Sabtu, Mei 19, 2018

Tagar 2019 Ganti Presiden (Jokowi Menjadi Presiden Prabowo)


Sejarawan Taufik Abdullah pernah ngendika bahwa politik adalah yang paling berpotensi merusak peradaban. Ibarat kata, politik adalah ilmu tanpa sejarah dan tanpa moralitas.

Wah, gawat. Tanpa sejarah saja, sebagai ilmu, sudah tak bermoral, apalagi ilmu tanpa moralitas. Namun pernyataan itu saya kira bisa dimengerti dalam konteks Indonesia. Bukan sekedar banyak lucu-lucunya, melainkan kadang juga tragik-komedi, penuh paradoks, nganyelke, dan waton sulaya.

Belum pula kelucuan di parlemen, bagaimana DPR sebagai wakil rakyat melahirkan UUMD3. Mereka mengaku reformis, tetapi faktanya mereka ingin berkuasa model Soeharto kembali. Lembaga yang menjadi sumber kegaduhan politik kita itu, banyak diisi politikus yang sibuk memikirkan diri-sendiri, merecoki pihak lain, malas dalam kerja-kerja pokoknya kecuali urusan membangun gedung dan menuntut kenaikan anggaran DPR (yang tahun ini meminta sebesar Rp 5,7 trilyun, tapi oleh Fadli Zon dibilang masih normal karena kecil jumlahnya).

Lihat perdebatan revisi UU Anti Teror. Sebagian besar vokalis DPR justeru lebih memanfaatkan untuk menekan pemerintah, daripada bersama berfikir untuk perlindungan bangsa dan negara, meski teror bom sudah meledak di mana-mana.

Lebih-lebih soal pilpres. Bikin program ganti presiden tapi menetapkan siapa calonnya, sampai sekarang tak ada nyali. Bahkan, menurut Desmond J. Mahesa, Prabowo baru akan deklarasi setelah Jokowi mengumumkan pencapresan. Sementara Hendrawan Supratikno dari PDIP, mengatakan mestinya sebagai pertahana Jokowi yang akan menunggu Prabowo mencapreskan terlebih dulu, untuk melihat siapa cawapresnya.

Itu semua tentu karena siapapun capres negeri Republik Indonesia ini, hanya berbekal kalkulasi kalah-menang. Bukan bekal niatan baik siapa yang merasa mampu, kemudian merancang gagasannya untuk memimpin arah bangsa dan negara ini.

Rancangan itulah, yang mestinya menjadi modal, alat, kendaraan, keyakinan, untuk banyak-banyakan mendapat dukungan rakyat pemilik hak suara Pilpres 2019. Sesuatu yang gampang saja, jika politik adalah ilmu yang bersejarah dan bermoral.

Sementara kebanyakan dari kita, rakyat jelata, tak sadar dan tak tahu, ajang pilpres sering menjadi pertaruhan kekuatan-kekuatan internasional yang ingin menguasai Indonesia. Sebagaimana dulu mereka punya keleluasaan dalam pemerintahan Orde Baru Soeharto, dengan menyokong gerakan menggulingkan Sukarno. Hal itu selalu dilakukan, terutama oleh AS, jika pemimpin Indonesia tak ramah pada garis politik dan ekonomi AS. Kini banyak konsultan politik asing, bahkan konon menyediakan uangnya, merancang program dan konten isunya, untuk siapa saja yang mau dipakai alat dalam menghabisi Jokowi. Situ mau, mumpung pinter tapi miskin?

Pantesan banyak pelawak kita mati muda. Bukan lantaran honornya kecil dan saking bodohnya mengkreasi materi. Tetapi lebih karena kalah lucu dengan mereka yang bermain-main politik. Dalam politik semua bisa dibolak-balik. Teroris bisa jadi dibela. Agama bisa jadi bengis. Kelas menengah atas, bisa jadi bodo dan pecundang, padahal sekolah luar negeri. Sekolah islam berwawasan internasional, melahirkan lulusan berwawasan sempit. Orang kayak Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah yang merasa pinter dan nasionalis berangkulan dengan Rizieq Shihab yang buron. Ustadz yang ilmu agamanya cethek lebih diikuti. Ulama yang zuhud dan alim bisa dihina-dina oleh Felix Siauw. Itu semua karena politik. Termasuk kelas menengah atas, yang pinter-pinter tetapi takut miskin, sehingga mendukung Prabowo pun tak apa, asal bukan Jokowi, sembari bikin alibi bahwa Reformasi 1998 telah gagal.

Memang gagal, karena 20 tahun Reformasi hanya menghasilkan dagelan tak bermutu. Ujung-pangkalnya cuma soal kesejahteraan masing-masing. Itu persis dalam istilah Prabowo sendiri; Elite nasional yang tak sadar, dan menurutnya; goblog. Tetapi, senyampang itu, dengan sadar dan bungah mereka menjalani, dan mengharapkan. Karena perubahan yang terjadi adalah ancaman bagi comfortable zone mereka. Dan jika spirit pilpres ini ingin kembali ke jaman Orde Baru dengan tagar '2019 Ganti Presiden (Jokowi menjadi Presiden Prabowo)', bisa jadi ramalan Prabowo betul, 2030 Indonesia akan habis.
Jangan-jangan tagar '2019 Ganti Presiden' itu kalau sekedar ingin memenangkan Prabowo, bunyinya jadi; "2019: Ganti Presiden Jokowi Menjadi Preseden Prabowo"? Preseden lho ya, bukan presiden!

2 komentar:

  1. Depototo.Org Adalah Situs Togel Terbesar dan Terpercaya Sudah Internasional yang menyediakan Berbagai Pasaran Di Antarannya Sydney , Macao4d , Singapore , Magnum4d , Seoul Toto , Hongkong , Cambodia , Manila4d
    - Casino
    - SPORTSBOOK
    - SABUNG AYAM
    - Poker & Domino
    - Games (Slot dan Bola Tangkas )
    Contac us :
    BBM : D8B7652A
    LINE : Depototo
    WA : +855882805228
    FB : Depototo Mania
    Twitter : depototo1
    Terima kasih

    BalasHapus

Khianat Politikus Ketika Keringat Rakyat Belum Kering

Oleh: Sunardian Wirodono Sudah jamak, pemilu usai rakyat ditinggalkan. Rakyat pemilik hak suara, sebagaimana...