Minggu, Agustus 17, 2014

69 Tahun Kemerdekaan Indonesia


Semalaman, setelah memutarkan film-film perang dari berbagai Negara, bersama anak-anak muda dan tua di sebuah gunung sunyi, saya terlibat dalam gerakan kata-kata bersama mereka hingga nyaris subuh. Saya serang mereka dengan kata-kata seadanya: Segala yang dapat diciptakan, telah diciptakan, demikian sabda Charles H. Duell. Bukan seorang fatalis, melainkan seorang komisaris hak patent AS pada tahun 1899. Dan para Hegelian pasti sepakat dengan omongan Hegel, bahwa semua yang riil bersifat rasional, dan semua yang rasional bersifat riil.
Permainan kata-kata itu tak pernah lahir dengan sendirinya. Ada banyak teks penjelas yang dihilangkan dari sana, karena dirasa tak penting dan terlalu menjelas-jelaskan. Mungkin nasehat belajar ilmu pasti tidaklah buruk-buruk amat. Ilmu pasti yang sederhana saja, bahwa orang yang belajar pasti pintar, kalau tidak barangkali sial saja. Bahwa orang makan pasti kenyang, kalau tidak bisa jadi makannya cuma sedikit. Bahwa orang yang berjuang pasti menang, kalau tidak, yah, mungkin kalah gigih. Orang pacaran pasti nikah, kalau tidak mungkin lagi apes saja, mana sudah ketipu pula, atau pacarnya ternyata sudah menikah dengan yang lain.
Semua toh menyiratkan yang sama, antara yang pasti dan tidak. Kesadaran kita memilih yang pasti, tapi kepastiannya belum pasti karena ada ketidakpastian di sana, yakni bagaimana bergelut dengan kepastian-kepastian atau keniscayaan-keniscayaan. Perpektif itu akan membangun persepsi atau paradigma, membangun ukuran-ukuran dengan kacamata yang dikenakan. Dalam dagelan jadul, seorang pelawak akan merasa semua yang dilihatnya hitam, kemudian dia baru sadar, karena memakai kacamata hitam.
Jika pembacaan atas diri dan hidup kita tidak lengkap dan terbatas, maka itu juga yang akan menuntun kita. Mengira Prabowo hebat dan tegas, padahal ia lucu. Membacai Jokowi itu cungkring, padahal kurus, maka luculah bila ditandingkan kompetitornya. Dan seterusnya. Itu kerja kacamata yang mengakibatkan yang didapat adalah apa yang dilihat. Bagi orang yang tidak ringan mulut, semakin banyak kacamata semakin kaya yang dilihat. Tapi bagi kuda, kacamata yang aneh-aneh akan membuat pusing. Maka ia, si kuda itu, hanya percaya kacamata kuda yang dibuat manusia.
Seorang penulis bernama Anatole France, menulis begini: “Buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah sangat membosankan.” Kita tidak tahu, apakah beliau penulis sejarah yang ditolak dalam proyek penulisan sejarah Perancis atau bukan. Tidak penting. Namun, hidup bersama orang suci ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi orang suci itu sendiri. Sebagaimana sindiran kolumnis Don Marquis, “Orang yang munafik adalah orang yang berteriak; Hei, siapa sih yang tidak munafik?” Semua orang memuji-muji surga, tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga, ujar James Baldwin, penulis yang juga aktor.
Sembari menunggui matahari nongol dari balik bukit, Adolf Hitler ngedumel, “Alangkah beruntungnya penguasa, bila rakyatnya tidak bisa berpikir,…” Dan apakah yang kita pikir tentang semuanya ini, bila pemimpin, atau tepatnya politikus seperti kata de Gaulle, tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri? Karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya! Politik itu mahal, bahkan untuk kalah pun harus mengeluarkan banyak uang. Jangan bertanya pada Will Rogers yang mengatakan, tapi tanyakan kepada Hasim Djojohadikusumo yang mengalaminya.
To accomplish great things, we must not only act, but also dream; not only plan, but also believe, tulis Anatole. Untuk mencapai kesuksesan, kita jangan hanya bertindak, tapi juga perlu bermimpi. Jangan hanya berencana, tapi juga perlu untuk percaya. Namun ingatlah, setiap orang mencoba mencapai suatu hal yang besar, jika tanpa menyadari bahwa hidup itu kumpulan dari hal-hal kecil, bersiap-siaplah kecewa.
Memang, menurut para motivator, hebat adalah untuk melakukan satu hal yang biasa dengan cara yang tidak biasa. Excellence is to do a common thing in an uncommon way. Tapi visi tanpa eksekusi adalah lamunan, dan eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk, begitu peribahasa Jepang. Dan kita? Sering hanya mengerti kesalahan orang lain, karena kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita.
Maka semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu, begitu nasehat Benjamin Franklin. Bukan pada mereka yang sedang marah saja tentu, tetapi kita yang sedang mau ikut-ikutan marah.
Jika kita hari ini sedang memperkarakan soal keajaiban 69, dengan segala kenikmatannya, ingatlah di dalamnya adalah juga paradoks-paradoks itu sendiri. Dan hari-hari ini kita disuguhi itu, seolah Tuhan tengah bercanda, menyodorkan soal yang mestinya sudah usai 9 Juli tapi kita olor-olor hingga 21 Agustus, hingga Oktober, hingga entah kapan nunggu stroke atau stress berat tak ketulungan, atau nunggu kantong para lawyer penuh-sesak.
Mereka yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. Dan sungguh, sekarang ini saya ngantuk berat, karena semalaman berjuang mati-matian, begadangan demi 69 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar