Minggu, Maret 24, 2013

Data Intelijen, Isyu Kudeta, dan Mari Menari di 2014



Pagi-pagi, sudah pecah keributan antara suami dan isteri. “Bagaimana aku tidak percaya,” sang isteri berteriak-teriak histeris, “ini data intelijen, A-1, akurat, bukan informasi sembarangan, dari lembaga yang terpecaya, mereka bersumpah pada Tuhan, demi Allah!”
“Bagaimana mungkin, dan apa hubungannya, Ma?” sang suami mencoba berkilah.
“Oke, jika kau tidak percaya dengan data intelijen ini, maka kamu bisa digolongkan sebagai orang yang menghina lembaga negara! Terserah, kamu tinggal pilih. Kita cerai, atas nama perselingkuhan, atau karena tudingan menghina lembaga negara!”
“Oke,” sang suami tak mampu menahan geram. “Kita cerai atas nama data intelijen itu!”
“Yang mana, perselingkuhan atau menghina lembaga negara?”
“Menghina lembaga negara!”
Dan, suami isteri itu pun kemudian mengurus segala-sesuatunya, mengesahkan perceraian mereka.
Sesampai di Pengadilan Perceraian (dulu namanya Pengadilan Agama, tapi karena tidak pernah mengadili agama, dan hanya ngurusi orang cerai, namanya kemudian diganti seperti itu), pecah lagi perang mulut, ketika panitera pengadilan menanyai maksud dan tujuan suami-isteri itu.
“Alasan kami cerai, karena suami saya ini selingkuh!” sang isteri masih berapi-api.
“Lho, gimana sih?’ sang suami menyela, “Tadi sudah kita sepakati, ini karena penghinaan atas lembaga negara!”
“Penghinaan lembaga negara? Apa-apaan ini?” sang panitera heran.
“Hah? Anda juga tidak percaya pada lembaga intelijen negara? Anda bersekongkol dan menghina lembaga negara,...!”
Belum usai soal perceraian, panitera pengadilan agama diseret ke kepolisian, dengan tudingan menghina lembaga negara yang terhormat.
“Bagaimana mungkin, Pak,” kata Isteri pada Pak Polisi sambil menuding panitera pengadilan agama, “orang ini, tidak mempercayai lembaga intelijen negara. Coba, cari pasal berapa pelanggaran yang dia buat, Pak. Ini penghinaan negara, bukan?”
Sang Polisi garuk-garuk kepala, soalnya kalau mau garuk-garuk dengkul takut dikira tidak sopan.
“Bapak ini mudeng enggak sih? Paham enggak sih,” giliran Suami tak sabar melihat reaksi Polisi yang agak jadul. “Emangnya, bapak juga mau dikategorikan menghina simbol-simbol kenegaraan?”
“Waduh, ini pasalnya apa?” Pak Polisi terlongong-longong.
“Lho, sampeyan sing polisi, sampeyan malah balik nanya!” Suami tambah marah. “Sampeyan ini tidak loyal pada negara! Dari dulu polisi kok Cuma bisa nanya! Giliran diserbu tentara baru nyaho!
Keributan demi keributan, seolah beranak pinak. Semua karena data intelijen. Hingga akhirnya, data intelijen ini, sampai juga ke telinga petinggi lembaga intelijen negara.
“Lho, apa-apaan ini? Kita tidak pernah memproduksi data itu!” kata sang pejabat intelijen.
“Sampeyan jangan kura-kura dalam perahu,” sang Isteri mulai kalap. “Presiden sendiri yang bilang. Mau diapakan negara ini, jika soal perselingkuhan saja tidak bisa memecahkan akar persoalannya!”
“Ibu, maaf,” pejabat intelijen menyela, “jangan bawa kura-kura, apalagi dengan perahunya segala. Swear, kantor kecil sempit. Lagi pula, mengapa soal perselingkuhan Ibu membawanya pada kami? Kami ini lembaga negara yang tidak peduli orang mau kawin atau mau cerai, apalagi soal gossip selingkuh!”
“Alah, jelas sudah,” kini Suami yang tak sabar. “sampeyan sudah berkhianat pada sumpah setia jabatan. Ingat, dulu pakai angkat Quran apa Injil?”
“Oh, my Godness! SARA tauk!” Pak Intelijen yang agak religius mulai pening. “Please, jelaskan, ini perkara apa? Anda mungkin salah melapor,...”
“Melapor? Melapor ke lembaga intelijen?” Isteri kini makin meradang. “Anda ini gila, dianggapnya data intelijen mau dilaporkan? Ini negara gila!”
Persoalan Suami dan Isteri, yang mau cerai itu, makin tak jelas. Mereka berdua kemudian ke Komnas HAM, membawa spanduk ke mana-mana. Teriak-teriak. Beberapa orang yang sedang demo, membelokkan arah dan mengikut di belakang dua orang yang mau bercerai itu. Seorang menteri yang suka berpantun, makin menjadi-jadi, “Jika pergi ke Medan Abang, jangan lupa makan durian. Jika ingin edan, Abang, jangan lupa makan durian runtuh,...” demikian pantunnya yang nggak nyambung, gara-gara soal RPP dibelokkan menjadi Rupiah Pun Pergi.
Beberapa orang yang sedang makan di warung kaki lima, di cafe, di resto, meninggalkan santapan mereka dan bergabung. Beberapa mahasiswa S2, yang sedang ujian, meninggalkan kursinya dan keluar ruangan (Mau ikut demo nggak? “Nggak, lagi pusing, nggak bisa jawab soal nih,” kata mereka).
Hingga akhirnya, para pendemo sampai di depan Istana Presiden. Ada poster MKRI dibentangkan di sana (MKRI, Masyarakat Kuliner Republik Indonesia, mereka ikut karena dikiranya ada demo masak).
Tapi, sial, presiden tak ada. Pembantunya tak ada. Para tim suksesnya juga tak ada. Para produsen citra, juga tak ada. Kemana semua orang itu?
Seorang gelandangan, yang baru saja terjaga dari lelap tidurnya di depan pintu istana, menoleh ke arah kerumunan, “Mau pada demo, secara pagi-pagi begini?” tanyanya.
Tak ada yang menjawab. Tetapi semua diam. Tetapi semua bisu. Tetapi, jangan tanya pada Ebiet, yang  lagi pusing, karena rekamannya lebih banyak dibajak produsernya sendiri.
“Hmmm, aku tahu,” kata gelandangan itu akhirnya. “kalian semua ini mempersoalkan data intelijen bukan?”
Orang-orang pun saling pandang, karena tidak logis kalau saling tendang.
“Hahaha, kalian heran? Tidak percaya?” gelandangan itu akhirnya mengeluarkan gulungan kertas dari karung plastik yang selalu dibawanya ke mana-mana. “Ini data intelijen yang kemarin aku temukan,...”
Sang gelandangan menggelar gulungan kertas yang disebutnya data intelijen. “Nah, baca sendiri, ini ribuan data intelijen yang kudapatkan itu. 1. Besok, anak-anakku akan diangkat jadi menteri. 2. Tiga bulan lagi, isteriku bakal jadi ketua umum partai. 3....” gelandangan terus membaca data.
Orang-orang pada heran, “Kalau data soal Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum, ada nggak?” bertanya seseorang.
“Hah? Siapa itu?” gelandangan kelihatan bingung, “nggak dikenal nama itu. Ini data akurat! Bukan lagi A Satu. Kalau ada bilangan sebelum satu, ini A sebelum satu! Very-very akurat! Siapa yang tidak mempercayai data ini, bisa dikenakan pasal penghinaan atas lembaga negara! PKI, Para Kurangpercaya Indonesia!”
Orang-orang pada mengkeret. Mereka kemudian beramai-ramai bikin poster, spanduk, pidato, puisi, traktat, novel, mural (bareng Samuel Indratma), sinetron, exposign, dan lain sebagainya, dan semuanya memuja serta menyembah-nyembah data intelijen. Intinya, “Data intelijen, I love U full!”
Sialnya, Mbah Surip, ditemani Mbah Maridjan, bak zombie muncul dari bawah aspal jalan. Ia kini tidak sedang menggendong gitar. Ia menggendong deritanya yang lara. Kenapa popularitas ‘gitu cepat sirna, sementara ia belum jua bisa mendepositokan kekayaan ke Bank-bank Swiss yang teraman di dunia, atau pada the other century bank in the world.
Iya, iya, iya. Tapi, bagaimana soal perceraian suami-isteri di awal cerita tadi, begitu tanya kalian bukan? Okey, jadi kalian pun hendak menyepelekan soal data intelijen itu? Kalian mau menjatuhkan presiden? Mau menjatuhkan citra? Citra Mulyasari, Citra Minah, Citra BBM, Citra kucing garong?
“Garage sale! Garage sale!” teriak seorang ibu (sepertinya, beliau pernah demo menduduki kursi direksi Bank Century di Surabaya), yang mau jual garasinya, karena mobilnya juga sudah dijual, “harga edan-edanan, 800% off! Ayo, dipilih, dipilih dipilih,...!”
Stop! Harap kalian tahu. Pilih salah satu, menjadi goblog atau cuci otak? Angkat tangan (atau, angkat kaki)! Dor! Dor! Dor! Tigapuluh selongsong peluru muntah, menghancurkan nyawa empat napi titipan polisi, gara-gara polisinya takut diserbu tentara. 
Mari-mari menari di 2014, hopla!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar