Jumat, September 30, 2011

Konflik Batin Sutradara Film G30S/PKI

Oleh: Sulangkang Suwalu | Media Indonesia (28/9) memberitakan bahwa Taufik Abdullah, peneliti LIPI "menilai pelarangan film G.30-S/PKI sangat tepat. Karena langkah tsb akan lebih memudahkan upaya pelurusan sejarah, termasuk berkait dengan kejelasan Supersemar".
Karena film G.30-S/PKI itu adalah film propaganda wajar saja banyak hal yang direka-reka dimasukkan kedalamnya. Yang penting bagaimana supaya penonton membenarkan langkah Jenderal Soeharto menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya serta menghancurkan PKI.
Tak banyak orang yang mengetahui bagaimana konflik batin berkecamuk dalam diri Arifin C Noer, sutradara film G.30-S/PKI, karena ia merasa berdoSa telah membikin sebuah film propaganda ala Sendenbu Jepang, yang isinya menyebarkan kepalsuan. Keadaan pedihnya derita batin yang dialami Arifin C Noer ditamsilkan ibarat "tungku menjelang arang habis".
Hal itu dapat diketahui dengan membaca dua buah esai dari dua pengarang, yaitu dari Gunawan Muhamad, dengan judul "Arifin C Noer Seandainya Ia Lebih Banyak Menulis" dan esai Putu Wijaya dengan judul "Warisan Sang Dramawan". Kedua esai itu dimuat dalam MI Minggu (4/6/95).
Sebelum mengetahui kedua esai tsb, baiknya membaca sementara kecaman dari penonton film G.30-S/PKI, yakni dari Asvi Warman Adam, Amelia Yani, Tajuk INTI, ADIL, Hendrajit dan Oei Tjoe Tat.

KRITIKAN TERHADAP FILM G.30-S/PKI | Menurut Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales Paris, melalui tulisannya "Film sebagai agen sejarah", film G.30-S mengandung kelemahan historis. Misalnya pada peta Indonesia yang ada di kantor Kostrad ketika Pak Harto memimpin operasi pemulihan keamanan, daerah Timor Timur sudah
masuk wilayah Indonesia padahal tahun 1965/1966 daerah itu belum berintegrasi ke pangkuan ibu pertiwi. Jadi, peta yang ada disana bersifat anakkronis. Hal ini justru disampaikan kepada saya oleh pakar Perancis yang menonton film itu di KBRI Paris belasan tahun yang lalu.
Lain pula yang dikatakan Amelia Yani pada wartawan Ekonomi Neraca (30/9/96) tentang film G.30-S/PKI. Menurut Amelia Yani, fakta yang disajikan dalam film mirip dengan kenyataan yang kami alami. Hanya kalau ada penggambaran bahwa kita yang di belakang sedang mendengarkan The Beatless musik ngak-ngik, ngok, itu tidak benar. Wita memang gemar mendengarkan musik, tetapi tidak seperti yang digambarkan di film tersebut."
Mengenai film G.30-S/PKI, Tajuk INTI (minggu ke lima September 1998) dengan judul "30 September" antara lain mengemukakan, "Film G.30-S/PKI setiap tanggal 30 September diputar. Dan film tsb berhasil menyesatkan masyarakat, seolah-olah Bung Karno itu sekongkol dengan Aidit untuk membunuh para jenderal. Skenario sedemikian rupa yang dibuat oleh Nugroho Notosusanto agak terkesan Bung Karno pergi ke Halim Perdana Kusumah untuk bersama Aidit yang sudah berada disana. Padahal Bung Karno ke Halim atas saran Leimena dan sama sekali tidak tahu Aidit berada disana, bahkan Bung Karno juga masih belum tahu PKI berada
dibalik gerakan itu. Tapi kan tak dijelaskan bahkan sengaja dikaburkan dalam film ini. Karena itu memang tepat jika film tsb mulai tahun 1998 ini tak diputar lagi."
Lain pula Laporan Utama Adil (No 51 Th ke-66) mengenai film G.30-S tersebut. Menurut Adil, sebetulnya, cara termudah untuk memahami G.30-S/PKI adalah menonton film G.30-S/PKI. Sayangnya film yang dimaksudkan untuk merekonstruksi G.30-S/PKI ini tidak akurat dalam menggambarkan kejadian yang sesungguhnya. Banyak adegan yang berlebihan dan tentu saja tak sesuai dengan fakta dalam film yang disutradarai oleh almarhum Arifin C Noer.
Seperti dilaporkan Tajuk, adegan penyiksaan terhadap enam jenderal yaitu Letjen A Yani, Mayjen Suprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan serta Brigjen Soetojo dan seorang perwira menengah Lettu Tendean-- yang diculik, lebih mendasarkan pada harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha.
Soa1 penyiksaan, seperti mencungkil mata dan memotong alat vital dengan gunting dan pisau silet, memang diberitakan secara gencar oleh kedua harian tersebut. Tapi "fakta" yang disampaikan media milik Angkatan Darat pada hari-hari pertama bulan Oktober 1965 itu, ternyata hanya isapan jempol belaka.
Lain pula yang dikatakan Hendrajit melalui DETAK (No 12 Th ke I) Tentang film G.30S/PKI. Menurut Hendrajit, "Ketika menumpas lawan-lawan politik Orde Baru, Soeharto dengan enteng menyebut mereka punya indikasi PKI. PKI kemudian dijadikan momok yang menakutkan bagi masyarakat. Setiap 30 September ditayangkan TVRI film peristiwa G.30-S menurut versi Soeharto. Tujuannya sederhana saja, menciptakan kesan bahwa PKI itu kejam."
Sedang Oei Tjoe Tat melalui memoarnya mengatakan, bahwa sebenarnya ia malas menonton film Jakarta 1966. "Karena didesak-desak akhirnya nonton juga, tetapi isteri tetap menolak ikut. Prasangka saya sebenarnya bukan tanpa alasan. Film ataupun penulisan buku mengenai sejarah yang masih berjalan dimana banyak para pelakunya masih hidup, sulit diharapkan dapat mengungkapkan kebenaran dan fakta seadanya, apalagi kalau dengan sadar dimasukkan tafsir subjektif demi melayani kepentingan suatu
tujuan tertentu."
Menurut Oei Tjoe Tat, terlalu naif untuk tidak bisa memahami, bahwa para mahasiswa/pemuda ketika itu memang telah dijadikan alat belaka oleh pihak militer untuk mendongkel Bung Karno, walaupun mereka sendiri pun sebenarnya penuh idealisme, tapi di lain pihak mereka belum matang politik dan tidak berpengalaman. Hal ini belakangan terbukti cukup banyak mahasiswa demonstrans yang ikut-ikutan di tahun 1965/1966 itu, kemudian menyesal dan beroposisi terhadap kekuasaan yang mereka
sebelumnya dukung. Apa yang terjadi di tahun 1965/1966 sampai sekarang memang belum berada dalam sorotan yang benar.
Supersemar misalnya, sesungguhnya tidak lain daripada bagian suatu skema pemeretelan kekuasaan Presiden/Pangti Sukarno, yang sebenarnya sudah berlangsung sejak jenderal Soeharto menolak penunjukkan jenderal Pranoto Reksosamudro . Sebagai pengganti sementara almarhum jenderal A.Yani sehingga menimbulkan dualisme di Indonesia.
Menurut Oei Tjoe Tat bermimpi jika seorang mengira, demonstrasi-demonstrasi KAMI, KASI, KAPPI berlangsung spontan karena
kekuatan dan wawasan sendiri, tanpa ada dalang yang mengatur dari belakang, tanpa perlindungan, tanpa pembinaan golongan yang pegang bedil. Orang tak akan bisa melupakan peran kekuatan asing seperti Pater Beck dan sejumlah orang asing lain, yang dengan mudah dapat ditemukan dari dokumen-dokumen Lyndon B. Johnson, yang telah dideklasifikasikan tahun-tahun belakangan ini.
Jadi, yang terjadi bukan peralihan kekuasaan secara konstitusional sebagaimana yang digambarkan dalam film tsb, melainkan benar-benar suatu kudeta, perebutan kekuasaan, hanya mungkin bergaya Solo, alon-alon asal kelakon (protracted or creeping "coup"). Semua dengan berselimut kata-kata, slogan pemuda, ABRI di belakang Pemimpin Besar Revolusi (hal 320-322).

FILM G.30-S KARYA PROPAGANDA | Adalah menarik dua buah esai tentang Arifin C Noer yang ditulis oleh Gunawan Muhamad dan Putu Wijaya. Seperti diketahui Arifin C.Noer adalah sutradara film G.30-S tersebut. Kedua esai ini sebenarnya merupakan
suatu kesatuan baik disengaja atau bukan. Saling melengkapi.
Nampaknya yang mempercepat Arifin C Noer "pergi" untuk selama-lamanya, ialah konflik batin yang mengamuk dalam dirinya, dengan perannya sebagai sutradara film Jakarta tahun 1966, film Soeharto dan orde baru, film propaganda ala Sendenbu Jepang. Ia lelah, seperti tungku menjelang arang habis, kata Gunawan Muhamad.
Sebenarnya konflik batinnya itu tak perlu sampai menyebabkan ia seperti "tungku menjelang arang habis" , sekiranya ia mempunyai keberanian untuk meminta maaf secara terbuka kepada rakyat Indonesia, bahwa dirinya telah menyebarkan kepalsuan sebagai kebenaran. Tentu saja akan ada risiko bagi dirinya, mungkin juga bagi keluarganya.
Arifin C Noer rupanya berusaha untuk meminta maaf itu, tetapi tidak secara terbuka, melainkan secara tertutup atau terselubung, melalui karya-karyanya yang kemudian. Hal itu diungkapkan oleh Putu Wijaya.
Arifin C Noer menganggap "sudah tiba waktunya" untuk mengajak penonton/pembaca bicara secara blak-blakan. Sayang kesempatan meminta maaf secara terselubung itu belum luas diketahui rakyat, sehingga umumnya rakyat menganggap Arifin C Noer dengan film Jakarta 1966. Mungkin hal itu juga menambah kepedihan hati Arifin C Noer.
Untuk lebih jelasnya baiklah kita kutip kalimat-kalimat yang ada kaitan dengan persoalan dari kedua penulis esai tersebut

Goenawan Mohamad | "Saya ingin menulis saja, Gun".... Arifin seperti menyesali sesuatu yang ingin dikemukakannya, tapi sudah lama tak dapat dilakukannya, dan kini tak mungkin dilakukannya.
....di dunia film pula lah Arifin tampak seperti orang yang lelah. Sayalah yang mempartemukan almarhum Dwipayana, yang kemudian menjadi Direktur PFN. Kemudian (G. Dwipayana) menemui Arifin dan mulailah lahir film sejarah tentang Soeharto dan orde baru... Arifin akhiraya masuk ke suatu pekerjaan yang tak membahagiakan dirinya membuat karya propaganda.
Saya tahu benar (ia bicara kepada saya) ia sangat enggan untuk membuat film yang berkisah tentang pergantian politik 1966....Arifin setuju untuk membuat Jakarta 1966 dengan catatan" mengandung dua tokoh yang "resmi" yang "tak resmi", yang "atas" dan yang "bawah" suatu kompromi.
Seaudainya Arifin lebih banyak menulis, ia mungkin akan menuliskan pedihnya itu: ia berusaha untuk selalu jujur.
Kira-kira sepekan sebelum ia meninggal, dari ranjang sakitnya di Glenn Eagle Hospital di Singapura, dengan perut yang selesai dibedah, ia (seperti 100 seniman dan cendikiawan lain) menandatangani Pernyataan Mei bersama Yayang, isterinya.
Ia juga melihat, ia telah merasakan itu bagaimana tenaga lndonesia yang berpikir dan kreatif terancam terus menerus untuk takluk jadi palsu, dihadapan intoleransi kekuasaan.

Putu Wijaya | Penonton selama ini sudah kita subsidi, kata Arifin satu ketika. Kini saatnya tiba untuk lebih realistis , mengajak mereka menerima kenyataan, apa sebenarnya yang sudah menjadi dan apa yang sebenarnya yang sedang ada di depan mata. Dan untuk itu kita harus berani. Kita wajib dan punya hak untuk mengatakan apa yang kita yakini. Kita tak perlu ragu-ragu dan menimbang rasa.
Arifin melemparkan berbagai isyu sosial yang erat hubungannya dengan masalah politik dan ekonomi. Ia tidak lagi menahan diri-untuk bicara tentang Indonesia saja, tetapi masa depan planet bumi dan umat manusia seluruh dunia.
Ketiba tibaannya dalam membagi seluruh beban yang dipikulnya itu, memang agak mengagetkan. Banyak orang yang terkesima, terkecoh, lalu mengkritik seakan-akan kemampuan artistik almarhum sudah menipis. Padahal satu periode baru dalam sejarah kreativitasnya sedang dibuka.... Ketika berbagai pikiran yang berjejalan di kepalanya sedang disiapkan untuk menumpahi kita.

KESIMPULAN | Sebuah pelajaran bagi siapa saja yang mau belajar, apalagi bagi sutradara. Janganlah terulang pula kepedihan yang diderita Arifin C Noer karena tak berani mengatakan "tidak" untuk menyebarkan suatu kepalsuan, hanya karena yang mengajak seorang teman yang baik.
Memang mengatakan "tidak" untuk menyebarkan suatu kepalsuan, mungkin saja ada resiko bagi diri dan keluarga, bila hal itu dikehendaki oleh kekuasaan. Akan tetapi bagaimanapun juga pahitnya risiko karena mengatakan "tidak" akan turut menyebarkan kepalsuan, rupanya tidak akan sepedih , seperti yang telah dialami Arifin C Noer yakni seperti "tungku menjelang arang habis".
Tidak berani mengatakan "tidak" yang seharusnya dikatakan "tidak", menunjukkan tidak jujur pada diri sendiri, menipu diri sendiri dan dengan segala akibatnya.*** | Diulik dari : SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist

Kamis, September 29, 2011

Penjelasan atas Penjiplakan Novel "Centhini Perjalanan Cinta"

Oleh Sunardian Wirodono

Mohon maaf kepada teman-teman semuanya, khususnya yang memberi komentar untuk kasus "Penjiplakan Novel Centhini oleh Gangsar".
Karena saya lamaaaa sekali tidak membuka blog ini, karena ini dan itu, maka baru sekarang saya membaca dan berusaha menjawabnya di sini.
Yang pasti, mengenai Centhini Perjalanan Cinta atas nama Gangsar itu, separoh lebih adalah teks dari saya, yang dicomot dari teks yang sudah saya kirim ke penerbit Diva, dan kemudian ternyata sebelum proses saya selesai, eh, penerbit menunjuk penulis lain (Gangsar itu) untuk menyelesaikan. Sialnya, teks saya dipakai juga dng diubah dikit-dikit dan urutannya juga diubah,... (dan yang pasti pada tgl 10 Desember 2010, di RM Kiko, Jl. Magelang, Yogya, yang bernama Gangsar sudah mengakui di depan saya, disaksikan lawyer saya dan juga pihak redaksi Diva. Sayangnya, proses somasi itu tak diindahkan baik oleh Gangsar dan Diva. Tapi bagi saya, pengakuan Gangsar sudah cukup menunjukkan, betapa rendah moralnya selaku penulis.
Soal penerjemahan, yang pasti novel trilogi "Centhini" saya bukan terjemahan dari Serat Centhini tetapi tepatnya gubahan. Saya menggubah Serat Centhini ke bahasa Indonesia, tentu berdasar pokok cerita dalam Serat Centhini. Sebagai gubahan, saya tidak menambahi, melainkan cenderung "mengurangi" karena pada dasarnya SC adalah ensiklopedi. Jika dalam gubahan sesekli dikutip SC, lebih untuk mengingatkan dan memberi impresi bahwa novel itu berasal dari SC.
Jika ingin mengetahui teks asli SC, berikut terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, bisa dilihat pada buku "Serat Centhini Dwi Lingua" yang saya terjemahkan text by text, yang jilid I sudah terbit pada April 2011, dan jilid berikut (12 jilid) akan menyusul.
Untuk trilogi novel Centhini saya, akan diterbitkan ulang secara indie. Tunggu moga bisa akhir tahun ini. Terima kasih dan salam.

Megatruh Ngayogyakarta

Catatan: Megatruh, dalam Serat Purwaukara karya Ranggawrsita, diberi arti "mbucal kang sarwa ala", membuang yang serba jelek. Pegat ada hubungannya dengan peget, yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, megatruh berarti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.
Namun secara semantik, megat ruh, berarti putusnya nyawa dari raga. Dalam ajaran Islam, pada pokoknya membawakan keimanan untuk menjalankan ibadah dengan menjauhkan hawa nafsu, berbuat baik dengan mentaati perintah Allah dan menjauhi kejahatan serta menghindari larangan Allah serta menjauhi ajaran setan. Megatruh dicipta Sunan Giri pada abad 18.



Baiklah, wahai, kukatakan padamu,
Isyarat-isyarat langit,
Atas hatimu yang beku,
Kau bisa berlidah api,
Tapi waktu takkan bohong.

Engkau katakan selalu,
Demi itu demi ini,
Ah, masa depan yang semu,
Kau sendiri tak mengerti,
Dibujuk jadi perampok.

Adakah engkau tak tahu,
Atau pura-pura tuli,
Anak negri jadi babu,
Kau terus jualan mimpi,
Dan Indonesia pun roboh.

Adakah ini negara yang bermutu,
Dan berdemokrasi murni,
Jika agendamu palsu,
Puna-puni, mimpa-mimpi,
Ekonomi omong-kosong.

Kini kau tuding tentang Yogyakartaku,
Yang bau-bau monarkhi,
Itu tak baik katamu,
Tak sesuai demokrasi,
Makanya harus dipotong.

Dan ketika rakyat berdaulat teguh,
Kamu bilang ditunggangi,
Membabi-buta menuduh,
Rakyat emosi, tak logis,
Dan kau pidato tong-kosong.

Masalahnya kini bukan pilkada atau,
Penetapan, demokrasi,
Bahkan pula referendum,
Namun perihal tendensi,
Nafsumu bak kucing garong.

Sesungguhnyalah, apakah agendamu,
Hingga pun Yogya yang hening,
Tiba-tiba jadi isyu,
Dan isyu lain tersisih,
Orang-orang saling ngomong.

Kemudian di balik pat-gulipatmu,
Kau gulirkan lain lagi,
Macam-macam agendamu,
Siapakah kamu ini,
Pembohong atau pemborong?

Demokrasi ini telah lama beku,
Gunung es manipulasi,
Negara teater absurd,
Leadership jadi dealership,
Logikamu bengkang-bengkong.

Kekonyolan demi kekonyolan kamu,
Makin menjelaskan arti,
Engkau bukanlah kampiun,
Apalagi sang pemimpin,
Kau sendirilah perampok.

Sementara ilmuwan dan mahaguru,
Agen-agen demokrasi,
Menyusun proposal baru,
Untuk diajukan ke funding,
Jualan otak kelonthong.

Diskusi demi diskusi t’lah berlalu,
Tak pernah sampai substansi,
Ngritik ngalor ngritik ngidul,
Lagak jago demokrasi,
Rakyat dianggap kepompong.

Kini Yogyakarta pun dikungkung nafsu,
Yang tradisi dihakimi,
Dituding bodoh dan dungu,
Orang kuno yang tak logis,
Sedang m’reka top-markotop.

Padamu, yang selalu ngaku pembaru,
Apa itu demokrasi,
Katakanlah kepadaku,
Adakah engkau mengerti,
Engkau tak sedang berbohong?

Tahukah tentang cermin tipu-dayamu,
Ngomong tinggi demokrasi,
Padahal hatimu busuk,
Amerika dan Yahudi,
Raja baru nir-kedhaton.

Kami seaslinya warga Yogya tahu,
Menolak ‘tuk dikebiri,
Karena demokrasimu,
Bukan bagi kami-kami,
Kami bukan orang bodoh.

Ini bukan soal bela raja-ratu,
Tapi vox populi vox dei,
Yang seenaknya kau daku,
Negri Indonesia ini,
Tak boleh makin keropos.

Kalian jual-beli wacana baru,
Menjadikan rakyat ini,
Demi nganu, nganu, nganu,
Bukannya kami tak ngerti,
Kalianlah: Buta Terong!

| Sunardian Wirodono, lereng Merapi, awal 2011.

Pemilihan Walikota Yogyakarta Sebagai Pertaruhan Keistimewaan


Untunglah, Fitri (Hanafi Rais dan Tri Harjun Ismaji) kalah dalam pilwali (pemilihan walikota) di kotamadya Yogyakarta, Minggu 25 September 2011 lalu. Untung, karena kekalahan itu penting bagi umumnya masyarakat Yogyakarta yang peduli dan sekaligus khawatir pada nasib RUUK-DIY. Pemilihan Walikota Yogya, menjadi test the water bagi siapapun yang pro dan anti penetapan, dalam konteks keistimewaan Yogyakarta.
Itulah pula maka perlu dukung-mendukung di tingkat atas, seperti dukungan sebagian besar kerabat kraton Yogyakarta dan Pakualaman pada Hati (Haryadi Suyuti dan Imam Priyono), dan di sisi lain dukungan Herry Zudianto (Walikota Yogya, 2006-2011), Muhammadiyah, PD dan tentunya PAN, pada Fitri. Hal itu menunjukkan pertarungan yang sesungguhnya, meski analisis para akademis segaris Amin Rais, akan menafikan hal ini mentah-mentah.
Angka perolehan masing-masing (Zulia sekitar 9%, Fitri 41% dan Hati 50%) menunjukkan sengitnya pertarungan antara Fitri dan Hati. Tentu, menarik memperhatikan, bagaimana Fitri, yang new-comer dan tanpa sejarah politik yang jelas ini (kecuali sebagai anak mantan Ketua MPR), bisa "sekuat" itu?
Masyarakat Yogya merasa, bagaimana mungkin Fitri bisa membiayai kampanye politiknya sedemikian rupa, bahkan dengan nilai cost yang lebih besar dibanding Hati (padahal Haryadi termasuk calon dengan nilai kekayaan pribadi lebih besar dibanding lainnya, apalagi dibanding Hanafi Rais). Dari mana sumber biaya kampanye Fitri, hingga bahkan Hanafi Rais mengatakan tidak akan mengambil gaji selama menjabat (seharusnya omongan seperti ini tidak diperkenankan, karena merupakan janji politik yang sama sekali tidak mendidik dan mendiskreditkan calon lainnya, di samping justeru rawan korupsi karena deal politik dengan para sponsor politiknya)?
Pasangan Hanafi Rais dan Tri Harjun Ismaji (mantan Sekretaris Daerah Provinsi DIY), diusung empat partai besar (Demokrat, PPP, PAN, dan Gerindra, yang terakhir ini semula mengusung pasangan Zulia), plus sembilan partai yang tergabung dalam Koalisi Mataram (Partai Bulan Bintang, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Damai Sejahtera, Partai Demokrasi Kebangsaan, Partai Pekerja dan Pengusaha Indonesia, Partai Peduli Rakyat Nasional, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai Demokrasi Pembaruan, dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama).
PD sebagai pemenang Pemilu di Yogya (dalam konteks SBY), tidak mencalonkan jago dari partainya, adalah indikasi ketakutan mereka sebagai common enemy masyarakat Yogya pro penetapan. Mereka, bersama hampir semua parpol, mendukung Fitri. Sementara Hanafi Rais, sebagai anak Amin Rais, tentu berkaitan dengan PAN (di mana mantan Ketua MPR itu implisit tidak menyetujui penetapan), sementara PAN dengan Hatta Radjasa sebagai faktor Jakarta, harus bermain dengan SBY dalam konteks yang sama. Di situlah mengapa PD mendukung Fitri, untuk mengecek bagaimana reaksi sesungguhnya masyarakat Yogya terhadap partai mereka.
Dengan mesin politik dan konstelasi politik semacam itu, angka 40% tentu memadai untuk kerja mesin politik, meski pun biaya politiknya tentu mahal secara rupiah. Walau pun kemudian terbukti, dukungan banyaknya parpol tidak paralel dengan dukungan konstituen, yang memang senyatanya tidak nyata ada.
Namun dalam konteks moralitas politik seperti itulah, Fitri kalah. Dan sebagian besar rakyat tidak bisa dibeli, meski ada juga yang menerima uang sogokannya. Pemilihan yang tak banyak diikuti pemilik hak suara ini (golput dengan berbagai sebab mencapai hampir 40%), menunjukkan ketidakpercayaan pada proses demokrasi yang tetap saja elitis.
Dalam penilaian sejujurnya, pasangan nomor satu, Zulia (Zuhrif Hudaya dan Aulia Reza), yang diusung PKS, sesungguhnya terasa lebih konseptual dan paling jelas dengan programnya. Namun, jaringan pengaruh mereka akan lebih bagus jika setidaknya disiapkan dengan matang dalam lima tahun sebelum pertarungan (apalagi jika disertai dengan litbang yang memadai). Belum lagi soal PKS di belakangnya, yang tetap saja belum bisa diterima dengan konsep ke-"Arab"-annya. Tapi, ini juga test konsolidasi bagi partai itu secara khusus.
Hati, didukung oleh Golkar dan PDI Perjuangan, sekali pun bukan pilihan yang cukup bagus (artinya hanya mediocre, dan bahkan ada yang mengindikasikan ke-"premanisme"-annya), agaknya merupakan pilihan paling menyelamatkan, dan menunjukkan kemenangan masyarakat Yogyakarta (siapapun yang dipilihnya), yang sebagian besar lebih menyetujui penetapan dalam konteks keistimewaan Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwana X, tentu saja menolak pendapat bahwa pilwali ini menunjuk antara "kelompok Muhammadiyah" versus "kraton" di sisi lain, karena memang beliau harus mengatakan seperti itu. Namun, sentimen yang faktual di lapangan, tak terhindarkan. Karena tentu juga aneh jika tak ada faksionalisasi dan sentimen itu. Justeru disitulah modal kampanye masing-masing, untuk menunjukkan kapasitas mereka sebagai "jagoan" yang mesti dipilih, bukan karena sebagai seseorang yang ingin dipercaya rakyat, karena kesepakatan atas penawaran logika gagasan program. Money politics, pada akhirnya, adalah bukti bahwa wacana politik mereka tidak "bunyi" atau bahkan tidak ada. Lihat saja jualannya hampir sama,semua pro-penetapan dan akan menjaga keistimewaan Yogyakarta.
Kita tinggal menunggu, bagaimana pembacaan Jakarta (SBY) dalam hal ini, berkait dengan massa jabatan gubernur DIY yang akan berakhir Oktober 2011. Konon SBY akan memperpanjang lagi selama dua-tiga tahun, dan kemudian sesudahnya akan ditetapkan untuk lima tahun ke depan (hingga 2018), untuk kemudian proses pemilihan gubernur dilakukan secara demokratis (beredar kabar Sultan HB X meminta perpanjangan setahun saja, dengan logika untuk mendesak percepatan pembahasan RUUK-DIY).
Kita akan melihat, bagaimana SBY kemudian memutuskan. Bisa jadi, keputusannya akan khas SBY, yakni lebih suka menanam bom waktu, dengan menunda penuntasan masalah, untuk kepentingan eksistensi partainya ke depan.
Partai Demokrat, paska berakhir era SBY pada 2014, tetap akan menjadi kendaraan politik penting SBY, karena ada pertaruhan dan agenda yang tak bisa dilepaskannya. Bukan berkait dengan masa depan dua anaknya saja, melainkan karena berbagai deal politik dan pertaruhan politik yang harus dibayarnya, meski konstelasi politiknya bisa berubah sama sekali. | Sunardian Wirodono, Lereng Merapi, 2011.

Sabtu, Februari 26, 2011

Revolusi Belum Selesai. Revolusi 'Cem Mana?



Jika kita mengutip kata-kata heroik Bung Karno, "revolusi belum selesai", mungkin kita mengatakan betapa benarnya kata-kata itu, melihat apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, dan beberapa negara Timur Tengah serta Afrika Utara. Tetapi di Indonesia, benarkah revolusi belum selesai? Belum, kata yang anti Nurdin Halid, dan mereka kemudian meneriakkan Revolusi PSSI.
Dengan segenap permohonan maaf, membandingkan yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah dengan "PSSI", tentu agak menggelikan, karena kata revolusi di situ terasa gagah dan kegedean, untuk sesuatu yang sederhana, yakni menegakkan hukum atau aturannya.
Revolusi yang dimaksud Bung Karno, ialah mengenai sesuatu yang bersifat paradigmatik, bukan kasuistik. Ialah perubahan drastis, mendasar dan besar-besaran dari satu cara pandang ke cara pandang yang memperbaruinya. Sesuatu yang bersifat basic, elementer, berkaitan dengan ideologi, mindset, cara pandang, mentalitas, cara berfikir, sikap hidup, sebagai buah dari aksi-reaksi keseharian yang dianggap monotone dan involutif, mandeg, kering, menipu.
Jika kita melihat perjalanan bangsa dan negara sejak 1957 (Demokrasi Terpimpin), 1963 (Sekber Golkar), 1966 (Orde Baru), 2009 (Indonesia Bersatu II), revolusi bukan saja sudah selesai, tapi sudah mati. Kita telah sampai pada zona aman bernama rakyat a-politis, apatisme, patron-klien, elitisme politik, dan tidak adanya korelasi lagi antara rakyat dan negara, karena negara dan aparatusnya berselingkuh dengan pasar (dengan berbagai dalih dan bentuk).
Indonesia sudah frozhen, masuk dalam kotak beku formalisme dalam berfikir, pragmatisme dalam bersikap, dan vandalisme dalam bertindak.
Jika demikian, teriakan Bung Karno menjadi relevan, bahwa revolusi belum selesai, karena itulah yang mesti dibongkar. Revolusi berfikir, revolusi bersikap, dan revolusi bertindak. Keluar dari titik beku bernama zona aman, out of the box. Karena revolusi macam "Revolusi PSSI" pun, tampak sebagai manifestasi dari kebuntuan kita berfikir. Itu hanyalah buah dari elitisme politik dan mekanisme patron-klien. Kasuistik dan bukan substansi. Kalau hukum ditegakkan dan kita punya pemimpin yang jelas, persoalan PSSI itu soal gampang. Betapa menderitanya untuk menurunkan Nurdin Halid saja harus seperti itu. Sangat infotainment!
Yang kita butuhkan revolusi berfikir-bersikap-bertindak. Jika dulu berfikir formal beragama itu ya rajin menjalankan ibadah, harus diubah menjadi beragama itu secara subtansial mampu menggerakkan seluruh tubuh dan jiwa kita untuk berbuat operasional pada manusia juga (bukan hanya pada Tuhan). Jika dulu bersikap pragmatis (segala sesuatu diukur berdasar azas manfaat), otoriter tidak mau mendengar orang lain, sekarang bagaimana bersinergi dengan berbagai kemungkinan. Jika dulu politik barter bagaimana sekarang politik partner. Jika dulu bertindak vandalis, merusak, menang-menangan, goblog-goblogan, bagaimana sekarang menjadi manusiawi, berdialog, menyentuh dan bukan menghajar dengan Allahu Akbar.
Revolusi belum selesai? Revolusi cem mana? Cem PSSI, itu bukan revolusi, tapi itu contoh kecil involusi Indonesia.

Rabu, Februari 23, 2011

Indonesia Bagian Atas dan Bawah

Apa yang dikatakan oleh Dipo Alam, selaku menseskab, semakin menunjukkan, Indonesia pada akhir-akhir ini, memang menuju ke arah negara gagal. Dalam periode SBY kedua ini, persoalannya hanyalah kesibukan berwacana dan, aksi-reaksi di antaranya. Selebihnya tak ada.
Capaian-capaian angka, dalam berbagai hal dan bentuk, tidak secara nyata bisa dimengerti dan dirasa. Tidak ada warta berita mengenai pembangunan, karena senyatanya yang ada kemudian ialah; Kehidupan elite politik dalam berbagai bentuk dan dimensinya, dan di sisi lain rakyat sebagai akibat atau entitas yang paria.
Negara dan rakyat pada sisi akhirnya, ialah sesuatu yang sama sekali tidak bersentuhan dalam artikulasinya. Bahwa mekanisme antara Negara dan rakyat tetap terjadi, namun itu ialah mekanisme dari suatu sistem yang sudah dengan sendirinya.
Namun makna sebagai satu kausalitas, telah kehilangan makna dan fungsi. Karena pada dasarnya, negara dalam konteks aparatus dan para elitenya, sibuk dengan wacana dan agendanya sendiri dengan berbagai dialektikanya, sementara rakyat pada sisi lain, mau tak mau, berjalan sendiri-sendiri, dan karena tuntutan survivalitas, maka mau-tak mau harus mempertahankan kehidupannya itu sendiri, tanpa siapa-siapa. Maka hukum yang tercipta dari dua dunia itu, diciptakan oleh realitas politik dan realitas kehidupan yang bernama "dunia antara", sebuah hukum alam yang menciptaka pasar.
Pasar di Indonesia, dalam berbagai dimensinya, justeru menjadi realitas politik dan sosial kita, karena dialah kemudian yang memegang kendali. Teori Huntington bahwa antara pasar (capital) dengan rakyat (civil society) semestinya berdiri negara yang memoderasi keduanya, tidak berlaku. Yang ada ialah, antara negara dan rakyat sama sekali tidak berhubungan dalam konteks simbiose mutualisme, maka mekanisme alamiah yang mengisi, yakni mekanisme pasar, yang dalam bahasa lain sesungguhnya identik dengan absen atau tak adanya kehadiran negara. Yang muncul ialah hukum rimba. Dalam berbagai level dan macamnya, dalil yang ada ialah siapa kuat, siapa cepat, siapa kaya, siapa pandai, siapa kuat, siapa tega, siapa kuasa yang akan menjadi penentunya. Tidak ada kata-kata moderat yang bisa mengendalikannya, sebagaimana mestinya ada hikmat kebijaksanaan, ukuran, nilai, sebagaimana mekanisme demokrasi yang paling dasar sekali pun.
Para politisi, petinggi dan pejabat negara kemudian sibuk dengan agendanya sendiri, yakni berada dalam lingkaran to be or not to be bagi diri dan kelompoknya. Lingkaran periferalnya, entah bernama pengamat, aktifis, dan sebagainya itu, tak pernah beranjak dari ide-ide to be or not to be. Tidak berkaitan dengan rakyat sebagai satu entitas, kecuali hanya disebut sebagai wacana. Artinya, bahkan para pengamatpun ketika ngomong soal rakyat, juga kehilangan gregetnya, selain hanya sebagai penguat konstatasi dari teori-teori yang dibangunnya. Rakyat hanyalah wacana, bukan alamat yang jelas dengan jarak kedekatan dan arahnya.
Puncaknya, ketika presiden mengritik jajaran di bawahnya, hanyalah akumulasi dari mekanisme yang diciptakannya. Kenapa? Karena presiden hanyalah sebuah status, kedudukan. Namun tidak mempunyai dimensi operasional. Tak lain, demikianlah akibatnya, leadership berubah menjadi dealership. Partnership menjadi bartership.
Dasar dari semua itu, kita tidak pernah serius, atau tahu, bahwa problem kita berada dalam kotak beku orbaisme dengan trianglenya bernama formalisme, pragmatisme, dan vandalisme Indonesia, dari sejak 1957 dari sejak Soekarno merasa partisipasi membutuhkan kepemimpinan, namun Soeharto menegaskan kepemimpinan ialah absolutisme. Kudeta kepemimpinan itulah yang jauh lebih berbahaya dan kita diamkan, baik karena ketidaktahuan ataupun keputusasaan.
Dalam cengkeraman Orde Baru, Soeharto secara sistematis menanamkan formalisme dalam berbagai manifestasinya. Itu tampak pada berbagai sistem dan definisi yang dibangun, hingga tampak dalam praksis keseharian kita. Pendidikan, hukum, dan religiusitas kita pun, direduksi dengan formalisme, dan kini kita memetik hasilnya di segala bidang. Akibat lebih jauh dari itu semua, ialah menguatnya pragmatisme, bahkan pun pada sektor-sektor yang membutuhkan kedewasaan tertentu. Menguatnya pragmatisme dalam pendidikan, hukum, agama, telah merontokkan seluruh sendi kehidupan kita, hingga nilai-nilai kemuliaan tidak lagi pernah menjadi ukuran. Karena ukurannya kemudian menjadi sangat individual atau bahkan personal.
Sampai pada akhirnya, praktik lebih jauh dari formalisme dan pragmatisme, ialah vandalisme. Hukum pasar, ialah istilah lain yang lebih lembut dari hukum rimba. Dan di mana hikmat kebijaksanaan tak ada lagi di sana, kecuali hikmat kepenguasaan.
SBY, apalagi 2014, tidak akan mampu menyelesaikan Indonesia menjadi lebih baik, karena bukan hanya tidak memiliki konsep, melainkan juga ketiadaan nilai-nilai leadership atau kepemimpinannya. Para penggantinya pun kelak, juga belum tentu mampu mengubah menjadi lebih baik.
Kenapa? Karena kita tidak pernah bersatu untuk sejenak berhenti merenung, mengakui kenyataan, menentukan sikap dan prioritas, dan bersatu-padu menjalankannya. Selama yang bernama grand-design menjadi hide-design, negara gagal itu semakin nyata. Dan bayangan ketakutan Sukarno dan kawan-kawan bangsa Indonesia akan menjadi kuli bagi negara lain, perlahan justeru diujudkan oleh para aparatus negara dan para akademisi dengan dalil-dalil teori makronya.
Tak pernah ada bayangan masa depan negara, kecuali masa depan masing-masing pribadi. Dan bangsa yang sibuk dengan persoalan-persoalan diri-pribadi itu, ialah bangsa yang sulit untuk keluar dari kotak keterpurukannya. Mau mengadakan revolusi? Bangsa seperti ini tidak bisa dipercaya untuk ber-revolusi, karena hanya melahirkan tetironnya. Bahkan mungkin lebih buruk, sebagaimana Soeharto yang buruk menghasilan kepemimpinan yang lebih buruk lagi, sekarang ini.
Berbagai problem yang muncul dalam berbagai bentuknya sekarang ini, karena memang kita tidak mempunyai pemimpin sama sekali. Pemimpin yang mengatur "semua pemimpin" yang ada. Dan itu masalah terbesar kita.
Dan Indonesia menjadi terbelah pada bagian atas dan bawah. Antara keduanya, sama sekali tidak bersinggungan. Karenanya, jangan heran, jika masalah yang sederhana jadi tampak sulit. Dari soal film Hollywood hingga menurunkan Nurdin Halid pun, bisa bertele-tele. | Sunardian Wirodono

Selasa, Februari 22, 2011

DIPO ALAM BUKAN DIPONEGORO

DIPO ALAM

Di masa Kabinet Indonesia Bersatu II ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi perintah kolusi.

Di depan sekali tuan menanti
Agak gentar. Iklan media kritis banyaknya seratus kali.
Boikot di kanan, nyonthong di kiri
Berselempang Menseskab yang tak bisa ngarti.

MAUUU

Ini iklan-iklan tak bergenderang-berpalu
Keniscayaan tanda perintah.

Sekali kritis
Sudah itu matikan

MAUUU

Bagimu Bossmu
Menyediakan a fee

Selagi di atas menghamba
Bosan kelamaan ditindas
Sungguh pun mental mesti tergadai
Jika hidup harus menjilati

Mauuu
Ruhut, eh, Rebut
Jilat
Tebang

| Digubah dari puisi "Diponegoro" karya Chairil Anwar (1943), yang aselinya ada di bawah ini;


DIPONEGORO
| Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sungguh pun ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

| Februari 1943. Budaya, Th III, No. 8. Agustus 1954

Kamis, Februari 10, 2011

Kapan Pertama Kali Serat Centhini Ditulis?



Adalah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat, bernama Kanjeng Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III, yang meminta kepada tiga pujangga kadipaten (wilayah kekuasaannya selaku pangeran), untuk menuliskan sebuah cerita. Bentuknya berupa tembang, bermuatan ilmu dan ngelmu Jawa, yang sebagiannya diakui sebagai pengalaman dan pengetahuan pribadinya.
Tiga pujangga itu adalah para abdi dalem, atau karyawan, kliwon carik (juru tulis), di bawah kadipaten yang menjadi wewenang sang pangeran putra mahkota, bernama Sutrasna, dan kemudian disebut Ki Ngabei Raggasutrasna, dengan disertai (2) Raden Ngabei Yasadipura II (Raden Tumenggung Sastranagara), abdidalem bupati pujangga kadipaten, dan (3) Raden Ngabei Sastradipura, abdi dalem kliwon carik kadipaten, yang mendapatkan tugas khusus mempelajari agama Islam hingga ditugaskan naik haji ke Mekah, dan kemudian bergelar Kyai Haji Mohammad Ilhar.
Di luar tiga penulis pokok ini, masih terdapat beberapa kontributor, pembantu, yang memang ditunjuk oleh sang Pangeran, yakni: (1) Pangeran Jungut Mandurareja, penguasa tanah pradikan krajan Wangga, Klaten. (2) Kyai Kasan Besari, ulama di Gebangtinatar, Panaraga, menantu Pakubuwana IV), dan (3). Kyai Mohamad Minhad, ulama besar di Surakarta.
Sebelum melakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas-tugas yang khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur. Yasadipura II, bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji, dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Tiga pujangga tadi dibekali selaksa ringgit emas, untuk berkelana.
Mereka menghimpun kearifan lokal, sekaligus penyimpangannya. Menghimpun ujaran dan ajaran para pertapa, peramal, empu, pande besi, pesulap, penyamun, ulama perempuan, dhalang, penafsir mimpi, hingga sampai para paria.
Setelah survey, riset, atau observasi ke lapangan, barulah kemudian mereka kembali berkumpul untuk proses penulisan secara tim. Penulisan dimulai pada Sabtu Pahing, 17 Desember 1815. (Mengenai tanggal penulisan ini, sumber data tertulis yang paling akurat adalah dalam pupuh bait 3-4, di situ tertulis (3) "Sabtu paing lek Mukaram wewarseku, Mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewa Ri,..." dan (4) "...windu Adi Mangsa Sapta, Paksa Suci Sabda Ji", yang semuanya itu dalam kalendering, jatuh pada, Sabtu Pahing 25 Sura 1742, Wuku Marakeh, atau 25 Muharram 1230 Hijriah, atau dalam kalender Masehi jatuh pada hari Sabtu, tanggal 7 Januari 1815).
Data sebelumnya yang selalu menyebut Serat Centhini ditulis pada 26 Muharram 1230, tahun 1742 Jawa dan 1814 Masehi, dengan demikian semestinya tidak tepat.
R. Ng. Ranggasutrasna yang menjelajah pulau Jawa bagian timur telah kembali terlebih dahulu, karenanya ia diperintahkan untuk segera memulai menulis. Dalam prakata dijelaskan tentang kehendak sang putra mahkota, bersangkala “paksa suci sabda ji” (1742 tahun Jawa atau 1815 Masehi).
Setelah Ranggasutrasna menyelesaikan jilid pertama, datanglah Yasadipura II dari Jawa bagian barat dan Sastradipura (Kyai Haji Muhammad Ilhar) dari Mekkah. Jilid dua sampai empat dikerjakan bersama-sama oleh ketiga pujangga istana. Setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat Jawa, timur Jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing.
Pangeran Adipati Anom kemudian mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh. Penyebabnya diperkirakan karena kecewa, bahwa pengetahuan tentang masalah seksualitas (persenggamaan) kurang jelas ungkapannya, sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap tidak sempurna.

Senin, Januari 17, 2011

SERAT CENTHINI DWI LINGUA

Mengindonesiakan Serat Centhini text by text? Selama ini belum pernah ada yang berhasil melakukannya. Bukan hanya sekedar ketebalannya, lebih dari 3500 halaman, memuat 722 pupuh atau jenis tembang, dan semuanya yang terbagi dalam 12 jilid buku, memuat 250-an ribu baris. Namun selain itu juga karena bahasa tembang Macapat serta kandungan isinya sebagai ensiklopedi, membuat penerjemahan itu bukanlah sesuatu yang mudah.
Apa yang dilakukan oleh Sunardian Wirodono, dengan melakukan pengindonesiaan yang diharapkan mendekati teks Serat Centhini, adalah sebuah keberanian. Dikatakan sebuah keberanian, karena Sunardian yang telah menggubah Serat Centhini menjadi sebuah novel berbahasa Indonesia, tidak bisa bersembunyi pada berbagai penjelasan naratif yang selama ini sering dipakai, jika beberapa orang mencoba untuk menerjemahkan karya sastra klasik Sri Susuhunan Pakubuwana V (1820-1823) itu.
Dikatakan oleh Sunardian, niatan mengindonesiakan Serat Centhini, lebih karena kenyataan banyak yang mengetahui (dengan menyebut-nyebut) Serat Centhini, namun belum tentu mereka membacanya, bahkan mungkin melihat wujud kitabnya. Belum lagi jika mengetahui, bahwa karya klasik itu masih tersimpan dalam bahasa Jawa. Maka banyak yang menyebut Serat Centhini adalah "Kamasutra Jawa".
Penyebutan itu, tidak sangat keliru, karena di dalam Serat Centhini memang bertebar ujaran-ujaran dan bahkan ajaran mengenai seksualitas. Dijabarkan dengan jelas, bagaimana sebaiknya orang melakukan senggama, juga pada waktu apa, dengan posisi seperti apa. Bahkan, dalam narasinya, juga diceriterakan bagaimana beberapa tokohnya seperti Ki Jayengraga, Ki Kulawirya, Cebolang, melakukan persenggamaan dengan berbagai perempuan, dari gadis di bawah umur, janda, atau bahkan isteri orang lain. Atau juga dengan terus-terang diceritakan bagaimana mereka melakukan party-sex, three-some, dan lelaki dengan lelaki. Cerita-cerita seperti itu tersebar hampir merata di setiap jilidnya.
Namun, Serat Centhini bukan hanya mengenai satu hal itu (sebagaimana Kamasutra yang memang secara khusus menguraikan teknis bersenggama cara India-Hindu). Serat Centhini adalah ensiklopedi yang naratif. Penuturan mengenai berbagai item, konten, dituliskan melalui kisah perjalanan tokoh-tokohnya (terutama Ki Syekh Amongraga, Ki Jayengsari dan Ni Rancangkapti, juga Cebolang), dengan setting waktu paska jatuhnya Kasunanan Giri oleh Sultan Agung Mataram (1736). Latar belakang kisah, adalah pelarian dan petualangan tiga anak Sunan Giri yang berada dalam kejaran para prajuri Mataram.
Dengan bangunan setting waktu, setting tema, dan pola bertuturnya yang linier, Serat Centhini menguraikan mengenai pernak-pernik kehidupan manusia melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tokoh-tokohnya. Dari sana meluncur berbagai hal dari perbintangan (astrologi), pengetahuan mengenai alam, cara bercocok-tanam, jamu-jamuan, aneka jenis makanan dan minuman, berbagai adat dan ritual (Jawa) dari melahirkan anak, pengantin, hingga kematian.
Dalam Serat Centhini juga bisa didapatkan berbagai hal mengenai ajaran dan ujaran agama, tasawuf, etika, filsafat. Juga kitab ini memuat data dan fakta mengenai sejarah, legenda, mitos, mengenai candi, bangunan kraton, aneka tetumbuhan, dan potret sosial dari berbagai kelas masyarakat.
Serat Centhini adalah kitab yang ditulis mulai 1814, dengan menyodorkan warna baru. Ia ditulis dari tembok kraton, namun ia tidak berbicara mengenai kejayaan sebuah kerajaan atau keagungan Sang Raja. Serat Centhini, bahkan sebaliknya, menuliskan kisah orang-orang pinggiran, tokoh-tokoh yang tidak dikenali sejarah tetapi punya wilayah dan kehidupan sosial, orang-orang terusir atau pelarian. Sultan Agung yang menjadi "penyebab" dari latar belakang sosial Serat Centhini pun, hanya muncul sebagian kecil pada jilid pertama dan terakhir. Itu pun tidak sangat dominan. Ia tokoh yang menyebabkan pelarian Ki Syekh Amongraga, tetapi juga mengakhiri kisah Syekh Amongraga, namun di tengah-tengahnya Sri Pakubuwana memberikan ruang yang luas bagi berbagai tokoh kecil yang bisa jadi adalah korban-korban dari Sultan Agung.
Dari situ, keanehan sudah tampak pada karakter Serat Centhini ini yang berbeda dengan serat-serat lainnya. Bahkan, jika kita mengetahui, bagaimana proses terciptanya karya sastra itu sendiri, akan terasa semakin keanehannya. Karena sejak awal oleh penggagasnya (Sri Pakubuwana V, yang pada waktu itu masih sebagai putra mahkota dari Pakubuwana IV) dimaksudkan sebagai "baboning pangawikan Jawi" (sumber pengetahuan Jawa), maka ia memerintahkan pada Ranggasutrisna, Yasadipura II untuk berkeliling ke Jawa bagian barat dan timur, serta Sastradipura diutusnya ke Mekah untuk sekalian naik haji dan belajar mengenai agama (hingga kemudian namanya berganti menjadi H. Mohammad Ilhar) senarai dengan selesainya penulisan Serat Centhini pada 1823, atausembilan tahun kemudian.
Karena itu, Serat Centhini menjadi sangat tebal (12 jilid dan hampir 4000 halaman jika dilatinkan dengan ukuran buku 14x21 Cm, sebagaimana bisa dilihat dalam buku "Serat Centhini Latin" yang disusun oleh Karkana Kamajaya), sangat kaya. Ia adalah buku ensiklopedi pertama di Indonesia, yang ditulis dengan cara "paling kreatif dan orisinal".
Maka jika bisa disebut jasa siapa yang "meneruskan" Serat Centhini dikenal oleh kalangan lebih luas, ialah upaya menyalin Serat Centhini dari huruf Jawa ke huruf latin, seperti yang dilakukan oleh Karkana Kamajaya (1980) itu. Dari sana, serat Centhini yang semula ngendon di istana, bisa keluar dan dinikmati oleh kalangan luar, meski masih terbatas yang mengetahui bahasa Jawa. Selebihnya, gelap.
Baru kemudian 25 tahun kemudian, munculnya karya gubahan Elizabeth D. Inandiak (wartawati Perancis) dalam bentuk prosa liris berbahasa Indonesia (mulanya gubahan dalam bahasa Perancis), menjadi pintu masuk Serat Centhini pada generasi baru Indonesia. Banyak anak muda Indonesia yang kemudian sedikit tercerahkan dengan apa yang dilakukan oleh Inandiak. Meski pada karya Inandiak, rasa ensiklopedi Serat Centhini sedikit banyak dihilangkan, karena lebih bertumpu pada kisah romansa tokoh-tokohnya. Karya Inandiak, karena satu-satunya yang berbahasa Indonesia dengan pendekatan kontemporer, seolah menjadikan referensi utama pengenalan Serat Centhini.
Pada 2009, Sunardian Wirodono menggubahnya ke dalam bentuk novel, dimulai dari "centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin", Sunardian "hanya" memakai peristiwa 40 hari masa pengantin antara Syekh Amongraga dengan Tambangraras, namun berhasil menyarikan gambaran Serat Centhini secara utuh, dari sejak awal sejarah Sunan Giri, hingga pecahnya perang, dan kisah pelarian anak-anak Sunan Giri tersebut, dengan teknik penulisan yang un-linier.
Sayang untuk seri novel keduanya, yakni paska minggatnya Syekh Amongraga dari isterinya, "Centhini, Perjalanan Cinta", yang mengisahkan pencarian Tambangraras dan seluruh keluarganya hingga kisah kematian Syekh Amongraga dan pertemuan terakhirnya dengan Sultan Agung, proses penerbitan novel itu terhambat karena konflik Sunardian dengan penerbitnya, yang secara sepihak mengalihkan naskah-naskah yang sudah digarap ke penulis lain Gangsar R Hayuaji alias sri Wintala Ahmad, yang penulis ini kemudin membajak atau mengcopy paste tulisan-tulisan Sunardian didaku sebagai karyanya dan atas namanya). Kasus pembajakan buku ini masih berproses secara hukum. Padahal, Sunardian yang semula merancang tiga novel gubahan atas serat Centhini itu, ingin menyodorkan kitab klasik itu dalam spirit dan bentuk awalnya, yakni Sunardian memilih tetap setia pada alur dan komponen isi Serat Centhini yang memang ensiklopedis, meski diakui menjadi tidak sebebas Inandiak misalnya. Sayang, dengan kasus hukum itu, menjadi terhambat.
Tidak bisa menunggu kevakuman (atas proses hukum pembajakan novel Centhini) itu, Sunardian menjadi terpicu untuk sekalian saja menerjemahkan Serat Centhini seutuhnya. Dengan demikian, maka masyarakat akan langsung tahu dari sumber aslinya, text by text. Disebutkan demikian, karena berbeda dengan penerjemahan yang sudah dilakukan oleh Tim Universitas Gajah Mada, terjemahan Sunardian tetap di susun sebagaimana teks syair tembang macapat, meski tidak mungkin memenuhi guru wilangan dan guru lagu metrum tembang macapat yang ketat. Namun setidaknya, pembaca dituntun mampu mendekatkan pengertiannya atas teks bahasa Jawa yang akan disertakan juga. Itu perbedaan dengan penerjemahan sebelumnya, yang dituliskan secara prosa dan lebih mendekati uraian deskriptif daripada pendekatan karya sastra kreatif.
Apa yang diharapkan oleh penerjemah adalah, agar dengan demikian Serat Centhini diketahui teks aslinya, dan diketahui pula makna sejatinya, kalimat-perkalimat sebagaimana pola penerjemahan kitab-kitab suci seperti Alquran, Injil, Wedha, tanpa niatan menyamakannya. Dimaksudkan oleh Sunardian, dengan demikian "rasa puitik" dari tembang macapat, bisa dirasakan pula meski dalam bahasa Indonesia.
Penulis yang dulunya dikenal sebagai penyair, dan kemudian lebih berkonsentrasi ke novel, tentu lebih mempunyai pendekatan sastrawi yang dibutuhkan untuk proses penerjemahan Serat Centhini ini.
Namun karena proyek penerjemahan ini lebih bersifat pribadi, Sunardian memilih jalur penerbitan indie, dengan gotong-royong masyarakat yang mencintai dan menginginkan dapat membaca Serat Centhini sesuai pengetahuan bahasanya. Karena itu, proses penerjemahan itu akan memakan waktu lama. Sunardian menjanjikan, setiap bulannya, akan diterbitkan per-jilid mulai Januari 2011, hingga jilid XII direncanakan selesai dan terbit pada Desember 2011.
"Dengan gotong royong pembaca dan penggemar Serat Centhini, proses penerjemahan ini tidak perlu menggantungkan pada funding atau lembaga kebudayaan pemerintah, yang memang tidak peduli pada dokumen bangsanya," demikian dikatakan Sunardian yang memilih jejaring sosial seperti facebook dan blogspot untuk menyebarkan bukunya. Jejaring sosial ini, katanya, mampu membebaskan cengkeraman dari dominasi toko buku, yang biasanya memotong antara 50-60% dari harga jual buku, sehingga menyebabkan harga buku mahal namun penulisnya kurang mendapatkan penghargaan. Jika toko buku langsung mendapatkan lebih dari separoh harga buku, maka teknik yang dipakai penerbit adalah melipatgandakan buku itu hingga mereka memperhitungkan mendapatkan keuntungan memadai, akibatnya harga buku menjadi sangat tinggi, apalagi jika memakai jasa distributor, karena toko buku tidak memberikan ruang pada munculnya penerbit-penerbit kecil yang tidak bisa menjaga kontinyuitas penerbitan. Dengan komposisi toko buku mendapat 50-60%, distributor antara 10-15%, penerbit hanya akan sekitar 25-35%, dan penulis sebagai tiang utamanya, hanya sekitar 10% (dengan model royalti, terutama pada penerbit besar), tetapi kebanyakan penerbit buku hanya memberikan sekitar 1% dari harga jual buku.
"Komposisi itu, jelas tidak mengembangkan dunia penulisan," kata Sunardian Wirodono yang semula malang-melintang di dunia broadcast di Jakarta dan mulai 2008 memilih tinggal di Yogyakarta.

Kamis, Oktober 28, 2010

Membaca Peristiwa Merapi dari Sisi Berbeda

Dengan segenap beladuka pada korban atas meletusnya Gunung Merapi. Peristiwa ini, bukan pertama kalinya. Siklus Gunung Merapi, sebagai gunung berapi yang masih hidup, akan selalu demikian.
Namun peristiwa meletusnya gunung berapi, sesungguhnya bukanlah peristiwa yang tak bisa dimengerti dari sisi peradaban manusia sebagai mahkluk yang diperkenankan berpikir dan menafsir.
Ketika saya bercengkerama ke beberapa penduduk di Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Muntilan (Jateng), beberapa penggali pasir yang berada di ring satu bahaya Merapi, mengatakan bahwa Gunung Merapi memberi kehidupan dan rejeki pada mereka. Sehabis gunung meletus, kata mereka, maka pasokan pasir, batu, begitu melimpah, dan menjadi sumber mata pencaharian. Demikian juga bagi para petani, pasca letusan Merapi, tanah menjadi subur, dan menjadi pengharapan untuk masa tanam berikutnya.
Jika demikian, mengapa fenomena alam itu tidak dipersahabat, sebagaimana naluri hewan-hewan yang tajam, yang akan menjauh dari Merapi, ketika peristiwa erupsi itu terjadi?

Di Jepang, setelah bencana besar Fujiyama, pemerintah dan para ilmuwan Jepang, berfikir keras mengenai hal itu. Dan hasilnya, terjadi perubahan pada kontruksi sosial dan budaya masyarakat setempat. Bentuk rumah dan kontruksinya, pekerjaan atau mata pencaharian penduduk, semua didesain untuk mengantisipasi sebagai resiko lingkungan yang rawan dan tidak stabil.
Pemerintah dan akademisi Indonesia, sesungguhnya juga bisa, mendisain setepatnya, bagaimana memposisikan hubungan masyarakat sekitar dengan Gunung Merapi, sehingga kita tidak hanya bicara soal "tanggap bencana" atau "musibah alam", padahal itu adalah peristiwa kerutinan yang bisa diperkirakan.
Artinya, sikap mental, karakter budaya, pola pikir masyarakat sekitar Merapi, adalah persoalan social enginering yang selama ini diabaikan, dan kita hanya ribut jika hal tersebut terjadi. Ribut keprihatinan, ribut aksi sosial, ribut anggaran bencana.
Berbeda dengan kasus yang terjadi di Chile, ketika presidennya di lapangan untuk bersama dalam peristiwa itu, Presiden kita justru berada di lokasi untuk menggelar rapat koorinasi terbatas dengan para mentrinya, dengan protokolernya yang bisu-tuli. Presiden terjebak dalam upacara teater yang tidak cerdas. Mempertunjukkan pembelaan, namun menyiratkan impresi kegenitan. Bahasa bodohnya berpamrih, tidak tulus, ora ngerti prioritas!



Soal Mbah Maridjan? Saya kira kontroversi itu terjadi karena kita sering kurang sabar dan bijak membaca peran-peran manusia dalam kehidupan. Yang anti klenik dan mistik, dengan serta merta akan mencibir sosok ini, namun yang sebaliknya, akan memujanya.
Mbah Maridjan, adalah sosok biasa dalam konstruksi sosial masyarakat desa, yang fenomena ini kemudian menemukan komodifikasinya oleh media yang rindu kasus dan isyu, termasuk bagaimana "rosa" mengeksploitasinya. Dalam konteks pemerintahan modern, Mbah Maridjan tentu saja warga negara biasa. Namun dalam keyakinannya sebagai abdi dalem yang mendapatkan tugas dari raja, yang katanya "tugas pemerintahan kraton", beliau menerjemahkan sebagai tanggung jawab. Ia telah memberi pengertian pada tetangga kiri-kanan untuk mengungsi, namun sebagai "penjaga yang ditugaskan", ia bertahan memohonkan pada Tuhan, keselamatan alam seisinya dalam sujud shalatnya itu. Bahwa ia kemudian gugur di medan lahar, itulah resiko seorang panglima perang, yang tidak ngacir dari tanggung-jawab. Tanpa mendeskreditkan beliau, Mbah Maridjan adalah sosok profesional, jika saja kita bisa mengabaikan efek mediasi yang dikembangkan oleh gossip selebritas media kita, Mbah Maridjan tidak seheboh dan "sejahat" pikiran kita.

Gunung Merapi meletus, sebagai peristiwa yang berdampak sosial dan ekonomi, tentu mengundang keprihatinan dan solidaritas sosial kita bersama. Namun, tidak mau memikirkan penyikapan kita atas fenomena dan pembacaan kuasa Tuhan atas alam semesta ini, bukanlah kesombongan yang dungu, melainkan kedunguan yang sombong.

Jika kita tak mampu membaca alam, mengapa kita tidak mau membaca buku?

| Sunardian Wirodono.

Foto Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, karya Idam Laksana, Yogyakarta.

Rabu, Oktober 13, 2010

Skandal Penjiplakan Novel Centhini 2 Perjalanan Cinta

Setelah menerbitkan novel “Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin” karya Sunardian Wirodono pada Mei 2009, merupakan novel gubahan dari sastra klasik Jawa Serat Centhini, Diva Press Yogyakarta menerbitkan novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” dengan penulis bernama Gangsar R Hayuaji (yang kemudian dijelaskan sendiri oleh penulisanya merupakan nama pena dari Sri Wintala Achmad), pada Oktober 2010.

Penerbitan novel terakhir itu, sungguh menyentak saya (Sunardian Wirodono, SW). Karena dari teks-teks yang ada dalam novel itu, yang dikatakan ditulis oleh Gangsar R. Hayuaji, sebagian besar adalah apa yang saya tulis untuk melanjutkan novel pertama saya “Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”. Bagaimana bisa, dan apa buktinya?


Sebelumnya, harus dijelas latar belakangnya. Hubungan kerja saya (SW) dengan penerbitan Diva Press (DP) tidaklah mulus. Setelah mengalami cetak ulang tiga kali, DP antusias untuk meminta saya menyegerakan penulisan novel berikutnya, yang memang saya janjikan Serat Centhini saya gubah menjadi tiga buku, yakni (1) Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin, (2) Centhini Perjalanan Cinta, dan terakhir (3) Cebolang Sang Petualang Jalang.

Hubungan kerja itu, karena persahabatan, tidak memakai perjanjian tertulis. Demikian juga tak ada kontrak, kecuali SW mendapat honorarium berdasar jumlah buku yang dicetak. Ketika saya mempertanyakan soal kontrak kerja, setelah melihat hasil cetakan ke-tiga, saya disodorkan point-point kontrak kerja yang 100% menekan penulis dan 100% menguntungkan penerbit.

Sementara, hak honorarium saya untuk cetakan ke-tiga (Oktober 2009), tidak akan diberikan sebelum saya menyelesaikan naskah ke-dua, “Centhini Perjalanan Cinta”. Saya shock, karena pada waktu itu (Februari 2010) saya sangat membutuhkannya. Dan selama itu, sama sekali tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Sebelum itu, saya memang sudah menyerahkan beberapa bab untuk “Centhini Perjalanan Cinta”, karena saya membutuhkan uang (dengan system ijon), dan pihak DV memberikan uang muka pada saya Rp 5.000.000,00 untuk hal itu. Maaf, detailnya saya lupa mengenai hal ini.

Sekarang persoalannya, ketika permasalahan tersebut di atas tidak atau belum terselesaikan, pihak DP kemudian menerbitkan novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” dengan penulis Gangsar R Hayuaji (Sri Wintala Achmad) tersebut.
Lepas dari apapun persoalan saya (SW) dengan DP, penerbitan novel atas nama Gangsar R Hayuaji itu mengandung cacat prinsipil dalam karya kreatif penulisan, yakni soal orisinalitas.

Dalam ucapan terima kasih (tak jelas dari penerbit atau penulisnya) pada novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” (C2PC) itu, dituliskan ucapan terima kasih pula pada Sunardian Wirodono, yang disitu ditulis sebagai “penulis naskah lepas Centhini: Perjalanan Cinta” yang “secara tidak langsung” memberikan sumber data penulisan novel ini (C2PC, h. 5). Seolah ada penulis tetap sebagaimana proses penulisan Serat Centhini yang ditunjuk oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V.

Tidak jelas apa maksud “secara tidak langsung” ini, karena pada halaman 418 disebutkan “Wirodono, Sunardian. “Centhini: perjalanan Cinta”. Teks lepas, Jakarta-Yogya, Maret-November 2009” pada daftar bacaan novel C2PC. Artinya Gangsar R Hayuaji tak mungkin tidak tahu soal file tulisan SW itu.

Seorang teman, lewat facebook, pernah menanyakan pada DP, apakah novel C2PC adalah karya SW? Dijawab oleh pihak DP, sama sekali tidak (Oktober 2010). Dan melalui account “Membaca Serat Centhini” (MSC) di facebook, karena mendapatkan tag kiriman dari “Centhini Literatur From Java” yang dikelola oleh Sri Wintala Achmad, SW menanyakan agar dijelaskan oleh penerbit maupun penulis, bahwa buku tersebut tidak ada kaitannya dengan SW. Hal tersebut dijawab langsung oleh Sri Wintala Achmad, bahwa novel tersebut sama sekali tidak berkait dengan SW, dan ia katakan semuanya ia tulis sendiri berdasar referensi yang ia miliki (Oktober 2010).

Baiklah. Saya ingin masuk pada bukti-bukti teks, yang ternyata, hampir semuanya copy paste dari yang saya (SW) tulis, untuk kemudian dengan nama Gangsar R. Hayuaji didaku sebagai karyanya:

Saya telah membaca novel "Centhini 2 Perjalanan Cinta" yang diakukan ditulis oleh Gangsar R Hayuaji (nama pena dari Sri Wintala Achmad), yang baru saja diluncurkan.
Novel tersebut konon mengacu pada karya sastra klasik Jawa Serat Centhini. Namun, mencermati teks novel tersebut, yang dibagi dalam empat bagian (1) Tambangraras Mencari Belahan Jiwa, 12 bab (2) Amongraga Mencari Sarang Angin, 15 Bab (3) Kelana Sang Pelarian, 3 bab, dan (4) Sang Kelana yang Kembali, 7 bab, dan (5) Kesaksian Seorang Cethi, 2 bab. 

Saya (Sunardian Wirodono) setelah membacanya, kemudian bisa memastikan, bahwa karya tersebut, khususnya pada bagian 1, hampir keseluruhan merupakan copy-paste dari apa yang telah saya tulis untuk karya yang saya juduli "Centhini Perjalanan Cinta" khususnya dari Bab 1 s.d 3 yang oleh Sdr gangsar digabung kemudian dipecah menjadi 12 bab. 

Demikian juga pada bagian 2, Sdr. Gangsar mengcopy-paste tulisan saya untuk naskah yang sama, khususnya pada Bagian Pembuka, yang kemudian dijadikannya 15 bab, dan diletakkan pada bagian ke-2. 

Peletakan bab 1-2-3 dan kemudian baru bab pembuka, jika dilihat dari struktur pengurutan naskah saya, tidak mengurangi penjiplakan yang dilakukan oleh saudara Gangsar, karena baris demi baris bisa diperbandingkan dengan kesamaan persis di atas 90%. Sdr. Gangsar hanya melakukan pengimbuhan kata, penyisipan, pengubahan sana-sini-situ, menghapus beberapa alinea, tetapi tidak mengubah struktur logika dan plot, bahkan beberapa idiom yang sengaja saya lakukan.

Bahkan, upaya pengotak-atikan (membolak-balik) urutan itu, menjelaskan lebih terang, bahwa saudara Gangsar sadar dan sengaja melakukan hal tersebut. Misalnya, mengcopy-paste bab pembuka SW, yang justeru dipakai sebagai footnote seperti pada bukunya di halaman 298-299, untuk yang ini bahkan sama sekali tidak diedit alias plek-plek-plek, padahal lebih dari 40 baris. 

Dengan demikian, novel terbitan Diva Press setebal 420 halaman itu (dikurangi 50 halaman pengantar), dari halaman 61 s.d 178 dan 181 s.d 300 (total dari 370 halaman) yang didaku Gangsar R Hayuaji sebagai karyanya itu, 236 halaman atau 63,78% adalah teks naskah yang di tulis oleh Sunardian. Dari meta-data file komputer, saya berani bertanggungjawab, naskah tersebut saya tuliskan pada periode Maret 2009-Maret 2010, sementara Gangsar menuliskannya bertitimangsa Mei 2010.

Saya kutipkan dari file SW “Bab Satu : Cinta Begitu Membelenggu”
| WANAMARTA. YANG ADA HANYALAH SUNYI SEPI. MATAHARI memang tetap bersinar di langit. Bahkan, seolah tiada jemu. Setiap pagi. Setiap sore. Di langit yang sama. Datang dan pergi.
Tapi betapa membosankan bagiku.
Hari demi hari, begitu terasa lambat.
Sangat lambat.
Entah berapa lama sudah. Denayu Tambangraras berkelana dalam diam, di atas tempat peraduannya. Ya, tempat peraduan, karena demikianlah hari-hari dan malam-malamnya, diadukan dalam kesendirian.
Sementara itu, aku, si Centhini, sebagai cethi, pembantu setia Tambangraras, pun hanya berada dalam diam. Tiada mengerti harus berbuat apa. Bukannya tiada daya, namun lebih karena tiada cara, agar Denayu Tambangraras melepaskan diri dari derita. Yang kulakukan hanyalah menemani, melayani, dan menjadi perantara, dari siapa pun yang ingin menemuinya. Karena hanya padaku, Denayu sudi menumpahkan isi hatinya. Dan hanya padaku, Denayu percaya.
Masa-masa yang sulit, juga bagaimana aku harus menceriterakan kepadamu, betapa tidak masuk akalnya ini semua. Cinta kepati-pati Denayu, pada Syekh Amongraga, menjadikan semuanya ini tidak masuk akal, tak bisa dinalar, setidaknya oleh nalarku.
Kenapa cinta begitu membelenggu? Dan bukannya membebaskan?
Ah, pertanyaan yang tidak cukup cerdas, justeru karena terlalu dipikirkan.
Masih ingat, bagaimana pada malam ke-40 hari perkawinannya, Syekh Amongraga pergi tanpa pamit pada isterinya, Tambangraras? Yang terjadi kemudian, hanya duka derita.
Denayu Tambangraras setelah itu, tiada mau melakukan apa pun. Tidak mandi, tidak bersalin pakaian. Makan dan minum pun, jika tak dipaksa, tak akan dilakukannya. Yang ia lakukan, hanyalah menderas Alquran, shalat, berdzikir.
Saat-saat keluar dari kamarnya, hanyalah untuk berwudhu, atau ke pakiwan. Selebihnya, tak ada.
Ia mengenakan pakaian serba putih, sebagaimana selembar kain yang hanya disampirkan di tubuh kurusnya.
Dan itu terjadi bukan saja berhari-hari, berpekan-pekan. Melainkan ketika bulan purnama telah berganti beberapa kali. Mungkin saja satu tahun lebih, aku tidak tahu pasti. Tapi nanti kau bisa merunutnya, seberapa lama perjalanan Syekh Amongraga di tempat-tempat yang ia datangi, untuk mencari dua adiknya, dengan meninggalkan isterinya!
Alasan yang menurutku dibuat-buat. Sangat dibuat-buat.
Apa sesungguhnya alasan yang sebenar-benarnya? Memang hendak meninggalkan Tambangraras, sebagaimana para lelaki meninggalkan perempuan yang telah dicecap sari-madunya? Sebegitu jugakah Amongraga yang bergelar syekh itu? Syekh apa pula namanya, dan darimana gelar itu didapatkannya?
“Centhini,…” suara Denayu Tambangraras perlahan.
Tersadar aku dibuatnya. Kupandangi perempuan kurus kering yang tepekur di atas ranjangnya, di depanku.
“Apa yang ada dalam pikiranmu kiranya?” Tambangraras menatapku.
“Tak ada,” jawabku keceplosan. Jengkel.
“Kita harus menerimanya,…”
“Untuk alasan apa, Denayu?” aku balik bertanya. Dengan nada meninggi.
“Tidak semua harus ada alasannya,…”
Jawaban Denayu Tambangraras mengecewakanku. Betapa dulu, ketika kami masih kanak-kanak, kami diminta untuk memberikan alasan. Semua benda yang bergerak di muka bumi ini, selalu dengan alasan-alasan. Tak ada yang tidak. Dan Ki Bayi Panurtha, akan selalu menuntut mengapa begini mengapa begitu. Tak boleh salah menjawab, dan tak boleh segala sesuatu dilakukan tanpa sebab dan tujuan yang pasti. Agar kami mengetahui dan waspada, mengenai baik-buruk segala sesuatu.
Tapi, kenapa justeru jauh waktu kemudian, ketika kami telah dianggap aqil-balikh, sama sekali kita tidak boleh mempertanyakannya? Dan diminta untuk menerima segala hal begitu saja?
Menyebalkan.

Kemudian, ini yang saya baca dari “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” oleh Gangsar R. Hayuaji, pada bab 1, hal 61 – 64: | Sebagaimana kemarin, matahari masih terbit dan terbenam di langit Wanamarta. Datang dan pergi dengan membawa kabar yang sama. Hingga hidup hanya putaran roda kereta dalam kelengangan jalan. Melaju jauh menuju kota kesunyian hati tak bertepi. Betapa brengsek dan membosankan!
Entah sudah berapa lama Denayu Tambangraras berkelana dalam sunyi peraduannya. Tempat di mana ia selalu menghabiskan waktunya untuk mengadukan kesunyian hati pada cermin. Cermin yang selalu basah dengan air mata kepedihan.
Sementara aku si Centhini, cethi setia Denayu Tambangraras, tidak mengerti harus berbuat apa. Bukannya tidak berdaya, melainkan tidak tahu cara bagaimana membantu Denayu Tambangraras untuk terlepas dari belenggu nestapa. Pekerjaan yang kulakukan hanya menemani, melayani, dan menjadi perantara dari sesiapa yang ingin menemuinya. Karena hanya kepadaku, Denayu sudi menumpahkan isi hatinya. Hanya kepadaku, Denayu percaya.
Betapa sulit, manakala aku harus menceriterakan segala sesuatu yang tak masuk akal. Cinta kepati-pati Denayu Tambangraras pada Syekh Amongraga menjadikan segala sesuatu tidak masuk akal. Cinta yang membelenggu. Tidak memerdekakan. Cinta yang semakin tidak jelas hakikatnya. Memicu ketololan, ketika dipikirkan.
Makin terbersit di benak. Seusai melintasi empatpuluh malam perkawinannya, Denbagus Amongraga meninggalkan Wanamarta. Meninggalkan nestapa di dalam hati Denayu Tambangraras. Nestapa yang kemudian menyerupai ampas kopi, melarut kental di dasar cangkir.
Semenjak kepergian Denbagus Amongraga, Denayu Tambangraras tidak perduli dengan dirinya. Tidak mau mandi dan bersalin busana. Tidak mau merias wajah dan melulur tubuh langsatnya. Tidak mau makan dan minum. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menderas al-Quran, shalat, dan berdzikir.
Betapa iba aku pada Denayu Tambangraras. Perempuan yang tidak pernah lepas dari busana serba putih. Selembar kain yang hanya dibalutkan pada tubuh kurus keringnya. Perempuan yang hanya keluar dari tempat peraduan bila ingin berwudlu dan buang air besar dan kecil di pakiwan.
Di satu sisi, aku iba pada Denayu Tambangraras. Di sisi lain, aku jengkel pada Denbagus Amongraga yang pergi tanpa alasan. Apakah kepergiannya karena ingin meninggalkan Denayu Tambangraras? Apakah karena ingin mencari kedua adiknya yang tidak diketahui di mana rimbanya? Apakah ingin mencari jati diri? Semua masih teka-teki.
“centhini…” Denayu Tambangraras yang terpekur di ranjang sontak memecah lamunanku, “Apa yang tengah kamu pikirkan?”
“Ehm…”
“”Tidak perlu kamu pikirkan Centhini!” pinta Denayu Tambangraras. “Aku menerima semua ini.”
“Apa alasan Denayu menerima perlaku tidak adil dari Syekh Amongraga? Kekupu liar yang bergegas meninggalkan mawar layu, sudah dicecap sari madunya.”
“Barangkali sudah menjadi takdir.” Wajah Denayu Tambangraras serupa bulan terlindungi tirai awan tipis. “Karenanya, tidak ada alasan mengapa aku harus menerima semua ini.”
Jawaban Denayu Tambangraras membuatkan kecewa. Karena semasih kanak, aku selalu diajarkan untuk memberikan alasan atas segala yang diterima. Semua benda yang bergerak di muka bumi pun selalu hadir dengan alasan. Bahkan, Ki Bayi Panurta selalu menuntut agar segala sesuatu yang dilakukan berpijak pada alasan dan kepastian tujuan. Inilah pengetahuan yang berharga bagi manusia, agar senantiasa waspada terhadap segala sesuatunya.
Namun sesudah dewasa, aku justeru tidak diperbolehkan untuk menanyakan mengapa segala sesuatu harus diterima tanpa alasan. Sungguh menyebalkan!. Terlebih saat menyaksikan kepedihan Denayu Tambangraras yang harus menerima perlakuan tidak adil dari Denbagus Amongraga.

Stop sampai di sini.

Saya hanya ambilkan contoh kasusnya pada contoh di atas, karena pada hampir semua bagiannya, teknik copy paste dan pengubhannya sama persis.

Gangsar R. Hayuaji hanya mengcopy paste dari file Sunardian Wirodono, untuk kemudian dia tambahkan ini dan itu, diselipin kata lain, diubah sedikit kalimatnya. Namun struktur logika, idiomatika, dan beberapa penyebutan sama persis.

Memang tidak seratu persen copy-paste, namun itu tetap merupakan kerja pencurian. Bekerja di atas keringat penulis lain, untuk kemudian ditambah sana-sini-situ.
Penyebutan Denayu Tambangraras, adalah orisinal dari saya karena tidak ada penyebutan itu pada teks asli, yang ini juga dipakai oleh Gangsar, namun ia keliru ketika menyebut Syekh Amongraga dengan sebutan padanan denayu yakni Denbagus Amongraga, karena ia sudah beristeri dan bahkan disebut syekh (karena itu, saya tak pernah menyebut Denbagus Amongraga).

Semuanya, benar-benar sama persis sis dari awal sampai akhir. Jika SW memulai dengan pengantar berupa ihtisar perjalanan Syekh Amongraga, maka Gangsar langsung mengcopy paste bab satu sebagai pembuka. Dari copy paste tersebut, barulah ia edit di sana-sini-situ, tetapi sekali lagi dengan struktur kalimat dan logika yang sama persis dengan apa yang sudah ditulis oleh SW.

Yang paling dan sangat menyedihkan, pengutipan teks asli dari Serat Centhini dan juga terjemahannya, sama persis dengan apa yang ditulis oleh SW (Halaman 74-75-76-77) Pleg sama. Hanya pintarnya Gangsar, file bab satu SW, dipecah menjadi dua bab. Namun satu sama lain urutannya persis. Pola itu, dipakai untuk bab-bab berikutnya. Ada pula teknik lain, bagian dari teks narasi dicopy paste untuk kemudian dijadikan footnote (lihat C2PC halaman 298-299) total sebanyak 40 baris sama persis. 

Untuk diketahui, teks naskah SW yang ada pada pihak DP adalah Bab Pembuka, Bab 1, 2, 3, serta Bab Terakhir (total semua lima file naskah, dari 12 file naskah yang direncanakan, atau) dari seluruh 10 bab yang direncanakan (tidak termasuk Prolog Bab Pembuka dan Epilog Bab Terakhir). Artinya, pada bab 4-5-6-7-8-9-10 sama sekali belum terjamah meski sudah diberikan strukturnya. Tapi untuk diingatkan, dari 4 bab yang sudah ditulis SW itu, semuanya dipakai oleh Gangsar dengan cara dipecah satu bab menjadi dua bab, dan seterusnya dengan teknik menyisipkan satu dua kata atau sedikit diubah kalimatnya. Dari 4 bab itu menjadi bahan baku (atau total sekitar 63,78%) bagi penulisan novel itu.

Ada yang dengan teknik copy paste, namun dihilang beberapa aliea, untuk kemudian masuk pada aliea berikutnya, tapi tetap dari milik SW. Misal sehabis mengutip Serat Centhini (C2PC hal 101-103) kemudian disambung hal 104 dengan alinea pembuka:


“Gemerosak dedaunan bercumbuan dengan angin malam. Bergoyangan ke kiri dan kanan. Di dalam ruang peraduan Ki jayengraga, Endhuk yang merasakan selangkangannya sakit menangis tanpa suara. “Ampuni aku, apa yang tengah tuan lakukan padaku?”

adalah sama persis dengan file SW dengan urutan setelah kutipan tembang, ada 10 aliena yang dihapus, langsung ke (kutipan dari file SW):

“Gemerosak daunan, bercumbuan dengan angin malam. Bergoyangan kekiri, ke kanan. Ke kiri. Ke kanan.
Tiba-tiba tubuh Endhuk terasa panas. Betisnya terasa basah, dan lekat. Ia menjerit kaget. Tubuhnya menggigil, dan tiba-tiba lunglai tiada daya.
“Apakah ini ayah, kenapa di selangkanganku ini, trasa basah dan lekat? Seperti air kencing tetapi ini kental sekali,...” Endhuk bertanya-tanya penuh kecemasan.
(SW. Bab 2, halaman 12-13).


Apakah bedanya? Beberapa pengubahan yang dilakukan Gangsar, missal penyebutan Ayah menjadi Tuan, menunjukkan penulis tersebut sama sekali tidak menguasai dan membaca Serat Centhini asli. Ia hanya berdasar pada teks yang ditulis SW. Apalagi, dalam C2PC juga dikutipkan syair dari “Serat Nirartha”terjemahan Prof Dr. Poerbatjaraka, sungguh sama sekali mengacaukan logika waktu Serat Centhini (dengan alasan apapun interpretasi kreatifnya).

Atau pada akhir bab 10 C2PC Gangsar hal 162-164, yang pola penuturan, struktur logika dan pengutipan teks asli Serat Centhini, bahkan juga terjemahannya, sama persis dengan yang ditulis oleh SW (teks asli SW tentang hal itu pada Bab 3: Keajaiban di Wanataka, untuk membuktikan tanggal penulis, system meta data computer bisa menjelaskan dan bukan rekayasa apalagi ada tanggal pengiriman file tersebut via email ke DP yang tidak bisa dihapus, tulisan SW dibuat pada meta data terakhir 1 Desember 2009). 

Dalam forum yang tepat, saya (SW) bersedia menyodorkan fakta-fakta itu lebih rinci, karena jumlah copy paste itu hampir menyeluruh. Yang membedakan hanya dipecah-pecah, beberapa alinea dihilang, disisiplin kata baru tapi tidak mengubah struktur kalimat dan logika, strutur urutannya sama persis.

Bagi saya, Centhini 2: Perjalanan Cinta yang didaku sebagai tulisan Gangsar R. Hayuaji itu, sama sekali tidak berangkat dari Serat Centhini aslinya, tetapi berangkat dari teks yang dibuat oleh SW. Bahkan, pada referensi yang ditulisnya, sama persis dengan apa yang dituliskan oleh SW, hanya ditambahi beberapa judul buku. Lumayan untuk gagah-gagahan. Penulisan footnote pun, meniru pola SW, bahkan (dan sekali lagi) yang paling menyedihkan, terjemahan Serat Centhini yang dilakukan dengan susah payah oleh SW di copy paste begitu saja, semuanya (kecuali halaman 377 dst). Model ini celakanya, ia terjebak pada pola penggubahan dan idiomatika yang dikembangkan SW, tanpa mengerti aslinya bagaimana. Misal penyebutan nama, tempat, pengadeganan. Penyebutan Denbagus Amongraga, yang salah secara teks tersebut tentu karena terjebak mengikuti pengembangan idiom SW untuk Denayu Tambangraras. Demikian juga penyebutan “ayah” menjadi “tuan” oleh Gangsar misalnya, karena teks asli memang si Endhuk diminta menyebut Ki Jayengraga sebagai “ayah”, bukan tuan! Dan seterusnya.

Apakah kesimpulannya?

Apakah itu semua terjadi, karena DP merasa telah membayar pada SW, dan sama sekali tanpa kontrak kerja tertulis, hingga menganggap teks SW sudah sah milik DP, untuk kemudian boleh dipakai siapa saja dengan mendaku sebagai tulisannya? Padahal, persoalan yang terjadi antara DP dengan SW juga sama sekali belum diselesaikan secara baik-baik, belum ada kata putus?

Namun, sekali lagi, apakah cukup alasan kemudian, Sri Wintala Achmad dengan memakai nama gangsar R. Hayuaji mendaku teks-teks dalam novel C2PC sebagai karyanya, padahal jelas-jelas sebagian besar adalah bukan tulisannya, melainkan tulisan SW yang sudah dipegang oleh DP, dan itu diakui oleh penulis sendiri di halaman 418, sebagai bagian dari “bahan bacaan”? Bukankah artinya tidak ada alasan mengelak tidak tahu dan sebagainya, jika bukan hanya kalimat per kalimat, melainkan titik koma, suku kata dan idiomnya sama persis dengan yang ditulis SW? dalam meta-data file-file SW bertiti mangsa Maret-November 2009/Maret 2010, sementara dalam C2PC tulisan Gangsar bertanggal Mei 2010! Setidaknya tenggang waktu dua bulan.

Lantas, apa yang kemudian mesti dilakukan atas hal ini? Sesungguhnya, atas nama UUHC, saya bisa menuntut saudara Sri Wintala Achmad selaku pemegang nama Gangsar R Hayuaji, yang mengklaim bahwa novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” adalah karya tulis orisinalnya, atas bukti-bukti yang saya beberkan tersebut. Setidaknya minimal bisa menuntut Rp 500 juta, yang tentu lumayan bisa untuk mencetak sendiri novel saya dan dibagikan gratis.

Namun, sebagai sesama penulis, dan saya berharap Sri Wintala Achmad kelak tumbuh menjadi penulis yang baik, saya hanya menunggu pengakuan dia, bahwa yang dia lakukan bukanlah tindakan yang patut dilakukan oleh mereka yang bekerja di lapangan kreatif. Apalagi ketika di cover buku tersebut disebutkan bahwa novel tersebut penuh ajaran luhur dan sejenisnya.

Saya, Sunardian Wirodono, menunggu saudara Sri Wintala Achmad, di forum mana pun hendak diadakan.

Bagi saya, apa yang dilakukan Sri Wintala Achmad sebagai penulis, sangatlah menyedihkan. Karya kebudayaan yang besar, ternyata hanya disikapi secara lemah karena imbalan honorarium, namun tanpa perilaku kreatif yang memadai. Apalagi jika membaca pengantar penulis yang luar biasa panjang (dari hal 7 s.d 57, yang ditulis bertanda Cilacap-Yogyakarta, Mei 2010), terlihat lebih banyak copy-paste tulisan-tulisan mengenai Centhini yang bisa di-downdload dengan mudah dari internet

Innalillahi wa inna illahi roji’un.


Yogyakarta, 13 Oktober 2010
Sunardian Wirodono

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...