Sabtu, Juli 05, 2014

Manifesto Jokowi, Kalau Cinta Ayo Nikah!


SEBUAH MANIFESTO UNTUK 9 JULI 2014 | Masing-masing kita adalah pribadi merdeka. Masing-masing warga Negara Indonesia pemegang hak suara dalam Pemilu 2014 ini, sama nilainya. One man one vote.

Beda dengan dunia akademik (penganjur demokrasi dan akal sehat yang anomali, yang dalam memilih rektor pun ternyata memakai kasta-kasta; satu orang bisa bernilai 5 suara, 3 suara, dan seterusnya, tergantung pangkat, bukan isi otak).

Dalam aturan demokrasi Pemilu kita; Ulama sama nilai suaranya dengan tukang becak. Pelukis absurd yang bodoh dan sinis sama nilai suaranya dengan pencopet yang cerdas. Mantan menteri sama nilai satu suara dengan ibu penjual jamu. Budayawan dan penyair kenthir, juga masing-masing cuma berhak satu kertas suara, sama dengan penggali makam atau pun aktivis facebooker yang juga aktif boker. Dan sebagainya. Tak ada beda.

One man one vote, one women one vote, one nation,… “one love, one peace, no woman no cry!” teriak Bob Marley ikut-ikutan kebelet nyoblos.  

Maka kita semua berhak menyatakan pilihan, siapa pun presiden kita masing-masing. Di jaman ini, bukan hanya pensiunan tentara, aliansi dosen independen tapi bermental budak, ormas tukang gertak dan kaum oportunis yang boleh melakukan deklarasi dukungan. Siapa saja boleh membuatnya, gratis (kalau agak petualang sedikit, bahkan bisa dapat duit, bilang saja deklarasi atau manifesto itu didukung 500.000 orang beserta kutu kupretnya. Kasih tarif Rp 50.000 per-jidat, berapa coba?).

Dan karena itulah, ini manifesto rakyat jelata;

SATU | Menyingkirkan Gossip Agenda Setting. Prabowo Subianto adalah calon presiden yang lumayanlan, mungkin lebih cakep dibanding Jokowi. Tapi kita tidak sedang memilih lelaki metro-sexual.

Prabowo berpengalaman bertahun-tahun dalam upaya menjadi presiden. Namun, setelah membacai semua buku, majalah, koran, media online abal-abal dan abil-abil, nonton tv merah atau biru, membacai status fesbuk handai taulan, mencermati beratus testimoni dan statemen, akhirnya sampai pada kesimpulan; Prabowo mesti dibela, apalagi untuk Pilpres tahun ini.

Jika melihat para mitra koalisinya, alangkah malang nian. Prabowo bisa jadi bukan hanya kuda-troya, melainkan juga kuda kepang. Berbagai parpol dan ormas yang ikut serta padanya, serasa dimanjakan oleh karakter Prabowo yang pragmatis, Soehartois, dan karenanya inkonsisten. Sebagai kuda troya ia jadi sasaran tembak yang empuk (sementara mitra koalisinya berlindung di baliknya sembari berpesta-pora). Sementara sebagai kuda kepang, setelah para penari jathilan trance dan kenyang ‘mangan pari lan beling’, biasanya ditinggal begitu saja. Tergolek di tanah becek, diinjak-injak penonton.

Koalisi obar-abirnya adalah koalisi satu agenda kekuasaan (yakni: Pokoknya Berkuasa, Urusan Belakang!). Padahal kodrat jurusan mereka berseberangan. Pragmatisme mereka saja, berpola ‘tujuan menghalalkan segala isme’. Beda isme boleh asal satu tujuan, yakni keuntungan masing-masing.

Manifesto ini tidak memilih Prabowo sebagai presiden, karena tak ingin ikut-ikutan menjerumuskan dalam politik konformisme, yang lagi-lagi menempatkan dirinya sebagai korban. Manifesto ini menolak agenda setting yang mengajak kita menyingkirkan segala gossip politik paska Orba.

Terlalu lama Indonesia membiarkan diri diobok-obok, oleh kaum komprador kiri dan kanan, dengan atas nama ekonomi liberal maupun semangat ta’firi. Semua itu hanya membuat Indonesia sebagai Negara dan bangsa yang dangkal, dan makin dangkal, makin verbal, dan banal. Kita dijebak dalam involusi, macet, mandeg. Sibuk dengan perdebatan semu soal ideologi politik dan ekonomi liberal beserta ideologisasi agama. Tapi ujung dari semua itu, hanyalah angka-angka korupsi yang membubung. Betapa mencapekkan.

Biarkan Prabowo menikmati masa tuanya, sembari menunggu presiden baru memikirkan rinci; bagaimana penyelesaian kekalutan masa-lalu, agar diputuskan segera, dan kita tak jadi tawanan masa lalu terus-menerus. Bosen tauk!



DUA | Memutus Mata Rantai Sejarah Kelam. Terlalu lama kita disandera dengan luka lama, entah itu bernama Tragedi 1965 atau pun 1998. Belum usai semua itu, sekarang datang kelompok baru, membawa bendera baru yang sama tidak ramahnya. Radikalisme syariah, yang mungkin bisa chemistry dengan soft-dictatorial. Stop sampai di sini! Stop semuanya ini!

Karena Indonesia jadi abai apa yang mendesak bagi bangsa dan Negara ini. Ayolah: Out of the box! Dan bertindak fresh from the oven! Joko Widodo yang bebas tanpa-kendala, bisa menjadi pemutus mata-rantai masa lalu yang ruwet.

Berbagai kasus pelanggaran Hukum, HAM dari masyarakat sipil serta militer yang digantung presiden-presiden Indonesia sampai SBY, saatnya bisa didesakkan pada Jokowi, type die hard yang berani hanya tunduk pada konstitusi.

Singkirkan agenda setting masa lalu, gossip-gossip politik murahan yang penuh tudingan agen sana-sini-situ, atau bergaya ahli teori konspirasi. Stop kegagahan yang kerdil itu. Singkirkan para ortu yang belibet Orba, dan mulai melangkah ke masa depan.

Di kubu Jokowi ada militer bermasalah, tapi bukan capresnya. Di kubu Prabowo, justeru capresnyalah yang dipermasalahkan. Tapi betapa rugi bandar, hanya karena nila setitik kita tumpahkan susu sebelanga berceceran sia-sia? Biarkan saja susu sebelanga ini menyusui kehausan dan kekeringan rakyat jelata akan pemimpinnya. Baru kemudian nila-nilanya yang setitik-demi-setitik-lama-lama-menjadi-bukit-itu, nanti kita singkirkan beramai-ramai. Berfikirlah strategis, jangan seperti katak merindukan bulan, sementara jika datang bulan katak tak punya softex.

Kita ingin, dengan Jokowi maka kasus-kasus masa lalu yang jadi duri dalam daging, dan tidak produktif itu, bisa dibersihkan. Termasuk jika JK menjadi wapres, dan bisa mempercepat penuntasan kasus Bank Century, dan kita bisa mendesakkan Jakarta sebagai layak ibukota Negara, dengan Jokowi sebagai presiden dan Ahok sebagai tandemnya di Jakarta. Keren abies (manifesto politik kok bahasanya ndesit).

Memilih Jokowi sebagai presiden Indonesia adalah memutus mata-rantai masa silam nan kelam menghunjam anak ayam dan induk-induknya, dam, dam, dam.

Indonesia butuh manajer piawai sekaligus hardworker yang mampu menginspirasi, memotivasi, menumbuhkan, dan memeratakan kesejahteraan dalam gerakan kebersamaan.

Kita butuh seorang die hard yang tangguh, berani memutuskan dan mengambil resiko serta konsisten pada prinsip kebenaran dan keadilan, konsistensi, dan menjadi boneka rakyat daripada membonekakan rakyat.

Kebencian kita pada korupsi sudah sampai ke ubun-ubun. Dan kejahatan korupsi benar-benar akan menenggelamkan bangsa dan Negara ini. Fakta hukum sudah jelas, bukan hoax, semuanya ngantri dapat giliran di kubu yang kecebur lautan lumpur masa lalu. Bagaimana logikanya kita hendak melanjutkannya?

Jokowi adalah anti-tesis, anti-hero, anti-teori, tetapi ia mengenalkan kita pada system, pola, manajemen, aturan, numerical, proporsionalisme, sensitivitas, dan sensibilitas. Dan itu adalah kekuatan dahsyat dari dalam diri kita. Semua itu tak ada kaitannya dengan sosok fisik atau soal militer dan sipil. Itu soal sikap keberpihakan, yang manifestasinya dalam kebijakan-kebijakan terukur dan konsisten. Itu. Mana? Ya, itu!

Pemimpin seperti itu, seperti yang telah ditunjukkan Jokowi, lebih nyata, lebih jelas, lebih tegas, dan lebih berwibawa. Karena bukan sedang dijanjikan, melainkan telah dibuktikan.


TIGA | Momentum Pemurnian Kedaulatan Rakyat. Yang kita rindukan adalah tegaknya kedaulatan rakyat, dan tegaknya konstitusi. Kita tidak butuh pemimpin impian model Orde Lama maupun Orde Baru, apalagi Orde Reformasi yang amburadul. Kita butuh pemimpin yang bisa mengartikulasikan kepentingan dan kebutuhan rakyat.
Kita butuh pemimpin masa kini dengan mistik masa depan, bukan mistik masa lalu. Rakyat yang berdaulat, pers yang independen, adalah jauh lebih baik daripada parlemen yang korup. Lebih baik daripada rakyat yang sok bijak dan media yang berkata netral tapi tidak independen (dengan pengingkaran pada azas-azas keadaban publik).

Pilihan dengan semangat kedaulatan rakyat adalah kemestian. Bukan bagian dari transaksi politik, melainkan sebuah bentuk dukungan bagi terbukanya presiden pilihan rakyat. Dan itulah kritik rakyat atas kinerja partai politik yang bullshits.

Bagaimana jika Jokowi sudah terpilih jadi presiden? Kita bersama undur diri, menjaga jarak sebagaimana bunyi nasehat Juki Hiphop dalam lyric lagu kampanyenya. Kembali ke harkat kita menjadi rakyat yang merdeka, berdaulat, dan berani menyatakan pendapat.

Pada saatnya kita membentuk parlemen jalanan, parlemen rumahan, parlemen lapangan. Untuk mengawasi, mengritik, memprotes apabila presiden melenceng, atau pura-pura lupa. Rakyat yang berdaulat bebas memilih dan menentukan, juga bebas sinis meskipun lucu dan menyedihkan. Tapi memilih Jokowi adalah upaya terdekat, yang bisa kita lakukan, untuk menolak lupa bangkitnya elitisme Orde ‘Soehartoisme’ Baru.

Tampak sebagai sebuah manifest yang genit, dan berupaya untuk heroik. Biarin. Namun pentingkah, dibanding berlagak netral, tidak menganggap penting, tapi diam-diam pasang taruhan, dan sibuk menduga-duga?

Orang yang pura-pura netral adalah tidak netral, dan tidak berani meski hanya untuk dianggap salah. Sama seperti orang yang pura-pura tidak tahu, adalah benar-benar tidak tahu, dan itu sama nilainya dengan sok tahu. Tak berani mengambil resiko, tak mau menunjukkan keberpihakan, lebih karena takut jika ketahuan, bahwa hanya segitulah kedalaman pemikirannya, yakni memikirkan keselamatan dirinya, khas kaum priyayi. Takut memilih Prabowo karena nanti dinilai begini. Takut memilih Jokowi karena nanti dinilai begitu. Tapi diam-diam suka melecehkan mereka yang berani memilih, karena merasa cara berfikirnya yang benar, khas pemikiran Soehartoisme. Cari aman!

Padahal, negeri ini membutuhkan pemikir yang berani menyatakan, pekerja yang berani bicara, seniman yang berani berekspresi, rakyat yang berani tunjuk hidung, tukang bikin tempe yang berani tahu, agar terjadi vibrasi, untuk selalu mengingatkan kekuasaan, tanpa bermimpi harus menjadi bagian dari kekuatan.

Membiarkan kekuatan lama dan ketinggalan jaman bersimaharajalela kembali, sama halnya menghina diri-sendiri dan anak-cucu.

Mendukung seseorang tidak harus kemudian menghamba. Karena mental baru kita bukan mental budak, juga bukan mental feodal. Hanya mereka yang bermental budaklah yang takut perubahan. Hanya mereka yang bermental feodallah yang takut kehilangan kekuasaan.

Dan, kalau beda jangan korupsi!
Kalau cinta, ayo nikah!
Coblos Jokowi!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar