Sabtu, Januari 03, 2015

Hidup yang Mendadak Ndangdhut

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan adalah doa. Perjuangan dan Doa adalah Rhoma Irama. Rhoma Irama adalah ndhangdhut. Hidup adalah ndhangdhut.
Dan kita mendadak ndhangdhut. Dan begitu mudah menyimpulkan segala sesuatu, dengan analogi sederhana, dengan referensi seadanya, dengan informasi asal-asalan atau asal di sana senang di sini senang. Seperti pramuka. Praja Muda Kapiran, atau malah kapir beneran karena suka mengkapir-kapirkan liyan.
Mencatat Republik Indonesia 2014 adalah mencatati segala kemendadakan. Mendadak politis, mendadak detektif, mendadak jurnalis, mendadak fesbuker, mendadak apa saja, pokoke njoget. Dan semua orang mengutuk peminum oplosan, sambil menenggak oplosannya sendiri-sendiri dengan berbagai merk. Ada merk agama, merk KMP, merk Jokowi, merk Wahabi, merk ini-itu, dan lain sebagainya.
Pembicaraan begitu riuh-rendah, semua orang bicara, tapi tak ada dialog, karena tak ada yang mendengarkan. Jalanan begitu padet-det, tapi betapa sonya-ruri, tak ada saling sapa. Dan tak dibutuhkan Sartre untuk meneriakkan eksistensialisme, karena yang terpenting adalah eksis. Aku ngomong maka aku eksis. Aku selfie maka aku hadir. Aku bikin status maka aku punya status.
Siapakah engkau? Tak penting! Karena persoalan kita hari ini adalah apakah engkau? Dan kita tak bisa menanya, bagaimanakah engkau, apalagi mengapa engkau, dan dimanakah engkau.
Siapa dan apa lebih pada pernyataan, bukan pertanyaan. Sementara bagaimana, mengapa dan dimana, lebih merupakan pertanyaan, bukan pernyataan. Itu semua pertanda dialog sudah ditutup. Kita tidak tertarik mengetahui liyan, karena kita sibuk dengan pernyataan siapa dan apa diri kita, dan menghardik sang liyan untuk mengikutinya. Sementara pernyataan bagaimana, mengapa dan di mana, sekedar hanya memetakan kawan dan lawan. Tidak untuk dipahami melainkan untuk dilawan dan dibasmi.
Mendadak ndhangdhut terasa lebih mudah, dan afdol, karena dengan demikianlah kita menunjukkan inferiority complex kita. Sebuah bangsa yang lebih menggemari klaim-klaim kebenaran mutlak, dan tanpa ruang pertemuan. Bisa jadi sindroma kekalahan, tapi sangat bisa jadi juga karena ketidakmampuan memformulasikan sejarah dan mengartikulasikannya dalam laku-jantranya sebagai manusia.
Kita terlalu lama terjebak dalam komunalisme, dan kita rajin membangun komunitas-komunitas untuk memamerkan kekalahan demi kekalahan. Dan dibutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menjadikan individu-individu yang liat dan kuat, karena individualisme konon adalah ajaran sesat. Dan MUI mendadak mengharamkan yoga, entah atas nama apa.
Jadi kita harus bagaimana dalam keserbamendadakan ini? Kita mesti mengapa dalam keserbamendadakan ini? Kita kudu di mana dalam keserbamendadakan ini? Bukan pertanyaan yang menarik. Semuanya makbedunduk harus dibungkam dengan pernyataan-pernyataan fundamentalis; siapa dan apa. Kemudian senyap. Dan senyap pun juga tidak lolos sensor dari LSF, lembaga sok suci tetapi korup itu.
Ini tahun yang blangsak, seblangsak-blangsaknya. Tetapi selalu ada harapan di tahun baru, jika nalar kita masih terpelihara dengan sehat, walau sakit rasanya.
Sing waras ngalah, adalah resolusi kekalahan. Sing waras, ya, waraslah. Dan tetap merdeka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar