Selasa, Oktober 01, 2013

Pemilu 2014 Dan Sadap-menyadap Suara

ARB boleh yakin, bahwa rakyat mendukungnya. Demikian pula Hashim Djojokusumo boleh mengucurkan Rp 100 trilyun untuk upaya pemenangan kakaknya. Begitu juga para fans Jokowi boleh yakin, jika Jokowi nyapres di 2014, bakal jadi pemenangnya. Survey teranyar, dari lembaga konsultan Bill Clinton, Amerika Serikat, bahwa Jokowi mendapatkan angka 61%, sementara banyak pesaingnya tentu berbagi sisa suara. Maka muncul gagasan, daripada ngabisin duit, tak usah Pemilu, langsung saja tunjuk Jokowi.
Tapi, ini Indonesia, Bung. Perjuangan belum selesai. Pemilu 2004 dan Pemilu 2009, dinilai kontroversial, hingga terpaksa dipenjarakannya (dengan dalih kasus pembunuhan) Antasari Azhar (Ketua KPK waktu itu) yang hendak membongkar kasus IT dalam Pemilu 2009. Kini, KPU bekerjasama dengan Lemsaneg (Lembaga Sandi Negara). KPU mengatakan belum memutuskan bentuk kerjasama kedua lembaga. KPU belum menetapkan data pemilu di wilayah dan di tingkat mana saja yang akan diamankan Lemsaneg. "Nah, itu perlu dibahas lagi (wilayah mana saja yang datanya akan diamankan Lemsaneg)," ujar Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah, di Jakarta, Selasa (1/10/2013).
Diamankan oleh Lemsaneg? "Jadi, nanti semua perolehan hasil pemungutan suara dari TPS (tempat pemungutan suara) itu kami kirim melalui jalur yang paling aman. Tidak akan disadap, diretas, dimanipulasi, dan diubah-ubah," ujar Kepala Lemsaneg Mayjen TNI Djoko Setiadi usai penandatangan nota kesepahaman dengan KPU, Selasa (24/9/2013) di Gedung KPU, Jakarta.
Itu masalahnya. Lembaga ini, lembaga negara semi-militer, dikepalai oleh militer aktif dan bertanggungjawab langsung pada Presiden. Sementara, kuli bangunan tetangga kampung saya juga tahu, Presiden saat ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono, yang adalah juga Ketua Umum Partai Demokrat, salah satu peserta Pemilu 2014.
Jadi? Mari kita cermati, apakah Pemilu 2014 lebih baik dari 2004 dan 2009, atau malah lebih buruk lagi.
Suka · · Promosikan ·

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar