Sabtu, Maret 23, 2013

Senirupa Kita dan Hanya Urusan Mereka Saja

Judul tulisan ini, oleh para seniman perupa, biasanya langsung disambar dengan jawaban macam-macam. Biasanya jawaban penuh plesetan dan lucu-lucu. Dunia senirupa kita memang dunia yang riang gembira, sebagaimana akun fesbuk dan twitter para perupa kita yang 'sela' dan 'lunyu'.
Tapi, ini tulisan bukan untuk para perupa, melainkan untuk rakyat jelata semata, yang sudah lebih dari satu dekade ini seolah tak pernah terlibat dengan dunia seni rupa itu. Kini jarang sekali ada pameran-pameran seni rupa yang bertujuan untuk apresiasi masyarakat. Pameran lukisan kini lebih sering hanya urusan artisnya, kurator, pemilik gallery, dan "satu pihak lagi" yang sering di belakang layar sebagai konseptor. Di media massa, juga tak ada lagi kritik apresiatif, karena sudah berubah menjadi tulisan endoorsment kurator dalam katalog yang mewah dan honor yang jauh lebih tinggi di banding nulis di koran. Selebihnya, dalam setiap opening pameran, tentu adalah reriungan para handai-taulan yang lagi pameran. Lumayan, ada makan-makan, minum-minum, untuk perbaikan gizi.
Tapi, setelahnya, karya-karya mereka kemudian lenyap. Masuk ke ruang-ruang pribadi, entah ke kolektor atau kolekdol. Nah, celakanya, kolektor dan kolekdol ini juga tak sudi mengadakan pameran koleksinya untuk umum (dan gratis. Coba saja di Museum OHD di Magelang, untuk masuk harus bayar Rp 100.000, itu pun ternyata bercampur lukisan palsu,...). Sampai-sampai, ada sebuah museum lukisan yang isinya dirampok, bukan oleh pencuri, tapi oleh "pihak internal" karena isyu ekonomi di baliknya.
Nama-nama perupa kita pun, kini tak banyak dikenali secara umum (dan agaknya itu tak penting, karena "yang penting duitnya lebih gede sekarang"). Tak sebagaimana dulu rakyat jelata kenal Afandi, Basuki Abdullah, Sudjojono, Dullah, dan sebagainya itu ("buat apa terkenal, kalau nyatanya kere?").
Kapan ada pameran besar (dan lengkap dan komprehensif) 100 Tahun Seni Rupa Indonesia untuk masyarakat umum, keliling Indonesia, misalnya? Agak tidak mudah menjawabnya. Karena kesenian yang satu ini, lebih asyik-masuk dalam komunikasi-komunikasi yang eksklusif sifatnya.
Sementara mural-mural karya Samuel Endratma dan kawan-kawan di Yogya misalnya, kini terpaksa bersaing dan tergusur oleh iklan sinyal kuat atau bisa ngomong sampe ndoweeeerr!

Senirupa, agaknya hampir sama dengan kesenian klangenan lainnya, hanya menjadi urusan antara yang menjual dan membeli, dalam pengertian yang paling dasar.
Ah, saya jadi ingat seorang teman yang ingin pameran lukisan di Papua, moga beliau masih semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar