Senin, Agustus 08, 2016

Agama Anti Humor

Sepertinya, hidup begitu berat. Begitu besar bebannya. Karena itu, konon, agama diperlukan. Barangkali bisa meringankan. Tapi bagaimana kalau justeru menjadi unsur pemberat? Mungkin yang dimaksud adalah agama palsu. Atau, mungkin manusianya yang palsu. Wong sudah dikasih agama, kok tidak tercerahkan.

Agama-agama di dunia ini, yang jumlahnya ribuan, tampaknya terlampau berkonsentrasi pada hal-hal serius. Agama-agama disibukkan dengan pengaturan ibadat dan pengawasan atas perilaku moral manusia. Agama-agama juga terlampau serius, tak memberi ruang bagi hal-hal yang ringan dan lucu. Padahal, sejatinya humor itu penting, boleh disebut sebagai salah satu tanda orang-orang yang diselamatkan atau dicerahkan. Itu kata penganut humor tentu.

Tapi, ada to, agama yang melarang orang berhumor? Mengatur tak boleh tertawa terbahak-bahak, karena bukan hanya tak sopan tapi juga mengundang setan? Humor sesuatu yang haram hukumnya hadir dalam kehidupan ini. Kalau dalam postingan kita berhumor, itu ejek-ejekan antarteman. Tapi menulis humor dalam postingan kita, bisa dituduh kita bukan orang yang bener, tidak serius, dan nilainya rendah. Tidak intelektual. Nulis itu mbok ya yang serius, yang tegang, yang ngeden, yang bisa menggoblog-goblogkan orang lain.

Padahal, bukankah tertawa yang menjadi reaksi dari humor adalah ungkapan pelepasan, pembebasan, dan itu inti dari keimanan? Bukankah iman tidak dapat dipisahkan dari pembebasan, dan pembebasan tidak dapat dilepaskan dari kegembiraan? Bukankah orang yang yakin akan pembebasannya adalah orang yang bergembira, dan mewartakan kegembiraan?

Halah, uraiannya kok jadi serius. Tapi, agama kehilangan humor juga sesuatu yang tak kalah serius. Karena jika tuhan adalah mahasegala, bukankah tak pernah dikatakan mahasegala minus humor? Humor yang mengajak tertawa, tentu tidak buruk. Toh di baliknya, jika dikaji maknanya, bisa juga menguak sisi religiusitas kita, dasar dari keber-agama-an kita. Tentu saja, humor yang menghargai logika, bukan melecehkan.

Thomas Morus (1478-1535), politisi dan santo berkebangsaan Inggris, menuliskan doanya begini: “Tuhan, berikanlah aku pencernaan yang baik dan juga sesuatu untuk dicernakan. Anugerahkanlah aku kesehatan tubuh beserta kesadaran untuk memeliharanya. Tuhan, berikanlah aku jiwa yang tidak kenal kejenuhan, yang tidak tahu menggerutu, mengeluh, dan mendesah. Jangan biarkan aku terlalu banyak dibebani kecemasan akan egoku, yang selalu merasa kurang diperhatikan. Tuhan, berikanlah aku rasa humor. Anugerahkanlah aku rahmat untuk menikmati lelucon, sehingga aku dapat sedikit merasakan kebahagiaan di dalam hidup ini, dan dapat meneruskannya kepada orang lain!” 

Maka, tersenyumlah. Betapa pun, itu meringankan. Pernah menonton film Patch Adams? Di sana kita diyakinkan, senyum dan tawa menjadi konsep dasar penyembuhan. Seperti terlihat dalam film, melalui senyum dan tawa, banyak pasien tua bangka dan kanak-kanak berhasil disembuhkan, atau sembuh dengan sendirinya. 

Para ahli kesehatan, seperti dikutip majalah Psychology Today, mengatakan: "Kalau melihat seseorang tanpa senyum, berikan kepada mereka sedikit senyum yang Anda miliki." Jangan karena hatimu terbakar, terus kau bakar rumah orang. Itu menunjukkan hatimu kering. Basuhlah dengan humor, jangan dengan air, nanti bisa paru-paru basah. 

“Kanak-kanak rata-rata tertawa 400 kali dalam sehari. Sedang orang dewasa rata-rata hanya tertawa 15 kali saja sehari. Itu berarti manusia dewasa kehilangan 385 tawa seiring dengan bertambahnya umur. Padahal terbukti, tertawa bermanfaat bagi kesehatan," kata Joan Coggin, M.D., seorang kardiolog di University School of Medicine, Loma Linda, Amerika Serikat.

Kenapa makin tambah umur makin berkurang tawa? Karena jaim mungkin. Soalnya kalau terlalu banyak tertawa, kok kesannya kayak orang bego. Tidak berwibawa, tidak anggun. Bukankah anggun kini sudah tinggal di Paris, dan berkewarganegaraan Perancis?

Tertawa memberikan relaksasi dan mengurangi stres, kata Cogin. Dalam banyak penelitian ilmiah, mereka yang menikmati humor, mampu secara lebih baik menemukan solusi kreatif, dalam memecahkan soal-soal puzzle. Tertawa meningkatkan detak jantung, memperbaiki sirkulasi di jaringan otot yang membantu perjalanan nutrisi-nutrisi dan oksigen ke dalam jaringan tubuh. 

Jika membaca atau mendengar sebuah lelucon, apa reaksi spontan Anda? Tersenyum, tertawa, atau mencoba mengkritisinya, dan mementahkannya? Jawaban Anda menentukan karakter Anda. Untuk melepas tawa saja, Anda hitung-hitungan. Gengsi, ya? 

Semoga ada agama yang tidak anti humor. Cobalah dengar, doa paling mengharukan abad ini. Suatu kali, seorang anak merasa khawatir tentang sesuatu. Maka ia pergi ke kesunyian hari, dan berdoa, "Tuhan, saya harap Kamu dapat menjaga diri dengan baik. Karena jika sesuatu terjadi pada-Mu, kami semua pasti akan celaka. Amin.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar