Kamis, April 17, 2014

CERSIL MENCARI KITAB PARARATON JILID 31 - 45


31 | “Pulau Papua mempunyai banyak keragaman, flora, fauna, jasad renik, serta budaya,” berkata Dor yang duduk berhadapan dengan Mbambang, di sebuah rumah makan pinggir danau Jayapura. Sebuah rumah makan apung yang eksotis, dengan aneka ikan yang menyodok selera.
Lampu kota Jayapura berasa bintang abyor di langit hitam.
Suara Rumombor, perempuan ndut penyanyi di warung itu, menambah suasana jadi sangat Papua. Suaranya jernih dan lantang, menyanyikan lagu-lagu daerah.
“Papua disebut pula pulau yang ‘Punya Apa-apa’. Dan memang semuanya ada di sini. Namun dilihat dari SDM-nya, sangat disayangkan,” Dor berkata lagi. “SDM di sini sangat mengkhawatirkan. Sejak tahun 1960-an, sebelum Papua dianeksasi ke NKRI, jumlah penduduk saat itu sekitar 5.800 jiwa. Lebih besar dari penduduk Papua Nugini. Tapi sekarang sebaliknya, dan hampir punah,…”
“Oh, ya?” Mbambang hampir tersedak. Ia tenggak bir hitam dingin dalam gelas.
“Kabupaten Jayapura beriklim tropis dengan temperatur rata-rata 25-35 °C. Di daerah pantai temperaturnya 26 °C, tapi di daerah pedalaman temperaturnya bervariasi, sesuai ketinggian dari permukaan laut. Perbedaan musim hujan dan musim kering hampir tidak ada karena pengaruh angin. Pada bulan Mei-November angin bertiup dari tenggara, kurang mengandung uap air. Sedangkan bulan Desember-April bertiup angin musim barat laut, banyak mendatangkan hujan. Curah hujan berkisar antara 1.500-6.000 mm/tahun. Dengan jumlah hari hujan dalam setahun rata-rata 159-229 hari. Curah hujan tertinggi terjadi di pesisir pantai utara, sedangkan di daerah pedalaman lebih rendah. Di sekitar wilayah Kemtuk, Gresi, Nimboran,…” Dor terus saja bicara.
“Kulihat banyak pendatang di Papua ini,” Mbambang menukas.
“Ya, kebanyakan dari Makassar. Dan orang-orang pribumi tak bisa melawan mereka. Kalah dalam ilmu dan pengetahuan. Bukan karena soal kurang tangguh. Mereka belum bisa mengolah, padahal banyak kemungkinan bisa dilakukan. Tapi siapakah yang mau mengajari mereka?”
“Tadi siang, kulihat ibu-ibu tua berjualan pinang di pinggir jalan,…”
“Dan itu menyedihkan,” Dor menukas, “karena orang Papua sendiri tak banyak mengkonsumsi lagi. Sementara di Pasar Mama-Papa, hanya menarik di kunjungi orang-orangtua Papua. Anak mudanya sama sekali tak mau masuk ke pasar yang katanya untuk melindungi budaya Papua. Hasilnya lebih menyedihkan.”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Besok Abang akan melihatnya.”
Tak sabar Mbambang menunggu besok. Baginya Dor makin misterius. Apakah itu penyebabnya, hingga Kanjeng Ratu Kalinyamat memerintahkan untuk mengikuti?
Namun Mbambang merasa bersyukur bisa meninggalkan Jawa untuk saat ini. Setidaknya ia bisa melihat Indonesia dari sisi lain. Di Jawa terasa sangat kleniknya. Apalagi saat-saat Pemilu seperti ini. Ahok yang biasanya rasional, pun mulai klenik, dengan menyebut-nyebut Prabowo keturunan Pangeran Diponegoro.
Keturunan, seperti sesuatu yang penting di Indonesia. Asal bukan keturunan Cina, karena itu bisa berarti semua keburukan ada di sana, meski Kanjeng Nabi Muhammad menyuruh ummatnya untuk belajar sampai negeri Cina. Beda nabi dan ummat. Itu soal kualitas manusia.
Lepas dari cengkeraman Soeharto, ketika bermunculan nama-nama calon presiden seperti Gus Dur, Amien Rais, Megawati, semuanya sama saja. Gus Dur pernah disebut-sebut sebagai keturunan Sunan Giri, Megawati masih turun Raden Patah, bahkan dalam Pemilu 2004, Amien Rais yang maju sebagai capres saat itu, disebut-sebut sebagai keturunan Prabu Brawijaya V, raja paling sohor dari Majapahit.
Belum lagi otak-atik soal ‘hanacaraka’ tentang Satrio Kinunjara, Satrio Piningit, Satrio Kewirangan, Satrio Kewudan, Satrio Konangan, Satrio Beruang, dan seterusnya dan sebagainya.
Memangnya Indonesia cuma Jawa? Katanya negara kesatuan, dengan lagu-lagu nasionalnya yang menyebut dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote?
Di Papua, setidaknya warna-warni pemilu tak segencar di Jawa. Dan itu pasti sebagaimana daerah-daerah luar Jawa yang penduduknya tak sebanding sebagai kantong suara penting untuk mendapatkan tiket kekuasaan. Dan itu berdampak pada segalanya, termasuk perhatian pemerintah pusat untuk daerah-daerah kering tersebut. Jika pun penting, daerah-daerah itu hanya sebagai kantong-kantong korupsi, dengan mengatasnamakan anggaran pembangunan. Atau hanya sebagai taktik untuk dapat tiket ke Senayan, dengan menjadi caleg di daerah-daerah terpencil, untuk mendapatkan angka pembagi suara yang kecil. Maka caleg-caleg pertahana seperti Fahri Hamzah, Yani, Suding, meski ber-KTP Jakarta, memilih dapil daerah terpencil, agar dengan sedikit suara mereka bisa melenggang kembali ke Senayan. Lagi pula, masyarakat daerah terpencil yang tidak mengakses internet, tak bakalan tahu sepak-terjang mereka. Yang penting berbekal janji dan sedikit uang.
Bahkan konsep pembangunan yang sentralistis, dengan cara pandang Jakarta, menunjukkan ketidakcermatan dalam melihat konteks masalah. Program KB yang sedang diterapkan oleh Negara di daerah Papua, tanpa melihat jumlah penduduk yang semakin berkurang, seolah justeru seperti program genocide untuk melenyapkan satu generasi. Belum lagi praktek kekerasan yang dilakukan oleh Negara, secara sistematik melalui TNI dan POLRI.
Pada sisi lain, pembiaraan yang dilakukan oleh TNI dan Polri kepada perusahaan-perusahaan asing yang ada di Papua, tanpa melihat keadaan ekonomi masyarakat lokal, seolah makin menyempurnakan pembangunan sebagai program penindasan Jakarta pada Papua.
Dor mengajak Mbambang berkeliling kota. Udara dingin terasa menggigit.
Kota seakan mati di malam hari. Kecuali tempat-tempat hiburan, seperti karaoke, bar, dan rumah-rumah bilyar. Dan Papua seolah hanya kepunyaan para lelaki. Jika pun ada perempuan di sana, pada malam hari, tentulah hanya dalam posisi sebagai obyek. Obyek seks lebih tepatnya.
“Sesungguhnya, ada perputaran uang di sini,…” Mbambang membuka pembicaraan.
“Ya, dan cukup kencang,” sahut Dor yang memegang kemudi. Mereka hanya berdua saja. “Tapi, uang itu bukan untuk masyarakat Papua. Orang-orang Papua seolah hanya ketempatan saja. Para pekerja dan professional di sini, kebanyakan kaum urban. Hampir semuanya laki-laki tentu. Mereka datang sendirian, sebagai lajang. Di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari isteri, ada duit di kantong. Atas alasan kesepian mereka kemudian meramaikan daerah ini dengan hiburan. Jika bukan urusan perut, urusan di bawah perut,…”
“Kelamin?”
“Apalagi jika bukan urusan kelamin?”
“Kelamin memang bedebah!” Mbambang memaki-maki.
Dor ketawa, “Memangnya Abang tak punya kelamin?”
“Tentu saja punya. Tapi, seks itu seperti kuda liar. Kalau kita tidak bisa menjinakkan, kita bakal jatuh terseret olehnya. Kalau kita bisa menjinakkan, ia bisa seperti kuda tunggang, berguna untuk mengantar kita.”
“Mengantar ke mana?”
“Ke cita-cita kemanusiaan itu.”
“Prabowo bisa menunggang kuda, makanya merasa pantas ngaku-aku sebagai keturunan Pangeran Diponegoro.”
“Para penunggang kuda yang baik belum tentu penunggang kemuliaan. Nyatanya, joki-joki yang berjaya dalam adu balap kuda itu, lebih banyak hanya punya pengetahuan teknis menguasai kuda. Tapi tidak mampu mereka transformasikan dalam kehidupan keseharian. Transformasi nilai. Itulah yang menyebabkan kecerdasan otak tidak paralel dengan kemuliaan sikap. Kaum elite yang konton berpendidikan tinggi, bisa saja mulutnya bau busuk dan isinya sampah. Lihat saja kampanye politik kita, lebih dipenuhi sumpah-serapah, caci-maki, fitnah, saling menyalahkan,…”
“Aha, dialognya terlalu serius. Terlalu tinggi dan kurang mesum,” Dor mulai menggoda.
Di tepi danau Sentani, bulan penuh naik di tengah langit. Tak pernah di pinggir, karena tidak tahu mana itu pinggir.
Mobil yang dikendarai Dor menepi, dan berhenti tepat di tepian danau Sentani, yang kinclong bagai pengilon memantulkan sinar rembulan.
“Dibanding dengan ketersediaan sumber daya alam yang dimilikinya, ibarat tuaian banyak tapi tak ada yang mengolahnya,” Dor menghembuskan asap rokok melalui hidungnya.
Mbambang duduk bersebelahan Dor, pada sebuah batang kayu yang banyak bergeletakkan di pinggir danau.

 32 | Dalam pada itu, demikian kalimat pembuka SH Mintarja dalam cersil seri Api di Bukit Menoreh, Susilo uring-uringan sendiri. Tak seorang pun bisa memberi informasi yang jelas dan pasti tentang Mbambang.
“Tapi, sepertinya ia memang sudah tak ada di Yogya, Boss,” kata perempuan sopir berusaha meyakinkan.
Susilo diam saja. Kalau sedang demikian, artinya ia sedang berfikir. Karena ia tak bisa berfikir jika tidak diam. Sedikit bergerak saja, pikirannya buyar. Mungkin karena otaknya sudah koplak.
“Boss, boleh bertanya?” perempuan sopir lagi-lagi membuyarkan pikiran Susilo.
“Tanya apa?”
“Soal Kitab Pararaton,…”
“Kamu tahu, di mana kitab itu?”
“Apakah itu sesuatu yang penting banget?”
“Kalau tidak ngapain mesti ke Blitar, Surabaya, Yogya,…”
“Iya, untuk apa?”
“Semua capres mencarinya!”
“Boss mau nyapres?”
Susilo diam saja. Artinya dia sedang berpikir.
“Terus, kenapa mesti mencari-cari Mbambang segala?” perempuan sopir itu lagi-lagi bertanya.
Dan lagi-lagi, Susilo diam membisu.
Perempuan sopir itu agaknya jengkel juga.
“Saya pergi dulu, Boss,...” perempuan sopir itu melangkah ke pintu.
“Mau ke mana kamu?”
“Dugem!”
Susilo hanya memandangi perempuan sopir hilang di balik pintu kamar hotel.
Tak beranjak dari duduknya, pikiran Susilo makin penuh. Ia sangat mengkhawatirkan kitab itu jatuh ke tangan Mbambang. Negeri ini bisa kacau kalau Kitab Pararaton jatuh ke tangan Golput. Indonesia harus diselamatkan dari pikiran-pikiran anarkis. Karena kalau Mbambang menguasai kitab itu, dan menjadi presiden Indonesia, bisa dibayangkan akan jadi negeri apa Indonesia ini.
Negeri ini harus tetap ditegakkan oleh nilai-nilai demokrasi Pancasila. Dan kaum Golput yang tidak mau berperanserta dalam pemilu, adalah pengkhianat bangsa dan negara. Huh!
“Tapi, 65 persen anggota Dewan Perwakilan Daerah berusia di atas 50 tahun, sementara anggota DPR justeru lebih tua. Rata-rata berusia 55 tahun. Sembilanpuluh delapan persen, kini mereka mencalegkan dirinya kembali. Padahal dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, jumlah anak muda atau yang berumur di bawah 40 tahun ada 157 juta orang. Negeri kita ini jauh lebih banyak dihuni anak-anak muda, di atas 60 persen. Tapi kenapa caleg-calegnya gaek semuanya?” begitu alasan Mbambang waktu berdebat soal pemilu di Warung Daun, Cikini.
“Kenapa anak-anak muda tidak mau ke partai politik, malah mau jadi Golput?” Susilo menyanggahnya.
“Ini politik gerontologi. Siapa bilang anak-anak muda tidak tertarik ke politik?” Mbambang balik bertanya. “Tapi partai politik dikuasai orang-orangtua. Peluang anak-anak muda itu sengaja ditutup. Mereka dikalahkan dengan isyu senioritas, kekuatan finansial, dan karena itu partai juga tidak menjalankan kaderisasi!”
“Berjuanglah dari dalam,...”
“Menjadi Golhit? Ogah! Banyak orang-orang muda yang masuk ke partai jadi rusak moralnya. Jadi koruptor, jadi penghuni ruang-ruang tahanan KPK.”
“Bagaimana kalian dari luar bisa memperbaiki situasi ini?”
“Nyatanya perbaikan lebih banyak dilakukan oleh orang-orang di luar partai. Banyak gubernur, bupati, walikota, yang terbaik di negeri ini, adalah orang-orang non-partai. Perubahan undang-undang, yang merupakan kewenangan Presiden dan Parlemen, jauh lebih besar karena peran orang-orang di luar lembaga negara. Parpol tidak mengembangkan kompetensi, kompetisi, dan aksesibilitas kalangan anak-anak muda. Kacrut!”
“Dengan senioritas, Jepang menjadi negeri yang maju.”
“Karena mereka dibimbing moralitas dan etika. Di sini, keteladanan tidak ada. Debat mulu, bergunjing mulu. Hanya bisa ngomong bagus di iklan TV, karena yang nulis teksnya anak-anak copy-writer. Orangtua di sini selalu menanyakan apa yang sudah dilakukan. Padahal, mereka sendiri telah melakukan apa? Bagaimana melakukannya, dan untuk apa serta siapa? Belum-belum sudah. Belum apa-apa, sudah curiga dulu. Anak muda selalu lebih menawarkan harapan, sementara orangtua hanya membanggakan masa lalu dan track record yang sudah ketinggalan jaman,...”
Dering handphone membuyarkan lamunan Susilo. Ia melihat nama Pakde Karwo di monitor handphonenya.
“Ini informasi penting,...” terdengar suara Pakde Karwo dari speaker handphone Susilo. “Kau harus ke Imogiri. Beberapa orang Ical agaknya masih ada di sana.”
“Ngapain Ical di sana?”
“Seorang Kyai di Jawa Timur tidak mengijinkan Ical mendapatkan keris Kyai Bajraradya.”
“Apa hubungannya?” Susilo terheran-heran.
“Itu keris milik Brawijaya V dari Majapahit. Ical mau membayar berapa milyar pun untuk mendapatkannya. Dan karena ditolak, maka dia ke Imogiri untuk bisa menyedot keris itu.”
“Iya, tapi apa hubungannya dengan Kitab Pararaton?”
“Lho, memangnya nggak ada?”
“Nggak ada!”
Percakapan terhenti beberapa saat.
Kalau tak ada hubungannya, ngapain juga dituliskan dalam cerita ini?
Susilo tampak kesal. Katanya informasi penting. Tapi jika tak ada hubungannya, di mana pentingnya? Di dengkul?
“Tapi,...” Pakde Karwo masih berusaha meyakinkan, “coblosan tinggal beberapa hari lagi. Kalau Kitab Pararaton itu dikuasai musuh, habis sudah kita. Habis semuanya!”
Susilo tampak puyeng, “Nanti Pakde Karwo hubungi lagi kalau ada perkembangan menarik.”
“Kalian harus pantau Ical di Imogiri,” Pakde Karwo menyahut pendek, dan kemudian mematikan handphonenya.
Susilo mondar-mandir di kamar. Itu tandanya dia sedang tak bisa berpikir. Ia kemudian menelpon ke room service.
“Ada tukang pijet nggak?”
“Bisa, Bapak. Sekarang?”
“Service komplit, luar dalam,...”
“Cowok apa cewek, Bapak?”
Susilo terdiam.
Sialan!
“Cewek, dua!”
Susilo kemudian meletakkan horn telpon dengan dongkol.
Tapi baru saja hendak rebahan, pintu di ketuk dari luar. Cepet banget, gumam Susilo keheranan.
Buru-buru ia buka pintu.
Di depan pintu, perempuan sopir berdiri lunglai. Wajahnya bersimbah darah.
Perempuan sopir itu ambruk di depan Susilo.
Segera ia seret perempuan sopir itu masuk ke dalam kamar.

33 | Susilo puyeng. Bagaimana jika perempuan sopir itu mampus? Siapa kemudian yang mengantarnya kesana-kemari? Tapi, siapa yang melakukan semua ini? Susilo teringat pertarungan di depan Gedung DPRD-DIY. Golput kelompok Mbambang? Bisa jadi.
Susilo tak tahan dengan rintihan perempuan sopir yang menyayat. Dicabutnya pestol dari pinggangnya. Diarahkan ke jantung perempuan sopir itu.
Jep!
Dan matilah perempuan sopir.
Susilo segera menghubungi seseorang untuk segera datang ke hotel tempatnya menginap.
“Aku butuh segera hari ini, segera kirim.”
“Siap, Boss.”
Susilo menarik bedcover dan kemudian dipakainya membungkus mayat perempuan sopir itu. Diseretnya ke pojok ruangan.
Gelisah menunggu, waktu jadi terasa begitu lambat berjalan. Padahal semua mesti bergerak cepat. Jika persoalan ini kecium polisi, masalahnya menjadi sedikit agak ribet. Susilo males untuk berurusan dengan itu semua.
Susilo menghubungi Pakde Karwo, “Hallo, kita kehilangan satu cacing. Pakde cari tahu, siapa di belakang ini semua. Tangkap tikusnya, hidup-hidup!”
Bel pintu kamar hotel berbunyi. Susilo membukakan pintu. Seorang lelaki berwajah Brad Pitt berdiri di depan pintu. Bisa jadi memang Brad Pitt. Atau anggap saja demikian.
Susilo menyuruhnya untuk cepat masuk.
“Bungkus yang rapi. Bawa ke luar,...” perintah Susilo pada Brad Pitt.
Mobil super-deluxe Susilo kini dikemudikan oleh Brad Pitt. Melaju ke arah selatan, ke daerah Parangtritis.
“Siapa saja yang bermain di sini?” Susilo bertanya pada Brad Pitt.
“Banyak, Boss,” Brad Pitt menyahut dengan mata tetap nyalang ke jalanan, “bukan Golput saja, tapi ada Golmer, Golbir, Golung,...”
“Golung?”
“Golongan Ungu, Boss. Ini golongan alay, anggotanya anak-anak yang masih remaja.”
“Ngapain mereka? Main politik juga?”
“Itu yang tidak jelas, Boss. Tapi, dari info yang kami dapat, mereka bermain untuk having fun saja. Morotin duitnya orang-orang gedean.”
“Caranya?”
“Mereka mensuplay brondong untuk ibu-ibu pejabat, yang ditinggal suaminya nyari cabe-cabean!”
Susilo geleng-geleng kepala.
Jangan-jangan benar adanya kata para kyai di pesantren-pesantren itu. Bahwa dunia ini berputar karena selangkangan. Baik karena selangkangan yang bener maupun selangkangan nggak bener. Kata Aristoteles, jika mengenai uang semua manusia agamanya sama. Mungkin karena Aristoteles lelaki yang tak begitu tertarik dengan perempuan, sehingga uang yang dilihatnya sebagai pangkal soal. Padahal, di belakang atau di balik uang masih tersembunyi masalah. Bukan soal kekuasaan, tetapi kenikmatan kelamin sebagai puncak dari kekuasaan itu. Bahwa ujung dari semua persoalan, berpangkal dan berpulang ke sana. Sex adalah alpha dan omega. Awal dan akhir. Akhir dan awal. Atas dan bawah. Bawah dan atas. Kadang-kadang 69 juga.
Kenapa nyaleg, kenapa nyapres, kenapa ini, kenapa itu. Karena inginkan kemenangan, kesuksesan, keberhasilan, kejayaan. Jika sudah tercapai? Dikembangkannya lagi. Yang lajang berani menikah, yang sudah menikah mencari kemungkinan baru, yang ditinggal nyari selintutan sendiri.
Mobil yang dikemudikan Brad Pitt terus melaju. Melewati pantai Parangtritis mobil terus saja menggeblas ke timur.
“Bukankah tadi Parangtritis?” Susilo terhenyak.
“Kita terus saja, Boss,” jawab Brad Pitt pendek.
Dan mobil terus saja melaju mengikuti jalan aspal yang menanjak berliku.
“Kita mau ke mana?”
“South Queen,...”
“Kanjeng Ratu Kidul?”
“Bukan. Itu nama hotel. Kalau dari pantai berada di atas Parang Endog, tak jauh dari Parangtritis. Di atas tebing yang menghadap ke laut lepas. Itu tempat pembuangan mayat korban pengganyangan PKI. Ribuan anggota PKI dibantai massa dan mayatnya dibuang ke laut begitu saja.”
“Kau bisa pastikan aman?”
“Pasti, Boss. Daerahnya berada di tebing, jauh dari penduduk. Masuk wilayah kabupaten Gunung Kidul paling pinggir. Tempat jin buang anak,...”
“Tapi kau bilang tadi ada hotel?”
“Ya, hotel yang cukup eksotis sesungguhnya. Pakubuwana X dulu sering kalau labuhan ke Laut Kidul pasti menginap di hotel itu. Ada jalan khusus dari hotel menuju ke pantai. Suzzanna juga pernah menginap di hotel itu,...”
“Suzzanna?”
“Bintang film horor itu, Boss.”
“Ok, kita sekalian nginap di situ saja,...”
“Hotel itu sudah tutup. Tidak laku.”
“Tapi masih ada bangunannya?”
“Masih utuh, Boss,...”
Mobil yang dikemudikan Brad Pitt menyusuri jalanan turun-naik. Hingga akhirnya memasuki sebuah halaman yang cukup luas. Papan nama South Queen Hotel and Resort tampak buram berdebu.
Terlihat sebuah bangunan bernuansa etnik dengan warna dominan putih. Cukup berselera.
Tapi tak ada seorang pun di sana.
Susilo pun kemudian turun dari mobil dan memperhatikan sekeliling.
Masuk ke area hotel, terlihat bangunan-bangunan yang terbuat dari bambu dengan atap jerami. Bungalow-bungalow yang menawan sesungguhnya. Berada dalam dataran tanah seperti dalam tanah persawahan di Bali dengan subaknya.
Sementara Susilo berkeliling melihat-lihat South Queen, Brad Pitt menyelesaikan tugasnya. Ia membawa keluar mayat perempuan sopir dari mobil. Menyelusup ke semak-semak, Brad Pitt kemudian melemparkan mayat itu ke laut.
Di sisi selatan hotel, dengan halamannya yang asri, tampak jelas Samodera Indonesia. Australia lamat-lamat terlihat seperti garis tipis di kejauhan.
Sebuah kolam renang kering tanpa air, dipenuhi dedaunan pohon matoa yang banyak ditanam di halaman.
Brad Pitt mendekat ke arah Susilo yang tengah memandangi laut lepas.
“Semuanya sudah beres, Boss,...” Brad Pitt memberi laporan.
“Siapa pemilik hotel ini?” bertanya Susilo demi melihat Brad Pitt di sampingnya.
“Mari, saya kenalkan, Boss,...”
“Dia ada di sini?”
Brad Pitt tidak menjawab.
Susilo mengiring langkah Brad Pitt menyusuri gang-gang kecil antar bungalow yang yang masing-masing punya teras menghadap ke Samodera Indonesia. Dengan bangunan berundak-undak, semua teras bungalow tak terhalang ke laut lepas.
Di sudut area hotel, tampak bangunan tersembunyi. Seorang perempuan berumur 50-an tahun sedang asyik dengan tanamannya. Tubuhnya ndut, tetapi parasnya ayu. Semuanya tampak besar. Perut. Pinggang. Pantat. Susu.
Dada Susilo menggeletar.
Brad Pitt mengenalkan Susilo pada perempuan itu.
“Susilo,...”
“Sussy,...”
“Ibu Sussy pemilik hotel ini, dia tinggal sendirian di sini,...” Brad Pitt mencoba menjelaskan.
“Sendirian? Di tempat seperti ini?” Susilo takjub.
Dan percakapan basa-basi pun tak penting diceritakan di sini. Akan sangat melelahkan bagi mereka yang menunggu kemesuman.
“Boss, saya tinggal sebentar ke kota. Ada yang harus saya bereskan,...” Brad Pitt memotong pembicaraan.
“Lha aku?” Susilo blingsatan.
“Boss aman di sini,...” Brad Pitt tanpa meminta persetujuan langsung pergi. Meninggalkan Susilo dan Sussy berdua saja di gigir Samodera Indonesia.
Debur ombak terdengar menggelegar.
Dada Susilo menggelepar.

34 | Senja merangkak perlahan. Matahari tenggelam di Samodera Indonesia begitu indahnya. Siratan cahayanya kuning keemasan. Gemerlap.
Susilo dan Sussy menikmati sunset di pagar hotel yang terletak di tebing Parangendog. Berdua saja. Duduk bersebelahan dalam kursi panjang putih gading.
“Kenapa tidak diteruskan saja? Tempat ini sungguh sangat eksotis,” suara Susilo seolah air laut yang mulai pasang. Mendayu, tenang, tapi bergelombang.
“Sejak suamiku meninggal, tak ada yang bisa meneruskannya. Mengelola hotel ternyata bukan bisnis yang gampang,” Sussy menyedot kereteknya dalam-dalam.
“Maafkan, bukan maksud saya,...” Susilo merasa bersalah dengan ucapannya.
“Tak apa. Sudah lewat. Hidup sesuatu yang harus dijalani,...”
Susilo terpana. Ia tatap wajah Sussy yang tampak matang.
Semburan asap rokok dari mulut Sussy memburai di udara. Sambil tetap menatap laut lepas, Sussy seolah menggeremang sendiri, “Seberat-beratnya penderitaan perempuan, masih berat penderitaan perempuan yang bersuamikan Farhat Abbas,...”
Susilo mau ketawa. Tapi sungguh tak baik dan tak sopan. Ia memilih diam mendengar Sussy bertutur tentang dirinya.
Sussy perempuan kelahiran Gunung Kidul, dari keluarga miskin. Pertemuannya dengan seorang lelaki Perancis membuat hidupnya berubah, juga nasib keluarganya. Mereka menikah sepuluh tahun lampau, meski tak dikarunia anak. Suaminya pindah kewarganegaraan Indonesia dan kemudian membangun hotel yang sangat indah dan eksotik itu.
Semula bisnisnya lancar dan baik-baik saja. South Queen menjadi venue yang mampu menyedot tamu-tamu, terutama dari luar negeri, untuk menikmati keindahan pantai Parangtritis.
Tapi entah kenapa, perlahan bisnis itu surut. Tingkat okupansi tak pernah mencapai 20 persen hingga akhirnya bisnis itu bangkrut. Tak mampu menggaji karyawan dan membiayai perawatan hotel dengan standar pelayanan internasional itu. Hingga akhirnya suami Sussy jatuh sakit, dan kemudian meninggal. Ada yang mengatakan Kanjeng Ratu Kidul tidak merestui bisnis itu. Tapi ada yang meyakini, justeru bisnis itu direstui Kanjeng Ratu Kidul. Hanya karena Kanjeng Ratu Kidul tak tahu managemen dan marketing hotel, bisnis itu rontok juga. Entah mana yang benar. Tidak penting.
Langit perlahan menjelaga. Bintang-bintang kecil bertaburan menurunkan dingin. Satu-satu.
Kawasan hotel itu terasa semakin buram. Lampu-lampu taman tak satu pun yang menyala. Hanya bias cahaya lampu pada rumah induk di kejauhan, seolah menambah kesenduan. Suram.
Perlahan tangan Susilo merambat, menusuri punggung Sussy.
Keduanya saling diam.
Di kejauhan terdengar suara ombak berdeburan.
Sussy merebahkan kepalanya di dada Susilo.
Malam terasa makin sunyi. Bebunyian serangga malam seolah simfoni yang menggelisahkan.
Jemari tangan Susilo merayap, bersentuhan dengan jemari tangan Sussy yang besar-besar tapi empuk.
Kini mereka bersitatap dalam gelap. Tapi kilatan cahaya mata keduanya bagai seberkas sinar, menembus dinding-dinding goa hati mereka.
Kini mereka beradu wajah. Dalam jarak tak berjarak lagi (namanya bukan berjarak, monyong!).
Bibir keduanya beradu dengan lembut. Mulut mungil Sussy menganga. Dengan cepat mulut Susilo bergerilya. Kedua bibir mereka pun saling bergumul. Saling tindih, berkelindan. Silat lidah tak terhindarkan. Berlangsung seru bagaikan pertempuran pendekar-pendekar silat kelas jawara.
Nafas keduanya memburu.
Tubuh mereka bergulingan di atas rerumputan.
Ombak Samodera Indonesia bergulug-gulung saling bekejaran. Suara deburnya begitu keras, membentur karang yang keras terjal, tegak lurus dengan langit. Bibir pantai yang basah, seolah menyerap air begitu hausnya.
Buih-buih air laut membuncah, pecah berderai sehembusan nafas. Begitu terus-menerus. Berulang-ulang. Tiada henti. Tiada lelah.
“Fuck me, fuck me, my Dear,...” Sussy merintih-rintih.
Cut!
Sementara itu, tak jauh dari Parangtritis, pertarungan tak kalah seru terjadi di selatan makam raja-raja Mataram di Imogiri. Brad Pitt melawan lima perempuan berpakaian ninja.
Pertarungan tak imbang, karena para perempuan ninja itu begitu tangguhnya.
“Hentikan!” Brad Pitt berteriak dengan nafas ngos-ngosan, “Apa yang kalian mau,....”
Para perempuan ninja itu agaknya berbaik hati memberi kesempatan Brad Pitt.
“Siapa kalian ini, dan apa salahku pada kalian?” Brad Pitt menatap satu-satu perempuan ninja itu.
“Kenapa kau sendiri mesti berontak begitu rupa, kita ingin bicara baik-baik,” kata salah seorang perempuan ninja. Wajahnya seperti Julia Perez, dengan tingkat kemesuman lima kali lipatnya. Tepatnya, 5,3 kali lipat. Matanya nyalang seolah hendak mengunyah-unyah tubuh Gaston dengan gemasnya.
“Bukankah kalian yang memulainya? Kalian menyerangku,” Brad Pitt tetap juga tidak mengerti.
“Kalau kau mengerti alasannya, buat apa kita semua berada dalam cerita silat ini? Tugas kita berkelahi, bersilat. Dan semua tak harus dilakukan dengan alasan. Kau pikir para politikus itu juga mempunyai alasan ketika bersilat lidah?”
“Apa hubungannya dengan politikus?”
“Tak ada! Dan apa perlu semua hal berhubungan?”
“Hiyaaaaaattttt,...!” seorang perempuan ninja tampaknya tak sabar. Pukulannya telak di dada Brad Pitt.
Brad Pitt jatuh terjengkang tak berdaya. Pingsan.
Perempuan ninja yang memukul Brad Pitt langsung meloncat dan menindih tubuh Brad Pitt yang lunglai.
Dengan cepat dan brutal perempuan ninja itu melucuti pakaian yang dikenakan Brad Pitt.
“Hei, apa-apaan kamu?” perempuan ninja yang lain berteriak.
“Gue gemes pengen memperkosanya,...” sahut perempuan ninja yang menindih tubuh Brad Pitt.
“Huh, ngaco kamu. Apa enaknya bermain dengan lelaki yang tanpa daya begitu, dogol kamu!”
“Terus gimana dong?” perempuan ninja yang menindih Brad Pitt bertanya dengan lugu.
“Kamu sih ngawur saja. Cari air. Siram tubuhnya!”
“Di mana ada air di perbukitan gersang begini,...”
“Kita pipisin aja,...” perempuan ninja yang lain lagi nyeletuk.
“Hus jorok!”
“Tapi kita harus segera serahkan cecurut ini ke tempat Boss.”
“Enak saja, cecurut. Tampangnya lumayan, Cing. Macho!”
“Sebelum kita serahkan, kita kerjain saja dulu di sini,” sahut perempuan ninja yang lainnya lagi.
Para perempuan ninja itu tertawa cekikikan. Kik, kik, kik.
“Tampangnya kayak Brad Pitt. Gila. Killer banget.”
“Pantes saja Jolie termehek-mehek.”
“Bagaimana kalau dia benar-benar Brad Pitt?”
“Atau setidaknya, kalau cersil ini difilmkan, Brad Pitt pas banget dapat casting ini.”
“Dan gue yang merkosa pertama kali. Gue nggak mau stunt-girl!”
Brad Pitt perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur. Ia tak tahu di mana ia berada. Ia hanya tahu kancing bajunya lepas. Begitu juga ritsleting celananya, hingga celdamnya kelihatan. Warnanya merah jambu.
Hanya suara riuh terdengar tak jauh darinya. Suara-suara perempuan.
“Semestinya kita para perempuan mengambil alih dunia ini,...”
“Maksudmu?”
“Dunia ini terlalu dipenuhi kebodohan laki-laki. Lihat dunia politik kita.”
“Apa hubungannya politik? Ngawur lagi!”
“Kok apa-apa ditanya hubungannya. Apa-apa hubungannya. Memangnya cerita silat tak boleh ngomongin soal politik? Aturan dari mana? Dari Kho Ping Hoo, Gan KL, SH Mintardja, Bastian Tito, tak ada yang mengatakan itu semua.”
“Dari mana kamu tahu nama-nama itu?”
“Dari kakekku, bapakku, mereka semua penggemar berat cersil. Dan soal politik, bukan sesuatu yang tabu dalam cerita silat. Intrik itu karena politik adalah keniscayaan!”
“Tapi ‘kan dengan cara yang sublim, smood, tidak verbal seperti ini. Kalau dengan cara begini nilai sastranya rendah!”
“Ah, taik,...” perempuan ninja yang hendak memperkosa Brad Pitt tampak temperamental. “Sebelum diserahkan pada Boss, harus kunikmati dulu. Peduli setan! Setan aja tidak peduli! Huh!”
Perempuan ninja itu melangkah gagah mendekati Brad Pitt.
Sementara Brad Pitt yang tersadar, berpura-pura pingsan. Ia mesti waspada apa yang akan terjadi pada dirinya. Sungguh memalukan mampus di tangan para perempuan. Brad Pitt menahan nafas, mengerahkan konsentrasinya.

35 | Perempuan ninja yang hendak memperkosa Brad Pitt makin dekat saja jaraknya. Dengan gaya yang gagah, perempuan ninja itu kemudian berdiri mengangkang di atas Brad Pitt terlentang.
Dengan gerakan terukur, Brad Pitt melayangkan pukulan tepat ke titik pusat selangkangan perempuan ninja di atasnya. Sebuah ilmu totok darah yang dipelajarinya di Guang Zhou, waktu bersama Mario Teguh diajak jalan-jalan, dari hasil sharing iklan acara MTGW.
Perempuan ninja itu tiba-tiba berdiri diam kaku. Tak ada suara. Tak ada gerak. Mirip patung-patung realis di taman kota karya Bambang Adi Pramono atau Edi Priyanto yang gemar dengan patung anjing itu.
Tapi karena adegan itu terjadi dalam kegelapan, tak begitu mengundang kecurigaan bagi para perempuan ninja lainnya.
“Kok lama banget sih,” berkata perempuan ninja lainnya.
“Ninja Tiga ‘kan kalau orgasme emang lama,…” sahut perempuan ninja lainnya lagi.
“Apalagi yang diperkosa Brad Pitt,…”
“Xixixixixie,…”
Nama-nama perempuan ninja itu ternyata hanya memakai sebutan dirinya dengan angka-angka. Ada Ninja Satu, Ninja Dua, Tiga, dan seterusnya. Tapi meski ada lima perempuan ninja di situ, Ninja Lima tidak ada, justeru yang ada Ninja Tujuh. Karena Ninja Lima dan Ninja Enam sedang bertugas di tempat lain. Demikian, sekian pengumuman.
Namun tunggu punya tunggu, para perempuan ninja itu akhirnya tak sabar.
“Kurang ajar Ninja Tiga ini, kasih tahu, kita mesti buruan nih,…” berkata Ninja Satu yang agaknya paling senior.
“Dia sih yang lama foreplaynya, mainnya mah cepet,…” sahut Ninja Tujuh sambil ngikik. Ninja Tujuh terkenal sebagai perempuan ninja paling mesum dalam serial ini. Sehari tidak ngomong mesum, kulit tubuhnya bisa berontok bentol-bentol. Mirip Ridwan Saidi, jika tidak ngomong jorok sehari saja, encoknya bisa kumat. Apalagi kalau dalam seminggu tak ada undangan stasiun TV untuk menjadi narasumber. Hancur Minah rasanya.
Untung saja Sutan Batoeghana kini semakin tak kelihatan batang hidungnya. Bukan karena pesek, tapi karena terjerat oleh bibirnya sendiri, sehingga rasa nggak nyaman untuk memainkan barangnya lagi. Makan tuh barang. Meski pun beberapa produser TV merasa kehilangan asset dengan surutnya masa-masa keemasan Sutan Batoeghana.
Tetapi sebagaimana ghalibnya media yang kini lebih sering menjual sensasi, selalu saja ditemukan bibit-bibit baru, karena begitu banyak manusia penuh talenta di Republik Indonesia ini. Seolah mati satu tumbuh seribu. Jika kelak Ridwan Saidi pudar, siapa tahu penjual nasi uduk di Gang Sentiong bisa menggantikannya. Tinggal memoles dengan gimmick dan idiom-idiom yang tak kalah ngocolnya.
Perempuan ninja bernama Ninja Tujuh pun mendekat ke arah Brad Pitt berada. Dalam remang-remang ia melihat Ninja Tiga berdiri ngangkang. Ninja Tujuh bergumam dalam hati, ‘Sialan. Permainan sex apalagi ini, sambil berdiri,…”
Tapi tiba-tiba, Ninja Tujuh pun kini berdiri kaku, tak bergerak sama sekali.
Brad Pitt menotok tengkuknya dari belakang.
Brad Pitt kemudian meloncat ke arah tiga perempuan ninja yang tak jauh dari tempat itu.
“Heyaaaa,…” Brad Pitt berteriak meniru pendekar-pendekar silat. Sayang kurang menjiwai, jadi wagu.
“Kurang ajar!” Ninja Satu menyadari keadaan. Ia segera pasang kuda-kuda. “Lelaki di mana-m,ana memang curang!”
“Kini satu lawan tiga, ini lumayan adil,” Brad Pitt siap menghadapi serangan tiga perempuan ninja.
Pertarungan kembali berlangsung. Saling serang saling menghindar.
Ninja Empat meloncat dengan tendangan mengarah ke leher Brad Pitt. Dengan sigap Brad Pitt memiring kepalanya. Tangan kirinya sigap menangkap kaki Ninja Empat. Dia kibaskan Ninja Empat dengan sepenuh tenaga. Tubuhnya yang montok tepat mengenai Ninja Dua. Dan keduanya jatuh terjerembab.
Dengan satu kali pukulan tenaga dalam, yang tak begitu dalam, Brad Pitt membuat dua perempuan ninja itu terkulai tak sadarkan diri.
“Ok, kini satu lawan satu,…” berkata Brad Pitt yang kini tinggal berhadap-hadapan dengan Ninja Satu.
“Dasar bajingan,…” rutuk Ninja Satu.
“Emang,” Brad Pitt menukas pendek.
Tanpa babibu, Ninja Satu merangsek Brad Pitt. Pukulan Guntur Bumi diluncaskannya. Mengarah ke wajah Brad Pitt.
Dengan sigap Brad Pitt mengeluarkan jurus Puput Melati.
Pukulan Guntur Bumi pun menjadi lembek di hadapan ajian Puput Melati.
“Kurangajar! Cepat katakan, siapa kau ini sebenarnya, sebelum mampus tanpa nama,” Ninja Satu benar-benar keki dibuatnya.
“Lho, jadi kamu cuma pengen kenalan?”
“Mbahmu!”
“Kau bisa melakukan dengan baik-baik. Berapa nomor PIN-mu?”
“Anjrit, nggak sopan babar-blas, chiiaaaatttttttt,…!” Ninja Satu melakukan serangan beruntun.
Brad Pitt tidak melayaninya. Ia hanya mencoba menghindari.
Hingga Ninja Satu kecapekan dengan sendirinya. Wajahnya tampak kusut. Keringat menyulap paras wajahnya menjadi kian sensual.
“Kamu cantik dengan basah kuyup keringatmu. Sensual,…”
“Ewet!”
“Bener. Nggak kayak dalam film-film silat, yang tarung berjam-jam tapi tidak keringetan. Kalau di Indonesia, pernah lihat film Rhoma Irama nggak?”
“Nggak sudi! Kamu aja yang penggemar Profesor itu!”
“Lihat dalam film-film Bang Haji itu. Meski dalam adegan perkelahian yang seru, jatuh bangun begitu rupa, Bang Haji tak pernah berdarah. Pakaiannya, tetap saja klimis dan setrikaan terus, meski jatuh di tanah berlumpur,…”
“Hm, dasar penggemar Rhoma,” Ninja Satu tampak makin jengkel. “Jangan melantur, kita selesaikan masalah kita.”
“Masalah apa? Aku tidak punya masalah apa-apa. Apakah kamu hamil tanpa lelaki?”
“Setan! Jangan alihkan persoalan. Siapa namamu, sebelum kubunuh kamu!”
“Pengen tahu banget, atau mau tau aja?”
“Prek!”
“Kalau mau tau aja, aja banget-bangetlah!”
“Kepo!”
“Yang kepo ‘kan kamu. Kita bisa bicara baik-baik. Apalagi kamu cantik. Bodimu lumayan bagus. Dengan bra ukuran 36, itu cukup menantang.”
“Jorok! Rayuan aspal!”
“Swear. Kita bisa selesaikan masalah dengan lebih terhormat dan mesra.”
“Jangan coba-coba merayu. Aku perempuan anti rayuan.”
“Ok, kalau demikian, bagaimana kalau kita langsung bercinta?”
“Sampah! Jangan perlakukan perempuan sembarangan tauk!”
“Tentu saja tidak. Siapa yang berani sembarangan memperlakukan perempuan? Bukankan KPU saja sampai ketakutan memberi kuota 30 persen untuk duduk di Parlemen? Jangan lupa, sah tidaknya partai politik ikut pemilu hanya diukur oleh terpenuhi tidaknya kuota perempuan itu. Bukan soal ideologi atau pelanggaran kampanye dan lainnya. Keren ya?”
“Nggak ada urusan. Sebutkan nama, dan siapa yang membayarmu?”
Pertanyaan bodoh. Semua pembaca cersil ini sudah tahu siapa namanya. Kurang suspens.

36 | Matahari mencorong dengan ganasnya di atas South Queen Hotel ‘n Resort. Di taman hotel itu, pada gigir tebing pantai Parangendog, tampak dua tubuh laki perempuan terkulai tanpa busana. Susilo dan Sussy tertidur dalam pelukan. Hingga matahari malu, dan sembunyi di balik awan.
Suara debur ombak Samodera Indonesia tampak tenang menghanyutkan. Kalah kencang dengan dengkur Susilo yang kelelahan.
Nun jauh di sana, sekitar 500 meter tak jauh dari area South Queen, seorang nelayan melolong-lolong ketakutan.
“Ada mayaaaatttt, ada mayaaattttt,…” teriak nelayan itu.
Dia pikir ada yang mendengarnya. Dan itu tak mungkin. Suara gemuruh ombak bukan hanya bisa menelan suaranya, tetapi juga bahkan menelan tubuhnya. Itu pun kalau ombak punya mulut. Padahal mulutmu adalah harimaumu. Betapa mengerikan, bagaimana kalau mulut manusia itu berwujud harimau. Bagaimana pula dengan wujud seperti itu jika pas kissing?
Tak ada yang sudi membayangkan, kecuali cerita gemblung ini.
Namun meski ketakutan, nelayan itu khas orang Melayu. Tidak juga pergi menjauh, sang nelayan justeru mendekat.
Mayat yang dilihatnya, sesosok tubuh perempuan. Bersimbah darah. Masih segar.
Nelayan itu mendarat, meninggalkan perahu sampannya, dan mendekat ke arah mayat berada.
Sesosok mayat itu bergerak. Nelayan undur beberapa langkah. Bagaimana mungkin mayat bergerak?
“Masih hidup?” nelayan itu bertanya-tanya.
Tak ada yang menjawab. Karena pertanyaan itu hanya kata batinnya. Lagi pula, tak ada siapa pun di situ, kecuali dirinya dan mayat itu.
Kalau ada yang menjawab, pasti setan.
“Enak aja, ngapain aku menjawab,…” tiba-tiba terdengar suara tanpa ujud.
Tengkuk nelayan menggeremang. Ia menoleh ke delapan penjuru angin. Tak ada siapapun.
Suara yang baru saja didengarnya?
Anggap saja setan. Setan toh kambing hitam yang baik. Dia bisa dipakai sebagai common enemy untuk diganyang habis-habisan, senyampang disembunyikannya musuh kita yang sebenarnya. Untuk melawan ancaman dalam negeri dan gerakan-gerakan sparatisme, Sukarno mendengungkan ‘Ganyang Malaysia! Inggris kita linggis! Amerika kita setrika!’
Sama sebagaimana Soeharto menjadikan PKI sebagai musuh bersama. Padahal siapa yang PKI sebenarnya, jika kita memakai tiga huruf itu, untuk mewakili pemahaman tentang sesuatu yang buruk dan jahat?
Sementara Sukarno tetap bertahan tak mau membubarkan PKI.
Babby Huwae sepulang mengantar Dewi Sukarno dugem, pada dini hari yang menggelisahkan di tahun 1965, bertemu Sukarno, “Kenapa Bapak tidak membubarkan PKI?”
“Diam kowe. Kamu tahu apa anak kemaren sore!” Sukarno meradang dalam kegelisahan.
Babby Huwae terdiam dan tak berani berkata-kata lagi. Tetapi tatapannya masih tampak memohon kebijaksanaan Bapak Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu.
“Kalau PKI dibubarkan, dia akan menjadi underground, kita tak bisa mengontrolnya, dan kita tidak tahu apa yang dilakukannya!” jawab Sukarno kemudian.
Perjalanan politik Indonesia di awal kemerdekaan, memang penuh pancaroba. Beruntung 10 tahun dari proklamasi Republik Indonesia, pemerintahan Sukarno menyelenggarakan Pemilu 1955. Sebuah perhelatan demokrasi Negara terbesar di dunia, yang mendapat apresiasi dan pembelajaran bagi Negara-negara baru, yang juga sedang tumbuh dan akan lahir. Indonesia adalah kiblat perkembangan demokrasi penting di dunia waktu itu.
Tapi hanya dalam usia pendek, Sukarno tergoda bujuk rayu militer. Parlemen dibubarkan, dan diganti dengan orang-orang non partai. Sementara untuk menghindari pemilihan umum, militer menggoreng isyu presiden seumur hidup. Dengan alasan perkembangan PKI yang mengkhawatirkan. Pada 1948 PKI melakukan pemberontakan di Madiun. Jumlah pengikutnya masih kecil, masih ratusan ribu. Namun hanya dalam tujuh tahun, pada Pemilu 1955, PKI menjadi empat besar di republik ini.
Hal itu menjadikan militer was-was jika Indonesia akan dikuasai PKI. Bukan militer sesungguhnya, tapi mungkin sponsor mereka. Amerika Serikat dan blok sekutunya, yang waktu itu menyusun isu perang dingin Amerika-Soviet. Mereka punya kepentingan agar Indonesia tak jatuh ke tangan komunis.
Indonesia di bawah Sukarno, dianggap AS terlalu pro Soviet dan Cina. Sukarno waktu itu masih berkukuh, “Indonesia mau merah, mau hijau, asal rakyat yang menghendaki,…”
Tapi akhirnya muncul juga Demokrasi Terpimpin, Presiden Seumur Hidup, dan pemilu sebagai ukuran negara demokrasi, yang dijalankan per-lima tahun sekali, tak diselenggarakan lagi. Mestinya ada pemilu 1960, 1965. Namun baru pada 1971, itu pun setelah terjadi pergantian kekuasaan, ketika Soeharto memodifikasi ajaran-ajaran Soekarno dalam golongan fungsional dalam bentuk politik otoritarianisme, dengan nama Golongan Karya.
Politik hegemonic yang mencengkeram hajat hidup rakyatnya sampai ke sendi-sendi azasi, dipraktikkan Soeharto, dengan mengatakan politik no ekonomi yes. Cara berfikir, cara bersikap, dan cara bertindak. Formalisme dalam berfikir masuk dalam sistem pendidikan sekolah, sikap berkeagamaan, nilai etika dan moral. Sementara pragmatisme menjadi jalan hidup keseharian, bahwa segala sesuatu berdasarkan azas manfaat. Jika sesuatu tidak bermanfaat secara langsung, menjadi tidak berarti dan tidak penting. Hingga rasa kemanusiaan, kebudayaan, nilai-nilai substansi menjadi tergusur oleh hal-hal yang verbal, artificial. Proses tidak menjadi prioritas, karena produk atau output menjadi utama. Akhirnya, tujuan menghalalkan cara. Yang penting kaya, meski tidak mulia. Yang penting naik pangkat meski tak punya harkat. Yang penting lulus sekolah meski goblog.
Nelayan itu memandangi tubuh perempuan yang tergolek di rerumputan liar. Ia pastikan perempuan itu masih hidup.
“Siapa juga yang kurangajar melakukan ini? Ini pasti pembunuhan,…” kata hati sang nelayan. Ia ingat pada tahun-tahun kacau 1965, menurut dongeng bapaknya, daerah itu tempat pembuangan para anggota dan simpatisan PKI yang dibantai massa.
Segera ia mencopot kaosnya. Ia celupkan di air laut. Ia mencoba merawat sosok perempuan itu.
“Uhg, uhg,…” perempuan itu terbatuk. Pelupuk matanya bergerak-gerak.
Nelayan kemudian mencoba memberikan air minum pada perempuan itu. Beberapa teguk air masuk ke dalam mulutnya.
Tapi tubuh perempuan itu tampak sangat lemah.
Nelayan itu kemudian membopongnya. Dinaikkan ke dalam perahu sampannya.
Angin lautan mendorong perahu sampan nelayan ke tepian pantai Depok, sebelah barat Parangtritis. Beberapa orang, para bakul dan tengkulak ikan, seperti biasa menyongsong tiap perahu sampan yang menepi.
Tapi hampir berbarengan mereka menjerit, demi melihat apa yang ada dalam perahu sampan itu.
Sesosok tubuh perempuan.
Masyarakat di tepi laut kidul itu pun gempar. Berita sambung menyambung, berjalan dan berlari seolah mempunyai kaki sendiri. Dari handphone satu ke handphone lainnya. Dari sms ke sms. Twitter. Fesbuk. Hingga kabar itu cepat merebak sampai ke Timbuktu, di mana Paman Gober dari Donald Bebek berada.
Dan wartawan-wartawan media cetak maupun elektronik, setelah nongkrong di café-café sambil menunggu sosmed memberi inspirasi buat mereka, biasanya datang belakangan.
Suara lengkingan Soldier of Fortune dari Deep Purple mengiringi mobil polisi sektor Bantul yang datang ke TKP. Pak Polisi agaknya lupa mematikan audio-system mobil patrolinya.
“Mana Pak Boediono?” bertanya Pak Polisi dengan gagahnya. Perutnya buncit, mungkin hamil sembilan bulan, tapi nggak lahir-lahir juga.
Boediono yang dimaksud adalah nama nelayan yang menemukan seorang perempuan, yang diduga korban upaya pembunuhan. Siapa yang menduga? Umumnya orang-orang awam dan wartawan. Jadi orang awam dan wartawan itu sama saja ternyata. Bedanya, sekarang mereka menyebut diri sebagai jurnalis. Keren. Tapi hanya sebutannya yang keren, nulisnya pakai handphone. Untung saja tak pakai bahasa alay, meski tata-bahasa dan ejaannya sama sekali blangsak.
Boediono pun muncul. Sudah dua hari ia tidak melaut. Rumahnya seperti pasar malam, padahal siang hari. Wartawan silih berganti datang. Demikian juga orang-orang datang ingin melihat. Seperti tontonan saja layaknya. Untung anak Boediono membuka jasa layanan parkir, sehingga meski bapaknya tidak melaut, pendapatan dari parkir sepeda motor lumayan.
“Pak Boediono, di mana perempuan yang sampeyan temukan itu?”
“Waduh, ya sudah di rumah sakit, Pak. Lha kemarin-kemarin ‘kan anak saya sudah lapor.”
“Ha, lagi sibuk ngawal kampanye, je, Pak! Pak SBY je! Terus, ke rumah sakit mana?”
“Panembahan Senopati, Pak!”
“Katanya, perempuan itu dari mana?” Pak Polisi lagi-lagi bertanya.
“Ya mana saya tahu, wong belum bisa diajak bicara,…” Boediono agak jengkel juga.
Polisi kok goblog men, kata Boediono dalam hati.
Emang, sahut Pak Polisi dalam hati juga.
 
37 | Masyarakat Mbuantul pun gempar. Ditemukannya perempuan di Parangendog, yang diduga sebagai korban penganiayaan, mengingatkan kejadian sebelumnya. Waktu itu Mbambang menelpon RS Senopati Mbuantul, agar menjemput perempuan gothic di ara-ara amba Imogiri.
Kini ada lagi peristiwa mirip itu. Dan lagi-lagi korbannya perempuan. Dan perempuan yang sama anehnya. Beberapa hari sebelumnya, terjadi pertarungan bebas di depan Gedung DPRD-DIY di jalan Malioboro. Semuanya terjadi pada masa kampanye Pemilu 2014 dimulai.
Apa sebetulnya yang sedang terjadi? Sebuah kebetulan? Maksudnya, kebetulan diceritakan di cersil ini? Atau jangan-jangan ini hanya sekedar cerita iseng, karena di fesbuk lebih dipenuhi caci-maki antarpendukung kontestan Pemilu? Yogya adalah daerah test the water yang strategis, bagi siapapun pemainnya. AC Nielsen pun perlu memakai responden daerah ini, meski bukan potential buyers.
Gara-gara pemilu, fesbuker bisa sama koplaknya dengan para jagoan dan babonan mereka. Dikiranya pemilu itu kegiatan yang penting dan keren, hingga MUI membuat fatwa Golput haram. Ulama kok sama-sama koplak. Apa hubungannya Pemilu dengan agama? Tak ada. Bahwa Pemilu harus berjalan sesuai nilai-nilai atau norma agama, kebaikan, kemuliaan, bolah-boleh saja. Apalagi kita mengaku-aku sebagai Negara Pancasila. Negara Pancasila itu sekuler bukan, religious juga bukan. Artinya, kalau tidak ketahuan nggak apa-apa. Kalau ketahuan bilang khilaf dan lagi dicoba Gusti Allah.
Padahal jelas dalam Undang Undang Dasar kita disebut bahwa memilih dan tidak memilih dalam pemberian suara itu adalah soal hak. Dan kita bukan negara berdasar undang-undang ulama. Ngapain mengikuti UUD (Ulama-ulama Dongok). Nanti akhirnya UUD juga, ujung-ujungnya duit. UUD pokoknya, udah uzur deh.
Kalau Golput dosa, apakah ada yang bisa meyakinkan kita ini, mana parpol yang haram dan halal? Terus MUI jadi penguji tingkat kehalalan dan keharaman parpol? Parpol bersertifikati MUI? Lagi-lagi hal itu akan jadi obyekan baru. Tarif halal tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional. Belum lagi yang tidak lulus bisa membayar lebih mahal. Lumayan bisa untuk biaya poligami.
Tapi jangan-jangan gerombolan teroris kini mengubah taktik dan strateginya? Bukan lagi tebar bom. Tapi tebar teror yang lebih mengerikan. Terror of fear! Caranya dengan membangun imaji-imaji, sebagaimana diajarkan dalam teori teater avant garde. Atau barangkali para teroris ini karena pernah nonton beberapa reportoar Teater Payung Hitam, Bandung, hingga agak sedikit lebih pinter?
Tebar bom, tebar teror, tentu lebih pas untuk teroris. Dulu, sebelum tebar teror, mereka mengubah taktik dan strategi menjadi tebar pesona. Tapi gara-gara seorang teroris digaplok janda galak, gara-gara salah dalam tebar pesona, mereka malu. Dan kemudian mereka kembali ke jalan yang benar. Benar menurut mereka tentu.
Mungkin lho. Entahlah.
Yang pasti, perempuan yang ditemukan Boediono itu pun kemudian boleh dibawa pulang. Pemerintah daerah kebingungan untuk menampungnya. Apalagi identitasnya tak jelas. Dan identitas yang tak jelas, berarti bukan identitas. Setidaknya, tak pantas ditolong. Satu-satunya petunjuk adalah Surat Ijin Mengemudi. SIM-A. Tapi karena perempuan itu belum juga bisa berbicara, tak ada informasi yang bisa dikorek. Sementara para birokrat di level bawah, mana ada yang berani mengambil inisiatif? Belum ada petunjuk dari atas. Padahal yang atas biasanya tidak menunjuk, tapi menuding.
Keluarga Boediono merawat perempuan itu dengan telaten. Isteri Boediono sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Pertama kali, waktu memandikan perempuan itu, isteri Boediono kaget juga. Tatoannya banyak. Di punggung, pantat, juga, maaf (ya, saya maafkan) di vagina.
Atas kesepakatan keluarga, perempuan malang itu diberi nama baru, Sri Mulyani. Tapi sampai sekarang, Sri Mulyani belum bisa bicara juga. Hanya sudah lebih mending, karena bisa menggeleng dan mengangguk. Meski butuh waktu lama untuk itu.
Baiklah. Kita tunggu saja, sampai kelak Sri Mulyani ini mau buka mulut, meski pun para pembaca cersil ini kebanyakan berharap mau buka baju. Tapi jangan ikuti selera mereka, bisa hancur bangsa dan Negara ini jika dikuasai orang-orang mesum.
Kita tinggalkan sejenak mereka, untuk terbang ke puncak pegunungan Sawiyabiyus, di Keerom, Jayapura.
Berada di ketinggian 300 meter dari permukaan air laut, Mbambang bersama Dor bertemu salah satu kepala suku Papua. Namanya Daud Anisson. Lelaki bertubuh kecil dan imut banget. Item mutlak. Siapa menyangka ia salah satu komandan OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang sangat disegani? Tapi, Daud Anisson, menganggap semuanya masa lalu. Ia tak mau bertutur mengenai itu. “Yang penting, bagaimana nasib anak cucu saya besoknya,...” kata kepala suku Bugison ini. Usianya sekitar 70-an.
Demi nasib anak cucu itulah, empat tahun lalu ia terbang ke Jakarta, dengan biaya dari handai-taulan menjual sapi dan babi. Bertelanjang kaki ia temui Menteri PU, Djoko Kirmanto. “Yang kami inginkan bagaimana pemerintah Indonesia memikirkan nasib rakyat kami, membangun wilayah, menyediakan jalan,...”
Masa lalu Daud, tampaknya kaya. Ia pernah pergi ke Jawa dan Singapura. Pernah menjadi tenaga sukarela, ketika Prabowo Subianto memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma. Menyelamatkan nyawa 10 dari 12 peneliti Ekspediti Lorentz '95 yang disekap oleh OPM tahun 1996.
“Berapa luas daerah kekuasaan Bapa?” Mbambang bertanya pada kepala suku yang ke mana pergi dikawal seorang personil dari Brimob, bersenjatakan senapan laras panjang dan berkendara sepeda motor Suzuki Trail.
“Sejauh kau bisa memandang semua ini,...” kata Daud ringan saja.
Dan di titik nol puncak bukit Sawiyabiyus, masuk wilayah administrasi Skanto, distrik Keerom, Kabupaten Jayapura, terasa betapa tak bertepinya daerah kekuasaan atau tanah miliknya. Sebuah jalan perintis kini sedang dibangun, sepanjang 10 kilometer, membelah Sawiyabiyus. Sawiyabiyus artinya ‘gunung dan laut menyediakan kehidupan’.
Dan memang begitulah adanya. Daerah itu begitu subur menghijau. Daud meminta pemerintah membuat jalan itu, karena ia ingin mengajak sanak-saudaranya menggarap tanah lingkungannya, untuk pemukiman dan pertanian, yang kemudian diberi nama “Kampung Persiapan Inisiatif”.
Menempati kekuasaan tanah ulayat Daud Anisson, tak jauh dari Papua Nuigini, ia membagikan 500 kapling bagi siapa saja yang mau. Masing-masing disediakan satu hektar tanah gratis. Dengan syarat segera dalam waktu enam bulan harus bangun rumah, meski semi permanen. Jika tidak, maka tanah akan dimintanya kembali.
“Warga pendatang boleh ikut?” Mbambang bertanya.
“Monggo. Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke,” kata Daud yang humoris dan mengetahui beberapa patah kata Jawa. “Tanah ini tidak akan habis untuk dihuni semua yang mau tinggal di sini,...”
“Abang mau?” Dor menyikut pinggang Mbambang.
“Bareng kamu?” Mbambang asal menyahut.
Dor terdiam. Mikir. Asyik juga sebenarnya. Bisa ML di ruang terbuka, di bawah kolong langit yang begitu membiru. Pasti syahdu dan mengharu-biru. Apalagi kentha-kenthu mulu.
Selalu ada orang hebat dan aneh di Indonesia Raya ini. Tidak selalu dalam sorotan media. Tak punya fesbuk juga. Tetapi mereka bekerja jauh lebih nyata.
Tak terasa, malam mulai menjelang.
“Kalian harus tinggal dulu di sini,” ujar Daud Anisson menyedot kreteknya dalam-dalam.
Dor dan Mbambang saling pandang.
“Kalau menolak, kalian tak bisa pulang selamanya,…”
“Wah, kok main ancam?” Dor menukas.
“Tapi suka ‘kan?” Daud Anisson menggoda.
“Nyamuknya banyak nggak?”
“Banyak. Tapi nggak nakal. Nyamuk jantan biasanya yang nakal!”
“Bapa Daud genit!”
Mbambang dan Dor pun akhirnya tidur di rumah kepala suku. Bukan rumah adat sebagaimana dalam foto-foto etnik, tapi sudah rumah tembok biasa. Di dinding ruang tamu terpasang foto Prabowo dan bendera Gerindra. Alamak!
Mereka tidur di satu kamar. Maksudnya Mbambang dan Dor. Bukan satu kamar untuk satu keluarga, termasuk Daud Anisson, isteri, dan kerabatnya. Daud Anisson hanya mempunyai satu anak. Itu pun belum lama meninggal karena kecelakaan.
Dari perabot rumahnya, Daud tidak bisa dikategorikan miskin. Ada televisi, kompor gas, satu set meubelair dan sofa, almari kaca besar tanpa isi. Ada juga kulkas, diletakkan di belakang rumah, rusak karena aliran listrik yang tak stabil. Untuk ke kota, mereka butuh waktu sekitar empat jam.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Mbambang bertanya pada Dor yang rebahan di sampingnya.
“Bapa Daud ingin membuka lahan untuk masyarakat,” Dor menjawab sambil memain-mainkan rambutnya yang panjang. “Di sini tanahnya sangat subur. Kalau penduduk mau menanam sayuran, pasti laku di jual di kota. Apalagi kalau akses ke kota sudah terbuka, mungkin penduduk tak perlu susah-susah lagi, pedagang tinggal ngambil ke sini.”
“Kamu cantik,…” Mbambang mengubah posisinya. Ia telungkup.
“Terus?”
Mbambang tidak menjawab. Bibirnya sibuk menyelusuri celah-celah bibir Dor.
 
38 | Udara malam di pucuk Sawiyabiyus begitu dinginnya. Menggigit-gigit sampai ke ulu hati. Tapi itu hanya berlaku untuk orang lain. Tidak bagi Mbambang dan Dor yang keringatnya berleleran.
Tak terdengar suara adzan subuh. Karena memang tak ada masjid di sini. Tahu-tahu sudah terang tanah. Mbambang dan Dor masih keleleran di atas ranjang kayu. Padahal ajakan dalam adzan subuh itu bagus. Shalat lebih baik daripada tidur.
“Dor,...” Mbambang membuka matanya perlahan. Di sebelahnya Dor masih lelap dalam telanjang. Diperhatikannya Dor dari kepala ke kaki. Dari kaki ke kepala. “Dor, kamu ngompol ya?”
Matahari terasa begitu dekatnya di atas Jayapura. Seolah bisa digapai. Padahal tak mungkin. Khayal.
Daun Anisson sudah berada di proyek pembangunan jalan. Lelaki mungil itu tampak penuh kharisma. Semua yang bertemu dengannya, takjim menyalami dan mencium tangan. Seperti adegan di pesantren. Atau di Cikeas ketika siapapun bertemu SBY. Bukan hanya Anas Urbaningrum, dulu sewaktu masih menjadi ketua umum Demokrat. Kini panglima TNI pun ketika bersalaman dengan panglima tertingginya, akan mencium tangan begitu usai memberi salute militer. Militer Indonesia memang sangat santun dan Pancasilais.
Jalan rintisan di Sawiyabiyus itu sepanjang 12 kilometer. Jika sudah diaspal, kelak pasti menjadi jalan yang cukup megah, menghubungkan daerah perbatasan dengan negara Papua Nuigini dan pusat kota Jayapura. Mobilitas penduduk dari dan ke kota Jayapura dipastikan akan menggairahkan ekonomi masyarakat.
“Ke mana tamu Bapa semalam? Sudah pulang?” bertanya seorang mandor pembangunan jalan itu pada Daud Anisson.
Daun Anisson hanya tersenyum saja, tidak menjawab.
Mandor itu juga tak berani bertanya lebih jauh.
“Kamu awasi anak-anak itu bekerja,” Daud Anisson berkata kemudian. Berkali-kali ia selalu mengingatkan hal itu. Anak-anak muda Papua, khususnya yang bekerja dalam proyek pembangunan jalan itu, dulu sering kedapatan tertidur di tengah waktu kerja. Gara-gara semalaman begadang dalam pesta bir hingga berbotol-botol. “Kita semua orang mau ini jalan cepat selesaikah,..”
“Iya, Bapa.”
“Supaya kalian juga bisa cepat jumpa keluargakah?”
“Iya, Bapa,...”
Uang sesungguhnya bukan sesuatu yang sulit di Papua. Ada perputaran cukup kencang di daerah ini. Tapi warga pribumi yang tidak dan belum terdidik, cenderung tersingkirkan dalam persaingan. Orang-orang Bugis lebih menguasai dalam segala sektor kehidupan yang tumbuh di Papua. Sementara anak-anak Papua yang belum terlatih memegang uang, begitu sedikit ada uang di tangan, sepertinya seolah harus menghabiskannya segera dalam pesta. Yang kadang semuanya itu bisa berakhir dalam berkelahian antarsuku. Hanya karena persoalan sepele.
Mbambang dan Dor tampak menyusul Daud Anisson. Wajah keduanya terlihat segar.
“Bagaimana tidur kalian? Nyenyak? Banyak nyamukkah?” Daun Anisson menyongsong keduanya.
Dor hanya senyam-senyum.
“Hari ini kami mohon ijin,” Mbambang turun dari mobil, “mau meneruskan perjalanan.”
“Ke mana lagi?”
“Ke daerah perbatasan.”
“Jangan terlalu malam di jalan. Saya tidak mau menemukan mayat kalian di hutan,...”
“Makanya pagi ini juga kami mau berangkat.”
“Hati-hati di jalan. Kalian sudah makankah?”
“Mama kasih bekal ubi talas,” Dor menyahut.
“Kalian harus tahu itu makanan paling enak sedunia,” Daud Anisson mengacungkan jempol.
“Bapa sudah keliling dunia?” Mbambang nyeletuk.
“Kalau dengan perempuan, ke mana saja, itu namanya keliling dunia, meski kecemplung got pun,...”
Mbambang dan Daud Anisson tertawa.
“Ih, Bapa sexys,...!” Dor protes.
Mbambang dan Daud Anisson tertawa lebih keras.
“Ayo cabut,...” Dor meraih tangan Mbambang untuk segera ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Dor menjadi pemandu. Mbambang masih agak kagok mengemudikan mobil, karena kondisi jalanan yang buruk. Belum lagi jika berpapasan dengan mobil yang mengambil marka jalan seenaknya. Karena memang tak ada marka atau pun tanda-tanda. Belum lagi jika bertemu dengan gerombolan babi-babi ternak di tengah jalan. Melindas salah satu di antaranya, bisa kena denda jutaan rupiah oleh pemiliknya.
“Terimakasih sudah mengajakku ke tanah Papua,” Mbambang tiba-tiba bergumam.
“Biar kau tidak menganggap bahwa Indonesia hanya Jakarta.”
“Sayang aku bukan novelis.”
“Kenapa?”
“Kalau aku novelis, mungkin bisa membuat cerita dengan setting Papua, atau daerah-daerah pelosok lainnya di Nusantara ini. Bukan hanya dengan tema dan setting kosmopolitan.”
“Novel-novel kita hanya dipenuhi cerita-cerita kaum modern, dengan persoalan individual dan psikologismenya. Kalau ke masa lalu, pasti lebih sering ke tema sejarah dan politik. Orang film mungkin lebih keren, sudah mulai berani merambah setting di luar Jakarta.”
“Itu karena ada funding, tidak murni eksplorasi kreatif.”
“Bisa jadi. Ari Sihasale mungkin tak sedahsyat Garin Nugroho atau Riri Reza. Tapi, dia orang kreatif yang menarik.”
Cut!
Tak ada adegan menarik dalam perjalanan Mbambang dan Dor. Keduanya tak punya ide bermain kemesuman di tengah hutan. Mungkin takut pas lagi asyik-masyuk ditombak anak-anak suku yang masih suka main perang-perangan.
Ganti scene ke Jawa. Tepatnya tak jauh dari Imogiri. Brad Pitt sedang nongkrong di angkringan pinggir jalan. Kenapa di pinggir jalan? Karena kalau di tengah jalan terlalu berbahaya.
Wajahnya tampak kusut. Tubuhnya lelah. Pertarungan dengan Ninja Satu berjalan cukup alot. Tapi akhirnya, sebagaimana lakon-lakon silat di mana pun di dunia ini, sang lakon tak boleh kalah oleh penjahat. Masyarakat dunia masih merindukan hadirnya pahlawan, ketika dalam kenyataan lebih banyak ditemui pecundang.
Ninja Satu bisa diringkusnya. Dan dia sembunyikan di bak belakang mobil. Agar tak mengundang perhatian, mobil super deluxe itu diparkirnya di semak belukar, dan tak terlihat oleh sesiapa yang lewat.
Menikmati wedang uwuh, terasa menyegarkan di kepala. Cukup untuk mengusir rasa pusing.
“Sugeng enjang, Mas Jokowi,...” tiba-tiba terdengar suara perempuan di belakang Brad Pitt.
“Eh, Mbak Ajaib, monggo, mau ngersakke apa?” pemilik angkringan yang dipanggil Jokowi tertawa ramah. Wajahnya memang mirip Jokowi. Atau bisa jadi Jokowi asli, karena trend capres sekarang yang suka menyamar dan blusukan ke mana-mana. Siapa tahu kepilih jadi presiden.
Perempuan yang dipanggil Ajaib itu kemudian terlihat memilih-milih beberapa gorengan yang tersedia di angkringan. Usai membayar kemudian pergi begitu saja, menaiki sepedanya.
“Siapa, Mas?” Brad Pitt bertanya pada Jokowi.
“Dia anak Jakarta. Sudah beberapa hari ini tinggal di Mangunan. Itu desa wisata di sebelah,...”
“Namanya Ajaib?”
“Iya, nama yang aneh,... Setiap pagi dia selalu gowes di jalanan ini.”
Dada Brad Pitt berdesir. Ia seperti pernah melihat perempuan itu.
“Sebentar ya,....” Brad Pitt berpamitan pada penjual angkringan.
“Mau ke mana, Mas?”
Tapi yang ditanya sudah menggeblas pergi.
Bagaikan Gundala Putera Petir, yang bisa lari secepat kilat, Brad Pitt sudah berada di belakang perempuan bernama Ajaib. Padahal ia tidak mengejarnya dengan sepeda, meski namanya Brad Pitt. Coba kalau namanya Brad Pittmontor, pasti larinya bisa jauh lebih kencang.
Tiba-tiba tanpa dinyana tanpa diduga, sepeda yang dikemudikan Ajaib oleng. Dan sepeda itu jatuh ke aspal jalan. Ajaib terpental dan terjerembab di rerumputan pinggir aspal jalan.
Brad Pitt kebingungan dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan?
Apalagi demi melihat perempuan itu seperi epilepsi. Tubuhnya bergerak-gerak mirip orang breakdance dengan gerakan patah-patah.
Baru kali ini Brad Pitt terlihat tolol.
Brad Pitt cepat-cepat membopong Ajaib ke semak-semak belukar. Tapi perempuan itu terus merintih, dalam gerakan kejang-kejang.
“Oh, yes,.... oh, no, oh, yes, oh, no,...” rintih perempuan itu tiada putus.
 
39 | Brad Pitt kamitenggengen. Ia hanya diam memperhatikan perempuan yang menggelesot-gelesot di rerumputan itu. Kalau pingsan, mungkin lebih jelas tindakannya. Memberikan nafas buatan. Dan Brad Pitt cukup ahli dalam hal itu.
Saking kebingungannya, Brad Pitt pun kemudian malah menolong sepeda yang dipakai gowes perempuan bernama Ajaib. Tak ada yang aneh dalam sepeda itu. Tapi, ia perhatikan bentuk sadel sepeda yang lain dari yang lain. Astagfirullah!
Bentuk sadel itu mencurigakan Brad Pitt. Mungkin itu pangkal sebabnya. Jika sadel-sadel biasanya empuk dan datar saja, ini sadel kenyal dengan tonjolan memanjang di tengah. Ketika Brad Pitt mencoba menaiki sepeda itu, sedikit menekan sadel dengan pantatnya, sadel itu tiba-tiba bergetar. Dan pangkal paha Brad Pitt jadi sakit. Untung biji zakarnya tidak meletus. Biasanya yang meletus cuma balonku. Dan entah kenapa, balon hijau selalu meletus pertama kali. Padahal mustinya balon biru, karena berani mengatakan tidak pada(hal) korupsi.
Makin terheran-heran Brad Pitt, ketika dilihatnya Ajaib secara ajaib berdiri perlahan, dan kemudian menari-nari. Seolah para penari sufi yang dipantek selangkangannya dan bergerak berputar-putar.
Ajaib terus bergerak berputar, menuju hutan pinus yang banyak terdapat di perbukitan Imogiri. Sorot matahari pagi di sela dedaunan, memberikan efek artistic yang sungguh cantik. Mirip film-film Akira Kurosawa. Sangat puitis.
Ajaib berputar mengitari dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia seolah melayang seperti pendekar-pendekar sakti yang terbang meringankan tubuhnya. Padahal tubuh Ajaib tidak ringan. Cukup berbobot. Apalagi payudaranya.
Menurut sinyalemen feminis Gadis Arifia, partai-partai politik ternyata lebih memilih tampilan orang daripada kapasitas otaknya. Apalagi caleg-caleg perempuan, lebih dipilih karena payudaranya yang besar daripada otaknya yang besar. Pendapat yang sexy, tetapi sekaligus sangat sexys! Dalam kalimat itu, tak ada makna lain bahwa perempuan berpayudara besar bukanlah makhluk berotak besar, alias bodoh. Bagaimana dengan perempuan berpayudara besar tapi berotak besar juga? Apa bedanya manusia berhidung pesek bodoh dan perempuan berhidung pesek pintar? Apakah kita harus menilai kepintaran otak dari payudara, hidung, bentuk kaki, wajah? Apa bedanya dengan pendapat Sule atau Olga jika demikian? Ya, Allah, ampunilah perempuan berpayudara besar yang pintar, dan pintarkanlah perempuan berpayudara tipis yang bodoh. Agar mereka tidak jadi korban sexual harresment, bahkan oleh kaumnya sendiri yang menjadi pejuang kesetaraan gender. Hiks!
Perlahan terdengar Naino Mein Sapna, sebuah lagu karya Sajid-Wajid, yang dalam film Bollywood berjudul Himmatwala, dinyanyikan oleh Amit Kumar dan Shreya Ghoshal. Mehe, mehe, mehe!
Brad Pitt terpana. Tapi ini kesempatan bagi Brad Pitt, untuk bisa latihan menjelang masa-masa kejatuhannya. Siapa tahu ketika di Hollywood sudah tak laku, ia bisa ikut main di Bollywood? Toh hanya beda tipis antara B dan H, Bollywood dan Hollywood. Kalau B dan H dijadikan satu, pasti asyik.
Ajaib dalam gerakan slowmotion berputar-putar mengelilingi sebatang pinus yang besar. Brad Pitt pun kemudian mengikutinya.
Tapi tiba-tiba Ajaib berhenti. Brad Pitt pun ikut-ikutan berhenti.
Ajaib memandang tajam pada sosok lelaki di dekatnya itu.
“Are you Brad Pitt? Sure?” Ajaib kini berdiri berkacak pinggang.
Lelaki berwajah Brad Pitt itu diam saja. Apakah dia hendak mengatakan nama sebenarnya, atau diam saja membiarkan dirinya dianggap Brad Pitt?
“Sudah lama aku ingin memperkosamu,…” Ajaib tiba-tiba menerjang Brad Pitt. Hendak dicengkeramnya kerah baju Bradd Pitt.
Tapi tentu saja Brad Pitt tak ingin membiarkan semuanya ini berlangsung. Apalagi di sebuah cersil yang tidak jelas. Dengan sigap ia kibaskan dua tangan Ajaib yang berhasil mencengkeram kerah bajunya. Kancing baju Brad Pitt pun terlepas. Mirip Rhoma Irama dalam film-filmnya, melepaskan kancing baju paling atas, memamerkan bulu dadanya.
Tapi bagai kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, tetap saja ia adalah tupai. Maka jatuhlah Brad Pitt terjengkang di antara bebatuan kapur Imogiri.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ajaib lari menerjang dan menindihinya. Dengan penuh nafsu ia sosor mulut Brad Pitt.
Brad Pitt gelagepan. Dada Ajaib terasa kencang menindih dadanya.
“Kamu suka women on top?” Brad Pitt mencoba mengacaukan pikiran Ajaib.
Tapi Ajaib agaknya tak mendengar. Tanpa dikacau pun pikirannya sudah kacau. Dan jika sedang demikian, bisa berkali-kali dia ngompol. Makanya begitu banyak persediaan pampersnya.
Ajaib sibuk dengan pikirannya sendiri. Apalagi jika bukan pikiran mesum.
Ajaib terus saja menekan Brad Pitt. Mungkin karena ia pecinta gowes, gerakannya seperti perempuan sedang menggowes sepeda. Makin lama makin cepat, seolah sepeda yang menuruni perbukitan, dan kaki harus mengikuti gerakan pedal berputar makin cepat. Makin menurun jalanan, makin kencang gerakan kakinya.
Duooorrrrrr,…!
Tiba-tiba terdengar suara letusan yang amat kencangnya. Tak jauh dari tempat Ajaib dan Brad Pitt. Brad Pitt kaget dibuatnya. Dengan segera ia mencoba bangun. Ajaib tertidur di atas tubuhnya.
Ia singkirkan Ajaib dan kemudian dengan segera berdiri. Untung saja ini hanya dalam bentuk bacaan. Kalau dalam film tentu sudah ketahuan kalau Brad Pitt lupa menarik celananya yang melorot.
Brad Pitt segera lari mendekat ke sumber suara.
Benar kekhawatirannya. Mobil super deluxenya hancur sewalang-walang. Makdirabit. Apakah Ninja Satu juga ikut hancur di dalamnya? Atau, jangan-jangan ada yang mencoba membebaskan Ninja Satu dan kemudian baru meledakkan mobil Brad Pitt?
Ah, cersil kok penuh teka-teki. Emangnya teka-teki silang?
Brad Pitt berdiri mematung. Mulutnya seolah terkunci. Kerongkongannya tercekat.
Bagaimana dia memberitahukan semua ini pada Susilo? Sementara tugasnya sendiri belum dilakukannya untuk membereskan gerombolan pengacau?
Inderanya yang tajam membuatnya waspada. Sebuah desiran angin menekan ke arahnya. Dengan sigap Brad Pitt merunduk.
Jleb! Sebuah anak panah menancap pada pohon yang berada di belakangnya. Sepucuk surat disertakan dalam anak panah itu. Seperti dalam cersil-cersil.
Brad Pitt mengambil anak panah dan kemudian membaca surat yang tersertakan. Dahinya berkerut; “Jangan lupa, nanti malem kita nonton konser jazz ya? Sekali-kali malmingan, love,…!”
Pusing juga Brad Pitt membacanya. Tapi belum sempat berfikir, kembali ia rasakan desakan angin mengarah padanya. Lagi-lagi Brad Pitt merundukkan tubuhnya.
Jleb! Sebatang anak panah lagi-lagi menancap pada pohon di belakangnya. Sepucuk surat disertakan dalam anak panah itu.
Brad Pitt lagi-lagi mencabut anak panah dan kemudian membaca suratnya; “Sorry, tadi salah cabut anak panah. Ini yang benar: Jika kau tidak segera pergi dari sini, bukan hanya mobilmu, tapi tubuhmu bisa hancur sewalang-walang.”
Brad Pitt waspada memandang ke sekeliling.

40 | Meski agak gagap, Sri Mulyani kini sudah mulai bisa bicara. Tapi benar-benar harus mengajari dari awal. Untuk menyusun tiga-empat huruf, sepertinya dibutuhkan tenaga ekstra. Sampai-sampai Boediono terpaksa mengundang seorang guru SLB secara khusus. 
“T-e = te, l-i = li, ng-a = nga, apa coba Sri Mulyani?” Guru SLB itu menunjuk pada gambar telinga yang digantungkannya di dinding.
“Kuping,…” sahut Sri Mulyani dengan tangkasnya.
Namun keluarga Boediono sangat sabarnya. Pasti nanti suara ketika Sri Mulyani akan kembali seperti semula. Hanya dibutuhkan kesabaran di Indonesia ini. Jika tidak, ngapain juga kita membentuk republik ini? Bukankah mending diserahkan pada Inggris, Belanda, Jepang, atau sekalian Amerika saja, dan kita cukup menjadi budak-beliannya?
Bukankah kesabaran membuat kita bisa memperingati ulangtahun kemerdekaan hingga ke 68? Bagaimana kalau sampai 69? Pasti ada yang bilang nikmat banget.
Boediono sudah kembali melaut. Karena memang demikianlah pekerjaannya. Seorang pekerja rutin, dan sangat ahli dalam bidangnya. Bukankah hanya itu yang dibutuhkan manusia hidup? Soal yang lain-lain, di luar kerutinannya? Sudah ada yang mengurus.
Sementara itu di atas Parangendog, di bekas South Queen Hotel ‘n Resort, Susilo termangu sendirian.
Ia sampai pada pertanyaan eksistensialis; Apakah yang kucari di dunia ini?
Agaknya ia jatuh cinta pada Sussy. Setidaknya, dari segi nama sudah ada kesamaan. Itu indikasi jodoh yang pertama. Sementara dari segi lain, sejujurnya Sussy perempuan yang luar biasa baginya. Dari sekian petualangan sexnya, baru ia dapatkan ramuan goyangan vagina yang sangat komplit. Dari model India, China, Jepang, Arab, Zimbabwe, Rusia, Perancis, London, semuanya ada. Dalam bahasa para penyair yang lebay, hanya tidak ada yang tiada. Ah, gambis!
Pikiran tentang Kitab Pararaton seolah tersingkirkan karena falling in love. Apa yang dicarinya di dunia ini? Bukankah kebahagiaan? Dan kalau ia cukup bahagia dengan Sussy, tidak cukupkah?
Apa yang dicari ARB yang dalam berpolitik pun masih perlu membopong-bopong Teddy Bear? Adakah boneka beruang itu puncak pencapaiannya setelah meninggalkan lumpur Lapindo dan pencapresannya di Republik Indonesia ini? Jika tidak, untuk apa semuanya itu? Untuk membiarkan isterinya pergi sendirian di villanya di Spanyol sana? Mengapa Tatty Bakrie lebih suka berlibur sendirian nun jauh di sana, tanpa suami? Benarkah sendirian? Mengapa ARB tidak menggendong-gendong orang lumpuh seperti dilakukan oleh Harry Tanoesoedibyo, dan disiarkannya di stasiun televisinya sendiri? Apakah politik dan sex adalah sesuatu yang harus dipisahkan atau disatukan? Apakah politik tanpa sex membuatmu frustrasi dan tak bisa melemaskan syaraf-syarafmu yang stress? Apakah sex tanpa politik sesuatu yang hina-dina hingga kau masuk parpol, jadi anggota parlemen, hanya karena ingin bisa menikmati sex dengan bebas?
Lantas kenapa Prabowo Subianto mesti bercerai dengan isterinya? Apakah isterinya kurang cantik? Tidak mencintainya? Dan bagaimana kelak, seandainya, Golkar kemudian berkoalisi dengan Gerindra? Apakah Prabowo akan menelan ludahnya sendiri, untuk menolak Soehartoisme? Lantas bagaimana Titiek Soeharto, sekiranya ia lolos menjadi anggota DPR dari Golkar, ketika terpaksa harus menghadiri pidato Prabowo di parlemen, seandainya mantan suaminya itu menjadi presiden?
Politik gossip. Langit di luar, langit di badan, kata Rendra. Pemimpin dan rakyatnya, sama saja.
Sebetulnya, apa sih sex, atau seks, itu? Menurut kamus Inggris-Indonesia, diartikan itu kelamin. Tapi oleh Bang Jaih, dari Kramat Sentiong, waktu mengisi kolom sex, dia tulis; “Kagak pasti, bisa seminggu dua kali, tapi kalau lagi tongpes diampet aja,…”
 “Apakah engkau masih punya orangtua?” Susilo bertanya lembut pada Sussy.
“Sudah pada meninggal, Bang Su,” jawab Sussy sendu. Masih mending disebut Bang, daripada cuma Su doang.
“Lantas bagaimana aku melamarmu?”
“Bang Su mau melamarku, untuk menjadi istrimu?” mata Sussy berbinar. Handuk yang melilit tubuhnya yang padat melorot.
“Jangan pelorotkan handukmu,…”
“Melorot sendiri, Bang Su,…”
“Belum pernah aku jatuh cinta seperti ini.”
“Ah, mulut lelaki.”
“Bukankah aku memang lelaki?”
“Pada semua perempuan Bang Su akan ngomong juga seperti itu.”
“Iya. Dan adakah itu salah, sebelum kutemukan dirimu?”
Preeeetttt! Terdengar suara burung belatuk kentut sambil terbang.
Tak ada jawaban.
Dan tak terdengar pembicaraan lagi.
Yang ada hanya dengus nafas tak beraturan.
Gelegar ombak di Laut Kidul terdengar menggelora. Geriap air seolah berkejaran, saling tumpang tindih. Bergulung-gulung.
Susilo dan Sussy tiba-tiba menghentikan kegiatannya. Keduanya serentak menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang bugil.
“Kau bisa mengetuk pintu terlebih dulu bukan?” Susilo berkata dengan nafas ngos-ngosan.
Brad Pitt yang berdiri di depan pintu tak segera menjawab.
“Bukankah kau diajari sopan santun oleh orangtuamu?” Susilo kembali mendengus.
“Maaf, saya tidak tahu, apakah saya harus menutup pintu kamar Boss terlebih dulu, dan baru kemudian mengetuknya,” jawab Brad Pitt.
“Cepat katakan, ada apa?” Susilo membentak.
“Mobil Boss hancur diledakkan entah oleh siapa,” Brad Pitt berkata gamang.
“Lain kali laporkan jika kamu sudah mengetahuinya. Kalau hanya mengatakan ketidaktahuanmu, buat apa kau digaji tinggi? Seburuk-buruk dari semua yang bekerja padaku, tidak boleh lebih buruk dari kerja anggota Parlemen tauk!”
Apa hubungannya, rutuk hati Brad Pitt.
Nggak ada, tukas hati Susilo.
“Terus, kalau tak ada mobil, bagaimana kita bisa menyelesaikan persoalan kita? Cepet suruh minta gantinya,” Susilo terus saja mencak-mencak.
Brad Pitt hanya bisa diam. Berbeda jauh dengan Brad Pitt yang ada di layar film.
“Pergilah sebentar,” Sussy terdengar menengahi, “dan biarkan kami berdua berpakaian dulu.”
“Ya, itu lebih baik,” Susilo mengamini.
Brad Pitt pun pergi menjauh. Ia berdiri di gigir tebing. Memandang ke laut lepas. Hamparan Samodera Indonesia seolah menyimpan misteri maha dalam. Seberapa dalamnya? Entahlah. Tak perlu basah kuyup menyelaminya. Cukup searching di Google dan kita akan tahu berapa kedalaman Laut Kidul itu.
Malming yang boring. Brad Pitt ingat surat gelap yang dibacanya di Imogiri, sebetulnya surat itu ditujukan pada siapa? Dan dari siapa? Sepertinya dari orang yang sedang berkencan. Ah tidak penting mikirin orang lain. Sedang mikirin diri sendiri saja betapa beratnya.
Mestinya sekali pun dalam cersil, ada juga adegan malmingan. Tapi buat apa malmingan buat dirinya yang jomblo? Tiba-tiba Brad Pitt teringat perempuan bernama Ajaib.
Pikirannya melayang ke perbukitan Imogiri. Saat itu juga ia hendak terbang.
“Pitttttt!” tiba-tiba terdengar suara Susilo berteriak.
Hm, malmingan bisa batal, gerutu Brad Pitt.
Dengan langkah gontai, Brad Pitt melangkah ke arah Susilo berada.
Lelaki bertubuh tambun itu terlihat sendiri duduk di teras pavilliun.
“Barangkali ini sudah takdirku,” Susilo berkata pelan ketika Brad Pitt sudah duduk di hadapannya.
“Apakah itu, Boss?”
“Pergilah kau, dan tinggalkan aku di sini,…”
Brad Pitt ternganga.
“Jangan katakan pada siapapun. Hanya kau yang ngerti.”
“Boss,…”
“Aku dan Sussy telah bersepakat untuk menikah. Dan aku akan tinggal di sini bersamamu,…”
Mulut Brad Pitt makin lebar menganga.
“Boss serius? Bagaimana dengan Kitab Pararaton itu? Bagaimana pula kalau kitab itu dikuasai para Golput?”
“Jangan terlalu serius dengan cersil ini. Kamu bisa ketipu,” Susilo berkata bijak.
“Maksudnya?”
“Jalani saja maunya penulis,…” Susilo berkata pelan. “Kusadari, bukan aku yang kuasa menyuruhmu. Juga bukan aku pula yang bisa berkehendak atas diriku. Ada bajingan yang berkuasa atas hidup dan kemauan kita.”
“Mengapa kita tidak lawan saja penulis cersil ini?” Brad Pitt meradang | Bersambung ke jilid 41.

41 | Jantung Brad Pitt berdegup kencang. Ia merasa cemas akan nasibnya.
Dengan perasaan tak karuan, ia tinggalkan Susilo dan Sussy. Nasib orang memang tidak bisa ditebak. Brad Pitt kini tak tahu mau ke mana. Muncul pada pikirannya, bagaimana ia bisa mengumpulkan tokoh-tokoh fiksi seluruh Indonesia, untuk menghancurkan diktatorisme para penulis yang melebihi Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak, post factum masih ada logikanya. Tapi begitu banyak penulis yang ngawur membuat jalan hidup tokoh-tokohnya. Mana yang karakterisasinya tidak konsisten, perkembangannya tidak ada, psikologinya amburadul. Belum lagi filsafat logika mereka yang kebanyakan kacau-balau.
Menulis semestinya adalah pelajaran menjadi manusia. Dan belajar menjadi manusia tidak bisa hanya sekedar membaca buku-buku sastra, apalagi sekedar untuk meniru gaya seorang penulis. Alangkah menyedihkannya kalau semua novel Indonesia gaya bertuturnya hanya model Salihara mulu, biar mendapatkan Prince Klauss Award.
Dalam pada itu, Dor dan Mbambang berada di bandara Sentani. Dor mengantar Mbambang yang hendak menuju ke Pontianak. Dan untuk itu, yang paling memungkinkan, terbang dari Jayapura ke Jakarta, baru kemudian dari Jakarta ke Papua. Jurusan Pontianak via Makassar sudah full booked. Kalau pun ada harus nunggu tiga hari lagi.  Makanya itu pilihan paling logis dari kenyatan-kenyataan yang tidak logis.
Mbambang tidak bisa menjelaskan pada Dor kenapa mesti ke Pontianak. Pada penulis pun ia sudah wanti-wanti untuk tidak memberitahukan pada pembaca.
Semalam usai pergulatan dengan Dor, dan setelah Dor pulas tertidur, Mbambang bertemu Kanjeng Ratu Kalinyamat. Tak jelas, naik apa puteri dari Raja Demak itu ke tanah Papua.
“Kamu ini bener-bener deh,…” Kanjeng Ratu Kalinyamat menyemprot Mbambang. “Apa yang kamu dapatkan beberapa hari berada di Papua?”
Mbambang bingung juga hendak menjawab apa. Bukankah ia hanya diminta untuk menemani Dor?
“Bukan hanya menemani!” Kanjeng Ratu Kalinyamat seolah mengetahui kata hati Mbambang. “Kau aku suruh mengikuti Dor karena Kitab Pararaton itu dibawa terbang ke Papua,…”
Mbambang tergagap-gagap, “Maksud Kanjeng Ratu?”
“Kitab Pararaton itu ditemu mahasiswa Papua yang lagi makan di angkringan Pakde Karwo di Imogiri. Tapi anak itu sekarang ke Pontianak, untuk penelitian suku Dayak,…”
Mbambang terdiam. Kenapa jika Kanjeng Ratu Kalinyamat sakti, bisa hidup ratusan tahun, bisa menembus rang dan waktu, tapi membiarkan semuanya itu terjadi?
“Tidak segampang itu,” lagi-lagi Kanjeng Ratu Kalinyamat seolah menjawab kata hati Mbambang. “Aku tidak bisa lagi ikut campur tangan secara fisically. Sebagai penyaksi aku bisa. Tetapi terlibat secara fisik, aku tidak punya kuasa. Kita masing-masing diikat oleh code of conduct,…”
Itulah sebabnya, Mbambang minta pamit pada Dor hendak ke Pontianak.
Dor sendiri sebenarnya ingin banget ikut. Tapi jadwal pekerjaannya tidak memungkinkan. Katanya dalam dua hari lagi salah seorang menteri yang jadi capres, hendak bertemu dengannya. Biasa, cipika-cipiki.
“Jangan nakal di sana,” Dor tampak was-was.
“Aku kan orang alim,…” Mbambang nyengir.
“Pantes mesum!”
“Lho, alim kok mesum?”
“Orang alim biasanya mesum.”
“Buktinya?”
“Buktinya ada orang alim yang bikin video porno, threesome pula,…”
“Itu bukan alim, itu ulama, ulama goblog!”
“Heis, kuwalat lho!”
“Halah, MUI aja kok bikin kuwalat. Yang harus kita takuti itu Allah subhanahu wa ta’alla. Kalau ada ulama tapi kerjaannya menakut-nakuti, itu alamat dia tak layak ditakuti! Katanya mengakui Muhammad sebagai nabi dan rasulullah terakhir, tapi kenapa banyak yang mengaku-aku sebagai utusan Tuhan, mengaku-aku mendapat amanah Tuhan, untuk menggebugi orang lain? Mana SK pengangkatannya? Nabi palsu tak layak digugu.”
Bandara Sentani tampak begitu ramai. Banyak juga orang lalu-lalang dari dan ke Papua. Ada orang Jawa, Cina, Bugis, disamping orang-orang Papua sendiri. Route penerbangan terpadat memang dari Jakarta dan kemudian Makassar. Tapi kebanyakan orang Papua yang mondar-mandir adalah pejabat pemerintahan, atau kalau tidak orang partai politik. Selebihnya mereka yang menjadi petugas kebersihan, kuli, calo tiket, atau supir taksi.
Mbambang baru menyadari, bahwa semestinya ia bisa membaca pikiran Kanjeng Ratu Kalinyamat. Ngapain juga menyuruhnya ke Papua jika bukan berkait Kitab Pararaton? Bukankah judul cersil ini Mencari Kitab Pararaton? Kenapa Mbambang tidak membaca judul ceritanya sendiri?
Menyedihkan. Jasmerah, kata Bung Karno.
Sesampai di Bandara Soekarno-Hatta, ingin rasanya Mbambang turun. Kangen. Lama ia tidak melihat kamarnya. Tak ada yang lebih menyenangkan dari membenamkan hidup dalam kamarnya yang bau apek itu.
Perjalanan yang menyebalkan. Dan tidak logis sebenarnya. Pesawat yang ditumpanginya pun kembali menggegana, kembali ke arah timur.
Tapi bagaimana melacak orang yang diduga membawa Kitab Pararaton? Apakah dia mesti mengubrak-abrik orang se Pontianak untuk bisa menemukan?
Tak ada petunjuk yang jelas mengenai itu semua.
Dan seperti biasanya Mbambang pun jadi linglung.
Setiba di Bandara … segera Mbambang ke kantor gubernuran. Ia mencari kantor dinas yang mengurusi perijinan mereka yang melakukan penelitian atau riset.
“Waduh, kita tidak mempunyai daftarnya. Dan bukan hal yang mudah,…” ujar perempuan berseragam ijo telek lencung dari balik loket kaca.
Tanpa banyak cakap, Mbambang menyorokan secarik kertas. Perempuan itu cepat menerima dan membacanya.
Mbambang dengan tenang kemudian pergi menjauh.
Tak lama kemudian sebuah sms masuk ke handphone Mbambang.
“Tnggu aq di café Maniang yeah, stngah jam lg,” begitu Mbambang membaca bunyi sms yang diterimanya.
Pada ojek di depan kantor pemda, Mbambang meminta di antar ke café Maniang.
Menyusuri jalanan Pontianak yang panas, lalu-lintas tampak lengang. Beberapa penjual duren di pinggir jalan menebarkan godaan yang menyengat.
Sudah setengah jam Mbambang duduk-duduk manyun di café Maniang. Es syrup rumput laut masih separohnya.
“Abang dmn?” demikian sms yang masuk ke handphone Mbambang.
“Di dlm. Meja 16,” Mbambang mereplay.
Seorang perempuan akhirnya mendatangi meja Mbambang. Itu perempuan yang ditemui Mbambang di loket kantor dinas Pemda. Sudah tak memakai seragam ijo telek lencung lagi.
“Mau minum apa?” Mbambang bertanya.
“Terserah Abang aja,…” jawab perempuan itu. Wajahnya keras, dan sedikit mesum.
Mbambang memperhatikan dandanan perempuan itu. Simple. Sepertinya sekali tarik semuanya akan beres saja. 
“Jangan terserah dong, nanti kalau Abang kasih racun, gimana?”
“Racun asal memabukkan tak apa,….” perempuan itu menyahut ringan saja.
Ketawanya nakal. | Bersambung ke jilid 42.
42 | Perempuan di depan Mbambang itu mengaku bernama Fatin Hamamas. Mungkin dari suku Hamas. Tak penting itu nama aseli atau palsu. Yang pasti perempuan itu mata duitan. Karena diiming-imingi duit, akhirnya PNS itu memberikan data yang dibutuhkan Mbambang.
Waktu menemuinya di kantor dinas, Mbambang tak ingin banyak bicara. Hampir semua birokrasi di pemerintahan Republik Indonesia, berpedoman sama. Jika bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah? Dengan mempersulit maka dengan mudah duit akan datang, untuk membuka jalan kemudahan bernama pelayanan. Ada uang ada barang. Perkara bahwa pemerintahan dibangun untuk pelayanan masyarakat, biarkan itu hanya dalam undang-undang dan peraturannya saja. Toh semua itu dilakukan oleh oknum, bukan oleh manusia.
Jika saja libido Mbambang sedang on the mood, godaan Fatin mungkin diladeninya. Tapi toh dengan uang ratusan ribu, Mbambang sudah bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Lagian, bau tubuh Fatin membuat Mbambang tidak tertarik. Mulutnya bau menyan.
Mana nikmatnya kissing dengan perempuan bermulut bau menyan?
Mbambang segera berangkat ke Entikong. Perjalanan dari Pontianak ke Entikong cukup jauh, hampir tujuh jam. Mestinya sebelum senja sudah sampai ke Entikong. Tapi medan yang berat membuat perjalanan menjadi sangat lamban.
Entikong kota kecamatan di kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Memiliki jalur perbatasan darat dengan negara Malaysia, khususnya Sarawak. Jalur darat itu sering disebut jalur sutera, di mana lalu-linta rupiah dan ringgit begitu kencangnya. Bus, truk, dan taksi-taksi gelap, banyak lalu-lalang baik dari Indonesia maupun Malaysia, tanpa harus menyeberangi sungai maupun laut. Karenanya tak heran banyak TKI berasal dari Jawa dan Sumatera menggunakan jalur perbatasan ini.
Semestinya daerah perbatasan merupakan garda terdepan sebuah negara. Namun tidaklah demikian dengan Entikong. Sebagaimana daerah-daerah perbatasan dengan Negara lain, seperti di Nusa Tenggara Timur, Papua, atau pun Kalimantan Utara dan Timur.
Di kota kecamatan itu masih sangat minim infrastruktur. Bahkan bahkan untuk mencapai ke wilayah ini tidaklah mudah. Sudah terbayang di benak Mbambang, bagaimana sulitnya perjalanan.
Di sepanjang perjalanan, hanya pepohonan dan perbukitan menghijau. Perkebunan kelapa sawit seolah sambung-menyambung. Rumah-penduduk hanya satu dua, masing-masing berjarak cukup jauh. Dan hampir kebanyakan rumah penduduk membuka warung. Siapa yang membeli jika semuanya berjualan? Pada masing-masing warung selalu menyediakan meja besar dengan beberapa kursi. Bisa dipastikan di sana tersedia minuman kopi.
Ngopi dan kongkow agaknya menjadi bagian tak terpisahkan. Apalagi pada malam hari, ketika hidup adalah menikmatinya. Sementara pada siang hari, masing-masing orang pergi ke ladang atau ke kebun.
Pontianak adalah kota seribu sungai. Ada banyak sungai-sungai besar di kota ini. Tanahnya subur, dan banyak ruang menantang untuk digarap.
Namun sebagaimana wilayah-wilayah di luar Jawa, potensi yang luar biasa ini sering terabaikan. Dari sumber daya alam, pemerintah pusat hanya tertarik untuk menggarap pertambangan dan perminyakan. Sementara sumberdaya pertanian sama sekali tidak dilirik. Apalagi Menteri Keuangan, entah sebagai anggota kabinet atau ekonom liberalis, mengatakan Indonesia mesti meninggalkan pertanian dan menggarap sektor industri teknologi.
Sama sekali tak berbekas, bagaimana dulu hampir 100% kebutuhan lada dan kina dunia pernah kita pasok. Sebesar 30% kebutuhan karet dunia, 25% kebutuhan kelapa dunia. Sementara kebutuhan kebutuhan teh, gula, kopi, dan minyak dunia, rata-rata 20% pasokan dari Indonesia. Waktu itu Indonesia masih bernama Dutch East Indies.
Pada jaman Sukarno, diperkuat dengan dibangunnya penelitian agrikultur dan Institut Pertanian Bogor, negara-negara Asia datang ke Indonesia, untuk belajar pertanian. Dan kita membusungkan dada dan menyebut diri sebagai Negara Agrikultur. Meski kemudian kita tahu, dibandingkan budidaya pangan dan pertanian di Thailand, Indonesia kini bertekuk lutut.
Seiring dengan berjalannya waktu, sekarang kita impor beras, bawang, garam, kedelai, singkong, sapi. Bahkan lebih dari itu, kita juga mengimpor garam, ikan teri, ikan asin, di mana kita punya laut dan garis pantai terpanjang di seluruh dunia.
Presiden SBY konon adalah doktor pertanian dengan kelulusan cum a laude. Namun sama sekali tiada tampak bagaimana hal itu muncul dalam pemikiran-pemikirannya. Pengembangan program pertanian Indonesia justeru bergerak karena USAID menggelontorkan dana hingga puluhan juta dollar AS pada tahun 2011 dan 2012. Dibandingkan dengan program Kementerian Pertanian, segera tampak bahwa hampir semua program pembangunannya adalah program USAID ini. Dan kita sering dengan gagah berkata; ganyang Amerika!
Dalam kampanye-kampanye politik pada Pemilu tahun ini, kita memang mendengar kembali partai-partai politik mengumbar janji. Mereka bertekad memajukan sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun kemudian kita akan mengetahuinya. Semua hanyalah janji politik.
Tidak semua mengerti, bagaimana sektor pertanian memiliki peran sangat penting dan menentukan. Baik dalam soal pangan maupun ekonomi. Komitmen untuk memajukan sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani, hanya dilakukan sebatas untuk membangun kepercayaan rakyat pada parpol. Seolah mereka mempunyai keberpihakan terhadap rakyat kecil.
Para politikus hanya melihat rakyat dalam kalkulasi angka-angka. Mereka dalam ruang tertutup dan dingin ber-AC, di atas meja, sebagaimana para pemain catur mengotak-atik bidak berupa angka-angka. Potensi dukungan politik yang bisa diraup, dari mereka yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, sangatlah besarnya.
Hasil Sensus Pertanian 2013 mencatat; jumlah rumah tangga yang menggantungkan hidup pada kegiatan usaha tani, mencapai 26,13 juta rumah tangga. Bisa dibayangkan, bila di setiap rumah tangga tani terdapat tiga orang pemilik hak suara. Akan didapat sekitar 79 juta potensi suara yang bisa didulang parpol. Angka ini sekitar 40 persen dari 186 juta potensi suara yang diperebutkan di dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden.
Namun hanya berhenti di situ.
Usai pemilu, yang melenggang duduk di Senayan sudah berubah agendanya. Dan rakyat, bagaikan pendorong mobil mogok. Ditinggal begitu saja setelah mesin mobil hidup. Itu pun kadang, pendorong mobil bisa ditinggal dan jatuh terjerembab, dengan muka bengap menggasruk aspal jalan atau mencium tai kerbau.
Sesampai di Entikong, malam sudah larut. Terpaksa harus menginap. Transportasi ke Badat Lama, satu-satunya hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai. Dengan menggunakan perahu bermotor. Tak bisa melalui jalur darat, karena memang tidak ada infrastrukturnya.
“Nginap dulu di Entikong. Meski ini kota kecil, tapi kota ini tak pernah tidur,...” goda sopir yang mengantar Mbambang.
Dari nada bicaranya, Mbambang menebak lelaki itu menawarkan bau kemesuman.
Bagaimana pun Entikong kota internasional. Lalu lintas dari dalam dan ke luar negeri, sangat tingginya. Tentu saja, karena Entikong adalah pintu darat yang menghubungkan dengan negara Malaysia.
Meski negara serumpun ini sering dalam pertikaian psikologis, di daratan yang muncul adalah cinta dan benci. Apalagi Malaysia adalah negara yang lebih makmur. Pasar terbesar bagi hasil bumi sebagian besar penduduk di Kalbar, Kalut, dan Kaltim. Jika tidak, mengapa juga harus muncul Kalut, Kalimantan Utara, sebagai pecahan Kalimantan Timur, jika bukan karena hitung-hitungan ekonomi para elitenya? Jika di beberapa negara modern yang muncul adalah unifikasi, di Indonesia justeru lebih sering terjadi pemekaran wilayah. Alasan-alasan klasiknya, percepatan pertumbuhan. Padahal, sering terjadi lebih karena ketidakmampuan mereka mengelola konflik.
“Di sini yang paling oke amoy-amoynya. Langsung dari Singkawang,” bisik lelaki yang mengantar Mbambang.
“Terus?”
“Ini nggak ada di Jawa,” laki-laki itu agaknya terbiasa menjadi calo. “Lagi pula, perjalanan masih akan sangat jauh dan tidak sangat mudah. Bapak akan masuk ke hutan belantara, dengan ribuan nyamuk penghisap darah yang ganas,...” | Bersambung ke jilid 43.


43 | Hutan belantara Kalimantan betapa ganasnya. Perjalanan menyusuri Sei Sekayam, atau sungai Sekayam, benar-benar telah menghajar tubuh Mbambang. Setelah selama empat jam, dari Entikong ke dusun Suruh Tembawang, Mbambang harus meneruskan ke jalan darat. Melintasi tebing sungai dan menembus hutan, kaki Mbambang seolah jebol. Belum nyamuk hutan yang ganas mencecap darahnya.
Tapi beruntung Mbambang bertemu seorang pemuda Dayak yang mau menemaninya. Namanya Badrun, tetapi anak Dayak ini seorang Kristen Protestan. Ke gereja kalau ingat hari Minggu, karena kadang hari Minggu sejak pagi sering ia sudah harus mengantar orang-orang hilir ke hulu.
Perjalanan sepanjang sungai Sekayam sangat memukaunya. Di kiri-kanan sungai, pepohonan besar dan rimbun, juga batu-batu segede gajah, atau bahkan lebih besar dari itu, seolah berserakan. Bisa jadi Kalimantan dulu juga mempunyai gunung-gunung berapi. Kini semua gunungnya mungkin sudah pada tidur. Dan memberikan kesuburan bumi yang luar biasa.
Jika boleh dikata paling menyenangkan, sepanjang perjalanan tidak ditemuinya gambar-gambar partai. Itu berbeda ketika masih di Entikong. Gambar partai politik berkibaran, meski agaknya lebih didominasi PDIP, Nasdem, Gerindra, dan Demokrat. Beberapa bagian ada juga Golkar.
Sementara di sepanjang Sekayam, sama sekali tak didapatinya gambar parpol atau caleg. Mungkin para pemilik gambar itu pusing juga. Bagaimana bisa menempelkan gambar dengan jumlah pohon yang tak terhitung itu.
Jika pun ada gambar partai, justeru gambar partai peserta pemilu 2009. Dipakai sebagai penutup perahu-perahu kecil pendulang emas, yang banyak ditemu sepanjang sungai itu.
“Kamu dengan duit segitu tidak layak untuk mengeluh,” Mbambang merasa heran melihat Badrun yang meski periang namun gampang mengeluh. Badrun seorang kepala kapal, yang kesehariannya mengantar orang-orang Suruh Tembawang pulang balik ke Entikong. “Di Jawa, sehari bisa dapat 600 ribu itu harus susah-payah jika bukan pengusaha kaya atau koruptor. Dikemanain saja duitmu?”
“Cewek, Bang,…” Badrun menjawab sambil nyengenges.
“Kamu main cewek?”
“Cewek kalau nggak ada duitnya nggak mau,…”
“Oh, jangan dengan cewek komersial, tapi cewek yang amatiran,…” Mbambang mengajari.
“Cewek amatiran gimana, Bang?”
“Cewek komersial itu cewek yang kalau diajak main minta duit.”
“Kalau cewek amatiran?”
“Kalau cewek amatiran nggak ngomongin duit, tapi cinta,…”
“Ah, mana ada cewek mau cinta-cintaan nggak pakai duit? Saya mau nyari cewek Jawa saja,…”
“Lho, kenapa? Cewek Dayak ‘kan cakep-cakep. Sexy dan kuat!”
“Tapi mereka mata duitan, Bang. Kalau cewek Jawa mereka mau kerja keras,…”
Mbambang ketawa ngekek, “Jadi, kamu nyari cewek itu untuk apa? Siang kamu peras tenaganya, malam kamu peras susunya?”
Badrun ketawa ngakak. Suaranya bergema seolah menyusuri tebing-tebing Gunung Borneo.
Badrun pernah bekerja di Malaysia. Jadi imigran gelap. Ada banyak jalan tikus menuju ke Malaysia, tanpa perlu paspor. Dengan gaji sebulan 600 ringgit Malaysia, sesungguhnya cukup enak. Tapi di Malaysia dia bekerja sebagai petani. Pekerjaannya tiap hari menanam dan memetiki sayuran. Ia merasa terhina dan hanya betah tiga bulan. Ia kabur melalui jalan tikus. Berjalan hampir empat jam, menyusuri sungai-sungai kecil di tengah hutan.
Tentu saja dibandingkan dengan pekerjaan yang ditekuni sekarang, Badrun merasa lebih enak. Dalam sebulan ia dengan kerja malas-malasan bisa mendapat lebih dari lima juta rupiah. Tapi duit itu lebih banyak habis untuk foya-foya. Ia sering menghabiskan malam-malamnya di kedai kopi pangku.
Kedai kopi pangku, istilah mereka untuk café-café kaki lima yang menyediakan perempuan dengan layanan komersial. Ada perempuan Jawa, Dayak, Melayu, dan para amoy dari Singkawang.
“Pokoknya asal Abang mau nraktir sebotol bir, dapat itu cewek.”
“Gitu ya?”
“Coba aja besok kalau kita balik ke Entikong!”
Perjalanan dengan perahu bermesin berakhir di dusun Suruh Tembawang. Untuk melanjutkan lagi ke dusun Badat yang ada di atasnya, harus berganti perahu.
“Kita mesti ke rumah kepala desa dulu, Bang,…” Badrun menepikan perahu bermotornya.
Seorang lelaki bertubuh tegap menyambutnya di tepi sungai. Namanya Gak, anak suku Dayak Sukung. Wajahnya tampak masih lebih muda dibanding Mbambang. Penampilannya keras tapi modern.
“Ini kepala desa Suruh Tembawang, Bang,” Badrun memperkenalkan lelaki di hadapan Mbambang.
Keduanya bersalaman.
Gak, lengkapnya Gak Mulyadi, baru tiga bulan dilantik sebagai Kepala Desa Suruh Tembawang. Desa paling terdekat dari Entikong. Nama Mulyadi di belakang Gak, untuk menghormati bapak angkatnya yang bernama Mulyadi, yang menyekolahkan Gak hingga SMP di Entikong.
Sebagai kepala desa, Gak mempunyai daerah kekuasaan sangat luas. Membawahi 10 dusun yang berpencaran dari bukit ke bukit. Jauh lebih luas dari daerah kekuasaan walikota atau bupati di Jawa, bahkan mungkin lebih luas dari kekuasaan Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta.
Beberapa dusun di antaranya berbatasan langsung dengan Malaysia. Jarak satu dan lain dusun sangatlah jauhnya. Satu sama lain hanya dihubungkan dengan jalan setapak. Dipisahkan dengan sungai dan tak jarang harus naik-turun perbukitan.
Bukan hanya jarak tempuh yang jauh, namun karena medannya tidaklah mudah.
“Pak Gak ini dalam Pilkades tahun lalu, menang mutlak 90% suara,” Badrun membanggakan kepala desanya, “Katanya, para ibu-ibu mutlak memilihnya.”
Gak tertawa malu. Tubuhnya memang atletis dan sexy. Coba saja kalau mencapreskan diri, pasti ibu-ibu seluruh negeri pada lebay, dan memilihnya jadi presiden seperti ketika SBY dulu mencapreskan diri. Katanya, SBY lebih jantan dan cakep dibanding Megawati.
“Wah, hebat. Di Indonesia ini, yang bisa menang mutlak sebesar itu hanya Habieb Rizieq,…” Mbambang kagum juga dengan kemenangan Gak.
“Siapa itu, Bang? Capres?”
“Iya. Imam Besar FPI.”
“FPI? Klub sepakbola, Bang?”
“Yah, semacam itulah!”
“Bukannya Jokowi? Katanya dia sudah menang,…”
“Itu kan dalam survey. Tapi dalam Survey FPI kemarin, Jokowi keok. Dalam survey FPI itu, Habieb Rizieq diunggulkan 90% lebih, sementara Jokowi 0%!”
“Wah, hebat sekali. Apa dia juga keturunan Pangeran Diponegoro?” Badrun agaknya suka menonton televisi juga. Karena hanya itu hiburannya, jika sedang tak punya uang untuk menikmati kopi pangku.
Menjelang senja di Suruh Tembawang, tak terdengar sama sekali adzan maghrib. Karena memang tak ada masjid di desa itu. Kebanyakan penduduknya beragama Kristen Protestan. Ada banyak gereja di desa dengan penduduk mayoritas petani ini.
Bolam di ruang tamu rumah kepala desa menyala dengan parahnya. Voltage-nya turun-naik. Listrik di Suruh Tembawang berasal dari turbin mikro-hydro, memanfaatkan air sungai.
Ditemani minuman tuak air tape dan kue crackers dari Malaysia, Mbambang ngobrol bertiga dengan Gak dan Badrun. Gak agaknya seorang peminum yang cukup ampuh. Di beberapa sudut ruang tamu, terlihat beberapa botol minuman keras. Beberapa merk standar internasional.
Kurang dari satu jam, satu botol tuak dari air tape merah dihabiskan Gak. Padahal kadar alkoholnya jauh lebih dahsyat dibanding minuman keras yang boleh dijual bebas di toko-toko. Tak jarang tuak sulingan air tape yang dibuat tradisional itu, kadar alkoholnya mencapai 80% lebih. Dipantik dengan api bisa menyala dengan warna biru jernih. Jauh lebih bagus dibanding LPG dari Indonesia yang kalah bersaing dengan Gas Petronas Malaysia.
Segala jenis minuman, yang kadang dibelinya dari Malaysia, sudah dirasainya. "JD di Malaysia cuma 150 ringgit, di kita bisa 700 ribu, Bang!" kata Gak tiru-tiru memanggil Mbambang dengan sebutan Bang.
“Ayo, Bang, jangan malu-malu,…” Gak mengompori Mbambang yang memang malu-malu.
Bagaimana pun juga, Gak adalah kepala desa. Apa kata dunia jika ia mengajak kepala desa minum tuak bareng-bareng?
“Tak apa, di si sini bebas. Kepala desa itu ‘kan kalau di depan penduduk,…” Gak terus memanas-manasi Mbambang.
“Badrun bukannya penduduk?”
“Dia itu setan,…”
Mbambang dan Gak tertawa terbahak. Sementara Badrun diam saja. Sudah pulas mendengkur di atas tikar rotan.
“Kau ada lawan di rumah. Lha aku?” Mbambang melenguh.
Gak bergeser duduknya. Mendekat ke arah Mbambang, “Abang bisa pilih, yang perawan atau janda di sini,…”
Set, dah! | Bersambung ke jilid 44.


44 | Sendirian di ruang tamu, Mbambang gelisah tak bisa memicingkan mata. Bolam di ruang tamu padam, sementara Gak sudah setengah jam lalu meninggalkannya.
Sialan! Mbambang melenguh-lenguh. Sementara dengkuran Badrun terasa makin kencang. Bagai badai mahagora, dalam lagu Indonesia Mahardhikka Guruh Gypsy. Mbambang membayangkan betapa jika anak-anak muda seperti Badrun itu, berhimpun dari Sabang hingga Merauke, mereka bisa lebih dahsyat membangun kampung masing-masing. Dan tak perlu pedulikan lagi bagaimana orang-orang genit di Jakarta berpose di depan kamera televisi.
Tapi, bagaimana kalau Gak benar-benar mencarikan perempuan Dayak untuk menemaninya tidur?
Gila!
Mbambang gelisah. Ia coba pejamkan mata, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Rasa gigitan kecil bibir Dor di puting susunya, terasa menggigit. Tanpa sadar tangan Mbambang meraba putingnya. Masih terasa pedih.
Yang membuat hatinya kebat-kebit, jika ia bercinta dengan perempuan Dayak, alamat dia tidak akan mungkin meninggalkan tanah Kalimantan. Demikian kata mitos. Dan demikian yang membuatnya pusing.
Tapi ada hal lain yang membuatnya takut. Bagaimana pun juga tugasnya adalah mencari Kitab Pararaton. Itu tugas utamanya. Ia tak mau mengecewakan Kanjeng Ratu Kalinyamat untuk kedua kalinya. Ia tidak ingin kitab itu lenyap nyap begitu saja, seperti Surat Perintah 11 Maret yang hilang tiada bekas. Sementara begitu banyak kitab-kitab warisan para ortu kini bertebaran di Eropa dan Amerika. Dan ketika kita hendak membacanya, meski hanya lewat internet, kita mesti membayarnya.
Ia ingat ketika berada di pesantren Sunan Bonang. Pada jaman swargi Sunan Bonang, pesantrennya mempunyai banyak santri, dari berbagai kota dari Jawa, Sumatera, dan juga Borneo. Ada ribuan santri. Andaikan, ya andaikan, masing-masing santri itu kemudian menulis satu buku, mengingat ulang ajaran gurunya, pasti ada ribuan buku yang kelak bisa dibaca oleh generasi berikutnya. Tapi semuanya andaikan. Seperti lagu India, andaikan andaiki andaikan ndeka-ndeki,…!
Di almari kaca yang terkunci di pesantren Sunan Bonang, terdapat sebuah kitab setebal bantal. Pada lembar pertama yang dibuka, orang bisa melihatnya, buku itu ditulis untuk seorang ningrat di Kadipaten Surabaya. Kata seorang penjaga, artinya, kalau bukan orang yang disebut dalam persembahan buku itu, bisa celaka jika membacanya. Bisa mati, atau setidaknya sakit, bagi yang nekad melakukannya.
Oh, my Godness! Betapa ngenes! Lha terus, untuk apa buku itu ditulis, jika tak ada yang membaca, karena yang diijinkan membaca pun sudah meninggal, dan kita tidak tahu apakah anak-turunnya mendapatkan surat wasiat untuk boleh membacanya? Sebuah ilmu, tamat sampai di situ. Sia-sia. Tiada guna.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pendahulunya yang sakit. Dan kita sakit abadi karenanya.
Pagi-pagi Mbambang terbangun. Di ruang tengah, sudah tergelar sarapan pagi. Dua orang perempuan tampak sibuk menyiapkannya. Yang satu isteri Gak, yang satunya entah siapa. Mbambang belum melihat sebelumnya. Tapi tubuhnya kekar, seperti Chaterine Zetta Zone.
“Maaf, semalam listrik mati,…” Gak tiba-tiba muncul sambil menyodorkan segelas teh hangat.
“Mati atau memang dimatikan?” Mbambang menggoda.
“Mati, karena turbinnya kemasukan sampah,… jadi mesinnya nggak bisa putar.”
“Itu lebih baik. Gak bisa lebih tenang menjalankan tugas sebagai suami, ‘kan?”
Gak tertawa. Tapi ia kemudian berbisik, “Semalam anak itu sudah ke sini,…”
“Siapa?”
Gak menunjuk dengan lirik matanya ke arah Zetta Zone.
Darah Mbambang meriap di dada. Kenapa tidak ada pemain film Hollywood dari suku Dayak? Mbambang memaki-maki pemerintah. Indonesia begitu kaya-raya, tetapi Hollywood tidak sudi ke Indonesia, lebih memilih China dan Thailand. Dikiranya Indonesia tak pantas untuk menjadi setting film cerita yang mampu menggetarkan jagad raya.
“Bang Mbambang tidurnya seperti orang meninggal,…” Gak membuyarkan lamunan Mbambang.
“Kata siapa?”
“Semalam anak itu tidur di samping Abang,…”
Bergetar dada Mbambang. Jantungnya berdegup dengan irama rock ‘n roll.
Bagaimana kalau semalam ia diperkosa Chaterine Zetta Zone itu? Dan jika itu terjadi, bagaimana jika Mbambang tak bisa kembali ke Jawa? Sihir Dayak telah mencencang melalui penisnya.
“Ke mana Badrun?”
“Dia sudah turun sebelum terang tanah,” jawab Gak mengamati raut wajah Mbambang.
Pusing Mbambang membayangkan, bagaimana ia meneruskan perjalanannya di dusun di atas tebing Badat?
Usai mandi di sungai Sekayam, Mbambang kemudian sarapan pagi. Hanya dia dengan CZZ (Chaterine Zetta Zone) di ruang tengah.
Sial!
Gak dan isteri agaknya sengaja menyingkir.
Tapi benar. Ini benar-benar CZZ. Paras wajahnya yang kokoh. Sinar matanya. Rambutnya. Bahunya. Dadanya. Panggulnya. Pantatnya. Pahanya. Sepertinya juga kuku di jari sebelah kirinya.
Beberapa saat tidak ada pembicaraan. Keduanya saling diam. Di tikar rotan tergelar masakan aneka rupa. Semuanya hasil kebun sendiri. Tapi ada juga kerupuk buatan Malaysia.
Di warung-warung penduduk, kebanyakan memang didatangkan dari Malaysia. Lebih murah dan katanya lebih enak. Kecuali untuk rokok dan mie instan. Di Indonesia ini, pabrik rokok agaknya hanya ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Entahlah, setelah pemerintah mengumumkan; Merokok Membunuhmu. Maka sebelum terjadi pembunuhan dengan rokok, pemerintah mestinya sudah menangkap atau membunuh si pembunuh itu. Entah melarang menanam tembakau, atau membunuh para petani pelan-pelan dengan cara seorang ksatria membunuh musuhnya.
Khusus mie instan, di Malaysia justeru banyak beredar Indo Mie buatan Malaysia. Dan beberapa di antaranya, masuk juga ke beberapa kampung-kampung perbatasan.
Pusing juga Mbambang mau memulai percakapan.
Sialan! Bukannya ngobrol Mbambang malah horny. Jadi makin susah untuk mulai pembicaraan. Apalagi out position.
“Ke mana Badrun,…” akhirnya keluar juga dari mulut Mbambang.
“Bukannya tadi sudah bertanya pada bang Gak?” tukas CZZ. Skak-macth.
Mbambang terdiam. Mestinya dia menjatuhkan pewangi ketek, biar CZZ memungutnya, dan kemudian dia akan menyambutnya. Sebagaimana pangeran dari Perancis, yang mesum tapi kelihatan sopan?
“Terus, bagaimana aku ke dusun Badat nanti?” Mbambang pusing juga membayangkan berjalan sendirian di tengah hutan raya Kalimantan.
“Bang Gak meminta saya mengantar Abang,…” CZZ berkata datar saja.
“Kamu?”
“Nama saya Iang, panggil saja begitu,…”
“Boleh enggak dipanggil bukan Iang?” Mbambang mulai menemukan celah omongan.
“Orangtua saya memberi nama itu.”
“Boleh aku memanggilmu Zetta?”
“Zetta artinya apa?”
“Itu bahasa suku Amazone. Artinya, kau perempuan yang diberkati dewa-dewa.”
Iang yang dipanggil Zetta itu menatap Mbambang. Mulutnya sedikit terbuka.
Iang tidak tahu kalau Mbambang sedang menipunya. Tapi Mbambang serius balik menatap tatapan Iang.
“Boleh juga,” Iang akhirnya menukas pendek.
“Bagaimana Zetta mau menemaniku? Kata Badrun, medannya sangat sulit.”
“Nanti kita buktikan,…”
Mbambang tak berkutik. Untuk kekuatan fisik, pastilah Mbambang kalah. Perempuan-perempuan Dayak adalah manusia rimba. Gak bercerita, bagaimana ibu-ibu dengan tas punggungnya, berjalan kaki ratusan kilo hanya untuk mendapatkan tabung gas tiga kiloan.
Begitu sangat tergantungkah dengan gas? Bukankah tersedia kayu bakar berlimpah di Kalimantan? Mengapa sudi dibela-belain jalan kaki menyusuri lembah dan bukit, untuk mendapatkan tabung gas tiga kiloan? Benar-benar menakjubkan.
Dan Chaterine Zetta Zone yang bakal menemani perjalanannya ini, pastilah juga perempuan perkasa. Mbambang memperhatikan panggul Iang. Dengan pandangan cukup terlatih, Mbambang tahu pantat Iang begitu padat berisi. Entahlah, pantat itu sebetulnya berisi apa.
Matahari sudah naik ke ubun-ubun. Dan jika ubun-ubun itu tidak kuat, pasti gosong terbakar tiada tara. Mlocot-mlocot.
Mbambang dan Chaterine Zetta Zone menyusuri tebing Suruh Tembawang. Berdua saja.

45 | Belum juga setengah jam, nafas Mbambang sudah menembus lubang telinga. Ngos-ngosan. Sementara kakinya terasa makin berat diangkat. Apalagi tanah berlumpur karena hujan.
Dilihatnya CZZ tampak begitu tegar dan segarnya. Apalagi dengan keringat yang melekat di wajah dan lehernya. Bukan hanya segar, tetapi lebih segar dari yang disebut segar. Sayang ahli bahasa kita hanya menyebut itu sebagai ‘segar banget’ atau ‘lebih segar’. Sehingga kita sering bingung ketika hendak menyebut sesuatu secara berlebihan tanpa terdengar norak. Sementara sebuah cerita kalau tidak disangat-sangatkan, sepertinya ampang. Makanya Arswendo pernah menulis buku; Mengarang itu Ampang. Dan bertebaranlah karya-karya ampang.
Satu jam perjalanan, Mbambang menyerah. Di tebing sungai, Mbambang minta berhenti. Ia melihat sebuah pondok tersembunyi di balik gerumbul pohonan. Satu-satunya gubug yang ada di kawasan itu. Ada antenna parabola di sana.
Mbambang dan Iang pun akhirnya singgah ke gubug Yanto. Ya, begitu namanya.
“Dari Jawa?” Mbambang bertanya.
“Bukan.”
“Lho?”
“Saya aseli Dayak, dari suku Sukung,…” lelaki bernama Yanto itu menjelaskan. Rambutnya putih, sekali pun umurnya hampir sama dengan Gak. Masih muda. Mungkin matahari membakarnya tanpa ampun. Apalagi jika pas di garis khatulistiwa, matahari seolah begitu dekatnya dengan tanah.
Yanto orang yang ditemui pertama kali di tengah hutan. Ia seorang peladang berpindah. Kadang ia bertanam jagung, sahang atau merica, lada hitam, pulut atau ketan.
Namanya juga peladang berpindah. Ladangnya berpindah-pindah. Bukan karena tuan tanah dengan banyak ladang, tapi ia harus membuka ladang terlebih dulu. Membakari hutan, kemudian mendiamkannya selama 6 bulan, lantas mengolah tanah, dan baru kemudian menanaminya. Sehabis panen, ia harus cari tempat lain lagi. Sekali babat hutan, bisa sampai 3-6 hektar, tergantung lokasi dan kemampuannya. Dan di Kalimantan, dengan bukit-bukitnya, lahan kosong masih sangatlah luas.
“Dikerjakan berapa orang?” Mbambang bertanya. Ia perhatikan di gubug itu Yanto tinggal sendiri. Di dalam gubugnya, yang hanya berdinding bekas kain baliho, spanduk partai atau pilkada, dan juga spanduk iklan sepeda motor.
“Sendiri.”
“Sendiri?”
“Ya,…”
Yanto membuatkan kopi panas untuk Mbambang dan Iang. Meski gubug itu sederhana, dengan tiang dari bambu, dan dinding seadanya, tetapi di dalamnya cukup memenuhi syarat untuk menikmati hidup nyaman.
Di gubugnya terdapat sebuah pesawat televisi 21 inc. Jenis LED produk mutakhir. Ada pula DCD Player dan beberapa keping CD Karaoke. Ada lagu-lagu Obbie Mesakh, Rinto Harahap, Endang Purwasih.
“Tak ada lagu karya SBY?”
“Macam mana lagunye? Tak ade hal,…” Yanto menukas datar saja. Wajahnya tanpa ekspresi.
Darimana ada listrik di tengah hutan itu? Yanto mempunyai mini-genzet untuk kebutuhan listrik. Antena parabola, agaknya mampu menangkap beberapa saluran stasiun Jakarta, dan beberapa dari Serawak. Ada juga kompor gas ternyata, dengan tabung gas lima kiloan, warnanya biru, dari Petronas, Malaysia.
Tapi ini bukan kemah plesiran. Yanto sudah bertahun-tahun menjalaninya. Mempunyai isteri dan anak, yang tinggal di kota, Yanto memilih bekerja di ladang-ladang pedalaman. Sendirian. Ia tinggal mengurus surat ijin dan pemberitahuan untuk pekerjaannya itu ke pemerintah setempat.
“Sekarang apa yang ditanam?”
“Sahang.”
“Sahang itu apa?”
“Merica.”
Menanam sahang, lebih menguntungkan, karena sekilo dia bisa jual di Malaysia seharga Rp 40-an ribu. Kenapa ke Malaysia? Untuk mencapai pasar Malaysia, dan di sana banyak tukang tadahnya, hanya butuh waktu 2-3 jam, dengan sepeda motor menembus hutan atau jalan setapak. Sedang ke pasar Entikong, harus jalan kaki. Sambung speedboat. Jalan kaki lagi. Speedboat lagi. Membutuhkan waktu 12 jam kalau air sungai baik. Dan biayanya? Bisa habis di atas Rp 1 juta. Karena untuk speedboat saja, akan habis bensin 80-an liter. Satu liter bensin di Kalimantan, tidak semurah di Jawa. Sudah demikian, harga pembelian di Entikong lebih rendah dari Malaysia.
Kalau hasil baik, dari ladang pulut misalnya, dalam setahun dan sekali tebas, Yanto bisa mendapat sedikitnya Rp 200 juta. Untuk sahang dan lada hitam, akan jauh lebih tinggi lagi.
“Kita bisa kesorean sampai ke Badat, Bang,” Iang mengingatkan.
Dengan berat hati, Mbambang berpamitan pada Yanto.
Jalan rintisan proyek pemerintah pusat, baru dimulai dengan cara mengiris bukit-bukit dan hutan. Tapi di musim hujan, dengan kontur tanah liat, justeru jalan darat itu seolah jadi neraka tersendiri. Sepatu gunung yang dibeli Mbambang di Entikong, hanya tahan sehari. Dan jebol sudah.
Belum lagi begitu banyaknya sungai-sungai kecil memotong jalan, dan hanya berjembatan potongan batang pohon yang butuh keahlian melintasinya.
Mbambang teringat pidato mengharukan dari SBY. Betapa presiden memikirkan mobil murah, ramah lingkungan, hybrid, untuk rakyatnya yang tinggal di desa-desa. Sementara itu, dari berita yang dibacanya, pengusaha pemegang lisensi untuk bisnis mobil murah mengakui, 70% mobil murah itu dibeli oleh orang Jabodetabek, dan sisanya baru ke daerah-daerah.
Dari gubug Yanto, terlihat tikungan Riam Pelanduk, pangkalan paling berbahaya di sepanjang Sei Sekayam. Dinamakan Riam Pelanduk, karena hanya mereka yang punya akal pelanduk, alias kancil, yang bisa lolos selamat dari ancamannya. Sudah banyak sampan hancur dan orang tewas tenggelam di situ.
Desa Suruh Tembawang adalah batas atas dari dusun-dusun di bawah menuju Entikong, sementara di atas Riam Pelanduk, dusun-dusun paling pinggir, di atas perbukitan, berbatas langsung dengan Malaysia.
Nyamuk seolah terus berpesta pada tubuh Mbambang. Sementara Iang tampak tenang saja. Mereka kemudian menuruni tebing, melanjutkan perjalanan melalui sungai kembali. Suruh Tembawang adalah dusun terakhir yang bisa dijangkau dengan perahu motor. Setelah itu, karena ada riam yang jeram di sungai itu, untuk ke dusun di atasnya, mereka harus melalui jalan darat. Menghindari Riam Pelanduk yang curam. Dari sini kembali menyusuri perjalanan melalui sungai, menuju ke desa Badat Lama.
Perjalanan masih sekitar empat jam lagi. Dan itu pun hanya mengantar mereka ke dusun Badat Baru, yang terdekat dengan arus sungai. Selebihnya harus menempuh jalan darat lagi. Naik ke perbukitan dengan jalanan yang ampun buruknya, sepanjang dua jam dengan sepeda motor. Jika hari hujan dan jalanan jeblok, bisa jadi lebih lama lagi.
Tapi hari itu tak ada ojek. Hari mulai gelap. Dan gerimis mengundang.
Mbambang dan Iang baru saja sampai di tepi dusun Badat Baru. Dinamakan Badat Baru karena ini memang dusun baru, pecahan dari dusun Badat yang kemudian dinamakan Badat Lama. Badat Lama masih dihuni orang-orangtua Badat, yang tidak mau berpindah tempat ke tanah yang berada di bawahnya. Mereka merasa harus tetap mempertahankan adat Dayak, sekali pun sesungguhnya di rumah-rumah Badat Lama juga banyak perkakas modern. Seperti kompor gas, dengan tabung gas Petronas dari Malaysia, termos air, dan berbagai alat rumah tangga buatan Malaysia. Hanya tidak ada perkakas dan peralatan listrik, karena listrik memang belum sampai ke sana. Itu berbeda dengan Badat Baru, yang sudah memanfaatkan listrik, meski masih dengan listrik tenaga mikro-hydro seperti di Suruh Tembawang. Mereka membuat turbin dengan memanfaatkan arus sungai. Setidaknya, jika malam menjelang, kehidupan masih berlangsung. Ngobrol di teras rumah, atau menonton televisi.
Gerimis terasa makin deras. Mbambang dan Chaterine Zetta Zone terpaksa berteduh di sebuah gubug tengah ladang.
Malam mulai menurunkan tirainya.

Minggu, April 13, 2014

SEPULUH KISAH CALEG GAGAL


KISAH PERTAMA  | Seorang caleg gagal tiba-tiba mendatangi kantor polisi, "Pak Polisi, Pak Polisi, ada kecelakaan, ada kecelakaan,…"
"Siap! Dimana, Pak?"
"Tadi saya lihat di TV,…"

*

KISAH KE-DUA | Seorang caleg gagal menuju ke stasiun lintasan kereta-api, bertanya pada penjaga pintu lintasan, "Kereta dari Yogya-Jakarta, lewat sini pukul berapa?"
"3.30"
"Kalau dari Surabaya?"
"4.30"
"Kalau dari Semarang?"
"Trus, bapak ini cuma mau nyeberang 'kan? Lelucon basi!"
"Bukaaaan, ini serius saya mau bunuh diri,…"
“Brarti bapak kesiangan bangunnya,…!”

*

KISAH KE-TIGA | Seorang caleg gagal tampak sedang serius, menulis sesuatu pada selembar kertas. Datang seorang jurnalis fesbuk bertanya, "Bapak ini nulis apaan, sih?"
"Lho, nggak lihat? Kan nulis surat!"
"Hare gene nulis surat? Kan bisa sms atau email. Surat untuk siapa?"
"Untuk aku sendiri,…"
"Trus, isinya apa, Pak?"
"Mana aku tahu, wong belum dikirim. Belum juga rampung nulisnya,…"

*

KISAHKE-EMPAT | Seorang caleg gagal kini lebih banyak duduk termenung di depan laptop. Suatu ketika ia mengundang cucunya, "Kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Aku wariskan semua kekayaan kakek,…"
"Oh, ya Kek? Yang bener?"
"Semua pabrik, sawah, gudang, sapi, deposito bank,…"
"Cucu nggak pernah dengar dan lihat semuanya itu,…"
"Kusimpan di Farmville . Tapi aku lupa passwordnya, Cu,…"

*

KISAH KE-LIMA | Seorang caleg gagal mengumpulkan anak-anak dan isterinya.
"Kaliva, kamu anak tertua mewarisi Apartemen Kuningan,…"
Kaliva mengangguk.
"Winardi, kamu kuberi seluruh kawasan Kelapa Gading Indah,…"
Winardi mengangguk.
"Miracle, sebagai anak bungsu, kamu kuwarisi perkantoran Mulia Tower,…"
Isterinya terheran-heran dan bertanya, "Pap, nyebut, Pak, nyebut,…"
"Emang kenapa?"
"Kegagalan jadi caleg nggak usah dipikirin banget-banget. Bapak ini 'kan cuma tukang loper susu,…"
"Lho, lha iya. Itu daerah yang kuwariskan ke mereka bertiga. Bapak punya banyak pelanggan di situ,… Bapak tetep mau ke Senayan!”
“Lho, kan bapak nggak lolos?”
“Tapi di sana pasti banyak yang suka susu,…”

*

KISAH KE-ENAM | Seorang caleg gagal rambutnya awut-awutan, duduk termenung di depan rumah. Tetangganya datang mendekat, "Mbok rambutnya dirapiin, jangan kayak gitu, nanti dikira,…"
"Aku nggak punya sisir,…"
"Lah, kan bisa pinjam ibumu."
"Kan Ibuku sudah wafat."
"Wah, kuwalat kamu. Ibu masih idup dibilang wafat. Lha ‘kan bisa pinjam sisir ayahmu,…"
"Ayahku gundul,…"

*

KISAH KE-TUJUH | Seorang caleg gagal duduk-duduk bengong di ruang tamu. Isterinya mendekat, "Biasanya hari gini kan kamu main golf ama si Kaliva."
"Apa kamu mau main golf lawan orang curang?"
"Ya enggaklah. Siapa juga yang mau main ama orang curang!"
"Itulah yang Kaliva bilang padaku!"

*

KISAH KE-DELAPAN | Seorang caleg gagal menerima telpon. Tapi hanya sekitar 30 menit, pembicaraan selesai. Isterinya keheranan, "Kok cuma sebentar? Biasanya, kalau udah ngobrol politik bisa telponan sampai berjam-jam,…"
Sang suami menjawab bijak, "Itu tadi salah sambung,…"

*

KISAH KE-SEMBILAN | Kali ini bukan seorang caleg gagal, tetapi sepasang suami-isteri yang keduanya maju caleg. Dan keduanya gagal. Sang isteri pagi-pagi datang ke seorang dokter jiwa, "Dokter, tolonglah kami. Suami saya selalu merasa bahwa dirinya adalah ayam."
"Mengapa Ibu tidak mengajaknya serta kemari?"
"Saya maunya gitu, membawanya kemari. Tapi saya lagi butuh telur. Biar dia bertelur dulu, ya, dok?" 

*


KISAH TERAKHIR | Seorang caleg gagal, yang masih muda, mendatangi ayahnya, "Ayah, saya ingin menikah."
"Itu baik, dan kau bisa lupakan kegagalan kemarin. Siapakah calon isterimu?"
"Nenek!"
"Tunggu. Stress boleh tapi jangan gila kayak gini. Nenekmu itu ibuku, tahu!"
"Apa bedanya? Ayah juga nikahin ibuku! Dasar ayah gila!"

*

BONUS | Seorang caleg gagal, yang tinggal di kawasan Slipi, Jakarta, pinjam handphone pada isterinya. HP-nya sendiri amblas diberikan tim-suksesnya. Tapi beberapa jam setelah itu, suaminya hilang. Di tunggu sampai sore, belum juga pulang.  Meminjam handphone anaknya, sang isteri menelpon suaminya, “Kamu di mana?”
“Mbogor,…” terdengar jawaban suaminya di handphone.
“Lha, ngapain?”
“Tadi, aku sms teman di Mbogor.”
“Terus?”
“Aku bawalah handphonemu itu sampai ke Mbogor.”
“Lho ngapain? Kan tinggal sms saja? Alesan. Kamu pasti ada main ke Mbogor,…”
“Kalau dia nggak lihat monitor handphone yang kupakai sms itu, gimana dia bisa membaca isi sms-ku?”

Kamis, April 10, 2014

Politik Keledai 2014, Urung-urung Wis

Dalam adagium Jawa, dikenal istilah 'hurung-hurung wis,...' (belum-belum sudah,...) ungkapan untuk menunjukkan belum apa-apa, sudah melakukan ini dan itu. Dan itulah kelakuan partai politik di Indonesia.
Belum juga penghitungan hasil suara pileg rampung (baru ngerti dari quickcount), beberapa orang partai sudah ngomong soal koalisi ini dan itu dengan berbagai kalkulasinya. Dari semua omongan mereka, muaranya sama, bisa berkoalisi dengan siapa saja. Tidak ada perbedaan yang jauh dan prinsipil, karena platform masing-masing partai relatif sama.
Anak saya yang baru pertama kali memilih kemarin, sampai pada pertanyaan yang sulit saya jawab. "Saya pilih partai ini, karena saya tidak mau milih partai itu." Lantas masalahnya di mana? "Masalahnya, sekarang partai ini mau bekerjasama dengan partai itu,..."
Tentu saja, politik bukan sesuatu yang mudah dijelaskan, apalagi praksis politik di Indonesia yang lebih berorientasi pada kekuasaan. Jika dikatakan bahwa masing-masing partai tidak mempunyai perbedaan ideologi yang menonjol, memang demikian adanya. Bahkan ideologi mereka sama persis, yakni ideologi kekuasaan.
Jadi, teriakan-teriakan gagah parpol di panggung-panggung kampanye dan media itu? Itu gimmick, itu teater, itu akting, itu anjing. Dan untuk itu, bahkan mereka membangun melodrama, pseudo-teater, common-sense dan sekaligus common-enemy. Agar kemudian produksi simpati publik bisa diraih.
Tapi setelah suara diraih? Suara itu sama sekali tidak dihargai, karena memang tidak ada kontrak, tidak ada komitmen. Apa rakyat bisa cawe-cawe turun tangan, ketika wakil rakyat yang dipilihnya dulu salah jalan atau bertindak tidak sesuai keinginan aspirasi rakyat? Tidak ada cara dan jalannya.
So? Ini patah hati pertama kali anak saya dengan politik. Dan saya membatin, anak ini akan potensial golput kelak.
Ini tragedi politik kita. Di bawah, ada orang yang mau lihat dan ikut kampanye parpol A, dan bukan B. Simpatisan partai C bisa bentrok dengan simpatisan partai D. Bahkan karena itu, bisa terjadi anarkisme, perkelahian, sampai jatuhnya korban. Untuk apa semuanya itu ketika dibela-belain menempeli kendaraannya dengan sticker, memakai bendera, syal, ikat kepala, dan dicoreng-coreng wajahnya dengan simbol-simbol partai? Kebodohan? Betapa anjing dan teganya penyebutan itu.
Semua itu, melahirkan apatisme, dan golput karena kesadaran, akan selalu terus hadir. Jika benar perhitungan sebuah lembaga survey tentang Golput, dalam Pemilu 2014 ini merupakan kemenangan mutlak Golput karena mencapai angka 34%. Tak ada parpol pun yang bisa melampaui angka itu kalau kita sama-sama percaya quick-count.
Siapa yang membuat itu? Para politikus yang tidak paham politik sehingga tidak bisa memberikan pendidikan politik publik. Pemerintah yang tidak memberikan arah pada perjalanan ke depan bangsa dan negara. Dan dalam hal ini KPU dan Bawaslu, yang sudah tahu ini pekerjaan lima tahun sekali (artinya disiapkan sepanjang 5 tahun) dengan persoalan dan data entris yang sama, tapi masih saja melakukan kesalahan yang sama.
Berapa orang terpaksa Golput karena ulah KPU dan Bawaslu ini? Tanya orang-orang di luar Jawa. Di pelosok Papua, Sulawesi, NTT, NTB, Nunukan, dan seterusnya dan sebagainya. Jangankan itu, sementara di Bogor saja, bisa didapati di satu TPS kartu suara sudah dicoblos sebelum sampai ke pemegang DPT. Bagaimana di Badui, semua jadi Golput karena di kertas suara tak ada foto, sementara mereka buta huruf? Di Polemandar azas luber-jurdil dilanggar oleh KPPS-nya sendiri. Ada yang salah kirim padahal satu dan lain daerah itu tak bisa ditempuh dalam setengah hari. Ada TPS sampai habis jadwal belum dapat kiriman logistik, ada pula satu wilayah sampai hari H belum mendapatkan kartu pemberitahuan atau undangan memilih, dan seterusnya. Semuanya itu menimbulkan frustrasi, karena ini Pemilu ke empat yang dilakukan paska kekuasaan Soeharto.
"Demokrasi? Basa-basi!" sebagaimana dinyanyikan Slank.

Senin, April 07, 2014

Black Campaign Hanya Dilakukan Oleh Orang-orang Kalap.



Hari-hari ini, menjelang Pemilu 2014, kita membaca berita-berita yang menarik di media mainstream dan beberapa media online. Ada dua berita menarik (Senin, 7 April 2014); soal Jokowi pidato di Papua, dan Anis R. Baswedan menolak jadi cawapres Prabowo. Ada juga berita yang cukup simpatik soal Bill Gates diam-diam ke UGM sebelum ke Jakarta.

STOP PRESS | Berita yang mengeutkan hari ini, adalah juga soal Freeport. Pemerintah akhirnya takluk menghadapi Freeport yang ingin lebih lama lagi berada di Papua. Kontrak karya (KK) perusahaan raksasa tambang asal AS ini diperpanjang 2 kali 10 tahun atau hingga 2041.
“Para pengusaha ini minta kepastian perpanjangan karena telah membenamkan dana investasi besar. Ini poin titik temu kami,” kata Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seperti dikutip dari Kontan, Senin (7/4/14).
Dengan perpanjangan durasi KK tersebut, berarti Freeport menambang di Papua selama 74 tahun. KK pertama PT Freeport Indonesia ditandatangani tahun 1967, tepat begitu Undang-undang Penanaman Modal Asing (UU No. 1 Tahun 1967) diberlakukan oleh Presiden Soeharto sebagai penanda dimulainya Orde Baru.
KK kedua ditandatangani tahun 1991. Seturut KK kedua ini, masa kerja Freeport akan berakhir pada 2021. Namun menjelang tenggat waktu itu, pemerintah ternyata memperpanjang kembali masa kerjanya hingga 2 x 10 tahun (sampai tahun 2041).
Perpanjangan KK itu sebenarnya bertentangan dengan UU No 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (minerba). UU ini menyatakan bahwa, KK setiap perusahaan yang habis masa kontraknya tidak akan diperpanjang. Rezim KK akan dihapus, diganti dengan rezim IUPK (izin usaha pertambangan khusus) yang setara dengan pertambangan biasa. Ingat, ini keputusan pada akhir kekuasaan SBY, dan cermati kelak apa yang akan diterima oleh pemerintahan sesudahnya.

Berita-berita lain? Seperti biasanya, berisi black campain, hujatan pada Jokowi, teori konspirasi, yang selalu saja: Bukan realitas sosial atau peristiwa, tetapi lebih merupakan berita opini (perspective), yang biasanya ditulis dengan cara misterius, mewawancarai narasumber yang "disembunyikan" tapi dibilang orang yang representatif di bidangnya. Apalagi kalau sudah menyebut-nyebut konspirasi internasional atau agenda setting, dengan menyamarkan sumber berita atau nara-sumber, sehingga berita tak bisa dikonfirmasi (berita semacam ini kebanyakan dikonsumsi mereka yang culun sebagai pengguna internet, dan tanpa sadar menjadi bagian dari loudspeaker, semacam cheer’s leader dalam berbagai perhelatan). Ditulis dengan gaya bahasa yang provokatif tapi miskin logika. Seolah menguasai seluruh akses informasi dunia, padahal pola kerjanya seperti paranormal yang hanya otak-atik gathuk, copast sana-sini-situ, meski sering berlagak lebih canggih dari intelijen paling andal di dunia (padahal sering modalnya hanya laptop dan nebeng di hotspots area, atau ngumpet dari warnet ke warnet).
Ada juga satu berita tak penting, tentang wawancara Biro Pers Kepresidenan dengan SBY, hanya untuk mencuri fokus, memberikan posisi tawar di dua kaki antara Prabowo dan Megawati.
Jika semua berita-berita hari ini ditujukan pada isyu-isyu di seputaran pemilu 2014 dan utamanya capres 2014-2019, seberapakah dampaknya sebagaimana yang diinginkan pemberitaan-pemberitaan itu? Pandangan mikroskopik itu akan menjebak kalkulasi kita sendiri. Karena sebagaimana kerja mikroskop, ia membesarkan yang kecil, dan tidak fokus pada yang berada di luar ring fokusnya.
Sementara tak bisa dipungkiri, politik yang sebenarnya, tak pernah bisa dicopot dari realitas sosial yang mengitarinya. Dunia maya sungguh-sungguh hanyalah maya. Mereka yang mengandaikan dari maya ke nyata, tak boleh melupakan dalil kebenaran, bahwa apa yang dikatakannya benar barulah diakui kebenarannya jika ia memiliki kaki-kaki yang menginjak ke tanah kenyataan itu sendiri. Karena bagi masyarakat nyata, seorang pemimpin hanya dipercaya kehadirannya ketika mampu singgah di hati, bukan sekedar di otak, apalagi hanya otak kiri (karena otak kanan tak terlatih dan atau sudah mati).
Saya ingin kutipkan sebuah tulisan mengenai mengapa semua itu bisa terjadi. Bahwa tak ada pemimpin tiba-tiba. Ketika orang disayang oleh masyarakat luas, menjadi meia darling, pasti ada sejarahnya, sebagaimana seseorang dibenci oleh banyak orang karena perbutan-perbuatan buruknya.  
Dalam sebuah tulisannya; The Science of Leadership, "WHY TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP WORKS", Joseph H. Boyett, Ph.D., dari Boyett & Associates mengatakan; Pemimpin transformasional sukses karena mereka menyadap (mungkin tepatnya 'menyerap') beberapa kebutuhan paling dasar manusia, seperti kebutuhan untuk rasa identitas, kebutuhan untuk memiliki, kebutuhan untuk merasa baik tentang upaya kita, kebutuhan untuk merasa bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang istimewa, kebutuhan untuk percaya bahwa masa depan kita adalah perpanjangan harapan masa lalu kita, dan kebutuhan untuk merasa bahwa kita mencapai sesuatu worthwhile dengan kehidupan kita. Singkatnya, kepemimpinan transformasional bekerja karena kebanyakan dari kita sebagai pengikutnya sangat ingin bekerja.
Boyett tidak begitu membedakan antara pemimpin transformasional dengan pemimpin kharismatik, meski menurutnya mempunyai perbedaan utama.
"Pemimpin Karismatik" biasanya menekankan pengaruh yang ideal/charisma dan aspek motivasi yang inspirational (dari transformasi kepemimpinan transformational) sebagai kunci kepemimpinan perilaku, yang membuat gaya kepemimpinan ini diterima.
Semuanya berproses secara bertahap. Pertama, diturunkan dan menjadikan alam semesta sebagai pusatnya. Pada tahap ini seseorang mempertahankan fantasi kemahakuasaan, yang dikonfirmasi oleh respons dari pendadaran lingkungannnya.
Keterikatan kita pada pemimpin, didasarkan pada rasa ke-putusasa-an kita untuk merebut kembali bahwa "kami kehilangan surga masa kecil kami”. Dengan adanya pemimpin kharismatik, 'kami' kembali menjadi lengkap dan berharga. Pemimpin sebagai jawaban untuk ruang kosong dalam jiwa kita. Tidak ada rasa rasa komunitas, tradisi, dan berbagi makna yang memberi generasi sebelumnya rasa penguasaan, keyakinan pribadi dan harga diri. Bahkan menurut Cushman, evidence kekosongan emosional ini ada di mana-mana. Yakni, terutama, pada harga diri yang rendah. Tidak adanya rasa nilai pribadi. Yang ada adalah nilai kebingungan. Tidak adanya rasa keyakinan pribadi. Keharusan untuk mengisi kekosongan dengan induksi kimia emosional berupa pengalaman. 

Kelaparan untuk bimbingan rohani. Keinginan untuk diisi oleh dzat Tuhan, oleh agama, kebenaran, oleh kekuatan dan kepribadian seorang pemimpin atau guru. Dan terutama konsumerisme kronis.
Keharusan untuk mengisi kekosongan dengan barang-barang konsumen dan pengalaman "menerima" sesuatu dari dunia. Pemimpin sebagai "Good Parent", sebagaimana Soeharto memerankan dirinya, atau ada orang mendaku sebagai keturunan Pangeran Diponegoro, dan sebagainya (contoh soal dari SW).
'Kami' (kumpulan individu) ingin merasa penuh harapan tentang masa depan. Pemimpin karismatik menanamkan dalam diri kita keyakinan; bahwa semua akan baik sekali jika kita hanya mengikuti dia.
Sementara, pendapat lain tentang kepemimpinan transformatif, mempunyai ikatan yang jauh lebih efektif, karena model kepemimpin transformasional lebih memberikan perhatian individu: mendengarkan, sensitif, terutama dibutuhkan untuk kebutuhan pribadi, dan untuk pengembangan serta pertumbuhan.
“Pemimpin Transformasional” berkomunikasi menggunakan pesan emosional. Terbuka dan ekspresif. Terlibat dalam hangat, penuh kasih, dan menerima komunikasi emosional. Ia mengatur tantangan realistis dan menginspirasi kemampuan seseorang untuk mencapainya. Karena itu, ia lebih mengembangkan otonomi, motivasi dan inisiatif dalam diri pengikutnya.
Menciptakan rasa identitas, nilai dan kompetensi, pada tingkat individu dan kelompok. Menerima dan memperkuat individu mengembangkan kebutuhan untuk mandiri. Memperkuat rasa berharga, identitas, dan kompetensi. Bertujuan kerja dengan standar kinerja, tetapi tidak kritis menghakimi. Mengatur keterbatasan, menetapkan aturan bagi yang tidak disiplin, tetapi tidak mengkritik, tidak dominan, menekan atau melarang tanpa alasan.
Pemimpin transformasional menyediakan kesempatan untuk pengalaman dan re-inforces kesuksesan. Memberikan stimulasi intelektual; merangsang imajinasi dan berpikir, serta mengembangkan kreativitas.
Pemimpin transformasional membangun perasaan harga diri, self generations, kompetensi, kemandirian, motivasi batin diarahkan, kemauan untuk menginvestasikan upaya lebih lanjut dan berusaha untuk sukses. Memungkinkan orang untuk memanfaatkan potensi individu dan organisasi mereka. Menghasilkan rasa harga diri, kematangan emosional, kompetensi, kemerdekaan, berorientasi prestasi. Pemimpin transformasional mempunyai kepercayaan penuh dan rasa hormat, dan menciptakan perasaan kekaguman dan bangga berada di dekatnya. Menjadi contoh pribadi. Berfungsi sebagai model imitasi dan identifikasi.
Yang paling penting, pemimpin transformasional mengembangkan kepemimpinan transformasional yang dapat menggantikannya. Dengan menjadi ketua umum partai politik, semasa masih menjadi presiden, hingga ke pemilu ini, SBY bukanlah contoh kepemimpinan transformatif itu tentu.
Pada sisi lain, manusia tidak hanya pragmatis dan berorientasi pada tujuan, tetapi juga individu yang ber-ekspresi. Perilaku menganggap 'perilaku yang tidak hanya kalkulatif', tetapi juga ekspresi perasaan, estetika nilai-nilai dan konsep diri. Semua itu dilakukan karena dengan melakukan itu, mereka membangun dan menegaskan identitas untuk diri kita sendiri.
Orang-orang termotivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan harga diri mereka (identitas dan komunitas) dan harga diri-sendiri. Penghargaan didasarkan pada rasa kompetensi, kekuasaan, prestasi atau kemampuan untuk mengatasi dan mengendalikan lingkungan seseorang. Harga diri didasarkan pada rasa kebajikan dan nilai moral, dan didasarkan pada norma-norma dan nilai-nilai tentang perilaku.
Evaluasi-diri merupakan sumber penting dari motivasi intrinsik: Rakyat. Reaksi terhadap penampilan mereka sendiri, berfungsi sebagai prinsip sumber penghargaan dan hukuman.
Bagaimana kepemimpinan transformasional melakukan pekerjaannya? Apa itu pemimpin transformasional yang membuat begitu menarik? Mengapa kita menginginkan perubahan dalam cara kepemimpinan kita? Ada apa dengan jiwa kita yang membuat kita begitu terbuai atas ‘upaya’ tipu muslihat pemimpin transformasional ini?
Tidak ada jawaban yang pasti untuk hal itu. Beberapa peneliti kepemimpinan memiliki beberapa teori atas hal itu. Mungkin jawaban sederhana adalah; ia bekerja karena 'kami' menginginkannya untuk bekerja. Kami perlu untuk hal itu, yakni bekerja. Kami menginginkan memiliki identitas. Kami ingin merasa bahwa kita memiliki. Kami ingin untuk merasa baik tentang upaya kita dan diri kita sendiri. Kami ingin merasa, bahwa kita mencapai sesuatu yang berharga dengan hidup kita. Kami ingin melihat masa depan kita sebagai perpanjangan harapan masa lalu kita. Kami ingin membuat perbedaan. 
Dan siapa yang berada dalam aras bawah sadar atau harapan itu, dan bisa meyakinkan rakyat, bahwa dengan mengikutinya kita dapat memenuhi keinginan tersebut, jadilah ia pemimpin transformatif. Jika ia tidak berada dalam aras bawah sadar masyarakatnya, sebanyak apapun uang dibuangnya, rekayasa diciptakannya, media memuja-mujanya, semuanya juga akan sia-sia. 
Atau pun jika sebaliknya, ketika pemimpin transformational itu dituding hanya bagian dari rekayasa, boneka, punya konspirasi dengan Yahudi, China, AS (kok nggak dituding dengan Arab Saudi ya, misal dengan kaum wahabi), semuanya juga akan sia-sia belaka. 
Kepemimpinan tidak berada di ruang hampa. Ia nyata, hidup, dan berinteraksi.
Sementara, di mana-mana, black-campaign hanya dilakukan oleh orang-orang kalap, atau kelompok hitam, hati dan pikirannya.

Minggu, April 06, 2014

Politik Berbahaya Bagi Anak-anak

Ketika ada orang partai masih ngomong bahwa presiden harus tunduk pada partai politik (asalnya), alamat rakyat akan dibodohi lagi, sekali pun mereka selalu bilang rakyat sekarang sudah cerdas.
Padahal, secara moral politik, mestinya sebagaimana dikatakan John Fitzgerald Kennedy; Ketika tugas negara dimulai, maka kepatuhan pada partai politik haruslah berakhir. Artinya pula, jangan ulangi kebodohan masa lalu, siapapun kalian yang mau jadi presiden. Kalau ARB jadi presiden, mestinya jangan hanya berkhidmat pada Golkar, begitu juga misalnya Prabowo pada Gerindra, Jokowi pada PDIP, Rhoma Irama pada isteri-isterinya, dan lain sebagainya.
Mulai Pemilu 2004 kita memilih langsung presiden, tetapi mulai Pemilu 2014 kita lihat bagaimana SBY selaku presiden, ketua umum partai peserta pemilu, dan jurkamnas. Sementara dengan kualitas lembaga KPU dan Bawaslu yang mediocre, kita tak bisa berharap banyak soal kualitas pemilu. Mereka hanya mengawasi yang di bawah, tetapi sejak sistem dan aturannya, mereka pula yang menciptakan banyak lubang abuse of power dan abuse of media. Belum lagi yang namanya sosialisasi hanya di media massa. Sementara bayangkanlah bagaimana bingungnya para manula memilih partai dan calegnya. Perbandingan jumlah calon dan kursi yang tidak rasional, juga salah satu bukti, bagaimana KPU sendiri tidak pernah serius dengan data dan riset. Money politics akan tetap jadi soal pula jika KPU dan Bawaslu masih dalam tekanan partai politik dan tidak independen.
Dulu saya selalu mengajak anak saya yang ketika itu masih kecl, untuk nonton kampanye. Tapi sejak banyak omong kosong dan goyang dangdut, saya menilai parpol itu memang anjrit. Dan karena itu setuju saja ketika KPU melarang kita membawa anak kecil ke kampanye, karena politik yang tidak mutu memang berbahaya. Dan itu juga sekaligus tak adanya kemajuan kinerja KPU dari tahun ke tahun. Wong mereka membedakan golput dengan boycott saja tidak tahu.

Anggota DPR-RI 2009-2014: Gaji, Produktivitas dan Korupsi

ANGGOTA DPR-RI 2009-2014: GAJI, PRODUKTIVITAS, DAN KORUPSI | Yang dapat dipastikan, menurut data Independent Parliamentary Standards Authority (Ipsa) dan Dana Moneter Internasional (IMF) terbaru, Indonesia berada di peringkat keempat dengan gaji anggota DPR paling besar di dunia. Data ini juga dirilis majalah Economist edisi 20-26 Juli 2013.
Seorang anggota DPR yang duduk di kursi legislatif, setiap bulannya mendapatkan gaji pokok sebesar Rp 15.510.000. Mendapat tunjangan listrik Rp 5.496.000, tunjangan aspirasi Rp 7.200.000, tunjangan kehormatan Rp 3.150.000, tunjangan komunikasi Rp 12 juta, dan tunjangan pengawasan Rp 2.100.000. Total, jumlah bersih yang diperoleh tiap bulan Rp 46.100.000, atau setiap tahunnya mengantongi Rp 554 juta. Jumlah itu belum termasuk gaji ke-13, dana penyerapan dan upah ikut serta dalam sidang yang digelar DPR. Gaji ke-13 yang diterima anggota setiap tahunnya sebesar Rp 16.400.000, dana reses atau aspirasi dapil yang didapat sebesar Rp 31.500.000.
Dalam satu tahun sidang, ada empat kali reses. Jika ditotal, selama satu tahun dana reses totalnya sekitar Rp 118.000.000. Sementara penghasilan yang bersifat sewaktu-waktu, yaitu dana intensif pembahasan rancangan undang-undang dan honor melalui uji kelayakan dan kepatutan sebesar Rp 5.000.000 setiap kegiatan, serta dana kebijakan intensif legislatif sebesar Rp 1.000.000 setiap Rancangan Undang-Undang (RUU).
Jika dihitung jumlah keseluruhan yang diterima anggota DPR dalam setahun mencapai hampir Rp 1 milyar. Pada tahun 2007, data yang diperoleh setiap anggota DPR menerima uang sedikitnya Rp 787.100.000 tiap tahun. Jumlah itu artinya; 18 kali lipat dari pendapatan per kapita rata-rata penduduk Indonesia. Data yang dirilis Ispa, gaji anggota DPR di Indonesia per tahun adalah USD 65.000, dengan pendapatan per kapita penduduknya, dari data terakhir IMF yaitu USD 3.582.

Kualitas dan Produktivitas Kerja | Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menilai kinerja anggota DPR 90 persen buruk. Sebesar 90 persen target legislasi meleset, menunjukan kinerja yang tidak pernah meningkat. Bisa jadi mereka tidak mempunyai kemampuan untuk tugasnya. Kinerja anggota dewan selama tiga tahun ini, tidak berjalan maksimal. Banyak kasus korupsi yang menimpa anggota dewan dan produk undang-undang yang dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK), memperlihatkan betapa mandulnya fungsi legislasi. Belum lagi kualitas bicara, dalam rapat dewan dan sidang-sidang sangat rendah.
Volume kehadiran mereka dalam sidang-sidang pun sangat memprihatinkan. Para wakil rakyat yang seharusnya menyampaikan aspirasi dan argumentasi dari konstituen, tapi nyatanya kerap tidak hadir. Hal tersebut bukan saja faktor kepentingan yang mempengaruhi kinerja rendah, tapi diduga memang mereka tidak punya kapasitas sebagai anggota DPR. Pada sisi ini, DPR justeru menjadi bagian dari masalah, daripada sebagai pengurai dan penyelesai masalah.

Hindari Pertahana dan Memilih Caleg yang Fresh | Semestinya setiap politikus punya keterampilan dan kompetensi yang bisa diukur. Tinggal bagaimana konstituen menentukan kepada siapa mereka akan menyerahkan kepercayaan. Tapi pernahkah kita mendengar (dari anggota DPR-RI yang tahun ini 95,5% mencalegkan dirinya kembali), mereka mengenalkan diri pada rakyat pemilihnya? Beraninya kampanye di panggung terbuka, meski di atas panggung hanya jadi kambing congek atau barisan sorak-sorak dengan jurkamnas atau penyanyi ndangdhut.
Ikrar Nusa Bakti mengatakan, kapasitas tak berkait dengan usia, untuk mengkritisi gerakan memilih caleg anak muda, atau menghindari caleg nomor urut atas. Tapi, karena ini di Indonesia, dan dalam 2004-2009 serta 2009-2014 kita sudah mengetahui persis, bagaimana kualitas parlemen kita. Apa yang perlu kita khawatirkan memilih caleg anak muda, nama baru, meski di nomor urut besar? Toh kita selama 10 tahun sudah ditipu? Adakah mau ditipu lagi? Tentu tidak. Ketika media sudah diakusisi para politikus gadungan, maka rakyat kini telah memegang medianya masing-masing, meski kelas amatiran seperti website, fesbuk, twitter, dan sejenisnya. Tentu pola komunikasi dan informasi sekarang, beda dengan jaman Soeharto. Bodoh saja jika kita selalu memakai Orde Baru sebagai referensi tentang kekuasaan yang hegemonik dan otoritarian.
Demokrasi yang sejati, ialah rakyat yang kuat, dan bukan parlemen yang imun, dan melahirkan pribadi-pribadi seenaknya karena jaminan privilege hukum dan privacy sebagai anggota parlemen. Beberapa contoh bagaimana Fahri Hamzah, Achmad Yani, Suding, Bambang Soesatyo, Ruhut, dan sebagainya, sering mengatakan bahwa dirinya adalah anggota parlemen yang punya kekebalan hukum, dengan menganggap bahwa 'ngomong' adalah pekerjaannya yang dilindungi undang-undang. Aneh jika anggota DPR semacam itu masih juga terpilih kembali kelak.
Pemilu sebenarnya adalah media untuk menghukum politikus dan pemerintah yang tidak benar dalam bekerja. Jangan coblos nama partainya, tapi coblos saja nomor urut atau nama calegnya (dengan sendirinya partai juga dapat suara, tapi suara untuk caleg absolute untuknya, tak dibagi ke siapa-siapa. Kalau kita hanya mencoblos partai saja, maka perolehan suara partai hanya akan dibagi pada bilangan pembagi terbesar, atau hanya menguntungkan nomor urut teratas). Hindari nomor 1-2-3, jika kita ingin eksperimen dengan generasi baru dan fresh. Mungkin tidak lebih pintar, tetapi kurang pintar apanya anggota DPR lama dalam menipu rakyat? Soal kejujuran atau amanah, jangan bersandar pada moralitas atau agama, jika itu tidak operated dalam bentuk daya kritis rakyat untuk mengawasi kinerja mereka!
Anggota DPR-RI yang baik dan amanah, hanya sekitar 8%, sementara 95,5% dari mereka kembali mencalegkan dalam Pemilu tahun ini. Jadilah rakyat yang kuat, dan tidak apolitis, sekalipun Anda Golput.

KARENA JOKOWI BERSAMA PRABOWO

Presiden Republik Indonesia, adalah CeO dari sebuah ‘perusahaan’ atau ‘lembaga’ yang mengelola 270-an juta jiwa manusia. Salah urus dan sala...