Jumat, Mei 25, 2012

Bersyukur dengan Sombong

Ada seseorang yang mengeluh, bagaimana mungkin dengan satu sumber penghasilan, kita membayari begitu banyak kebutuhan, dari mulai kebutuhan keseharian, kemudian biaya sekolah anak, pakaian, sepatu, biaya liburan, beli pulsa hp, ongkos naik ojek atau perahu, biaya beli sepincuk pecel kembang turi.
Adakah yang baru di sini? Tidak. Bahkan untuk mereka yang dengan satu sumber penghasilan berjumlah Rp 500.000 tiap bulannya, namun tiap bulan pula ia mesti keluar biaya untuk anak sekolahnya berjumlah Rp 100.000 misalnya, untuk makan tiap hari butuh Rp 300.000 misalnya, untuk transport mungkin saja butuh Rp 50.000, untuk biaya sosial dan ini-itu mungkin bisa mencapai jumlah Rp 100.000 padahal sisa uang tinggal Rp 50.000?
Bagaimana dengan biaya-biaya lain lagi, seperti pengobatan jika sakit, perbaikan rumah jika rusak, beli pakaian baru karena sudah lusuh, biaya beli pulsa kalau misal punya hape? Itu belum boro-boro biaya liburan jika anaknya tiba-tiba berlagak tak tahu diri menuntut liburan! Padahal, tiap bulan selalu tekor, dan tak mungkin bisa menabung.
Itupun, atas keajaiban Allah, semuanya bisa terjadi. Baik dengan cara yang baik dan benar, bohong dikit-dikit, atau sama sekali dengan cara yang culas, asal bisa terpenuhi. Nyuri kayu jati di area perhutani misalnya, dan akhirnya di penjara 10 tahun misalnya, karena ia hanya rakyat kecil (sementara yang korupsi dengan nilai milyaran divonis cuma dua-empat tahun)!
Sekiranya kau hanya punya satu sumber penghasilan, namun jika dari satu sumbermu itu menghasilkan Rp 40 juta misalnya. Kau bisa seminggu sekali ke starbuck yang sebulan hanya menghabiskan Rp 500,000 misalnya, biaya anak-anakmu sebulan Rp 5 juta misalnya, biaya ini-itu, makan, kesehatan, pakaian sebulan habis Rp 10 juta misalnya. Kira-kira kau masih punya sisa Rp 20 juta per-bulan, untuk kau tabung atau investasi. Dan kau masih bisa liburan keluarga, yang belum tentu sebulan sekali, berapa duit kau habiskan untuk itu? Untuk makan enak di resto lokal Rp 2 juta pun sudah sangat nikmatnya. Biaya ini itu di perjalanan berapa? Dari sisa duitmu pun masih pula tersisa, meski pun sudah banyak orang yang kau beri. Kau beri? Bukankah di sana ada imbal-balik? Mereka juga memberimu bukan? Bahkan memberi pada fakir-miskin pun Tuhan menjanjikan imbalannya (dan bahkan itu pula yang membuat kau melakukan pemberian itu, berharap imbalan)!
Lihatlah dunia dengan lebih arif, dan santun.
Kecenderungan mengeluh, sering membuat kita tak bisa membedakan angka dengan nilai. Di sini, kebahagiaan dan kesyukuran bisa dinilai. Karena pengetahuan atas nilai, bisa membuat yang kekurangan tak kurang kebahagiaannya (meski banyak pula yang menderita), dan yang kaya-raya masih merasa kurang saja (meski ada juga yang bisa bersyukur). Di situlah, dunia juga sering membuat kita lupa diri untuk bersyukur dengan tulus. Karena di jaman kini, ada orang bersyukur dengan sombong, atau bersyukur hanya demi status, di fesbuk misalnya. Tuhan besertamu.

1 komentar:

  1. jadi, bersyukur yg bagus itu gmn?
    ga perlu update status di facebook ya,

    bilang alhamdulillah, thank to Allah di dalam hati jauh lebih baik dari update status di fb / twitter yah, hehe :)

    saya suka baris ini :
    "Kecenderungan mengeluh, sering membuat kita tak bisa membedakan angka dengan nilai. Di sini, kebahagiaan dan kesyukuran bisa dinilai. Karena pengetahuan atas nilai, bisa membuat yang kekurangan tak kurang kebahagiaannya (meski banyak pula yang menderita), dan yang kaya-raya masih merasa kurang saja (meski ada juga yang bisa bersyukur)."

    BalasHapus