Rabu, Mei 14, 2014

Koalisi Politik Jadah dan Tempe Bacem

Susilo Bambang Yudhoyono, dijadwalkan siang hari ini bertemu dengan Aburizal Bakrie di kantor presiden Republik Indonesia. Apa agendanya? Salah satu tebakan terbesar, adalah pembicaraan koalisi Demokrat dengan Golkar.
Memang, Golkar sudah memberikan sinyal dukungan pada PDI Perjuangan, untuk mendukung Jokowi sebagai capres. Tapi, dalam politik masih serba mungkin, apalagi hari ini juga PDIP dengan Nasdem dan PKB, dipastikan hendak memutuskan soal cawapres bagi Jokowi. Semua kemungkinan bisa terjadi.
Antara PDIP dan Golkar, belum terjadi pembicaraan ‘sangat serius’, namun jika melihat pragmatism Golkar, yang paling menguntungkanlah yang akan diambil. Bisa dipastikan, PDIP tidak akan memberikan kursi cawapres pada ARB, padahal dari beberapa statemen anak buah ARB, arah untuk mendapatkan cawapres bagi ARB (dan juga menteri) tampaknya agenda tersembunyi mereka. Pada sisi itu, Golkar akan kecewa.
Kekecewaan itu, akan membuat Golkar bisa berubah cepat (sama dengan perubahannya yang cepat dari kecenderungan ke Gerindra di Hambalang, dan kemudian berbelok ke pasar Gembrong). Apalagi, kemungkinan koalisi dengan Demokrat juga sangat terbuka.
Demokrat sangat membutuhkan suara Golkar, jika ingin menyelamatkan muka konvensi capresnya. Karena kini tinggal PKS, Hanura, dan Golkar, yang sama-sama jomblo.
PKS dikabarkan menjurus ke Gerindra. Namun dengan masuknya PAN dan Hatta Radjasa jadi cawapres Prabowo, bisa berpengaruh pada PKS, partai yang konon mengaku partai kader, namun sangat pragmatis dengan dikenal dengan kebiasaan ‘mahar politik’ namun piawai menutupi dengan berbagai alas an. Berapa harga tawaran Prabowo, akan ditentukan oleh Hilmi Aminuddin yang mempunyai kekuasaan absolut sebagai ketua dewan syuro.
Sementara secara psikologis, Demokrat hanya bisa menyelamatkan muka dengan dukungan partai-partai jomblo ini. Dengan Golkar saja, sudah terpenuhi syarat pencapresan (10% + 14%), meski akan lebih baik jika ada penambahan dari PKS atau Hanura, atau syukur dua-duanya. Hanura sendiri, meski pernah menyatakan condong ke Gerindra, bagi Wiranto tentu lebih tampak elegan jika bertemu dengan Demokrat (Wiranto sendiri, mengagendakan pertemuan dengan SBY).
Dengan hitungan seperti ini, maka bisa dipastikan Prabowo berpasangan dengan Hatta Radjasa dengan dukungan Gerindra, PPP, PAN. Sementara Jokowi, bisa jadi berpasangan dengan Abraham Samad, dengan dukungan PDIP, Nasdem, PKB.
Ada pun Demokrat, jika tak mau kehilangan kereta dan jomblo tingkat dewa, akan mengajak Golkar, dengan mengajukan pemenang konvensi presidennya (entah Dahlan Iskan, Gita Wiryawan, atau Pramono Edhie), dengan cawapres dari Golkar, bisa ARB atau tokoh lainnya, atau sebaliknya; kemungkinannya masih banyak. Meski dari soal elektabilitas calon, ARB akan mengalah menjadi cawapres, dan mereka meyakini bisa mengalahkan Jokowi.
Akan halnya PKS dan Hanura? Itu terserah mereka saja, perolehan suara mereka tidak penting dan tidak berpengaruh. Dua-duanya, hanya butuh perhitungan yang menguntungkan kocek mereka saja, mau ke Demokrat atau Gerindra.
Dan politik kita, memang lucu, meski dibungkus dengan kata-kata platform kita sama, yang penting click, visi-misi untuk kesejahteraan rakyat dan sebagainya.
Kalau platformnya sama, ngapain diadakan pemilu? Musyawarah mufakat saja sambil makan jadah dan tempe bacem!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar