Kamis, Mei 01, 2014

Pangeran Dipanegara, Pejuang, Penulis, dan Budayawan


Pangeran Dipanegara, umumnya ditulis Diponegoro, dikenal sebagai pejuang, pahlawan nasional, yang mengobarkan semangat perlawanan pada penjajah. Perang Jawa, atau Perang Dipanegara pada 1825-1830, dikenal sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. Pemerintahan Hindia  Belanda mengalami banyak kerugian, termasuk dikuras habis-habisan pundi-pundi uangnya, untuk membiayai operasi penumpasan pangeran Jawa itu.
Namun adakah yang mengerti, Pangeran Dipanegara juga seorang penulis, sastrawan, yang dengan faset pemikirannya pantas disebut oleh apa yang sekarang dikenal dengan nama “budayawan”? Dalam Serat Babad Dipanegara yang diwariskannya pada generasi kemudian, kita akan melihat hal tersebut.
Dipanegara lahir di Yogyakarta. 11 Nopember 1785, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwana III, raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang lahir dari garwa selir (bukan permaisuri) bernama Raden Ayu Mangkarawati. Dipanegara kecil diberi nama Mustahar oleh ayahnya, yang kemudian pada waktu remaja dan mendapat gelar, namanya menjadi Raden Mas Antawirya.
Dalam tradisi keningratan Jawa (keningratan adalah nilai-nilai kemuliaan manusia, bedakan dengan faham feodalisme sebagai life-style dan pandangan hidup), semua anak-anak dari Hamengku Buwana diasuh dalam satu system pengasuhan oleh abdi-dalem (pekerja professional) di bidang masing-masing. Termasuk untuk memperdalam Alquran dan mempelajari kitab-kita agama.
Walaupun putra raja, namun dia dibesarkan di luar tembok kraton, di lingkungan pedesaan Tegalrejo, dibawah asuhan nenek buyutnya, Kanjeng Ratu Ageng (janda mendiang Sultan HB I). 
Dalam naskah babad dikisahkan: beberapa hari  setelah Dipanegara lahir, Hamengku Buwana I  meminta pada isterinya untuk melihat cicitnya tersebut.  Sambil mengamati bayi di pangkuannya, raja pertama Mataram itu meyakini bahwa kelak anak tersebut akan menjadi tokoh yang jauh lebih besar dari dirinya, dan akan menimbulkan kerusakan besar pada Belanda. Selanjutnya pendiri kraton Mataram itu meminta agar isterinya merawat sendiri bayi tersebut (Peter Carey, dalam makalah ceramahnya di Universitas Diponegoro, Semarang, 26 Maret 1991, Masa Remaja Pangeran Dipanegara: Pendidikan Seorang Satria yang Berbudi).     
Sepeninggal suaminya, Ratu Ageng membawa cicitnya ke kediamannya di Tegalrejo, sebuah desa terpencil beberapa kilometer arah barat-daya istana karaton Ngayogyakarta. Di sanalah Dipanegara dibesarkan dan dididik sebagai layaknya bangsawan  Jawa, sekaligus seorang santri yang taat beragama.
Namun di samping itu, Dipanegara juga banyak membaca naskah-naskah sastra Jawa berupa suluk, kekawin dan babad. Di masa kecil, konon ia sering dipanggil oleh kakek buyutnya, untuk membacakan naskah-naskah tersebut.
Karena itu menarik mencermati catatan-catatan sejarah mengenai Pangeran Dipanegara yang sangat beragam, dan susah dilacak sumber asalinya. Terutama soal adanya pengakuan Dipanegara bahwa dirinya tidak bisa membaca dan menulis. Pengakuan itu sering muncul saat berurusan dengan pihak pemerintahan Belanda.
Namun dalam biografinya, yang kita kenal kemudian sebagai Serat Babad Dipanegara, sang pangeran menulis saat sebagai Wali Sultan disodori sebuah surat perjanjian yang dibuat Belanda;

Kangjeng Pangeran tan apti,
kinen maos kewala mapan tan bisa,
jinalukan tanda-asma,
ngandika tan bisa nulis.

Kanjeng Pangeran  agaknya  kurang berkenan, disuruh membaca saja mengaku tak bisa, ketika diminta  tanda  tangan mengatakan tak bisa menulis; Babad Dipanegara, hal. 91.

Dalam kasus tersebut jelas, pengakuan (tak bisa baca-tulis) itu hanya dipakai sebagai alas an, untuk tidak menyangkutkan diri pada perjanjian tersebut. Begitu juga dengan banyak pengakuan yang sama dalam kasus lain.
Banyak orang menduga, hal tersebut dilakukan karena terdorong oleh sifatnya yang rendah hati, sebagaimana ciri umum kalangan bangsa Jawa pada masa itu. Namun kemungkinan lain, ialah keinginannya untuk sedapat mungkin meniru jejak nabi Muhammad shallallahu allaihi wassallam. Sebagaimana bisa kit abaca dalam sejarah Muhammad ketika didatangi Malaikat Jibril di gua Hira’.
Sang malaikat atas perintah Allah, berkata pada Muhammad, “Bacalah!”
Namun sang nabi menjawab, “Saya tak tahu membaca”

Namun pengakuan Dipanegara ini ditolak oleh pernyataan Louw PJF., dalam tulisannya De Java Oorlog (1825-1830), Deel I, Batavia: M. Nijhoff (1893) yang mengatakan: “Hij schrijft de Javaansche taal, doch zeer slecht.” Dia dapat menulis dalam bahasa Jawa, tetapi jelek sekali. 
Kesaksian lain muncul dari Letnan Knoerle, yang mengantarkan Dipanegara dalam perjalanan ke Menado seusai penangkapan di Magelang. Dalam laporan Knoerle antara lain menuliskan: "In de eerste dagen van onze reis verzekerde mij de Prins, dat hij het schrijven onkundig was; later echter zich op den toon eener meer vertrouwelijke mededeeling gevestigd hebbende, dat mij Diepo Negoro te kennen, dat hij de Javaansche taal gebrekkig schreef."
Pada hari-hari pertama dari perjalanan kami, demikian laporan Knoerle, sang Pangeran memberitahu saya bahwa dia tak dapat menulis, tetapi beberapa waktu kemudian, ketika kami sudah saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik, Dipanegara memberitahu bahwa dia dapat menulis bahasa Jawa, tetapi tidak pandai.  
Terlepas dari pengakuan tersebut, setelah  Dipanegara  berada di tempat pengasingan di Menado dan Makasar, ternyata berhasil menyusun naskah babad. Sebuah naskah dalam bentuk tulisan tangan tidak kurang dari 800 halaman. Naskah dalam bentuk tembang itu, ternyata sangat susah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. 
Mengenai sulitnya penerjemahan  Van Praag menulis:  Calon penterjemah amat banyak. Kontrolir-kontrolir dari pendapatan negara dan perkebunan-perkebunan, seorang komisiner dari salah satu departemen pemerintahan umum, seorang guru, memajukan lamaran. Masing-masing dikirimi suatu bagian untuk diterjemahkan. Beberapa orang mengirimkannya kembali, tanpa berbuat suatu apapun, yang lain mengirimkan hasil kerjanya, yang membuat ahli bahasa Jawa Cohen Stuart ngeri melihatnya, . . .  (S. van Praag, Onrust op Java, Amsterdam, 1947).      

Pangeran Dipanegara dalam "Babad Dipanegara" interpretasi koregrafer Sardono Wahyu Kusuma (2012)
         

Kenyataannya, naskah babad yang kemudian kita kenal sebagai Babad Dipanegara  itu memang luar biasa. Seluruhnya terdiri dari 2.439 bait. Terbagi menjadi 17 pupuh (stanza):   

1). Sinom  (46 bait),
2). Asmaradana (160),
3). Pangkur (134),
4). Mijil (168),
5). Kinanti (140),
6). Sinom (100),
7). Dandanggula (80),
8). Durma   (150),
9). Asmaradana (109),
10). Girisa (133),
11). Maskumambang (109),
12). Pangkur (247),
13). Megatruh (160),
14). Pocung (218),
15). Sinom (116),
16). Dandanggula (100), dan
17). Asmaradana (149). 

Penguasaan terhadap sastra Jawa terlihat sangat kuat. Hal itu terbukti dari digunakannya sebelas jenis tembang macapat. Dari tembang gede (tembang klasik dengan cengkok nada yang rumit, seperti Girisa, Megatruh, Durma, Maskumambang), tembang tengahan (Sinom, Dhandhangula, Asmaradhana, Pangkur), dan tembang alit (Mijil, Kinanti, Pocung).
Artinya, hampir seluruh tembang macapat dipakai untuk mengungkap perasaan yang tersembunyi dalam kalbunya. Tembang macapat sebuah puisi yang rumit, karena ia bukan sekedar mengekspresikan kata, melainkan juga menyusun makna dengan aturan yang ketat, dari jenis tembang macapat yang satu sama lain berkarakter berbeda (mewakili kegelisahan, kegembiraan, harapan, kemarahan, permenungan jiwa).
Dan masing-masing jenis tembang tersebut diatur ketat masing-masing jumlah barisnya, pola persanjakannya (guru lagu, suku kata akhir dalam setiap barisnya), serta ketukan ritme (guru wilangan, jumlah suku kata per-baris). Ketatnya aturan, tak sekedar penulis menghafal pola tersebut, melainkan bagaimana mencari jenis tembang yang tepat dan sesuai dengan isi yang dikandung. Dari sana kemudian bagaimana kekayaan bahasanya, kosakata, yang membuat seorang penulis bisa berakrobat, jungkir-balik, meliuk-liuk untuk memilih-milih kata yang bukan saja dari segi makna benar, namun dari segi melodi juga harus nges (sesuai, indah, impressif).
Apa yang ditulis dalam Babad Dipanegara itu antara lain mengenai situasi Yogyakarta pada masa Sultan HB II, termasuk  adanya Perang Sepehi pada waktu kekuasaan Inggris, juga permusuhannya dengan Daendels, pecahnya Perang Jawa hingga dengan penangkapan dan pembuangannya ke Menado dan Makasar.
Dalam Perang Jawa, Dipanegara figur sentral dalam sejarah pemberontakan pada pemerintahan Hindia Belanda 1825-1830 itu. Dari apa yang dituliskannya dalam Babad Dipanegara, terlihat ia memiliki faset kehidupan yang memukau.

Dalam kaitannya dengan perang, orang melihat dia sebagai sosok ksatria Jawa atau  prajurit, panglima perang  yang sakti dan digdaya, tiada tanding. Hal itu barangkali muncul dari pesona pribadinya, yang dibangun dalam suatu karakter yang ‘his lover’.
Bagaimana pun juga, Dipanegara kanak-kanak dan remaja, masih merasakan euphoria kemenangan Hamengku Buwana I bagi berdirinya Kraton Ngayogyakarta waktu itu.
Satu hal yang pasti, nilai idealitas pada waktu itu adalah sosok super-hero. Dalam kehidupan sehari-hari, Dipanegara banyak mencontoh dan mengikuti sifat serta perilaku nabi Muhammad. Hidupnya amat bersahaja, baik dalam cara berpakaian, makan maupun pergaulannya dengan orang kecil.
Dipanegara sering menyamar sebagai orang kebanyakan. Mengenakan ikat kepala dan kain wulung, serta berbaju hitam. Ia sering bergabung dengan santri di pondok-pondok pesantren di berbagai pedesaan dengan nama samaran Ngabdurakhim. Di saat samarannya hampir terbongkar, dia segera pindah ke pondok pesantren yang lain. Selain itu dia juga suka mengembara. Masuk-keluar hutan, dan tinggal di gua-gua untuk bertapa (khalwat).     
Apa yang dilakukan Dipanegara remaja, sesungguhnya tidak sangat istimewa. Karena hal tersebut agaknya menjadi pola umum yang berlaku pada kalangan pemuda di masa itu. Hingga masa pemerintahan Sultan HB II, masyarakat Yogyakarta masih diliputi eforia kemenangan perang Mangukubumi (Hamengku Buwana I). Maka upaya memperdalam ilmu kanuragan, ketrampilan bermain senjata, menunggang kuda, juga landasan laku batin seperti tirakat, puasa, bertapa di gua keramat, mendapat tempat khusus di kalangan anak muda. Sesuai dengan  situasi dan kondisi jamannya, Dipanegara muda tentunya juga kepo, dan tidak terlepas dari kebiasaan yang berlaku saat itu.
Dari cara dia mengungkapkan perasaan serta kesaksiannya terhadap berbagai peristiwa, atau pun mengurai suatu kasus, menunjukkan ketajaman pikiran dan kuatnya daya ingat.
Selain sebagai karya sastra, tulisan Dipanegara tersebut juga bisa dianggap sebagai naskah sejarah. Bagi peneliti sejarah, karya tersebut memiliki nilai tersendiri karena memberi banyak informasi yang tidak bakal dijumpai dalam arsip maupun dokumen resmi pemerintah kolonial, walaupun untuk menggunakannya diperlukan sikap ekstra hati-hati. Namun, sebagaimana ujar Khalifah Ali, ikatlah ilmu dengan menulis. Karena dengan demikian, ia mewariskan pada generasi berikutnya untuk menjadi manusia pembelajar. Sebagaimana Kartini menjadi penting, karena ia meninggalkan pokok-pokok pikiran yang dituliskannya. Sebagaimana kemudian dari sana, untuk hal Dipanegara, Peter Carrey dan Remy Sylado bisa menuliskan bagi generasi sekarang, untuk belajar dari sejarah.
Pada sisi lain ternyata, Dipanegara memiliki  kemampuan kreatif dalam berimaginasi, dan memiliki citarasa estetis cukup tinggi, khususnya dalam bidang arsitektur. Hal itu tercermin dari tata ruang kawasan dan rancang bangun arsitektur di kawasan situs Tegalrejo, Seloharjo, Selarong, dan Mataraman. Itulah sebabnya juga, dari sisi ego-pribadi, kemarahan Dipanegara Nampak wajar, ketika pemerintahan Hindi Belanda dengan sengaja merusak harmoni situs Tegalrejo, dengan membangun rel kereta api membelah daerah kekuasaan Dipanegara tersebut. Ini hal wajar, sebagaimana munculnya pahlawan-pahlawan Amerika ketika pemerintahan federal membangun jaringan kereta api.
Dari karya biografinya terlihat bahwa bakatnya yang lain, yang membuktikan bahwa pada dirinya mengalir darah sastrawan, sekaligus juga  sejarawan yang baik.
Pangeran Dipanegara wafat di Makassar, Sulawesi Selatan pada 8 Januari 1855, dengan meninggalkan pesona yang bisa dibaca dan dipelajari. Warisan tulisannya, adalah wasiat seorang pejuang dan sekaligus budayawan. Artinya, kepahlawanan tidaklah harus dipandang dari sejarah heroisme yang militeristik, melainkan juga impuls pemikirannya mengenai kehidupan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar