Kamis, Januari 30, 2014

Film Soekarno dan Sekali Lagi Referensi yang Dangkal

Dalam sebuah tulisannya di; http://pesantrenbudaya.blogspot.com/2014/01/post-hegemony-xxxii-transvaluasi.html?spref=fb, H. Agus Sunyoto antara lain mengindikasikan kecurigaan, bahwa Han Tio adalah agen baru CCF, yang hendak menghancurkan nasionalisme bangsa Indonesia, antara lain dengan jalan de-Soekarno-isasi.
Han Tio (saya menyebutnya Hanung Bramantio) dalam tulisan Agus Sunyoto itu, bagi saya agak diposisikan berlebihan, seolah ia tahu apa yang dilakukannya. Dari karya-karya filmnya, ideologi anak ini lebih pada psikologisme pasar yang berangkat dari kontroversi. Ia hanya melihat pesona pasar dengan kegaduhannya. Saya berpegangan pada pengakuannya sendiri, dan saya kira ini akurat.
Ia mengaku pada Desi Anwar yang mewawancarainya dalam acara Tea Time with Desi Anwar (Metro TV, Minggu, 5 Januari 2014). Saat itu Desi mempertanyakan apa yang jadi kecurigaan publik, bahwa film itu tidak disertai riset yang mendalam. Dengan wajah inosens-nya, Hanung menjawab bahwa interpretasinya mengenai Soekarno pasti korek. Karena apa? Karena interpretasi itu sangat sesuai dengan fakta-fakta yang dikemukakan oleh buku Lambert J. Giebels. Itu sangat mengagetkan, dan membuat saya paham, mengapa film itu cenderung 'melecehkan' Soekarno. Soekarno dengan tinjauan satu buku saja, bener-bener logiak Soehartois yang mutlak-mutlakan dan wts (waton sulaya, asal ngeyel).
Dalam buku 'Soekarno: Nederlandsch Onderdaan, Biografie 1900-1950' (Giebels, 1999), buku ini seolah hadir begitu tak berjarak dengan Soekarno, tetapi isinya antara fakta dan fiksi begitu baur. Dan buku inilah yang menjadi referensi penting kalangan sosialis untuk menghantam Soekarno. Bagaimana Rosihan Anwar pernah mengangkat hal itu, soal betapa lebaynya Soekarno di Ende, berdasar buku John Ingleson, yang oleh kawan dan lawan Soekarno waktu itu pun diragukan kebenarannya.
Soal pandangan ideologis, mau nasionalis mau sosialis, terserah saja. Namun sebagai seniman film yang menyodorkan karakter tokoh yang dikenal luas oleh publik, ia mesti netral dalam pengertian memahami masalah, berimbang, proporsional. Kita tahu bagaimana Spielberg menggarap 'Lincoln' atau Oliver Stone menggarap 'Heaven 'n Earth', mereka melakukan riset terlebih dulu, secara seimbang. Form sejarah tetap pada garisnya (se-subyektif apapun), tetapi opini mereka sebagai seniman film lebih diproyeksikan pada bagaimana manusia kini belajar dari sejarah itu. Tentu juga ada sudut pandang, tetapi tak pernah hal itu disodorkan sebagai satu-satunya interpretasi, terus nanti nantangnya; "Kalau tak setuju, ya bikin film sendiri dong,...!" Itu logika sampah. Bukan berarti sampah tidak berguna, tapi mesti didaur ulang terlebih dulu.
Untuk film dengan tokoh sejarah, Hanung bukan filmaker yang baik. Kalau dia mau mengintepretasikan kehidupan anak manusia dalam film macam 'Brownies,..." dan sejenisnya, itu terserah dianya saja. Pada Soekarno, Hanung menjadi sangat culun ketika membaca buku Giebels, dan menganggapnya sebagai sebuah penemuan penting bagi dirinya (padahal buku itu sudah 13 tahun lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia).
Sayangnya, Hanung saya kira tak berusaha mencari pembanding atas narasi yang disusun Giebels. Apa yang dikritikkan oleh Pak Salim Said, mendapatkan alurnya di sini, meski Yudhistira ANM Massardi dan Tempo memuji film ini, namun film bukan hanya soal persoalan penyutradaraan, teknis film, editing, melainkan juga unsur cerita dan cara bercerita, dengan berbagai akurasinya. Pada sisi itu, film Soekarno gagal memenuhi 'hasrat' keingintahuan dan pengetahuan masyarakatnya, dan menemui kegagalannya seperti dipertanyakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar