Senin, Februari 25, 2013

Bung Karno sebagai Strateg Ekonomi Global bagi Kemandirian Indonesia


(1) SUKARNO DAN GEOPOLITIK GLOBAL | Banyak orang mengatakan, Sukarno tidak paham ilmu ekonomi. Pemerintahan Orde Baru, dengan sengaja dan sistematis menggelontorkan pandangan itu. Soeharto merekayasa slogan "Politik No, Ekonomi Yes", dan betapa politik itu negatif serta tidak penting. Pandangan apolitis ini berhasil membangun persepsi rakyat Indonesia, dan Soeharto muncul sebagai hero.
Benarkah Sukarno tak paham ekonomi? Mari sejenak membaca sejarah.
Tak sebagaimana yang disangka, Sukarno sebenarnya sangat mendalami apa yang dinamakan Ilmu Ekonomi Politik. Ekonomi Politik adalah ilmu paling dasar yang merumuskan kebijakan-kebijakan politik atas ekonomi masyarakat seperti: akumulasi kapital, distribusi kekayaan, dan pasar. Tiga soal pokok ini bahkan dikuasai Bung Karno sejak tahun 1924.
Guru pertama Bung Karno soal ekonomi politik adalah Hartagh. Berikut ceritanya:
Suatu siang, Bung Karno disuruh untuk mencari buku-buku interpretasi atas Karl Marx, "Kalau kamu ingin masuk ke dalam alam pikiran Marx, baca dulu buku-buku interpretator dari Marx," nasihat Hartagh.
Sukarno pun lalu menuruti nasihat itu. Ia membaca tiga buku interpretasi atas Das Kapital, selain pada 1922 Sukarno mulai membaca Das Kapital langsung dari Bahasa Jerman. Pembacaan atas Das Kapital inilah yang mencerahkan Sukarno, tentang bagaimana "Manusia dibebaskan atas penindasan struktur yang tercipta atas komoditi".
Paham dasar Sukarno atas pembebasan masyarakat itu, diarahkan pada pembebasan ekonomi. Itu yang pertama-tama dilakukan Sukarno. Dan inilah yang ia ucapkan di depan Pengadilan Bandung sekitar tahun 1932 dalam pledoinya "Indonesia Menggugat".
Di umur awal 30-an, Sukarno sudah berpidato dengan uraian yang amat melampaui jamannya. Sukarno bercerita di depan Tuan-Tuan Hakim tentang "Sejarah ekonomi Indonesia, Perampasan Tanah-Tanah rakyat untuk Perkebunan Asing, sampai dengan uraian detail Sukarno soal kehidupan ekonomi bangsa Indonesia.
"Bayangkan, Tuan-tuan," kata Sukarno, "Kehidupan seorang manusia Indonesia, ini lebih sengsara dari kehidupan seekor anjing Tuan Besar. Mereka hanya bisa hidup dengan sebenggol (2.5 sen), sementara anjing peliharaan Tuan-tuan yang bagus, bisa hidup dengan dua rupiah sehari!"
Lalu Bung Karno mengurai bagaimana orang-orang Eropa dan para Komprador Pribumi, bekerjasama memperbudak rakyat Indonesia. Bung Karno dengan terang-terangan menelanjangi cara hidup pemeras-pemeras itu dengan amat jitu. Dan karena itulah, ia harus masuk bui.
Di dalam bui, lagi-lagi Sukarno terus mendalami ekonomi politik dengan amat detil. Fase pertama ekonomi politik Sukarno yang ia dapatkan adalah:'Modal'. Di sini Sukarno mengambil kesimpulan, "Modal harus bisa didapatkan bila kita menang secara geopolitik!"
Geopolitik kemudian didalami dengan amat detail oleh Sukarno. Di tahun 1935, Sukarno mendapatkan fakta, bahwa dunia ini sedang diperebutkan oleh tiga kekuatan besar. Dalam tulisan-tulisannya di koran, kekuatan besar itu menurutnya adalah; "Kapitalisme yang masuk ke dalam tahapan baru", ini diwakili negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Belanda. Lalu negara-negara lama yang sudah melampaui kejenuhan atas kapitalisme, tapi masuk ke dalam tahapan pembusukan kapitalisme. Negara ini ditopang oleh kekuatan kelas menengah, feodal dan militer, dan mereka masuk ke dalam Negara-negara Fasisme, atau seperti Sovjet Uni yang menyelenggarakan sistem komunisme. Di sini Sukarno memperhitungkan akan ada negara-negara baru yang muncul setelah perang dari tiga kekuatan itu. Dan Indonesia, akan jadi bagian dari salah satu kekuatan baru itu.
Bung Karno memperkirakan bila Indonesia bisa mengambil kesempatan untuk bermain di atas tiga kekuatan besar ini, maka geopolitik atas Asia Tenggara dipegang Indonesia Raya. Perhitungan Sukarno, bila Indonesia bermain di atas Asia Tenggara, maka Indonesia akan memenangkan Pasar Asia Tenggara yang merupakan seperempat pasar Asia. "Asia, akan jadi peradaban paling baru dalam dunia modern, dan Asia akan jadi kekuatan paling besar di dunia, setelah negara-negara Eropa Bangkrut," kata Bung Karno di tahun 1935 (kita tahu, hal itu terbukti sekarang).
Bung Karno sudah memperhitungkan, pemenang perang akan menguasai kembali pasar-pasar baru yang kosong, baik itu Fasisme, Kapitalisme, atau Komunisme. Sukarno bermain cantik di atas tiga kekuatan besar itu, agar Indonesia bisa memimpin barisan baru "negara-negara bebas".
Kekuatan negara bebas ini adalah:
1. Menentukan produksinya sendiri
2. Memiliki pasarnya sendiri
3. Membangun ekonomi tanpa ketergantungan
4. Pembebasan masyarakat atas sistem yang menindas
5. Menjadikan manusia sebagai pusat segala ukuran-ukuran. kemajuan baik ekonomi, budaya dan peradaban.

(2) SUKARNO INDONESIA MERDEKA | Perkiraan Indonesia akan mendapatkan kemerdekaan pada tanggal 7 September 1945, berdasarkan kesepakatan Saigon, gagal karena muncul insiden sejarah yang digerakkan anak-anak muda, sehingga Bung Karno harus masuk ke dalam kondisi 'fait accomply' kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan 17 Agustus membawa konsekuensi perang dengan negara-negara Sekutu. Padahal awalnya, Sukarno dan Hatta ingin memilih jalur legal formal, dan mereka punya perhitungan Sekutu mau tidak mau harus mengembalikan jajahannya, dan memerdekakan bangsa-bangsa terjajah sesuai kesepakatan Postdam 1944, tanpa harus melewati episode perang.
Tapi perang kemerdekaan 1945-1949 sudah terjadi. Dan Sukarno paham, inilah keadaan yang dikehendaki Amerika Serikat dan Sovjet Uni, untuk masuk ke dalam Indonesia Raya. Beruntung bagi Sukarno, Sovjet Uni masih sibuk soal Negara-negara di Eropa Timur dan ada batasan etika bagi Stalin, untuk tidak masuk ke dalam wilayah yang dulunya dikuasai sekutu barat. Ini artinya, Sukarno otomatis hanya berhadapan dengan Amerika Serikat dan Belanda. Karena Inggris sendiri, menarik diri tidak masuk memperebutkan Indonesia.
Sukarno dengan lihai mengadu Amerika Serikat dengan Belanda, dalam pertarungan memperebutkan Indonesia. Sukarno menggunakan Amerika untuk menggebuk Belanda, sampai puncaknya adalah kemenangan Indonesia merebut kembali Irian Barat pada tahun 1963. Pada saat itu, terjadi peristiwa pembunuhan Jhon F. Kennedy, yang bukan semata-mata kesintingan Lee Harvey Oswald, tapi agak bau-bau Irian Barat juga.
Setelah kematian Kennedy, Sukarno terpaksa bertarung sendirian melawan Amerika Serikat. Sial bagi Sukarno, sohib paling potensialnya, Mao Tse Tung, melakukan blunder dengan membui Liu Shao Chi, dan menjadikan China terjebak pada Revolusi Kebudayaan yang berdarah-darah. Dan Sukarno akhirnya betul-betul sendirian bertarung dengan Inggris (tanpa Mao).
Sukarno mengobarkan politik Ganjang Malaysia, perhitungannya; bila Federasi Malaysia ini terjadi, maka Inggris sudah menyiapkan kantong-kantong modal untuk mempersempit pasar-pasar di Indonesia. Kembali lagi rakyat Indonesia akan menjadi budak asing.
Di dalam telaahnya pada tahun 1932, Sukarno mengeluarkan analisanya: Ekonomi Indonesia yang berwatak kolonial setidak-tidaknya memiliki tiga ciri sebagai berikut:
Pertama, diposisikannya perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah bagi negara-negara industri maju.
Kedua, dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai pasar produk negara-negara industri maju.
Ketiga, dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai tempat untuk memutar kelebihan kapital yang terdapat di negara-negara industri maju.



(3) SUKARNO DAN EKONOMI BERDIKARI | Bung Karno memperhitungkan kemudian, di tahun 1963 setelah masuknya Irian Barat, menghapuskan sistem ekonomi kolonial menjadi sistem "Ekonomi Merdeka", dengan bahasa yang populer adalah "Ekonomi Berdikari" (berdikari akronim dari 'berdiri di atas kaki sendiri, alias mandiri).
1. Indonesia tidak hanya memasok bahan mentah, tapi menciptakan nilai tambah di Indonesia sendiri. Indonesia dan rakyat Indonesia menjadi tuan di bumi sendiri.
2. Indonesia harus menciptakan pasar-pasarnya sendiri, bahkan menguasai Pasar Internasional. Untuk itulah diciptakan Poros Jakarta-Hanoi-Pyongyang-Peking. Poros ini bukan sekedar poros politik tapi Poros Perdagangan. Lalu diciptakan pasar bersama di antara negara-negara Non Blok. Di atas pasar itu, barulah bisa dibangun Ekonomi Baru yang merdeka. Ekonomi yang didasarkan pada kesejahteraan masyarakat yang ada di dalamnya.
3. Indonesia harus memutar kapitalnya sendiri, membangun kekayaannya sendiri. Pembangunan kapitalnya ini dijabarkan amat luas, yang kemudian disusun oleh Djuanda. Nilai lebih atas produk, harus dibangun di bumi Indonesia.

Konsepsi ini kemudian dipidatokan Sukarno, saat berteriak mengganjang Malaysia, sekaligus meledek negara itu sebagai "Negara yang berdiri tanpa konsepsi-konsepsi". Jelas bagi Indonesia, Konsepsi Sukarno adalah menghancurkan pasar dominasi asing, dan ini amat menakutkan bagi Amerika Serikat, beserta negara sekutunya. Karena ketika pasar-pasar itu kita kuasai, "maka lonceng kematian kapitalisme akan berbunyi," ujar Sukarno dalam pidatonya.
Apabila pelaksanaan atas konsepsi Sukarno tidak diblunder oleh Suharto, maka besar kemungkinan Indonesia akan menjadi negara terkaya di Asia (dalam proyeksi Sukarno 1963, pada tahun 1975 Indonesia akan mampu melampaui Jepang). Untuk itu makanya, ia siapkan pula Palangkaraya, sebagai Ibukota Negara.
Mengenai Perang Inggris soal Malaysia, Sukarno amat lihai dan paling jagoan gertak. Kemungkinan besar Sukarno malah mempermainkan Sovjet Uni, Cina dan Negara-Negara Asean tanpa harus 'beneran' perang. Perhatikan gaya politik Sukarno yang berliku-liku, tapi pada akhirnya ia yang selalu memenangkan. Tapi sayang, sekelompok Perwira Menengah malah membunuh Jenderal Ahmad Yani, jenderal yang digadang-gadang Sukarno akan menjadi Presiden RI pada tahun 1975.
Andai saja Ekonomi Sukarno ini berhasil, maka tercipta sistem dasar Ekonomi Kerakyatan yang dijabarkan sebelumnya oleh Hatta. Karena pada dasarnya, Ekonomi Kerakyatan yang disusun oleh Hatta, tidak akan bisa tercipta bila tidak ada perebutan modal dulu. Dan Sukarno adalah ahlinya dalam menciptakan ekonomi modal. Jadi siapa bilang Sukarno "nggak ngerti" apa-apa soal ekonomi? Ia seorang pemimpin, yang memberikan arah, grand-design, bukan sekedar presiden, yang malah sibuk mengurus partai.
Dari sekian banyak presidennya kemudian, Indonesia tidak memiliki arah yang pasti, kecuali hanya menjadi permainan global dengan penumpang-penumpang gelapnya dari para elite politik Indonesia sendiri.

1 komentar:

  1. halo..... saya tidak sengaja berkunjung dan membaca ulasan bapak, menurut saya "agak lumayan" tp masih kurang detail khususnya mengenai "jatuh bebasnya" mata uang rupiah tahun 1965 dan segala implikasi ekonominya....yg saya tanyakan adalah analisa mendalam peran "nekolim" dalam penghancuran ekonomi berdikari BK sejak tahun 1960...sampai skarang saya belum menemukan teori yg menyatakan peran IMF,bank dunia dan korporasi kapitalis barat dalam penggembosan ekonomi nasional tahun 1960~1965 (terulang lagi pada tahun 1998 dilakoni oleh george soros), yang saya pernah baca hanya secuil informasi sanering,devaluasi rupiah,kenaikan harga2x dan langkanya bahan2x pokok,penyelundupan minyak dll tpi latar blakang dr semua itu masih bias (slalu menyalahkan DEKON dan ekonomi terpimpin BK yg tidak becus)...berbanding terbalik dengan apa yg saya baca dr tulisan john perkins "Confessions of an Economic Hit Man" dimana mmg peran AMERIKA sangat jelas dalam menghancurkan ekonomi negara2x yg tidak disukainya, contoh saat ini adalah: iran,kuba,venezuela dan SYRIA

    BalasHapus