Senin, Januari 28, 2019

Sebuah Biopic Pemikiran Marx

Akhirnya menemu juga, film biopic yang tak begitu menjengkelkan. Sebuah film sejarah (pemikiran) Karl Marx yang penuh diksi, padat, dan rancak. Itulah kesan saya menonton ‘The Young Karl Marx’, garapan sutradara yang aktivis politik Raoul Peck. Diproduksi 2017 dan diputar pertama kali di Festival Film Berlin pada tahun yang sama, memperingati 200 tahun Karl Marx.

The Young Karl Marx (dalam Perancis disebut; Le jeune Karl Marx, dan Jerman; Der Junge Karl Marx) adalah film drama sejarah yang berbeda. Ini bukan tentang sejarah seorang persona, tetapi lebih pada pergulatan gagasan. Skenario ditulis bersama Pascal Bonitzer, memperkuat dalam dialog-dialog badas, cerewet dengan kata-kata tak mudah bagi yang tak memahami dialektika Marx maupun Engels.

Me-review film (yang tentu tak mungkin diputar terbuka di Indonesia) ini, saya tak ingin membicarakan (content) pemikiran Marx, tentang komunisme, melainkan lebih berfokus bagaimana film ini dibuat.

Raoul Peck seorang aktivis politik. Film sebelumnya, I Am Not Your Negro, film dokumenter (Amerika Serikat, 2016), cukup menggemparkan dan menyabet banyak pernghargaan di berbagai festival internasional. Dokumenter yang menguliti sejarah rasisme di AS dengan memotret Medgar Evers, Malcom X, Martin Luther King, Jr., dari catatan James Baldwin.

Dari hal itu, ketahuan darimana dan bagaimana passion Peck. Yang segera menonjol pada The Young Karl Marx upayanya akan impresi. Pola editing yang cepat (mengingatkan pada cinema mediocre televisi), justeru membuat film ini tak ketinggalan gaya dalam idiom visualnya. Dengan cara itu pula, Peck meringkas sejarah Marx yang panjang, dan complicated. Bersama Bonitzer, Peck mengeksplorasi tema bertekstur serius, dengan multi-bahasa (Jerman, Inggris, dan Perancis). Sebagai juga pembuat film dokumenter, pendekatan atas otentisitas sangat berpengaruh pada Peck.

Peck secara mencekam membuka filmnya dengan beberapa snapshots simbolik. Di sebuah hutan, bertutur tentang kayu kering, hukum, pertentangan kelas dalam perspektif yang dibangun dari Montesqiue tentang persepsi. Bahwa untuk mengumpulkan kayu yang hidup seseorang harus merusak kayu yang hidup. Di dunia ini, menurut Montesqiue, ada dua jenis pengrusakan, ketika seseorang tidak memperhatikan hukum, dan satu lagi ketika hukum merusak mereka.

Fokus film ini, pada dialektika pemikiran yang terbangun dari persahabatan Karl Marx dan Friedrich Engels. Dialog-dialog cadas seolah air bah, mengenai sesuatu yang tak mudah. Kompleksitas pemikiran tentang manifesto komunisme, membuat kita seperti dicemplungkan dalam blender agitprop. Dalam beberapa hal, resikonya, kehilangan besutan dramanya, terutama pada loncatan waktu. Kecuali, saran saya, baca dulu sejarah hidup dan pemikiran Marx, baru kemudian menontonnya.

The Young Karl Marx, sebagaimana drama periode serebral, penuh semangat dan terfokus, tanpa kompromi. Bisa jadi karena Peck aktivis politik, sehingga radikalisme merangsek dalam dialog sangat subversif. Bicara, bicara, dan lebih banyak bicara. Sebuah tontonan orang-orang yang sangat marah, berbicara tentang ide-ide, tetapi menjadi begitu menyerap dan bahkan mencekam. Di mana antara membaca secara sinematic dan buku, seolah saling bertindih. Bahkan dalam adegan percintaan di atas ranjang antara Marx dan Jenny, disusupi dialog-dialog yang tak terbayangkan berkait libido dan rencana pernikahan mereka.

Juga bagaimana relasi Engels dan Mary Burns pun dalam konstruksi pemikiran itu. Hanya sepintasan, tak melarat-larat, sampai ketika Jenny melahirkan anak kedua, Laura. Marx tak punya apapun, kecuali gagasan untuk menulis buku. Terancam diusir dari rumah kontrakan. Dan selesai begitu saja karena kiriman uang dari Engels.

Ini film biopic yang beda. Bukan pada sosok fisik, tetapi lebih pada konstruksi pemikiran. Juga sesungguhnya bukan hanya sosok Marx muda, melainkan bromance dua manusia, Karl Marx dan Friedrich Engels muda. Durasi dua jam untuk film ini hanya terbangun dari outline puncak-puncak pemikiran Marx menuju ke Manifesto Komunisme dan menjelang Das Kapital yang sohor itu.

Peck menggunakan impresi visual yang tumbuh dalam karakter media digital. Itu sangat kentara dalam pola editingnya. Itu menguntungkan dalam meringkas sejarah panjang Marx, seorang kutu buku yang untuk menulis satu judul buku bisa bertahun-tahun. Warna film cenderung kusam, menegangkan, sebagaimana pertarungan yang dihadapi Marx dan Engels, tentang eksploitasi manusia oleh manusia. Eropa pada akhir abad 18, ketika Monarkhi Absolut perlahan digerogoti krisis, kelaparan dan resesi.

Menonton film ini, kita seolah diantar Marx dan Engels untuk memahami mengapa perubahan itu mesti terjadi. Dimulai dari Inggris, terjadinya revolusi industri yang mengubah tatanan dunia. Terbentuknya kelas proletar dengan gagasan organisasi pekerja, dan spirit utopia komunisme, di mana semua orang adalah sama.

Bagian akhir menuju ke pembentukan Liga Komunis, hingga menjelang penulisan Das Kapital, diceritakan bagaimana perdebatan Marx dan Engel, yang sama-sama lelah dan ingin hidup normal. Adalah dua bagian akhir yang sama sekali tidak menarik, karena Peck terjebak dalam sebuah film pure documentary yang tak mau kehilangan teks, tapi melupakan kelelahan mata penonton karena bombardemen teks-teks sebelumnya. Bisa jadi, film biografi ini begitu mengasyikkan bagi yang ingin short-cut memahami teori kelas. Karena ide-ide Marx tetap begitu penuh api dan hidup.

Untung saja sebelum kredit titel penutupnya, kita disadarkan pada kenyataan masa kini. Ketika Mark sudah mati pada ratusan tahun lampau, dalam montase yang riuh dari berbagai euforia peristiwa-peristiwa politik abad ke-20, dari Che, Nelson Mandela, Jhon Kennedy, Tembok Berlin, gerakan Occupy, dan suara parau Bob Dylan. | @sunardian
 
Sunardian Wirodono
Yogyakarta, 27 Januari 2019

1 komentar:

Erick Thohir di Mana Sentuhannya pada Jokowi?

Ketika saya membaca biografi tulisan Alberthiene Endah, “Jokowi Menuju Cahaya” (2018), saya tidak merasakan roh atau spirit Jokowi. Deng...