Minggu, Mei 24, 2020

New Normal dan Daya Adaptasi Kita


Oleh Sunardian Wirodono

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk adaptif. Setidaknya, itulah yang membuatnya masih ada hingga kini, dalam perjalanan waktu yang mungkin sudah mencapai 5 – 8 ribu tahun.

Dalam bacaan mengenai sejarah peradaban planet bumi, kita mengenali beberapa jenis makhluk hidup lain, yang kini sudah tak ada. Mungkin dalam dugaan kita karena ketakmampuannya beradaptasi. Misal, kenapa dinosaurus lenyap, atau juga berbagai jenis binatang yang kini langka. Jika kita ingat cerita orangtua atau kakek-nenek kita mengenai jaman Jepang (awal decade 1940-an), kita kini mungkin tak lagi melihat binatang yang disebut kepinding (bangsat, atau dalam istilah Jawa disebut ‘tinggi’). Demikian halnya juga mungkin berbagai jenis tanaman atau tumbuhan, yang tak lagi bisa kita temu.
 

Bakal Terbit: Novel Politik Terbaru, April 2020
.
Daya adaptasi manusia menunjukan ‘kelebihan’ makhluk ini dibanding lainnya. Yakni survivalitas yang karena kemampuannya menggunakan akal-pikiran. Itulah yang menyebabkan manusia memiliki catatan perubahan, disebut proses peradaban. Dari entah yang disebut jaman batu, hingga jaman yang diramalkan Einstein mungkin akan sampai dengan perang batu dan kayu, setelah perang nuklir dan penggunaan senjata kimia.

Kedigdayaan Musuh Terbaru. Di luar yang meyakini adanya teori konspirasi, munculnya pandemi Covid-19, membuktikan peperangan terbaru manusia, menghadapi situasi krisis lingkungannya. Apapun sejarahnya, Covid-19 telah mengharu-biru manusia. Sampai pada titik paling krusial, yakni kematian manusia dalam waktu relative cepat. Bahkan menantang pada titik kulminasinya, yakni menyerang manusia-manusia yang justeru kita sebut sebagai para ahli kesehatan.

Hal tersebut benar-benar menunjukkan kedigdayaan musuh terbaru manusia ini. Dan kita lihat, ketidaksiapan kita semua menghadapi hal itu. Secara sosial, ekonomi, budaya, dan bahkan politik, di mana pada unsur terakhir telah bercampur dengan karakter dari manusia itu sendiri, yakni homo homini lupus.

Di manakah letak manusia Indonesia dalam situasi itu? Justeru ketika manusia Indonesia kini juga sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Dengan progres kebudayaan sejak 1908, 1928, 1945, justeru mulai 1966 bangsa Indonesia berada dalam situasi stagnan. Setidaknya pada periode yang secara politik disebut Orde Baru, atau new-orde, kekuasaan politik justeru membuat kurva peradaban manusia menurun.

Soeharto dengan otoritariannya, dengan pragmatisme politik dan system formalisme dalam nilai kebudayaan (pendidikan dan agama), menjadikan kita mandeg. Dan kita merasakan akibat lanjutannya, dalam kualitas demokrasi, kualitas dan daya saing sdm, serta munculnya formalisme yang menjadi bagian dari pelambatan perubahan itu sendiri. Kita bisa memahami nubuat Sukarno, “Perjuanganku takkan lebih berat darimu, yang mesti menghadapi bangsamu sendiri!” 

Agama Kehilangan Legitimasi. Pemerintah tidak lagi memiliki otoritas mutlak. Para ahli di berbagai bidang, juga sama sekali tak punya otoritas keahliannya. Matinya kepakaran, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Juga keterbelahan kelompok kelas masyarakat ini, menjadi pemicu akibat dari terjadinya polarisasi atas nama kepentingan-kepentingan.

Dalam hal ini, menghadapi pandemic Covid-19, kelompok agama juga kehilangan legitimasi dan bahkan legalitasnya. Bukan hanya karena mereka tak mengerti cara mengatasi situasi, melainkan keyakinan keberagamaannya, juga menjadi kontra-produktif. Sebagaimana kritik Einstein, agama mesti berjalan seiring dengan ilmu dan pengetahuan, agar tidak lumpuh. Dalam praktiknya, sebagai contoh kasus, penyebabran virus corona secara massif dan serentak, justeru berkait aktivitas agama, seperti di Korea, Malaysia, juga di beberapa kota Indonesia yang dipakai untuk pertemuan berjamaah atau pun ibadah bersama di masa himbauan physical distancing.

Apa yang terjadi di gereja dan masjid Indonesia, tak bisa tidak dikaitkan dengan bagaimana agama menjadi persoalan, dan paling tak mudah berdamai dengan situasi. Mereka yang tetap heroik melakukan peribadatan massal, biasanya meyakini bahwa mati dan hidup adalah otoritas Tuhan, jadi kenapa mesti lebih takut pada aturan manusia daripada ketentuan Tuhan? Jika pun sekiranya kejadian, mereka bisa dengan enteng mengatakan demikianlah takdirnya.

Kualitas SDM negara Indonesia, dalam catatan perangkingan literasi dunia, beberapa tahun lampau, berada di posisi ke-2 dari bawah. Hanya satu tingkat lebih unggul dari sebuah negara kecil di Afrika.

Formalisme Berfikir dan Berkeagamaan. Sementara itu, formalisme berfikir dan berkeagamaan, menjadi faktor lain dari persoalan-persoalan kita menghadapi situasi sekarang ini. Kita tahu banyak cerita mengenai itu. Tentang pendeta yang ngeyel, juga beberapa habib dan ustadz yang muncul di medsos, dalam video-video pendek, menghujat pemerintah dan negara sebagai laknatullah karena dituding dzalim, dan lain sejenisnya.

Bahkan situasi sekarang ini, bisa jauh lebih buruk karena hal-hal tersebut muncul dalam berbagai pertemuan irisan kepentingan. Perubahan situasi politik, orientasi pemerintahan yang berjalan, memungkinkan tabrakan-tabrakan pihak-pihak yang dirugikan secara politik dan ekonomi. Konflik atau perang yang muncul, berbentuk a-simetris, dan karenanya menjadi tidak gampang.

Ketika pandemic Covid-19 ditetapkan sebagai bencana nasional pun, tak bisa mempersatukan. Tak sebagaimana Sukarno dulu memakai slogan-slogan provokatif seperti ganyang Malaysia, Inggris kita linggis dan Amerika kita sterika. Demikian pula jaman Soeharto, diciptakan common enemy bernama PKI, menjadi alat strategis untuk membuat satu barisan yang mendukungnya. Padal di sisi lainnya, hal itu abai dengan kepentingan negara secara substansi dalam membangun persatuan dan kesaktuan. Kekuatan itu malahan dikamuflase bagi kepentingan politik kekuasaan Soeharto. Polarisasi itu bukan meredup, meski Soeharto telah 18 tahun longsor. Bahkan polarisasi itu kembali sengaja dibangun, baik oleh pengikutnya, hingga oposan bagi pemerintahan kini.

Bagaimana kita membayangkan new normal, atau kenormalan baru, yang istilah itu kini disebut-sebut, dalam keputusasaan menghadapi pandemic? Bagaimana dengan sesanti Sukarno, bahwa ‘rakyat kuat negara kuat’. Berazas gotong royong yang menjadi soko-guru Indonesia?

Tidak Semudah Kritik. Sesuatu yang tak mudah, Tidak semudah kritik-kritik yang dilontarkan entah itu dari yang disebut SJW, aktivis politik, kaum oposan. Di mana terlihat perspektifnya lebih berangkat dari kepentingan masing-masing. Apalagi jika dilakukan dengan cara pandang mikroskopik. Sesuatu yang kecil terlihat membesar. Padal, demikianlah kerja mikroskop, karena focus penglihatan, tetapi mengabaikan peripheral atau lingkungannya.

Sementara siapapun, yang berada dalam posisi Presiden (eksekutif), sekarang tak bisa tidak harus melihat dari berbagai aspek. Tidaklah mudah menjadi penyeimbang dari berbagai obyek dan subjek yang saling berkelindan. Apa yang dilakukan seorang Presiden, berimplikasi langsung bukan hanya pada rakyat, tetapi juga pada dirinya. Dalam kungkungan legislative dan judikatif, plus rakyat dan media di jaman medsos kiwari yang tak terkendali lagi. Ditambah pula kualitas demokrasi yang belum membahagiakan.

Siapapun presidennya, tak bisa tidak harus memperhatikan berbagai aspek itu. Sehingga apapun keputusannya, bisa terlihat kontroversial. Atau tak mudah diterima. Apalagi jika yang masing-masing konstituen kukuh ingin mendapat 100%, bahkan lebih dari semua keinginannya. Kita cenderung tak mau kepentingannya dibagi, atau terbagi, apalagi berbagi untuk kepentingan lain. Jika perlu, bagaimana bisa kita dominasi kepentingan itu dengan mengabaikan kepentingan liyan.

Apakah tak ada jalan keluar? Kembali ke daya adaptif manusia. Sekali pun dalam situasi sekarang, kehadiran Presiden yang baik saja menjadi tak cukup. Catatan bagi Jokowi, ialah bagaimana mampu keluar dari zona merah itu. Lebih berani memutuskan dengan radikal. Situasi kenormalan baru akan lebih mendapat jalan dari sini.

Apalagi ketika kita tidak mendapatkan pencerahan terbarukan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan (baca; dunia kesenian) kita. Bahkan, sekali lagi, apalagi dari agama. Kelemahan yang paling mendasar dari bangsa ini, rendahnya disiplin dan tingginya konformisme, kadang mendapatkan dan mencari legitimasi dari agama. Demokrasi hanya dilihat dari aspek hak (azasi manusia) dan kebebasan berpikir serta berpendapat. Sama sekali tak melihat bahwa semua itu dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Kualitas Demokrasi dan Rendahnya Literasi. Meski pun tentu kita juga mengetahui, Negara Indonesia baru berada dalam situasi transisi, Dari situasi-situasi kritis peninggalan 32 tahun, dari rezim otoriter ke era yang didorong untuk lebih demokratis. Di situ pada akhirnya daripada ngomongin new normal, akibat pandemi corona, terasa lebih penting ke pokok dasarnya. Yakni sikap mental dan perilaku bangsa ini menghadapi perubahan (apapun). Pandemi corona, mungkin justeru bisa diletakkan sebagai pemicu. Sebagaimana beberapa kasus kematian yang terjadi secara massal, di antaranya adalah tidak selalu oleh corona virus. Melainkan karena penyakit-penyakit bawaan atau yang sudah diidap sebelumnya.

Penyakit bangsa ini, soal kualitas demokrasi dan rendahnya daya literasi. Dangkalnya daya penalaran, yang menjadi kontraprodukif, justeru karena lebih bersandar pada klaim-klaim nilai yang dianggap substansial, padal pada sisi lain, tidak relevan. Misal, munculnya puritanisme (di luar radikalisme), yang mengagungkan agama sebagai satu-satunya nilai, dengan menisbikan nilai-nilai lainnya. Padal agama-agama itu sendiri tak sedikit membawa pesan; agar manusia berpikir, menggunakan akal, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Jangankan hal itu, ajaran welas asih dan kesalehan sosial, bisa diabaikan.

 Sebagai penutup tulisan ini, apa yang terjadi pada orang yang disebut habib di Bangil (Jawa Timur), ketika berurusan dengan Kepolisian. Bagaimana kemudian kasus itu diselesaikan. Kedua belah pihak, sama-sama tak proporsional dilihat dari status atau posisinya secara sosial. Hal itu nyata, serta dalam beberapa hal, umum terjadi. Bagaimana seorang ahli agama memalsukan BPKB kendaraannya? Bagaimana petugas negara yang menjalankan aturan pemerintah justeru meminta maaf pada pelanggarnya? Itu sungguh sesuatu banget, dan nyata banget. | @sunardianwirodono

Yogyakarta, Malam Lebaran, 24 Mei 2020

Selasa, Mei 12, 2020

Didi Kempot, dalam Persimpangan Budaya Ambyar

 
 
Oleh : Sunardian Wirodono
 
Didi Kempot adalah persimpangan budaya, dalam dunia industri musik pop Indonesia.
Ketika teman-teman XMal Sindikasi memproduksi acara musik di televisi, dengan bintang utama Didi Kempot (Es Campur Es, TV7, 2002 – 2005), kala itu sebenarnya popularitas DK sudah empot-empotan. Masa booming DK sudah lewat? Entah. Sebenarnya, boleh dikata selalu ada hit-nya tiap tahun. Tapi pasar anyep saja. Mulai dari Plong (2000), Ketaman Asmara (2001), Pokoke Melu, Cucakrawa (2003), tak sanggup ngadepin ndangdhut koplo.
Di panggung musik khalayak (dalam pengertian kultur pop), setelah mencoba berkiat dengan congdhut (keroncong ndangdhut) sebagai differensiasi, mungkin DK sudah putus asa. Atau mungkin karena karakternya, menerima segala tiba sekira masanya sudah lewat. Tak ngotot. Toh ia ‘Superstar Jawa’ yang tak terkalahkan di Suriname, selama 20 tahun terus-menerus. Presiden Suriname pun pandhemen DK.
Lagu ‘Kalung Emas’ yang nge-hit 2013, atau ‘Suket Teki’ di 2016, belum juga bisa mengentaskan dari tidur panjang. Hampir 20 tahun, nyaris persis sama panjang dengan masa kejayaannya di Suriname. Baru kemudian 2019; Didi Kempot Reborn!  Saya tidak tahu persis, siapa yang berperan, Jarkiyo, Agus Magelangan, Gofar Hilman, atau Gus Miftah yang konon dikeluhi DK ‘gimana cara agar viral!
Tapi mungkin juga tak terpikirkan siapapun, juga oleh beberapa nama yang disebut tadi. Kecuali post-factum, sila bikin sejarah. Bahkan pun warga milenial (warga-net sih sebenarnya), sebagai pengusung, tak bisa merumuskannya. Ini sejarah yang berbeda dengan kegelisahan DK waktu itu. Ini fenomena munculnya perang simbolik yang juga masuk ke pola perang asimetris. Apalagi di era teknologi komunikasi dan informasi yang mengubah segala. Termasuk konon matinya kepakaran.
DK menjadi ikon generasi muda, meski dalam perjumpaan yang ‘too late’. Ketika generasi baru Indonesia, dari industri musik pop (sebagai bagian dari kebudayaan pop, dan anak kandung kapitalisme), tidak menemukan pahlawannya. Apalagi ketika menghadapi K-Pop, serta produk ikutannya, dalam komodifikasi jaman kiwari.
Kenapa bukan Iwan Fals, atau Slank? Tentu masing-masing memiliki pemujanya. Meski mengikuti beberapa pertunjukan Iwan Fals, Slank, dan Didi Kempot, di berbagai tempat, mereka memiliki irisan sama. Generasi yang gundah, dengan keambyaran yang sama.
Tapi DK punya nilai simbolik berlebih, karena (bisa jadi) dianggap lebih otentik, untuk berhadapan, aple to aple, sebagai counter-culture. Perjalanan musik DK lebih bisa diterima. Bahkan dibandingkan terobosan Koes Plus, juga A. Riyanto dengan Favourite’s Group, serta Manthous yang telah mewarnai jagat industri musik pop kita dengan ‘Pop Jawa’, dan yang kemudian dikembangkan Manthous dengan istilah campursari (1993).
Koes Plus dan Favourites Group, mungkin berada dalam kutukan industri pop. Disitu saya kira Manthous salah membaca pasar, jika kita ngomong strategi dalam komodifikasi. Ia menjadi eksklusive dengan kesadaran puitika Jawa yang adiluhung. Meski mengangkat nilai tradisi, Manthous dinilai kurang otentik, dan kurang nonjok.
Sebagai pengamen jalanan, DK mewakili sebuah kelas secara lebih pepal. Apalagi ia sendiri pernah jadi korban pertarungan komodifikasi budaya itu (hingga membuat dia nyungsep setelah puncak popularitasnya di awal dekade 2000). Periode campursari dan keroncong pop DK, sedikit mendapatkan jalan, ketika dimunculkan istilah congdhut. Namun, hampir persis dengan Gambang Kromong yang dipopulerkan Benyamins S, yang lebih nge-hit dibanding Pop Betawi-nya. Secara kuantitatif, dalam industri pop, gambang kromong tak masuk kriteria industri besar karena sempitnya pasar. Congdhut juga tak mendapatkan juru-bicara. Ia sendiri (congdhut itu), punya problem dengan komunitas buaya keroncong.
Generasi muda, untuk menyebut generasi baru, secara psikologis dan politis, akan cenderung anti-mainstream, out of the box, anti-kemapanan. Orang gelisah dan ambyar, akan lebih berempati pada kaum pinggiran, kaum underdog. Apalagi dalam dunia perlawanan simbolik (yang sebenarnya berangkat dari realitas kekalahannya, namun terus melawan, meski dengan simbol-simbol). DK memenuhi syarat sebagai bendera perlawanan simbolik bagi ‘sobat ambyar’ di segala lapis keambyaran. Coba sekiranya ia anak orang kaya, atau kaya banget, karena kerja-keras dan kerja-cerdasnya. Jangan baper jika saya sebut contoh Belva, apalagi menjadi stafsus presiden.
Dalam pada itu, DK Reborn saya kira karena kisah syahdu DK. Bagaimana pun didewasakan dari debu jalanan, menjadikan lebih diterima sebagai simbol keterasingan atau keterbelahan. Apalagi syair-syair DK dirasa lebih otentik, jujur, denotative. Bukan hanya bisa dimengerti, tetapi bisa diterima. Tak membutuhkan tafsir sangat canggih dan arkaik, karena idiom-idiomnya cablaka, berterus-terang, prasaja. Sebagaimana cara pandang DK dengan pahit-getir kehidupan. Di situ, kenapa Inul Daratista tidak sebagaimana DK? Inul selesai dipanggung, dengan vibrasi sesaat ketika kita menontonnya. Tidak terbawa dalam kegelisahan kita, karena mungkin juga kita membutuhkannya hanya ‘sesaat’, untuk membunuh kegelisahan belaka.
Dalam industri musik pop kita, yang nge-hit ialah yang berurusan dengan impersonalitas. Sesuatu yang empatik, terasakan, dan dekat karena ada reasoning yang dibangun. Hal ini juga saya kira berlaku untuk Chrisye, Slank, Iwan Fals. Lagu-lagu evergreen mereka, adalah yang berkait dengan pengalaman hidup yang empirik, otentik, sedikit reflektif, namun tidak menyimpulkan, apalagi menggurui. Daya resonansinya akan lebih pekat.
Penabalan Didi Kempot, sebagai The Godfather of Broken Heart, Lord Didi, Bapak Patah Hati Nasional, dan sebagainya, bisa jadi buah keisengan biasa. Atau luar biasa tapi tak mengerti bagaimana memformulasikannya. Hingga terlihat tidak sangat konseptual. Namun itu merupakan komplotan otentik. Dan DK perekat ajaibnya.
Terimakasih Didi Kempot, telah menyediakan ruang dan pilihan. Sebuah oase dalam keringnya simbol-simbol, yang sering dipaksakan untuk menjadi verbal. Termasuk soal sorga dan neraka. | @sunardianwirodono

Selasa, Mei 05, 2020

Dari Kasus Refly Harun: Antara Media Online & Media Sosial


Oleh : Sunardian Wirodono

Mari sedikit berbincang tentang media online dan media sosial. Ketika media mengutip omongan Refly Harun, bahwa aksi sosial Jokowi melakukan bagi sembako pada masyarakat, adalah ‘sebuah pencitraan yang salah’. Tidak significant, dalam konteks kekuasaan, menghadapi bencana nasional coronavirus dengan berbagai implikasinya; Apa sebenarnya yang kemudian terjadi?

Refly Harun, dalam kasus pemberitaan atau pengutipan pendapat itu, sesungguhnya berada dalam posisi dirugikan media pers itu sendiri. Kita masih ingat, bagaimana konon ahli hukum tata-negara ini mengatakan (usai pencopotan sebagai komisaris salah satu BUMN), bahwa ia akan mengawasi pemerintahan. Yang baik dia dukung, yang salah akan dia kritisi secara proporsional.

Pemberitaan mengenai pernyataan Refly soal aksi bagi sembako Jokowi, sama sekali tak significant untuk janji Refly, untuk tetap kritis dalam mengawasi kebijakan pemerintah. Karena yang dikritisinya bukan kebijakan pemerintah. Melainkan aksi individu Jokowi, yang kebetulan adalah Presiden. Lho, kok dikawal Paspampres segala? Karena Jokowi adalah melekat Presiden, sebagaimana resiko apapun perbuatan dia, bermatra banyak. Kalau dalam aksi pribadinya mengalami kecelakaan, apa yang terjadi? Itu yang diharap lawan politik. Apa implikasinya? Bedakan dengan tetangga saya, yang tukang tambal ban, ketika menjadi pelopor aksi sembako Tetap saja dianggap sudah kewajiban kita sebagai makhluk sosial, peduli sesama.  

Model pemberitaan media, jadi merugikan Refly karena ada split logika yang tak terwacanakan. Karena media hanya merekam, anti beropini. Tidak ada perspektif dan preferensi yang dibangun. Di situ bukan hanya Refly yang dirugikan, melainkan masyarakat secara umum. Kenapa?

Diskursus Mengenai Media yang Berubah. Karena diskursus yang dibangun media, jadi kontra-produktif. Padal, kemarin ketika teman-teman pejuang pers mengumandangkan Hari Kebebasan Pers se Dunia, spirit perjuangan apa yang hendak dikibarkan, atas nama ‘kebebasan pers itu? Waktu itu, saya kutipkan omongan Thomas Jefferson, “Pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial.”

Tapi, karena pers dalam konteks omongan Thomas Jefferson (yang hidup di 1743 – 1826) kala itu, dia tak tahu apa yang terjadi 200 tahun setelah kematiannya. Sekali pun tahun 2018 Najwa Shihab dalam buku ‘Mantra Layar Kaca’ menyebut; “Media selalu punya kesempatan emas, membangun keterlibatan sosial dan solidaritas.” Bagaimana kalau sebaliknya? Karena media yang dimaksud keduanya (Thomas Jefferson dan Najwa), adalah media konvensional, yang bukan lagi media mainstream. Di situ permasalahan muncul.

Tak bisa dipungkiri, arus utama media kita hari ini adalah medsos (atau sosmed, terserah). Salah satu indikasinya, pers sebagai media konvensional kini tidak tabu mengutip medsos, yang acap jadi pecatu pemberitaannya. Bahkan di tengah perjuangan untuk mempertahankan eksistensinya, pola penulisan pers pun meniru pola-pola media online. Hingga tak tabu yang dulunya disebut pers garda depan, memakai gaya click-bait agar tetap bisa mengumpulkan pembaca. Dengan cara itulah untuk berebut mendapatkan iklan.

Ketidakbebasan pers, masa kini, bukan lagi bernilai heroik, yang memperhadapkan pers dengan kekuasaan negara atau pemerintah. Melainkan lebih pada politik kekuasaan atas hukum pasar. Lebih berkaitan dengan eksistensi masing-masing, atau dengan kata yang lebih sublim: laba. Pertentangan yang lebih jamak, justeru adalah antara insan (untuk tidak menyebut buruh) pers dengan perusahaannya.  

Media cetak kita, entah itu koran, majalah, tabloid, di mana-mana jebol pertahanannya. Kompas, dalam dua tahun ini, anjlok 200 ribu tirasnya. Tempo, baik koran maupun majalah, senyatanya hanya berkisar di Jabodetabek. Ia masih eksis secara nasional karena narasi yang dibangun, dan berkat vibrasi perbincangan netizen. Koran-koran grup Jawa Pos, juga Tribune-News Kelompok Gramedia, media cetaknya hanyalah terusan dari model media online.

Dalam teknologi digital, proses transformasi dari media cetak ke media online, belum menemukan terobosan yang bisa menyelamatkan eksistensinya. Dalam media online, misal, para netizen bisa dengan mudah, dan seenaknya, copast atau screenshots dan kemudian share bebas-merdeka ke mana-mana, yang tentu itu merupakan kendala tersendiri untuk hajat hidup media, yang berharap dari iklan sebagai sumber satu-satunya pemasukan. Apa yang dialami media-media berlatar media konvensional itu, persis sebagaimana hancurnya Republik Cinta milik Ahmad Dhani. Ketika semua hasil produksi rekamannya ambyar di pasaran, meski lagunya bergema di mana-mana. Dan itu membuat Dhani frustrasi, hingga kemudian gundul dan seperti sekarang ini.  

Apakah demikian pula Refly Harun, di sisi lain? Entahlah. Kita bahas implikasi lain: Dengan kualitas literasi, serta kualitas berdemokrasi elementer, kita melihat kekacauan medsos. Separohnya gagal untuk mediasi sosial, karena separohnya diwarnai dengan berbagai cuitan berisi pertentangan pendapat, ujaran kebencian, dan hoax.

Media Online, Medsos, dan Kualitas Literasi Masyarakat. Kita tidak tahu bagaimana cara menghentikan itu semua. Padal, seperti ujar Taylor Swift, one of the most important things about social media is knowing when to put the phone down and experience your life. Penyanyi solo dan penulis lagu dengan 7 Grammy Awards yang fenomenal itu, mengatakan; hal penting mengenai sosial media adalah mengetahui kapan harus meletakan telepon dan mengalami pengalaman hidup (atau kenyataanmu). Meski pun sihir dunia maya, yang nyata itu, ialah kemelekatan yang dalam. Hingga dari menjelang tidur sampai terbangun pun, mata manusia seolah dilem oleh monitor gadget masing-masing.

Manusia sebagai makhluk sosial, berada dalam keramaian di kesendiriannya. Dan apa yang dipermasalahkan? Tiadanya renungan yang dalam, hingga slogan sharing lebih kuat daripada carying. Luncahan medsos, yang menjadi mainstream, adalah bahasa tak terperikan ketika dilakukan pembiaran. Pada kasus Refly sebagai contoh, media bukan jadi penerang atau penengah, tetapi hanya sekedar amplifikasi dari keriuhan masyarakatnya. Lantas di mana peran penerangnya seperti diomongkan Thomas Jefferson dan Najwa Shihab?

History will have to record that the greatest tragedy of this period of social transition was not the strident clamor of the bad people, but the appalling silence of the good people, khutbah Martin Luther King (1929 – 1968), pendeta dan aktivis HAM dari AS. Sejarah harus mencatat bahwa tragedi terbesar pada era transisi sosial seperti ini, bukanlah keributan yang dibuat oleh orang-orang jahat, tapi diamnya orang-orang baik.

Karena sebagaimana pepatah kuna; mulutmu harimaumu, jari tanganmu harimaumu. Medsos bisa membunuhmu jika kita hanya mengandalkan nafsu share tanpa care. Karena medsos sesungguhnya diproyeksikan untuk menjadikan relasi sosial lebih baik. Yang mestinya, ketika suatu ketika ada himbauan ‘social and physical distancing’, kita tidak semakin diasingkan dalam relasi sosial. Jika kamu ingin tumbuh, ujar Jack Ma, temukanlah kesempatan yang baik. Saat ini, jika kamu ingin menjadi perusahaan yang baik (termasuk membuat media online), pikirkanlah permasalahan sosial yang bisa kamu beri solusi, demikian pendirikan Alibaba itu.

Karena masa depan tak terhindarkan. Bahkan pun pada suatu ketika, jika parlemen, wakil rakyat, tidak kita perlukan lagi. Karena masing-masing, dengan gadget digenggaman tangan, bisa menyuarakan aspirasi langsung, tidak butuh wakil rakyat, yang sampai kini masih cenderung korup dan manipulative.

We all participate in weaving the social fabric, ujar Anne C. Weisberg. Kita semua berpartisipasi dalam menenun jalinan sosial. Karena itu, kita semua harus berpartisipasi dalam menambal kain ketika mengembangkan lubang ketidakcocokan antara harapan lama dan kenyataan saat ini. Pertanyaannya, di mana peran media sosial, atau media online, atau apapun yang mengatasnamankan media massa?

Saya ingin kutipkan Theodore Roosevelt (1858 – 1919), bukan karena sok-sokan, tapi karena omongannya memang terasa lebih bermutu, daripada banyaknya cuitan tak bermutu di masa kini, entah itu dari Fadli Zon, Said Didu, Refly Harun, Tengkuzul dan sebangsanya itu:  Saya tidak mengasihani siapa pun yang melakukan kerja keras yang memang layak untuk dilakukan. Saya mengaguminya. Saya kasihan pada makhluk yang tidak bekerja, di mana pun status sosialnya berada.

Jadi untuk media pers kita, selamat berjuang menemukan keberadaan dan masa depannya, dengan baik dan benar, tanpa harus merasa heroik, jika diperkeok perubahan jamannya. | @sunardianwirodono

Jumat, April 17, 2020

Madras Cafe dan Industri Film India

India adalah fenomena peradaban. Yang ajaib dari negeri ini, salah satunya adalah industri film. India, dengan Bollywood, satu-satunya negara yang bisa mengalahkan Hollywood dalam angka produksi. Dan yang menarik, film produksi luar, dari Amerika sekalipun, tak bisa nembus pasar umum India. Tentu saja, BM banyak. Namun negeri ini protektif dengan produk asing. Mungkin terinspirasi ajakan swadeshi Gandhi.

Produksi film India memang terbesar di dunia. Betapapun Anda mungkin akan ngetawain gaya-gaya filmnya. Penuh nyanyi dan tarian, kejar-kejaran di antara pepohonan dan tiang listrik. Tahun 70-80an, nonton film India identik dengan; ‘sudah murah, panjang, penuh nyanyi dan tari’. Juga pamer wudel.

Berpenduduk terbanyak kedua (setelah China), India adalah peradaban yang kokoh. Karya sastranya terbangun sejak lama. Bahkan menjadi referensi bangsa lain negara. Mengenai film, boleh dikata di semua kota kecamatan (distrik) India terdapat perusahaan film. Pada distrik yang miskin sekali pun. Tak hanya satu, bisa 5 s.d 10 perusahaan film. Film apa saja mereka produksi. Semua ada penontonnya, meski mungkin di bioskop kecil dan kumuh. Orang India, meski penarik becak (rickshaw) dan pengemis, mereka rela menabung untuk menonton film bioskop.

Menonton film, bagi masyarakat miskin India, memungkinkan bertemu pahlawannya. Dalam film India, tuan tanah dan polisi bisa dikalahkan orang miskin. Meski pun kalau mau melihat film-film realis India, agak susah menemu dari sutradara India aseli. Lihat saja misal film seperti City of Joy (Roland Joffe, 1992), A Passage to India (David Lean, 1984), bahkan Gandhi (Richard Attenborough, 1982). Disamping City of Joy, kalau mau melihat realitas sosial India, Slumdog Millionaire (Danny Boyle, 2009) menarik ditonton sebagai komedi pahit India.

Ada nama keren seperti Mira Nair, dengan film-filmnya seperti Monsoon Wedding (2001), Kama Sutra: A Tale of Love (1997), atau Salaam Bombay (1988, yang saya duga menjadi acuan penting film ‘Daun di Atas Bantal’ Garin Nugroho, yang diproduksi 10 tahun setelah film Nair itu). Tapi Nair perempuan India yang tinggal, sekolah dan berkarya di London, Inggris. Meski pun sekarang ada beberapa sutradara muda India, dengan genre model-model Nair, seperti Deepa Mehta yang bertema kontroversial ('Water' dan 'Fire').

Dari produktifnya perfilman India, dengan banyaknya film kelas sampah, pastilah muncul barang bagus di sana. Alah bisa karena biasa. Ada misal film PK (Rajkumar Hirani, 2014) yang menghebohkan. Atau My Name Is Khan (Karan Johar, 2010), disamping generasi baru macam Deepa Mehta, yang berani mengguncang-guncang tema sensitive, seperti agama dan gender.

Juga kalau kita lihat serbuan mereka, dengan membanjiri iklan-iklan platform medsos seperti Youtube dan Netflix. Idiom-idiom visualnya sangat keren dan menunjukkan kelas peralatan teknologinya. Apalagi India juga mampu mengembangkan Mumbai, sebagai pesaing Silicon Valey dalam pengembangan teknologi digital.

Dengan pengantar ini, saya sebetulnya cuma ingin bercerita tentang Madras Cafe. Sebuah film dengan genre berbeda dari India. Sebuah film bergenre action thriller, dengan tema spionase, tetapi setting kejadian nyata. Berlatar perang etnik di Sri Lanka, antara Sinhala dengan Tamil, yang berimbas ke India.

Secara visual, ini film cukup dahsyat. Mengingatkan pada film-film perang model Apocalypse Now (Francis Ford Coppola, 1979), Heaven and Earth (Oliver Stone, 1993), The Killing Fields (Roland Joffe, 1984), yang saya yakin menjadi referensi Madras Cafe (melihat kutipan dialog para birokrat India tentang Vietnam yang lain).

Meski posisi India (dalam soal perang etnis itu), sebenarnya nanggung juga. Bukan wilayahmya, dan “hanya” terimbas karena sebagian suku Tamil, mengungsi ke India. Rajiv Gandhi mencoba ikut campur, dengan menginisiasi pemilihan dewan propinsi. Celakanya, Perdana Menteri India ini menjadi korban pertikaian etnis itu. Belum jelas hingga kini, sebab kematiannya. Tapi banyak dugaan Rajiv tewas dibunuh milisi Tamil, persis meniru pembunuhan Mahatma Gandhi.

Sebagai film tontonan, yang memanjakan mata, film ini keren. Kolosal dan panoramic. Meski tentang perang dan getir, gambar-gambarnya “indah”. Walau pun Sircar mengaku terinspirasi film Munic (Spielberg, 2005), sayangnya tak meniru bagaimana riset untuk Munich jauh lebih detail, dan berani dalam pernyataan sikap. Pernyataan sikap, adalah hal penting untuk mengukur karya seorang seniman.

Namun meski gambar-gambarnya memukau (sandingkan dengan Apocalyse Now Coppola), film dengan durasi 2 jam 10 menit ini, hanya menarik di separoh bagian depan. Setelah terbongkarnya spionase Vikram Singh, apalagi setelah kematian Anna Bhaskaran, pemimpin LTF (bandingkan dengan komandan militer Macan Tamil; Velupillai Prabakharan dari The Liberation Tigers of Tamil Eelam, LTTE), ceritanya kedodoran. Kalau mau sebagai film tutorial cara kerja spionase, kok kayaknya enggak banget. Karena keinginan terlalu mau menjelaskan persoalan, tapi dengan akurasi data belepotan dan masih sumir, jadinya khas sutradara dan penulis skenario film Indonesia. Bertele-tele, dan suka menjelas-jelaskan secara tak jelas.

Memang cerita Madras Cafe adalah karangan, fiktif, meski berdasar kisah nyata. Tetapi ketika menyangkut dokumen sejarah yang masih gelap (atau kalau terang abu-abu), kayaknya para penulisnya lebih membelokkan ke cerita spionase yang (lagi-lagi menurut saya) terlalu menjelas-jelaskan tapi tak meyakinkan. Harus banyak membaca novel-novel Ian Fleming nih!

Tapi mungkin juga karena posisi dan sikap politik yang tidak jelas, persis posisi PM Rajiv Gandhi, yang justeru jadi korban. Film ini juga menjadi tidak meyakinkan siapa hero dan pecundangnya. Wajar jika menjadi kontroversi dan menimbulkan amarah etnis Tamil, yang dituding berada di belakang pembunuhan Rajiv Gandhi. Sementara persoalan suku Kinshala (Buddha) yang menjadi majoritas di Sri Lanka (75%), dengan etnis Tamil (dengan latar Hindu dan Islam, 25% penduduk Sri Lanka), sampai kini belum selesai. Apalagi kemudian konflik seperempat abad lebih itu berkembang menjadi konflik agama.

Namun di luar kesan (saya) di atas, film ini memberikan bukti India tak bisa dianggap remeh dalam industri film. Mereka memiliki sumberdaya luar biasa, di samping dukungan pemerintah yang memadai. Indonesia sebagai bangsa ‘terbanyak’ ke-4, mestinya bisa belajar dari hal ini.  | @sunardianwirodono

Rabu, April 01, 2020

Lockdown, Lock Don't, atau Lojon?

Melihat operasi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Pak Polisi rasanya makin ganas. Tak ada kompromi. Malam-malam sebuah café yang kedapatan dipakai kumpul-kumpul, bisa langsung diminta tutup. Yang berkumpul disuruh bubar. Jangan lupa bayar dulu.
Mengenai bagaimana melindungi rakyatnya, saya sih setuja-setuju saja, apa keputusan Presiden atau pemerintah. Protes atau tak setuju keputusan itu, karena tak ikut rapat, dan kemudian koar-koar di medsos, adalah kelucuan yang biadab.
Mereka memakai istilah lucu dan menggelikan pun, saya diam saja. Tak mau protes soal tata-bahasa dan ejaan. Bukan itu prioritasnya. Prioritasnya adalah: Wahai para ahli Bahasa bikinlah protokol logika berbahasa. Didiklah rakyat bawahanmu, yang menurutmu bahasa Indonesianya buruk. Tak peduli bahwa Bahasa Indonesia memang buruk.
Saya membayangkan mengenai keluarga kami sendiri. Anak saya perempuan, tiap hari harus kerja, sebagai penyiar radio. Dia bisa kerja pagi atau bahkan malam hingga dini hari. Kalau tidak berangkat kerja? Tentu hariannya dikurangi. Sedang suaminya, juga bekerja dengan jam bisa siang atau malam, sebagai pengantar barang antarkota antarpropinsi.
Tetiba, Achmad Yurianto bilang kerja di rumah, produktif di rumah, mohon maaf, pale lu peyang! Ini hanya sekedar menunjukkan, sudut pandang pemerintah atau pemimpin acap hanya dari satu sisi. Suruhan di rumah saja, menjadi persoalan bagi sebagian besar kelompok masyarakat. Bukan takut pada virus, namun dampak ekonomi yang mengenainya.
Di situ kompleksias persoalan sosialnya, bagaimana ketika sampai pemerintahan di bawah (gubernur, bupati, walikota, camat, lurah, kepala desa, kepala dusun, bahkan RW dan RT)? Di situ ada semacam missing-link. Menjadi bagian terpisah, seolah tak ada sangkut paut. Seperti Kabupaten Sleman memunculkan smart-market, melayani kebutuhan sayur online diantar sampai rumah. Bagaimana nasib para pejuang sayur kelilingan yang kini menganggur, karena lokdan-lokdon beberapa dusun dan kompleks perumahan? Siapa yang bertanggung jawab?
Ini sekedar informasi rahasia, jangan bilang-bilang. Di lingkungan saya yang jauh-jauh hari sudah pasang portal, membatasi wilayah, pun semalam ada yang meninggal positif terpapar Covid-19. Beberapa waktu sebelumnya, pihak rumah sakit mengatakan tetangga tersebut dalam status PDP, dan diminta isolasi diri. Karena RS penuh maka dilakukan isolasi mandiri. Ini keluarga yang tertutup, jauh sebelum ada perintah ‘di rumah saja’ memang selalu di rumah saja. Tetangga saya itu mungkin meninggal ke-4 di DIY dengan status positif Covid-19, dari data formal di Pemda DIY, karena update status setiap jam 16.00.
Belum sebulan, ia bisnis makanan online dan laris. Di sini Anda tahu, konteks portal, local lockdown dan produktif di rumah? Tanpa mengurangi otoritas tuhan, saya kira dia meninggal karena tubuhnya tak kuat menahan derasnya arus virus. Kenapa daya tahan tubuhnya lemah? Cem-macem sebabnya. Tanyakan dokter ahli yang menangani, Saya bukan ahlinya, dan tidak mau menambah isu.
Yang saya persoalkan lebih pada protokol solusi masalah, protokol jalan keluar, protokol antisipasi. Bukan hanya fokus mengantisipasi merebaknya virus, melainkan bagaimana meningkatkan daya tahan sosial masyarakat atas pandemi itu.
Persoalan dasar adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat warga, kesadaran civil society. Jika yang sakit ditangani ahlinya, maka yang belum sakit (jumlahnya jauh lebih besar dengan rasio perbandingan jumlah penduduk), bagaimana kalau malah makin lemah dengan di rumah saja?
Penguatan warga bukan hanya dengan mengisolasi diri di dalam rumah. Tetapi ngapain di dalam rumah itu? Kerja di dalam rumah, atau produktif di dalam rumah yang bagaimana? Tidak semua orang punya tabungan di dalam rumah, apalagi di dalam rekening bank. Bagaimana Pemerintah memfasilitasi kelompok marginal ini? Bagaimana system dan mekanismenya, pengawasannya? Bagaimana infrastruktur sosial kita? Di mana peran pemerintah dalam mengedukasi dan pemberdayaan masyarakat, selain menghimba-himbau?
Kalau saya sendiri, sebagai pengangguran, sudah terbiasa di rumah. Meski pun ketika ada anjuran ‘produktif di rumah’, saya tak tahu gimana cara produktif, karena di luar sana produktivitas juga turun? Ya, fesbukanlah. Mau menjual barang-barang pribadi, siapa mau membelinya sekarang ini? Atau Pak Bupati atau Pak Gubernur, mau beli? Gimana caranya ketemu mereka, nawarin barang bekas?
Apakah ini Apocalyso Now? Saya mendapat pertanyaan itu dari teman. Saya balik bertanya padanya, bagaimana kita memahami ‘pembunuhan’ Yesus’? Mengapa dalam Hindu ada Dewa Cyiwa yang perusak? Bagaimana kita meyakini hukum karma dalam Buddha? Bagaimana dengan teori the end of history, matinya kepakaran, pembusukan politik, the end of the world?
Sesungguhnya ini saat tepat, untuk me-reset tata sosial dan susila kita. Misal soal pengetahuan basis mengenai kesehatan tubuh, toleransi, saling menolong, peningkatan anti-body, pemanfaatan lahan kosong, manfaat tanaman sayuran, dan sebagainya? Agar yang sakit fokus ditangani ahlinya, dan yang sehat makin dikuatkan karena nalar dan kesadarannya. Jangan sampai maunya lockdown malah nulisnya lock don’t. Masih mending ding, bukan lojon! | @sunardianwirodono

Virus Tidak Takut Portal

Sampai kapan pandemi coronavirus ini? Jangan tanya saya. Ini bukan hanya masalah Indonesia. Melihat berbagai pemberitaan televisi dunia, yang terjadi di AS, Eropa, Jepang, dlsb, sama saja. Bedanya, di Indonesia ditambah dengan provokator dan SJW, yang suka lojan-lojon.
Tentu di beberapa negara luar Indonesia, tak ada yang benci Jokowi. Apa hubungannya? Banyak. AS mungkin juga tak begitu suka Jokowi. Apalagi dalam perebutan superioritas dengan China. Dalam Perang Dunia III ini, melampaui perang nuklir dan senjata kimia yang dikembangkan AS di Timteng, Chinalah yang memenangkan pertarungan. Jika ini lanjutan perang dagang AS-China, dua kali AS keok.
Dalam teori fisika, kalau semua turun, tak ada yang di bawah. Itu kata Mbah Einstein. Kalau semua naik, berarti tak ada yang di atas. Itu teori relativitas. Baru menjadi soal, jika ada yang naik ada yang turun. Ada yang jadi Presiden, ada yang terus cuma jadi provokator dan SJW. Karena menjadi provokator dan SJW ternyata ada yang meyakini sebagai jenjang. Jenjang kalau-kalau kekuasaan bisa direbut. Tanpa ikut Pemilu, cukup koar-koar di medsos. Mengurus negara kayak Indonesia, dikira kayak bikin film documenter atau iklan layanan funding.
Ada pula yang membuat teori kelas, teori konspirasi, teori bikin tahu bulat yang digoreng mendadak. Masing-masing orang ahli teori. Namun fakta tak terbantahkan, sistem sosial kita masih rentan. Kalau juga menghasilkan sosiolog dan SJW comberan, bisa dimaklumi. Apalagi sekedar main tebak-tebakan, bodoh baik, bodoh nggak ada abisnya, atau pinter kejam? Dalam frozen otak yang nggak adil, kesimpulannya bisa ditebak; Bodoh kejam. Frasa negative yang akan dipakai permanen.
Kemarin konon Presiden marah pada beberapa kepala daerah, yang bikin kebijakan lokal lockdown. Ayo marahlah, Pak Presiden. Saya dukung. Sekarang siapa yang mau marah pada pimpinan lingkungan masing-masing? Yang heroik nutup wilayahnya, tapi sama sekali tak bertanggungjawab memberi alternative, solusi, apalagi memfasilitasi.
Entah bagaimana kita jadi kehilangan nalar. Takut kesambet virus, takut mati . Padal mati jihad ‘kan dapet sorga? Saking takutnya, jadi paranoid. Seolah virus bisa main lompat seenak-enak jidatnya ke tubuh satu dan lain orang. Emangnya virus punya jidat?
Tidak meyakini bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sempurna, dibanding makhluk lainnya? Emang tubuh kita kayak rempeyek, yang bisa hancur-lebur dalam genggaman buto ijo? Silakan tanya dokter atau anak D3 Kesehatan, bagaimana istimewanya tubuh manusia sampai jeroannya. Kenapa itu tidak yang didengungkan? Malah ketakutan-ketakutan yang ditebarkan. Emangnya virus takut dengan portal, atau hansip brewokan yang tak tahu persoalan medis? Spanyol yang melakukan lockdown pun jebol.
Sementara bakul sayuran keliling nangis pilu di rumahnya, ada flyer bertebar di medsos: Sebuah smart-market siap melayani pembelian sayur online, diantar sampai rumahmu. Duh kejamnya kamu, wahai, sistem! | @sunardianwirodono

Drama-drama Protokol & Virus Anti Portal

Kemarin seorang teman dikeluhi ‘tukang go-food’, gegara pesen makanan; bahwa di pintu gerbang perumahan dia diinterograsi sampai satu jam. Si ‘tukang go-food’ tetap bersikeras mengantar ke tujuan, karena kalau pesanan itu cancel, dia nombok. Padal, dalam sehari baru dua kali dia dapat pesanan.
Cerita lain lagi, seorang bakul gethuk di daerah Kulon Progo, sampai sore dagangannya masih utuh. Gara-gara ia tak bisa lagi keluar masuk pemukiman, karena di beberapa tempar ia biasa berdagang tak boleh masuk. Dan yang melarang masuk tak membeli dagangannya. Cerita ini mirip di pemukiman saya, menimpa bakul sayuran keliling yang jauh sebelum Nadiem Makarim dan Ali Baba bisnis online, dia sudah bisnis jemput bola.
Drama-drama itu bisa sangat panjang. Lantas, apa kebijaksanaan Anda? Saya ingin melemparkan bahan diskusi remeh, dan sangat teknis. Tanpa harus ngomong politik atau teori konspirasi. Karena apapun, dampaknya sudah mewabah, berantai, dan nyata.
Jika daerah Anda melokalisasi (atau mengisolasi) dari lalu-lintas “orang asing” (orang dari luar wilayah Anda), sebaiknya buatlah SOP yang manusiawi. Menutup wilayah tak seharusnya menutup pula pintu hati, apalagi menutup nalar dan empati Anda.
Buatlah protokol yang kreatif, inovatif, inklusif, dengan beberapa pengembangan:
(1) Jika ada “orang asing” masuk daerah Anda, tanyakan identitas dan keperluannya. Dia bisa saja ojek online yang dipesan tetangga Anda, atau bakul sayur keliling yang menolong tetangga Anda tanpa perlu ke pasar. Jangan sampai kehati-hatian yang paranoid, justeru mencelakakan tetangga Anda sendiri, yang karena tak boleh keluyuran jadinya mati kelaparan disebabkan kebutuhannya Anda hambat.
(2) Setelah jelas persoalannya, periksa atau cek kesehatan “orang asing” tersebut. Artinya Anda mesti punya alat untuk memeriksa tubuh “orang asing” itu. Jika diketahui suhu badan “orang asing” itu di atas normal (lha, ini ngerti nggak ukuran-suhu manusia normal dan abnormal? Apa saja indikator orang terpapar virus Corona?), rujukkan ke tempat pemeriksaan kesehatan terdekat (dokter atau Puskesmas), untuk memastikan. Alangkah mulia, jika di pintu gerbang pemeriksaan dilengkapi tenaga ahli atau medis. Sehingga “orang asing” yang terperiksa bisa tertolong lebih dini. Kalau tak mau susah, “orang asing” itu tetap dilarang masuk, tapi sampeyan tolong mengantar barang pesanan tetangga Anda, atau jadi calo penjual sayuran keliling. Siapa tahu kebaikan Anda mendapatkan balasan setimpal. PS: Jangan lupa, nuntut Presiden Jokowi menyediakan APD. Kalau mau yang modis, minta ke Anie Avantie.
(3) Misal dari pemeriksaan si “orang asing” dinyatakan sehat, tak terpapar Corona, ijinkan masuk, dengan mekanisme standar; Suruh cuci tangan, jangan Anda doang yang suka cuci tangan. Sediakan hand sanitizer, atau pancuran air dengan sabun. Virus itu takut sabun. Makanya orang yang suka lojon, eh lockdown ding, katanya sehat karena suka ngabisin sabun.
(4) Setelah Anda memeriksa dengan canggih (seperti nomor 2), sudilah memberikan keterangan tertulis, mengenai data atau kondisi “orang asing terperiksa itu. Bahwa tanggal sekian, di sini, si anu yang terperiksa itu, kondisinya begini-begini-begini. Berikan surat keterangan itu padanya. Bubuhkan nama Anda sebagai abdi masyarakat yang baik dan mulia, sertakan nama lembaga kalau ada, otoritas pejabat setempat, sertakan stempel atau cap jempol. Agar sejarah punya bukti betapa bijaksananya Anda. Nggak usah sinis, jika dengan surat itu mungkin “orang asing” tadi karena luas teba-nya, bisa punya bertumpuk surat keterangan, seandainya semua wilayah punya SOP sama.
(5) Tapi juga nggak usah baper, kalau sampeyan yang penguasa daerah sampeyan, ketika mau berkunjung ke wilayah lain, entah ngunjungi orangtua atau mau nganter obat, atau apalagilah, juga akan diperlakukan sama sebagaimana Anda memperlakukan orang lain.
Hati-hati itu baik, tapi paranoid dan menutup wilayah, tak harus dengan menutup nurani, menutup nalar, menutup empati pada liyan. Kecuali pada dasarnya emang nggak punya nalar atau empati, apa yang mau ditutup?
Syukur bage, nggak perlu nutup wilayah. Buka wilayah Anda, dengan syarat dan ketentuan berlaku berkait pandemic Corona ini. Buka dapur umum, bagikan sembako atau makanan higienis untuk masyarakat terdampak karena semua orang disuruh di rumah saja. Para sahabat dan saudara kita yang mengais nafkah di jalanan atau ruang-ruang publik, mungkin pihak pertama yang stress, setelah Anda.
Nggak usah malu, di New York dan Washington DC pun, terjadi hal yang sama, juga ada dapur umum serta bagi-bagi makanan serta sembako. Sementara Anda tahu, di India yang baru seminggu lockdown, terjadi kekacauan massal.
Semoga Anda dan keluarga sehat sentausa. Jangan lupa bahagia dan bersyukur.

Pemimpin Cuci Tangan, Rakyat Kalap

Menghadapi Coronavirus (Covid-19), apa yang dianjurkan pemimpin di semua level? Dari Presiden hingga ketua RT? Ajakan cuci tangan mungkin yang paling kerap.
Di lingkungan saya, masyarakat panik. Bergerak sendiri-sendiri. Pemerintah Pusat mengatakan protokal-protokol, tapi sampai di manaitu protocol? Belum lama lalu, di lingkungan saya beredar berita 1 orang positif Corona. Info itu sudah menyebar sampai ke kota. Biasa, melalui berbagai WAG yang liar nembus ke mana-mana. Masyarakat kita amat ringan tangan mencet-mencet keypad ponsel mereka. ‘Saring sebelum share’ mungkin dimaknai share before sare, nyebar sakderenge bobo.
Untung ada teman dokter di Puskesmas Kecamatan, dan ketika dikonfirmasi orang yang diisukan terkena itu, sama sekali negative. Itu sekedar contoh, di antara rakyat sendiri, saling salang-tunjang, Baik karena ketidaktahuan atau sengaja memancing di air comberan. Di dunia digital ini ada anggota masyarakat yang juga anggota penjahat.
Beberapa wilayah melakukan “semacam” lockdown. Tapi tak ada SOP yang mereka pegang. System dan mekanisme atas inisiatif dan kreativitas masing-masing. Padal, dalam perkembangan, para ahli medis dunia semakin banyak yang mengakui lockdown sama sekali kagak ngaruh. Spanyol, negara yang melakukan lockdown, jebol juga. Prestasinya cukup nggegirisi, negara itu nomor dua terbanyak kena Corona setelah Italia. Jadi Mardani Ali Sera dan segerombolannya, yang suka teriak lokdan-lokdon, karena bukan ahlinya tak perlu didengarkan.
Ada beberapa wilayah yang bagus dalam antisipasi pandemi. Beberapa melakukan gerakan sosial, baik itu tingkat desa, dusun, kampung, pemukiman perumahan, dan sebagainya. Ada yang bertanggungjawab, bahkan sebuah dusun Jawa Tengah, memberi insentif Rp50ribu tiap hari per-KK. Ada yang melakukan mitigasi pandemi secara mandiri seperti salah satu desa di Bantul. Mengajak masyarakat berbudidaya toga (tanaman obat keluarga, seperti tanaman kelor) di salah satu desa Kawasan Pantura. Mereka menerapkan SOP untuk orang keluar masuk wilayahnya, meski dengan alat sederhana. Itu lebih beradab, dibanding menutup wilayah dari orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial, itu kata para sosiolog dan mungkin budayawan. Tapi ketika semua orang menghimbau ‘tinggal di rumah saja’, ‘keluar rumah jika ada keperluan saja’, lantas bagaimana manusia memenuhi hajat hidup atau keperluannya? Tak ada manusia hidup tanpa keperluan. Karena kalau nggak ada keperluannya, ngapain hidup? Apalagi kini masalah baru muncul, beberapa orang stress, karena ekonominya hancur. Dan itu memperlemah imunitasnya.
Kita punya modal dasar menghadapi semua itu. Ialah tubuh kita sendiri. Bagaimana agar tubuh punya daya imunitas tinggi, daya tahan banting. Melakukan gerakan antisipasi, agar tidak antisosial, untuk meningkatkan antibodi, dan antihoax. 

* 

Kita tinggal di negara tropis, meski sekarang musim penghujan. Kita terlatih hidup tidak higienis, jorok. Kita punya berbagai macam tanaman sayuran dan buah-buahan, yang menurut berbagai ahli ilmu gizi kuno dan modern, hingga saat ini, tetap relevan sebagai pemasok material tunggal produktivitas antibodi kita. Mudah dibudidayakan, juga murah.
Jika antibodi kita kuat, segala macam virus bisa dikalahkan oleh manusia. Hanya kebetulan, virus yang dinamai Covid-19 ini, belum terdeteksi dengan baik karakter dan polanya. Juga karena belum ditemukan vaksinnya. Masih terus dikembangkan para ahli di bidang itu.
Karenanya, para pemimpin jangan seperti Petruk jadi raja. Tudang-tuding, main perintah, tapi tidak memberi teladan. Karena sama-sama takut terimbas virus (bukan hanya karena antibodi buruk, tapi mungkin sikap-mentalnya). Semestinyalah, dari Presiden sampai ketua RT, lebih mengajak rakyat bergerak menguatkan antibodi masing-masing.
Caranya? Hampir semua orang sebenarnya tahu. Tinggal merumuskan alur logikanya, agar tumbuh kesadaran. Bahwa di dalam tubuh kita ada modal sangat besar. Yakni kemampuan otomatis sebagaimana sempurnanya tuhan menciptakan manusia.
Virus, bukan barang baru. Juga bakteri, jamur, dan sebagainya, yang bisa jadi musuh manusia. Ia ada di mana-mana. Bahkan di keyboard atau keypad, dalam genggaman tangan, bahkan dalam tubuh. Namun sebagaimana manusia ada yang baik dan ada penjahat, dari sana peradaban berkembang sebagai keniscayaan. Dalam tubuh kita juga sudah bersiaga berbagai kekuatan pelawannya. Tergantung bagaimana kita merawat dan memfasilitasi. Antara lain dengan pola hidup dan pola makan sehat.
Mengenai yang (maaf) sudah terpapar, positif terkena virus Corona, hanya para ahli medis dan pasienlah yang bisa menolong. Kita yang awam, termasuk pemerintah, hanya bisa memfasilitasi. Mungkin bukan me-lockdown wilayah. Namun tindakan mengisolasi atau mengkarantina yang terpapar, lebih terasa strategis. Sebagaimana dulu (Februari 2020 di Natuna), ketika Pemerintah Indonesia menangani seratusan orang yang terindikasi Corona dari China. Mungkin lho, saya bukan ahlinya. Para yang mulia stake-holderlah yang mesti memikirkan.
Tinggal bagaimana mitigasi pandeminya, untuk mengetahui seseorang terpapar dan tidak. Semoga IDI dan Puskesmas bisa bekerja sama. Jangan hanya ngancam mogok dengan alasan Pemerintah lamban mengadakan kelengkapan. Dengan segala hormat, saya mengutuk ancaman itu. Jika IDI mogok kerja, kalian masuk dalam daftar kelompok tak berguna, setelah partai politik dan agama sama-sama ambyar menghadapi pandemi ini. Alih-alih berguna, beberapa malah menggunakan agama untuk berhoax dan riya.
Ini saatnya pemimpin di semua level bergerak. Mengajak kita bersama untuk bahu-membahu, bergotong royong. Kalau pemimpin diam saja, karena juga takut terkena virus, buat apa jadi pemimpin? Apalagi cuma teriak-teriak cuca-cuci-cuca-cuci tangan mulu. Biasa cuci tangan sih! | @sunardianwirodono

Mengunci Hidup di Dalam Rumah

Bukan hanya kepala daerah yang memakai istilah varian dari lockdown (entah local-lockdown, pembatasan wilayah, isolasi, dan sebagainya). Tingkat desa pun, bahkan hingga RT, ada beberapa melakukan “semacam lockdown”. Misal, membatasi lalu-lintas keluar masuk wilayah. Beberapa pemukiman perumahan, melakukan isolasi menolak kedatangan orang luar.
Mulailah situasi chaos ini terasa secara akumulatif. Bangsa ini sejak Soeharto berkuasa, tidak dididik untuk melakukan gerakan sosial secara mandiri. Apa yang dilakukan, baik oleh pemimpin nasional maupun pemimpin lokal, lebih banyak himbauan mengantisipasi, atau tepatnya bereaksi terhadap kasus virus Corona (Covid-19). Himbauan lebih banyak ke mekanisme “penghindaran” daripada “penghadapan.” Jalan termudah sebagaimana himbauan WHO, adalah social distancing (organisasi kesehatan dunia itu kemudian mengubah menjadi physical distancing).
Istilah terakhir, physical distancing saya kira lebih tepat. Lebih teknis dan tidak multi-interpretable. Saya lebih mengartikan pada pen-jarak-an fisik, bukan pen-jarak-an sosial. Pen-jarak-an sosial, saya kira lebih mirip penjara-kan fisik (antara lain di rumah saja, jangan ke mana-mana).
Lho, katanya kita makhluk sosial, seperti kata para sosiolog dan budayawan? Lho, katanya kita harus menjaga silaturahmi, kata para kyai dan ustadz dan ustadzah? Meski pun ada yang nyolot, silaturahmi pada yang seiman saja. Celetukan semacam itu biasanya muncul dari penjahat agama. Agama apa saja, nggak usah baper.
Dari hal itu, yang acap banyak dilupakan, sebenarnya hampir semua ahli kesehatan dunia (setidaknya saya bacai dari medsos, media online kredibel, beberapa jurnal kesehatan, hingga buku manual Covid-19 dari Henan Provincial Center for Disease Prevention and Control --untuk ini terimakasih Heru Marwata atas informasinya), intinya bukan lockdown. Lebih tepatnya karantina, sebagaimana ketika Pemerintah Indonesia menangani korban Covid-19 pada awalnya. Yakni melakukannya isolasi atau karantina di wilayah Natuna. Masih ingat bukan Februari lalu, waktu terjadi penolakan masyarakat dan pemda setempat?
China sebelumnya juga melakukan, dengan cara mengunci (lockdown) Wuhan, untuk karantina khusus terwabah Corona. Indonesia, sebagai negara kepulauan, pasti akan kepingkel-pingkel, pusing delapan keliling, gimana cara lockdown? Tolong para penjahat agama dan penjahat politik, yang suka teriak-teriak lokdan-lokdon menjelaskan pemahaman dan konsep mereka. Kalau lojon, temen saya ngerti. Saya mah nggak ngerti, karena alim.
Beberapa negara yang melakukan lockdown, sama sekali tak bisa menahan laju virus Corona. Intinya, karena memang belum ketemu vaksinnya. Yang bisa menjawab hal itu, tentu dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita masih menunggu kerja keras mereka. Dunia politik, apalagi dunia agama, tak bisa berbuat apa-apa, selain menghimba-himbau. Himbauannya khas, menghindari bukannya menghadapi.
Padal negeri ini adaptif. Tidak hancur karena disrupsi teknologi digital. Walau pun adaptif yang tidak akseleratif, karena bukan bangsa produktif melainkan konsumtif. Dan tif-tif lainnya lagi, banyak. Tapi gara-gara virus Corona, Covid-19, hancur semua tatanan kehidupan kita. Bukan hanya mereka yang berbekal lembaga akademik, lembaga politik dan lembaga agama pun semuanya abyar. Mana yang bisa melawan kedigdayaan virus Corona? Italia, yang meniru strategi sepakbola mereka dulu, cattenacio, kebobolan juga dan membuat frustrasi sosial warganya.
Hidup kita di alam raya ini, dipenuhi berbagai virus yang tak kita ketahui. Hanya para ahli yang mengetahui. Virus Corona juga bukan barang baru. Hidup kita sendiri penuh virus. Bukan hanya disekitar kita, tapi bahkan dalam tubuh kita. Belum ada teori baru yang membantah, di dalam tubuh kita juga tersedia berbagai antibodi. Ada virus jahat ada virus budiman. Nyatanya, ada orang sehat ada orang sakit dalam situasi, waktu dan ruang yang sama. Kenapa? Karena antibodinya beda-beda. Imunitas individu ditentukan kondisi jiwa-raga masing-masing orang.
Bagi individu yang sudah terserang, atau terindikasi, itu bagian para ahli kesehatan. Masyarakat awam tak banyak bisa membantu, mestinya mempercayai otoritas mereka. Bagi yang tak percaya, sudah ada bukti. Mayat yang terkena Covid-19 dibongkar dan dimandikan sendiri oleh keluarganya yang awam. Hasilnya, mereka yang memandikan jenazah tertulari virus. Itu takdir? Tentu saja, karena takdir kesehatan dan kematian juga bisa dipercepat dengan kebodohan.
Persoalannya, terjadi penurunan kualitas anti-body manusia secara umum. Karena apa? Karena tumbuhnya gaya hidup dan berkembangnya pola konsumsi, yang mengakibatkan situasi makin tak sederhana. Banyak ditemu berbagai jenis penyakit baru, karena tumbuh varian baru dalam gejala ketubuhan manusia.
Orang miskin yang pola konsumsinya sederhana (sudah miskin, bodoh, tinggal di desa --untuk menyangatkan perbandingan), ternyata lebih kuat imunitasnya, daya tahan tubuhnya, antibodinya, dibanding orang kota yang berpendidikan, kaya, tetapi pola konsumsinya amburadul. Kalau mengenai orang gila, gelandangan gila terutama, kok sehat-sehat saja? Sok tahu. Jika ada dokter yang jadi relawan memeriksanya, bisa dipastikan lain lagi soalnya.
Dari berbagai himbauan pemerintah, juga para ahli medis, masyarakat perlu cara hidup sehat. Apa saja yang mesti dikonsumsi. Bagaimana gaya hidupnya. Namun mengapa soal penguatan kesadaran mengenai hal ini tak banyak disuarakan? Mengapa para pemimpin dan tokoh masyarakat seolah tak mau mengedukasi masyarakat, dalam melakukan perlawanan terhadap virus Corona dengan ajakan ola hidup dan makan sehat itu? Apakah nyuruh tinggal di rumah saja juga sehat? Gimana kalau makin stress?
Padal, jika yang dimunculkan penguatan daya tahan tubuh, imunitas, atau penguatan produksi anti-body di tubuh kita, hal ini lebih “mudah dilakukan”. Yang sudah terkena virus tentu hanya ahli yang bisa menangani. Jika tenaga mereka terbatas, karena masyarakat mengalami pandemi. Penderita muncul banyak dan serentak. Covid-19 hanya butuh berapa jam untuk menghentikan paru-paru manusia jika tanpa perlawanan.
Himbauan kegiatan di rumah saja, atau local lockdown, membatasi wilayah kemudian menjadi berlebihan. Sementara bagaimana antisipasi dari seruan yang “anti sosial” itu? Pemerintah bertanggungjawab? Sudah dihitung?
Jika gerakan melawan virus Corona juga mengedukasi masyarakat untuk peningkatan anti-body, masyarakat tidak perlu panik atau paranoid. Ketakutan berlebihan, juga bisa menimbulkan stress, dan itu artinya penurunan anti bodi yang makin menyukseskan virus Corona beraksi. Lagi pula, mengunci kehidupan sosial adalah juga pengkhianatan pada kemanusiaan kita. Achmad Yurianto sendiri, yang kayak malaikat Izrafil di TV itu, selalu ngomong mengkonsumsi buah dan sayuran adalah penangkal virus yang efektif, gitu kan?
Jangan sampai pemimpin hanya bisa ngajak gerakan cuci tangan mulu. Hanya karena mereka memang hobi cuci tangan, | @sunardianwirodono

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...