Kamis, Agustus 02, 2018

Jokowi, Kepemimpinan Androgini




OLEH : SUNARDIAN WIRODONO

Rachland Nashidik, wasekjen Partai Demokrat, belum lama lalu (7/2018) mentuit jika untuk ganti presiden harus kerjasama dengan setan, akan dia lakoni. Apalagi hanya dengan Prabowo. 

Duluuu, nun di tahun 2014, Rachland Nashidik dalam konteks Pilpres menulis di akun twitternya, merespon Demokrat yang akhirnya menolak ajakan Gerindra berkoalisi: “Karena berkoalisi dengan Prabowo bukan saja tak bisa, tapi juga salah. PD tak mau dan tak akan membantu membalik masa lalu jadi masa depan Indonesia.”
Mengapa Rachland Nashidik waktu itu nulis kayak gitu? Mungkin waktu itu nalar Rachland masih jernih. Lha, kali ini, ketika mau kerjasama dengan setan, apalagi hanya Prabowo, untuk mengganti presiden (Jokowi)? Karena SBY berkepentingan atas AHY pada Prabowo. Jadi, pejah gesang ndherek ngarsa bapak. EGP, eh, ABS ding!

Itu kelas politikus kita. Ecek-ecek. Sementara fakta menunjuk, dalam berbagai indikator, perlahan tapi pasti, Indonesia berjalan pada jalurnya; Pertumbuhan. Sesuatu yang tak mudah kita temukan sejak Soeharto. Dua presiden berlatar belakang militer, Soeharto dan SBY, mempunyai cacat negative dalam berbagai index prestasinya.
Barulah pada Jokowi, ketika soehartoisme coba dilengserkan 1998, 20 tahun kemudian Indonesia mencoba dalil baru. Bahwa tanpa adanya infrastruktur, mustahil kita ngomong tentang kompetisi, daya saing antarnegara. Apalagi dengan SDM yang rendah secara kualitatif.

Jokowi dengan pola kepemimpinan androgini (pembagian peran sama antara maskulinitas dan feminitas), jauh lebih mampu mendengar, dan menimbang. Dan karena itu kesannya lamban. Apalagi Jokowi tidak micara, sebagaimana lantangnya para politikus. 

Pola kepemimpinan Jokowi yang tidak macho (dalam tudingan Amien Rais tidak tegas, makanya dia memilih Prabowo), justeru berbanding terbalik dalam praksis kekuasaan. Jokowi persisten dengan keputusan-keputusan politiknya. Jelas dan lurus, yang membuat Amerika Serikat pusing dan tak enjoy. AS mulai melirik kompetitor Jokowi, entah itu Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo, asal bukan Prabowo yang dinilai jeblok dan dianggap kartu-mati.

Kepemimpinan androgini Jokowi, juga ditunjukkan dalam terobosan-terobosan politiknya sejak awal. Ia berbeda secara mainstreaming. Ia berani memberi ruang lebih luas pada kaum perempuan, bahkan pada Susi Pudjiastuti, yang di luar mainstream pandang kita tentang intelektualitas. Ia melakukan dekonstruksi dalam banyak kejumudan (involusi) politik kita.

Dengan caranya pula, Jokowi mengaduk-aduk involusi atau hamparan puncak gunung es, lebih karena ia seorang manajer yang baik. Yang mampu menjadi dirigen bagi orkestrasi Indonesia, dalam situasi pancaroba dan masa transisi. Transisi dari apa ke apa? Dari demagogisasi generasi analog ke nilai presisi generasi digital. 

Itu pula sebabnya dalam pertarungan power-game, Jokowi boleh dikata memenangkan setiap lini peperangan. Ia politisi ulung yang dingin dalam langkah-langkah politiknya. Ahok berguru pada Jokowi, yang dinilai jauh bisa lebih kejam dari dirinya. Orang hanya menilai Ahok omongannya kasar, tetapi dalam penilaian Jokowi sendiri, hati Ahok jauh lebih lembut, emosional, reaktif, dan tidak tegaan. Jokowi bisa lebih cool, bukan tandingan SBY, Prabowo, apalagi Anies Baswedan dan Amien Rais (dan lebih apalagi Rizieq Shihab yang lari). Ia sebagaimana dalam filsafat raja-raja Mataram mengenai ngelmu 'ngemut barleyan'. 

Kebutuhan kita akan pemimpin nasional, selalu sesuai dengan akselerasi jaman dengan generasinya. Kita tak lagi butuh satria-piningit, dan apalagi hanya dalam kriteria manusia yang diturunkan Gusti Allah. Kita akan bicara soal track-record, jejak digital, bukan hanya pemikiran tetapi apa yang telah dikerjakannya. Kita berada dalam perubahan itu. Kasus DKI Jakarta dengan munculnya Anies-Sandi? Itu kesalahan rakyat yang tak berani ribut bertarung dengan perubahan, hanya karena takut mayatnya tak dishalatkan.

Tak semua orang siap dengan perubahan, apalagi berubah dan meninggalkan comfortable zone. Makanya, pilpres yang mestinya urusan pemilik suara, yang jumlahnya 180-an juta, masih saja diarah-arahkan oleh yang mendaku punya otoritas. Itu sebabnya, ahli agama, bernama ulama, diseret-seret memberi legitimasi. Di dunia ini memang ada ulama ‘su (ulama palsu atau jejadian) yang menjual agama demi mobil mewah dan pustun muda, yang tega mengatakan Jokowi tak mewakili representasi Islam, dan menudingnya sebagai Cina, Kristen, PKI.

Generasi kini tidak akan mempan dengan isu-isu bodoh. Mereka akan lebih bisa menerima Jokowi yang anti formalisme, yang anti mainstreaming, yang anti-tesis. Perlawanan generasi kita kini, adalah menjungkir-balikkan kemapanan, involusi, dan kedunguan para demagog yang bersembunyi pada politik identitas, dan lebih-lebih agama.

Setelah generasi Prabowo, Amien Rais, dan SBY, lenyap, mungkin jalanan lebih terasa enak. Karena meski diteruskan Fadli Zon dan AHY cum suis, generasi mendatang lebih mudah melihatnya sebagai tontonan topeng monyet yang menyedihkan. Kita tak bisa lagi main-main dengan analogi (ciri khas generasi analog). Kita akan berhadapan dengan bahasa logaritma, code-code yang presisi dan persisten. 
Kepemimpinan androgini Jokowi, lebih adaptif dengan akselerasi jamannya. Jokowi adalah presiden jaman-now.

Memang tak ada pilihan lain, bahwa kita mesti kerja, kerja, kerja. Tidak menunggu datangnya perampok mendaku sang messiah yang dijanjikan, satria-piningit yang digodog AS (Amerika Serikat dan Arab Saudi). Kita butuh pemimpin yang mau mendengarkan, hingga ia bisa melakukan updating dan encoding dengan benar, untuk menghasilkan sesuatu yang presisi pula. 

Kalau sekarang harga jengkol pun naik, kemudian kita jengkel? Itu karena untuk berhenti sejenak tidak makan jengkol pun tak bisa. Persis kelasnya Zulkifli Hasan, yang ngomong situasi sekarang sulit, maka Jokowi tak perlu dilanjutkan. Sementara orang naik haji dan umroh berkali-kali. Padahal, di sisi lain, adik kandungnya sendiri yang jadi bupati, ketangkep OTT-KPK.

Gimana tuh? Karena di Indonesia bisa kita temu merk gadget warna-warni, seperti warna separator di jalanan Jakarta. Di Indonesia banyak macam handphone canggih dibanding negara-negara luar, yang PDB-nya jauh lebih bagus dari Indonesia. 

Tak hanya satu dua kali saya melihat, ulama hanya sms-an pun tak bisa. Padahal gadgetnya super-canggih, bahkan untuk ngirim dan ngakses data dunia pun. Kenapa alasannya? Si ulama jadul itu tak pernah kirim sms-an, karena merasa tulisan tangannya jelek. Kayak cakar ayam. 

Bukannya cakar monyet, Mbah?

1 komentar:

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...