Minggu, September 30, 2012

"A Separation", Sebuah Pelajaran Film dari Iran

Sehabis menonton "A Separation" (karya sutradara Iran, Asahar Farhadi) di XXI Pejaten, hampir jam tiga pagi kami menghabiskan waktu mengobrol di angkringan seberang Circle K 
Pejaten, Jakarta Selatan. Film Iran peraih film berbahasa asing terbaik di Governors Ball Academy Awards ke 84 (2012) di Hollywood ini, benar-benar menarik, meski waktu itu di Cinema 3, film itu hanya ditonton delapan orang (lebih sedikit dari penonton Srimulat di THR Surabaya atau dulu Wayang Wong di Kalileo, Senen, Jakarta, yang lumayan bisa menarik menonton sampai 10-15 orang). Ada dua pasang penonton, dan kami berempat (Adies, Odoth, Oke, dan saya, penting nggak sih keterangan ini?).
Yang paling anjrit, kesan kami sama, seolah sedang menonton sebuah FTV (sinetron kebanggaan orang film dan TV di Indonesia) di layar segede gambreng. Mungkin dibanding FTV pun, dari sisi look, gambar, framing, editing, artistik, masih lebih bagusan kita dari film Iran (bahkan ada yang meyakini film "Sang Penari" yang dikirim ke Oscar tahun ini, masih lebih bagus dari film ini). Tapi kenapa "A Separation" (Perpisahan) ini menang di Oscar?
Film drama lokal yang ditulis dan disutradarai oleh Asghar Farhadi tersebut, bertutur tentang pasangan Iran yang sedang menjalani proses cerai, namun menjadi spesial karena sentuhan tradisi, keadilan, serta hubungan pria dan perempuan di Iran yang lebih modern. Dan memang, "A Separation" telah menyabet berbagai penghargaan di Eropa dan Amerika Serikat, justeru karena perspektif ini. Film yang dinominasikan sebagai 'the best original screenplay' itu merupakan film asal Iran kedua yang dinominasikan di Oscar, dan yang pertama kali memenanginya. "Ketika pembicaraan tentang perang, intimidasi serta agresi membuat politikus saling serang, namun melalui film ini, Iran berbicara melalui kekayaan budayanya yang tinggi dan berumur tua, yang selama ini tertutup oleh pekatnya debu politik," kata Farhadi.
Dari sana, saya segera meyakini, film boleh sederhana, namun ada konsep luar biasa, ada visi, ada misi, ada premis dan tesis di sana. Saya kira, penghargaan itu diarahkan ke sana, sesuatu yang tidak saya dapatkan untuk alasan apa film-film Indonesia dibuat. Dengan segenap permohonan maaf.


FILM IRAN DAN PEMBATASAN | Film Iran ini banyak menuai kritik pujian dari berbagai pihak, membuatnya sejajar dengan daftar 10 film terbaik 2011. Film yang digarap dengan dana sebesar 800.000 dolar A.S. (anjrit, betapa dahsyatnya, Indonesia bisa bikin film dengan dana belasan milyar, tetapi tetap saja buruk), ini telah mengumpulkan lebih dari 13 juta dolar A.S. untuk penjualan film ini di seluruh dunia, termasuk pemasukan sebesar 2,6 juta dolar A.S. di Amerika Serikat.
Sebagian penonton menginterpretasikan "A Separation" sebagai komentar atas perbedaan status sosial, atau sebagai kritik atas sistem keadilan di Iran, atau bahkan perpecahan antara modernitas dengan tradisi. Fahradi membuat film di bawah peraturan sensor Iran, yang menyebabkan kreatifitas pembuat film Iran menjadi lebih sempit, dengan alasan atas nama moralitas Islam dan moral nasional. Namun dia mengatakan bahwa dirinya tidak terkonfrontasi dengan sensor tersebut.
Sutradara asal Iran Jafar Panahi yang memenangi penghargaan lain, telah dijebloskan ke penjara pada 2010 dan dilarang untuk membuat film. Farhadi telah berbicara atas nama Panahi, menempatkan dirinya dalam aliran garis keras dalam pemerintahan Iran. Meski Farhadi juga mengkritik masyarakat Iran, yang mendukung sensor dalam promosi film ke luar negeri. Dia menilai bahwa mereka juga patut disalahkan seperti pemerintah Iran yang menetapkan sensor. Iran dalam Festival Film Oscar tahun depan, memboikot untuk mengirimkan filmnya, sebagai protes terhadap munculnya film sampah yang menista Islam.
Dari informasi itu, makin nyata bahwa seorang seniman, di dalamnya adalah juga seorang cendekiawan, pemikir, memahami permasalahan kehidupan, bukan hanya manusia kreatif yang terobsesi oleh masalah teknis dan artistik.











CARA MENYAMPAIKAN SEBUAH PESAN | Film ini secara sederhana dibuka dengan adegan persidangan perceraian. Pengadilan belum memutuskan, karena masih ada masa bagi hakim untuk memberi waktu selama 40 hari, adakah perkawinan itu bisa terhindarkan dari perceraian.
Tapi justeru dalam saat menunggu itulah, cerita mengalir. Dalam jarak tembak kamera yang sempit, dengan pengadeganan yang hanya dipenuhi orang ngomong dan ngomong dan ngomong. Tentang peristiwa yang remeh-temeh, dan belum tentu mereka ketahui persis. Bahkan tentu, jauh lebih remeh daripada masalah besar perceraian antara Nader dan Simin.
Saya dan Adies diingatkan pada film "Ibunda" garapan Teguh Karya (film ini masih suka saya tonton berkali-kali). Saya ingat benar, bagaimana Niniek L. Karim menjadi Godmother yang cerewet sepanjang film. Sangat natural. Sangat real. Meski Teguh tentu kita tahu sebagai Mr. Perfect yang kadang terlalu bermanis-manis.
Pada "A Separation", bahkan musik pun tak ada, kecuali pada awal dan akhir doang. Selebihnya, ritme dibangun dari omongan demi omongan para tokohnya. Dipenuhi oleh karakter-karakter yang semuanya ingin membela diri, dan menuding orang lain bermasalah. Bukan hanya orang dewasa dan biasa, melainkan juga anak-anak, dan bahkan ulama (meski dengan cerdik diakali hanya sebagai pertautan referensi Razieh).
Saya, memakai istilah Adies, seperti sedang menonton tetangga sebelah. Dan dengan kamera handheld, kita diajak untuk terlibat, bukan sebagai penonton film, tetapi langsung masuk sebagai penyaksi dalam permasalahan (bukan peristiwa) itu. Bahkan kita disengaja dimasukkan dalam masalah.
Tesisnya selalu sama, hanya mereka yang memahami masalah yang akan punya kemampuan bertutur. Karena dari masalahlah muncul peristiwa. Hal yang selama ini sering terbalik dalam film Indonesia, hanya sibuk membangun peristiwa demi peristiwa (dengan subplot yang fullpower) dan sibuk mencari-cari masalah. Itu ciri-khas industri kreatif yang tergesa, karena sibuk berfikir dan menyiasati, namun bukan merenungi dan memahami masalah.
Itu sebabnya, film-film baik selalu mampu menaklukkan masalah teknis. Sementara, banyak sutradara dan penulis Indonesia, jika membuat film serius, begitu tegang dan begitu banyak yang ingin dimasalahkan. Cara berfikir ruwet itu melahirkan cara bertutur tak kalah ruwetnya (termasuk Garin, yang selalu diuntungkan oleh gambar bagus, karena film adalah karya visual katanya).
Situasi perfileman Iran, berbeda dengan Indonesia tentu. Di Iran, tentu tak selonggar dan sebebasmerdeka Indonesia, karena di sini membuat film buruk pun masih dibela-belain, bahkan oleh pers dan beberapa pesohor kambrat masing-masing. Tapi situasi seketat apapun, tak pernah menaklukkan kehendak bebas dari pikiran dan kreativitas. Hanya manusia bodoh saja, yang suka menyalahkan batasan-batasan yang ada, sembari menyalahkan situasi dan pihak lain tentu.
Dunia sinema Iran mendapat pengakuan internaisonal setelah lebih dari 20 tahun melewati sensor ketat dan represif dari pemuka pembuat film di sana. Ini merupakan film Iran pertama yang meraih penghargaan di ajang bergengsi. Sebelumnya, 1998, sutradara Majid Majidi lewat karyanya Children of Heaven juga dinominasikan untuk kategori yang sama, namun dikalahkan oleh film Italia, Life Is Beautiful karya Roberto Benigni.
Film tanpa adegan seks dan kekerasan adalah ciri khas perfilman Iran. Film Iran adalah tentang bagaimana caranya menyampaikan sebuah pesan tanpa perlu menggambarkannya lewat adegan yang kurang semestinya. Ini seolah kritik bagi industri film yang sering hanya bertumpu pada eksploitasi, dan bukan eksplorasi. Film yang sekarang diminati kebanyakan orang adalah film yang sarat dengan aksi kekerasan, film romansa, melodrama, atau film yang penuh adegan hubungan intim di batas-batas kritis norma. Namun sekali lagi, eksploitasi bukanlah adab yang menumbuhkan.


MELIHAT DENGAN KACAMATA KUDA | Jika kita pernah menonton film Carnage, garapan Roman Polanski, sangat mudah untuk menemukan titik persamaan antara "A Separation" dengan film itu. Namun tidak seperti Carnage, A Separation tidak memiliki lokasi dan latar belakang cerita yang monoton. Dan tentu saja, tak seorang pun yang masih memiliki jalan pemikiran normal akan tertawa, ketika menyaksikan A Separation seperti halnya mereka akan tergelak ketika menyaksikan Carnage, atau "The War of the Rose" (1989, garapan Danny de Vito). 
Yang agak anjrit dari garapan Farhadi (juga menulis sendiri skenario dan sekaligus produser) ini, berbeda dengan Carnage, A Separation memberikan penonton sebuah perbandingan cara pandang, dari beberapa permasalahan hidup ketika sedang dihadapi oleh sekelompok orang yang berasal dari kelas dan status sosial yang berbeda. Dan hal itu dihadirkan dalam rangkaian pertukaran dialog antara dua pasangan yang saling bersitegang. Jika Polanski berangkat dari gaya bertutur komedi satire, untuk mengejek kenyataan itu, maka A Separation dihadirkan sebagai sebuah drama dengan tesis sederhana, namun memiliki jalan cerita begitu kompleks dan cenderung tragis.
Pada akhir film, bukan hanya kita penonton yang capek telah dilibatkan dalam permasalahan mereka, namun mereka sendiri (para tokoh dalam film itu) juga capek. Jangankan masalah dua orang, suami-isteri, yang hendak bercerai pun belum bisa diselesaikan oleh pengadilan manusia, apalagi masalah banyak orang yang kadang tak jelas. Bagaimana itu keadilan, kejujuran, ketulusan, kita tempatkan? Hingga kemudian semuanya hanya termangu, terdiam, mencoba mengosongkan pikiran, tapi tak bisa.
Dan kita sering melakukan hal itu. Masalah-masalah remeh-temeh, tidak substansial, tetapi kita angkat dalam perspektif dan persepsi pribadi dengan kemutlakan-kemutlakan yang sangat Soehartoism, memandang dengan kacamata kuda (semoga Tuan Kuda tidak marah). Sampai kini. Juga dalam masalah berbangsa.
Dan kami berempat mengobrolkan itu semua, dengan mengabiskan 24 tusuk sate kikil, ceker, endog gemak, tempe bacem, tahu, dengan wedang kopi jahe susu, kopi jahe, dan teh jahe. Semuanya menghabiskan dana Rp 55.000 tambah Rp 80.000 untuk karcis nonton (itu semua sumbangan Odoth, yang justeru tersinggung dengan film itu, entah apa alasannya. Itu sekiranya info terakhir ini penting dan perlu kita perdebatkan). Yang jelas, sepanjang perjalanan pulang menjelang subuh, melintasi depan makam para pahlawan bangsa, Oke kentut lima kali, dan saya menggonceng dia. Bangsat betul, itu pun sekiranya penting. | Sunardian Wirodono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar