilakukan, justeru malah ngomongin stuntman. Stuntman ndhasmu njeblug.

Jadi, apa nih yang harus kita beresin? Stuntman atau mulut kita? Jawabnya: Politikus! Karena politikuslah kekacauan terjadi. Partai politik bukanlah lembaga moral yang bisa dipercaya. Karena bukan negara yang menentukan nilai moral, melainkan kita, seperti kata Noam Chomsky. Atau menurut Franklin D. Roosevelt, bukan presiden atau parlemen pemimpin negeri ini, tapi kita, rakyat.

Cuma kalau rakyatnya cuek, golput, ogah mikirin, tentu saja para penjahat negara riang gembira sebahagia-bahagianya. Rakyat yang juga yang punya pengetahuan, apalagi kesadaran sejarah, yang baru terjadi 20 tahun silam pun! Apalagi jika rakyatnya ribet bertarung rebutan balung, saling nyanjung junjungan hanya karna duit dan nasbung. Meski ada yang lebih gemblung, yakni pendukung ikan kembung tukang tenung jualan kucing dalam karung.

Politikus tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri, kata Charles de Gaulle, mereka justru terkejut bila rakyat memercayainya. Itu yang terjadi, dan mereka pun besar kepala. Pede aja lagi, meletakkan otak mereka di pantat, dan orgasme ketika rakyat yang bodoh bisa ditipu untuk menjilati otak mereka.

1 komentar:

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...