Selasa, April 27, 2010

Puisi-puisi Cinta Chairil Anwar (1922-1949)

Chairil Anwar (18 Juli 1922 - 28 April 1949) lebih banyak dikenal anak sekolahan dengan puisi-puisi perjuangannya. Dan yang sering dibacakan mereka, mungkin puisi berjudul "Aku", "Diponegoro", atau mungkin "Krawang Bekasi" dan "Perjanjian Dengan Bung Karno".

Jarang yang mengerti, bahwa Chairil Anwar seorang yang juga sangat piawai dalam merangkai kata-kata puitik romantik. Kemampuannya, membuat puisi Huesca karya John Cornford, atau "A Song of the Sea" karya Hsu Chih Mo (menjadi "Datang Dara Hilang Dara - Datang Dara Hilang Dara") "kalah indah" dibanding terjemahan Chairil.

Beberapa pacar Chairil yang tersebut dalam puisi antara lain, Mirat dan Sri Ayati. Pada perempuan yang terakhir itulah, percintaan Chairil sebagai binatang jalang, agaknya terpaut lebih sublim.



Patung Dada Chairil Anwar, di Monumen Nasional (Monas) Jakarta, di depan patung Pangeran Diponegoro, yang pada batu pondasi patungnya ditatahkan baris-baris puisi "Diponegoro" karya Chairil Anwar.

Berikut beberapa sajak cinta Chairil Anwar.



PENERIMAAN


Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943


TAMAN


Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Maret, 1943


LAGU BIASA


Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai “Ave Maria”
Kuseret ia ke sana…

Maret 1943


SAJAK PUTIH


buat tunanganku Mirat


bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di
alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

18 Januari 1944


PEMBERIAN TAHU

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk cium tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!

1946


HAMPA

kepada Sri yang selalu sangsi

Sepi di luar, sepi mendesak-desak
Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepaskan diri
Segala menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
Dan ini menanti penghabisan mencekik
Memberat-mencengkung punda
Udara bertuba
Rontok-gugur segala. Setan bertampik
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Maret 1943



SENJA DI PELABUHAN KECIL


buat Sri Ajati


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

1946

Senin, April 26, 2010

Surat Penyair Muda Kepada Chairil Anwar

Mengenang kematian seseorang, bisa jadi menyesakkan. Mungkin lebih membahagiakan mengenang kelahiran. Namun, mengenang kematian penyair besar Chairil Anwar, tetap lebih menggetarkan, dan menginspirasi.
Saya menyodorkan kembali tulisan lama, yang dibuat pada 1980, sebuah tulisan yang saya ikutkan dalam lomba pengenalan karya Chairil Anwar waktu itu tingkat nasional waktu itu. Syukur, akhirnya tulisan tersebut menjadi salah satu pemenangnya (juara I, Dr. Mursal Esten, II, Sunardian Wirodono, dan III, Drs. Suripan Sadi Hutomo).
Sekedar untuk mengenang, dan mengingatkan, bahwa Chairil Anwar, yang lahir pada 18 Juli 1922 dan wafat pada 28 April 1949, adalah tokoh besar dalam dunia sastra Indonesia. Justeru, ketika ia mati muda, dan hanya menyodorkan sedikit karya. Namun ia adalah meteor yang mencerahkan bangsanya.
Jika dalam tulisan ini masih “mliyak-mliyuk”, mohon pemakluman, karena ditulis pada masanya, ketika masih berusia 19 tahun. Terima kasih pada Harian Berita Nasional Yogyakarta, yang pernah memuat tulisan ini, hingga saya menjadi memiliki dokumentasinya, juga kepada Dik Titi yang mengklipingnya, serta Wit yang memindahkannya ke computer.Terima kasih dan salam,
Sunardian Wirodono.

Oleh Sunardian Wirodono

“Sekali berarti,
sudah itu mati”



Chairil Anwar penyairku sayang.
Menyebut namamu, entah kenapa, aku selalu menjadi malu sendiri. Dari namamu, seakan aku berkaca, dalam cermin yang jernih. Dan yang tak dapat menipuku, betapa buruk rupaku! Engkau tahu kenapa? Engkau adalah seorang penyair besar, pelopor Angkatan 45.

Tapi bukan namamu itu yang membuatku malu padamu, Chairil. Puisi-puisimulah, karya-karyamulah, yang membuatku jadi malu. Kurang lebih tujuh tahun engkau menulis, tetapi menurut HB Jassin, temanmu itu, engkau hanya menulis 72 sajak asli, dua sajak saduran, kemudian 11 terjemahan, ditambah tujuh prosa asli, dan empat prosa terjemahan. Semuanya berapa, Chairil? Hanya 96.

Sembilan puluh enam tulisan dalam tujuh tahun. Tujuh puluh dua sajak asli dalam tujuh tahun.

Chairil! Chairil!
Dulu aku pernah punya keyakinan, bahwa seorang penyair yang hebat, ialah penyair yang produktif. Penyair yang banyak-banyak menulis sajak. Kau tahu, sahabatku seorang penyair muda, mengatakan padaku, bahwa sehari ia harus (kuulangi, harus) menghasilkan tiga biji sajak. Baginya, satu minggu tiga biji sajak, sudah merupakan kecelakaan besar. Luar biasa!

Tetapi apa yang dihasilkannya? O, kami ini seperti Buto Cakil dalam pewayangan. Kami hanya keluar untuk menujukkan Arjuna-lah ternyata, yang lebih sakti. Namun bukan “sekali berarti sudah itu mati.” Tidak. Lebih tetatnya, “sekali muncul, sudah itu mampus!”

Inflasi puisi dan penyair, yang melanda anak muda, seperti yang kualami juga, sebagaimana halnya proyek KB yang gagal. Memang banyak penyair yang lahir, tapi untuk apa? Sekedar lahir saja? Dan engkau tetap berdiri di sana? Tegak tak tergoyahkan. Mendekap tangan, sambil melihat kami tertatih-tatih berjalan: O, inikah penyair muda?

Ah, Chairil,sekarang aku jadi mengerti, lantas terdiam dan tertunduk, bahwa seni bukan perkara sambilan. Ia tidak bisa setengah-setengah. Ia tak bisa dihasilkan melulu dari perasaan saja. Tetapi kita juga punya otak yang menimbang, untuk memilih, mengupas, dan kadang-kadang membuangnya sama sekali.

Aku masih ingat tulisanmu dulu, “Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung, dan sebagainya, tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan mengganggap kualitas cat dan kain, atau batu pualam. Sebagai soal yang penting ialah hasil yang dicapainya itu.”

Ya, itulah yang membuat aku mengerti, kenapa kau begitu hati-hati menulis sajak. Bahkan bisa saja sebuah sajak, selesai setelah merenung-renung selama berhari-hari, berbulan-bulan. Hal itu menunjukkan, bahwa engkau seorang penyair yang asyik bergelut dengan teknik. Tapi tidak ternyata. Bahwa engkau sendiri pun mengatakan, hasil kesenian bukanlah melulu soal teknik. Dan aku kira, engkau memang benar.

Bahwa hasil kesenian bukan melulu soal kemulusan teknik,tetapi bagaimana kedahsyatan menceritakan hidup secara intens dan otentik. Itu yang sampai kepadaku. Bahwa seni bukan perkara sambilan, bukan hal yang bisa dikerjakan setengah- setengah. Ia adalah soal mati dan hidup. Sebab kerja setengah-setengah, hanya akan membuat kita menjadi improvisator besar. Kerja improvisasi tetaplah jauh berada di bawah, dan rendah, dibanding hasil seni cipta lainnya, yang berproses atas intensitas dan ketekunan kreatif.

Siapakah engkau sebenarnya Chairil? Itulah yang menarikku, untuk menulis surat kepadamu. Meski aku tahu, surat ini takkan pernah sampai kepadamu, seorang penyair besar, namun hanya mampu ‘menulis sajak sejumlah tujuhpuluhdua biji?

Kenapa engkau menulis puisi? Dan untuk apa menjadi penyair?

Aku sering mendapat pertanyaan seperti itu. Bahkan ada pula yang bertanya, “untuk siapa sebenarnya puisi itu? Kalau misalkan untuk masyarakat, kenapa puisi justru sering membingungkan masyarakat?” Pertanyaan ini sering menggodaku, untuk menyadarkan kepada para penanya. Puisi adalah sebuah dunia komunikasi dua arah. Jelas dia diperuntukkan, bukan hanya dirahasiakan. Sebab puisi adalah yang menjadi pijar-pijar keindahan, atas dasar kebenaran dan kemanusiaan.

Itulah sebabnya, puisi senantiasa hadir, bukan untuk dimengerti tetapi untuk dinikmati. Ia multi-interpretable. Ia bukan sebuah dunia yang praktis-pragmatis. Nah, disinilah letak kesalahan itu. Orang-orang selalu mengganggap, dan memposisikan, bahwa puisi tak banyak beda dengan makanan yang tinggal telan.

Sajak mempunyai dunia sendiri, ia punya hukum-hukum tersendiri. Ia tak mungkin, dan memang tak harus identik, dengan kehidupan nyata sehari-hari, meski ia berangkat dari sana juga. Moral sajak bukanlah moral yang praktis-pragmatis.

Namun kenapa orang-orang selalu salah tangkap, atau katakanlah bingung terhadap puisi? Dan yang lebih celaka lagi, khususnya bagi orang-orang yang tak terbuka, mereka dengan membabi-buta lantas menuduh, bahwa puisi adalah dunia mimpi, rengekan penyair yang patah hati, atau tumpahan generasi sakit hati.

Chairil , tentu saja menyakitkan hati bukan? Tapi baiklah, kita terima saja tuduhan itu. Bahwa kehidupan sekarang sudah demikian garang. Orang-orang saling berkejaran, memburu mimpi-mimpi berkilatan. Kemajuan berpikir, pembangunan yang dilakukan pemerintah, kemajuan tingkat industri dan teknologi. Semuanya itu telah membuat manusia lebih percaya kepada daya rasionalnya, daripada sesuatu yang bersifat emosional. Manusia terlalu sibuk dengan dunia luarnya, dan ia tak punya waktu lagi untuk merenung , bercermin, menoleh ke belakang, tentang apa yang telah diperbuatnya. Inilah bagiku, Chairil, yang menyebabkan puisi pun dipandang dari segi yang praktis, memperkosa puisi dengan telanjang.

Keadaan ini bukannya tak berbahaya. Dari sudut materi kebendaan, barangkali tahapan masyarakat termasuk kaya duniawi, tetapi nilai kerohanian? Kosong sama sekali. Manusia telah kehilangan daya untuk bermain-main.

Barangkali aneh, kenapa manusia harus berfantasi, manusia harus punya daya untuk bermain-main?

Chairil, penyairku sayang.
Engkau tentu mengerti, bahwa jika manusia ingin hidup terus, ia harus mencari keuntungan dari pengalamannya yang paling kaya, yaitu sejarahnya sendiri. Harus mampu membebaskan diri dari rutinitas. Harus berani membuat diri berjarak pada masa lampau, dengan cara merayakannya. Dari situlah daya fantasi bisa membebaskan diri dari kehidupa yang terjebak borjuasi, established, arrive.

Fantasi membuka kemungkinan ladang baru. Bisa menikmati hidup dengan lebih kaya dan intens, dengan lebih gembira dan kreatif. Para ahli ilmu jiwa menerangkan, bahwa orang yang tak mempunyai kesadaran akan waktu, masa lampau, masa kini, dan masa depan, sungguh dia telah mengalami desintegrasi sebagai manusia.

Mereka menghapus segala mimpi, menghapus segala kenangan, hiduplah demi masa kini yang nyata. Boleh saja tentu, dan silakan! Tapi ia akan mengalami depresi. Ini juga berlaku bagi masyarakat bangsa. Masyarakat yang sudah menjadi sinis terhadap sejarahnya, adalah manusia yang sinis pula terhadap masa depannya. Dan itu berarti padamlah daya juangnya.

Kita harus hidup realistis, kata kaum pragmatis. Dan karena itu anjurannya, memecahkan soal-soal rasional, tak perlu diganggu oleh fantasi. Dunia ini harus dibagi menjadi dua, menjadi dunia fantasi dan dunia fakta. Dan keduanya, harus dipisahkan jauh-jauh, hanya kepada kenyataan saja kita menaruh hormat.

Chairil, dari pendapat di atas itulah, salah satu sebab, kenapa orang menjadi sinis terhadap puisi, salah satu manisfestasi daya fantasi manusia yang sah. Dari sinilah penyair menjadi manusia aneh, di mata masyarakat. Dan menganggap bahwa penyair hanyalah manusia gila. Manusia yang kerjanya bermenung-menung, dengan pakaiannya yang khas, kumal dan jarang mandi. Tetapi, aku kemudian menyergahnya dengan pertanyaan, apakah yang dimaksud kenyataan itu?

Ternyata yang bernama kenyataan , tak selalu punya arti yang sama. Engkau tentunya lebih mengerti Chairil, bahwa peranan fanstasi, ternyata amat besar. Penemuan-penemuan baru dalam bidang teknik, sering diakibatkan oleh fantasi, oleh insiprasi-ilham, sebab fantasi juga merupakan bakat untuk hidup. Oleh fantaai kita boleh mengambil jarak terhadap obyek dan proyeksi, kita bisa memperluas pandangan.

Masyarakat membutuhkan pembaruan, dan pembaruan dapat dirintis oleh para pemimpin kita, oleh mereka yang berani mempergunakan fantasinya. Tentu saja, fantasi yang dimaksudkan disini, ialah fantasi yang diteruskan. Fantasi yang mengatasi struktur kenyataan sehari-hari. Fantasi dalam arti harus berpangkal pada kenyataan, dan berpulang pula kepadanya. Fantasi bukanlah kompensasi, tetapi ia merupakan kegiatan intelek kita.

Dan jika mencoba menjawab pertanyaan, mengapa sajak itu membingungkan masyarakat, aku menjawabnya, karena masyarakat sudah kehilangan daya fantasinya. Ia sudah asyik masyuk dengan dunia yang serba praktis. Dan ini juga dikenakan dalam menikmati sebuah sajak.

Tetapi apakah kita harus menyalahkan masyarakat? Ah , itu perbuatan membabi buta. Kupikir kita memang harus memaklumi diri, mencoba untuk bersikap terbuka. Kita tinjau dahulu bagaimana sastra modern berbentuk tulisan, maka pertama-tama ia menembus kepada orang -orang yang mengerti baca-tulis, dan yang paling dini, ia menembus lewat tembok-tembok sekolah. Tapi bagaimana sastra diperlakukan di sekolah-sekolah? Pelajaran ini ternyata lebih banyak berkutat dengan angka-angka. Kapan Pujangga Baru lahir? Siapa pelopornya? Kapan Angkatan ‘45 muncul? Siapa penggeraknya? Apa saja karya penyair itu? Dan sejenisnya!

Begitukah? Wajarkah ini? Itulah se,babnya jika kita bertanya kepada anak sekolah, penyair A itu siapa? Mereka pasti mengenal baik-baik. Kapan lahirnya, apa saja buah karyanya? Tapi adakah mereka membaca karya sastranya? Orang tahu, anak-anak SD barangkali juga tahu, siapa engkau Chairil. Chairil Anwar, penyair besar Indonesia. Pelopor Angkatan ‘45. Kumpulan sajaknya ada tiga, “Deru Campur Debu”, “Kerikil Tajam, dan Yang Terhempas dan Yang Putus”. serta yang terakhir “Tiga Menguak Takdir” bersama Rivai Apin dan Asrul Sani.

Tapi adakah mereka membaca sajak-sajakmu? Masyarakat lebih mengerti, apa-siapa kamu, tapi tidak mengerti bagaimana dan mengapa kamu? Jadi, mengapa kita harus terbuka dan memaklumi keadaan ini? Padahal, segala sesuatu bermula, dari kenyataan juga, seni merupakan barang mewah, atau lebih tepatnya barangkali. Aneh!

Tentu saja kita tak usah menertawakan atau mengejeknya, sebab itu tak akan mengubah keadaan. Lebih utama, kitalah yang melangkahkan kaki mendekati mereka. Sebab selama masyarakat bersikap pasif terhadap sastra, selama itu pulalah keadan akan sama saja. Dan boleh jadi, justru akan bertambah buruk. Kita tak menginginkan bahwa seni merupakan barang mewah, merupakan benda asing, yang bertengger di menara gading.

Chairilku, penyairku!
Selama Tuhan masih menghendaki, bahwa dunia ini masih bersih, maka penyair akan tetap lahir, dan bermunculan . Sebab penyair (atau manusia yang mempunyai citra budi Tuhan), adalah orang yang peka membaca, akan ke mana arah larinya jaman.

Karena semestinya, seorang seniman, penyair, haruslah seorang pemimpin yang berani, membuka hutan belukar dan menciptanya bagai ladang-ladang baru, sebagai tempat bernaung. Dan lewat puisi-puisinya, penyair menyampaikan kegelisahnnya tentang misteri hidup. Obsesinya adalah, pencarian makna hidup yang hakiki. Esensi kehidupan ini dicoba diperhitungkannya, apakah hidup ini sebenarnya, mengapa dan bagaimana hidup ini, siapakah hidup itu?

Sebuah sajak adalah sebuah dunia tersendiri. Ia boleh dikatakan sebagai fantasi kegiatan intelek kita. Berangkat dari kenyataan, dan berpulang juga dari kenyataan. Hanya selama proses puitik terjadi dalam diri penyair, ia mengalami sublimasi dan ini personal sifatnya. Ia tergantung kepada intensitas pengalaman hidup penyairnya.

Puisi lantas mempunyai hukum-hukum tersendiri, realitas dan kebenaran sendiri. Oleh karena itu, seperti aku katakan di atas, ia tak harus identik dengan kenyataan hidup sehari-hari. Meskipun ia berangkat dari sana.

Dunia sajak adalah dunia imajinatif, impresif, yang ia berbeda dengan dunia keseharian yang praktis-pragmatis. Namun keduanya bisa saling berhubungan. Keduanya bisa saling bersentuhan. Saling mencerminkan diri, itulah jika terjadi perbedaan antara keduanya. Dan karena itu wajar serta tak perlu diperdebatkan. Apa yang mungkin dalam dunia sajak, belum tentu ada dunia nyata, dan begitu sebaliknya. Dari perbedaan yang timbul itu, keduanya bisa saling melengkapi, saling berhubungan dan salin g mencerminkan. Sebab, sebuah sajak bukanlah menunjuk kepada sikap perbuatan, namun ia menujuk kepada sikap batin. Sehabis menghayati sajak, tidak cukup berhenti pada menghayati saja, memahaminya saja, tapi mesti juga menghubungkannya dengan kehidupan, mencari relevansinya bagi kehidupan.

Dari sinilah kita bisa mengerti, adakah sajak hanya melulu sebuah permainan?

Kalau sampai waktuku
Ku ‘mau tak seorangpun ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang , menerjang

Duka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang sedih peri

Dan aku lebih tak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Demikianlah engkau menulis dalam sajakmu “Aku”. Lantang dan beringas. Dan ini pun tak luput dari tafsiran yang dangkal. Sajak ini, jika ditangkap secara verbal, maka tak ayal engkau dituduh sebagai orang yang brutal, anti-sosial, dan tak percaya kepada Tuhan, pemberontak kelas berat. Namun benarkah itu? Jika ditangkap begitu saja, sangat mungkin sekali.

Inilah salahnya, Chairil, mengapa orang suka mengatakan sajak adalah dunia sakit hati penyairnya, lantaran ia gila atau sentimentil. Padahal, jika kita menangkapnya secara simbolik, akan tersembul sebuah nafas pemberontakan jaman, pada saat dimana sajak itu engkau tulis.

Sajak bertahun 1943 itu, jaman Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah Jepang. Dari gambaran itu, aku mengerti kenapa engkau meradang, kenapa ingin hidup seribu tahun lagi. Sajak itu memang terdengar individualistis. Tetapi aku yakin, bahwa itu bukan egoisme. Tetapi ia merupakan individu dari individu-individu. Personal dalam pengertian karakter hakiki manusia.

Ia semestinya bukan sekedar rangkaian kata-kata, sentimentalitas cengeng penyairnya, ratap tangis, karena kehilangan kasihnya,…

Sebuah sajak, memang sebuah pernyataan yang personal. Tetapi ia personal yang unversal. Pembaca yang kemudian dituntut untuk memahami, bahwa sejak dilahirkan penyairnya, dengan pertaruhan jiwa, pikiran dan perasaannya, bahkan seluruh kehidupannya, berhasil memasuki dunia yang lebih besar dari dirinya, dan menyatukan dirinya dengan dunia.

Kemudian dari itu diciptakan kembali sebuah dunia tafsirannya, dunia yang diselaminya, dirasakannya, dilihatnya, sebagai dunia baru. Inilah sebabnya, mengapa sebuah sajak bersifat personal-universal. Sebab berbicara tentang hakekat kehidupan, orang sebagai bukan orang-perorang, melainkan menjadi milik khas manusia. Walau pun pengalaman atau pun daya tangkap manusia terhadap kehidupan, bisa sangat berbeda-beda. Namun dari ketidaksamaan itu, bisa saling melengkapi. Inilah bukti bahwa manusia juga makluk yang sosial. Ia tak bisa hidup sendiri, tetapi saling bergantung satu sama lainnya.

Jerit sekian juta rakyat Indonesia untuk merdeka, bebas lepas dari belenggu penjajah, itulah suara alam yang ditangkap oleh seorang penyair. Sajak ‘Aku’ merupakan simbolisme Indonesia yang sedang berjuang merebut kembali kemerdekaannya. Dari sini engkau, Chairil, hanyalah seorang transformator keinginan seluruh bangsa.

Dengan pembawaan yang intens, menerima, merasakan, dan memikirkan pengaruh sekitarnya, dan melontarkan kembali lewat kekakuannya. Engkau jadikan derita seluruh bangsa menjadi deritamu sendiri.

Chairil, oleh karena itu, kadang begitu sedih, jika mendengar engkau marah kepada kami. Bukan karena kami bodoh, dan mengacuhkanmu, namun agaknya orang-orang yang malas untuk merenung, berkaca ke dalam jagat dalamnya, itu yang tak mereka punya. Mereka begitu percaya terhadap kemampuan sang akal. Untuk dapat membaca ke mana larinya jaman, aku yakin kita tak hanya percaya kepada kepandaian, tetapi terutama terletak kepada kejujuran kita dalam menilai langkah-langkah yang telah diambil. Sebab masalah kemanusiaan, bukanlah milik para ilmuwan eksak saja, tetapi juga milik kaum moralis, budayawan, dengan para pencatat jamannya seperti engkau Chairil.

Kebijaksanaan, nah inilah dia, hanya milik orang-orang yang jujur dan berani melihat buruk mukanya di cermin. Itulah seorang pemimpin yang dibutuhkan. Seperti katamu juga, seorang seniman haruslah seorang perintis jalan, adik, “penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba, penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar, tak bertepi, seniman adalah tanda dari hidup yang melepas-bebas.

Jangan pula menceraikan diri dari penghidupan, berkesendirian,... kita tak boleh lagi sebagai alat musik kehidupan, kita pemain lagu dari penghidupan, membikin kita selamanya berterus-terang. Karena keberanian, kesadaran, kepercayaan, dan pengetahuan kita punya.”

Ah, Chairil, tentunya engkau lebih mengerti, daripada aku. Aku begitu kagum dengan begitu banyak buku-buku yang telah engkau lahap, dan dengan petualanganmu yang mempesona itu. Sedang aku? Malas baca buku. Miskin pengalaman, tak berani bertualang, lekas puas dengan beberapa puisi, yang tercipta begitu saja.

Tapi, bagaimana aku berani kurang ajar, berani bicara soal puisi kepadamu, Chairil? Duh, duh,… Chairil, pantaskah aku?

Chairil Anwar, penyairku sayang.
Ijinkan, ijinkan aku mengagumimu. Bukan lantaran aku hendak mendewakan kamu, sebab kamu adalah manusia juga, dan tak lepas pula dari cacat. Tetapi sekali lagi, ijinkan bahwa engkau telah membuka cakrawala baru dalam hatiku. Dan karena itulah aku mengagumimu.

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing
Nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Dia sebetulnya api dan abu

Aku hendak bicara
Suaraku hilang , tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa
Ambil peduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil tutup telinga terpicing
Mata
Menunggu roda yang mesti
Tiba


Sajakmu di atas yang berjudul ‘Kesabaran’ sungguh mengerikan dan membuat aku sedih. Kenapa engkau tak ambil peduli, pada dunia yang enggan disapa, Chairil? Adakah engkau patah hati, terhadap dunia yang tak berkesudahan ini?Aku lantas tercenung, betapa gelapnya nanti?

Chairil! Bagaimana pun penyair harus tetap hadir, manakala Tuhan masih menghendaki kehidupan ini lebih bersih. Dan untuk mencucinya dengan pijar-pijar keindahan, atas dasar kebenaran dan kemanusiaan, penyairlah yang akan mencatat laju dunia ini. Dengan kerinduan, semangat pada dunia yang fana ini, dan ia pula yang mengajak kita kepada dimensi hidup yang baru.

Aku pernah membaca sebuah tulisan, yang kurang lebih begini “Seorang penyair, adalah seorang yang menyajikan pengalaman tertentu kepada masyarakatnya. Pengalaman yang disajikan, adalah khas milik dia, dan bersifat representati f , konkrit. Berbeda dengan seorang ilmiah, yang menyajikan pengalamannya secara akal, deskriptif -analisis.

Penyair menyajikan pengalamanya yang paling bermakna, dalam bentuk kesatuan yang hayati, untuk dialami kembali oleh pembaca atau pendengarnya. Meski seorang ilmiawan mempunyai pengalaman yang sama dengan seorang penyair, tetapi ia akan menyajikan pengalamannya secara berbeda dengan seorang penyair. Ia akan menggambarkan pengalamannya secara akal. Ia tidak menyajikan pengalamannya itu, melainkan gambaran ‘tentang’ pengalaman itu. Sedangkan seorang penyair, seperti digambarkan di atas, akan menyajikan pengalaman dengan segala perasannya, yang dilandasi daya hayatnya, terhadap kehidupan. Intens atau tidak, tergantung pada kekayaan batin masing-masing.

Oleh karen itu, puisi sebagaimana dunia penyair, adalah sebuah tafsiran, yang teramat luas. Ia multi-interpretable, sesuai pula dengan daya intensitas, penghayatan masing-masing penanggapnya. Tetapi, Chairil, sayangnya ia menjadi barang yang begitu digampangkan, ia menjadi barang dengan penikmat tertentu saja. Sebab apa boleh buat, orang-orang demikian terpesona dengan hal-hal yang serba akal. Mereka lebih memandang daya rasionya, padahal kau tahu bukan? Hal itu terasa pincang. Sebab manusia, di samping hidup dengan rasio, memiliki juga emosi dan daya imajinasi.

Agaknya daya imajinasi ini, yang bersifat emosional, dipandang lebih rendah daripada daya rasionalnya.

Padahal menurut beberapa ahli jiwa, bahwa berfantasi, berimanjinasi, adalah sebuah kegiatan mental yang tarafnya sama dengan kegiatan-kegiatan lain. Berfantasi adalah contoh pertama dari kesadaran imajinatif.

Tentu saja kita bertanya, kenapa dibutuhkan imajinasi itu? Jawabnya, karena cakrawala pemikiran kita terlalu kompleks, sehingga tak dapat dijadikan atau dimiliki darah daging kita secara rasional saja. Antara kenyataan dan kemungkinan, tentu saja kalimat itu akan terasa aneh, lebih-lebih di Indonesia yang sedang giat-giatnya membangun.

Dan kemudian kita akan mendengar berondongan jargon: Kita harus meninggalkan angan-angan, imajinasi, kita harus hidup secara realistis, tak ada waktu untuk berkhayal, dengan mengimpikan kemungkinan-kemungkinan, segalanya harus serba nyata dan pasti. Pokoknya membangun dan membangun. Jangan yang lain, jangan bermimpi di siang bolong.

Tentu saja pembangunan harus jalan terus. Tetapi pembangunan untuk apa? Untuk siapa? Untuk manusia dan untuk kemanusiaan tentunya, demikian paling tidak yang tertulis dalam Undang-undang Dasar 1945. Bahwa pembangunan adalah demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Tetapi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat macam apa? Macam rakyat Amerika? Eropa?

Sementara itu, kita dihadapkan pada kenyataan yang lain. Sungai dan laut kita telah tercemar dengan kotoran-kotoran teknologi. Udara tak lagi jernih karena polusi, hutan makin menipis.

Teknologi membuat segala-galanya. Namun meski semua bisa dicapai oleh teknologi, sumber-sumber tenaga bumi kita semakin lama semakin menyusut. Sementara penduduk makin bertambah, dan peperangan dahsyat atas berbagai kepentingan, tak bisa dihindari lagi. Mereka mau lari ke mana? Hutan rimba sudah tiada, tak ada ruang yang mau berbagi, mereka tak bisa kembali lagi ke sana.

Adakah kita mau mempercepat keadaan itu, sebagaimana gerimis mempercepat kelam? Membangun? Tentu saja kita mengatakan silahkan! Namun terhadap masalah yang menyangkut masa depan, hendaknya kita berfikir lebih jauh akan segala sebab dan akibat yang dari segi kebudayaan dipandang merosot, dan mendapatkan perlakuan yang layak.

Pembangunan yang membabibutakan manusia yang serba rasional, dan memperhitungkan hidup manusia dengan melulu kekuatan pikirnya (sementara ia lupa masalah manusia bukanlah masalah yang angka-angka, manusia bukan obyek, melainkan di situ ia berperan juga), maka ia menjadi subyek yang harus pula menggerakkan dirinya secara penuh.

Namun sekali lagi, jika di sini kita sebutkan tentang daya fantasi, bukan berarti bahwa tulisan ini hendak mengajak untuk melulu berangan-angan dan tak usah kerja. Silakan bermimpi, sekedar mimpi yang timbul dari angan-angan kosong. Tidak. Mimpi yang kita maksud adalah mimpi yang berangkat dari kenyataan yang kembali ke kenyataan pula. Ia harus mimpi yang diteruskan.

Jika ada yang menuduh bahwa anak muda kita terlalu banyak berfantasi, aku tidak setuju dengan pendapat itu. Mereka memang sering melamun, tetapi hal itu adalah melamun kosong. Melamun akibat kekosongan yang menganga. Bukan fantasi yang kreatif. Mereka kesepian tetapi tak bisa menggunakannya sebagai senjata kreatifnya. Mereka mengeluh, tetapi bukan lebih kreatif.

Fantasi di sini yang kumaksud ialah fantasi kreatif. Berdialog dengan alam, dengan kennyataan. Sebab dengan fantasi itu, bukan bertentangan dengan pikiran yang logis melainkan melengkapinya.

Chairilku yang baik.
Oleh karenanya, Chairilku, penyair akan tetap hadir. Dan meski telah tiada, ada yang ditinggalkannya. Puisi-puisi adalah sepercik kebenaran manusiawi. Ia memang tak berlaku umum dan cocok dengan segala cuaca. Tetapi sekali masuk, ia akan langsung menukik ke dasar kalbu, tentang hakekat hidup, tentang kerinduan, dan semangat, pada masa silam dan masa mendatang. Dan itulah yang membuat manusia ingin memberi nilai pada hidupnya.

Sajak-sajak yang kau tinggalkan, akan tetap berguna. Ia sebagai penjaga jiwa hidup. Minimal sebagaimana penjaga sejarah. Itu pun jika kita menyadarinya. Karena jika pun ada banyak mutiara terpendam, tetaplah tidak bakal menarik jika kita malas menggosoknya hingga berkilap.

Hanya bagi orang yang bermata jeli sajalah, ia akan berguna. Puisi-puisi adalah, sekali lagi, pijar keindahan yang berdasarkan kebenaran, dan kemanusiaan. Tentang hidup, tentang maut, tentang kegaiban, dan segala misteri kehidupan ini. Dan sajak-sajakmu, Chairil, mengajakku terus untuk mengadakan dialog. Dengan diri-sendiri, dan dialog dengan sang maha ghalib, tentang apa arti cita-cita, masa depan, semangat, kerinduan, harapan, dan kenyataan.

Di situlah, sajak berdiri sebagai suatu dunia tafsiran. Ia tidak hadir secara telanjang, ia merupakan dunia rekaan, yang kaya akan makna kehidupan. Menggugah kesadaran batin, dan untuk kemudian direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian menjejak langkah lebih maju. Sajak-sajakmu, Chairil, adalah juga pertanyaan yang bukan saja milikmu. Ia adalah pertanyaan manusia.

Chairil Anwar, sayang.

Memang tragis, engkau mati muda, tetapi dalam usia semuda itu, engkau adalah bara api, yang panas membakar, siapa saja. Sekarang barulah terasa, kuakui dengan jujur, bahwa dengan diam-diam kamu telah memberikan jalan kepadaku. Ke arah dunia yang lebih sedikit jernih.

Aku mengerti engkau adalah manusia biasa. Bagaimana pun juga besarnya semangat hidup, bagaimana pun juga tingginya cita-cita, tetapi apa artinya jika dengan tanpa kita tahu dan tanpa kita mau tahu, datang dan terhempaslah segalanya? Kehidupan hanyalah sebuah pematang begitu kecilnya, begitu mungilnya. Padahal lautan maha dalam, mukul dentur selama. Betapa akan hancur lebur seketika, jika laut murka dan pematang sirna. Pematang itu akan terasa sia-sia dipupuk:

Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji pematang kita
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia di pupuk


Chairil Anwar, penyairku sayang.
Sebagai anak muda, aku mengagumimu. Ini tanpa malu-malu aku tulis surat ini kepadamu.

Chairil, Chairil, Chairil.
Aku mendoa semoga engkau mendapat ampun dari Tuhan, meski hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Meski tidak minta ampun, atas segala dosa, tidak memberi pamit, pada siapa saja. Aku tidak pernah berkeberatan, untuk memamitkan dan memintakan ampun segala perbuatanmu. Sebagai manusia biasa juga, bahwa engkau memanglah bukan nabi. Meski dari puisimu, engkau telah menuliskan segalanya.

Chairil Anwar,
Chairil Anwar,
Chairil Anwar.


Jatimulyo, 15 April 1980

Rabu, April 21, 2010

Alangkah Mbuletnya Negeri Ini.

Oleh Sunardian Wirodono

Hari-hari ini, kita merasakan, betapa mbuletnya bangsa ini. Tak ada dalam sejarah kita, kita ditawan oleh bertumpuk persoalan hokum, yang meletakkan kita sebagai manusia-manusia yang tidak berdaya.
Persoalan terbesar, persis sebagaimana ketika Mohammad mengatakan pada ummat, “Perpecahan itu tidak akan terjadi, sekiranya di antara kalian tidak ada yang merasa lebih pandai.”
Psikologi konflik yang terciptakan, lebih karena masing-masing pihak merasa paling pintar dan benar. Dengan pandangan normative masing-masing, maka, yang terjadi sebenarnya adalah pertarungan wacana dari sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Hingga akhirnya, perdebatan kita yang sesungguhnya hanyalah perdebatan semantic, pertarungan wacana, yang kesemuanya itu kehilangan substansi pemaknaannya.
Problem yang lebih serius dari itu semua, kita tidak memiliki kepemimpinan yang inspiring, yang mampu member dan memiliki arah atas kepemimpinannya. Yang muncul hanyalah kepemimpinan wacana, dengan pemikiran-pemikiran normative, namun tidak operasional.
Contoh kasus yang terjadi atas kembuletan hokum kita, dimulai dari Antasari, kemudian Bibit dan Chandra, dan senyampang dengan itu, berbagai kasus dan actor mengiringinya. Cicak vs Buaya, Century, Tim 8, Miranda Gultom, Susno Duaji, Misbakhun, Budiono, KPK, Sri Mulyani, Lapindo, Satgas Mafia Hukum, Gayus Tambunan, Syahril Johan, dan seterusnya dan sebagainya. Belum pula dengan selingan-selingan “kecil” seperti kasus Benteng, Priok, juga beberapa kejadian di Makasar, Papua.
Dan puncak dari semuanya itu, pada akhirnya pengadilan memenangkan gugatan Anggodo Wijoyo. Presiden yang konon selalu mengedepankan azas presidensial, tidak bisa berkomentar mengenai kemenangan gugatan pra-peradilan Anggodo itu. Dan jika pun muncul, paling hanyalah pernyataan normatifnya, bahwa kita hormati hokum.
Presiden, dan para ahlinya, sama sekali mengabaikan, bahwa semua hal itu mengacaukan psikologi politik kebangsaan kita, yang menjadi semakin tidak jelas arahnya. Pertanyaannya, mengapa terjadi pembiaran atas semuanya ini? Adakah memang kita akan dilarutkan dalam kembuletan ini, hingga ada ruang kosong yang diabaikan rakyat?
Bagaimana moral politik kita, bisa mentolerir (dan bahkan memenangkan) Anggodo, hanya atas pertimbangan pandangan normative hokum? Bagaimana seorang tersangka, yang akhirnya tidak diproses hokum, bisa dimenangkan? Di mana grand design bangsa ini?
Pertanyaan selanjutnya, apakah ini semuanya terjadi tanpa disadari, atau justeru berjalan atas scenario jangka panjang, dengan berbagai hiden agenda? Itu yang mesti dijawab. Karena, jika kita berbicara pada tataran bangsa dan Negara, pertimbangan manusiawi tidak bisa dikedepankan. Semua kepala, mesti mengerahkan semua kemampuan maksimal mereka, dank arena itu rakyat membiayainya lewat berbagai pungutan dan pajak Negara.
Namun, jika kita mencoba melakukan pendekatan historis, kita mengetahui, bagaimana Susilo Bambang Yudhoyono merupakan protet dari kepemimpinan yang ditawan oleh masa lalu. Dan sebagai potret, ia tak bisa keluar dari frame yang membelenggunya.
Proses kepolitikan bangsa dan Negara ini, memang telah mengalami kemandegan yang cukup lama. Jauh sebelum Soeharto berkuasa, dari 1967 hingga 1998, Soekarno telah membelenggu kita dengan Demokrasi Terpimpinnya (1957-1966). Proses politik yang kemudian terjadi, berbeda terbalik dengan masa-masa sebelumnya (1945-1955), dimana prakarsa dan partisipasi public terbuka, dan rakyat menjadi terlatih, sehingga kita sebagai Negara muda, mampu menyelenggarakan Pemilihan Umum paling demokratis pada 1955.

Modal Demokrasi
Soekarno, atas bujuk rayu dan mereka yang berkepentingan atas perang dingin, pada akhirnya membonsai partisipasi itu, membubarkan partai politik, dan kemudian melahirkan Soeharto yang jauh lebih canggih dalam perekayasaan social budaya masyarakat kita. Orde Baru, adalah suatu orde yang mendisain bangsa ini menjadi sangat formalistis dalam berfikir, pragmatis dalam bertindak, dan pada akhirnya vandalistic dalam berkuasa.
Reformasi Politik 1998, adalah sebuah omong kosong. Karena reformasi itu sama sekali tidak memiliki nilai transformasi. Kita tidak mengalami dari bangsa ulat menjadi kepompong dan kemudian kupu-kupu. Reformasi tanpa proses perubahan nilai (transforming), adalah palsu. Hingga yang terjadi, kepolitikan yang tanpa watak, tanpa arah, karena memang tidak diproses sedemikian rupa, tidak dilatih, tidak terbiasa berbeda, dan seterusnya.
Depolitisasi yang dilakukan oleh Soeharto, telah membonsai bangsa ini, hingga ketika muncul presiden Habibie, bahkan Gus Dur sekali pun, apalagi Megawati dan Yudhoyono, kita tidak melihat arah yang jelas.
Munculnya kekuatan pro-demokrasi, ternyata berjalan atas berbagai kompromi. Kompromi politik ini dan itu, hamper menjadi kemustian, hingga yang sekarang ini pun, karena masing-masing pihak merasa paling pintar, paling benar, paling berhak. Komunikasi social, budaya, dan politik kita lahir dari pendekatan yang formalistic (segala sesuatu konon berdasar prosedur, norma, hokum, tapi kehilangan susbtansi). Berbagai aktivitas, dan gerak masyarakat bangsa, hamper bisa pasti bergerak atas pragmatism masing-masing, yakni azas kemanfaatan, yang tentu ukurannya pendek, diri sendiri atau pun kelompok. Akibatnya, vandalism dalam menjalankan peran masing-masing, karena kita memang tidak terlatih dalam berbeda pendapat dan berproses secara partisipatif.
Di tengah semuanya itu, media massa, terus-menerus memproduksi wacana, dengan kepentingannya sendiri, yakni keuntungan atas investasinya. Menjadi meragukan, jika pers adalah kekuatan ke-empat demokrasi, karena kekuatan tidak pernah lahir dari pragmatism, atas nama keuntungan diri pribadi maupun kelompok. Pers yang juga tak memiliki agenda kebangsaan, tak memiliki proyeksi, kecuali hanya sebagai penari atas gendang orang lain. Produksi wacana tanpa agenda, adalah bencana yang jauh lebih berbahaya.

Kepemimpinan dengan atau tanpa Agenda

Mengapa Yudhoyono sering disebut peragu dan tidak mempunyai keberanian? Karena begitu mbuletnya agenda yang dimiliki, termasuk bagaimana kekuatan itu diraih atas yang bernama strategi politik kompromi, dengan koalisi atau pun power sharing.
Jika ia presiden dengan system presidensial, mengapa tidak memiliki keberanian untuk mengganti Kapolri, Jaksa Agung, atau para hakim yang tidak serah dengan pidato-pidato (pencitraan) politiknya? Jika ia mengatakan, bahwa masing-masing pihak, eksekutif, yudikatif, dan legislative adalah terpisah dan jangan dicampur adukkan, bagaimana sikapnya tentang sikap DPR dalam kasus Bank Century? Bagaimana ketika semua (pembentukan Tim 8, Satgas Mafia Hukum, KPK, dan berbagai institusi politik serta hukum), itu tiba-tiba saja dimentahkan oleh Anggodo Gugat?
Betapa mbuletnya. Lepas dari setuju dan tidak, Soeharto adalah presiden yang paling operasional. Jika saja ia tidak melakukan kejahatan kebudayaan (menjadikan bangsa ini formalis, pragmatis, dan vandalis), ia pemimpin yang kita butuhkan. Persoalannya, bisa tidak memakai manajemen Soeharto agar operasional, namun dengan content yang tidak menciderai demokrasi dan kebudayaan bangsa?
Benarkah semua ini karena ketidaktahuan, kelalaian, atau justeru sebuah grand-design? Dan konsentrasi perhatian kita tersedot dalam teori conflict serta teori konspirasi itu?
Dan kita semakin tidak mau tahu, ketika UU tentang penyiaran, otonomi daerah, bahkan UU kepolitikan, yang semua lahir dari proses politik 1998, pelan-pelan hendak direduksi, kemudian kita kembali pada orde baru yang terbarukan?
Alangkah mbuletnya negeri ini. Dan kita pun ogah memikirkannya, karena pragmatism itu memang sudah terpateri begitu dalam. Para pejuang demokrasi dulu, sering menyitir kata-kata penyair yang hilang, Widji Tukul dengan satu katanya: “Lawan!”. Mungkin, kini dibutuhkan penyair yang akan menulis, untuk dikutip dengan alas an romantic, hanya satu kata; “Prek!”
Dan kita masih menunggu lagi, untuk 15, 20 atau lebih dari itu.

Yogyakarta, 21 April 2010.

Senin, April 19, 2010

MAX HAVELAAR : Tetap Hidup di Belanda

Kompas, Senin, 19 April 2010 | Hingga 150 tahun sejak diterbitkan pertama kali, Max Havelaar tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak gerakan sosial. Kini Max Havelaar tidak hanya merujuk pada judul sebuah karya sastra, tetapi juga menjadi nama jalan, museum, hingga merek produk kopi dan teh yang diperdagangkan dengan sistem fair trade.
"Tak ada novel lain di Belanda yang bisa memengaruhi kesusasteraan dan opini publik seperti Max Havelaar,” kata Marita Mathijsen, Profesor Sastra Belanda Modern Universitas Amsterdam Belanda dalam peringatan 150 tahun Max Havelaar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Senin (12/4).

Dengan delapan halaman naskah pidato, Marita membahas keunggulan Max Havelaar dari sisi estetika dan etika. Menurutnya, Max Havelaar bukan saja karya sastra yang disajikan dengan satire, lucu, serta memuat nilai-nilai humanisme dan etika yang abadi. Pencapaian di sisi estetika dan etika itulah yang membuat Max Havelaar bertahan, bahkan terus menempati posisi puncak dalam daftar karya sastra Belanda hingga kini.
Max Havelaar adalah buku yang ditulis Multatuli. Buku itu diluncurkan pertama kali pada 15 Mei 1860 oleh penerbit De Ryter di Amsterdam, Belanda. Multatuli yang berarti ”saya sudah banyak menderita” itu merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang pegawai di kantor Pemerintah Kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Marita mencatat, Douwes Dekker tiba di Batavia pada 1839 saat berusia 19 tahun. Pada Januari 1856, ia kemudian tiba di Rangkas Bitung, sebuah desa kecil di Lebak, Banten.
Di desa kecil itu, Douwes Dekker melihat warga hidup dalam kemiskinan, dieksploitasi, dan ditindas. Mereka tidak hanya harus melayani pemerintah kolonial Belanda yang menerapkan sistem tanam paksa, tetapi juga tuan-tuan pribumi yang secara tradisional menjadi raja mereka. Dari desa kecil inilah kisah Max Havelaar bermula.

Rasa bersalah
Melalui tokoh Max Havelaar, Multatuli alias Douwes Dekker bertutur tentang kondisi pribumi yang miskin dan tertindas di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Munculnya Max Havelaar itu menimbulkan gelombang rasa bersalah kolektif pada diri orang Belanda. ”Mereka menjadi sadar bahwa yang dilakukan salah,” kata Marita.
Karya itu juga memunculkan perdebatan sengit di parlemen Belanda. Sejarah kemudian mencatat bahwa buku tersebut menjadi salah satu pemicu berakhirnya sistem tanam paksa di Hindia Belanda dan dimulainya politik etis dengan pembangunan sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.
Menurut Marita, pengaruh Max Havelaar tidak hanya berhenti di situ. Muatan nilai humanisme dan etika dalam karya ini membuatnya menjadi sumber inspirasi bagi gerakan sosial lain yang muncul jauh setelah diterbitkannya Max Havelaar.
Pada tahun 1900, Max Havelaar dan Multatuli menjadi bahan bacaan penting bagi gerakan reformasi, vegetarian, dan sosialis yang mulai mencuat. Gerakan perempuan yang muncul sekitar tahun 1920 juga menjadikan buku ini sebagai sumber bacaan penting. Gerakan humanis yang muncul pasca-Perang Dunia II di Belanda juga dipengaruhi buku tersebut.
Meski memberi pengaruh besar pada gerakan sosial yang muncul setelahnya, Marita mengakui, Max Havelaar bukanlah karya yang antikolonial. Pengakuan itu ia sampaikan guna menjawab pertanyaan dari peserta diskusi yang mempersoalkan sikap Multatuli terhadap kolonialisme. Melalui karyanya, Douwes Dekker dinilai hanya hendak memperbaiki sistem kolonialisme dan bukan menghapusnya. ”Dia memang bukan orang yang antikolonial,” tuturnya.
Akan tetapi, Max Havelaar memang tidak bisa dibaca dengan perspektif antikolonial yang muncul jauh setelah era Douwes Dekker. Karya ini mestinya dibaca dengan melihat konteks zaman itu. ”Karya ini tentu saja ditulis oleh orang kulit putih dan dari perspektif orang kulit putih. Saat karya ini ditulis, belum ada pikiran tentang antikolonial. Namun, pada zamannya, apa yang disampaikan dalam karya ini sangat luar biasa,” tuturnya.
Bagi Marita, terlepas dari perdebatan yang muncul, Max Havelaar tetaplah sebuah karya besar karena berhasil mengubah suatu tatanan pada zamannya.
Setelah 150 tahun, Max Havelaar pun terus hidup. Berbeda dengan kebanyakan pelajar Indonesia yang hanya mengenal Multatuli dari buku wajib sejarah, karya ini tetap populer di kalangan pelajar Belanda. Max Havelaar juga masih selalu ditengok masyarakat Belanda masa kini yang membutuhkan panduan dalam menyikapi keberadaan imigran dari Afrika dan Amerika Selatan di negaranya.
Max Havelaar dan Multatuli kini juga ditemui di banyak tempat sebagai nama jalan, museum, merek kopi, hingga nama perahu. Dengan semua itu, Max Havelaar tetap hidup hingga kini di Belanda....(Idha Saraswati)

Minggu, Maret 07, 2010

Pledoi Politik yang Penuh Paradoks dan Ambigu

INGIN mengesankan sebagai tokoh berkesantunan dalam berpolitik, SBY (5/3/2010) menyampaikan penampakan paradoksal, yakni menolak hasil keputusan DPR mengenai Kasus Bank Century. Mengutip kata-katanya, terutama ketika merasa dirinya menjadi korban yang menderita, ketika satu jari telunjuk ditudingkan ke orang lain, sesungguhnya empat jari menunjuk pada dirinya.
Presiden, dengan bahasa yang halus dan muter-muter, mengatakan bahwa keputusan DPR adalah merupakan pandangan politik yang berbeda dengan hukum. Dan dengan bahasa yang lugas, Presiden melakukan pembelaan dengan berbagai alibinya. Bahasa penolakan, jauh lebih kentara, daripada aksesoris bahasa yang mengapresiasi itu dalam konteks politik. Apalagi, dalam hal politik, presiden menisbikan dengan menyatakan bahwa hal itu berbeda dengan persoalan hukum, dan itu pun harus dilakukan dengan cara yang beretika dan memenuhi rule of reason.
Sementara, pada pandangan yang menguntungkan posisinya, Presiden mengapresiasi keputusan DPR, dan memakainya sebagai legitimasi. Misalnya, mengenai tidak terbuktinya aliran dana Century ke parpol dan tokoh tertentu (maksudnya, Partai Demokrat dan pendukung-pendukung SBY selaku calon presiden 2009).
Pidato Presiden, sebagai eksekutif dalam trias politica kita, adalah sebuah gangguan yang menjebak dirinya. Perilaku etis dalam berpolitik, yang diinginkannya, seolah adalah klaim dari SBY dan Partai Demokrat yang paling etis, padahal dalam persoalan itu pula mereka juga berperilaku sama-sama tidak etisnya.
Negasi politik Presiden, adalah sinyal directing yang berujung pada negasi hukum. Terlalu naif dalam kasus Century itu, memisahkan antara logika politik dan logika hukum. Jika politik bisa penuh dusta, hukum juga bisa penuh tipu. Apalagi, jika yang kita perbincangkan adalah kekuasaan yang sibuk dengan persoalan citra diri dan wacana.
Konstruksi logika yang hendak dibangun oleh SBY dengan pidatonya itu, adalah konstruksi pencitraan. Dan disitu, kita akan melihat betapa pemerintahan SBY akan boros dalam soal logika-logika politik yang hendak dibangunnya. Pemerintahan yang selalu dalam tegangan citra ini, tidak akan pernah efektif untuk memikirkan tentang bangsa dan negara, setidaknya sampai 2014. Artinya, memilih SBY-Boediono sebagai Presiden RI 2009-2014, bukan pilihan yang sepenuhnya tepat.
Agenda terpenting untuk masa depan Indonesia, tetap saja bagaimana membebaskan kepemimpinan dan kekuasaan dari persoalan personalisasi. Itu artinya, kita membutuhkan waktu untuk mendapatkan generasi baru, yang bisa membebaskan diri dari belenggu formalisme dan pragmatisme politik warisan kebudayaan Soeharto. Yakni, generasi baru yang lebih mengedepankan logika, daripada pandangan-pandangan moralistik dan normatif yang palsu.
Selama ini, kita hanya akan disodori kata-kata yang normatif, namun penuh paradoks dan ambigu.

Sunardian Wirodono
Yogyakarta, 7 Maret 2010

Syeikh Abdul Aziz Bukhari

Kompas Minggu, 7 Maret 2010 | Maria Hartiningsih

Menemui Sheikh Abdul Aziz Bukhari (60) adalah menemui keheningan di tengah badai dan kehangatan di tengah udara bersuhu lima derajat celsius di Kota Tua Jerusalem. Matahari muncul sangat sesaat sebelum sinarnya kembali digulung awan hitam yang mengirim hujan lebat dan rasa murung yang panjang. Cuaca yang sangat tidak menentu sejak pagi, pada hari Jumat (26/2), juga terasa seperti metafora iklim politik di wilayah itu. Meski demikian, Via Dolorosa adalah jantung kota yang terus berdetak, dihidupi hiruk pikuk pedagang menawarkan cendera mata berpadu suara doa yang didaraskan para peziarah. Labirin-labirinnya menyimpan kekayaan sejarah spiritual yang tak lapuk dimakan zaman.
Kami berjalan bergegas memasuki pintu kecil, di antara tembok bata yang separuhnya terkelupas di satu sudutnya, di dekat Jembatan Al-Ghawanmeh. Pintu itu langsung berhadapan dengan tangga besi dengan kemiringan 60 derajat di gang sempit tertutup yang harus ditapaki untuk menuju beranda terbuka. Angin kencang nyaris mengempaskan tubuh yang kuyup.
Seorang gadis kecil membuka pintu rumah beratap rendah di tingkat tiga bangunan tua, yang langsung menyapa langit.

”Selamat datang…. Kota Tua ini lebih dari sekadar yang Anda lihat,” ujar Sheikh Bukhari dengan suara lunak dan dalam. Sorot matanya sangat teduh.
Ia adalah pemimpin komunitas Sufi Naqsabandiah dan salah satu tokoh yang melahirkan Jerusalem Peacemakers, suatu organisasi nirlaba yang didirikan para tokoh Islam, Kristen, dan Yahudi untuk mempromosikan dan membangun perdamaian di Kota Suci Jerusalem.
”Perdamaian di Jerusalem sangat penting,” ia menyambung, ”Jerusalem adalah jantung dunia. Kalau perdamaian dan rekonsiliasi dapat dicapai di sini, perdamaian di mana pun di dunia bisa dicapai.”
Jerusalem adalah wilayah yang diperebutkan dalam konflik Israel-Palestina. Dampak sejak perang tahun 1967 sangat memengaruhi rasa aman pengunjung yang berziarah ke tiga tempat suci dari tiga agama, yang berada di satu kompleks di kawasan Kota Tua Jerusalem.
Namun, seperti dikatakan Sheikh Bukhari, ”Kota Tua ini dihuni berbagai komunitas yang menyapa siapa saja yang datang. Kalau Anda tinggal di sini untuk beberapa waktu, Anda akan pulang dengan membawa Jerusalem di dalam jiwa.”
Menolak kekerasan
Sheikh Bukhari memandang dunia yang karut-marut dengan harapan dan spiritualitas yang penuh. Ia merasakan ketegangan, menyaksikan orang terus berperang, saling membunuh, dan menebar kebencian.
”Di mana-mana, dua pihak berhadapan. Di India, Hindu dan Islam; di Afrika, Muslim dan Kristen; di Irlandia, Katolik dan Protestan; di Aljazair, Muslim dan Muslim. Di sini, Israel dan Palestina, di Palestina, Hamas dan Fatah.”
Ia melanjutkan, ”Mereka sama-sama manusia. Lalu mengapa mereka berperang? Ini bukan perang antaragama, tetapi tentang eksistensi, tentang politik dan kekuasaan. Apa pun yang tidak menghormati kehidupan, bukan agama. Agama adalah cinta dan memaafkan.”
Banyak orang menganggap yang terjadi di kawasan ini adalah perang agama....
Kami menolak kalau dikatakan kekerasan agama. Di sini ada tiga agama besar yang berasal dari sumber sama, dan semua membawa pesan kemanusiaan yang penting. Tuhan menciptakan banyak agama, banyak nabi dan orang suci. Pesan-Nya jelas. Tak ada agama yang menganjurkan orang melakukan kekerasan.

Perebutan tanah? Wilayah?
Kita semua akan kembali ke tanah, kenapa harus berperang memperebutkan tanah? Tanah ini milik Sang Mahapencipta. Bagaimana bisa kita mengklaimnya? Perebutan tanah atas nama apa pun telah mengancam kehidupan penduduk dari pihak-pihak yang bertikai dan bisa memusnahkan keduanya.
Sudah 16 tahun mereka berperang, dan kalau perang berlanjut 16 tahun lagi, apa yang didapat? Perang tak pernah memberi kemenangan, apalagi harapan. Perang hanya meninggalkan kekalahan, kebencian, dan penderitaan. Membunuh orang adalah hal terburuk yang tak pernah dianjurkan agama apa pun.
Mungkin berperang untuk mempertahankan yang dianggap benar adalah jihad....
Jihad terbesar dan tersulit adalah jihad melawan nafs (nafsu) di dalam diri kita. Dalam perang, tiap pihak boleh mengklaim menang, tetapi memenangkan jihad melawan nafs sangat sulit. Begitu nafs menguasai diri orang, jiwanya dipenuhi setan. Dia akan melakukan apa saja untuk memenuhi nafs akan hal-hal yang bersifat material, yang tak akan ada habisnya.

Atau karena ”yang lain” dianggap musuh?
Manusia berasal dari sumber yang sama. Bagaimana mungkin kita bisa mendefinisikan ”yang lain” sebagai musuh? Musuh terbesar manusia adalah nafs di dalam dirinya sendiri.
Islam menganjurkan perdamaian, cinta, dan harmoni. Islam adalah keikhlasan kepada Allah. Kalau kita sungguh ikhlas, artinya kita menerima seluruh ciptaan-Nya. Tuhan itu keindahan, Tuhan itu cinta dan belas kasih. Jadi, jangan membicarakan keburukan. Mari bekerja bersama-sama untuk kebaikan, perdamaian, cinta, dan harmoni di dunia.
Menolak ketakutan
Sumber kekerasan, seperti dikatakan Sheikh Bukhari, adalah ketakutan. Ketakutan membuat orang saling membenci, saling curiga, dan saling menyerang, entah mana yang memulai, dengan alasan apa pun.
”Ketakutan disebabkan ketidaktahuan tentang ’yang lain’ dan tak mau mengenal satu sama lain,” sambungnya.
”Oleh sebab itu, kita belajar saling memahami dengan duduk bersama. Bagaimana bisa saling mengerti kalau tak mau berkomunikasi? Bagaimana bisa menandatangani perjanjian perdamaian tanpa mau berbicara satu sama lain? Para pemimpin politik itu adalah orang-orang yang cerdas, berpendidikan, dan bijaksana. Mereka seharusnya bisa mencari jalan perdamaian untuk menyelesaikan persoalan.”
Ketakutan itu tecermin dalam pemberitaan media massa kedua pihak. Para analis media mengamati, media massa Israel menciptakan stereotip tertentu tentang Islam dan mengabaikan yang tidak cocok dengan stereotip itu.
Sementara di pihak Palestina, sensor yang ketat tidak memungkinkan munculnya ide atau gagasan yang bertentangan dengan pandangan para pemimpinnya. Media massa lebih terfokus pada kekerasan dan mengabaikan banyak peristiwa serta upaya-upaya perdamaian antarindividu.
Yang terjadi kemudian, seperti dikatakan Sheikh Bukhari, ”Membalas kesalahan dengan kesalahan tak akan membuatnya menjadi benar.”

Keniscayaan
Pihak yang lebih kuat dan memenangkan pertempuran, menurut Sheikh Bukhari, adalah mereka yang mampu menyerap kekerasan, kemarahan, dan kebencian dari ”yang lain”, dan mengubahnya menjadi cinta dan pengertian. Itulah jihad yang sesungguhnya.
”Tujuan kami adalah perdamaian dengan keadilan dan kehidupan yang layak bagi semua orang di Tanah Suci ini,” tuturnya. Untuk itulah ia kadang melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk menyebarkan pesan bahwa perdamaian di Tanah Suci adalah sesuatu yang niscaya.

Perdamaian tanpa kekerasan tampaknya tidak mudah....
Sebenarnya ada banyak inspirasi di dunia ini. Apa yang telah dilakukan pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela, membawa pesan jelas; bahwa perdamaian tak bisa dicapai dengan jalan kekerasan. Kita juga bisa melihat yang dilakukan para tokoh nonkekerasan seperti Dalai Lama, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan Ibu Teresa.
Ibu Teresa adalah tokoh yang dikirim Tuhan untuk menyebarkan pesan tentang cinta kasih, dengan bekerja untuk kaum papa yang ditolak masyarakat. Perang tak hanya terjadi di medan pertempuran. Perang yang abadi terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Ibu Teresa tak punya uang. Ia juga tak punya kekuasaan, tetapi ia memiliki cinta kasih yang mampu meraih hati jutaan orang. Bagi saya, ia seperti orang suci. Ia membuka tangan dan hatinya untuk menolong siapa pun yang datang dan membutuhkan pertolongan.
Kalau kita meyakini cinta dan belas kasih melalui kerja-kerja sederhana di sekeliling kita, berarti kita ikut melakukan aktivitas perdamaian untuk mengubah dunia.

Apakah kelompok garis keras dari dua pihak mau mendengar pesan Anda?
Semua tidak terjadi dalam semalam. Tetapi, sekarang ini semakin banyak orang datang dan mendengarkan. Kalau dulu paling yang datang hanya belasan orang, saat ini ribuan orang datang. Kami mengajak lebih banyak orang untuk bersama-sama belajar saling memahami.


Sebentuk Oase

Kompas Minggu, 7 Maret 2010 |

Sheikh Bukhari dan keluarganya bermukim di rumah keluarga yang usianya sudah hampir 400 tahun. Para leluhurnya dari kota di Jalur Sutra, Bukhara, di Asia Tengah, tiba pada tahun 1616 dan mendirikan Pusat Naqsabandiah di Jerusalem.
Kehidupan ayah enam anak, suami dari Hala—perempuan paruh baya dari Gaza yang senyumnya lembut dan matanya memancarkan kasih—dan kakek seorang cucu itu jauh dari gaya hidup konsumtif. Hidupnya sangat bersahaja.
Pusat Naqsabandiah yang ia rawat dengan penuh tanggung jawab itu membutuhkan banyak donasi agar bisa bertahan, namun senantiasa tersedia makanan bagi para musafir yang membutuhkan.
Penerimaan yang tulus terasa sejak menjejakkan kaki ke ruang tamu yang di satu bagiannya dipenuhi lemari dengan naskah tua karya para sufi, yang tampaknya membutuhkan bantuan restorasi.
Dengan senyum hangat, Sheikh Bukhari menyambut jabat tangan seorang teman wartawan yang tampak ragu-ragu mengulurkan tangannya. Setelah shalat Jumat, ia menyodorkan baju hangat kepada dua teman lain yang bajunya ternyata tak cukup tebal menahan hawa dingin.
”Dipakai saja, nanti dikembalikan kalau saya punya kesempatan datang ke Indonesia,” ia bercanda, sambil menuangkan teh untuk kami.
Sementara menunggu shalat usai, sang istri yang sedang memasak di dapur di ruang bawah, membuatkan teh hangat dan menyediakan kue manis. Ia mengeluarkan alat pemanas yang lebih besar untuk mengeringkan ujung bawah celana panjang yang basah dan mengajak mengobrol tentang persaudaraan antarsesama manusia. Beberapa tamu, para sufi, yang kebetulan sedang menginap di rumah itu, turut menyapa.
Di dalam diri
Jerusalem Peacemakers terbentuk pada tahun 2004 dengan dua lingkaran pertautan para juru damai: satu di Israel-Palestina dan yang lain berpusat di Glastonbury, Inggris.
Meski awalnya ada dua pemikiran berpunggungan—yang satu mengingini peran politik dalam perundingan perdamaian, yang lain meyakini politik bukan jalan keluar—kelompok itu bekerja di tingkat bawah, individu membantu individu.
Kegiatannya berpusat di bidang kemanusiaan serta hubungan antariman dan keyakinan. Mereka bekerja dengan teks-teks agama dan meminta para tokoh Islam dan Yahudi untuk menolak penggunaan kekerasan atas nama agama. Mereka juga melihat pada koeksistensi pandangan Yahudi dan Islam, serta berusaha menciptakan prinsip-prinsip perdamaian dari keduanya. Organisasi itu tidak punya kantor, namun jaringannya solid, dijalin oleh komitmen dan dedikasi tinggi dari mereka yang terlibat di dalamnya.
Para juru damai di Tanah Suci itu bekerja bersama untuk membantu mencairkan keyakinan yang kaku, menjembatani jurang pemisah antarmanusia, membantu orang mengakui kebersamaan, dan senantiasa mengingatkan bahwa polarisasi dan kekerasan tak akan membawa manfaat apa pun bagi kehidupan.
Sheikh Bukhari meyakini bahwa agama sesungguhnya merupakan hubungan personal antara individu dan Tuhannya.
Pemimpin Komunitas Uzbek di Jerusalem itu melanjutkan apa yang dilakukan para pendahulunya 400 tahun terakhir ini, ”Untuk membantu komunitas mencari Tuhan di dalam diri mereka.”
Perjumpaan dengan Sheikh Bukhari tak hanya memperkaya pemikiran, tetapi, terutama, telah menyentuh kedalaman jiwa.
Kami meninggalkan rumah itu menjelang pukul tiga petang. Di depan pintu, ratusan peziarah sedang menuntaskan Jalan Salib, menuju pemberhentian ke-14, stasi terakhir.... (MH)

Selasa, Maret 02, 2010

Centhini Sebuah Interpretasi Baru

SRI SUSUHUNAN PAKUBUWANA V, BUKAN HANYA RAJA dari Karaton Surakarta Hadiningrat, melainkan beliau juga seorang maecenas besar yang pernah dimiliki Indonesia. Meski kekuasaannya berlangsung sangat pendek (1820-1823), namun jasa dan gagasannya terukir panjang. Dari gagasan, dan tentu donasi beliau (yang bahkan telah dimulai ketika masih sebagai putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara ing Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), lahirlah pada awal abad 19 itu, Suluk Tambangraras yang kemudian lebih dikenal sebagai Serat Centhini.
Serat Centhini, mulai ditulis pada Sabtu Pahing, 26 Mukharam Je 1724 (tahun Jawa) atau pada 8 Januari 1815, oleh tiga pujangga Karaton Surakarta. Yakni, Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura. Sebagai sebuah karya sastra, memenuhi syarat sebagai sebuah mahakarya yang memiliki pengaruh luas. Sampai banyak orang bisa berkomentar dan menilai, sekali pun sama sekali belum pernah membacanya, sampai hari ini. Begitu hebatnya ia, sampai-sampai karya ini muncul dalam banyak versi. Setidaknya ditengarai ada 12 versi Serat Centhini, dan itu sudah cukup menunjukkan kelasnya.

Daerah tebanya begitu luas. Ia mengenai apa saja. Bukan hanya mengenai sastra atau seni, melainkan juga tentang adat-istiadat, obat-obatan, makanan dan minuman (jaman sekarang disebut kuliner), pengetahuan tentang hewan, tanaman, agama, sejarah, dan bahkan tentang seks.
Tentang yang terakhir itulah, Serat Centhini antara lain dikenal luas. Karena Serat Centhini-lah karya sastra Jawa pada waktu itu, yang berbicara berterus-terang perihal seks. Penjabarannya, bukan hanya verbal tetapi kadang liar. Dalam Serat Centhini, juga dikisahkan bagaimana terjadi anal seks atau pun praktik homo-seksualitas. Dan bahkan, seks massal,...
Pada bagian-bagian yang berkait dengan seks itu, konon Pakubuwana V sendiri yang turun tangan, menulis langsung. Itu terjadi setelah tiga penulisnya dirasa tidak memuaskannya. Tidak nges, dan kurang lugas. Kurang mak nyus, kata almarhum Prof. Dr. Umar Kayam (yang kemudian ditirukan atau dipopulerkan oleh pakar kuliner Bondan Winarno). Maka, Serat Centhini jilid 5 s.d 10 yang ditulis sendiri oleh sang Raja, sebagaimana kemudian bisa dibaca dalam kitab Serat Centhini sekarang ini.
Ia mendapat banyak sebutan, sebagai karya korpus, monumental, sastra kanon yang begitu lengkap dan mencengangkan, karena cakupan isinya yang ensiklopedis, gaya bertuturnya, serta ketebalannya. Bayangkanlah, pada abad 19 itu, lahir karya sastra yang secara liris dan intens, ditulis sebanyak 12 jilid, dengan 722 pupuh tembang (jenis puisi Jawa). Satu pupuh tembang, tak jarang terdiri dari ratusan kuplet (bait), bahkan ada beberapa yang mencapai lebih dari 300 kuplet. Dan masing-masing kuplet terdiri antara 6 hingga 12 baris.
Bisa dibayangkan, kepiawaian bahasa para penulisnya. Karena masing-masing pupuh tembang diikat oleh guru wilangan (jumlah suku kata yang terukur dan terhitung pasti), dan guru lagu (akhir suku kata masing-masing baris yang baku, untuk mendapatkan pola pantunnya). Karena itu, kata-kata dalam bahasa Jawa yang dipakai para penulisnya begitu lentur karena mengejar rima dan bunyi.
Karena itu ketika Serat Centhini itu dilisankan (ditembangkan) siapa pun sepanjang mengetahui cara menyanyikan pupuh tembang itu, Centhini menjadi komunikatif, mudah untuk diapresiasi, dan mudah untuk disosialisasikan. Bahkan terbuka ditafsirkan dan punya kecenderungan bias, karena faktor pendengaran, pengertian, atau ingatan.
Hal ini menjadi mudah terjadi, karena tembang sebagai sastra lisan yang jamak dilakukan pada waktu itu, terjadi dalam berbagai bentuk pertemuan banyak orang, ketika berada dalam upacara sunatan, pengantin, atau berbagai pertemuan-pertemuan rutin, yang diselenggarakan oleh berbagai kelompok masyarakat, dalam berbagai waktu dan tempat.
Karena itulah Centhini bisa muncul dalam banyak versi. Seperti Centhini Pegon. Centhini Jalalen. Centhini versi Madura. Dan lain sebagainya. Tidak dalam niat menyamakan, demikian pulalah ketika para sahabat Muhammad SAW hendak mengumpulkan hadist nabi, yang tentunya disampaikan secara lisan. Maka ketika hadist itu hendak dikumpulkan dan dituliskan, dibutuhkan para perawi hadis yang sahih, yang bisa menjamin tingkat kebenarannya. Apalagi, untuk kasus penulisan Alquran, yang dilakukan setelah nabi wafat. Demikian pula dengan kasus penulisan Injil, yang ditulis berdasar penuturan sahabat-sahabat Jesus seperti Lukas, Paul, Johannes dan lain sebagainya.
Percontohan dalam karya sastra Indonesia, mungkin bisa ditemui pada novel “Para Priyayi” (1992) Umar Kayam, yang pembagian bab-nya ditulis menurut sudut pandang “aku” tokoh-tokohnya. Atau pada lahirnya novel kwarternarius “Bumi Manusia” (1980) Pramoedya Ananta Toer. Yang konon sebelum dituliskan, justeru dilisankan. Didongengkan terlebih dulu kepada sesama napi di Pulau Buru, untuk kemudian baru ditulis.
Serat Centhini (1815) berada dalam nasib berbeda, karena ia “hanya” sastra Jawa, yang tentu tidak segawat kasus penulisan kitab agama yang membutuhkan kesahihan dan kecanggihan. Demikian pula, ia bukan sastra teks Indonesia yang “mulia”, yang mempunyai para ahli kritiknya masing-masing. Sehingga perlu ada studi perbandingan atau studi kritis, sebagaimana dialami oleh Umar Kayam atau Pramoedya.

*

SERAT Centhini, dari teks Sang Raja kemudian berkembang-biak di masyarakat lata, dengan berbagai dampak pembiasan. Dan tidak terjadi huru-hara apa pun. Setidaknya, munculnya banyak versi itu justeru diyakini sebagai pengayaan. Apa yang dimaksudkan oleh Pakubuwana V, menemukan wadahnya. Bagaimana kebudayaan Jawa menjadi sesuatu yang hidup dan berkembang. Toh pada hakekatnya, berbagai isi pengetahuan dan panduan dalam Serat Centhini mengenai kebudayaan Jawa, masih tetap diketahui dan dipraktikkan dalam kehidupan keseharian manusia Jawa sampai hari ini. Bahwa kebudayaan pada jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang, bukankah demikian kehidupan itu berubah dan berkembang? Tidak ada yang gawat dalam harmoni kehidupan Jawa. Semuanya rileks dan santai saja. Ia telah menjadi sastra komunal.
Semangat berkomunikasi (dalam tradisi kelisanan) pada Serat Centhini pun seperti itu. Ketika Serat Centhini harus pula memuat tentang teks-teks agama (Islam), karena ia memang diobsesikan untuk memuat apa saja tentang ilmu pengetahuan masyarakat Jawa waktu itu. Ia bergerak begitu saja bersamaan dengan kondisi waktu yang melingkupinya. Kenapa? Karena Centhini, sekali lagi, diobsesikan menjadi karya ensiklopedis, sebuah bothekan, yang menampung apa saja sehingga masyarakat Jawa mempunyai rujukan atau panduan. Maka Serat Centhini menjadi besar, karena ia menjadi referensi masyarakat. Referensi dalam obat-obatan, keris, memilih kuda, memilih pasangan hidup, membangun rumah, dan lain sebagainya, seperti halnya pengetahuan tentang agama itu.
Maka, ketika para penyelidik modern mengkritisi Serat Centhini dalam konteks sinkretisme Jawa-Islam, mempertentangkan pandangan kebatinan Jawa yang masih animistik dengan Islam, dan membacanya sebagai tidak munculnya resistensi sebagai sesuatu yang khas Jawa, atau pola inkulturasi yang tidak genuine serta agak dipaksakan, saya kira biarkanlah menjadi keributan para akademisi yang selalu membutuhkan ukuran-ukuran scientific. Persis sebagaimana kehidupan yang terekam dalam tokoh-tokoh Serat Centhini, praktik kehidupan masyarakat Jawa yang memahami kehidupan sekuler berdampingan aman dengan kehidupan religi.
Saya justeru melihat kehebatan Centhini dari yang diobesikan oleh Pakubuwana V. Bagaimana ia bisa memberikan rujukan atau referensi pada masyarakat Jawa (pada waktu itu) yang tentu saja dengan situasi dan kondisi teknologi serta penghetahuannya, telah berjasa besar dalam menyebarkan berbagai pengetahuan dan kebudayaan manusia kepada masyarakat ramai. Sampai hari ini. Dari sisi ilmu komunikasi, betapa sang raja memiliki kemampuan membaca sosiologi komunikasi masyarakatnya. Ia adalah seorang komunikator yang ulung. Bayangkan, jika Pakubuwana V berada di jaman internet sekarang, mungkin saja beliau akan menulis Serat Centhini di website atau face-book!
Bagaimana penyebaran dan pembelajaran agama (Islam) yang masih terbatas pada pesantren-pesantren, dibakukan dalam teks itu, dan kemudian dilisankan di berbagai pertemuan masyarakat Jawa, yang memang masih bertradisi budaya lisan. Saking seriusnya dengan harapan atas manfaat buku itu, sampai perlu Pakubuwana V mengutus Ki Ngabei Sastradipura mendalami agama Islam, dengan cara mengirimnya untuk naik haji (hingga kemudian, dalam proses penulisan Serat Centhini itu, yang semula bernama Ki Ngabei Sastradipura ketika proses observasi, dalam proses penulisan kreatifnya beliau sudah berganti nama menjadi Kyai Haji Muhammad Ilhar). Dan Pak Haji ini, ikut dalam proses penulisan sebuah buku yang juga menjabarkan pengetahuan tentang seks. MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mendukung perlunya Undang Undang Pornografi, mungkin akan geleng-geleng kepala melihat hal ini.
Namun seks yang seperti apa? Karena ia bersifat ensiklopedis, tentu saja penjabarnnya menjadi berbeda. Sebagaimana juga dalam penajabaran faham pun, ia berada dalam semangat itu. Tidak ada korelasi dengan resistensi, harmoni, atau sinkretisme sebagaimana digawatkan oleh para akademisi. Dalam pola pemahaman rakyat jelata, Serat Centhini telah menjadi rujukan dan dipraktikkan. Sumber referensi dan menjadi panduan. Bayangkanlah, karena kitab ini juga bertutur tentang Nabi Sulaiman, Jibril. Berkisah tentang bangsa Yahudi Israel, atau bahkan pertemuan antara Ki Abdullah dengan Nabi Isa (Yesus Kristus), ketika Ki Abdullah meminta agar menghidupkan kembali isterinya yang telah mati (Serat Centhini, 154:49-53).
Berbeda nasibnya dengan “Para Priyayi” Umar Kayam, yang sering dibantai habis para kritikus, dengan mengatakan bahwa Umar Kayam adalah novelis yang gagal karena ia sosiolog. Persis sebagaiamana kritik terhadap novel-novel esai dari Sutan Takdir Alisyahbana “Grotta Azzura” yang dikesankan cerewet serta sok pintar. Semua tokoh-tokoh dalam novel seperti itu, sebagaimana YB Mangunwijaya juga mengalaminya dalam trilogi Rara Mendut, tokoh-tokohnya tidak berjiwa, dan hanya terdiri dari otak si penulis. Pramoedya, menjadi menonjol, karena beliau seorang pengarang, yang hidup sebagai penulis.
Tapi, biarlah itu keriuhan yang mengembangkan dunia ini. Sepanjang semua masih berjalan dengan memberi kebebasan pada orang lain untuk menafsir, serta tidak dalam semangat melenyapkan orang lain. Tidak ada yang perlu dikhawatikan.

*

KESULITAN kita sebagai generasi sekarang yang lebih melek huruf, dan dibesarkan dalam tradisi teks. Serat Centhini sebagai karya sastra menjadi tidak gampang dimengerti, bahkan oleh mereka yang kesehariannya bertutur dengan bahasa Jawa. Karena aturan dan pola tembang itu, memungkinkan terjadi dasanama, sinonim, atau pengubahan kata yang membuat kita bisa kebingungan. Nama tokoh-tokohnya pun, karena mengejar jumlah suku kata dalam satu baris (guru wilangan) bisa berubah-ubah. Jayengresmi, bisa saja menjadi Jengresmi. Atau karena harus patuh pada guru lagu, dalam satu barisnya Seh Amongraga bisa saja ditulis Seh Amongragi.. Ki Bayi Panurta, mertua Seh Amongraga, sering disebut Ki Bayi, tetapi jangan bingung jika dalam baris lain disebut sebagai Ki Baywa. Belum lagi nama Panurta bisa pula berubah menjadi Panurteki. Itu bukan salah cetak atau salah tulis, namun karena pola puisi yang harus dan tidak boleh ditawar. Dan seterusnya.
Maka, cobalah kita baca, bagaimana ketika sehabis upacara pengantin, dan Seh Amongraga hendak mengetahui sejauh mana pengetahuan Tambangraras membaca Alquran dan memulainya dengan basmalah dan surat Al Fatihah (Serat Centhini Jilid VI, pupuh 361, Kinanthi, pada gatra 126). Begini bunyinya:

“(bismilahi//)Rahmanirakim alkamdu
lilahi robil ngalamin,
arahmani rakimma,
malikiyaomidini,
wa iya kanabudua,
wa iya kanastangini,...//

Karena gatra itu berada dalam pupuh (jenis) tembang Kinanti, yang pola persajakannya haruslah satu kuplet terdiri dari enam baris. Baris pertama harus terdiri dari delapan suku kata dan berakhiran bunyi huruf “u”. Baris kedua, delapan suku kata, berakhiran huruf “i”. Baris ketiga, tujuh suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-empat delapan suku-kata, berakhiran huruf “i”. Baris ke-lima delapan suku kata, berakhiran huruf “a”. Baris ke-enam delapan suku kata, berakhiran huruf “i”.
Lihatlah melalui kasus ini: Dalam baris pertama, hanya disebut “rahmanirakim alkamdu” karena kata bismilah sudah ditulis pada baris terakhir kuplet sebelumnya. Baris ketiga ditulis “arahamni rakimma” bukan “arrahmani rakim” karena jumlah suku-kata (guru wilangan harus tujuh, bukan enam). Demikian pada baris berikutnya ditulis “malikiyaomidini” dan bukan “malikiyaomidin” karena akan kurang satu ketukan (suku kata). Begitu juga kenapa “wa iya kanabudua” dan bukan “wa iya kanabudu”, karena suku kata terakhir harus (jatuh pada sukon wulon atau guru lagu) berbunyi “a” bukan “u”. Maka pada baris terakhir, kasus penambahan suku kata sebagaimana baris 2, 3, 4 dan 5, bisa dimengerti (dalam Serat Centhini mengenai tembang ini dijelaskan dengan runtut dan jelas pada Jilid VI, Pupuh 367 dari bait 145 sampai dengan 226. Bahkan dikatakan, bahwa menurut Kyai Kelipa Buyut Mataram, para pujangga kuno meyakini pupuh atau jenis tembang Jawa itu semuanya ada 49. Hingga kemudian yang selazimnya dikenali hanya berjumlah sekitar 11, 12, 13. Perbedaan angka itu, karena tidak semua jenis tembang populer atau dipakai oleh beberapa orang di beberapa daerah berbeda seperti Sala, Yogyakarta, atau pun beberapa kota lainnya. Banyumas, Semarang, Madiun, Bojonegoro, dan lain sebagainya).
Yang menarik, gaya penuturan Serat Centhini sesungguhnya full humor. Khususnya ketika bertutur soal seks, atau memberikan laporan pandangan mata mengenai tingkat-polah dan perilaku masyarakat Jawa. Bahkan, ketika menuliskan tamu-tamu undangan dalam pesta perkawinan Amongraga-Tambangraras. Ada ratusan tamu, dari lurah (kepala desa), sanak-saudara, blantik, para ulama, pedagang. Nama mereka disebutkan satu-satu, hingga bait-bait tembang hanya berisi daftar nama (lihat Serat Centhini jilid VI, pupuh 357, Mijil, dari bait 234 s.d 280).
“Ki Pandu Tarumpaka Wiranggi,/Ki Dhemes Selobog,/Ki Pandelem Sumbreng Kebak Jolen,/Bambang Eko Bawen Moga Penggik,/Bancang Wora-wari,/ Dhempel Kuwel Mandul,...//” itu adalah nama-nama diantara para tamu Ki Bayi Panurta. Bayangkan kalau ratusan tamu itu disebutkan semuanya. Belum lagi nama-nama yang aneh seperti Ki Centhing, Pak Rumiyah Rajin, Pak Nakirah Kobis (pastilah ini pedagang sayur khususnya kol-kobis), Pak Remu, Pak Murah, Pak Surem, Pak Beser (mungkin karena kebiasaannya), Pak Garem (penjual garem), Ki Mangkurah Kunci. Ada juga beberapa nama seperti Pak Tomas (mungkinkah dia Katholik?), Ki Cek Yik, Ki Dokerok, Mangundrana Paris (apakah dari Paris, kota asal penulis Elizabeth D. Inandiak yang Perancis itu?).
Belum lagi ketika mencandra (menggambarkan dan menyindir) bagaimana penampilan para tamu dengan aneka rupa pakaiannya. Khas sinikal orang linuwih yang mengritik habis gaya hidup orang-orang setengah matang, yang tidak mengerti adat-istiadat sebenarnya.
Pada pupuh tembang yang lain, seperti Dandhanggula, Mijil, Pocung, Asmaradhana, Pangkur, lain lagi aturannya. Ada 12 jenis tembang dalam Serat Centhini, bahkan sampai pada jenis tembang Lontang, yang sama sekali sudah tidak dikenali lagi oleh masyarakat Jawa, bahkan mereka yang bergulat dengan (seni musik) karawitan Jawa sekali pun.

*

PERLU dijelaskan sedikit mengenai isi Serat Centhini ini. Agar panjenengan semua yang belum mengetahui tidak kebingungan.
Sengkala (penanggalan) Serat Centhini, yang berjudul asli Suluk Tambangraras, berbunyi “paksa suci sabda ji”, atau 1742 tahun Jawa atau 1815 tahun Masehi, yakni sekitar lima tahun sebelum penobatan KGPAA Amangkunagara sebagai Sunan Pakubuwana V, si empunya gagasan.
Suluk Tambangraras (diambil dari nama tokoh Tambangraras, bandara putri Centhini yang dinikahi Syekh Amongraga), bersumber pada kitab Jatiswara, yang ditulis semasa Sunan Pakubuwana III bertahta. Tapi tidak diketahui, siapa penulis kitab tersebut.
Tujuan penulisan Suluk Tambangraras, jelas dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama. Pengerjaan dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom Amangkunegara, dengan para penulis istana, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Tumenggung Sastranegara, dan Ki Ngabei Sastradipura.
Sebelum dilakukan penulisan, ketiga penulis tersebut mendapat tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur, Sastranegara bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji, dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Dan ketika mereka kembali, bak peneliti lembaga studi jaman sekarang dengan para funding dan sponsornya, mereka pun kemudian bekerja, menulis.
Kitab itu disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar yang juga diutus Sultan Agung dari Kerajaan Mataram untuk menggempur Giri. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah kelahiran mereka, untuk melakukan pengelanaan, karena kekuasaan Giri dihancurkan Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengsari, dan si bungsu Rancangkapti, satu-satunya anak perempuan. Dalam pelariannya, mereka berpisah jalan. Jayengresmi berjalan ke timur, sementara Jayengsari dan Rancangkapti ke barat.
Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang, Banten.
Jayengresmi mengalami pendewasaan spiritual dalam berbagai perjumpaan dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa. Mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Hingga kemudian bertemu Tambangraras, yang menjadi istrinya.
Sang isteri Tambangraras, memiliki pembantu bernama Centhini, yang meladeni apa pun kebutuhan Tambangraras, sampai ia juga yang harus menunggui malam-malam pengantin Amongraga dan Tambangraras, karena antara Tambangraras dengan Centhini seolah saudara kembar. Tambangraras mempunyai ketergantungan kepada Centhini, sampai pun ketika sudah menikah, ia meminta (ini tafsiran saya, SW) agar Centhini tidak akan pernah jauh darinya. Dalam konteks ini, dengan semangat sastra lisan dan kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, bisa jadi dari sinilah nama Suluk Tambangraras mengalami pembelokan dan lebih dikenal sebagai Serat Centhini. Karena pada bagian hadirnya Centhini ini, Suluk Tambangraras masuk dalam episode yang paling menggairahkan, yakni tentang seks. Meski dalam bibliografi Perpustakaan Karaton Surakarta, yang disusun Nancy K. Florida, sudah dituliskan sebagai “Serat Centhini” (bertahun 1815) pula. Centhini menjadi sosok sentral, justeru semua orang (yang ingin segera mengetahui apakah Tambangraras sudah disetubuhi oleh Amongraga) menunggu informasinya. Karena dialah satu-satunya orang paling dekat dengan Tambangraras. Demikian juga tentunya, para pembaca dan pendengar tembang Suluk Tambangraras itu kemudian, karena Centhini seolah adalah alterego Tambangraras. Hal itu akan lebih kentara nanti, ketika Syekh Amongraga minggat dari Wanamarta dan disusul oleh Tambangraras bersama Centhini yang menyaru sebagai laki-laki.
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan di tempat lain, Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma, Banyumas.
Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, shalat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan selamatan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.
Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Seh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritual, menuju tingkat yang lebih tinggi lagi. Yaitu berpulang dari muka bumi, meninggalkan raganya.
Penggunaan Giri dan Mataram (antara Sunan Giri dan Sultan Agung Anyakrakusuma), menyiratkan dua pandangan Islam yang “berbeda”. Dan perjalanan Jayengresmi beserta adik-adiknya, menjadi tampak simbolik. Yang pada akhirnya, mereka kelak pun juga “tunduk”, menjelma menjadi “ulat” dan kemudian “dimakan” oleh Sultan Agung.
Ada banyak tokoh dan tempat disebut dalam Serat Centhini. Meski setting waktu kejadiannya, berkisar pada jaman kekuasaan Sultan Agung Anyakrakusuma. Namun rentang waktu yang terangkum dalam kisah-kisah Centhini, begitu lentur ke mana-mana, hingga sampai pada Syekh Wali Lanang (jaman peralihan Majapahit Hindu ke Islam) dan Syekh Siti Jenar dalam jaman Mataram Islam. Ia merangkum kebudayaan Jawa yang telah berkembang pada era Sebelum Masehi hingga abad ke-18 Masehi. Aneka karakter tokoh bermunculan di sini, sampai pada nama-nama yang kontroversial seperti Mas Cebolang, dan Ki Nuripin yang gila seks dan pengidap penyakit “kotor” gonorhea.
Serat Centhini, boleh dikata sebagai ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, induk pengetahuan Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa dan lain-lainnya. Para kritikus memuji kitab ini, sebagai karya sastra Jawa yang megah, mewah, indah dan bermutu tinggi.
Teknis bertutur pada Serat Centhini pun, berbeda dengan karya sastra Jawa pada umumnya. Pada karya ini, terlihat penjarakan, yakni obyek tuturan dibiarkan sebagai obyek, dipaparkan begitu rupa tanpa pemasukan unsur subyektif penulis, sebagaimana model tuturan karya penulisan yang berkembang di Eropa pada waktu itu. Sesuatu yang belum lazim dalam tradisi Jawa, karena baik dan buruk dalam kebudayaan Jawa dituliskan begitu saja, apa adanya. Soal apa adanya itu, memang jadi kontroversial, karena sampai kini pun ketertutupan kita memposisikan Serat Centhini sebagai “kitab yang kotor”.
Namun, banyak ilmuwan yang membicarakan, mengkaji dan menimba ilmu pengetahuan Jawa dari Serat Centhini, yang kaya akan data dan fakta. Tidak berlebihan bila para ilmuwan besar, menyebut serat yang disusun atas prakarsa Pakubuwana V di Surakarta ini, sebagai warisan sastra dunia. Karya sastra ini telah memberi kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Dokumentasi dan klasifikasi berbagai ilmu pengetahuan, menunjukkan wibawa para elit cendekiawan Jawa, mampu berkomunikasi di panggung ilmiah internasional.

*

SERAT Centhini, bersamaan Serat Gatholoco dan Serat Darmo Gandhul, adalah buku-buku yang saya kenali sejak kecil, bahkan sebelum saya bersekolah. Bukan karena ayah saya yang seniman (pemain kethoprak) sebagai penggila buku, melainkan karena ayah saya waktu itu pernah membuka perpustakaan untuk umum.
Yang saya maksud mengenali buku-buku itu, tak lebih sebatas tahu semata. Membaca secara “parah” belum pernah, karena masih dalam bahasa aslinya, Jawa klasik, dan dalam bentuk tembang pula, sehingga menurut saya tidak menarik. Karena tidak mudah dimengerti maknanya. Jangankan isinya, bahasanya saja saya tidak pernah mudheng alias faham.
Masa kecil saya, lebih bergelimang dengan koleksi buku perpustakaan yang saat itu sedang laris, novel-novel pop bahasa Jawa modern seperti yang ditulis oleh Any Asmara atau Suparto Brata. Ya, novel-novel pop yang kadang full percintaan dan petualangan asmara. Juga beberapa koran seperti Kembang Brayan, Jaka Lodhang, serta Swadhesi dan Anjangraya. Dua yang disebut terakhir (yang selalu dibeli eceran oleh kakak saya yang berjualan di Pasar Beringharjo), adalah koran kuning yang penuh dengan berita kriminal, yang tentu sama sebangun dengan koran-koran jenis seperti itu di masa sekarang, dibumbui ramuan mengenai seks dan mistik. Untungnya, disamping membeli koran itu, dibeli juga koran Pelopor Yogya, hingga saya sempat membaca beberapa nama penulis beradab dari rubrik Sabana dan Persada Studi Klub yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi.
Baru ketika menginjak SMP, saya banyak mendapatkan informasi, bahwa Serat Centhini, Gatholoco, dan Darmo Gandhul merupakan bacaan yang jauh lebih “gila-gilaan” dalam menguraikan perihal seks, dibanding novel-novel, komik, Any Arrow, dan bacaan lain yang waktu itu leluasa saya baca.
Saya menyesal, karena ketika kemudian mengubeg-ubeg mencarinya, buku tersebut sudah tidak ada di rumah. Untuk menanyakan di mana buku tersebut, saya malu dan tidak berani, karena masih duduk di SMP. Hingga kemudian saya menjumpainya ketika sudah dewasa (dan bertemu langsung dengan beberapa nama yang dulu saya bacai di koran Pelopor Yogya). Dan tetap saja bagi saya tidak menarik. Bahkan ketika almarhum Linus Suryadi AG (penyair, prosa lirik Pengakuan Pariyem) menawari kemungkinan saya untuk mengindonesiakan Serat Centhini, tentu saja yang sudah dilatinkan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo almarhum, tidak juga menggerakkan saya. Maafkan Mas Linus, semoga damai di Sorga!
Namun karena saya terlibat dalam proses penulisan kreatif “Pengakuan Pariyem” (1979-1981) Linus Suryadi AG itu, intensitas perkenalan dengan Serat Centhini lumayan intensif, meski pun kemudian terpaksa saya tinggalkan karena pengembaraan selama hampir seperempat abad di Jakarta.
Saya baru benar-benar tergerak, ketika pada suatu waktu, saudara Edie AH Iyabenu, direktur penerbitan Diva Press, menantang saya menovelkan Serat Centhini. Tergerak, karena beliau memberi kebebasan tafsir pada saya, dan saya juga dibebaskan untuk mengekspresikan kembali dengan cara yang saya sukai. Serat Centhini sendiri menyediakan diri sebagai teks terbuka. Ia memberikan outline yang multitafsir untuk dikembangkan. Dan itu mengagumkan.
Memang usaha pengindonesiaan mengenai Serat Centhini sudah dilakukan, setidaknya oleh UGM, setelah dirintis (penglatinan dari aksara Jawa) oleh Karkono Kamadjaja dan kawan-kawan (1981). Juga bahkan diperanciskan oleh Elizabeth D. Inandiak (yang kemudian dari sana dialihbasakan ke Indonesia, sebuah keajaiban budaya ketika Serat Centhini mengalami perjalanan mistical cultural dari Jawa, Perancis, baru Indonesia). Namun, semuanya masih dalam bentuk dan konteks Serat Centhini aslinya, yang bagi saya, masih terasa eksklusif.
Tentu saja, itu bukan cacat karena ia bernama pilihan. Saya dalam rangka sangat menghargai berbagai upaya itu. Dengan segala hormat dan ketulusan hati. Apa yang dilakukan Karkono, KRMT Sukmahatmanta, Daru Suprapto, Elizabeth D. Inandiak, adalah upaya para mujahid yang amat berguna bagi Serat Centhini di masa-masa mendatang. Sekarang ini, di dunia maya internet, Serat Centhini termasuk sastra Jawa yang paling berjaya dalam berbagai situs. Banyak anak muda mengakses, meski banyak situs merupakan copy-paste satu sama lain, dan ada banyak bias informasi di situ (ada juga yang menganggapnya kutipan Serat Centhini, padahal yang dimaksud Serat Kalatida), dan seterusnya. Serat Centhini mungkin satu-satunya karya yang banyak dikutip anak muda, tanpa harus mengetahui bahasa dan maknanya.
Mimpi untuk turut “mengindonesiakan” Serat Centhini, dan “mencairkannya” dari kebekuan eksklusivitas tembang (puisi) Jawa, makin tergoda ketika saya mendengar upaya untuk penerbitan “The Centhini, the Javanese Journey of Life Story” dalam bahasa Inggris oleh Suwito Santoso dan Kesty Pringgohardjono (2008). Dan bagi saya, Centhini garapan Pak Suwito dan Bu Kesty, adalah buku yang mengesankan, ketika melihat Centhini secara proporsional dalam konteks jamannya. Alangkah juga bagusnya, jika buku ini bisa terbit dalam edisi Indonesia. Karena, jika tidak, akan juga terasa betapa tragisnya Indonesia, ketika Serat Centhini di-Indonesia-kan (meski via bahasa Perancis) oleh penulis Perancis, atau teks yang sama di-Inggris-kan oleh orang Jawa. Meski fenomena itu sudah disinggung oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang ditulis setelah Serat Centhini. Maaf, ini bukan pernyataan rasis, melainkan ungkapan cinta buta.
Bersamaan dengan kegelisahan itu, tawaran saudara Edi AH Iyabenu itu, saya sambut dengan surprise dan terharu. Itu salah satu energi yang membuat saya menyelesaikan Centhini dalam versi novel ini. Pengertiannya, bahwa saya sepenuhnya berangkat dari teks Serat Centhini selengkapnya, dan sefahamnya (sebisanya). Tetapi, apa yang saya tulis, adalah tafsir ulang bukan hanya pada teks, melainkan konteks jaman dan situasi batin tokoh-tokohnya, serta teknis dan sudut pandangnya. Maafkan hamba, yang mulia Sinuhun Pakubuwana V. Bagaimana pun, andika adalah maecenas terdahsyat yang pernah dimiliki negeri ini, yang tidak juga ditiru-tiru meski pun presiden Indonesia silih berganti, baik dari orde ini dan itu, sampai pun pada jaman reformasi linglung ini.
Novel tafsir Centhini ini, dengan judul “Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”, bersumber sepenuhnya pada Serat Centhini jilid V, VI, dan VII, berdasar Serat Centhini Latin dari Yayasan Centhini Yogyakarta, yang diupayakan oleh Karkono Kamadjaja Partokusumo dan diterbitkan sebagai buku pada 1989, meski upaya pelatinan yang pertama sudah mulai diupayakan pada 1981. Untuk diterangkan pula, sumber Serat Centhini Latin ini dari Serat Centhini koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Hal ini penting dikemukakan, karena berbagai versi yang ada mengenai Serat Centhini). Meski pun untuk upaya penafsiran, saya membandingkan pula dengan beberapa versi lain, sekali pun hanya sepintas lalu. Seperti “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” (2004) gubahan Elizabeth D. Inandiak, adalah rujukan penting yang menafsir 40 malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras.
Dalam Serat Centhini asli, tidak tercantum pengintipan pengantin itu. Bahkan, tidak terceriterakan detail malam-permalam. Dalam sekian banyak syair-syairnya, dari sejak jilid VI dan kemudian tersambung jilid VII, sebenarnya banyak bertutur mengenai urutan upacara pengantin Jawa, dari ijab, panggih (mempertemukan kedua mempelai), pahargyan (resepsi), kemudian sepasaran (lima hari dari ijab), ngunduh penganten (mengundang dan memestakan pengantin yang dilakukan oleh sanak-saudara), mendirikan rumah, dan boyongan (pindah dari rumah orangtua ke rumah baru milik sendiri). Baru setelah melewati 40 hari, dalam tradisi Jawa pengantin “harus” telah berdiri sendiri sebagai rumah tangga baru dengan rumah milik sendiri pula. Satu hal yang mungkin sekarang ini sulit terlaksana, meski tak sedikit yang sudah memiliki rumah sendiri meski belum menikah.
Dengan sekian banyak upacara dan ritual seperti itu, maka malam-malam pengantin Syekh Amongraga dan Tambangraras, tentulah muskil berada dalam satu tempat. Apalagi, dalam setiap kesempatan, Syekh Amongraga begitu “cerewet” membeberkan semua ajaran tentang agama. Bukan hanya di masjid atau pendhapa, melainkan di atas ranjang ketika hanya bersama Tambangraras. Bukan ajaran yang ringan, karena merangkum syari’at, tarikat, makrifat, dan hakikat sekaligus. Meski tentu juga jadi pertayaan, apakah tidak ada persintuhan sama sekali, jika melihat begitu mesranya Syekh Amongraga memperlakukan isterinya, dengan selalu menyentuh tangan halus Tambangraras sepenuh perasaan,...
Ki Ngabei Sastradipura (yang kemudian bergelar Kyai Haji Muhammad Ilhar), bisa jadi melakukan copy-paste terhadap semua teks-teks Islam yang (baru saja) dipelajarinya. Dan sebagai “pembelajar”, cara itu mungkin paling selamat, sekali pun terasa agak dipaksakan. Hal yang kemudian dikritik oleh Dr. Mohammad Rasjidi, dalam disertasi filsafat “Considerations Critique du Livre de Centhini” di Universitas Sorbone Perancis (1956). Dikatakan oleh Menteri Agama RI jaman Sukarno ini: “...
para penulis Serat Chentini tidak menguasai bahasa Arab, oleh karena itu beberapa kalimat dan ajaran dalam bahasa Arab yang ditemukan pada karya itu tidak masuk akal,....”
Mengenai kalimat dalam bahasa Arab, yang terdapat dalam Serat Centhini, bisa jadi yang dimaksud tidak menguasai dan tidak masuk akal, lebih karena problem “teknis” dari penulisan huruf asli Jawa untuk “menulis” bahasa Arab. Karena jumlah huruf Jawa dengan jumlah huruf Arab, di luar problem karakter dan filosofisnya, tentu merupakan persoalan tersendiri untuk “menaklukkan” bahasa itu. Maafkan, sekiranya bahasa Arab ditulis dalam huruf Kanji Jepang, juga bisa dipastikan persoalannya akan sama tidak masuk akalnya. Ditambah lagi, Serat Centhini terikat bentuk tembang dengan aturan-aturan bakunya atas guru wilangan serta guru lagu, yang “mengakibatkan” bahasa Arab ditulis secara tidak lazim.
Untuk masalah tafsirnya, berkait dengan ajaran, tentu beliau lebih mengetahuinya. Jika Serat Centhini ditulis ulang (mungkin dalam bahasa Indonesia) dan diprosakan, agar lebih bebas, pastilah kritik semacam Mohammad Rasjidi itu bisa diperhatikan, dan menjadikan Serat Centhini sebuah karya sastra ensiklopedis yang paripurna. Apalagi, dimasukkan dalam tim penulis para ahli agama. Mungkin, kanjeng sinuwun Pakubuwana V juga akan mengikhlaskannya. Tetapi mengutip pendapat Nyi Malarsih, ibu mertua Syekh Amongraga, semoga almarhum Mohammad Rasjidi bisa maklum, “... saking pikir kirang ngelmi, mung ilok-ilok kemawon.” (Itu semua karena tipisnya pengetahuan, hanya untuk hiasan saja, Serat Centhini, jilid VI, 359:70).
Ini adalah upaya untuk kita semua, karena kita diperbolehkan melakukan berbagai tafsiran di atas apa pun yang terpetakan di atas dunia. Apalagi, saya bukanlah orang yang percaya pada otoritas-otoritas tunggal, atau kemutlakan-kemutlakan, yang hanya menjebak kita untuk menilai ini lebih baik, itu lebih buruk. Dalam dunia kreatif, saya percaya aneka rupa tafsir itu mampu mengembangkan peradaban manusia.


Panasan, Yogyakarta, Nopember 2008
Slipi, Jakarta, April, 2009

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...