Senin, April 30, 2018

Ngopi Masuk Neraka, Tidak Ngopi Masuk Sorga?

Orang Islam sebenarnya tak punya surga. Yang punya surga adalah orang Hindu dan Buddha.

Weits! Iya, orang Islam punyanya 'jannah'. Di dalam alquran, tak pernah saya dengar ada kata surga, kecuali ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Meski para alim ahli agama suka mengutip-ngutip kosakata Arab, kata sorga (dan neraka), lebih banyak diucap dalam tausiyahnya daripada jannah dan nar.

Saya baru ngerti ini, bukan setelah saya belajar Sastra Arab, sebagaimana Gus Dur dan Gus Mus. Namun karena berkenalan dengan perempuan baik bernama Nur Jannah. Saya tanya apa arti namanya? Ia bilang Cahaya Surga.

Dengan berbekal dua kata itu, saya merasa sudah ahli Bahasa Arab. Baiklah. Sekarang tentang surga itu sendiri. Konon untuk mencapainya, kini lebih mudah. Syarat pertama, juga tak susah-susah amat. Harus mati dulu. 

Setelahnya, kini bahkan asal tidak minum kopi tertentu (halah nyebut starbucks saja susah), kita tak bakal menghuni neraka. Mudah 'kan, daripada mengikuti kutbah para alim, yang bilang syarat masuk surga harus berbuat baik, beramal-ibadah sesuai syariat, dsb, dsb? Kini hanya cukup tidak minum kopi tertentu. Yang tidak suka minum kopi pasti bertempik-sorak suka-cita

Tapi, saya bingung juga, apa sih sebenarnya yang dimaksudkan oleh seruan minum kopi itu? Kalau yang dimaksud kedai kopi Starbucks, saya kira agak aneh juga. Karena kedai itu memang merk dagang dari Amerika. Tetapi di Indonesia, kedai bermerk itu dimiliki orang Indonesia, dan kopi yang dijual, majoritas juga kopi Indonesia, entah dari Papua maupun Gayo.

Jadi, sebetulnya nggak ada kaitan dengan soal pembelaan pada kopi lokal atau ekonomi lokal Indonesia. Meski harus diakui, sebagai pemegang merk bergengsi, owner Starbucks yang orang Amerika pasti lebih diuntungkan dengan model bisnis permakelaran ini.

Yang perlu dikritik, sebenarnya, lebih pada soal bagaimana negara punya kemampuan atau tidak, dalam melindungi petani kopi lokal. Saya kira menteri pertanian dan perdagangan kita, yang mesti dikritik, sebelum nantinya boleh juga mengritik Jokowi. Secangkir kopi di Starbucks harganya kini minimal Rp 65ribu, dengan sauprit kue. Berapa persen coba untuk petani kopi lokal kita, yang kopinya dijual di Starbukcs dengan harga neraka?

Tapi apakah Starbucks ancaman? Tidaklah. Yang ngomong omzet Starbucks naik terus, saya kira asbun. Apalagi kini banyak pengusaha kedai kopi lokal, telah banyak berbenah. Cafe kopi lokal, selalu jauh lebih ramai dibanding Starbucks. Pertumbuhan kedai kopi lokal, sangat drastis. Dan kualitas pelayanan kini makin bisa dibandingkan, juga soal rasa, dengan harga sangat kompetetif. Harga kopi luwak kita, juga bisa nggegirisi, mahal amir.

Yang masih memprihatinkan, kreatifitas barista Indonesia, yang masih kelas follower (tapi sudah sok-sokan), bukan creator yang otentik. Kreasi kudapannya, sama sekali tak tergarap. Starbucks dikenal sebagai kedai kopi, tapi jangan lupa tak sedikit yang ke sana karena variasi kudapannya. Cafe kopi Indonesia, sering tak jelas variant kudapannya dengan citarasa yang compatible dengan kopi. Asal makanan doang. 

Kalau saya nggak suka ke Starbucks, bukan karena ancaman surga dan neraka. Tapi harganya memang sangat neraka bagi kantong saya, juga soal rasanya. Dulu waktu masih secangkir Rp 45ribu, saya menikmatinya di Thamrin, deket bioskop Jakarta Theatre, nggak merasa lebih berharga. Karena menurut saya, rasa kopinya biasa. Itu soal selera. Selebihnya, jika boleh kagum, itu karena narasi-narasi yang dibangunnya.

Narasi life-style itulah yang kita tidak ahli, atau kadang nggak merasa perlu. Kita lebih suka main ancam, kalau nggak minum kopi lokal, neraka. Kalau minum di kedai kopi Starbucks masuk neraka! Pale lu peyang! Egp!

Tak sedikit yang minum di Starbucks karena gengsi, prestise, life-style, atau relationshipnya. Ada yang karena strategi bisnis. Mau dapetin paus kailnya juga mesti gede. Mongsok lobi bisnis di angkringan cekereme. Kegoblogan yang suka nyetarbak karena gengsi, sama dengan yang takut diancam-ancam neraka. Padahal, apa hubungannya? 

Di Gayo tak ada GAM, karena mereka kaya dengan hasil bumi, kopi dan jagung. Di sana tak ada Starbucks. Kedai kopi di Aceh dikuasai orang-orang Aceh, di samping pedagang Cina. Dari pagi hingga malam, minum kopi di Aceh seolah hukum wajib. Bahkan saya pernah ngobrol dengan beberapa dokter yang maniak kopi, di pinggir jalan sepanjang Aceh Darussallam. Kopi tarik Aceh sangat sedap, hingga saya suka ke Bungong Jeumpa di Yogya, lebih karena kangen kopinya itu. 

Kopi lokal, menguasai peredaran kopi di Nusantara ini, bahkan juga dunia, meski turun-naik. Pernah juara pertama, tapi sekarang merosot. Kalah dengan Brazil. Kenapa? Karena negara tidak hadir dalam soal pertanaman kopi. Yang hadir malah ustadz, yang tentu citarasa kopinya beda lagi. 

Boleh saja bersungut soal LGBT (alasan tidak nyetarbak). Tetapi, tolonglah petani kopi Indonesia, agar mereka punya daya saing dalam kualitas dan harga. Nggak ada hubungannya dengan neraka. Tapi ketidakmengertian pemerintah, juga kekurangpedulian bangsa pada produk dalam negeri, itu baru neraka sebenarnya bagi petani kopi kita. 

Kalian yang suka nongkrong di cafe kopi, dan berbincang tentang filosofi kehidupan sampai mabuk, sadarilah riwayat kopimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Erick Thohir di Mana Sentuhannya pada Jokowi?

Ketika saya membaca biografi tulisan Alberthiene Endah, “Jokowi Menuju Cahaya” (2018), saya tidak merasakan roh atau spirit Jokowi. Deng...