Minggu, April 27, 2014

Pelecehan Seksual dan Pelecehan Sosial



My father used to play with my brother and me in the yard. Mother would come out and say, ‘You’re tearing up the grass’; ‘We’re not raising grass,’ Dad would reply. ‘We’re raising boys.’ 

Demikian dituliskan oleh seorang anak bernama Harmon Killebrew, yang kemudian menjadi penulis dan menuturkan pengalaman masa kanaknya itu. Kita sering melarang anak-anak bermain, karena merasa sayang tempat bermain-mainnya akan rusak. Padahal, kita tak hendak menumbuhkan tempat itu, karena orangtua yang baik adalah menumbuhkan anak-anak. 
Sering karena rasa sayang pada hal-hal kenampakan, duniawiyah, materialism, kita mengabaikan dunia ajaib yang bernama ‘jiwa’, ‘karakter’, sesuatu yang oleh Kartini dianggap dasar dari pertumbuhan manusia.
Ijinkan saya (dengan terpaksa) menulis tentang JIS, Jakarta International School, yang menghebohkan itu. Sebetulnya, malas dan enggan, apalagi jika menyangkut hal-hal yang bersifat kasus pelecehan dan kejahatan seksual serta yang sejenisnya. Apalagi jika kemudian ternyata kita hanya mengutuk-kutuk, menyalahkan ini-itu, menuntut ini-itu, bubarkan, hancurkan, bakar,…
Jika media-media personal seperti fesbuk dan twitter hanya memantulkan peristiwa-peristiwa semacam itu, maka atmosfir yang terbangun justeru berupa pengembang-biakan. Membesarkan isyu itu semata, akan melupakan kita pada substansinya. Dan kita akan terus-menerus capek menjadi pemadam kebakaran (dan akhirnya, memang, hanya tinggal onggokan debu belaka). Nanti ada kebakaran lagi, ribut lagi. Dan seterusnya.
Apa yang terjadi pada JIS, adalah cerminan apa yang dikatakan oleh Harmon Killebrew sebagai pembuka tulisan ini. Pandangan materialism yang diam-diam tumbuh dalam system social yang dibangun oleh Orde Baru, yang lebih menekankan pertumbuhan fisik, akibat dari system ekonomi yang kapitalistik. Lho Orde Baru ‘kan sudah mati? Sebuah system social yang dibangun massif, dan berlangsung lama (selama lebih dari 30 tahun), akan mengkerak setidaknya dalam otak dua generasi, karena generasi berikutnya akan dan masih bertarung dengan limbah sebelumnya.
Kapitalisme Orde Baru mengembangbiakkan suatu system dan pranata social yang pada akhirnya berakar pada filsafat pragmatism, segala sesuatu dipandang dari sudut kemanfaatan, kepentingan. Maka dalil yang dikembangkan, ekonomi yes politik no. Dan itu merambah ke segala sendi kehidupan ketika kita lebih mementingkan formalism. Berfikir formal menjadi modus. Yang penting sekolah, tapi bagaimana bersekolah itu? Yang penting lulus, tapi bagaimana kualitas kelulusan? Sampai akhirnya, yang penting punya agama, tapi bagaimana keber-agama-annya? Yang penting naik haji, tapi bagaimana kualitas ukhuwahnya? Yang penting jadi presiden, tetapi bagaimana caranya? Akhirnya, tanpa pendidikan proses, tujuan menghalalkan cara.
Kenapa di Indonesia, Jakarta, bisa muncul JIS dengan segala keistimewaannya? Karena system pendidikan negeri ini membuat kita menjadi bangsa minder. Jika JIS hanya untuk expatriaat, masih bisa dimaklumi. Namun ketika ada banyak anak dari keluarga Indonesia, yang mau membiayai exlusivisme JIS, pastilah bukan tanpa sebab.
Misal, karena menganggap kualitas pendidikan “kita sendiri” mutunya rendah. Atau, bisa jadi juga karena kebodohan dalam bersikap, yakni sikap rendah-diri yang outputnya adalah menganggap semua yang bau luar negeri itu ruar-biasa bermutu. Lihat, gedungnya bermutu, steril, wangi, kayak di film-film luar negeri (nggak salah lihat Lu?).
Padahal, apa yang standar di Indonesia ini? Tak ada sesuatu ukuran yang pasti. Tak ada jaminan yang kukuh. Buktinya? Belum lama lalu, beberapa polisi aktif tertangkap sebagai komplotan perampok. Seorang anggota dewan dengan gelar doktor dan haji divonis karena korupsi. Seorang ketua majelis ulama, membuat video bokep 3some dengan bukan muhrimnya. Seorang guru begini dan begitu.
Kenapa terjadi social-dissorder ini? Karena memang tak  ada orde dan order yang jelas. Salah satu point kenapa Malaysia cepat melampaui Indonesia, adalah karena hukum ditegakkan (meski orang Indonesia akan bilang, di sana kaku, nggak asyik). Di kota kecil Leiden yang sunyi, ketika jalanan sepi pun tak ada pelanggaran lalu-lintas. Merah berhenti, meski lain arah kosong tak ada kendaraan. Tak ada penyerobotan, walau tak ada polisi. Kita mungkin saja tak sabar, menerobos apalagi tak ada polisi. Tak nyadar, ada CCTV yang merekamnya. Tapi jangan persoalkan CCTV, melainkan bagaimana aturan ditegakkan tanpa kompromi. Tak ada perdamaian di situ.
Memang hanya di Indonesia ini hidup terasa asyik, damai, boleh seenaknya. Bahkan menjadi disiplin saja malu ditertawakan. Menjadi orang jujur takut diasingkan. Ngomong baik-baik dan benar-benar, jadi ledekan sok alim dan sok pintar. Dalam masyarakat kita sendiri, nilai-nilai kemuliaan digerus oleh pelecehan-pelecehan nilai. Bikin status yang serius dan religious, bisa diledek-ledek; Cieee, cieee,...
Menjadi negative, melanggar aturan, menjadi penjahat sosial, bangga banget. Menjadi caleg yang bisa bagi-bagi duit, seolah sudah menjadi jagoan.
Dan tiba-tiba, kita ngamuk dengan pelecehan seks yang terjadi di JIS, atau di mana saja. Tetapi kita memproduksi terus-menerus pelecehan pada banyak hal, dan kita pura-pura tidak tahu, atau memang bego.
Kita terjebak pada cara-cara berfikir materialism. Seolah kalau gedungnya bagus, dari luar negeri, kita akan aman. Kalau bayarannya mahal, pastilah kualitasnya bagus. Itu ciri khas bangsa kacung yang membeli kemewahan dan kemegahan dengan jiwa rombengan. Dan baru menuntut-nuntut ketika dirugikan. Kita lebih melihat siapa daripada apa. Siapa yang ngomong, seolah menjadi jauh lebih penting daripada apa yang diomongkannya. Feodalisme itu bukan sikap khusus orang kraton (yang sering kita ejek sebagai fosil), tetapi sikap manusia yang tidak punya tanah berpijak namun seolah kakinya kokoh menantang langit. Tanpa sadar kita sendiri amat suka melecehkan diri-sendiri
Kurang apa Indonesia sesungguhnya? Kita dikaruniai kekayaan alam luar biasa. Kebudayaan yang sangat heterogen. Bahkan, ini negeri di mana orang Islamnya jauh lebih banyak dibanding kumpulan Negara-negara Timur Tengah sekali pun. Tapi, kenapa agama pun juga tidak operated? Ya, karena formalism tadi. Atau dalam istilah Rumi; Kita menggotong tangga itu ke mana-mana, tetapi tidak terbang bersamanya (nya dari nilai-nilai yang dikandung dalam ajaran itu).
Makanya sekali pun disumpah dengan 7 eksemplar kitab suci di atas kepala, kagak ada ngaruhnya, kecuali terlihat sebagai tontonan komedi yang menggelikan. Padahal menyedihkan.
Dan kita akan terus-terusan jasjisjus, casciscus.

1 komentar: