Selasa, Januari 28, 2014

Bencana Alam; Kemarin dan Esok adalah Hari Ini






“Kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja.

Langit di luar,
Langit di badan,
Bersatu dalam jiwa”

| Rendra


 
Betapa tidak mudah memahami kata-kata mudah dari Rendra di atas. Bagaimana memahami bencana dan keberuntungan sebagai sesuatu yang “sama saja”? Puisi banget! Kalau kita suka mengumpat "hidup tak semudah cocote Mario Teguh", bolehkah kita ngomong yang sama untuk cocote Rendra ini?
Tapi demikianlah. Indonesia berada dalam posisi yang rawan, bukan dalam pengertian semantik, atau sinisme terhadap bobroknya mentalitas manusia korup kita. Kita berada di negeri rawan bencana, tapi sayangnya bukan sebagai bangsa yang terlatih dan sudi belajar. Sukanya menuntut pemerintah yang tidak sigap.
Dua kali gempa tektonis dari Kebumen, seolah menginterupsi konsentrasi kita pada bencana banjir di berbagai daerah dan erupsi Sinabung. Dan media televisi, yang menjadi referensi keseharian kita, sama sekali tidak inspiring dan membimbing kita untuk mengerti. Malah-malah, ia menjadi teror atau ancaman itu sendiri, dengan pertanyaan-pertanyaan dogol yang diulang-ulang. "Bantuan apa yang sudah diberikah pemerintah? Pengungsiannya nyaman tidak?"
Peringatan akan adanya gempa dan bencana alam ini-itu dari pakar, sering mendapatkan respons yang justru negatif. Masyarakat justeru me-negasi dengan negatif. Informasi awal mengenai potensi gempa, memang bisa membuat publik panik. Namun, informasi tersebut tak sepenuhnya salah, karena Indonesia memang memiliki catatan bencana alam yang beragam. Persoalannya, masyarakat memang cenderung mempunyai ketergantungan yang tinggi pada negara atau pemerintah, pada situasi-situasi chaostic. Ini tentu karena social enginering kita tidak berjalan dengan semestinya. Pemerintah hanya sibuk dengan mereka-reka angka, dan manusia hanya didekatinya dengan matematika seperti itu.
Pemerintahan kita menganggap rendah potensi bencana, yang niscaya dan akut. Itu semua karena miskinnya apresiasi pemerintah dan rakyatnya, sebagai akumulasi dari ketidakpedulian kita pada potensi bencana. Masyarakat kita memandang bencana sebagai kewenangan mutlak Tuhan Sang Maha Pencinta, dan kita tak bisa apa-apa. Belum lagi jika dikaitkan dengan dosa-dosa manusia, kutukan Tuhan, dan sebagainya.
Nopember tahun lalu, saya bertemu dengan beberapa nelayan di pulau Sebatik (Kalimantan Utara), yang kesehariannya mencari ikan di laut. Mereka sedang giat-giatnya bekerja secara keras, mencari ikan sebanyak-banyaknya, agar bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Buat apa sebanyak-banyaknya itu? Agar mereka bisa menabung, karena hari-hari berikutnya, cuaca akan tidak bersahabat, angin dan hujan tak menentu, dan dipastikan mereka tak bisa melaut.
Jika mereka tidak melaut, padahal itu satu-satunya cara mencari nafkah, lantas bagaimana memenuhi hajat hidupnya? Itulah sebabnya mereka menabung untuk kebutuhannya selama 2-3 bulan ke depan, selama cuaca tidak bersahabat, dan selama mereka tak bisa melaut. Mereka bukan pembaca alam ghaib, tetapi karena mempunyai kewaskitaan yang dididik oleh keakrabannya dengan alam.
Siklus alam kita, sesungguhnya bukan misteri yang tak teruraikan. Dan Allah sendiri menjanjikan kita boleh menafsirnya dengan logika yang dianugerahkan. Peristiwa bencana alam, sesungguhnya bukan peristiwa yang tak bisa dimengerti dari sisi peradaban manusia sebagai mahkluk yang diperkenankan berpikir.
Ketika saya bercengkerama ke beberapa penduduk di Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Muntilan (Jateng), beberapa penggali pasir yang berada di ring satu bahaya Merapi, mengatakan bahwa Gunung Merapi memberi kehidupan dan rejeki pada mereka. Sehabis gunung meletus, kata mereka, maka pasokan pasir, batu, begitu melimpah, dan menjadi sumber mata pencaharian. Demikian juga bagi para petani, pasca letusan Merapi, tanah menjadi subur, dan menjadi pengharapan untuk masa tanam berikutnya.
Jika demikian, mengapa fenomena alam itu tidak dipersahabat, sebagaimana naluri hewan-hewan yang tajam, yang akan menjauh dari Merapi, ketika peristiwa erupsi itu terjadi?
Di Jepang, setelah bencana besar Fujiyama, pemerintah dan para ilmuwan Jepang, berfikir keras mengenai hal itu. Dan hasilnya, terjadi perubahan pada konstruksi sosial dan budaya masyarakat setempat. Bentuk rumah dan konstruksinya, pekerjaan atau mata pencaharian penduduk, semua didisain untuk mengantisipasi sebagai resiko lingkungan yang rawan dan tidak stabil.
Pemerintah dan akademisi Indonesia, sesungguhnya juga bisa, mendisain setepatnya, bagaimana memposisikan hubungan masyarakat sekitar ruang-ruang bencana itu. Sehingga kita tidak hanya bicara soal "tanggap bencana" atau "musibah alam", padahal itu adalah peristiwa kerutinan yang bisa diperkirakan.
Artinya, sikap mental, karakter budaya, pola pikir masyarakat kita, adalah persoalan social enginering yang selama ini diabaikan. Dan kita hanya ribut jika hal tersebut terjadi. Ribut keprihatinan, ribut aksi sosial, ribut anggaran bencana.
Negeri ini berada di cincin api bencana. Bencana alam adalah keniscayaan. Namun kita tidak mendengar ajakan, untuk memikirkan penyikapan kita atas fenomena dan pembacaan kuasa Tuhan atas alam semesta ini. Hal itu bukanlah kesombongan yang dungu, melainkan kedunguan yang sombong. Manusia mahluk lemah, baiklah. Kita tak peka dengan tanda-tanda alam, baiklah juga. Namun, jika kita tak mampu membaca alam, mengapa kita tidak mau membaca buku?
Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini belum mampu memberikan kemampuan bagi manusia untuk meramal bencana. Tapi kita suka mengacaukan ilmu dengan klenik. Padahal agama tanpa ilmu, kata Einstein, adalah buta. Kita tak bisa menjaga dan membaca alam, diam-diam ikut merusaknya, tetapi ketika alam bereaksi atas ulah manusia, Tuhan juga yang dituding marah dan menghajar habis makhluk ciptaannya. Bacalah doa lingkaran Rendra di atas, bahwa bencana dan keberuntungan adalah sama saja. Semuanya dari sikap kita menghadapinya.
Jika bencana demi bencana ini tak kunjung usai, benarkah karena "Mungkin Tuhan mulai bosan, terhadap tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,..." begitu ajakan Ebiet G. Ade. 
Bertanya pada rumput? Membaca alam saja tak bisa, apalagi ngajak bercakap-cakap dengan rumput.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar