Sabtu, Oktober 26, 2013

Republic Issues Production

Semakin agak sulit dibantah, gaya kepemimpinan SBY menunjukkan kelasnya yang parah. Sensitivitas dan sensibilitasnya benar-benar rendah. Tak jauh beda dengan negara teater Soeharto, namun dari segala sisi; mulai gesture, mimik, blocking, moving, dan komposisi, SBY tidak memiliki kemampuan keaktoran yang memadai. Dalam episode akhir-akhir ini saja, hanya menunjukkan pola kepemimpinan yang lamban, ragu, reaktif, over-sensitif namun bukan pada masalah-masalah yang substansial. Itu semua menjelaskan ketidakmampuannya dalam kepemimpinan. Segala syaratnya tidak tercerminkan disitu, kecuali cuma bisnis akting yang miskin, dalam kerumunan kamera yang juga sama kelasnya, yakni kamera yang tidak mampu menembus di sebalik gambar.
Pada akhirnya, kita semua diseret dalam tontonan yang melelahkan. Orang-orang yang konon ahli, dikumpulkan dalam sebuah talkshow dan perbincangan tak berfokus di televisi. Penuh cengengesan dan hanya debat semantik atau silat lidah. Semua kita dijebak dalam peristiwa demi peristiwa, namun tidak pernah diantar sampai masalah dan apalagi akar masalah, untuk kemudian menentukan agenda, prioritas, sistem, dan kemudian mekanismenya. Sementara bangsa-bangsa lain, bahkan seperti Vietnam, Thailand, dan beberapa negara Asean yang dulunya di buritan Indonesia, kini sudah melesat meninggalkan. Indonesia sampai hari ini tetap tak punya proyeksi, gambaran masa depan. Presiden terjebak dalam masalah-masalah teknis, sampai-sampai belibet sendiri dengan soal sms (sementara isterinya dengan instagram). Ini benar-benar kepemimpinan nasional paling parah sepanjang sejarah. Bangsa yang dibangun dengan mimpi-mimpi besar oleh generasi Sukarno (dan dari sana lahir semangat, motivasi, serta inspirasi), menjadi tidak punya pegangan dan pijakan. Bangsa dan negara ini kini tak punya grand-design, mau ke mana dan 'ngapain' dengan segala sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang besar?
Ketidakmampuan para elite nasional dalam melihat akar masalah, serta ketidaktahuan dan ketidakmampuannya memberikan arah, menunjukkan bahwa ada yang salah dalam bangsa dan negara Indonesia ini, apalagi ketika banyak di antara mereka justeru terlibat dalam KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Tentu saja, salah satu kesalahannya ialah ketika SBY terpilih menjadi presiden. Kenapa? Karena pada 2004 inilah pertama kali kita melakukan pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat. Dan rakyat yang masih terpukau dengan personalitas tokoh, ternyata mereka lupa bahwa ketokohan di jaman digital ini dilahirkan dari photoshop, retouching, digital printing, broadcasting, hingga bisa menyulap si wajah setan menjadi malaikat.
Padahal, tidak ada gagasan yang memimpin di sana, dan karenanya tidak ada kualitas kepemimpinan dimunculkan.
Jika Indonesia masih berdiri hingga kini, lebih karena SDA dan SDM-nya yang besar. Yang tentu saja, itu semua hanya persoalan waktu, untuk bertahan. Karena jika kepemimpinan Indonesia "gini-gini" aja, pada akhirnya negara dan bangsa ini akan amblas tergadaikan, dan kita hanya sebagai bangsa pekerja atau kuli, di negeri sendiri. Hanya bisa melongo berpuluh-puluh digit angka berseliweran dari kantong kita ke luar negeri.
Sementara itu, berapa nilai hutang luar negeri kita selama 10 tahun terakhir ini? Berapa jumlah tenaga kerja produktif kita yang tidak terserap oleh pusaran ekonomi nasional kita? Berapa nilai investasi dari kaum modal asing di tanah air ini, dan bagaimana perimbangannya dengan kekuatan dalam negeri? Berapa nilai ekspor dan import kita, lebih gedean mana dan kenapa?

Dan kita masih ribut soal-soal bagaimana cara memberantas korupsi, siapa yang lebih berwajib, saling tuding dan menyalahkan, hingga masih muncul kata-kata; dia tak layak menjadi presiden (tetapi di sisi lain, yang lebih tak layak tetap boleh menjadi presiden). Ini memang negeri blangsak, yang kesibukannya hanya mereproduksi isyu untuk bluffing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar