Sabtu, Januari 04, 2014

33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Pengaruh Apa?

Kalangan Sastra Indonesia, setelah diributkan dengan kasus Sitok Srengenge, kini diributkan dengan terbitnya "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh".
Terpilih 33 nama tokoh sastra Indonesia itu, dengan rentang waktu dari 1900 hingga kini, berkat kerja keras 8 orang, yang konon telah bekerja sampai berdebat lebih dari dua hari.
Tim 8 menetapkan 4 kriteria untuk memilih 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh itu. Empat kriteria itu, pertama pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional, kedua pengaruhnya relatif berkesinambungan, dalam arti tidak menjadi kehebohan temporal atau sezaman belaka, ketiga dia menempati posisi kunci, penting dan  menentukan, keempat dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang.
Mereka yang masuk dalam 33 Tokoh Sastra itu; 1. Kwee Tek Hoay, 2. Marah Rusli, 3. Muhammad Yamin, 4. HAMKA, 5. Armijn Pane, 6. Sutan Takdir Alisyahbana, 7. Achdiat Karta Mihardja, 8. Amir Hamzah, 9. Trisno Sumardjo, 10. HB Jassin, 11. Idrus, 12. Mochtar Lubis, 13. Chairil Anwar, 14. Pramoedya Ananta Toer, 15. Iwan Simatupang, 16. Ajip Rosidi, 17. Taufiq Ismail, 18. Rendra, 19. NH Dini, 20. Sapardi Djoko Damono, 21. Arief Budiman, 22. Arifin C Noer, 23. Sutardji Calzoum Bachri, 24. Goenawan Mohamad, 25. Putu Wijaya, 26. Remy Silado, 27. Abdul Hadi WM, 28. Emha Ainun Nadjib, 29. Afrizal Malna, 30. Denny JA, 31. Wowok Hesti Prabowo, 32. Ayu Utami, 33. Helvy Tiana Rosa.
Sebetulnya, ada beberapa nama disebut, seperti Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang, A.A Navis, Asrul Sani, Ramadhan KH, YB Manguwijaya, Toto Sudarto Bachtiar, Umar Kayam, Wing Kardjo, Budi Darma, Saini KM, Danarto, Rida K. Liamsi, Kuntowijoyo, Fredi Arsie, Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Ahmad Tohari, N. Riantiarno, Ratna Sarumpaet, Hamid Jabbar, Seno Gumira Ajidarma, Wiji Thukul, namun nama-nama itu dianggap pengaruhnya tidak sebesar 33 nama tadi. Bagaimana peringkat angkanya, point apa saja kenapa si ini lebih kuat, si itu tidak begitu kuat, si anu kalah kuat dikit, dan seterusnya, kita tidak tahu. Mungkin tokoh sastra bisa diukur seperti para gladiator, yang ini kuat ngangkat bobot 5kg, itu 8kg, yang lainnya 23kg, dan seterusnya. Bukankah satu kriterianya mereka harus menempati posisi kunci? Posisi kunci itu apa? Tukang reparasi kunci? Adakah Umar Kayam, Mustofa Bisri tidak menempati posisi kunci dibanding Marah Rusli, Ayu Utami, Arifien C. Noer, dan sebagainya?
Pada sisi ini pula, penomoran pada 33 nama di atas, yang masuk kriteria 'paling berpengaruh' itu berdasarkan apa? Nomor urut waktu, periodisasi, atau nilai/kualitas? Kemungkinan terakhir mungkin tidak. Tapi, kenapa disebut nama-nama di luar 33 tokoh itu (seperti Umar Kayam, YB Mangunwijaya, Seno Gumira Ajidarma, Mustofa Bisri, dll), yang juga dinilai berpengaruh tapi dikatakan pengaruhnya tidak sebesar 33 nama itu? Bukankah secara logika hal itu menunjukkan Tim 8 melakukan 'perangkingan' nilai? Dan seterusnya, dan seterusnya.
Siapa Tim 8? Anggota Tim 8 adalah Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah. Masalahnya, 8 orang yang memilih 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh itu, tidak satu pun termasuk atau bagian dari 33 nama terpilih. Artinya, memakai logika mereka, 8 nama itu keputusannya tentu tidak sangat penting, karena mereka bukanlah para tokoh sastra Indonesia yang berpengaruh..
Toh mereka sendiri lebih memilih penyebutan "tokoh sastra", bukan sastrawan. Dan apa itu definisi tokoh di Indonesia? Sepertinya, hanya di Indonesia yang masih kental 'soehatoisme' dengan mutlak-mutlakan tokoh. Kita sendiri lebih suka dengan gossip politik dibanding gossip sastrawi.
Pemilihan tokoh sastra dan penerbitan bukunya itu, tentu saja bagi mereka penting. Tapi tidak bagi yang menganggap sastra adalah sesuatu yang tidak bisa dibekukan oleh diskusi yang hanya dua hari lebih, untuk seratus tahun lebih perjalanan sastra di Indonesia.
Tapi kalau ada yang lain mau menerbitkan buku "100 Tokoh Sastra dan Sastrawan Indonesia Paling Asyik", atau "99 Karya Sastra Paling Ngehek se Indonesia", boleh saja. Karena sama tidak pentingnya, kecuali untuk rujukan sertifikasi seniman, yang mau diterapkan Kemendikbud. Lumayan bisa jadi proyek baru lagi.
Hidup proyek sastra!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar