Senin, Agustus 20, 2018

Jokowi dan Generasi Milenial dalam Dandanan


Ketika mendengar omongan Arsul Sani, Sekjen PPP, akan ‘mendadani’ Kyai Ma’rif Amin, yang meski sarungan tapi bagaimana agar tampak milenial, saya ketawa njungkel-jempalik. Duh, ngaco (kali ini, tanpa tanda petik) nih orang! Kayak mereka yang nggak bisa nangkep pesan, yang diributin malah soal 'stuntman'!

Tentu bukan hanya para politikus yang salah memahami ‘generasi milenial’, apalagi jika ukurannya hanya dari kaos, legging atau sepatu, disertai lips-balm yang dipakai. Generasi milenial bukan soal dandanan. Bukan hanya pada sebutan seperti pria metro-sexual misalnya. Milenial tak berkait dengan umur. 

Generasi milenial berkait dengan sikap hidup, cara berfikir dan eksekusinya. Sesuai akselerasi jaman yang ditopang karakter revolusi teknologi komunikasi dan informasi. Tak ada kaitan aksesori, yang cenderung dieksploitasi para pedagang.

Mau didandani kayak apa, yang bisa jadi malah saltum, bahkan salting. Generasi milenial menuntut otentisitas, dan kepercayaan diri atas kemampuan pilihannya, anti mainstream, bahkan anti-tesis. Meski ada kandidat yang konon dicintai emak-emak sebagai calon pemimpin milenial, tak kita lihat pemikiran dan terobosannya yang menggambarkan citra pemimpin abad milenial. 

Kandidat itu lebih kuat sebagai generasi analog, yang tak bisa dibedakan dengan model kepemimpinan masa lalu. Konvensional, bahkan konservatif. Apalagi, dengan bungkus istilah ‘santri post-Islamisme’. Makin kelihatan analognya.
Dalam pidato pengantar nota keuangan RAPBN 2018-2019 di parlemen, Jokowi menunjukkan visi pemimpin abad revolusi industry four poin zero. Ia memberi ruang datangnya generasi baru, menantang anak muda memiliki orientasi baru, mendorong generasi star-up dalam ekonomi kreatif kita menjadi sangat terbuka.

Tidak mudah. Karena revolusi mental yang didengungkan 4 tahun lampau, menghadapi banyak kendala. Kita butuh fundamen infrastruktur, urgen dan mendesak, karena hampir setengah abad terbengkelai. Omong kosong berdaya saing dengan negara luar tanpa memiliki infrastruktur yang memadai. Kita perlu membangun peradaban baru (yang tertinggal), menjalin inter-konektivitas yang terkendala selama ini. 

Kesiapan bangsa untuk berubah, dari kangkangan dan kungkungan konvensi, membutuhkan evolusi mental. Karena senyatanya, mengubah mekanisme birokrasi dan system hukum kita, tidak mudah. Jokowi mesti mengambil jalan melingkar. Ahok yang keras, mudah disingkirkan paksa, karena ketidakmampuannya melakukan kompromi.
Beban Jokowi tentulah tak ringan. Tetapi untuk saat ini, Indonesia membutuhkannya. Ia symbol perubahan yang hendak dituju. Pemimpin androginis, yang mendengarkan, dan menjagai arah perubahan, agar tak balik ke pangkuan masa lalu, ke generasi analog yang abstrak. Abad mendatang, membutuhkan ukuran-ukuran presisi. Kita tak sedang mengimpikan lelaki metro-sexual.

Lapangan pekerjaan abad milenial, tak lagi akan membuka kesempatan mereka yang menenteng ijazah ke mana-mana. Tak kita butuhkan lagi jargon ‘yang berani dan tegas’. Karena kalau cuma itu, Jokowi telah membuktikan keberanian dan ketegasannya, yang Ahok pun mengakui kalah berani dengan Jokowi. Tinggal lihat track-recod Jokowi, setidaknya dalam 4 tahun terakhir. Petral bisa dihancurkan, demikian Freeport dan Rokan, dan para benalu ekonomi yang selama ini dimanjakan kekuasaan model Orde Baru. Yang demen membeli kekuasaan dengan uang dalam kardus.

Jika saya tulis ‘Jokowi gila’, para pemuja fanatiknya akan sewot. Hanya karena mereka tak ngerti makna kalimat konotatif, yang pengertiannya adalah compliment (ungkapan kekaguman) sebagaimana umpatan “bajingan kamu, keren!”. Tapi Jokowi memang gila sebagai personifikasi anti-mainstrem, sebagai salah satu ciri generasi milenial. Ia anti formalisme, karena formalisme yang ditanam Orde Baru dalam batok kepala manusia Indonesia itulah sumber involusi. Peradaban mandeg. Tak punya daya saing. Daya inisiasi, apalagi kreasi (atau setidaknya ada potensi namun) tak terakomodasi.

Dalam pembukaan Asian Games 18, kita melihat bagaimana Jokowi mau ‘berperan’ sebagaimana aksi Tom Cruise menjadi Ethan Hunt dalam The Mission Imposible. Itu hanya ciri bagaimana prototype (bahkan ideal type) seorang pemimpin, yang melayani rakyatnya, bahkan bersedia menjadi bagian dari entertainment yang menghibur. Sementara banyak elite politik kita yang munafik. Di mana-mana suka pamer wajah dinas, jaim (sebagai ciri generasi analog yang) sering membungkus kelemahan dengan retorika gagah. Diksi yang dipenuhi makian dan kebanggaan diri, megalomania, tetapi kosong belaka, dan lamis.

Tapi generasi milenial juga punya selera humor dan rileks. Jokowi tidak jaim sebagaimana dibilang oleh Wisnuthama (direktur kreatif opening seremoni Asian Games 18) yang sudi menjadi bagian dari entertainment. Dan bisa menikmati celetukan Kaesang Pangarep, yang ngetuit bahwa dirinya yang jadi stuntman, menggantikan bapaknya jumpalitan naik moge. Padahal kita tahu, naik sepeda motor matic pun, Kaesang tak berani, "Wong jalan kaki saja bisa jatuh," kata Kaesang.

Yang mesti disadari, generasi milenial yang berjumlah 40% dari total calon pemilih dalam Pemilu Serentak 2019, adalah generasi kritis. Mereka membaca dan dengan mudah mendapati track-record atau jejak digital siapapun. Akan mudah ketahuan, siapa elite tukang ngomdo, tukang fitnah, dan siapa yang bekerja sungguh-sungguh, serta tidak korupsi. 

Anak-anak milenial tak mudah terkecoh dengan gimmick, dan berbagai polesan palsu, hanya agar dikata berpenampilan milenial. Generasi milenial digerakkan oleh seberapa presisi antara pola pikir dan tindakan. Hanya ngomdo atau eksekutor sejati. Digerakkan oleh sikap, karakter, dan juga passion, atau hanya gimmick. Jangan dikira generasi milenial bisa ditipu minyak wangi atau kata-kata mutiara dalam kaos sablonan. Mereka mengakses informasi dari seluruh dunia. Bisa dan biasa membandingkan. 

Anak-anak muda milenial bukan anggota partai emak-emak, yang bangga mengelu-elukan ‘laki orang’. Mereka generasi presisi, tahu cara mengukur prestasi orang. Nggak akan ngep-pek oleh dandanan milenial kayak orang main sirkus. Lagian ini pilpres, bukan pilwapres.

Maka, serahkanlah negeri ini pada para professional, yang jujur dan bukan tukang korupsi. Kita yang menentukan, bukan berdasar dandanan, tetapi pikiran dan tindakan. The ultimate rulers of our democracy are not a President and Senators and Congressmen and Government officials but the voters of this country, tulis Franklin D. Roosevelt, presiden ke-26 AS. Para pemimpin tertinggi demokrasi kita bukan Presiden, wakil rakyat, dan pejabat pemerintah, tetapi para pemilih negeri ini.

APAKAH ENGKAU MENYADARINYA?

Merasakan pesan sejati dari Johannes Adekalla, alias Joni, dari Belu, NTT kemarin? Si pemanjat tiang bendera setinggi 15 meter itu meyakinkan kita, Indonesia takkan bubar. Negeri ini perlahan berada dalam jalur kebenarannya, meski tahun depan jadwal jatuh tempo utang-utang luar negeri yang dilakukan pemerintahan sebelumnya. Jumlahnya cukup fantastis, Rp 400-an trilyun, dan di tengah situasi ekonomi dunia yang melorot. 

Tentu akan sangat tergantung 'jiwa dalam' bangsa Indonesia, sebagaimana Joni yang waktu itu terbaring sakit, dan justeru ia bangkit berlari, memetik ujung tali bendera yang nyangkut di puncak kesulitan. Akan sangat tergantung cara kita memakna segala macam fiksi, narasi, dan glorifikasi yang ditempelkan atas peristiwa itu. Tetapi di mana pun, kenyataan bukanlah sesuatu yang sekedar dinyatakan atau apalagi pernyataan belaka. 

Kenyataan adalah sesuatu yang senyatanya, yakni imaji-imaji yang dipikirkan, diperhitungkan, kemudian dikerjakan, dan berproses seoptimal mungkin. Untuk menyajikan tarian dengan 4000-an penari yang kebanyakan masyarakat awam (bukan penari profesional), koregrafer Eko Supriyanto melatihnya tiap hari 4 jam sepanjang 5 bulan, untuk kemudian mendapatkan decak kagum para penonton pembukaan Asian Games 18 di SUG Bung Karno semalam. 

Bahkan, secara keseluruhan, untuk pembukaan yang megah itu, dibutuhkan waktu 1,5 tahun dan diproses tiap hari, hingga memunculkan Jokowi, yang bukan hanya mempesona seorang anak yang sedang mengenyut es krim, tetapi semua mereka yang punya kebanggaan atas negaranya, Indonesia Raya. Wisnuthama, Direktur Kreatif Opening Ceremony Asian Games 2018, mengaku hanya butuh orang yang mau mendengarkan, untuk idenya yang 'tidak umum'. Ia sempat berkali-kali dipanggil Jokowi, dan hanya bicara empat mata. "Karena beliau orangnya asyik, santai, jadi ketika kita sampaikan, pun bisa tereksplor,..." kata Thama konseptor NET.TV itu. 

Apa maknanya? kepercayaan pada liyan, kemampuan mendengarkan, dan memberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kebersamaan. Sebagaimana Joni, Wisnuthama, atau Jokowi, beserta anak-anak muda di seluruh pelosok negeri yang tanpa sorotan media terus bekerja. Sebagaimana teman-teman yang kini terus sibuk pendampingan di Lombok, di beberapa daerah perbatasan, dan seluruh sudut-sudut Indonesia. 

"Apa?"

1 komentar:

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...