Minggu, September 06, 2015

Agama Menjadi Kian Tak Penting

Suatu ketika, Salman Al-Farisi, sahabat Kanjeng Nabi Muhammad shallaullahu allaihi wassallam, sangatlah gelisah. Sebelum mengenal Nabi dan menjadi muslim, Salman penganut Nasrani, dan pernah tinggal bersama para biarawan di gereja. Salman mengenal para biarawan sebagai orang-orang yang baik dan saleh. Hal itu membuatnya sedih. Ia mengira para biarawan itu akan masuk neraka sebab mereka bukan muslim.
Kesedihan dan kegelisahan yang sama dialami Ahmad Wahib marhum, seperti dituliskannya dalam “Pergolakan Pemikiran Islam”, ketika ia tinggal di asrama Realino Yogyakarta. Ia mengenal pastor-pastor yang lembut dan baik hati. Adakah mereka akan masuk neraka, hanya karena bukan muslim?
Jika merunut Al-Baqarah ayat 62, hal itu sudah terjawab. “Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal saleh, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.”
Surga tampak begitu luas. Tak bertepi. Karena yang sempit hanyalah ketakmampuan akal dan nurani kita merenungkannya. Bukankah Allah bagi semua agama adalah Dia Sang Maha Adil dan Maha Pengasih? Sekiranya kita selalu mengisi hidup dengan perbuatan baik dan cinta kasih pada sesama. Ukuran sesama inilah, yang pada kenyataannya menjadikan surga begitu sempit, dan Allah seolah maha pilih kasih. Mban cindhe mban siladan.
Sesungguhnya tidak asyik membicarakan soal agama. Itu soal keyakinan pribadi. Tapi ukuran kita soal output manusia yang satu dengan lainnya beda, itulah penyebab hidup kadang menyebalkan. Apalagi dengan ngotot-ngototan.
Pernahkah kita bayangkan kehidupan pada abad-abad mendatang? Bagaimana dengan penemuan-penemuan baru manusia, bahwa ada kehidupan lain, bahwa ada planet lain di luar bumi?
Generasi hari ini mungkin masih belum akan menyaksikan migrasi manusia dalam jumlah besar ke luar atmosfer bumi. Namun jika laju peradaban tak terhambat, atau berjalan mundur, dalam beberapa generasi ke depan mungkin akan muncul koloni-koloni baru di orbit luar bumi, seperti bulan, mars, atau tempat-tempat lainnya lagi.
Majelis Fatwa Nasional Malaysia pada 2007 menerbitkan panduan shalat dan puasa untuk dua astronot muslim yang hendak berkunjung ke stasiun ruang angkasa internasional di orbit bumi. Panduan itu menjawab masalah-masalah teknis seperti kesulitan soal kiblat, gerakan shalat dalam gravitasi nol, juga waktu puasa dan berbuka di mana batas siang-malam tak lagi jelas. Peristiwa ini menjadi pembuka wacana mengenai masa depan kehidupan beragama, khususnya Islam, di luar angkasa. Tidak mudah bukan menjadi astronot syariah?
Semua agama yang lahir di bumi, memiliki kaitan yang erat dengan fenomena-fenomena planet bumi. Dengan alam dan cuacanya, fenomena sosial budayanya, ruang dan waktunya. Secara khusus, setiap agama terbentuk sebagai respons atas kondisi alam dan budaya yang khas di masing-masing waktu dan tempat.
Al-Qur’an menyebut vegetasi seperti kurma dan anggur serta hewan seperti unta dan domba. Tripitaka menyebut vegetasi asal Buddha Gautama seperti teratai, mangga, beringin, serta hewan angsa dan harimau. Hal itu menyiratkan, semakin jauh sebuah agama keluar dari konteks waktu dan tempat lahirnya, semakin sulit untuk mengatakan masih relevan pada tataran permukaan atau kulitnya.
Jika kita memandang agama sebagai bungkus atau kulit, sebatas ritual permukaan, maka dapat dipastikan agama tidak lagi penting di masa depan. Jumlah a-theis kini bertambah, pun juga di beberapa Negara Timur Tengah seperti Arab Saudi. Tidak mungkinkah muncul agama baru, yang sanggup berbicara lebih canggih tentang rekayasa genetika, pembelokan ruang waktu, lubang hitam, rumus-rumus fisika, atau misteri jagat raya?
Maka mereka yang tak memahami hukum ijtihad, kecenderungan terbesarnya adalah konflik atau perang. Di situ agama bisa bertentangan dengan nilai ajarannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar