Rabu, Juli 02, 2014

Once Upon A Time In Karaton Ngayogyakarta


Jokowi cekeran di dalam Kraton Kilen Ngayogyakarta
SYAHDAN menurut sahibul jamil dan para terong-terongannya, konon pada jaman dulu kita selalu didongengi cerita-cerita klasik yang agak tidak mutu. Misal, tentang rakyat jelata yang hendak bertemu dengan rajanya. Bagi mereka yang inginkan kenikmatan dunia, ketika bertemu dengan raja dan ditanya apa keinginannya, maka mereka yang hanya menginginkan kenikmatan dunia hanyalah mendapatkan dunianya semata. Ingin pakaian bagus, emas berlian, makan enak, maka hanya itulah yang didapatkan.
Pada mereka yang inginkan petunjuk kemuliaan, bisa jadi tidak mendapatkan pemberian pakaian dan perhiasan yang gemerlap, atau tak merasai nikmatnya memanjakan lidah. Namun, ia akan mendapatkan semuanya itu kelak, apabila petunjuk kemuliaan sang Raja mampu diolahnya menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam pecapaian kehidupannya.
Demikian umumnya dongeng-dongeng pada jaman dulu. Kuno? Memang. Tetapi demikianlah misteri waktu. Bahwa segala yang kuno itu sering kita temu dalam kehidupan yang kita anggap sudah sangat modern ini. Apa yang diujarkan para simbah kita dahulu, masih pula kita bisa baca hari-hari ini.
Percayalah ini tulisan semi mistik. Tetapi percayalah juga, perubahan adalah juga sebuah mistik, sebagaimana kepercayaan Sutan Takdir Alisyahbana, “mistik saya adalah masa depan”.
Mari sejenak membaca mistik.
Senja turun di langit Yogya, pada Selasa Legi di bulan Juli 2014. Suara adzan maghrib melengking di Masjid Gedhe Kauman, masjid milik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Semua orang berkhidmat, buru-buru, menyerbu takjil yang terhidang rapi di antara gelaran karpet. Suasana agak ricuh saat itu, karena ada yang tak biasa di sana.
Prabowo Subianto membatalkan puasa dengan meneguk air mineral gelas. Namun sama sekali tak disentuhnya nasi bungkus yang disediakan, sebagai menu buka puasa oleh takmir masjid. Nasi bungkus berisi telur mata sapi dengan sayur irisan tahu tempe itu, agaknya tak menarik minat capres dan rombongannya. Hanya sega kucing, tentu tak layak untuk Macan Asia. Mereka hanya menghabiskan air mineral dan memakan sepotong kue.
Rencana untuk jalan kaki dari masjid ke Keraton Kilen dibatalkan. Jarak tempuh yang sangat dekat itu, akhirnya dilalui naik mobil. Pak Prabowo capek, begitu alasan pengawalnya. Sepanjang perjalanan pendek itu, ratusan massa ormas Islam ikut mengiringi mobil yang ditumpangi Prabowo. Mereka meneriakkan takbir, riuh-rendah.
Saat mendatangi kediaman Sri Sultan Hamengku Buwana X di Keraton Kilen Yogyakarta, Ahmad Dhani dan Mulan turut ikut masuk bersama rombongan Prabowo. Namun saat Dhani dan Mulan sedang dikerubuti sejumlah pendukung Prabowo untuk berfoto, Gusti Prabu (adik Sultan), mendatangi keduanya, "Mohon maaf ini pindah ke tempat lain, karena nanti dipakai Ngarso Dalem,…"
Dan sepasang selebritas itu pun pindah ke tempat lain, berkumpul dengan Titiek Soeharto dan Ali Mochtar Ngabalin, beserta rombongan besar Prabowo dari Jakarta dan Yogyakarta.
Sebulan sebelumnya, pada 2 Juni, Jokowi juga sowan pada Sultan, namun hanya dengan sedikit rombongan. Dan Sultan menjamunya di ruang dalam secara khusus. Bahkan, Sultan mengadakan dialog empat mata dengan Jokowi selama lebih 1 jam. Kenapa berbeda, sementara waktu pertemuan dengan Prabowo dan rombongan hanya sekitar 33 menit?
Sultan menemui Prabowo dan rombongan di ruang tamu luar Kraton Kilen. Namun Sultan membantah jika ada makna tersembunyi di balik penyambutan tersebut. "Tidak ada, cuma kebetulan Pak Prabowo dengan rombongan banyak," jelas Sultan.
Gusti Prabu mengatakan, perbedaan antara penyambutan Jokowi dan Prabowo itu karena permintaan keduanya berbeda. "Kalau Pak Prabowo mintanya ada makan bersama, ya di luar ruangan, sesuai permintaan saja," kata Gusti Prabu.
Setelah bersalaman dan cium pipi kiri-kanan, Sultan kemudian mempersilakan para tamu menikmati santap malam. Sultan dan Prabowo sempat melakukan pembicaraan, tak lebih dari 3 menit, sebelum akhirnya menuju meja makan.
Sementara di meja makan telah tersedia menu khas Yogyakarta. Gudeg, krecek, sayur labu serta opor ayam, yang tentu berbeda dengan hidangan takjil di Masjid Gedhe Kauman.
Mantan Danjen Kopassus itu dipersilakan lebih dahulu mengambil makanan yang telah tersedia. Prabowo menyendok sendiri mulai dari nasi putih, lauk pauk hingga kerupuk yang menjadi pelengkap makan malamnya.
Setelah siap mengambil nasi dan lauk pauk untuk makan, Prabowo lalu menuju meja makan yang berbentuk bundar. Di sana duduk Sri Sultan, Aburizal Bakrie, M Romahurmuziy, Hidayat Nur Wahid. Dalam rombongan itu ada juga Ahmad Dhani, Mulan, juga Titiek Soeharto dan Ali Mochtar Ngabalin, tapi entah di mana mereka. Yang pasti, di beranda Kraton Kilen itu penuh manusia, yang bisa jadi telah terlalu lama menahan lapar. Prabowo sempat kembali ke meja makan yang berisi hidangan gudeg dan lauk pauk lainnya. Mengisi piringnya dengan lauk yang sebelumnya ia makan. Nambah.
Pertemuan itu, tak lebih hanya berlangsung 33 menit. Tiba di Kraton Kilen pukul 18.17, Prabowo kemudian berpamitan pada 18.50. Intinya hanya kulo-nuwun karena mau kampanye di Yogyakarta. Prabowo dan rombongan agaknya hendak buru-buru sowan ke ndalem Prabasutedjan, rumah kediaman adik tiri Soeharto. Titiek Soeharto yang tampil dengan  kerudung putih warna soft, tampak mesra duduk bersebelahan dengan Prabowo.

PERTEMUAN DENGAN JOKOWI. Saat Jokowi datang sebulan sebelumnya, Sultan menerimanya di ruang tamu dalam Kraton Kilen. Bahkan, Sultan menyiapkan ruang VVIP untuk meminta Jokowi mengadakan pembicaraan tertutup di ruang khusus. Hampir satu jam, dan baru kemudian Sultan meminta Jusup Kalla ikut bergabung.
Berbeda dengan Prabowo, Sultan memberi perhatian lebih pada Jokowi. Meski Sultan tampak hati-hati, dengan menegaskan tetap netral dan tidak mau mendukung salah satu calon mana pun. "Siapapun yang menang untuk dapat jadi presiden yang lebih baik. Dalam arti bermanfaat betul-betul untuk rakyat, tanpa memihak," tuturnya. Sultan ini berbeda dengan raja-raja lainnya.
Jokowi mengatakan tidak datang untuk meminta dukungan Sultan, "Kami datang untuk bersilaturahmi dan mohon restu kepada Sultan. Karena, selain sebagai gubernur dan raja, Sultan adalah bapak bangsa."
"Jogja adalah sebuah kota yang memegang peran penting dalam pembentukan Republik ini. Pak Jokowi dan saya juga merasakan betul kota ini sebagai sebuah kota pelajar karena kami berkuliah di kota ini," ujar Anies Baswedan, juru bicara capres Jokowi, yang sebelum ke Kraton Kilen menyempatkan untuk blusukan ke Malioboro dan Pasar Beringharjo.
"Saya berterimakasih sekali karena Pak Jokowi dan Pak JK bersilaturahim, saya punya harapan semoga sukses," kata Sultan waktu itu seusai pertemuan dengan Jokowi-JK.
Sultan menjelaskan, dalam pertemuan tertutup sekitar satu jam, banyak hal yang ia bicarakan bersama Jokowi. Ia mengaku harus menyiapkan ruangan khusus agar proses dialog dapat berjalan maksimal. Namun, karena berbagai alasan, Sultan tak dapat menyampaikan materi perbincangan dengan Jokowi tersebut.
Ia hanya berpesan agar jika terpilih nanti, Jokowi-JK dapat memegang teguh amanah yang diberikan oleh rakyat dan dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Hanya dengan cara seperti itu, kita bisa menatap masa depan dengan bangga. Semoga sukses. Saya punya harapan besar kalau beliau (Jokowi-JK) mendapatkan ridho menjadi seorang pemimpin, semoga kekuasannya nanti diabdikan untuk rakyat," ujar Sultan.
Memang saat bertemu, Jokowi dan Sri Sultan memasuki ruang VVIP di lingkungan Keraton lebih dulu dan JK menunggu di luar. Sekitar 45 menit kemudian, JK baru dipanggil masuk ke dalam ruangan untuk ikut dalam perbincangan. Menurut Anies Baswedan, dalam pertemuan tertutup itu mereka banyak membicarakan perjalanan bangsa ke depan.
"Kita ingin menyerap prinsip filosofi pemimpin dari Sultan, di mana pemimpin harus hadir untuk rakyat dan menjadi sandaran bagi rakyat," tukas Jokowi dalam sambutannya. "Kami dan Pak JK silaturahmi dan memohon doa restu kepada Sultan. Pertama kami berdua sangat menghormati beliau. Karena selain raja dan gubernur, Ngarso Dalem adalah guru bangsa, kebudayaan, dan multikultur."
Apa hal lain yang dibicarakan dalam pertemuan? Jokowi mengaku mendapat banyak bahan dan materi berkaitan dengan pemerintahan yang akan datang. "Intinya, atas pemikiran beliau, kami sejalan. Baik berkaitan kemaritiman, ekonomi makro dan mikro. Juga berkaitan TNI maupun lainnya," tutupnya. "Beliau memiliki prinsip
nguwongke wong, memanusiakan manusia. Saya dan Pak JK mengikuti prinsip Beliau," kata Jokowi dengan cekeran. 
Di mana sepatunya? Sewaktu hendak memasuki ruang VVIP, Jokowi mencopot sepatunya, meski dicegah oleh Sultan. Ia sebagaimana para teknisi Jepang yang masuk ke pabrik-pabrik mobil di Eropa dan Amerika, hendak menyerap energi kebudayaan nenek moyangnya dengan kaki telanjang.
Di mana mistiknya cerita ini? Namanya juga pertemuan empat mata, pasti hanya Sultan HB X dan Jokowi yang tahu. Kalau Thukul pun tahu, pastilah bukan empat mata namanya!
Pilihan Sultan sendiri? 
"Pilihan saya, di TPS saja,..." kata Sultan Hamengku Buwana X. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar