Selasa, November 13, 2012

Amir Hamzah Pujangga Baru Indonesia


SENYUM HATIKU , SENYUM
Amir Hamzah

Senyum hatiku, senyum
gelak hatiku, gelak
dukamu tuan, aduhai kulum
walaupun hatimu, rasakan retak.

Benar mawar kembang
melur mengirai kelopak
anak dara duduk berdendang
tetapi engkau, aduhai fakir, dikenang orang sekalipun tidak.

Kuketahui, terkukursulang menyulang
murai berkicau melagukan cinta
tetapi engkau aduhai dagang
umpamakan pungguk merayukan purnama.

Sungguh matahari dirangkum segara
purnama raya di lingkung bintang
tetapi engkau, aduhai kelana
siapa mengusap hatimu bimbang?

Diam hatiku , diam
cubakan ria, hatiku ria
sedih tuan, cubalah pendam
umpama disekam, api menyala.

Mengapakah rama-rama boleh bersenda
alun boleh mencium pantai
tetapi beta makhluk utama
duka dan cinta menjadi selampai ?

Senyap, hatiku senyap
adakah boleh engkau merana
sudahlah ini nasip yang tetap
engkau terima di pangkuan bonda.

Tengku Amir Hamzah bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Dari lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam sastra serta kebudayaan Melayu.
Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Disitu ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain. Selama di Pulau Jawa, ia bergaul dengan tokoh pergerakan asal Jawa, seperti Mr.Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodiningrat.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935, terlihat jelas perubahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933). Oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur (Kuala Begumit, 1946) di awal-awal tahun Indonesia merdeka, dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

Minggu, November 11, 2012

Perjalanan Kupu-kupu, Perjalanan Kehidupan


 Seorang anak kecil berlari-lari kecil di tepian hutan pagi. Ia bermain dan berceloteh dengan riang. Hingga akhirnya ia merasa lelah, dan berbaring di bawah pohon rindang. 

Tengah berbaring, tiba-tib
a matanya tertuju sebuah benda yang bergerak-gerak di sebatang dahan.
Ia segera bangkit. Mendekati dan kemudian mengamati benda tersebut. Ternyata adalah sebuah kepompong kupu-kupu.
Bayi kupu-kupu yang berada dalam kepompong itu, menggeliat berusaha keluar. Bukan usaha yang mudah, karena lubang kepompong itu tampak terlalu kecil. Membuat calon kupu-kupu itu kesulitan untuk keluar.
Sekian waktu mengeliat-geliat, bayi kupu-kupu itu terdiam sejenak. Mungkin istirahat karena kecapaian.
Anak kecil yang sedari tadi mengamati kejadian itu, merasa iba melihatnya. Karena ingin menolong sang kupu-kupu, anak itu berlari ke rumahnya, mengambil gunting, kemudian kembali ke kepompong itu.
Dengan penuh kehati-hatian, sang anak membedah kepompong dengan guntingnya, sehingga kulit itu terbuka. Anak kecil itu merasa lega. Namun dia merasa heran, karena kupu-kupu itu badannya kecil. Sayapnya tak bisa mengembang dengan sempurna.
Walau kupu-kupu itu berusaha berkali-kali, tetap saja tak mampu mengepakkan sayapnya. Kupu-kupu itu pun tak pernah bisa terbang.
Alangkah malangnya.



Entahlah, adakah anak kupu-kupu itu, atau anak kecil yang penolong itu, pernah membaca dongeng. Bahwa kesulitan yang datang, akan menempa kita menjadi sosok yang kuat menjalani kehidupan.
Sebenarnya kupu-kupu tersebut tengah dalam proses untuk menguatkan tubuh dan sayapnya. Namun karena datangnya bantuan, justru membuat proses tersebut terganggu, dan membuat sang kupu-kupu menjadi lemah, dan tak bisa terbang.
Demikianlah juga manusia. Ketika kita sering menghadapi kesulitan dan cobaan hidup, dan kita berusaha untuk mencari jalan keluar, dengan menggunakan seluruh potensi dan kemampuan yang kita miliki, sesungguhnya itu berarti kita tengah menguatkan sayap-sayap kita, agar sentausa dan bisa terbang menuju kesuksesan.
Kemudahan dan kenyamanan dalam hidup, diam-diam suka menyebabkan kita menjadi statis. Tidak memiliki variasi dalam hidup, yang menyebabkan kemandegan untuk mengembangkan kreativitas dan penempaan mental.
Kesulitan demi kesulitan, sesungguh-sungguhnya, adalah obat mujarab, agar kita tetap dinamis dan berkembang kreativitasnya. Orang-orang sukses adalah orang yang suka akan tantangan dan kesulitan, karena disitulah mereka menemukan semangat, dan gairah hidup.
Bahkan, tak segan, mereka sengaja membuat kesulitan-kesulitan, ketika kondisi mereka sudah nyaman. Air tenang membahayakan, tapi air beriak memberikan tantangan, meski kebanyakan akan berkata ‘air beriak tanda tak dalam’. Sedalam apakah pengetahuan kita tentang kedalaman?
Welas tanpa alis, kata orang Jawa, ialah justeru ketika dengan bantuan kita, yang lahir adalah belenggu. Betapa banyak anak-anak kita, generasi muda, justeru tumbuh dalam kedunguan dan ketakutan, karena dalih kasih-sayang orangtua yang penuh kekhawatiran di balik hardikan-hardikannya, atau bahkan pemanjaan-pemanjaannya.



Orang yang Selalu mengeluh ketika dihadapkan pada kesulitan dan permasalahan, serta selalu mengharapkan bantuan dan pertolongan orang lain dalam menghadapinya, akan menjadi manusia yang lemah, dan tak akan pernah menemukan kesejatiannya, juga kesuksesannya yang sejati, yakni menjadi diri-sendiri. Metharming with love for you fam and who-ever!


Orang-orang yang Mudah Dicuciotak


Tidak semua orang bisa dengan mudah dicuci otak (brainwashing). Namun beberapa orang tertentu justru sangat mudah terpengaruh atau dicuci otak.
Ini beberapa tipikal orang yang mudah dicuci otak. Dan boleh dicoba.
Beberapa faktor psikis dapat membuat orang mudah terpengaruh dengan proses cuci otak:
1. FAKTOR PSIKIS YANG LABIL. Misal memiliki rasa negatif, bingung atau ragu dengan identitas dirinya sendiri.
2. PSIKOLOGIS YANG SOMBONG. Tak hanya orang yang psikisnya labil, yang mudah dicuci otak. Orang yang percaya diri berlebihan, alias kesombongan psikologis, juga bisa dengan mudah dipengaruhi.
Misal orang-orang yang egois dan bangga, bahwa apapun yang ia percaya secara otomatis adalah benar, namun tidak didukung dengan pengetahuan yang luas dan mendasar.
3. ORANG YANG MENGALAMI TEKANAN FISIK DAN MENTAL. Hal ini karena kondisi tersebut membuat orang menjadi kelelahan, tidak berdaya, hingga akhirnya mengurangi kemampuan berpikir, dan menolak pengaruh baru yang diberikan.
Kenapa dengan tipikal tersebut gampang dicuci otak? Karena dalam cuci otak ada tiga prinsip dasar yang bisa mengenai orang-orang seperti contoh di atas.
Dalam psikologi, studi tentang cuci otak sering disebut dengan reformasi pikiran (thought reform) yang masuk dalam lingkup pengaruh sosial. Teknik cuci otak ini nantinya bisa mengubah sikap, kepercayaan dan perilaku orang.
Cuci otak merupakan bentuk parah dari pengaruh social, yang menggabungkan semua pendekatan untuk menyebabkan perubahan dalam cara berpikir seseorang. Hal itu terjadi tanpa persetujuan orang tersebut, dan sering bertentangan dengan kehendaknya (DiscoveryHealth).
Karena cuci otak adalah bentuk pengaruh invasif, teknik ini memerlukan isolasi lengkap dan ketergantungan subjek. Itu sebabnya, kegiatan cuci otak kebanyakan terjadi pada kamp penjara atau tempat dengan pengawasan penuh. Atau bisa juga, pada keluarga yang tertutup.
Si agen pencuci otak (brainwasher) harus memiliki kontrol penuh atas target (brainwashee), sehingga menyebabkan pola tidur, pola makan dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia lainnya. Tergantung pada kehendak agen. Agen dalam hal ini, bisa berwujud orangtua, dan target bisa berupa anak.
Dalam proses cuci otak, agen secara sistematis memecah identitas target ke titik yang tidak bekerja lagi. Agen kemudian menggantikannya dengan satu set perilaku, sikap dan keyakinan yang bekerja di lingkungan target saat ini. Itulah yang membuat kebanyakan target bisa melupakan kepercayaan, dan keyakinan yang dilakukannya, sebelum proses cuci otak.
Beberapa definisi cuci otak, memerlukan adanya ancaman bahaya fisik. Definisi lain bergantung pada paksaan non-fisik dan control, sebagai sarana efektif untuk menegaskan doktrin atau pengaruh.
Terlepas dari definisi yang digunakan, banyak ahli percaya,  bahwa efek dari proses yang paling sering terjadi dari cuci otak adalah efek jangka pendek. Artinya identitas lama korban, pada kenyataannya, tidak diberantas. Tetapi hanya disembunyikan. Jika 'identitas baru' dihentikan, maka keyakinan awalnya akan mulai kembali normal.
Selamat mencoba.

Sabtu, November 10, 2012

Dongeng Malming tentang Nenek yang tidak Sopan


Syahdan menurut sahibul bokis, pada suatu malming, adalah seorang Muda Rupawan naik bis. Namanya juga malming, habis mandi tadi sekujur tubuh sudah di body-wash dengan aneka pewangi. Dua belah keteknya juga udah disemprot-semprot. Rambutnya klimis kayak Pak Beye. Siapa tahu ada yang nyantol.
Saat itu, Tokoh Kita melihat seorang nenek tampak mual-mual dan ingin muntah. Lalu Tokoh Kita nan Rupawan menghampiri, dan bertanya pada nenek tersebut dengan ramah, "Kenapa Nek, nenek mual ya?"
"Iya, Nak..." Nenek tua (ya masak nenek muda) itu kemudian balik bertanya, "Nak, boleh lihat mukanya sebentar?"
"Boleh, Nek,…” Sang Muda Rupawan menyahut dengan penuh senyum, “kenapa Nek?"
"Biar muntahnya gampang, Nak,…!"

Dongeng Malming tentang Sarung


Hujan turun dengan derasnya di malming ini. Betapa menyebalkan. Bukan soal hujan itu, tapi sejak sore tadi, William Wallace (nama tokoh kita ini, biar keyen dikit), terpaksa harus nemenin bokap ceweknya. Betapa menyebalkan, apalagi yang bokap tak bergeser duduknya. Padahal acara bola Timnas, yang berjalan nggak mutu itu, sudah lama usai. Kapan kesempatan untuk generasi muda bangsa untuk beraksi kalau begini ini? Huh!
"Sudahlah, Nak Wallace, nggak usah gelisah," berkata bokap si cewek, "Nak Wall tidur saja di sini, kalau pulang nanti malah kehujanan, masuk ngain,..."
Sebenarnya, tawaran itu sesuai harapan bangsa. Tapi si double u double u (WW) itu mesti jaga performance, "Ah tidak usah, Pak. Nanti malah merepotkan. Lagian, nggak nyampe lima menit udah nyampe ke kost, Pak,..."
Rumah, tepatnya tempat kost WW memang dekat, namanya juga cinlok, agar hemat transport.
"Tidak kok. Nak Wall bisa tidur di kamar tamu,... Mmmm, ya udah, bapak tinggal dulu ya," jawab si bokap sambil beranjak melangkah masuk ke kamarnya.
Jihaaaa, merdeka!
William Wallace pun penuh semangat. Si pacar berinisiatif membuatkan minuman hangat, dan meninggalkannya  menunggu sendirian di ruang tamu.
Tak lama kemudian, sang cewek muncul sembari membawa minuman. Namun, ternyata si WW tak ada.
Ruang tamu kosong.
Namun, tak berapa lama kemudian, muncullah WW dari balik pintu depan, dengan pakaian basah kuyup sambil membawa kain sarung, "Maaf Dik, aku tadi pulang ke kost bentar, ambil sarung ini," kata WW yang basah kuyup, "soalnya, aku nggak bisa tidur kalau nggak pakai sarung kesayanganku ini,..."

Kamis, November 08, 2012

Anekdote Negeri Kaya Raya; Indonesia Raya


Ketika kau haus, kau minum Aqua, yang 74% sahamnya milik Danone dari Perancis. Atau ketika kau hendak memulai atau mengakhiri harimu, kau hirup Teh Sariwangi yang 100% saham milik Unilever dari Inggris. Mau agak manis? Ada gulaku yang diimpor.

Apalagi yang kau banggakan? Minum susu? Susu SGM, yang kata takglinenya dibikin Rendra “semanis susu Ibu” itu? Perusahaan itu kini 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda. Lalu mandi pakai Lux dan gosok gigi dengan Pepsodent, itu produk Unilever Inggris.
Bagaimana sarapan pagi kita? Nikmati beras impor dari Thailand.
Mereka yang suka ngisep rokok, boleh isep rokok produk Sampoerna yang 97% saham milik Philip Morris Amerika.
Sudah barang tentu, keluar rumah naik motor atau mobil buatan Jepang, China, India, Eropa, tinggal pilih. Sesampai di kantor tinggal nyalain AC buatan Jepang, Korea, China. Pakai komputer, hp, BB, dengan berbagai operator Indosat, XL, Telkomsel? Semuanya milik asing; Qatar, Singapura, Malaysia.
Mau belanja? Ada Carefour dari Perancis, atau ke Alfamart dengan 75% saham Carefour? Masih ada Giant, ini punya Dairy Farm International, Malaysia yang juga pemilik saham Hero.
Sementara malam-malam iseng nongkrong ke Circle-K? Starbuck? Makan ayam goring dari Koloner Sanders? Dan seterusnya dan sebagainya? Kehabisan duit cash? Ada ATM, ada phone banking, tinggal pencet di BCA, Danamon, BII, yang semuanya akan memberi keuntungan pada para pemiliknya dari luar negeri.
Bank Niaga saja, hanya namanya, pemilik juga dari negeri asing. Belum kalau kau mau bangun rumah, dengan semen Tiga Roda,  Indocement, yang sekarang milik Heidelberg Jerman dengan menguasai 61,07%. Begitu juga Gresik, milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong milik Holcim Swiss.

Dan kini kenyataannya harus impor susu sampai 90%, dan mesti didatangkan dari Selandia Baru. Total impor pangan pada 2011 mencapai Rp 125 triliun. Sebanyak 2 juta ton beras per tahun impor dari Vietnam, Thailand, China, India, dan Pakistan. Jagung dibeli dari India, Argentina, dan AS. Kedelai impor 70 persen dari AS, Malaysia, Brasil, dan Thailand. Terigu impor 100 persen dari Australia.
Belum pula daging sapi impor 30 persen dari Australia. Gula impor 30 persen, gandum 5 juta ton per tahun. Tak cuma garam yang kita beli 50 persen dari Australia, India, Singapura, tapi juga dari Selandia Baru, dan Jerman.
Ikan asin saja, ikan asin Bro, pun impor. Padahal 40 jenis ikan impor itu, ternyata ada di perairan kita.

Lantas, apa makna klaim pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait keberhasilan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7 persen sebagai capaian yang tinggi, setara dengan China, India, dan Korea?
Menyesatkan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sama sekali berbeda dengan Korea, India, dan China, karena mereka memang ditopang oleh produksi, produktivitas Industri yang dikerjakan oleh bangsanya sendiri. Indonesia? Seperti yang bisa dibaca pada awal tulisan ini.
Ekonomi yang tumbuh di Indonesia adalah milik asing. Perusahaan raksasa asing, merekalah yang mengeruk dan menangguk kekayaan dan keuntungan bangsa ini.
Yang meningkat keuntungannya adalah perusahaan migas, namun 85 persen di antaranya milik asing. Batubara yang juga 75 persen dikuasai asing, mengalami keuntungan. Kemudian perusahaan tambang mineral, 95 persen adalah milik Freeport dan Newmont. Bahkan, industri perbankan kita, 65 persen dimiliki asing. Tak hanya itu, sektor perkebunan sekitar 50 persen sampai 65 persen dimiliki asing.
Semua yang tumbuh di negeri ini, milik bangsa lain. Lantas darimana pertumbuhan ekonomi itu diklaim sebagai success story?

Sementara itu, parahnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh utang luar negeri, surat utang atau obligasi negara. Saat ini utang pemerintah mencapai Rp 2.000 triliun. Utang swasta mencapai Rp 1.000 triliun. Sebagian besar bersumber dari luar negeri.
Setiap tahun, pemerintah dan swasta membayar bunga dan cicilan utang pokok lebih dari Rp 350 triliun. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang dari Rp 100 triliun berdasarkan harga konstan tahun 2000. Jadi mau apa? Mak dikipe!
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia sama sekali tidak cukup untuk membayar bunga utang dan cicilan utang dan pokok, baik milik pemerintah maupun swasta.
Sementara masyarakat Indonesia dipaksa hidup dengan kredit konsumsi. Tahun 2012 total kredit konsumsi mendekati Rp 700 triliun, dengan bunga yang sangat tinggi, mencapai 32 persen.
Pemerintahan SBY membangun ekonomi dengan mencekik rakyatnya sendiri demi mengabdi pada asing.
Sudah demikian, bak jatuh ketimpa tangga, lapangan kerja langka, pengangguran meluas, upah rendah, lebih dari 75 persen bekerja di sektor informal, tanpa jaminan keberlangsungan hidup yang jelas.
Banyak ekonom yang kritis terhadap klaim keberhasilan pemerintah, mereka tak ragu menyebut pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY adalah pertumbuhan palsu, sama dengan pertumbuhan ekonomi pada era kolonial. Pertumbuhan ekonomi bagi orang asing, bangsa lain, tetapi menistakan bangsa sendiri.
Dan semakin tak berharganya kita, ketika bangsa ini pun hanya bisa mengandalkan korupsi, sebagai satu-satunya produk asli dalam negeri yang paling handal.
Negeri ini, Indonesia Raya yang konon kaya raya, memang dalam situasi menyedihkan, sangat.


Di bawah ini, daftar peringkat penyelenggarakan pemerintahan daerah yang korup. Ini hanya sebagian kecil. Belum kita masukkan korupsi di level birokrasi pemerintahan pusat. Di eksekutif, di legislative, bahkan di judikatif. Demikian juga permainan KKN (Korupso, Kolusi, Nepotisme) dalam perselingkungan pemerintah dan swasta. Bisa lebih buruk lagi, karena angkanya jauh lebih gede.

PERINGKAT KORUPSI DI PEMERINTAHAN PROVINSI SE INDONESIA

Berdasar ihtiar hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada semester II tahun 2011, dari tata-kelola pemerintahan daerah tingkat I (propinsi) se Indonesia, ditemukan kerugian negara mencapai Rp 4.174.640.290.000 (4,1 trilyun) dengan 9.703 kasus. Fitra (Forum Indonesia untuk Tranparansi Anggaran) mengolah data itu dan membuat pemeringkatan propinsi terkorup, yang hasilnya tak jauh beda dengan yang telah diungkap PPATK, sebagai berikut:

01). DKI Jakarta, Rp 721, 5 miliar, 715 kasus
02). Aceh Rp 669,8 miliar dan 620 kasus
03). Sumatera Utara, Rp 515,5 miliar, 334 kasus
04). Papua, Rp 476,9 miliar, 281 kasus
05). Kalimantan Barat, Rp 289,8 miliar, 334 kasus
06). Papua Barat, Rp 169 miliar, 514 kasus
07). Sulawesi Selatan, Rp 157,7 miliar, 589 kasus
08). Sulawesi Tenggara, Rp 139,9 miliar, 513 kasus
09). Riau, Rp 125,2 miliar, 348 kasus
10). Bengkulu, Rp 123,9 miliar, 257 kasus
11). Maluku Utara, Rp 114,2 miliar, 732 kasus
12). Kalimantan Timur, Rp 80,1 miliar, 244 kasus
13). Sumatera Selatan, Rp 56,4 miliar, 239 kasus
14). Nusa Tenggara Barat, Rp 52,8 miliar, 307 kasus
15). Sulawesi Tengah, Rp 52,8 miliar, 294 kasus
16). Sulawesi Barat, Rp 51,3 miliar, 335 kasus
17). Gorontalo, Rp 48,8 miliar, 203 kasus
18). Maluku, Rp 47,8 miliar, 326 kasus
19). Nusa Tenggara Timur, Rp 44,4 miliar, 219 kasus
20). Jawa Barat, Rp 32,4 miliar, 363 kasus
21). Lampung, Rp 28,4 miliar, 181 kasus
22). Sumatera Barat, Rp 27,4 miliar, 188 kasus
23). Kalimantan Selatan, Rp 22,8 miliar, 221 kasus
24). Kalimantan Tengah, Rp 21,4 miliar, 153 kasus
25). Banten, Rp 20,1 miliar, 207 kasus
26). Kepulauan Riau, Rp 16,1 miliar, 109 kasus
27). Sulawesi Utara, Rp 16 miliar, 227 kasus
28). Jambi, Rp 15,8 miliar, 172 kasus
29). Jawa Timur, Rp 11,424 miliar, 153 kasus
30). Jawa Tengah, Rp 10,4 miliar, 145 kasus
31). Bali, Rp 6,2 miliar, 81 kasus
32). DIY, Rp 4,7 miliar, 23 kasuss
33). Kepulauan Bangka Belitung, Rp 1, 9 miliar, 76 kasus

Selasa, November 06, 2012

Perampokan Freeport Atas Emas Papua


Sebentar hari lagi, Amerika Serikat akan menentukan presiden barunya. Apakah masih Obama, atau dimenangkan oleh penantangnya, Romney.
Adakah pentingnya bagi Indonesia? Bisa ada bisa tidak, baik berkait dengan Pilpres 2014, atau masalah-masalah geo-politik dan ekonomi kita.
Tapi, marilah kita baca soal Freeport, pertambangan emas terbesar di dunia yang ada di Indonesia dengan kuasa AS!  Ia terbesar dan termahal, namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang, adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut.
Freeport juga banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. They are no better than a leech!
Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah "JFK, Indonesia, CIA and Freeport", antara lain begini bunyinya, dengan penggubahan:
Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan, jika Freeport Sulphur (demikian nama perusahaan itu awalnya), nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.
Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasi. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya, terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.
Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu, tentang apa yang ditulis Jean Jaques Dozy, yang selain memaparkan tentang keindahan alamnya juga menulis kekayaan alamnya yang begitu melimpah.
Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, kandungan biji tembaga yang ada di sekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, bukan tersembunyi di dalam tanah.
Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat, mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bangkit kembali, dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg, dan juga wilayah sekitarnya. Penelitian ini kemudian ditulisnya dalam sebuah buku berjudul “The Conquest of Cooper Mountain”. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi, karena semua harta karun itu  terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.
Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!
Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama “Gold Mountain”, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company, untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama, dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda memanas, dan Sukarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.
Tadinya Wilson ingin meminta bantuan Presden AS, John Fitzgerald Kennedy, agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK spertinya mendukung Sukarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan, jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar, untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu, sepertinya, Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.
Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat, menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS, dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!
Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat, ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan, penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya, atas kebijakan politik di Amerika.
Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy, mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.
Tokoh ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).
Sukarno pada tahun 1961, memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen laba diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia, sangat terpukul oleh kebijakan Sukarno ini. Augustus C. Long amat marah dan amat berkepentingan agar Sukarno disingkirkan secepatnya.
Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital, NY, tempat dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi, jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Dalam tulisan Lisa Pease, secara cermat ditelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini, dalam masa itu (1965) yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial?
Pease mendapatkan data, jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS, untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu.
Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Sukarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat, yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.
Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Soeharto akan mendesak Angkatan Darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Sukarno berhalangan.
Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee, juga pernah bersaksi, jika hal itu benar adanya.
Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Sukarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Sukarno masih sah sebagai presiden Indonesia, bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?
Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam Angkatan Darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.
Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto adalah Freeport!
Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Sukarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Soeharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.
Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.
Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik "Jim Bob" Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia, dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.
Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul "Grasberg", setebal 384 halaman, dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar di dunia.
Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS, dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis, jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, yang ada di Irian Barat itu, merupakan yang termurah di dunia!
Istilah Kota Tembagapura, sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya, dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu, dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura, sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru. Di sana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika.
Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!
Kesaksian seorang reporter CNN, yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara dengan helicopter, melaporkan gunung emas tersebut pada tahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut, telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun, yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua, yang sampai detik ini masih saja layaknya hidup di zaman batu.
Freeport merupakan ladang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer, sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri-sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran menganggarkan dana untuk itu, yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil, karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat besar. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.
Belum lagi dalam perkembangan terakhir, yang menyedihkan, PT Freeport Indonesia itu terlibat dalam hutang pada Pemerintah Indonesia, karena belum membayar royalti kepada pemerintah Indonesia sebesar Rp1,6 triliun, selama kurun waktu 2002-2010.
Koordinator Analisis Anggaran ICW Firdaus Ilyas, mengatakan berdasarkan kontrak perhitungan royalti antara pemerintah Indonesia dan Freeport, total royalti yang seharusnya dibayar Freeport dalam kurun 2002-2010 adalah AS$1 miliar atau sekitar Rp8,8 triliun. Namun, ternyata royalti yang dibayar Freeport dalam kurun waktu itu hanya AS$873,2 juta. Dalam tahun 2012, Freeport pun masih mengutang deviden ke Indonesia Rp 350 milyar. Sampai saat ini pemerintah cuma mendapatkan jatah 9,36% saham PT Freeport Indonesia.  | Dikutipkan dari berbagai sumber.

Sabtu, Oktober 27, 2012

Sumpah Pemuda dan Sumpah Serapah Kita Hari-hari Ini

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar Indonesia, mengatakan sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945, hingga penggulingan diktator Soeharto. Hanya sayang, yang terakhir itu, mereka tidak melahirkan pemimpin, kata Pram.
Perhimpunan Indonesia, yang beranggotakan mahasiswa Indonesia di Belanda, merupakan salah satu organisasi pemuda yang banyak menyumbang gagasan mengenai Indonesia merdeka, terutama terkait terselenggaranya Kongres Pemuda dan lahirnya Sumpah Pemuda.
Para pemuda-pemuda itu, sekembali mereka ke tanah air, telah menjadi kemudi dari berbagai partai politik pergerakan di tanah air: Partai Nasional Indonesia (PNI) sebelum dibubarkan, Partindo, PNI-Baru, PKI, dan Partai Syarekat Islam.
Merekalah, yang masih dalam usia dua-puluhan, menulis panjang lebar mengenai gagasan-gagasan Indonesia Merdeka: Sukarno, Hatta, Sjahrir, Semaun, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Gagasan-gagasan itu tidak hanya diuraikan dalam coretan tinta di atas kertas, tetapi diperjuangkan habis-habisan dan menjadi pegangan politik di sepanjang hidupnya. Mereka rata-rata sudah mencapai posisi politik yang menentukan pada usia-usia di bawah 30 tahun, bahkan beberapa di bawah 20 tahun.
Sekarang, yang disebut generasi muda adalah mereka yang kadang sudah berumur 40-an tahun. Fakta ini jelas menunjuk dua hal, jika tidak terjadi kemunduran, bisa jadi memang involusi, yang keduanya ditengarai sebagai gagalnya regenerasi pada bangsa ini.
Sementara itu, jika menurut para jadulers "pemuda adalah harapan bangsa", maka menurut para pembokis "pemuda adalah harapan pemudi".
Meski Sukarno pernah megintrodusir sebutan macam "seniman-seniwati", "karyawan-karyawati", "pemuda-pemudi", maka sebutan yang kedua jarang muncul. Buktinya, seniman dianggap lebih merupakan penerjemahan dari "artist" karena tak kita kenal lagi penyebutan seniwati.
Kita kemudian juga lebih mengenal generasi muda, anak muda, dan tak pernah ada generasi mudi, anak mudi. Begitu juga adanya Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), yang sesungguhnya memang dilakukan para pemuda. Dan sejarah tak pernah mencatat adanya peristiwa "Sumpah Pemudi", kecuali "Konges Perempuan".
Kenapa begitu? Bertanyalah pada sejarah kita yang sexis dan bias gender itu. Menyebut "pemuda adalah harapan pemudi" juga menunjukkan penyakit itu, karena memposisikan sang pemuda lebih mulia, meski faktanya bisa sebaliknya.
Lantas, jika hari ini kita mengenang 28 Oktober 1928 sebagai Hari Sumpah Pemuda, apa yang bisa kita renungkan, ketika sumpah (atau janji) itu menjadi sumpah serapah? Niatan untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa persatuan bahasa Indonesia, sama sekali tak menemukan bentuk dan arahnya.
Partai politik yang kita yakini sebagai alat menuju demokrasi, telah menjebak anak-anak muda dalam pragmatisme kekuasaan, dan bahkan menjebloskan mereka menjadi maling-maling uang Negara.
Teriakan-teriakan revolusi, tak pernah meyakinkan kita, karena lebih banyak muncul sebagai idiom kemarahan, namun kita tak mampu diyakinkan karena tiadanya konsepsi. Jangankan revolusi Indonesia, revolusi PSSI yang pernah popular diteriakkan beberapa waktu lalu pun, sampai sekarang juga tak jelas, jika tak boleh dibilang lebih buruk.
Ini memang bangsa yang sibuk dengan kata-kata. Dan akhirnya, Sumpah Pemuda itu pun lebih sering menjadi Sumpah Serapah Pemuda. Bukan sebuah janji akan masa depan, namun kemarahan karena ketidakmampuannya menerjemahkan hari-hari kita saat ini. Selamat bersumpah serapah!

Anak Muda dan Revolusi Indonesia


Hampir semua pemimpin dunia, selalu mengatakan yang bernama perubahan, senantiasa dipelopori oleh pemuda. Sukarno mengatakan, dengan satu pemuda saja, ia mampu membuat revolusi.
Ada dua hal mesti dicurigai dalam pernyataan itu. Pertama, ia sedang hendak mengatakan, bahwa ia dulu pernah muda, dan berjasa melakukan perubahan. Dua, ia sendiri sedang membujuk para pemuda, agar lupa diri dan tidak menuntut posisi pemimpin itu, dengan memuji-muji kaum muda.
Kenapa? Bagi Indonesia semata, kita tahu pasti, bahwa tak ada anak muda revolusioner yang usianya di bawah atau setara dengan Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, yang telah menghunjukkan kematangannya dalam awal perjuangan dan dengan usia rata-rata di bawah 30, dan bahkan 20.
Kita lihat kini, seolah ada degradasi angka, sehingga mereka yang sudah berusia di atas 35-50, masih boleh dikatakan generasi muda. Pernyataan ini, jika datang dari generasi umur itu, tandanya mereka adalah orang yang minta bagian, posisi, atau telat dalam merebut kekuasaan. Dan hanya tahu, bahwa manusia pengabdi itu harus dengan status, posisi, jabatan, lembaga,...
Para manula (manusia lanjut usia) itu, selalu mengatakan, anak muda sekarang, kualitasnya jauh dibanding yang dulu. Sesunguhnya, pernyataan itu hanya ingin mengatakan, bahwa mereka dalah bagian dari kegagalan dalam proses transformasi generasi itu.
Dalam hukum alam dan kausalitas, tak ada kemendadakan, tak ada ujug-ujug, karena semuanya saling mengait.
Apa yang terjadi pada masa kini, beserta kualitasnya, adalah cerminan dari perilaku berupa kesuksesan dan kegagalan generasi sebelumnya. Dalam formalisme berfikir (termasuk beragama, berbangsa, bernegara), makin membuat kita masuk dalam pragmatisme, yang lebih memandang azas manfaat, lebih menghargai management by product dan bukan by proccess. Sehingga makin menjadi vandalis dalam hal cara mencapai kesuksesan, kemenangan, dan itu berarti kekuasaan.
Kita tak pernah merenungi, bahwa itu semua adalah limbah kapitalisme, di samping kemiskinan struturalistik, yang diakibatkan oleh praktik penghisapan. Kapitalisme bukan sekedar angka-angka ekonomi, melainkan juga wajah kebudayaan yang bopeng, lebih karena ia bersujud pada materialisme daripada idealisme.
Revolusi yang ditawarkan para petualang di negeri ini, akan sama saja akhirnya dengan para penguasa dan tiran yang mereka kritik. Karena revolusi politik tanpa perubahan mind-set manusia Indonesia, adalah omong kosong. Pada sisi ini, kita juga bersedih, karena kelompok agama pun masuk dalam praksis politik, setelah mereka pun merasa gagal mendidik bangsa dan negara ini menjadi beradab.
Mengapa tidak mau berendah hati, untuk bersama berhimpun, menyusun road-map Indonesia ke depan? Masing-masing sibuk berargumen. Dan kita benar-benar tak punya pemimpin dengan kepemimpinan berkelas. Kita berada dalam kehidupan yang penuh pertikaian. Pertikaian itu, sebagaimana pertikaian di rumah, tak pernah sempat mendidik anak-anaknya, kecuali dendam, keberpihakan, sakit hati, fanatisme buta, dan balas dendam.
Maka jalan satu-satunya, biarkanlah periode pembusukan generasi ini terjadi. Sembari menyatakan salut pada anak-anak muda, yang bekerja diam-diam, di pelosok-pelosok negeri Indonesia Raya ini, jauh dari sorotan media dan tak pernah duduk sembari ketawa-ketiwi di forum-forum talk-show yang eksploitatif.
Mereka melakukan pendampingan, pembelajaran, pemberdayaan, pada tumbuhnya generasi baru Indonesia, dengan cara masing-masing. Mengisi pada sisi yang selama ini kita abaikan, tumbuhnya manusia Indonesia yang berfikir dan mempunyai keteguhan karakter. Karena hanya dengan itulah, semoga mata rantai kebuntuan bangsa ini bisa terputus. Karena, menyedihkan ketika generasi Anas Urbaningrum, Andi Arief, atau siapa pun, tak bisa membebaskan diri dari jebakan pragmatisme politik yang makin parah.
Sebagaimana ghalibnya bangsa-bangsa di dunia, yang tumbuh dari kembangan sayap eksplorasi dan ekploitasi, kita lebih cenderung abai pada yang pertama, serta mendewakan sisi eksploitasi, karena berjalan tanpa keteladanan.
Jika kaum muda inginkan revolusi, singkirkan kaum tua dan para komprador yang macet dan stagnan itu. Itu artinya, memang dibutuhkan generasi baru, karena barisan Anas pun termasuk generasi lama yang juga tidak relevan lagi untuk masa depan.
Selamat bersumpah serapah, wahai Pemuda dan Pemudi Indonesia, yang bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa persatuan Bahasa Indonesia! | Sunardian Wirodono, Lereng Merapi, 26 Oktober 2012

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...