Minggu, Januari 06, 2013

Film Indonesia: The Raid Mengalahkan Skyfall

The Raid (Serbuan Maut), film aksi seni bela diri dari Indonesia yang disutradarai oleh Gareth Evans dan dibintangi Iko Uwais, sangat membanggakan. 
Pertama kali dipublikasi pada Festival Film Internasional Toronto (Toronto International Film Festival, TIFF) 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, para kritikus dan penonton memuji film tersebut sebagai salah satu film aksi terbaik setelah bertahun-tahun, sehingga memperoleh penghargaan The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award. 
Terpilihnya film ini untuk diputar pada beberapa festival film internasional berikutnya, seperti Festival Film Internasional Dublin Jameson (Irlandia), Festival Film Glasgow (Skotlandia), Festival Film Sundance (Utah, AS), South by Southwest Film (SXSW, di Austin, Texas, AS), dan Festival Film Busan (Korea Selatan), menjadikannya sebagai film komersial produksi Indonesia pertama yang paling berhasil di tingkat dunia. Bahkan, film ini menduduki peringkat kedua film terbaik sepanjang 2012 versi majalah Femalefirst dan peringkat keempat versi Total Film. 
The Raid malah mengalahkan film Skyfall (James Bond 007) yang ada diperingkat ketiga, versi Femalefirst. Menurut Ario Sagantoro, producer The Raid, hal itu sangat tak sebanding dengan kecanggihan dan spektakuler film sutradara Sam Mendes tersebut. "Enggak nyangka, enggak yakin. Kita enggak sebanding dengan film Skyfall, filmnya bagus, keren, akting Daniel Craig juga bagus. Tapi mungkin ngeliat dari sisi mana kita kan enggak tahu. Alhamdulillah, banggalah film Indonesia bisa bersaing di kancah internasional," jelasnya.
Aktor Hollywood, Vin Diesel ternyata diam-diam telah menonton film ini. Hal itu diungkapkan lawan main Diesel di film Fast and the Furious 6, Joe Taslim. Menurut Taslim, Diesel tak segan memuji film yang dibintangi Iko Uwais dan Yayan Ruhian itu, "Mereka cuma tanya, 'dari Indonesia ya? Kita sudah lihat The Raid, keren filmnya,..." 
Basic cerita The Raid, sangat sederhana, bahkan cenderung stereotype. Konsep utama film ini, adalah tim SWAT yang terjebak di dalam gedung dengan penjahat di sekitar mereka. Ini membuat banyak pilihan bagi tim produksi, untuk tidak hanya mengeksplorasi koreografi aksi, tetapi juga memberikan berbagai sensasi ketegangan yang tercipta dari film ini, bahkan juga sensasi horor.
Dramatic tidak cukup tergarap, meski telah di introdusir dalam adegan awal ketika Rama (Iko Uwais) hendak bertugas dan meninggalkan isterinya yang tengah mengandung tua. Demikian juga hadirnya tokoh Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang sebenarnya menjadi surprises cerita, sebagaimana bertemunya kakak beradik Rama dengan Andi (Donny Alamsyah) yang berada di posisi berlawanan. Dalam ending cerita, sentuhan dramatic itu agaknya tidak sangatlah diutamakan.
Toh film sebagai karya audio-visual, harus dilihat adil dan utuh. Plot lebih dibangun oleh pengadeganan dan pola editing yang terstruktur rapi. Dari detik ke detik, film ini terus memacu jantung penonton. Dan bagi yang menyukai adegan full action, mereka akan sangat terpuaskan. Apalagi The Raid adalah film yang memunculkan gaya pertarungan pencak silat Indonesia yang sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini kita tonton (apalagi kalau nonton sinetron laga kita, yang justeru mendatang instruktur fighting dari China atau Hong Kong). Pada sisi ini, The Raid, sebagaimana Merantau, mempunyai sumbangan berharga dalam perfileman Indonesia.
Ini kerja sama kedua antara Gareth Evans dan Iko Uwais, setelah film aksi pertama mereka, Merantau (2009), yang juga tetap memakai penata laga Iko Uwais dan Yayan Ruhian, yang menonjolkan seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat. 
Proses pengerjaan film ini dikerjakan selama tiga bulan. Selain kedua aktor laga tersebut, The Raid juga dibintangi oleh aktor kawakan diantaranya Ray Sahetapy, Donny Alamsyah, Pierre Gruno dan atlet Judo Indonesia, Joe Taslim.
Penggarapan musik latar rilis versi asli Indonesia dikerjakan oleh komposer Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi. Penggarapan skoring musik The Raid yang rilis di wilayah Amerika Utara, Amerika Latin dan Spanyol juga melibatkan musisi Mike Shinoda, (personil Linkin Park) dan Joseph Trapanese, seorang komposer yang menggarap musik untuk film Tron: Legacy (2010) dari Walt Disney Pictures.
Selain pengambilan gambarnya, olahan koreografi seni bela diri film ini juga menuai decak kagum dari para juri dan penonton di berbagai festival fim Internasional. Film ini setelah dirilis sempat bertengger di posisi 15 besar top box office bioskop Amerika. Dengan kesuksesan itu, The Raid berhasil meraup penghasilan sekitar US$ 1.228 juta atau sekitar Rp 11 miliar.
Sebagian besar ide cerita keluar dari Gareth Evans. Ia mengatakan di dalam blognya, sejak kecil terobsesi dengan film "Peace Hotel" (1995) yang dibintangi Chow Yun Fat. Dia tidak pernah bisa menemukan film ini di Inggris dan hanya memiliki gambar poster serta sinopsis yang samar-samar.
Evans mengatakan bahwa dia menyukai konsep sebuah bangunan terisolasi yang menawarkan perlindungan kepada penjahat.
Namun ketika Evans akhirnya melihat film tersebut lebih dari 15 tahun kemudian, "khayalan" mengenai film ini benar-benar berbeda. Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk "Merantau", keinginannya untuk membuat film yang 95% berada di dalam satu ruangan makin mendesak. Evans mulai menonton banyak film untuk inspirasi, seperti Assault on Precinct 13 (1976) dan Die Hard (1988) untuk mencari struktur cerita, bagaimana mengembangkan adegan aksi ke dalam cerita sealami mungkin.
Evans mengatakan selalu ingin menemukan cara untuk mencampur genre bersama-sama, untuk membawa lebih ke film seni beladiri daripada sekedar murni action. Itulah yang sebagian besar fans dari genre action ingin lihat.





PENGHARGAAN | The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award, TIFF 2011 | Salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight dalam Festival Film Sundance 2012 | Terpilih menjadi penutup sesi FrightFest dalam Festival Film Glasgow 2012 | Audience Award dan Dublin Film Critics Circle Best Film dalam Festival Film Internasional Dublin Jameson 2012 | Prix du Public dalam 6ème Festival Mauvais Genre di Tours, Prancis | Sp!ts Silver Scream Award pada Festival Film Imagine ke-28 di Amsterdam, Belanda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar